Ulama Nusantara yang Berpengaruh, Tapi Jarang Dibahas di Sekolah

Bogor – 1miliarsantri.net : Saat berbicara tentang ulama besar dalam sejarah Islam, banyak dari kita langsung teringat pada nama-nama dari Timur Tengah seperti Imam Syafi’i, Imam Bukhari, atau Ibnu Sina. Padahal, di Nusantara sendiri ada banyak ulama besar yang pengaruhnya sangat kuat, baik dalam bidang dakwah, pendidikan, politik, hingga budaya. Namun jarang dibahas secara mendalam dalam kurikulum sekolah formal. Mereka adalah para ulama yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga berjuang melawan penjajahan, membangun masyarakat, hingga merumuskan gagasan pendidikan dan kebudayaan. Dengan mengulas kembali kiprah mereka, masyarakat akan memahami bahwa sejarah bangsa tidak hanya dipenuhi dengan tokoh politik dan pahlawan perang, tetapi juga dengan ulama-ulama visioner yang kontribusinya sangat besar bagi lahirnya Indonesia yang berdaulat, religius, dan berbudaya. Mengenal kembali sosok-sosok ini penting. Selain memperluas wawasan sejarah, juga membangkitkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa yang memiliki jejak keilmuan Islam yang sangat kaya. Mengapa Ulama Lokal Kurang Diangkat dalam Pembelajaran? Salah satu alasan mengapa banyak ulama Nusantara “terlupakan” adalah karena narasi sejarah yang cenderung sentralistik dan kurang memberi ruang pada tokoh lokal. Selain itu, keterbatasan referensi dan kurangnya minat baca sejarah juga membuat nama-nama mereka tidak sepopuler tokoh-tokoh luar negeri. Padahal, kontribusi mereka luar biasa dalam menyebarkan Islam yang ramah, membaur dengan budaya lokal, dan relevan dengan konteks masyarakat saat itu bahkan hingga kini. Beberapa Ulama Nusantara yang Layak Dikenal 1. Syekh Yusuf Al-Makassari (Makassar, Sulawesi Selatan) Beliau adalah tokoh ulama dan pejuang anti-kolonial yang dihormati tidak hanya di Indonesia, tapi juga Afrika Selatan. Ia dikenal sebagai ulama sufi yang juga menulis banyak karya spiritual dan sosial-politik. 2. Syekh Nawawi Al-Bantani (Banten) Dikenal sebagai “Imam Masjidil Haram” asal Nusantara karena pernah menjadi pengajar tetap di Makkah. Karyanya dalam bidang tafsir, fikih, dan tasawuf menjadi rujukan ulama dunia Islam hingga saat ini. 3. Tuanku Imam Bonjol (Sumatera Barat) Selain sebagai pemimpin perang Padri, beliau juga dikenal sebagai ulama reformis yang ingin memurnikan ajaran Islam dari praktik menyimpang. Ia memperjuangkan pembaruan agama berbasis pemahaman yang mendalam.

Read More
liburan

Jangan Lupkan Hal Ini Ketika Liburan! Dijamin Perjalanan Lebih Menyenangkan!

Bandung – 1Miliarsantri.net – Bagi seorang Muslim, perjalanan (safar) untuk liburan bukan sekadar berpindah tempat, tapi juga bagian dari ibadah. Rasulullah SAW bahkan memberi banyak adab safar, mulai dari doa keluar rumah hingga menjaga akhlak dan kebersihan selama perjalanan. Namun, salah satu hal yang sering terlupakan ketika akan bepergian adalah di mana kita menaruh koper saat menginap di hotel. Meski terlihat sepele, ternyata hal ini berhubungan erat dengan kebersihan, kesehatan, bahkan keberkahan safar kita. Dan selain itu, agar perjalanan lebih menyenangkan dan tetap dapat pahala, maka ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan, seperti: 1. Kebersihan Sebagian dari Iman Islam menekankan pentingnya menjaga kebersihan, baik badan, pakaian, maupun tempat. Rasulullah SAW bersabda: “Kebersihan itu sebagian dari iman.” (HR. Muslim). Meletakkan koper di lantai hotel yang penuh jejak sepatu, kotoran, atau bekas tumpahan, bisa membuat pakaian kita ikut tercemar. Padahal, pakaian yang kita kenakan bukan hanya untuk jalan-jalan, tapi juga untuk shalat. Menjaga kebersihan koper berarti menjaga pakaian tetap suci agar ibadah tidak terganggu. Baca juga: Wujud Cinta kepada Allah! Self Love dalam Islam Sangat Dianjurkan! 2. Hindari Najis dan Hal yang Mengganggu Shalat Lantai hotel, terutama yang berkarpet, bisa menyimpan banyak hal najis atau kotoran yang tak kasat mata. Jika koper kita terkena itu lalu pakaian di dalamnya terkontaminasi, bisa jadi tanpa sadar kita shalat dengan pakaian yang kotor. Dalam fiqih, kebersihan pakaian termasuk syarat sah shalat. Dengan menghindari lantai, kita sudah menjaga agar ibadah tetap sah dan terjaga dari hal-hal yang merusak. 3. Waspada “Penumpang Gelap” yang Merugikan Kutu kasur (bed bugs) atau serangga kecil sering bersembunyi di lantai dan bisa masuk ke koper. Jika terbawa pulang, bukan hanya merepotkan, tapi juga bisa mengganggu ketenangan rumah. Islam mengajarkan agar rumah menjadi tempat yang bersih, nyaman, dan menenangkan hati untuk beribadah. Membawa pulang hama tentu berlawanan dengan itu.

Read More

Infak di Kalangan Gen Z: Tren Baru atau Sekadar Formalitas?

Bogor – 1miliarsantri.net : Generasi Z dikenal sebagai generasi yang aktif, kreatif, dan sangat akrab dengan dunia digital. Dalam banyak hal, mereka terlihat lebih peduli dengan isu-isu sosial, lingkungan, dan kemanusiaan. Salah satu bentuk kepedulian yang mulai terlihat menonjol adalah kebiasaan berinfak meskipun dalam bentuk dan pendekatan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Infak bukan hal baru dalam Islam. Ia adalah bentuk sedekah yang dianjurkan dan bisa diberikan kapan saja, kepada siapa saja yang membutuhkan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hadid ayat 7 yang berbunyi: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengifakkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” Kini, infak hadir dalam bentuk digital seperti lewat QR code masjid, platform donasi daring, hingga kampanye infak melalui influencer di TikTok. Pertanyaannya, apakah ini murni bentuk kepedulian? Atau sekadar formalitas yang mengikuti tren agar terlihat “peduli”? Fenomena Infak Digital di Kalangan Gen Z Platform seperti Kitabisa, BAZNAS, dan Dompet Dhuafa kini jadi tempat favorit untuk menyalurkan infak. Mereka menyediakan kampanye yang dikemas dengan visual menarik, cerita menyentuh, dan kemudahan pembayaran hanya dengan satu klik. Infak juga mulai disisipkan dalam kegiatan sehari-hari. Contohnya, infak digital saat checkout belanja online, pembayaran sedekah Jumat lewat e-wallet, atau patungan online untuk kegiatan sosial sekolah. Bagi Gen Z, bentuk-bentuk ini terasa lebih praktis dan relevan dengan gaya hidup mereka. Mereka tak harus membawa uang tunai atau mencari kotak infak secara fisik. Baca Juga : Kemenag Integrasikan Data Mustahik dan Memastikan Distribusi Zakat, Infak, Sedekah Tepat Sasaran Nilai Positif: Potensi Kebaikan yang Besar Kebiasaan berinfak di usia muda adalah hal yang patut diapresiasi. Selain menumbuhkan empati, infak juga mendidik untuk tidak terikat pada materi. Banyak Gen Z yang dengan sadar menyisihkan uang jajan, bonus freelance, atau hasil jualan online untuk berbagi.

Read More

Zakat Digital: Cara Baru Berbagi yang Transparan dan Tepat Sasaran

Bogor – 1miliarsantri.net : Zakat adalah salah satu rukun Islam yang menjadi kewajiban setiap Muslim yang mampu. Dengan perkembangan di era digital, zakat digital menjadi salah satu opsi pembayaran. Ia bukan hanya bentuk ibadah finansial, tetapi juga instrumen sosial yang bertujuan mengurangi kesenjangan ekonomi dan membantu mereka yang membutuhkan. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 103 yang artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha mendengar, Maha mengetahui.” Di tengah perkembangan teknologi, cara menunaikan zakat pun ikut berubah. Dulu zakat diserahkan langsung kepada amil zakat atau mustahik secara fisik. Kini, zakat digital bisa ditunaikan secara digital melalui aplikasi, e-wallet, bahkan lewat transfer bank dengan sistem yang jauh lebih transparan dan terdata. Fenomena zakat digital ini bukan hanya memudahkan, tapi juga membuka jalan baru bagi generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi untuk terlibat aktif dalam berzakat. Apa Saja Keunggulan Zakat Digital?    1. Praktis dan Cepat           Bayangkan kamu bisa membayar zakat maal cukup dengan klik beberapa tombol di aplikasi seperti Zakat Kita, Kitabisa, atau Dompet Dhuafa. Tidak perlu antri, tidak perlu keluar rumah. 2. Transparansi dan AkuntabilitasPlatform digital biasanya menyediakan laporan penyaluran dana, dokumentasi kegiatan, bahkan update jumlah penerima manfaat secara real-time. Hal ini membangun kepercayaan dan semangat berbagi yang lebih besar. 3. Akses Lebih Luas           Melalui sistem digital, zakat bisa menjangkau wilayah yang lebih jauh dan merata. Mustahik di pelosok bisa menerima bantuan dari muzakki di kota besar bahkan luar negeri. Baca Juga : Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengeluarkan Zakat? Zakat Digital untuk Generasi Muda      Generasi Z dan milenial tumbuh di era cashless. Mereka lebih suka transaksi instan dan paperless. Maka, zakat digital menjadi solusi ideal untuk mengajak mereka tetap berzakat tanpa merasa “ribet” atau “jadul”.

Read More

Gebrakan Program MLB, Terpilih 1.000 Madrasah di Indonesia Mendapat Rp.25 Juta dari BAZNAS

Tegal – 1miliasantri.net : Awal Agustus 2025 menjadi salah satu momen yang cukup penting bagi dunia pendidikan madrasah di Indonesia. Pasalnya, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., meluncurkan program Madrasah Layak Belajar (MLB) sebagai wujud nyata komitmen menghadirkan pendidikan yang lebih merata dan berkualitas. Program ini langsung menyita perhatian publik karena menyasar 1.000 madrasah penerima manfaat yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap madrasah terpilih memperoleh bantuan Rp25 juta untuk perbaikan ruang kelas maupun pengembangan fasilitas perpustakaan. Tentu saja, kabar ini membuat banyak pengelola dan warga madrasah penasaran: apakah madrasah mereka termasuk dalam daftar penerima? Peluncuran di Jakarta Program MLB resmi dilaunching di Gedung Kementerian Agama RI, Jakarta, Selasa (5/8/2025). Acara ini dihadiri oleh Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., jajaran pimpinan BAZNAS, perwakilan ormas Islam di bidang pendidikan, Kepala Kanwil Kemenag dari seluruh Indonesia, serta Pimpinan BAZNAS provinsi, kabupaten/kota. Tidak ketinggalan, para Kepala Madrasah Ibtidaiyah dari berbagai daerah ikut menyaksikan jalannya acara, baik secara langsung maupun melalui platform daring. Kehadiran mereka menandakan bahwa program ini memang ditunggu-tunggu banyak kalangan. Apresiasi dari Menteri Agama Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, dalam pidatonya menegaskan pentingnya program ini sebagai langkah strategis memperkuat madrasah. “Saya merasa momentum ini sangat penting, karena yang akan langsung menerima manfaat dari kegiatan ini adalah madrasah. Karena itu, saya mewakili seluruh madrasah penerima manfaat menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada BAZNAS,” kata Nasaruddin. Dirinya juga menyoroti fakta bahwa para santri madrasah sebenarnya paling layak disebut sebagai penerima zakat atau asnaf. Bahkan, hampir seluruh kategori penerima zakat bisa dilihat pada kehidupan sehari-hari murid madrasah. Lebih jauh, Menag mengungkapkan adanya ketimpangan antara sekolah umum dan madrasah. Banyak madrasah berdiri dengan fasilitas terbatas, sementara sekolah formal mendapat sokongan penuh dari negara. “Untung ada BAZNAS yang mengintip persoalan ini. Sekali lagi, terima kasih kepada BAZNAS yang telah peduli kepada kelompok mustadh’afin,” ujarnya. Baca Juga : BAZNAS RI Dukung Program Kesehatan Nasional Komitmen BAZNAS RI Sementara itu, Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., menjelaskan bahwa program MLB adalah bentuk keseriusan lembaganya mendukung pemerataan akses pendidikan, khususnya bagi madrasah swasta yang selama ini kurang tersentuh bantuan pemerintah.

Read More

Kapolri Bentuk Tim Reformasi Polri, 52 Anggota Ditetapkan Lewat Sprin Resmi

Jakarta – 1miliarsantri.net: Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo resmi membentuk Tim Transformasi Reformasi Polri. Tim ini terdiri dari 52 anggota sebagaimana tercantum dalam Surat Perintah (Sprin) Kapolri Nomor Sprin/2749/IX/2025 yang diterbitkan pada 17 September 2025. Dalam surat perintah tersebut, Kalemdiklat Polri Komjen Pol. Chryshnanda Dwilaksana ditunjuk sebagai ketua tim. Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko membenarkan adanya Sprin tersebut. Tujuan Pembentukan Tim Reformasi Polri Menurut Brigjen Pol. Trunoyudo, pembentukan tim ini merupakan tindak lanjut Polri dalam memperkuat kerja sama dengan pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya. Pendekatan yang dilakukan bersifat sistematis dan menyeluruh, dengan fokus pada pengelolaan transformasi institusi. Tim tersebut dibentuk untuk memastikan Polri mampu melakukan akselerasi reformasi sesuai harapan masyarakat, baik dalam aspek pelayanan publik, transparansi, maupun profesionalisme aparat. “Proses dan tujuan mendasar serta luas melibatkan seluruh satuan kerja dan wilayah, yang mengacu pada visi strategis Grand Strategy Polri 2025–2045,” jelasnya. Reformasi Polri Menuju 2045

Read More

Manfaat, Etika, dan Tantangan AI dalam Kehidupan Sehari-hari Bagi Remaja Muslim

Bogor – 1miliarsantri.net : Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi teknologi masa depan. Ia hadir di sekitar kita: dari saran video di TikTok, fitur otomatis AI di Google Translate, hingga chatbot seperti ChatGPT yang bisa menjawab pertanyaan apa pun. Sebagai generasi yang tumbuh dalam dunia serba digital, remaja muslim hari ini hidup berdampingan dengan AI hampir setiap hari. Tapi, apakah kita hanya jadi pengguna pasif? Ataukah kita bisa menggunakan teknologi ini dengan bijak, kreatif, dan tetap dalam koridor nilai Islam? Bagi remaja Muslim, perkembangan ini menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan yang tidak bisa diabaikan. AI dapat membantu mempermudah aktivitas sehari-hari dan membuka wawasan baru, namun penggunaannya tetap perlu dilandasi dengan etika serta nilai-nilai Islam agar tidak menjerumuskan pada hal yang merugikan. Manfaat AI dalam Kehidupan Sehari-hari       AI membantu banyak aspek dalam kehidupan kita, bahkan sering tanpa kita sadari. 1. Belajar Lebih Cepat: ChatGPT bisa menjelaskan ulang materi pelajaran, merangkum artikel, atau membantu menyusun ide tugas.  2. Efisiensi Aktivitas Harian: Aplikasi transportasi seperti Gojek, Google Maps, atau Shopee pakai AI untuk mempermudah pencarian, rute tercepat, atau promo personal.3. Dakwah dan Konten Islami: Ada AI yang bisa membantu membuat transkrip ceramah, subtitle video dakwah, bahkan menyusun konten Islami berbasis data. Santri atau pelajar Muslim bisa memanfaatkan AI sebagai “asisten belajar” yang hemat biaya dan siap 24 jam. Bahkan, beberapa aplikasi sudah mulai menggabungkan AI dengan fitur menghafal Al-Qur’an, kuis Islami, hingga voice-recognition untuk tajwid. Etika dan Batasan Menurut Nilai Islam           Teknologi itu netral. Yang membuatnya baik atau buruk adalah cara manusia menggunakannya. Maka, sebagai Muslim, kita harus menyikapi AI dengan adab dan tanggung jawab. 1. Tabayyun Digital:         AI bisa menciptakan teks, gambar, bahkan video yang sangat realistis. Tapi apakah itu selalu benar? Kita harus tetap melakukan tabayyun mencari kebenaran sebelum percaya atau membagikan informasi. 2. Hindari Plagiarisme:    Meskipun AI bisa menulis, bukan berarti semua langsung kita salin tanpa paham isinya. Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti akal dan usaha kita sendiri. 3. Jangan Gantungkan Segalanya ke Teknologi:    AI itu cerdas, tapi tidak punya nurani. Ia tidak bisa menggantikan akhlak, hikmah, dan niat baik manusia. Sebagai Muslim, kita harus tetap menjadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber utama dalam mengambil keputusan, bukan mesin algoritma. Baca juga : Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam Dunia Konseling Tantangan: Ketika AI Bisa Menyimpang        AI tidak sempurna. Ia bisa salah, bias, atau bahkan membahayakan kalau disalahgunakan. Contohnya:  1. AI bikin konten hoaks atau provokatif 2. Algoritma menyebarkan konten berbahaya karena dianggap “trending” 3. Ketergantungan berlebihan yang membuat orang malas berpikir kritis

Read More
syukur

Keutaman Syukur Bagi Umat Islam! Jangan Sampai Lalai, Ya!

Bandung – 1Miliarsantri.net – Pernahkah kamu merasa suasana hati langsung berubah hanya karena satu ucapan sederhana, “terima kasih”? Rasa syukur kecil bisa membuat hidup terasa lebih ringan. Dalam Islam, syukur bukan sekadar sopan santun, melainkan kekuatan besar yang memengaruhi emosional, sosial, dan spiritual kita. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an: ﴿لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾ “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7). Janji ini menunjukkan bahwa syukur membuka pintu keberkahan hidup, bukan hanya harta, tetapi juga ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah. Makna Syukur dalam Islam Syukur berarti mengakui nikmat Allah dengan hati, lisan, dan perbuatan. Hati yang bersyukur membuat kita sadar bahwa semua kebaikan datang dari-Nya. Dari sinilah tumbuh ketenangan, iman yang kuat, dan rasa dekat dengan rahmat Allah. Sebaliknya, kufur nikmat menjadikan hati keras, gelap, dan jauh dari keberkahan. Inilah yang sering dijadikan celah oleh syaitan, dengan menanamkan rasa iri, dengki, serta ketidakpuasan. Baca juga: Wujud Cinta kepada Allah! Self Love dalam Islam Sangat Dianjurkan! Manfaat Syukur bagi Kehidupan Mengapa kita diwajibkan untuk bersyukur? Karena dengan bersyukur, kita akan mendapatkan beberapa manfaat, seperti: 1. Menenangkan Hati dan Pikiran Dengan bersyukur, fokus kita bergeser dari kekurangan menuju kelimpahan. Setiap pagi saat mengucap alḥamdulillāh, hati lebih ringan, dan hari terasa penuh semangat. 2. Meningkatkan Iman dan Kedekatan dengan Allah Syukur memperkuat keyakinan bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Hal ini menumbuhkan cinta, tawakal, dan kerendahan hati dalam beribadah. 3. Menjadi Perisai dari Bisikan Syaitan Syaitan berusaha melemahkan manusia dengan menumbuhkan rasa iri dan tidak puas. Dengan syukur, hati terlindung dari penyakit tersebut. 4. Memberi Dampak Psikologis Positif

Read More
halal home cooking

Memasak jadi Ibadah? Yuk Terapin Halal Home Cooking dari Sekarang!

Bandung – 1miliarsantri.net: Pernahkah terpikir kalau dapur rumahmu bisa jadi tempat ibadah? Bayangkan, setiap kali mengupas bawang dengan niat baik, menyebut nama Allah sebelum memasak, hingga menyajikan makanan dengan penuh cinta, semua itu bisa bernilai pahala. Inilah konsep halal home cooking, sebuah tren yang makin banyak digemari muslim di berbagai belahan dunia. Banyak orang menganggap halal itu sekadar tidak makan babi, tidak minum alkohol, atau memastikan daging sudah disembelih sesuai syariat. Padahal, dalam Al-Qur’an, halal selalu berdampingan dengan kata ṭayyib (طَيِّب), yang artinya suci, baik, dan penuh kebaikan. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168: يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168) Artinya, makanan halal bukan hanya tentang “boleh dimakan,” tapi juga harus tayyib, tidak merusak tubuh, tidak mencemari lingkungan, tidak berasal dari penipuan, dan tidak diproduksi dengan cara yang zalim. Baca juga: Teladan Mulia Nabi Memberantas Korupsi dalam Islam untuk Menegakkan Keadilan Mengapa Halal Home Cooking Semakin Populer? Kini, makin banyak muslim yang mulai berhati-hati dengan makanan. Meski restoran halal semakin banyak, kepercayaan sering goyah. Ada yang memakai daging halal tapi dimasak di panggangan yang sama dengan bacon, atau restoran cepat saji yang masih diragukan pemasoknya. Karena itulah, banyak keluarga muslim memilih kembali ke dapur. Dengan memasak sendiri, mereka bisa lebih tenang: tahu asal bahan, memastikan semua halal, dan mengawali masakan dengan bismillah. Selain lebih aman, ini juga jadi sarana mendidik anak-anak. Anak belajar bahwa halal bukan cuma label, tapi juga gaya hidup dan nilai yang dijalani setiap hari. Jujur saja, halal home cooking butuh usaha ekstra. Harus teliti baca label, mengenal kode bahan tambahan seperti E120 (pewarna dari serangga), memastikan keju tidak mengandung rennet haram, bahkan terkadang rela meninggalkan es krim favorit karena kandungan emulsifier yang meragukan.

Read More

Menggali Makna Hantu Laut dalam Pameran Biennale Jatim XI

Gresik – 1miliarsantri.net : “Hantu laut adalah sosok yang terkesan tidak ada, menghantui, mencemaskan atau menjadi sesuatu yang kita tunggu-tunggu tanpa kita sadari”, begitu penuturan Elyda salah satu kurator Biennale Jatim XI. Ia bersama tim kurator berjalan menelusuri wilayah Pesisir Sindujoyo Gresik, melihat kehidupan masyarakat, kondisi lingkungan pesisir, sampai ia melihat salah satu perahu nelayan milik Cak Barok yang bertuliskan “Hantu Laut.” Dari sinilah, nama hantu laut diangkat menjadi tema pameran Biennale Jatim XI. Pameran yang diadakan setiap dua tahun sekali ini, kali ini memilih Gresik menjadi tuan rumah. Karena Gresik menjadi salah satu kota yang merepresentasikan wilayah pesisir. Ada sebanyak 67 seniman dalam negeri maupun luar negeri yang ikut berkontribusi dengan karya seni rupa yang dimiliki. Acara tersebut, berlangsung sejak 24 Agustus – 20 September 2025 di Pudak Galeri Gresik. Masyarakat dapat berkunjung pada jam 10.00-21.00 WIB secara gratis. Pengunjung akan dimanjakan dengan karya yang disuguhkan, dari permainan lama, tradisi, mata pencaharian, kehidupan masyarakat pesisir, dan membuka mata untuk peduli dengan kondisi pesisir saat ini. Apa Makna dari Nama Hantu Laut dalam Pameran Biennale Jatim? Hantu Laut : The Specter of The Sea Terdengar menyeramkan, tetapi bukan berarti hantu laut adalah sosok hantu yang menunggu lautan. Nama yang terinspirasi dari perahu milik Cak Barok, seorang nelayan di Pesisir Sindujoyo, Lumpur, Gresik, terkesan menarik. Menurut Elyda, tematik dari Binnale Jatim XI berbicara tentang pesisir, bahwa pesisir tidak hanya menjadi wahana yang indah, namun ada pesisir yang kondisinya miris, seperti di Kota Gresik ini. Dimana ikan-ikan tidak sebanyak dulu, area pesisir yang sudah tercemar dengan polusi pabrik besar disekitarnya. Melalui Pameran Binnale Jatim XI, para seniman menjawab kerisauan akan wilayah pesisir melalui karya seni yang bertemakan “Hantu Laut : The Specter of The Sea.” Karya seni instalasi media campuran mendominasi pada pameran ini, dengan mengangkat isu lingkungan pesisir yang ada disekitar kehidupan para seniman. Bukan berarti hanya pesisir yang ada di Gresik, namun menjawab pesisir yang ada di dunia ini. Sisa-sisa yang Tak Selesai karya Sultan Putra Gemilang Hantu bisa dimaknai sebagai sesuatu yang menghantui, mencemaskan, seperti pada karya “Sisa-sisa yang Tak Selesai” oleh Sultan Putra Gemilang. Melalui karyanya mengingatkan pengunjung akan tragedi lumpur lapindo. Dimana kekuasaan dan keserakahan industri tanpa memperhatikan dampak bagi masyarakat setempat. Allah sudah menjelaskan dalam Al Qur’an surat Ar-Rum Ayat 41 yang artinya; “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Baca juga : Dakwah Ekologis dalam Kehidupan: Menyeru Manusia, Menyelamatkan Alam Sepeda, sandal, kacamata, gelas, bahkan piala sebagai penghargaan atas prestasi, semua terendam lumpur. Benda-benda ini, akan menjadi saksi sejarah akibat ulah manusia itu sendiri.

Read More