MUI Terbitkan Fatwa Pajak: Rakyat Taat Pajak – Pemerintah Amanah Mengelola Pajak Berkeadilan

Pajak merupakan salah satu instumen pembiayaan negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Karenanya dia mengikat setiap warga negara sepanjang dilaksanakan oleh Pemerintah dengan dan untuk kemaslahatan bersama. Jakarta – 1miliarsantri.net: Majelis Ulama Indonesia periode 2025-2030 dalam Muna terbaru yang berlangsung di Jakarta, Senin 24 November 2025 menerbitkan Fatwa MUI terkait pajak. Fatwa ini sekaligus mengingatkan ketaatan warga negara dan kewajiban Pemerintah Indonesia dalam mengelola amanah rakyat berupa pajak. Pada kesempatan itu, Ketua MUI Bidang Fatwa periode 2025-2030 Prof. KH Asrorun Ni’am Sholeh mengingatkan, Warga negara wajib menaati aturan pajak sebagai wujud tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Mengutip laman resmi MUI, Guru Besar Bidang Ilmu Fikih UIN Jakarta ini menegaskan pajak merupakan instrumen untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pajak juga menjadi kesepakatan dan bagian kontrak sosial antara negara dan warga negara.  Dalam kesempatan itu, diapun mengingatkan dan menegaskan kewajiban pemerintah dalam mengelola pajak, Pemerintah wajib mengelola harta pajak dengan prinsip amanah yaitu jujur, profesional, transparan, akuntabel dan berkeadilan.  Obyek Pajak Dalam Fatwa Pajak pada point kedua Fatwa Pajak Berkeadilan, Objek pajak dikenakan hanya kepada harta yang potensial untuk diproduktifkan dan atau merupakan kebutuhan sekunder dan tersier (hajiyat dan tahsiniyat).  Penetapan dan Pengelolaan Pajak Dalam Fatwa Pajak Berkeadilan menekankan juga aspek pengelolaan oleh pemerintah (ulil amri), Penetapan pajak harus berdasar pada prinsip keadilan. Begitu juga pengelolaan pajak harus amanah dan transparan serta berorientasi pada kemaslahatan umum (‘ammah).  “Pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak, secara syar’i merupakan milik rakyat yang pengelolaannya diamanahkan kepada pemerintah (ulil amri), oleh karena itu pemerintah wajib mengelola harta pajak dengan prinsip amanah yaitu jujur, profesional, transparan, akuntabel, dan berkeadilan,”pungkas Prof Ni’am. Ikuti terus artikel 1mikliarsantri.net terkait Fatwa MUI tentang Pajak Berkeadilan, artikel ini merupakan bagian dari ulasan tentang Pajak Berkeadilan.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : MUI Foto istimewa Munas MUI XI di Jakarta (dok. mui.or.id)

Read More

PT BIMA dan BMM Dorong Ekonomi Ramah Lingkungan Lewat Program “Polah Jelantah”

Surabaya – 1miliarsantri.net : Dalam upaya menghadirkan ekonomi ramah lingkungan, program “Polah Jelantah” muncul sebagai inovasi yang mampu menyentuh dua sisi sekaligus. Pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Inisiasi PT Berkah Industri Mesin Angkat (BIMA) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan bersih, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “Polah Jelantah”, PT BIMA berkolaborasi dengan Baitulmaal Muamalat (BMM) Jawa Timur dan Yayasan Bina Bakti Lingkungan (YBBL) dalam mengelola limbah minyak jelantah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi seperti sabun dan lilin. Program ini mendorong kebiasaan baru yang lebih bertanggung jawab, sekaligus membuka peluang nilai tambah dari limbah rumah tangga yang selama ini terabaikan. Kegiatan yang dilaksanakan di Kampung Ramah Perempuan dan Anak (RPA) RW 09, Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, Surabaya, pada Rabu (12/11/2025) ini menjadi contoh nyata kolaborasi multipihak antara perusahaan, lembaga sosial, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular di tingkat akar rumput. Dengan pendekatan edukatif dan partisipatif, program polah jelantah menjadi langkah kongkret menuju gaya hidup ramah lingkungan yang menguntungkan bagi semua. Acara dihadiri oleh Kepala Biro Tata Kelola Perusahaan PT BIMA Donny Arif Kurniawan, Ketua Tim Penyuluhan Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat DLH Kota Surabaya Satiah, S.Sos, Lurah Tanah Kali Kedinding Anggoro Himawan, ST., MT., serta perwakilan masyarakat dari RW 01 dan RW 09. Dari unsur mitra sosial turut hadir Kepala Perwakilan BMM Jawa Timur Alib Bagus Suyoto dan perwakilan YBBL. Baca juga : BMM Peduli Teman Tuli Dalam sambutannya, Donny Arif menegaskan bahwa program “Polah Jelantah” merupakan bagian dari strategi keberlanjutan PT BIMA yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. “Melalui edukasi dan pelatihan, masyarakat diharapkan tidak hanya menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga memperoleh nilai tambah ekonomi dari pengelolaan minyak jelantah,” ujarnya. Sebagai wujud dukungan konkret, PT BIMA menyalurkan fasilitas pendukung seperti botol angkut minyak jelantah, jerigen, alat pelatihan, serta buku panduan pengelolaan limbah. Perusahaan juga memberikan pelatihan teknis, manajemen bank sampah, dan pendampingan berkelanjutan bagi kelompok penerima manfaat. Perwakilan DLH Surabaya, Satiah, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut yang sejalan dengan program Zero Waste Community Pemerintah Kota Surabaya. Baca juga : Islam dan lingkungan “Pola Jelantah memperlihatkan bagaimana peran dunia usaha dapat menjadi katalis perubahan menuju perilaku hidup berkelanjutan,” ungkapnya. Kegiatan ditutup dengan penyerahan simbolis bantuan program “Pola Jelantah” oleh seluruh pihak yang terlibat, sebagai bentuk komitmen bersama dalam membangun lingkungan yang bersih, sehat, dan berdaya ekonomi. Dengan  mengubah limbah  minyak jelantah menjadi sumber manfaat, program ini  tidak hanya  menekan  potensi  pencemaran, tetapi juga menggerakkan roda  ekonomi masyarakat secara inklusif.  Jika kesadaran dan partisipasi terus diperluas, polah jelantah berpotensi  menjadi gerakan besar yang membentuk ekosistem ekonomi hijau di tingkat lokal dan nasional. PT BIMA, BMM Jawa Timur, dan YBBL berharap keberhasilan program ini dapat diduplikasi di wilayah lain di Jawa Timur, sehingga memperkuat sinergi antara sektor usaha, lembaga sosial, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. (**) Kontributor : Warda Hikmatul Mardiyah Editor : Toto Budiman Foto : Dokumentasi BMM Jatim

Read More

Filantropi Islam di Era Digital, Mari Jadikan Donasi sebagai Gaya Hidup

Bogor – 1miliarsantri.net : Perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga cara mereka berbuat baik. Dalam konteks Islam, muncul kembali istilah yang semakin relevan dengan zaman yaitu filantropi Islam yang menjadikan donasi sebagai gaya hidup. Filantropi Islam adalah bentuk kepedulian sosial yang diatur dalam ajaran agama, dengan tujuan menyeimbangkan distribusi kekayaan dan menumbuhkan kesejahteraan umat. Namun di era digital ini, makna filantropi tidak berhenti pada kegiatan amal tradisional. Ia berkembang menjadi sistem sosial yang lebih terstruktur, transparan, dan berkelanjutan menjembatani kebaikan antara mereka yang mampu dan mereka yang membutuhkan melalui teknologi. Dalam Islam, filantropi merupakan instrumen penting dalam menjaga keadilan sosial. Zakat menjadi kewajiban bagi yang mampu, infak dan sedekah menjadi bentuk kepedulian sukarela, sementara wakaf berfungsi menjaga manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Melalui instrumen-instrumen ini, Islam mengajarkan bahwa kekayaan bukan untuk ditimbun, tetapi untuk disalurkan agar menciptakan keseimbangan ekonomi dan mengurangi kesenjangan sosial. Yang menarik, konsep filantropi Islam tidak hanya berbicara tentang memberi, tetapi juga tentang memberdayakan. Artinya, penerima manfaat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mandiri. Inilah esensi sosial ekonomi yang menjadi dasar dari setiap gerakan ziswaf  membangun kesejahteraan umat dengan cara yang berkelanjutan. Transformasi Filantropi di Era Digital Era digital menghadirkan perubahan besar pada cara beramal. Kini, filantropi Islam memasuki babak baru dengan kehadiran platform digital seperti aplikasi zakat, dompet donasi online, hingga gerakan crowdfunding yang mengusung nilai kemanusiaan dan keagamaan sekaligus.   Teknologi menjadikan proses berbagi lebih mudah, cepat, dan transparan. Donatur dapat memantau penyaluran dana, lembaga dapat memperluas jangkauan, dan masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam program sosial tanpa terhalang jarak dan waktu. Lebih jauh lagi, digitalisasi juga menumbuhkan kesadaran baru bahwa berbagi kini bukan sekadar tindakan spontan, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial yang bisa dilakukan secara konsisten. Setiap klik donasi bukan hanya transaksi keuangan, melainkan bentuk nyata dari semangat tolong-menolong yang dihidupkan kembali dalam konteks modern. Menjadikan Donasi sebagai Gaya Hidup Menjadikan donasi sebagai gaya hidup berarti membawa semangat filantropi ke dalam keseharian. Ia bukan lagi kegiatan insidental saat ada bencana, melainkan kebiasaan sadar yang tumbuh dari rasa empati dan tanggung jawab sosial. Dalam perspektif Islam, gaya hidup ini bukan tren, melainkan manifestasi keimanan dalam bentuk nyata dari rasa syukur atas rezeki yang dimiliki dan keyakinan bahwa memberi tidak akan mengurangi, tetapi justru menambah keberkahan. Ketika generasi muda mulai menjadikan berbagi sebagai bagian dari rutinitas, maka terbentuklah budaya baru: budaya yang menilai keberhasilan bukan dari seberapa banyak yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan. Filantropi bukan lagi urusan lembaga besar, tapi gerakan kolektif masyarakat yang peduli dan sadar akan peran sosialnya. Filantropi Islam menunjukkan bahwa teknologi dan spiritualitas bisa berjalan beriringan. Dunia digital memberikan akses, tapi nilai-nilai ziswaf yang memberikan arah. Dengan menjadikan donasi sebagai bagian dari gaya hidup, kita tidak hanya menolong sesama, tetapi juga membangun peradaban yang lebih adil dan berempati. Kebaikan tidak harus besar untuk bermakna. Kadang, perubahan dimulai dari satu keputusan kecil: untuk memberi, berbagi, dan peduli. Dan dari keputusan itulah lahir peradaban yang berakar pada kasih sayang, keberkahan, dan nilai kemanusiaan yang sejati. Penulis: Salwa Widfa Utami Foto Ilustrasi AI Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman baca juga : potensi ziswaf untuk perubahan iklim disini

Read More

Mendesak! Pembentukan Kementerian Ziswaf untuk Penguatan Ekonomi Syariah Nasional

Malang – 1miliarsantri.net : Pemerintah Indonesia dinilai perlu menyegerakan pembentukan kementerian ziswaf sebagai upaya strategis untuk memperkuat sistem ekonomi syariah di tanah air. Selama ini, pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf masih tersebar di berbagai lembaga tanpa satu koordinasi terpadu. Padahal, dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia memiliki potensi ziswaf yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kehadiran kementerian ziswaf diharapkan menjadi solusi konkret untuk memperbaiki pengelolaan dana sosial keagamaan dan menjadikannya instrumen nyata dalam mengatasi kemiskinan serta kesenjangan sosial. Urgensi Pembentukan Kementerian Ziswaf Pembentukan kementerian ziswaf menjadi penting karena hingga saat ini belum ada satu pun lembaga setingkat kementerian yang secara khusus menangani pengelolaan ziswaf. Lembaga-lembaga yang ada, seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) atau Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), memiliki kewenangan terbatas dan bersifat sektoral. Tanpa kehadiran kementerian yang fokus dan berwenang penuh, pengelolaan ziswaf cenderung tidak terintegrasi dan minim pengawasan. Kementerian ziswaf akan menjadi pusat kendali regulasi, pengawasan, dan pelaksanaan program berbasis zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Dengan struktur yang jelas dan didukung anggaran negara, lembaga ini dapat mendorong transparansi, efisiensi, serta penyaluran dana yang lebih merata dan tepat sasaran. Potensi pengumpulan ziswaf di Indonesia mencapai triliunan rupiah per tahun. Namun, tanpa kementerian ziswaf, potensi tersebut belum mampu memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan sosial-ekonomi masyarakat. Kementerian ini akan berperan penting dalam membangun sistem yang mampu menghimpun dan menyalurkan dana secara profesional, berbasis teknologi, dan sesuai dengan prinsip maqashid syariah. Selain itu, kementerian ziswaf dapat memperkuat literasi masyarakat tentang kewajiban zakat dan pentingnya wakaf produktif. Edukasi dan regulasi yang lebih kuat akan mendorong partisipasi masyarakat Muslim untuk menunaikan kewajiban keagamaannya secara maksimal. Keuntungan Kehadiran Kementerian Ziswaf Dengan terbentuknya kementerian ziswaf, pengelolaan dana sosial Islam tidak lagi menjadi isu pinggiran. Kementerian ini akan menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi umat, khususnya bagi kelompok masyarakat miskin dan rentan. Program-program seperti pemberdayaan usaha mikro, bantuan pendidikan, layanan kesehatan gratis, hingga pengadaan rumah tinggal berbasis wakaf dapat dijalankan secara lebih sistematis. Kementerian ziswaf juga memungkinkan integrasi kebijakan antara zakat dan pajak secara harmonis, tanpa membingungkan masyarakat. Selama ini, ketidakhadiran lembaga resmi di level kementerian menyebabkan zakat seringkali dianggap sebagai opsi tambahan, bukan kewajiban agama yang memiliki dampak sosial langsung seperti pajak. Pembentukan kementerian ziswaf bukan sekadar simbolisme, tetapi kebutuhan nyata untuk menjawab berbagai tantangan dalam ekonomi syariah nasional. Indonesia tidak bisa terus bergantung pada lembaga sementara atau unit kecil di bawah kementerian lain dalam mengelola dana ziswaf. Dengan pembentukan kementerian ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi contoh negara dengan sistem ziswaf yang kuat, transparan, dan berdampak besar pada kesejahteraan umat. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman Baca juga ; Potensi ziswaf untuk perubahan iklim

Read More

Ziswaf untuk Perubahan Iklim: Potensi Solusi dari Filantropi Islam

Malang – 1miliarsantri.net : Isu perubahan iklim kini memasuki fase darurat yang membutuhkan solusi konkret dan kolaboratif. Negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang rentan terdampak krisis iklim, masih menghadapi tantangan besar dalam memperoleh pembiayaan adaptasi dan mitigasi. Padahal ziswaf untuk perubahan iklim sangat berpotensi besar. Di tengah belum optimalnya dukungan negara maju, potensi ini menjadi alternatif dari dalam negeri namun belum dimaksimalkan dengan baik. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai bagian dari filantropi Islam menawarkan solusi pendanaan yang tidak hanya etis dan inklusif, tetapi juga berkelanjutan secara sosial. Potensi Ziswaf untuk Perubahan Iklim di Indonesia Indonesia adalah negara dengan tingkat kedermawanan tinggi dan mayoritas penduduk Muslim. Berdasarkan data resmi, potensi zakat nasional bisa mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Di sisi lain, potensi wakaf tunai juga sangat besar. Namun, selama ini sebagian besar dana tersebut disalurkan untuk keperluan konsumtif, respons kebencanaan, dan pengentasan kemiskinan jangka pendek. Padahal, ziswaf untuk perubahan iklim membuka ruang baru untuk pembiayaan program jangka panjang yang fokus pada pelestarian lingkungan dan pemulihan sumber daya alam. Agar efektif, diperlukan transformasi dalam pendekatan pengelolaan ziswaf. Lembaga-lembaga filantropi Islam perlu mulai mengembangkan skema pembiayaan yang diarahkan untuk upaya mitigasi dan adaptasi iklim, seperti konservasi air, penghijauan, restorasi hutan, serta penggunaan energi terbarukan. Dengan memperluas definisi Asnaf yang relevan dengan dampak perubahan iklim seperti mereka yang kehilangan mata pencaharian akibat krisis lingkungan, ziswaf untuk perubahan iklim dapat diterjemahkan ke dalam program-program yang relevan dan kontekstual dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang rentan bencana. Strategi Implementasi Ziswaf untuk Perubahan Iklim Penerapan ziswaf untuk perubahan iklim memerlukan pendekatan kolaboratif antara lembaga zakat, pemerintah, komunitas lokal, dan sektor swasta. Program prioritas dapat mencakup rehabilitasi pesisir, penanaman mangrove, penguatan ketahanan masyarakat sekitar hutan, pengelolaan air permukaan, serta pengembangan infrastruktur hijau seperti rumah ibadah hemat energi dan sekolah ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan wakaf produktif, lembaga filantropi dapat menciptakan program-program berkelanjutan tanpa bergantung pada donasi musiman. Perubahan paradigma dalam pengelolaan filantropi Islam akan sangat menentukan keberhasilan upaya adaptasi terhadap krisis iklim. Saatnya ziswaf untuk perubahan iklim tidak lagi diposisikan sebagai opsi pelengkap, melainkan sebagai salah satu pilar utama dalam strategi nasional menghadapi darurat iklim. Perluasan pemahaman masyarakat terhadap isu lingkungan juga penting agar partisipasi tidak sekadar berdasarkan kewajiban agama, tetapi juga kesadaran ekologis.Dengan menggali potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara maksimal dan mengarahkannya ke sektor lingkungan, Indonesia dapat menghadirkan solusi lokal terhadap tantangan global. Filantropi Islam dapat menjadi instrumen keuangan sosial yang strategis, tidak hanya untuk pengentasan kemiskinan tetapi juga dalam menjawab krisis iklim. Oleh karena itu, sudah saatnya ziswaf untuk perubahan iklim menjadi prioritas dalam agenda keumatan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Kekuatan Sunyi Sedekah Diam-Diam di Tengah Kehidupan Modern

Malang – 1miliarsantri.net : Di tengah hiruk pikuk media sosial dan budaya pamer yang semakin mendominasi kehidupan modern, praktik sedekah diam-diam menjadi bentuk kedermawanan yang semakin langka, namun justru kian bermakna. Di era ketika setiap bantuan sosial seringkali direkam, dipublikasikan, dan dikapitalisasi demi citra, munculnya kesadaran untuk berbagi secara tersembunyi menawarkan napas segar dalam lanskap filantropi. Sedekah yang dilakukan tanpa diketahui orang lain bukan hanya bentuk ketulusan, tetapi juga representasi nilai spiritual yang dalam. Inilah kekuatan sunyi yang perlu terus dirawat dalam kehidupan sosial masyarakat. Spirit Keikhlasan dalam Sedekah Diam-Diam Sedekah diam-diam tidak hanya menyangkut tindakan memberi, tetapi juga menyangkut bagaimana hati bekerja dalam keheningan. Dalam praktik ini, tidak ada ekspektasi pujian atau balasan dari manusia, hanya hubungan langsung antara pemberi dan Allah. Hal ini memberikan kekuatan moral yang besar karena menempatkan keikhlasan sebagai inti dari tindakan. Di saat banyak aksi sosial terjebak dalam ajang pembuktian diri, memberi dalam diam menjaga esensi luhur dari filantropi itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,   “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir,   maka itu  lebih baik bagimu…” (QS Al-Baqarah: 271). Ayat ini menegaskan bahwa sedekah yang dilakukan dalam kerahasiaan memiliki keutamaan tersendiri, terutama dalam menjaga hati dari riya dan menjaga martabat penerima. Lebih dari sekadar ibadah personal, sedekah diam-diam juga menyimpan kekuatan sosial. Ia menghindarkan penerima dari rasa malu atau perasaan inferior karena bantuan yang diterima tidak diumumkan secara publik. Dalam banyak kasus, bantuan yang diberikan secara rahasia justru lebih menyentuh dan memberi rasa aman bagi yang menerimanya. Maka dari itu, praktik ini seharusnya menjadi inspirasi dalam menata ulang praktik pemberian dalam masyarakat yang mulai kehilangan makna tulus dalam berbagi. Sedekah Diam-Diam sebagai Kontrapolisi Budaya Pamer Budaya visual dalam era digital menempatkan eksistensi sebagai sesuatu yang harus ditampilkan. Banyak orang merasa perlu menunjukkan segala bentuk kebaikan, termasuk saat bersedekah. Namun, sedekah diam-diam hadir sebagai perlawanan terhadap narasi tersebut. Ia mengajarkan bahwa tidak semua kebaikan harus diumumkan, dan bahwa kebajikan sejati justru terletak dalam ketidaknampakan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebut tujuh golongan yang akan mendapat naungan di hari kiamat, salah satunya adalah :     “seseorang yang bersedekah, lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya.” (HR Bukhari dan   Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa nilai tertinggi dalam sedekah adalah keikhlasan yang sempurna sampai-sampai diri sendiri pun tidak merasa sedang “memberi”. Inilah bentuk spiritual tertinggi dari amal sosial. Jauh lebih penting, masyarakat perlu diberi ruang untuk menumbuhkan kepercayaan bahwa memberi tanpa disaksikan publik tetap bernilai. Bahkan, nilai spiritual dan sosialnya bisa jauh lebih besar. Praktik ini mengembalikan kemurnian dalam tindakan sosial, membebaskannya dari kepentingan ego dan tekanan eksistensial. Dengan begitu, sedekah diam-diam bisa menjadi bentuk revolusi sunyi terhadap budaya konsumtif dan narsistik yang menggerus nilai-nilai kesederhanaan. Membangun Budaya Sedekah Diam-Diam Sejak Dini Penting untuk membangun kesadaran tentang nilai sedekah diam-diam sejak usia dini. Pendidikan keluarga dan lingkungan sekolah bisa menjadi ruang awal untuk mengenalkan konsep memberi dengan keikhlasan tanpa pamrih. Anak-anak perlu belajar bahwa berbagi bukan soal dilihat orang lain, tetapi tentang merasakan kebahagiaan ketika bisa meringankan beban sesama secara tulus. Masyarakat juga bisa menciptakan ekosistem filantropi yang mendukung aksi tanpa eksposur, seperti kotak amal anonim, rekening bantuan tanpa identitas, atau program sosial yang tidak mencantumkan nama donatur. Semua ini memungkinkan lebih banyak orang terlibat dalam kebaikan tanpa merasa harus menonjolkan diri. Di tengah dunia yang makin bising oleh citra dan pengakuan, sedekah diam-diam adalah suara sunyi yang menguatkan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menjadi jembatan antara keikhlasan personal dan dampak sosial, serta penyeimbang dalam kehidupan yang makin penuh kepentingan. Sudah saatnya, praktik sedekah diam-diam dikembalikan sebagai budaya utama dalam filantropi kita. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Menyingkap Khazanah Keislaman Indonesia yang Tersembunyi

Malang – 1miliarsantri.net : Indonesia memiliki kekayaan luar biasa dalam bidang keislaman yang belum banyak tergali. Khazanah keislaman Indonesia, berupa manuskrip klasik, tradisi pesantren, pemikiran Islam lokal, hingga praktik sosial keagamaan, tersebar luas di berbagai wilayah. Namun, sebagian besar dari warisan intelektual dan budaya ini masih tersembunyi di balik minimnya riset, dokumentasi, serta perhatian publik dan negara. Padahal, bila dikelola dan dikembangkan dengan serius, khazanah keislaman Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan lunak bangsa di kancah global. Keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam tradisional telah lama menjadi penjaga utama khazanah keislaman Indonesia. Melalui pengajaran kitab kuning dan penanaman nilai-nilai moral serta spiritualitas Islam, pesantren membentuk karakter keislaman yang khas, inklusif, moderat, dan berakar pada nilai-nilai lokal. Di pesantren inilah tafsir, fikih, akhlak, hingga filsafat Islam berkembang dalam konteks Nusantara. Namun sayangnya, banyak catatan, manuskrip, dan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun belum terdokumentasi dengan baik. Potensi besar ini berisiko hilang bila tidak segera digarap secara serius. Ekspresi Lokal Khazanah Keislaman Indonesia Selain itu, gagasan Islam Nusantara sebagai ekspresi lokal dari ajaran Islam merupakan bagian penting dari khazanah keislaman Indonesia. Corak Islam yang tumbuh di bumi Nusantara memperlihatkan kemampuan ajaran Islam beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan substansi nilai-nilainya. Misalnya, dari praktik budaya seperti sekaten di Jawa, tabuik di Sumatera Barat, hingga zikir saman di Aceh, terlihat bahwa nilai-nilai Islam tumbuh berdampingan dengan kearifan lokal. Ini menjadi bukti bahwa Islam di Indonesia memiliki kekhasan yang bisa dijadikan model harmonisasi agama dan budaya di dunia global yang cenderung polaristik. Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam menggali potensi ini. Kurangnya dokumentasi dan riset akademik menjadi masalah utama. Banyak manuskrip klasik masih tersimpan dalam kondisi tidak layak di pesantren-pesantren kecil atau rumah-rumah keturunan ulama. Proses digitalisasi berjalan lambat dan belum menjadi prioritas nasional. Di sisi lain, masih terbatasnya akademisi yang memiliki kemampuan mengkaji teks-teks klasik dalam bahasa Arab Pegon atau Jawi turut menghambat proses penggalian pengetahuan ini. Hal ini diperparah dengan kurangnya dukungan institusional terhadap program studi yang fokus pada Islam lokal atau khazanah pesantren. Khazanah Keislaman Indonesia Kontemporer Dalam konteks kontemporer, sebenarnya khazanah keislaman Indonesia juga mencakup bidang ekonomi dan filantropi Islam. Potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf sangat besar. Namun, data menunjukkan bahwa potensi ekonomi syariah yang mencapai ratusan triliun rupiah baru dimanfaatkan sebagian kecil saja. Padahal jika digarap dengan serius dan transparan, lembaga-lembaga zakat dan wakaf bisa menjadi instrumen keuangan sosial yang tidak hanya memperkuat solidaritas umat, tetapi juga mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Sayangnya, potensi ini sering kali terbentur oleh regulasi yang tumpang tindih, lemahnya tata kelola, dan minimnya literasi masyarakat. Upaya Strategis Khazanah Keislaman Indonesia Perlu ada upaya strategis yang melibatkan berbagai pihak baik negara, pesantren, kampus, masyarakat sipil, dan media massa untuk menggali, merawat, serta mempromosikan khazanah keislaman Indonesia ke ranah publik. Hal Ini bukan hanya soal pelestarian budaya, tetapi juga membangun fondasi pemikiran dan spiritualitas Islam yang kontekstual dan mampu menjawab tantangan zaman. Apalagi di tengah menguatnya arus globalisasi dan digitalisasi, posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia seharusnya bisa menjadi pusat rujukan Islam yang damai, dinamis, dan berakar kuat pada tradisi. Membangun kesadaran kolektif akan pentingnya khazanah keislaman Indonesia adalah pekerjaan panjang yang perlu dimulai sekarang. Jika tidak, kita akan kehilangan aset peradaban yang sangat berharga. Karena itulah, pelestarian dan pengembangan khazanah keislaman Indonesia tidak boleh lagi menjadi proyek elit atau akademisi semata, melainkan harus menjadi gerakan bersama yang menempatkan tradisi Islam lokal sebagai bagian dari masa depan umat Islam Indonesia dan dunia. Khazanah keislaman Indonesia adalah warisan sekaligus potensi yang harus dirawat, digali, dan diperjuangkan agar tidak sekadar menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga pijakan untuk masa depan yang lebih berkeadaban. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Purbaya Effect Dalam Timbangan Ekonomi Islam

Penulis : HM Ali Moeslim (Penulis Buku dan Pembimbing Hajj & Umroh) BismillahirrahmaanirrahiimSATU MENTERI yang diangkat melalui reshufle Kabinet dengan gaya “koboy”, hadir pada gelaran panggung ekonomi Indonesia, disambut bak’ arsitek keuangannya yang baru, yaitu Purbaya Yudhi Sadewa. Penunjukannya sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025 menarik perhatian dunia. Menggantikan sosok pendahulunya yang ikonis, Purbaya kini memikul tugas berat di tengah tantangan global dan domestik. Efek Purbaya adalah istilah yang digunakan oleh media dan analis keuangan untuk merujuk pada reaksi pasar dan pergeseran ekspektasi kebijakan ekonomi usai Purbaya Yudhi Sadewa menjadi Menteri Keuangan. Istilah ini secara khusus dikaitkan dengan pendekatan kebijakan fiskal Purbaya yang dianggap lebih agresif dan berfokus pada stimulus pertumbuhan melalui intervensi likuiditas. Sejumlah kebijakan yang ia terapkan mencerminkan pendekatan ekonomi yang agresif dan tidak konvensional. Misalnya, injeksi dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun yang semula mengendap di lima bank BUMN untuk mempercepat sirkulasi uang di sektor riil. Selain itu, ia membuka kanal pengaduan masyarakat terkait praktek kecurangan di bea cukai, memberantas peredaran rokok ilegal, menghentikan penggunaan APBN untuk membayar utang proyek KCIC, hingga menindak tegas praktek impor pakaian ilegal. Jika kita perhatikan, kebijakan-kebijakan tersebut bukanlah hal yang sepenuhnya baru dalam teori ekonomi, namun menjadi simbol perlawanan terhadap budaya birokrasi yang lamban dan penuh kepentingan. Kehadiran Purbaya tampak seperti angin segar bagi perekonomian nasional, menghadirkan semangat baru dalam reformasi kebijakan fiskal dan moneter. Namun di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan mendasar. Apakah pendekatan ofensif ini mampu menciptakan keseimbangan ekonomi yang berkeadilan? atau justru mengulang pola ekonomi kapitalistik yang berorientasi pada pertumbuhan tanpa pemerataan? Kemudian bagaimana dalam prinsip politik ekonomi Islam? Saat ini dunia modern dikuasai oleh sistem ekonomi kapitalis. Sistem ini memang berhasil membawa kemajuan besar dalam bidang materi dan teknologi. Tetapi di sisi lain juga menimbulkan banyak masalah serius seperti kesenjangan antara si kaya dan si miskin, krisis keuangan yang berulang, dan menurunnya nilai moral dalam kegiatan ekonomi. Tentu sebagai muslim, kita tawarkan sistem ekonomi Islam. Islam hadir menawarkan cara yang berbeda. Sistem ini tidak hanya berfokus pada keuntungan dan efesiensi ekonomi, tetapi juga menekankan keadilan, pemerataan, dan keberkahan dalam kehidupan manusia. Sebelumnya, Kapitalisme berlandaskan pada tiga pilar filosofis utama, yakni; Pertama, sekularisme, yaitu pemisahan antara agama dengan negara dan ekonomi. Dalam pandangan ini, kegiatan ekonomi dijalankan sepenuhnya berlandaskan rasionalitas manusia tanpa campur tangan nilai-nilai ketuhanan. Kedua, kebebasan individu (individualisme). Setiap individu dianggap memiliki hak ngutlak atas kepemilikan dan kebebasan untuk mengejar kepentingannya sendiri. Gagasan The Invisible Hand dari Adam Smith diyakini akan menuntut kepentingan pribadi tersebut menuju kebaikan bersama. Ketiga, hak kepemilikan pribat yang absolut. Individu memiliki kebebasan penuh untuk memiliki, menggunakan, dan mengembangkan hartanya tanpa batasan. Kecuali oleh hukum positif yang dibuat oleh manusia sendiri. Dari prinsip ini, praktek-praktek seperti bunga (riba), spekulasi (ghoror), dan monopoli (ikhtiqaar), dianggap sah selama ada kesepakatan antara pihak-pihak yang bertransaksi. Adapun dalam sistem ekonomi Islam, ia berdiri di atas fondasi yang sepenuhnya berbeda. Pertama adalah Tauhid, yakni pengakuan bahwa kedaulatan tertinggi hanyalah milik Allah. Seluruh aktivitas ekonomi harus tunduk pada aturan syariat yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. Kedua, Keseimbangan atau Rububiyah. Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan bumi dengan prinsip keadilan dan keseimbangan.Tidak semata-mata demi kepentingan pribadi, tetapi juga untuk kemaslahatan masyarakat. Ketiga, Keadilan Sosial atau Al-Adl. Kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan orang-orang kaya. Tujuan utama sistem ekonomi Islam adalah terwujudnya keadilan distribusi dan keadilan prosedural. Keempat, adalah maslahat. Setiap kebijakan dan aktivitas ekonomi harus berorientasi pada kemaslahatan umat,yakni mendatangkan kebaikan dan menolak segala bentuk kemudaratan. Dalam Islam, uang bukan komoditas, melainkan alat tukar (medium of exchange), Uang tidak boleh “beranak” menjadi uang, tanpa adanya aktivitas ekonomi riil, melibatkan risiko dan usaha nyata seperti jual-beli, sewa, atau bagi hasil. Setiap bentuk riba diharamkan secara tegas, sebagai gantinya, Islam menawarkan sistem bagi hasil (mudarobah dan musyarakah), jual-beli, (murabahah, salam atau istisna) dan sewa (ijaroh). Ustadz Dwi Chondro Triyono menganalogikan sistem ekonomi itu seperti tubuh manusia, uang adalah darah dan sistem moneter adalah jantungnya. Dalam kapitalisme, jantungnya tersumbat oleh riba, Uang hanya berputar di sekitar lembaga keuangan besar dan para pemilik modal. Sementara sektor riil dan masyarakat bawah kekurangan aliran modal. Akibatnya tubuh ekonomi nasional tampak hidup tetapi sebenarnya tengah sekarat, negap-megap secara struktural. Sementara dalam Islam jantung ekonomi berdenyut sehat karena aliran uang tidak tersumpat oleh bunga, Ia beredar melalui sektor real, kerjasama produktif, dan distribusi zakat. Negara bertindak seperti dokter yang memastikan darah ekonomi sampai kepada semua organ, terutama yang lemah dan kekurangan. Jika kita analogikan dengan kebijakan Purbaya, pendekatannya tetap mempertahankan mekanisme bunga dan dominasi pasar finansial dalam menggerakkan ekonomi, dapat dikategorikan sebagai bentuk sirkulasi tertutup dimana darah ekonomi tidak mengalir merata. Uang cenderung berputar dalam lingkaran terbatas, antara lain bank, investor besar, dan pasar modal. Sementara sektor rilis seperti pertanian, perikanan, dan UMKM hanya mendapatkan sisa aliran ekonomi modal yang kecil dan berbiaya tinggi. Jika kebijakan tersebut disandingkan dengan prinsip ekonomi Islam,tampak bahwa sistem Islam menawarkan paradigma yang lebih menyeluruh, menjaga kesehatan jantung ekonomi tanpa mengorbankan kelancaran aliran darah ke seluruh tubuh masyarakat. Oleh karena itu, meskipun Purbaya Yudi Sadewa tampak berupaya memberikan angin segar bagi perbaikan ekonomi Indonesia melalui kebijakan fiskal dan moneter, namun selama kerangka yang digunakan masih bersandar pada sistem ekonomi kapitalistik ribawi,maka bangsa ini tidak akan benar-benar lepas dari siklus krisis. Upaya perbaikan tersebut hanya akan menjadi penundaan terhadap krisis berikutnya, bukan penyembuhan mendasar atau penyakit sistemik ekonomi itu sendiri. Hal ini menegaskan bahwa sistem buatan manusia itu lemah dan memiliki keterbatasan, karena tidak menjalankan sistem yang berlandaskan wahyu. Wallahu a’lam bishawab Bandung, 10 November 2025 M / 19 Jumadil Ula1446 H HM Ali Moeslim  Foto istimewa Editor : Thamrin Humris

Read More

Presiden Prabowo Resmi Luncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran Hingga Daerah 3T

Interaktive Flat Panel (Papan Interaktif Digital/PID) diharapkan tersebar luas menjangkau seluruh wilayah Indonesia Bekasi – 1miliarsantri.net: Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas. Peresmian tersebut berlangsung dalam sebuah acara yang digelar terpusat di SMP Negeri 4 Kota Bekasi, Senin, 17 November 2025. Pada kesempatan tersebut, Presiden Prabowo melakukan dialog secara virtual dengan para guru dan siswa-siswi dari berbagai daerah untuk meninjau pemanfaatan perangkat papan interaktif digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) dalam proses pembelajaran di sekolah yang digelar di SMPN 4 Kota Bekasi. Presiden menegaskan, teknologi tersebut telah mendorong perubahan signifikan dalam cara siswa memahami materi. Diapun mengingatkan pentingnya menjaga fasilitas pembelajaran yang telah diberikan kepada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Panel Interaktif Digital Sangat Membantu Proses Belajar Mengajar Dalam kesempatan yang sama, seorang guru perwakilan SMA Negeri 2 Binjai, Sumatra Utara, menyampaikan bahwa panel interaktif digital sangat membantu guru dan siswa mengakses berbagai bahan ajar secara lebih luas dan interaktif. Mengutip laman resmi presidenri.go.id, perwakilan guru dari SMA Negeri 2 Binjai mengatakan “Kami sebagai guru dan juga peserta didik sangat terbantu dalam proses pembelajaran, di mana di dalam belajar kami bisa banyak mengakses berbagai bahan dan juga konten-konten yang membantu proses pembelajaran di Rumah Pendidikan, terutama di Ruang Murid, jadi anak-anak bisa belajar dari lab maya.” Siswa Makin Antusias PID menghadirkan pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan dan membuat murid lebih aktif dalam memahami materi, hal tersebut disampaikan oleh perwakilan guru dari SMPN 2 Bangkalan. “Harapan kami ke depan, kami bisa lebih memaksimalkan lagi Papan Interaktif Digital ini, sehingga bisa membentuk generasi yang berkemajuan,” ujar perwakilan guru dari SMPN 2 Bangkalan. Perwakilan guru SDN 01 Benoa di Bali juga mengungkapkan bagaimana siswa makin antusias melalui gim edukasi yang tersedia di Rumah Pendidikan. Dia berharap, perangkat ini terus mendorong peningkatan capaian belajar di sekolah. “Anak-anak sangat antusias sekali, bersemangat dan makin interaktif belajarnya Bapak. Harapan saya dengan adanya papan interaktif digital ini dapat membantu ketercapaian pembelajaran siswa. Terima kasih Bapak,” katanya. Perluasan PID Ke Seluruh Sekolah Di Indonesia Presiden sangat senang dengan manfaat yang dirasakan oleh guru maupun murid-murid, menurutnya teknologi tersebut telah mendorong perubahan signifikan dalam cara siswa memahami materi.  Presiden Prabowo turut menyampaikan apresiasi dan menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas penggunaan PID ke seluruh sekolah di Indonesia. Presiden juga menyebut rencana penambahan konten edukasi dan pemanfaatan perangkat tersebut sebagai siaran pendidikan jarak jauh. “Saya senang bahwa ini dirasakan manfaatnya. Murid-murid lebih semangat, lebih cepat bisa menangkap pelajaran. Saya hanya titip harus dijaga, dirawat, jangan sampai rusak karena ini juga milik murid-murid, milik rakyat semuanya. Kita berkepentingan bahwa ini bisa dijaga,” tutur Presiden Prabowo. “Syukur, terima kasih, bermanfaat, tolong dijaga. Dan kita akan berupaya terus supaya lebih banyak lagi konten, lebih banyak lagi bahan yang bisa dikirim. Nanti juga bisa ada siaran pendidikan dari jarak jauh,” Pungkas Presiden.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : presidenri.go.id Foto : presidenri.go.id

Read More