Perceraian

Meningkatnya Perceraian, Benarkah Menikah Itu Menakutkan atau Jalan Terbaik Untuk Ibadah?

Surabaya – 1miliarsantri.net: Beberapa waktu lalu di media sosial berseliweran  kabar perceraian beauty vlogger Tasya Farasya. Dia sering mewarnai konten kecantikan dengan tampilan yang anggun bak bidadari, karirnya melejit dan keluarga harmonis. Kehidupannya  sangat diidamkan oleh banyak netizen. Namun nyatanya rumah tangga berakhir di meja pengadilan. Bagi penulis yang berada di usia produktif untuk menikah, jadi overthinking untuk menikah. Bahkan muncul dialog-dialog dilematis “Kalau artis sekelas Tasya  yang cantik, mandiri saja bisa bercerai, bagaimana dengan kita yang biasa-biasa saja?. Pertanyaan itu wajar muncul, hingga akhirnya berkembang jadi ketakutan, dan timbullah tag line menikah itu menakutkan. Tapi apakah benar menikah itu menakutkan?. Fitrah Manusia untuk Mencintai Di era meningkatnya perceraian, membuat banyak orang bertanya-tanya, pentingkah menikah kalau akhirnya menderita.  Padahal dalam fitrahnya, pernikahan adalah kebutuhan manusia. Ia menjadi wadah untuk menyalurkan hasrat dengan cara yang aman, menjaga kelangsungan generasi, dan menumbuhkan kasih sayang.  Selain itu Islam memandang pernikahan bukan sekadar formalitas sosial, melainkan ibadah. Rasulullah pernah bersabda: “Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang sudah sanggup untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat meredakan syahwatnya.” (HR. Bukhari No. 4703) Hadis itu memberikan perspektif bahwa menikah adalah jalan terbaik untuk menyalurkan fitrah syahwat manusia. Islam tidak menutup mata terhadap kebutuhan biologis, justru memberikan jalan yang terhormat agar manusia tidak terjerumus pada zina. Puasa pun disediakan sebagai alternatif pengendalian diri bagi yang belum mampu menikah. Disisi lain dalam Al-Qur’an memberikan perspektif bahwa pernikahan adalah bentuk untuk memenuhi kebutuhan psikologis kasih sayang. وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. Ayat ini memberi pesan bahwa pernikahan adalah tanda kasih sayang Allah. Rumah tangga yang dibangun di atas mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) akan menjadi tempat berlabuh dari kerasnya kehidupan. Namun jika nilai-nilai itu luntur, maka pernikahan bisa kehilangan ruhnya. Di balik perceraian selebriti di media sosial, kita sebaiknya kembali berefleksi bahwa pernikahan bukan sekadar tren sosial atau simbol status. Menikah adalah fitrah, ibadah, dan jalan kasih sayang. Baca juga: Yuk Cobain! Bisnis Sampingan (Side Hustle) Halal Ini Bikin Dompet Tebal Tanpa Takut Riba! Teladan Rasulullah Menikah itu Mendamaikan Dibalik banyaknya berita menikah itu menakutkan, masih ada realitas menikah itu memberikan ketenangan seperti yang pernah dialami oleh Aisyah yang ditanyai oleh Urwah. “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah jika ia bersamamu di rumah?”. Aisyah menjawab: “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya; ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (HR. Ibnu Hibban) Dari hadist diatas jadi belajar bahwa dalam menjalani biduk rumah tangga dibutuhkan saling kerjasama antara istri dan suami dalam mengurus kehidupan agar terasa lebih mudah/tidak membebani.

Read More
Self Love dalam Islam

Wujud Cinta kepada Allah! Self Love dalam Islam Sangat Dianjurkan!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Di tengah tekanan hidup, standar sosial yang tinggi, dan pandangan orang lain yang kerap membuat kita ragu pada diri sendiri/tidak mencintai diri sendiri.  Dampak  ragu pada diri sendiri akan membuat potensi diri kurang semangat, membuat diri insecure terhadap penilaian orang lain, dan merasa menjadi manusia yang tidak berguna. Bahkan pada level tertentu bisa membuat diri mudah meremehkan orang lain. Misalnya ketika diri insecure dengan fisik (kegendutan, kekurusan dll), kita bakalan mudah menjudge kekurangan fisik orang lain.  Jadinya ketika diri kita tidak bisa menerima kekurangan atau kelebihan diri maka akan susah menerima kekurangan orang lain. Hal itu membuat sulit terjalin hubungan yang sehat. Kebanyakan  diantara kita mencari makna self love. Namun, seringkali mencintai diri sendiri dianggap egois karena lebih mementingkan kebahagiaan pribadi.  Padahal, dalam Islam, self love justru memiliki makna yang lebih dalam: menjaga diri, mengembangkan potensi, dan menjadi manusia yang bermanfaat. Baca juga: Teladan Mulia Nabi Memberantas Korupsi dalam Islam untuk Menegakkan Keadilan Self Love Wujud Cinta Kepada Allah Mencintai diri dalam Islam merupakan sikap mencintai Allah. Hal itu telah dipertegas dalam hadis Qudsi yang populer di kalangan sufi. “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.”(Yahya bin Muadz Ar-Razi Pernyataan itu memperkuat logika bahwa Allah menciptakan manusia secara sempurna dengan penuh kasih sayang. Ketika kita menghargai ciptaan-Nya (diri sendiri, orang lain atau makhluk hidup), berarti kita sudah mencintai Allah. Begitupun ketika kita meremehkan ciptaan-Nya, secara tidak langsung kita menyepelekan Allah. Tugas kita sebagai manusia yang sudah dianugerahi Allah dengan tubuh, jiwa, dan akal yang sempurna itu maka kita wajib  merawat dan mengembangkan diri, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan: وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِۗ وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ Artinya: “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Luqman: 12) Rasa syukur inilah yang mendorong seorang muslim untuk terus belajar, bekerja, dan berkarya yang bukan semata demi diri sendiri  melainkan agar ilmunya, karyanya, dan tenaganya dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Dan dalam Islam self love bukanlah soal memanjakan diri berlebihan atau hidup sesuka hati. Imam Al-Ghazali pernah berpesan ”menyayangi diri berarti menyelamatkan diri dari azab Allah dengan menjauhi dosa, bertaubat, beramal saleh, dan ikhlas sebelum menyelamatkan orang lain.”

Read More

Semarak Zakat Online, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Gresik – 1miliarsantri.net : Mudah bayar zakat tanpa ribet saat ini bisa dilakukan dimana saja. Tidak hanya menjadi tempat perdagangan secara online, e-commerce juga menyediakan akses kepedulian untuk berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Dengan fitur-fitur inovatif yang diluncurkan, salah satunya yaitu zakat. Melalui fitur tersebut, beberapa e-commerce di Indonesia ikut andil sebagai jembatan antara pemberi zakat dengan badan atau lembaga pengurus zakat untuk dikelola dan disalurkan kepada penerima. Seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak yang turut menyediakan fitur zakat dalam aplikasinya. Siapa yang tidak mengenal e-commerce, yang sudah memiliki banyak pengguna di Indonesia, tentunya memberikan kemudahan akses pembelian dan pembayaran segala produk dan jasa secara online. BAZNAS dan LAZ juga menyediakan pembayaran zakat online dalam portal lembaga dan bekerja sama dengan e-commerce. Lalu bagaimana hukum zakat online menurut islam, yang harus memenuhi syarat wajib dan sah dalam berzakat. Syarat Wajib Zakat dalam Islam Dalam berzakat terdapat ketentuan yang harus diperhatikan dan ditaati oleh seseorang yang akan menjalankannya. Beberapa syarat wajib orang yang mengeluarkan zakat dalam buku Panduan Zakat Praktis (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2013)  yaitu: 1. Islam Salah satu dari enam agama yang diakui di Indonesia, dengan mayoritas penduduknya memeluk agama ini. Islam yang dimaksud yaitu orang yang memilih dan meyakini agama islam dan menjalankan ajaran di dalamnya. Seorang muallaf juga wajib mengeluarkan zakat, jika dikatakan mampu. 2. Merdeka Seseorang yang memiliki hak atas dirinya sendiri, bukan budak yang menjadi milik tuannya. Kepemilikan harta bisa menjadi hak pribadi dari kerja kerasnya yang telah dilakukan. 3. Baligh dan Berakal Seseorang yang telah mencapai usia dewasa dan bisa memahami atas harta yang dimiliki. Sehingga mereka bisa membedakan sesuatu yang baik dan tidak, menggunakan akal pikirannya. 4. Harta yang Wajib Dikeluarkan Kekayaan yang dimiliki seseorang dan mengalami perkembangan sampai batas nilai dan waktu tertentu. Zakat fitrah dan zakat mal telah membagi kekayaan apa saja yang terkena zakat. Jadi tidak semua harta yang dimiliki terkena wajib zakat. 5. Mencapai Nisab Batas nilai kekayaan yang wajib dikeluarkan. Setiap kekayaan memiliki nisab yang berbeda dan sudah diatur dalam ajaran Islam. Nisab yang telah ditetapkan baik dalam agama ataupun peraturan menteri agama adalah sama. Adanya ketentuan tersebut untuk mempermudah dan tidak memberatkan seorang wajib zakat. 6. Milik Penuh Harta yang dimiliki baik secara pribadi atau bersama-sama berada di pihak pemilik tanpa campur tangan pihak lain. Dalam artian harta tidak dalam kondisi disita, hilang atau belum dibagi. Milik penuh disini, bisa untuk perorangan ataupun badan usaha bersama dengan persetujuan semua pemilik usaha tersebut. 7. Mencapai Haul Harta yang dimiliki sudah ada satu tahun penuh, tanpa unsur kesengajaan untuk dikurangi. Yang diperhitungkan adalah akumulasi harta dalam satu tahun. Apabila dalam pertengahan mengalami penurunan, namun di akhir tahun kembali stabil bahkan meningkat, maka harta tersebut wajib dizakati.

Read More
korupsi dalam Islam

Teladan Mulia Nabi Memberantas Korupsi dalam Islam untuk Menegakkan Keadilan

Surabaya – 1miliarsantri.net: Beberapa bulan ini pemberitaan di sosial media maupun televisi diramaikan dengan kasus korupsi yang diluar nalar dan kemanusiaan. Bayangkan korupsi telah merajalela di birokrasi haji bahkan nahasnya di lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi berakhlak mulia. Tak bisa dipungkiri jika para pemimpin rakyat saja korupsi, maka tindakan itu bisa menyulut praktik serupa di lapisan masyarakat bawah. Korupsi akhirnya dianggap “biasa”, padahal sesungguhnya ia adalah penyakit yang menghancurkan keadilan. Di sinilah pentingnya kita menengok kembali teladan Nabi Muhammad. Bagaimana beliau bersikap tegas terhadap segala bentuk pengkhianatan amanah, bahkan sekecil jarum sekalipun. Semoga teladan beliau menjadikan pondasi bertindak adil dan  anti korupsi dalam dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Korupsi dalam Pandangan Islam Dalam bahasa Arab, istilah yang mendekati korupsi adalah ghulul (penggelapan harta amanah). Allah berfirman: وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّۗ وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ Artinya: Tidak layak seorang nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang diselewengkannya itu. Kemudian, setiap orang akan diberi balasan secara sempurna sesuai apa yang mereka lakukan dan mereka tidak dizalimi. (Ali Imran:161) Yang perlu kita renungkan kembali bahwa perjalanan manusia tidak berhenti hanya di dunia. Manusia akan dikembalikan ke akhirat, entah itu neraka dan surga. Mungkin saat ini dunia, kejahatan kita tidak berdampak buruk, tapi jangan sampai menyesal jika di hari kiamat maupun akhirat semua perbuatan jahat akan dibalas dengan hal setimpal. Pada surat Ali Imran  menegaskan bahwa pengkhianatan terhadap amanah, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban. Baca juga: Bolehkah FOMO dalam Islam? Intip Hukumnya di sini Yuk Biar Lebih Bijak! Sikap Tegas Nabi terhadap Korupsi Bayangkan suasana saat itu, ketika kaum Muslim baru saja memenangkan peperangan di Khaibar. Rampasan perang yang terkumpul begitu banyak, lalu Rasulullah ﷺ menunjuk beberapa sahabat untuk membagi dan mengelola harta tersebut. Semua orang menunggu dengan sabar, karena mereka yakin Rasulullah ﷺ adalah teladan keadilan. Namun, dari sekian banyak sahabat yang diberi tugas, ada seorang bernama Ibnul Lutbiyah. Ia pulang membawa bagian untuk umat, tetapi juga menyimpan sebagian untuk dirinya. Ia beralasan, “Ini bukan bagian dari rampasan, melainkan hadiah pribadi yang diberikan kepadaku.” Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, wajah beliau berubah. Dengan suara lantang, beliau mengumpulkan kaum Muslimin dan bersabda:

Read More
FOMO dalam Islam

Bolehkah FOMO dalam Islam? Intip Hukumnya di sini Yuk Biar Lebih Bijak!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Pernahkah kamu merasa gelisah ketika tidak ikut tren yang sedang ramai dibicarakan? Misalnya, ketika semua temanmu sudah mengganti foto profil dengan latar tertentu, menghadiri konser viral, atau mencoba makanan yang sedang hits, lalu kamu merasa ada yang “kurang” dalam hidupmu? Fenomena inilah yang disebut FOMO (Fear of Missing Out). Dalam konteks kekinian, FOMO dalam Islam menjadi tema yang penting dibicarakan. Sebab, rasa takut tertinggal bisa menjadi jebakan yang melelahkan, tetapi juga dapat berubah menjadi dorongan positif bila diarahkan pada hal-hal yang benar. Hakikat FOMO dan Kaitannya dengan Kehidupan Sehari-hari Sebelum memahami lebih dalam, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu FOMO. FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yang artinya rasa takut tertinggal atau kehilangan momen yang dialami orang lain. Di era media sosial, FOMO semakin terasa karena hampir setiap saat kita melihat orang lain memamerkan pengalaman, pencapaian, atau tren terbaru. Dalam psikologi, FOMO sering disebut sebagai bentuk kecemasan sosial. Gejalanya mulai dari tidak bisa lepas dari ponsel, terus-menerus memeriksa notifikasi, hingga merasa minder saat tidak bisa mengikuti tren yang sedang ramai. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat produktivitasmu menurun dan pikiran terasa penuh dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Namun, dalam pandangan Islam, FOMO tidak sekadar gejala sosial biasa. FOMO dalam Islam mengajarkan kita untuk memilah: mana yang termasuk kesia-siaan, dan mana yang bisa menjadi ladang amal. FOMO Sebagai Ancaman FOMO dalam Islam bisa menjadi ancaman jika rasa takut tertinggal itu hanya berhubungan dengan dunia dan kesenangan sesaat. Bayangkan, kamu rela begadang demi tidak ketinggalan live streaming artis, merasa iri saat melihat teman traveling ke luar negeri, atau bahkan stres karena tidak punya barang branded yang sama dengan orang lain. Islam menegaskan, sifat iri dan membandingkan diri secara berlebihan dapat merusak jiwa. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nisa ayat 32: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain…” Ayat ini menegaskan bahwa kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain hanya akan membawa kegelisahan. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan, iri hati dapat mengikis pahala seperti api yang melahap kayu bakar. Jadi, jika FOMO hanya membuatmu sibuk mengejar tren tanpa arah, ia justru menjadi sumber penderitaan. Baca juga: Udah Coba Belum? 7 Kebiasaan Sehat Islami Ini Bikin Hidup Kamu Lebih Bahagia Lho! FOMO Sebagai Motivasi Meski berbahaya, FOMO dalam Islam tidak selalu bernuansa negatif. Jika diarahkan dengan benar, FOMO bisa menjadi motivasi untuk berbuat baik. Misalnya, takut tertinggal dalam menuntut ilmu, merasa rugi jika melewatkan shalat berjamaah, atau ingin selalu terlibat dalam kegiatan sosial.

Read More
merawat orang tua sakit

Diangkat Dari Kisah Nyata! Ini Tantangan Tak Terduga Dalam Merawat Orang Tua Sakit!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Seiring usia lanjut, orang tua pasti mengalami penurunan kesehatan. Cepat atau lambat, setiap anak akan menghadapi situasi di mana mereka harus merawat orang tua yang sakit.  Sakitnya orang tua di usia senjabukan sekedar sakit ringan, tapi bisa berupa penyakit serius yang membutuhkan pendampingan penuh. Terkadang proses sembuh lama bahkan tak ada harapan untuk sembuh. Merawat orang tua sakit bukan sekadar tugas, tetapi perjalanan panjang yang sarat tantangan dari sisi emosional, finansial, waktu, hingga kesehatan mental.  Islam sendiri telah memberi pedoman agar anak tetap sabar dan berbakti selama merawat orang tua sakit. Hal itu juga karena merawat orang tua juga memiliki tantangan yang tidak main-main, seperti jenis tantangan yang akan kita jelaskan di bawah ini: 1. Ujian Kesabaran Menghadapi Orang Tua yang Rewel Saat sakit, orang tua sering kali menjadi lebih sensitif dan muncul sifat kekanak-kanakannya. Penulis pernah ada di posisi merawat bapak stroke setengah badan. Ada satu momen yang masih membekas, saat itu habis membersihkan rumah dan menyelesaikan deadline kerja (WFH), bapak minta makan. Lalu berusaha menyuapi makanan, karena bapak nggak sanggup makan sendiri. Tiba-tiba bapak ngomel karena makannya tidak hangat dan terasa tidak enak. Hingga akhirnya ketika suapan kedua, bapak menolak dan menumpahkan piring yang aku pegang. Jujur saat itu hati terasa ngilu, hembusan nafas amarah muncul, mata pun berair dan rasanya mau memecahkan piring. Tapi apa daya, hanya bisa membersihkan tumpahan itu. Dan langsung ke kamar untuk shalat, saat sujud baru bisa melampiaskan teriakan amarah karena lelah menghadapi rewelnya bapak. Untuk bisa mengendalikan emosi itu karena ingat firman Allah dalam surat  Al-Isra’ ayat 23: وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran dalam menghadapi sikap orang tua, bahkan ketika mereka rewel karena sakit adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. 2. Tantangan Finansial yang Berat Tidak sedikit keluarga yang kesulitan dengan biaya pengobatan. Saat bapak di diagnosa stroke dan jantung lemah, dokter menyarankan operasi ring jantung dengan biaya ratusan juta rupiah.  Saat itu tidak memiliki BPJS, asuransi kesehatan atau tabungan. Hal itu membuat keluarga hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Allah agar diberi keajaiban atau kemudahan. Atas izin Allah, bapak terlepas dari masa kritis itu. Walaupun tidak jadi operasi, Allah  masih diberi kesempatan hidup beberapa tahun. Sungguh Maha Besar Allah kepada hambanya yang lemah dan meminta pertolongan. Dari situ sebagai seorang anak mulai sadar untuk mengurus BPJS bahkan menyisihkan uang untuk tabungan darurat untuk kesehatan bapak.  Teringat Dulu orang tua masih sehat, ketika anaknya sakit, apapun dikorbankan orang tua. Kini giliran anak berjuang untuk kesembuhan orang tua, walau sungguh berat ujian ini. Rasulullah SAW bersabda:  “Cukuplah seseorang berdosa bila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud) Hadis ini menegaskan pentingnya tanggung jawab anak, termasuk dalam aspek finansial. Kalau meniatkan kerja untuk orang tua, insyaallah ada saja rezeki datang tak disangka dan di waktu tak terduga. Baca juga: Wow Ini Daftar Masjid Terbesar di Dunia! No 1 Paling Indah! 3. Membagi Waktu Antara Studi, Bekerja dan Merawat Orang Tua Sakit

Read More

Bisnis Halal Indonesia 2024-2030: Dari UMKM Pesantren ke Pusat Industri Global!

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Indonesia kini berada di persimpangan ambisi besar industri halal global. Dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan jumlah UMKM yang melimpah, negeri ini memiliki potensi nyata untuk menjadi salah satu pusat industri halal dunia. Namun untuk itu, kesiapan regulasi, kapasitas produksi, branding, dan sinergi pemangku kepentingan harus dimantapkan. Tren Global yang Makin Kuat Laporan State of the Global Islamic Economy mencatat bahwa belanja konsumen Muslim global di sektor-sektor halal utama (makanan dan minuman, fesyen muslim, kosmetik, farmasi, pariwisata halal) mencapai sekitar USD 2,29 triliun pada 2022, dengan proyeksi terus tumbuh hingga USD 3,36 triliun pada 2028. (ANTARA News) Di sisi domestik, ekspor produk halal Indonesia dari Januari hingga Oktober 2024 tercatat senilai USD 41,42 miliar atau senilai sekitar Rp 673,90 triliun, dengan surplus perdagangan halal mencapai sekitar USD 29,09 miliar. Produk halal pangan dan minuman mendominasi (~81,16%) dari keseluruhan ekspor halal, disusul modest fashion, farmasi, dan kosmetik. (Ibai) Kekuatan UMKM dan Rantai Pasok UMKM di Indonesia menyumbang besar terhadap ekonomi nasional; banyak di antaranya bergerak di sektor makanan, fashion, dan kosmetik yang halal. Sertifikasi halal yang sudah melampaui 3,4 juta produk hingga 2023 membantu memberikan kepastian hukum dan kepercayaan konsumen. (Antara News) Pemerintah juga melakukan percepatan sertifikasi halal untuk UMKM melalui nota kesepahaman antara UMKM dan BPJPH. (ANTARA News) Ini penting agar banyak pelaku usaha kecil tidak tertinggal dalam persaingan internasional. Bahan baku lokal, tradisi kuliner, dan budaya Muslim di Indonesia juga menjadi modal unik “Made in Indonesia Halal” yang dapat dieksploitasi dengan tepat. Baca juga: Freedom Edge 2025 Jadi Sinyal Tandingan Blok Seoul–Tokyo–Washington Tantangan yang Masih Ada Walau potensi besar, hambatan praktis masih nyata: Strategi Pemerintah dan Inovasi Utama Pemerintah melalui BPJPH dan Kementerian Perdagangan telah melakukan beberapa langkah strategis: 1.    Percepatan proses sertifikasi halal dan penyederhanaan persyaratan untuk UMKM. (ANTARA News)

Read More

Gelombang Startup Indonesia: Fintech dan Agritech Memacu Revolusi Ekonomi Digital

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Indonesia kini berada di persimpangan penting transformasi ekonomi: startup fintech dan agritech tumbuh pesat, mendorong inklusi, efisiensi, dan peluang baru bagi pelaku usaha maupun masyarakat. Namun, kesuksesan di tengah harapan tinggi ini juga dipengaruhi oleh sejumlah tantangan nyata yang harus dihadapi. Fintech: Akses Keuangan yang Meluas Laporan hasil survei SNLIK 2024 dari OJK dan BPS menyebutkan indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 75,02%, sementara literasi keuangan berada di angka 65,43%. (OJK Portal) Fintech berkontribusi besar dalam lonjakan akses tersebut, terutama lewat dompet digital dan pembayaran elektronik—membuka layanan keuangan formal bagi masyarakat yang sebelumnya tidak tersentuh oleh bank. Studi akademik memperkuat hal ini: penggunaan layanan pembayaran digital melalui fintech terbukti meningkatkan inklusi keuangan. Namun, masalah literasi digital dan keamanan transaksi masih jadi batu sandungan. (ResearchGate) Agritech: Solusi Riil, Tapi Dana Mengering Di sektor agritech, inovasi muncul dalam bentuk platform yang menghubungkan petani langsung ke pembeli, aplikasi informasi cuaca dan harga komoditas, serta layanan pembiayaan alternatif seperti peer-to-peer (P2P) untuk petani. Crowde adalah satu contoh startup yang memberikan akses modal dengan model pendanaan kolektif. (asiatomorrow.net) Namun pendanaan agritech telah mengalami penurunan tajam: dana yang masuk ke sektor ini anjlok dari sekitar US$377,6 juta pada 2022 menjadi hanya sekitar US$33,2 juta pada 2024. (Tech in Asia) Penurunan ini mengindikasikan bahwa meskipun potensi besar, agritech masih rentan terhadap ketidakpastian investor. Baca juga: Trump Sindir India dan Rusia Makin Dekat ke China Revolusi Perilaku dan Ekonomi Baru Perubahan perilaku konsumen juga tampak jelas. Penggunaan dompet digital dan transaksi online tumbuh, seiring penetrasi internet dan smartphone yang terus meningkat. (Trade.gov) Model bisnis tradisional pun terdorong berubah: bank, koperasi, dan lembaga keuangan konvensional harus beradaptasi dengan fintech untuk mempertahankan relevansi. Prediksi dari lembaga internasional menyebut potensi ekonomi digital Indonesia bisa bertambah besar bila transformasi terus berjalan: estimasi menambahkan US$2,8 triliun terhadap ekonomi jika infrastruktur dan regulasi mendukung hingga 2040. (Trade.gov)

Read More

Freedom Edge 2025 Jadi Sinyal Tandingan Blok Seoul–Tokyo–Washington

Seoul – 1miliarsantri.net: Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat akan menggelar latihan militer trilateral Freedom Edge 2025 pada 15–20 September di wilayah udara dan laut tenggara Pulau Jeju. Fokus latihan mencakup operasi udara, angkatan laut, hingga skenario siber. Menurut Staf Gabungan Korsel (JCS), latihan ini merupakan bagian dari pertahanan kolektif untuk meningkatkan interoperabilitas dan kesiapan menghadapi ancaman nuklir dan rudal Korea Utara. JCS menegaskan latihan bersifat defensif sesuai hukum internasional, bukan persiapan operasi ofensif. Pernyataan bersama pejabat pertahanan Korsel, Jepang, dan AS menekankan pentingnya kerja sama trilateral menghadapi ancaman DPRK, menjaga kebebasan navigasi, serta mencegah perubahan status quo di Semenanjung Korea. Sorotan Regional dan Respons Korea Utara Freedom Edge 2025 adalah edisi ketiga latihan ini, sekaligus yang pertama di bawah Presiden Korsel Lee Jae-Myung. Lokasi Jeju dipilih karena strategis sebagai pengawasan potensi peluncuran rudal Korea Utara. Namun, Pyongyang mengecam keras rencana tersebut. Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara, menilai latihan ini sebagai “pamer kekuatan sembrono” dan memperingatkan adanya konsekuensi serius. Pyongyang kerap menyebut latihan trilateral semacam ini sebagai “rehearsal invasi,” meski Seoul, Tokyo, dan Washington menegaskan sifatnya defensif. Bagi sejumlah analis, latihan ini juga merupakan respons diplomatik terhadap parade militer di Beijing yang baru-baru ini dihadiri pemimpin Korea Utara dan Rusia. Baca juga: Israel Klaim Menguasai 40% Kota Gaza Posisi Amerika Serikat dan Jepang Pentagon menegaskan bahwa Freedom Edge 2025 menunjukkan komitmen Washington mendukung sekutu dan menjaga stabilitas Indo-Pasifik. Jepang pun menegaskan kontribusinya dengan mengerahkan kapal perusak Aegis, jet tempur, dan unit siber untuk melatih pertahanan jaringan kritis. Meski detail jumlah pasukan dan alutsista belum diumumkan, latihan diperkirakan melibatkan jet tempur, kapal perang, simulasi pertahanan rudal, dan operasi siber. Makna Strategis Jangka Panjang

Read More

Trump Sindir India dan Rusia Makin Dekat ke China

Washington – 1miliarsantri.net: Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik keras kepada India dan Rusia. Melalui unggahan di platform Truth Social, ia menyinggung semakin eratnya hubungan kedua negara itu dengan China setelah pertemuan puncak Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Tianjin bersama Presiden Xi Jinping. Trump menulis: “Looks like we’ve lost India and Russia to deepest, darkest China. May they have a long and prosperous future together!” Ucapan ini memicu spekulasi soal arah hubungan geopolitik Asia. Sindiran Trump dan Reaksi Diplomatik Unggahan Trump disertai foto Modi, Putin, dan Xi berjalan bersama. India memilih berhati-hati dengan hanya menyatakan “no comment”. Trump kemudian mengklarifikasi bahwa meski kecewa India membeli minyak dari Rusia, ia merasa hubungan pribadi dengan Narendra Modi tetap baik. China menanggapi dengan menyebut bahwa kerja sama Beijing dengan India dan Rusia “tidak ditujukan melawan pihak ketiga” melainkan demi kepentingan rakyat. Di kesempatan lain, Trump menyerang kebijakan Presiden Joe Biden yang dinilainya terlalu lemah menghadapi pengaruh China. Dalam pidato kampanye di Ohio, ia menyebut langkah Washington yang membiarkan India mempererat hubungan dengan Rusia dan China sebagai “kegagalan diplomasi terbesar dekade ini”. Baca Juga: Mulai September 2025, Wisatawan Asing Wajib Gunakan Aplikasi All Indonesia Media China dan Narasi Alternatif Pernyataan Trump dimanfaatkan media pemerintah China. Harian Global Times menyebut komentar Trump mencerminkan kepanikan AS. Beijing menegaskan inisiatif Belt and Road dan kerja sama energi trilateral sebagai pilihan rasional dengan manfaat ekonomi nyata, berbeda dari janji Barat. Narasi ini memperkuat strategi komunikasi China yang berusaha membingkai kemitraan mereka dengan India dan Rusia sebagai alternatif terhadap dominasi global Barat. Implikasi Geopolitik

Read More