Pesantren Tremas Pacitan, antara Sejarah dan Keunikan nya

Pacitan – 1miliarsantri.net : Meski letaknya yang berada di pelosok selatan Jawa, nama Pondok Tremas Pacitan cukup masyhur hingga ke penjuru dunia. Pesantren ini telah melahirkan banyak ulama yang tidak sekadar jago kandang di Jawa saja, tapi juga berhasil tandang unjuk gigi hingga ke Malaysia, Thailand, Al-Azhar Mesir hingga ke Mekah. Tidak hanya ulama hebat yang lahir dari Pondok Tremas, namun juga warisan keilmuan yang menjadi jejaring rantai intelektual ulama Nusantara. Sejarah Perguruan Islam Pondok Tremas tidak bisa lepas dari KH Abdul Mannan (1830-1862) sebagai pendiri. Pemilik nama kecil Raden Bagus Darso itu merupakan putra R. Ngabehi Dipomenggolo, seorang Demang di daerah Semanten pinggiran Kota Pacitan, Jawa Timur. Sejak kecil KH Abdul Manan dikenal cerdas dan tertarik pada problematika religius. Saat memasuki usia remaja, dikirim ke Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo untuk mendalami ilmu agama Islam di bawah bimbingan Kiai Hasan Besari. Ia terkenal sebagai santri yang cerdas, rajin, dan tekun dalam belajar. Tak heran ia menjelma sebagai santri teladan. Saat KH Abdul Mannan selesai menimba ilmu di Tegalsari, ia pulang ke Semanten. Ia menyelenggarakan pengajian dengan sangat sederhana. Warga Pacitan menyambut baik keberadaan majelis tersebut. Bermula dari situ, ia mendirikan pondok di sekitar masjid untuk para santri yang datang dari jauh. Namun beberapa waktu kemudian, pondok tersebut pindah ke daerah Tremas setelah KH Abdul Mannan menikah dengan Putri Demang Tremas R. Ngabehi Honggowijoyo. R. Ngabehi Honggowijoyo sebenarnya kakak kandung R. Ngabehi Dipomenggolo. Di antara penyebab pondok itu dipindahkan adalah pertimbangan kekeluargaan yang dianggap lebih baik jika pinda ke daerah Tremas. Mertua dan istri beliau menyediakan lokasi yang jauh dari keramaian atau pusat pemerintahan. Daerah itu dinilai kondusif bagi santri yang hendak memperdalam ilmu agama. Berbekal lokasi tersebut, KH Abdul Mannan mendirikan pondok pesantren yang kemudian dikenal ‘Pondok Tremas’ sekitar 1830 M. Selain menjadi salah satu santri terbaik KH Hasan Besari, KH Abdul Mannan termasuk ke dalam generasi pertama orang Indonesia di Al-Azhar Mesir. Dalam buku Jauh di Mata Dekat di Hati; Potret Hubungan Indonesia-Mesir terbitan KBRI Kairo disebutkan, KH Abdul Mannan merupakan salah satu pelajar pertama Indonesia yang tinggal di Mesir pada 1850-an. Itu ditandai dengan komunitas orang Indonesia yang dijumpai di komplek Masjid Al-Azhar. Ini diperkuat dengan adanya Ruwak Jawi (hunian bagi orang Indonesia) di masjid itu. Beliau tinggal di Mesir sekitar 1850-an. Dia berguru kepada Grand Syeikh ke-19, Ibrahim Al Bajuri. Jadi wajar di tahun-tahun itu ditemukan kitab Fath al-Mubin, syarah dari kitab Umm al-Barahin yang merupakan kitab karangan Grand Syeikh Ibrahim Bajuri mulai dibaca di beberapa pesantren di Indonesia. Pengembaraan KH Abdul Mannan itu diikuti generasi selanjutnya seperti KH Abdullah (Putra KH Abdul Manan Dipomenggolo), tiga kakak beradik Syaikh Mahfudz Attarmasi, KH Dimyathi Tremas, KH Dahlan Al Falaki Tremas, lalu putra KH Abdullah yang menuntut ilmu di Makkah. KH Abdul Manan berhasil meletakkan batu landasan sebagai pangkal berpijak ke arah kemajuan dan kebesaran, serta keharuman pondok pesantren di Nusantara. Selain itu, kegigihan dalam mendidik anaknya menjadi ulama terbilang sukses. Putra beliau menjadi ulama yang tak hanya menguasai kitab klasik, namun mampu menyusun berbagai macam kitab dengan kontribusi yang sangat besar di Indonesia seperti Syaikh Mahfudz, seorang ulama besar Nusantara yang dijadikan rujukan hingga Malaysia dan Thailand. Ia juga pernah menjadi Imam Masjidil Haram dan pemegang sanad Shahih Bukhari-Muslim. Maka tak berlebihan jika KH Abdul Manan disebut sebagai pelajar Indonesia pertama di Al-Azhar sekaligus peretas jejaring intelektual generasi ulama-ulama nusantara. Dalam kitab Al-Ulama’ Al-Mujaddidun karya KH Maimoen Zubair Sarang Rembang, KH Abdul Manan merupakan sosok yang pertama kali membawa, mengaji, dan mempopulerkan kitab Ithaf Sadat Al-Muttaqin, yaitu syarah dari kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali.

Read More

Napak Tilas Masjid Jami’ Ba’alawi Jambi

Jambi – 1miliarsantri.net : Bagi anda yang pernah singgah di kota Jambi, khusus nya Wilayah seberang Kota Jambi (Sekoja) merupakan daerah yang sangat terkenal sebagai salah satu pusat peradaban dan penyebaran Islam di Kota Jambi sejak abad ke 17 Masehi. Hal itu ditandai dengan banyaknya pondok pesantren (ponpes), madrasah, dan masjid tua di Seberang Kota Jambi. Wilayah Seberang Kota Jambi juga menghasilkan banyak ulama terkenal yang berpengaruh, disamping karena disana juga menjadi pusat pendidikan dan perkembangan islam hingga dijuluki sebagai Kota Santri di Jambi. Salah satu masjid yang bersejarah dan menjadi salah satu yang tertua di wilayah Seberang Kota Jambi ialah Masjid Jami’ Ba’alawi yang berada di Kelurahan Arab Melayu, Kecamatan Pelayangan. Tidak diketahui kapan pasti berdirinya masjid ini, namun berdasarkan catatan, masjid ini sudah menjadi madrasah dan pusat penyebaran syariat Islam Jambi sejak abad 17-18 M. Pendiri Masjid Jami’ Ba’alawi Menurut catatan sejarah, Masjid ini didirikan Oleh al-Habib Husein bin Ahmad Baraqbah atau di Jambi lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Keramat Tambak. Beliau merupakan peletak Peradaban pertama Jambi sekitar abad 17 M, (sebagian pakar abad 18). Beliau hijrah dari Tarim Hadramaut Yaman. Berasal dari Kampun Ba’alawi sebelah Timur Kota Tarim. Tuanku Keramat Tambak wafat dan dikebumikan di Kelurahan Tahtul Yaman, tidak jauh dari masjid tersebut, yang kini disebut dengan Pemakaman Arab Melayu. Pemakamannya pun kini telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai Benda Cagar Budaya berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Sejarah Penamaan Masjid Jami’ Ba’alawi Ba’alawi adalah penisbahan nama marga keturunan Rasulullah yang Hijrah ke Yaman sekitar tahun 319 H. Yaman tempo dulu hanya di huni oleh dua suku saja, pertama Suku Arab asli Yaman keturunan Nabi Nuh as, dan Suku Ba’alawi Keturunan Rasulullah yang Hijrah Ke Yaman pada abad ke-3 H. Kemudian nama ini terkenal pada sebuah tarekat sufi Islam Sunni, tarekat ini didirikan oleh Imam Muhammad bin Ali Ba’alawi, bergelar al-Faqih al-Nuqaddam (lahir di Tarim Yaman 574 H / 1178 M – wafat 653 H / 1256 M). Tarekat ini berkembang pesat di tangan Imam Abdullah bin Alawi al-Hadad, penyebaran terbesar tarekat ini di Yaman, Indonesia, Singapura, Kenya, Tanzania, India, Pakistan, Hijaz dan sebahagian Uni Emirat Arab. Jadi, masjid Ba’alawi adalah sebuah masjid yang penamaannya dinisbahkan pada suku keturunan Rasullah yang menetap di Tarim Yaman di sebelah Timur kota Tarim. Masjid ini dibangun oleh regenerasi Ba’alawiyah yang ada di dunia. Satu Dari Lima Masjid Ba’alawi di Dunia Setidaknya hanya terdapat 5 buah bangunan masjid Ba’alawi saja yang ada di dunia. Pertama Masjid Ba’alawi Tarim Yaman, Kedua Masjid Ba’alawi Riadhah Yaman, Ketiga Masjid Ba’alawi Singapura, Keempat Masjid Jami’ Ba’alawi Jambi Indonesia, dan terakhir Masjid Ba’alawi di Aceh Timur Indonesia. Renovasi Oleh Gubernur Jambi Abdurrahman Sayoeti

Read More

Forum Masyarakat Santri Nusantara Siap Dukung Anies Baswedan

Jombang – 1miliarsantri.net : Ketua Umum Forum Masyarakat Santri Nusantara (FormasNU), Ahmad Rouf Qusyairi menilai, Sosok capres Koalisi Perubahan Anies Rasyid Baswedan ternyata memiliki nilai yang sama dengan kalangan santri. Hal itu disampaikan ketika menghadiri Deklarasi FormasNU Kabupaten Jombang. Rouf menyampaikan, prinsip yang dipegang teguh kalangan santri dan Nahdliyin pada umumnya adalah al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah. “Artinya adalah mempertahankan nilai-nilai lama yang relevan atau tradisi-tradisi yang yang relevan atau tradisi-tradisi yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman,” terang Rouf saat ditemui 1miliarsantri.net di Hotel Green Red Syari’ah Jombang, Kamis (18/05). Lebih lanjut Rouf menambahkan, saat ini kita butuh perubahan, seperti perubahan untuk keadilan sosial pemerataan pembangunan dan kesetaraan bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Dia menuturkan, Anies adalah sosok yang representasi dan sekaligus menginspirasi bagi kalangan santri. Selain itu, menurut Rouf, Anies adalah satu-satu bakal calon presiden dari kalangan santri. “Karena Mas Anies ini pernah menjadi Rektor Universitas Paramadina.Kita semua tahu Paramadina dilahirkan oleh Cak Nur (Nurcholish Majid). Saat Orde Baru ada tiga tokoh penting yang kritis terhadap negara, yakni Gus Dur, Cak Nur, serta Cak Nun,” ujarnya.

Read More

Pengertian Tawakal

Surabaya – 1miliarsantri.net : Arti tawakal menurut bahasa diambil dari bahasa arab tawakkul dari akar kata wakala artinya lemah. Adapun arti tawakal secara harfiah adalah menyerahkan atau mewakilkan. Contohnya seseorang mewakilkan suatu benda atau urusan kepada orang lain. Artinya, dia menyerahkan suatu perkara atau urusannya dan dia menaruh kepercayaan kepada orang itu mengenai perkara atau urusan tadi. Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin arti tawakal adalah bagian dari keimanan, dan seluruh bagian dari keimanan tidak akan terbentuk melainkan dengan ilmu, keadaan, dan perbuatan. Begitupula dengan sikap tawakal, ia terdiri dari suatu ilmu yang merupakan dasar, dan perbuatan yang merupakan buah (hasil), dan keadaan yang merupakan maksud dari tawakkal. Tawakal adalah menyandarkan diri kepada Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa dan hati yang tenang. Jadi tawakal adalah menjadikan nya wajib bersandar kepada-Nya dengan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Ia merasa tenang dengan sikap demikian itu dan sangat tsiqah kepada-Nya. Ia juga yakin dengan kecukupan dari-Nya ketika ia bertawakal kepada-Nya dalam perkara itu. Adapun dalil tawakal berikut ini. Allah Swt berfirman dalam surah Ali Imran ayat 159: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159). Firman Allah Swt surah Al-Anfal ayat 61: وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ Artinya: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Anfal: 61) Tawakal merupakan manifestasi keyakinan di dalam hati yang memberi motivasi kepada manusia dengan kuat untuk menggantungkan harapan kepada Allah SWT dan menjadi ukur tingkat keimanan seseorang kepada Allah SWT. Disamping Islam mendidik umatnya untuk berusaha, Islam juga mendidik umatnya untuk bergantung dan berharap kepada Allah. Dalam kata lain, mereka menyerahkan iman dan keyakinannya kepada Allah di dalam suatu urusan, maka pada suatu saat mereka akan merasai keajaiban tawakal. Seorang yang bertawakal yakin tidak ada perubahan pada bagian- bagian rezeki yang telah ditentukan Allah, sehingga apa yang telah ditetapkan sebagai rezekinya tidak akan terlepas darinya, dan apa yang tidak ditakdirkan untuknya tidak akan ia peroleh, sehingga hatinya merasa tentram dengan hal tersebut dan yakin dengan janji Tuhannya, lalu mengambil (bagian) langsung dari Allah. Pengertian tawakal bukan berarti tinggal diam, tanpa kerja dan usaha, bukan menyerahkan semata-mata kepada keadaan dan nasib dengan tegak berpangku tangan duduk memekuk lutut, menanti apa-apa yang akan terjadi. Bukan merupakan pengertian dari tawakal yang diajarkan oleh al-Qur’an, melainkan bekerja keras dan berjuang untuk mencapai suatu tujuan. Kemudian baru menyerahkan diri kepada Allah supaya tujuan itu tercapai berkat, rahmat dan dan inayahnya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Anfal ayat 61 menunjukan penting nya untuk berusaha dan kemudian baru bertawakal. Tawakal merupakan salah satu ibadah hati yang paling utama dan salah satu dari berbagai akhlak iman yang agung. Tawakal bagi orang Islam yang meniti jalan kepada Allah SWT merupakan keperluan pokok, terutama dalam masalah rezki. Masalah ini biasanya menyesakkan fikiran dan hati manusia, membuat badan menjadi letih, jiwa menjadi kusut dan gelisah pada waktu malam dan bertungkus-lumus pada waktu siang. Adakalanya di antara mereka yang sanggup menggadai maruah diri, melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama untuk mendapatkan sesuap nasi untuk meneruskan hidup. Cara untuk melepaskan diri dari melakukan perbuatan yang terlarang disisi agama adalah dengan bertawakal kepada Allah. Insan yang lebih memerlukan tawakal ini adalah jika dia seorang da’i, penyampai risalah dan orang yang biasa memberi nasihat. Mereka melihat tawakkal ini seperti sendi yang kukuh dan benteng yang teguh. Mereka bersandar pada tawakal dalam menghadapi taghut (syaitan), orang kafir, penguasa-penguasa zalim dan pemimpin-pemimpin yang tidak adil. Mereka memohon pertolongan dan perlindungan daripada Allah agar mereka sentiasa berada di bawah perlindungan Allah dan dipelihara daripada melakukan kemungkaran. Hubungan Usaha dan Tawakal Tawakal yang diperintahkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah tidak menghendaki berhentinya usaha. Karena justru usaha itu yang akan menjadi sebab terjadinya perubahan. Allah telah mengatur alam ini dengan hukum sebab-akibat. Semua yang terjadi di alam ini mengikuti hukum sebab-akibat yang telah ditentukan oleh Allah, bahkan peraturan-peraturan Allah pun sangat berkaitan dengan hukum ini.

Read More

Memiliki 16 Anak Kandung Hafiz semuanya

Kolaka Utara – 1miliarsantri.net : Siapa yang tidak bahagia dan merasa bangga memiliki anak yang Hafiz Qur’an, tentu hal itu akan menjadi keinginan setiap orang tua. Namun bisa dibayangkan tidak, jika mempunyai 16 anak kandung dan ternyata semua putra putri seluruh nya hafiz Qur’an. Hal itulah yang dirasakan pasangan suami istri Kamaruddin (57) dan Najrah Rasyid (49) warga Desa Katoi, Kecamatan Katoi, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, benar-benar memiliki kisah yang luar biasa. Pria yang sehar-hari menjadi guru sekolah dasar (SD) tersebut, memiliki 16 anak kandung, dan seluruhnya hafiz Al-Qur’an. Bulan Januari 1996, Kamaruddin menikahi istri tercintanya, Najrah Rasyid. Setelah keduanya bertemu di sebuah pesantren yang ada di Pangkep, Sulawesi Selatan. Usai menikah, anak pertamanya lahir di Pangkep. “Anak pertama saya Nurfaaiqah lahir pada 12 Oktober 1996. Sedangkan anak bungsu, Zayyan Aqif Rahmani lahir pada 29 Desember 2015 lalu,” terang Kamaruddin. Nurfaaiqah anak pertamanya kini sudah berusia 26 tahun. Sedang anak bungsunya berusia tujuh tahun. Anak pertama, kedua dan ketiga semuanya lahir di Pangkep. Selanjutnya pada 1999, Kamaruddin dan keluarganya memutuskan pindah ke Kolaka Utara. Saat itu, dia mengabdi menjadi guru honorer hingga kemudian diangkat menjadi ASN. Di Kolaka Utara inilah, anak keempat hingga ke-16 lahir. Banyak kisah saat kelahiran anak ke empat hingga 16, mengingat tempatnya tinggal masih sangat terbatas, sehingga proses kelahiran anaknya berlangsung serba darurat.

Read More

Peradaban Islam di tanah Papua

Papua – 1miliarsantri.net : Kedatangan pengaruh Islam ke Pulau Papua, yaitu ke daerah Fakfak, Papua Barat tidak terpisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat pelayaran internasional di Malaka, Jawa dan Maluku. Sebelum membahas proses masuknya Islam di daerah ini terlebih dahulu akan dibahas proses masuknya agama Islam di Maluku, Ternate, Tidore serta pulau Banda dan Seram karena dari sini Islam memasuki kepulauan Raja Ampat di Sorong, dan Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak. Sejarah masuknya Islam di wilayah Maluku dan Papua dapat ditelusuri dari berbagai sumber baik sumber lisan dari masyarakat pribumi mau pun sumber tertulis. Menurut tradisi lisan setempat, pada abad kedua Hijriah atau abad kedelapan Masehi, telah tiba di kepulauan Maluku (Utara) empat orang Syekh dari Irak. Kedatangan mereka dikaitkan dengan pergolakan politik di Irak, dimana golongan Syiah dikejar-kejar oleh penguasa, baik Bani Umayah mau pun golongan Bani Abasyiah. Keempat orang asing membawa faham Syiah. Mereka adalah Syekh Mansyur, Syekh Yakub, Syekh Amin dan Syekh Umar. Syekh Umar menyiarkan agama Islam di Ternate dan Halmahera muka. Syekh Yakub menyiarkan agama Islam di Tidore dan Makian. Ia meninggal dan dikuburkan di puncak Kie Besi, Makian. Kedua Syekh yang lain, Syekh Amin dan Umar, menyiarkan agama Islam di Halmahera belakang, Maba, Patani dan sekitarnya. Keduanya dikabarkan kembali ke Irak. Sedangkan menurut sumber lain Islam masuk ke Ternate di sekitar tahun jatuhnya kerajaan Hindu Majapahit 1478, jadi sekitar akhir abad ke-15. Sumber lain berdasarkan catatan Antonio Galvao dan Tome Pires bahwa Islam masuk ke Ternate pada tahun 1460-1465. Dari beberapa sumber tadi dengan demikian dapat diperkirakan bahwa Islam masuk ke Maluku pada abad ke-15 selanjutnya masuk ke Papua pada abad ke-16, sebagain ahli memprediksikan bahwa telah masuk sejak abad ke-15 Sebagaimana disebutkan situs Wikipedia. Secara geografis tanah Papua memiliki kedekatan relasi etnik dan kebudayaan dengan Maluku. Dalam hal ini Fakfak memiliki kedekatan dengan Maluku Tengah, Tenggara dan Selatan, sedangkan dengan Raja Ampat memiliki kedekatan dengan Maluku Utara. Oleh karena itu, dalam membahas sejarah masuknya Islam ke Fakfak kedua alur komunikasi dan relasi ini perlu ditelusuri mengingat warga masyarakat baik di Semenanjung Onim Fakfak mau pun Raja Ampat di Sorong. Keduanya telah lama menjadi wilayah ajang perebutan pengaruh kekuasaan antara dua buah kesultanan atau kerajaan besar di Maluku Utara (Kesultanan Ternate dan Tidore). Nampaknya historiografi Papua memperlihatkan bahwa yang terakhir inilah (Kesultanan Tidore) yang lebih besar dominasinya di pesisir pantai kepulauan Raja Ampat dan Semenajung Onim Fakfak.

Read More

UAS Geram dan meminta Pihak berwajib segera menangkap Panji Gumilang

Jakarta – 1miliarsantri.net : Belakangan ini marak beredar video tentang Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun Panji Gumilang yang mengajak dan mengenalkan salam gaya baru. Tentu saja hal tersebut mendapat beragam kritik dan respon negatif dari berbagai kalangan ulama, terutama para tokoh-tokoh Islam, termasuk dari ulama kenamaan Tanah Air, Ustadz Abdul Somad (UAS). Hal tersebut dikarenakan Panji memperkenalkan salam Yahudi kepada santri. UAS mengatakan bahwa yang demikian adalah hal bodoh dan sangat membahayakan. “Itu salam Yahudi bodoh!” ungkap UAS dalam unggahan ceramah nya di@sahabatuaschannel, Rabu, 17 Mei 2023 . Pada kesempatan itu, UAS menyebut Panji Gumilang telah menyalahi syariat Islam. UAS bahkan juga memerintahkan pihak Kepolisian untuk segera menangkap pimpinan Ponpes berusia 76 tahun itu. Seperti diketahui dalam video berdurasi pendek tersebut Panji mengajak dan mengajarkan Salam baru atau Salam Yahudi nya itu sambil bernyanyi kepada para santri, para tamu dan pengurus pondok nya agar tidak menggunakan Assalamu ‘alaikum saja, tetapi menggunakan Havenu shalom aleichem. “Saya mengajak saudara-saudara untuk mengucapkan salam yang tidak Assalamualaikum saja, sambil kita bernyanyi, saya kira yang hadir walaupun tidak pandai, tapi bisa bernyanyi. Kita ucapkan kepada sahabat kita “havenu shalom aleichem”, dalam bentuk bernyanyi. Silakan berdiri, karena ini satu syuro,” ujar Panji Gumilang dalam video nya.

Read More

Empat Perkara Anjuran Menjaga Pandangan Menurut Imam Al Ghazali

Surabaya – 1miliarsantri.net : Setiap umat Muslim nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat terhadap apapun yang diperbuatnya, mulai dari masa baligh hingga akhir hayat, termasuk untuk apa tubuhnya digunakan semasa hidup. Maka dari itu dianjurkan kita harus benar-benar menjaga semua tubuh agar tidak melakukan hal yang dilarang oleh ajaran agama, termasuk menjaga pandangan (mata) menjadi hal yang perlu dilakukan. Imam Al Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menjelaskan, mata diciptakan bagi manusia untuk dapat melihat sesuatu kebaikan serta keburukan dan menunaikan segala hajat yang dibutuhkan. Sehingga dalam hal ini, umat Islam dapat mengambil iktibar dari padanya. Al Ghazali berpesan agar umat Islam senantiasa memelihara mata (pandangannya) dari empat perkara: Pertama, melihat perempuan/laki-laki yang bukan mahram.

Read More

Nama-nama Kucing Rasulullah SAW

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Dalam berbagai macam kisah yang populer, Nabi Sulaiman bersahabat dengan beragam jenis hewan seperti burung hud-hud dan kucing. Akan tetapi dalam catatan sejarah, belum ada sumber tentang nama kucing Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman disebutkan memiliki keistimewaan dan kekuasaan atas hewan-hewan, termasuk burung-burung dan binatang-binatang lainnya. Nabi Sulaiman bisa berbicara dan berkomunikasi dengan semua jenis binatang. Kendati demikian, tidak ada penyebutan nama kucing Nabi Sulaiman secara lebih khusus, namun dari beberapa kisah tersebut lebih menekankan pada kebijaksanaan dan keistimewaan Nabi Sulaiman dalam berkomunikasi dengan hewan-hewan, termasuk kucing. Berbeda dengan Rasulullah SAW. Banyak riwayat yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW lebih suka memelihara kucinf dan salah satu kucing Rasulullah SAW bernama Muezza. Kucing kesayangan Rasulullah SAW ini diperlihara selama terjadi perang Uhud Jadi, dalam konteks sumber-sumber Islam, tidak ada nama kucing yang secara khusus dikaitkan dengan Nabi Sulaiman. Memelihara kucing merupakan kesenangan tersendiri dan menjadi budaya populer atau dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa nama kucing yang umum digunakan dalam komunitas Muslim atau umat Islam. Berikut ini nama kucing dalam Islam dan lebih umum bahasa arab: MuezzaNama kucing Nabi Muhammad, kucing bernama Muezza sangat disayangi Rasulullah dan sering terlihat bersama beliau kemana pun pergi, termasuk setia menunggu ketika Rasulullah SAW belum kembali ke rumah. Abu HurairahAbu Hurairah adalah nama seorang sahabat Nabi Muhammad perawi hadist yang populer. Nama Abu Hurairah disematkan oleh Rasul karena kecintaannya pada kucing. Nama Hurairah dijadikan nama kucing, sebab Abu Hurairah sering kali terlihat bersama dengan kucing.

Read More

Mengenal Penulis Kitab Al Hikam

Riyadh – 1miliarsantri.net : Siapa yang tidak kenal dengan Syekh Ibnu Atha’illah atau yang memiliki nama lengkap Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M. Julukan Al-Iskandari atau As-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu. Ia adalah Penulis Kitab Al Hikam yang sangat populer di dunia Islam selama berabad-abad, sampai hari ini. Kitab ini juga menjadi bacaan utama di hampir seluruh pesantren di Nusantara Sejak kecil, Ibnu Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili. Ibnu Atha’illah tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Meliputi bidang tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling terkenal adalah kitab Al-Hikam. Buku ini disebut-sebut sebagai magnum opusnya. Kitab itu sudah beberapa kali disyarah. Antara lain oleh Muhammad bin Ibrahim ibnu Ibad Ar-Rasyid-Rundi, Syaikh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibnu Ajiba. Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir, Unwan At-Taufiq fi’dab Al-Thariq, Miftah Al-Falah dan Al-Qaul Al-Mujarrad fil Al-Ism Al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syekhul Islam ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid. Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibnu Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Sementara Ibnu Atha’illah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Karena mereka juga ketat dalam urusan syari’at. Ibnu Atha’illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat. Ia dikenal sebagai master atau syekh ketiga dalam lingkungan tarikat Syadzili setelah pendirinya Abu Al-Hasan Asy-Syadzili dan penerusnya, Abu Al-Abbas Al-Mursi. Dan Ibnu Atha’illah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah tarikat Syadziliyah tetap terpelihara. Meski ia tokoh kunci di sebuah tarikat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarikat saja. Buku-buku Ibnu Atha’illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan tarikat, terutama kitab Al-Hikam. Syekh Ibnu Atha’illah menghadirkan Kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.

Read More