Gereja berumur ratusan tahun dirubah menjadi Masjid

London – 1miliarsantri.net : Sungguh menakjubkan bagi kita jika melihat ada sebuah bangunan gereja yang dibangun sekitar tahun 1870 telah diubah menjadi masjid baru, tentu saja sudah dilakukan renovasi besar-besaran setelah beberapa dekade tidak digunakan. Masjid-e-Taqwa di Pleckgate Road menyelenggarakan sholat kali pertama pada pekan ini di gedung, yang dulunya merupakan rumah bagi Gereja St Chad. “Kami mencoba untuk mempertahankan fitur asli bangunan dan mencoba untuk memasukkan ini ke dalam desain baru,” kata juru bicara masjid, dilansir dari About Islam, Rabu (17/5/2023). Yang paling menonjol di dalam aula sholat, ada balok kayu merupakan fitur yang paling menentukan. Pintu dan lengkungan juga merupakan sesuatu yang membantu memberikan karakter unik masjid sendiri. “Kami mengundang orang-orang yang tinggal di daerah tersebut untuk melihat sendiri transformasi dan kami senang mendengar komentar mereka,” kata juru bicara itu. Masjid baru ini menampung 180 jamaah dan mencakup ruang sholat di atas dua lantai dan area untuk wudlu. Di luar masjid, terdapat halaman untuk tempat parkir mobil, fitur pencahayaan dan lanskap telah menghidupkan kembali bangunan itu.

Read More

Pengertian Sholat Awwabin

Jakarta – 1miliarsantri.net : Istilah Awwab bermakna orang yang kembali atau bertobat kepada Allah SWT. Sedangkan sholat awwabin adalah shalatnya orang-orang yang bertobat kepada Allah SWT. Mengutip buku 33 Macam Jenis Sholat Sunnah tulisan Muhammad Ajib menjelaskan para ulama berbeda pendapat mengenai hakikat dari sholat awwabin. Setidaknya ada tiga pendapat dari para ulama. Pertama, sholat dhuha Mayoritas ulama mengatakan bahwa sholat awwabin itu adalah nama lain dari sholat Dhuha. Jadi ketika kita sholat dhuha maka itu juga bisa disebut sebagai sholat awwabin. النهار ربع قال الجمهور : هي صلاة الضحى، والأفضل فعلها بعد إذا اشتد الحر. واستدلوا بحديث النبي صلى الله عليه وسلم: صلاة الأوابين حين ترمض الفصال. رواه مسلم. الموسوعة الفقهية الكويتية (27/ 134) Jumhur ulama mengatakan bahwa sholat awwabin adalah sholat dhuha. Afdhalnya dikerjakan setelah seperempat waktu siang berlalu, yaitu ketika sinar matahari mulai menyengat. Para ulama berhujjah dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَتِ الْفِصَالُ“Sholat awwabin adalah sholat ketika anak unta mulai kepanasan.” (HR Muslim) Kedua, sholat enam rakaat Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa sholat awwabin adalah sholat sunnah enam rakaat yang dikerjakan antara maghrib dan isya. Biasanya ketika kita sholat di masjid atau mushola ada beberapa orang setelah sholat maghrib dan setelah sholat sunnah badiyah maghrib, akan melakukan sholat sunnah lagi sampai enam rakaat. Menurut sebagian ulama sholat enam rakaat inilah yang disebut dengan sholat awwabin. Imam asy-Syirbini rahimahullah (wafat pada 677 H) seorang ulama besar dalam Madzhab Syafii menyebutkan dalam kitabnya sebagai berikut: ومنها صلاة الأوابين وتسمى صلاة الغفلة لغفلة الناس عنها بسبب عشاء أو نوم أو نحو ذلك، وهي ست ركعات بين المغرب والعشاء لحديث الترمذي أنه – صلى الله عليه وسلم – قال: «من صلى ست ركعات بين المغرب والعشاء كتب له عبادة اثنتي عشرة سنة يصليها ألفاظ وقال الماوردي: كان النبي – صلى الله عليه وسلم . ويقول هذه صلاة الأوابين». مغني المحتاج إلى معرفة معاني – المنهاج (1/ 458) Sholat awwabin disebut juga sholat ghaflah (lalai) sebab banyak orang-orang melalaikannya karena sibuk makan malam, tidur dan lain-lain. Sholat awwabin itu adalah sholat enam rakaat antara maghrib dan isya. Sebab ada hadits riwayat Imam at-Tirmidzi bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Read More

Waliyah Zaenab pernah dituduh penyebab Wabah Pagebluk di Bawean

Gresik – 1miliarsantri.net : Waliyah Zaenab adalah satu di antara beberapa penyebar Islam di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Waliyah Zainab ternyata pernah punya pengalaman diusir warga Kumalasa, Sangkapura, Bawean. Pengusiran dilakukan karena dituduh membawa penyakit pegebluk atai semacam Corona kalau jaman sekarang. Makam Waliyah Zaenab berada di Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Bawean, Gresik. Berjarak 21 kilometer dari Pelabuhan Bawean, bila ditempuh jalur Timur atau belok kiri menuju makam. Bila dari pelabuhan belok kanan, atau ambil jalur Barat. Perjalanan menempuh jarak 32 kilometer. Barulah sampai di Makam Waliyah Zaenab. Diponggo sendiri ada lima dusun. Dengan 1.342 penduduk. Meski begitu, tidak sulit mencari makam Waliyah Zaenab. Ada petunjuk arah untuk menuju ke makam nya yang terletak di depan Masjid Diponggo. KH Nurul Huda selaku takmir masjid, itemani Salim Kepala Desa Diponggo menyampaikan, ada dua versi sejarah tentang Waliyah Zaenab. “Versi pertama, yang didasarkan riwayat Waliyah Zainab atau Dewi Wardah yang tertulis di daun lontar yang berbahasa Arab Pegon di Museum Sultan Hasanuddin. Dewi Wardah adalah putri Kyai Ageng Bungkul atau dikenal dengan Sunan Bungkul. Salah seorang pembesar Kota Surabaya keturunan Raja Majapahit,” ungkap Salim kepada 1miliarsantri.net. Dewi Wardah dinikahkan ayahnya Sunan Bungkul dengan Raden Paku (Sunan Giri). Itupun sebagai garwo triman (isteri hadiah). “Saat itu, Sunan Bungkul nadzar alias berjanji, apabila ada seseorang yang tertimpa buah delima miliknya namun dia tetap hidup maka akan dinikahkan dengan puterinya,” paparnya. Karena Raden Paku sudah lebih dulu menikahi Dewi Murtasiyah puteri dari Sunan Ampel. Maka, Dewi Wardah istri yang dimadu. Hanya beliaunya tidak ingin dimadu. “Beliau pergi berlayar ke arah utara dengan menaiki sentong. Atau kelopak bunga kelapa. Dan sampailah di Bawean. Itupun tidak langsung ke Diponggo, tapi ke Kumalasa Sangkapura. Sebab, saat itu disana jadi syahbandar alias pelabuhan nya,” ungkap KH. Nurul Huda menambahkan. Dalam perjalanan menempuh jarak 81 mil dari Gresik, Dewi Wardah sakit. Karena sakit itulah, warga Kumalasa menolaknya. Kemudian berlayar lagi sampai di Teluk Menangis Diponggo. “Akhirnya menepat dan menyebarkan Islam di Diponggo sampai beliau wafat dan dimakamkan di sini (Diponggo),” ujar KH Nurul Huda. Selain itu, Salim bercerita versi kedua. Yaitu, didasarkan pada buku “Waliyah Zaenab, Putri Pewaris Syech Siti Djenar” karya M Dhiyauddin Qushwandhi. Salim menyebut, Dewi Wardah diperkirakan lahir antara tahun 1575 dan 1585. Putri dari Raden Nur Rakhmat alias Kanjeng Sunan Sendang Duwur di Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Read More

Persahabatan KH Hasan Mustapa dengan Kolonial

Bandung – 1miliarsantri.net : Haji Hasan Mustapa adalah seorang Sastrawan Sunda terbesar. Lahir di Cikajang, Garut pada tahun 1852 dan menutup usia di Bandung di tahun 1930. Sebagai sastrawan yang tentu banyak menghasilkan karya, mulai dari prosa hingga puisi. Karya nya juga tidak hanya berbahasa Sunda, tetapi juga dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Melayu, dan Jawa—walau dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding dalam bahasa Sunda. Disamping sebagai sastrawan, Haji Hasan Mustapa juga merupakan salah satu pejabat penting di Pemerintahan Kolonial Belanda. Ia pernah menjabat sebagai penghulu di Aceh dan Bandung hingga pensiunnya. Hidupnya berada di akhir periode Cultuurstelsel dan Politik Etis hingga awal masa pergerakan nasional. Latar belakang sosok Haji Hasan Mustapa adalah pesantren dan tarekat. Sejak kecil dididik dalam lingkungan pesantren dan jaringan tarekat di sekitaran tanah Sunda. Keluarga dari Ibunya pun berasal dari ulama Pesantren sekaligus penganut tarekat, seperti KH. Hasan Basari (Kiarakoneng, Garut) dan Kiai Muhammad (Cibunut, Karangpawitan Garut). Bahkan dalam salah satu karya nya ia menceritakan bagaimana pengalaman ia sebagai santri. Berpindah pindah dari satu pesantren ke pesantren lain—setelah menyelesaikan pendidikan di sana. Berbekal ilmu pesantren yang ia dapat, ia dapat mempelajari ilmu agama lain, seperti Fiqh dan Bahasa Arab. Namun, minat utama Haji Hasan Mustapa adalah kepada mistisme (tasawuf). Hubungan ia dengan guru tarekat nya, Kiai Muhammad membuat ia diminta menggantikan guru nya yang lain setelah meninggal. Mereka kemudian berangkat ke Mekkah yang kemudian tinggal disana selama 6 tahun. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada banyak ulama tarekat disana. Baik dari kalangan Qadiriyah, Naqsabandiyah, maupun Syattariyah. Bahkan C. Snouck Hurgronje pun pernah menyatakan bahwa Haji Hasan Mustapa pernah berguru kepada Ulama Terkenal Asal Banten, Syaikh Nawawi Al-Bantani. Singkatnya, Haji Hasan Mustapa tidak bisa dilepaskan dari poros jaringan Sayyid Ulama Hijaz. Pertemuan pertama antara Haji Hasan Mustapa denga C. Snouck Hurgronje diperkiran ketika Haji Hasan Mustapa tinggal di Mekkah selama belasan tahun (1860-1862, 1869-1873, 1880-1885), pertemuan itu diperkirakan pada tahun 1885 M. Saat C. Snouck Hurgronje ‘menimba’ ilmu selama 6 bulan di Mekkah. Pertemuan itu semakin mempererat keduanya. Komunikasi antar keduanya terus berlanjut. Karena keduanya sama-sama menguasi Bahasa arab, maka korenspondensi antar kedua nya dilakukan dalam Bahasa arab. Hubungan persahabatan itu berlanjut bahkan kedua nya berjanji bertemu di Hindia Belanda. Tahun 1889, C. Snouck Hurgronje tiba di Hindia Belanda. Bahkan istri kedua Snouck di Hindia Belanda, Siti Sadijah adalah putri dari wakil penghulu Priangan saat Haji Hasan Mustapa menjabat sebagai penghulu priangan. Kemudian, karena kedekatan keduanya, C. Snouck Hurgronje pun mengajak Haji Hasan Mustapa berkeliling di daerah Sunda dan Jawa. Mengunjungi Ponorogo, Madiun, Surakarta, Yogyakarta, termasuk ke beberapa pesantren. Haji Hasan Mustapa selepas melakukan perjalanan banyak menyalin berbagai primbon, kitab, dan pustaka jawa yang kemudian diserahkan kepada C. Snouk Hurgronje. Termasuk perihal buku-buku tasawuf. Untuk itu, Haji Hasan Mustapa dibayar sekitar f 50 per bulan. Selanjutnya, ia pun disarankan oleh C. Snouck Hurgronje menjadi Penghulu di Kutaraja Aceh. Sebab C. Snouck Hurgronje kagum terhadap sosok Haji Hasan Mustapa. Menjelang pengangkatan sebagai Penghulu Kutaraja Aceh, C. Snouck Hurgronje mengirimkan surat kepada sekertaris pemerintahan di Buitenzorg yang berisi : Haji Hasan Mustapa telah dikenal sangat dekat sejak kurang lebih 10 tahun dan selama waktu itu rasa hormat C. Snouck terhadap watak dan bakatnya yang benar-benar langka, semakin bertambah. Pemukimannya selama 13 tahun di negara Arab didahului oleh telaah beberapa tahun di Priangan, kampung halamannya, telah menyebabkan ia mencapai tingkat yang luar biasa tingginya mengenai syariat Islam untuk daerah-daerah ini. Di negara Arab maupun sesudah ia pulang ke kampong halamannya pada 1885, ia seorang guru yang dihormati dan dicintai. Beberapa karya telah diterbutkannya dalam Bahasa Arab..

Read More

Penyebaran Islam di Pulau Bawean

Surabaya – 1miliarsantri.net : Penyebaran Islam di Pulau Jawa sarat dengan muatan sejarah dan memang harus dikupas secara keseluruhan sebagai bekal tambahan ilmu bagi generasi berikut nya. Setelah Wali Songo berdakwah di tanah Jawa, ajaran Islam menyebar luas ke seluruh nusantara. Bahkan, hingga pulau-pulau terpencil seperti Bawean yang berada di Jawa Timur. Bawean merupakan pulau mungil yang berada di tengah Laut Jawa. Lokasinya berada sekitar 120 kilometer sebelah utara Kabupaten Gresik. Dilihat dari peta, pulau ini hanya tampak seperti titik nun huruf Arab. Karena itulah pulau ini dijuluki “Titik Nun dari Pulau Jawa”. Pulau Bawean banyak mendapatkan julukan. Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa pulau ini dulunya disebut dengan nama Buwun. Sementara, pemerintah kolonial Belanda dan Eropa mengenal Bawean dengan sebutan Bovian. Masyarakat Bawean awalnya menganut ajaran animisme dan dinamisme. Namun, setelah berabad-abad lamanya, kini masyarakat Bawean sudah 100 persen menganut agama Islam. Hal ini tak terlepas dari peran dakwah ulama nusantara., Berdasarkan catatan dan dokumen sejarah, Islam masuk ke Pulau Bawean pada abad ke-16. Dalam buku berjudul Bawean dan Islam, Jacob Vrendenbergt mencatat, Islam masuk ke sana sejak 1511 Masehi. Kemudian, ajaran Islam menyebar luas di Bawean setelah datangnya Syekh Umar Mas’ud, tokoh penyebar Islam yang datang dari Pulau Madura. Nama aslinya adalah Pangeran Perigi yang merupakan cucu Sunan Drajat. Berdasarkan catatan historiografi disebutkan bahwa Umar Mas’ud baru berhasil mendirikan kerajaan Islam di Bawean setelah mengalahkan penguasa Bawean yang menganut ajaran animisme dan dinamisme, yaitu Raja Babileono.

Read More

Gus Yasin : Santri harus meneladani sifat Kecintaan Mbah Moen terhadap NKRI

Semarang – 1miliarsantri.net : Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, atau yang lebih akrab dipanggil Gus Yasin, meminta para santri di berbagai pondok pesantren agar meneladani mendiang KH Maimoen Zubaer (Mbah Moen) dalam menangkal gerakan radikal yang berpotensi menimbulkan perpecahan di Republik Indonesia. “Kecintaan Mbah Moen terhadap NKRI selalu diwujudkan dalam doa dan penerapan ajaran beliau,” ungkap nya. Putra almarhum Mbah Maimoen ini menambahkan, para santri harus memberikan kontribusi berupa pemahaman mengenai bahaya gerakan radikal, terorisme, dan isu sekularisme. Selain itu, para santri juga perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pondok pesantren di tengah maraknya pihak-pihak yang mengatasnamakan ponpes membuat masyarakat cukup gelisah.

Read More

Ustad Hanan Attaki merinding ketika di Baiat Kyai Marzuki

Malang – 1miliarsantri.net : Pendiri gerakan pemuda hijrah, Ustadz Hanan Attaki secara resmi melakukan baiat dan masuk Jami’yyah Nahdlatul Ulama (NU) pada Kamis malam (11/5). Bertempat di Ponpes Sabilurrosyad Gasek, Malang, prosesi baiat Ustadz Hanan Attaki dibimbing langsung oleh Kyai NU asal Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar. Bersamaan dengan acara Halal Bihalal, Ustadz Hanan Attaki yang juga keturunan ulama Aceh siap mengikuti paham Ahlussunnah Wal Jamaah Jami’yyah Nahdlatul Ulama. Dalam prosesi baiat yang disaksikan oleh para kyai, santri dan jamaah yang hadir tersebut, Ustadz Hanan Attaki tampak menggunakan baju koko putih berpeci hitam. Usai dirinya melakukan baiat dan menjadi bagian dari Jam’iyyah NU, pendakwah yang dikenal dengan suara lembutnya tersebut memberikan sambutan pertamanya. Menurutnya, malam pembaitan tersebut menjadi malam terbaik baginya setelah ia dilahirkan ke dunia. Bagi founder pemuda hijrah ini, seorang mukmin itu mengalami dua kali kelahiran dalam hidupnya.

Read More

Baiat Para Sahabat dihadapan Rasulullah

Surabaya – 1miliarsantri.net : Dalam membantu dakwah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, para Sahabat lah yang menjadi garda terdepan. Hal ini dibuktikan dengan ucapan sumpah setia (baiat) para sahabat yang diucapkan langsung di hadapan Rasulullah. Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy dalam Sirah Sahabat membagi macam-macam baiat yang dilakukan sahabat di hadapan Rasulullah: Pertama, baiat untuk Islam. Dari Mujasyi bin Mas’ud dia berkata, “Aku menemui Nabi bersama saudaraku lalu kukatakan kepada beliau, ‘Kami hendak berbaiat untuk hijrah’. Beliau bersabda, “Hijrah telah berlalu, diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukannya,”. Aku bertanya, “Lalu untuk apa engkau membaiat kami?”. Beliau menjawab, “Untuk Islam dan jihad,”. Kedua, baiat untuk melaksanakan amal-amal Islam. Ahmad mentakhrij dari Jarir, dia berkata, “Aku berbaiat kepada Rasulullah untuk melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, dan memberikan nasihat kepada setiap orang Muslim,”. Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, dan Ibnu Asakir dari Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata, “Aku termasuk salah satu dari 11 orang yang ikut dalam baiat Aqabah yang pertama. Kami berbaiat kepada Rasulullah SAW seperti baiat para Muslimah Makkah yang hendak hijrah, sebelum beliau mewajibkan perang kepada kami. Kami mengucapkan baiat kepada beliau untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membuat-buat kedustaan di antara tangan dan kaki kami, tidak membunuh anak-anak kami, tidak mendurhakainya dalam hal yang makruf. Siapa yang memenuhinya maka baginya surga, dan siapa yang melanggar sebagian di antaranya, maka urusannya kembali kepada Allah. Apabila menghendaki, maka Allah akan mengadzabnya dan jika menghendaki maka Allah akan mengampuninya,”. Ketiga, baiat untuk hijrah. Dari Al-Harits bin Ziyad As-Sa’idy dia berkata, “Aku menemui Nabi sewaktu perang Khandaq. Saat beliau sedang membaiat orang-orang untuk hijrah. Kami mengira bahwa orang-orang selain mereka itu (dari kalangan Anshar) juga diminta untuk berbaiat,”.

Read More

Napak Tilas Pesantren di Selatan Jawa

‘Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Didunia Pesantren, hubungan antara murid (santri) dan guru (kiai) itu bukan perkara sepele. Dan, manfaatnya bukan hanya untuk pribadi masing-masing, tapi berpengaruh pada masyarakat secara keseluruhan. Bisa dibayangkan betapa rumitnya hubungan antar pesantren atau jaringan ulama, secara khusus dalam hal ini adalah wilayah selatan Jawa (sebagian wilayah Mataram/Jawa Pedalaman). Di sana ada pertalian sosial yang rumit, ada hubungan darah, perkawinan, transfer keilmuan, politik, hingga hubungan yang sifatnya spiritual melalui laku ajaran tarikat. Bahkan jaminan ikatan jaringan ulama itu sangat kuat, yakni tidak hanya dirangkai ketika mereka hidup di atas dunia, namun diyakini jalinan ini dibawa sampai alam akhirat. Sedangkan bila terus dirunut ke mana ujung awal ajarannya, maka rujukannya sampai ke Rasullah SAW. Memang setelah melakukan ‘blusukan’ langsung ke berbagai pesantren, untuk menuliskan jaringan ulama yang ada di selatan Jawa ini bukan perkara yang mudah. Apalagi, banyak sumber yang ada di literatur sudah tak bisa dikenali. Ketika mengunjungi berbagai pesantren yang bisa dikatakan berumur tua dan penting, para pengasuh pesantrennya mengaku sudah tak paham lagi detail sejarahnya. ”Pesantren kami berdiri bersamaan dengan pendirian Keraton Solo, yakni saat ‘palihan negari’ (Pembelahan kekuasaan Kerajaan Mataram menjadi Solo dan Yogyakarta tahun 1755). Alumni santri kami sudah tak terhitung lagi dan menyebar ke mana-mana,” kata Suntoro, pengasuh Pondok Pesantren Jamsaren, Solo (Surakarta) kepada 1miliarsantri.net Adanya kerumitan di dalam mengkaji jaringan ulama di wilayah Selatan Jawa ini diakui pakar sejarah politik Islam Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, DR Hermanu Joebagio. Hal ini karena jaringannya sudah begitu saling memintal serta bersilangan layaknya rajutan tentunan benang yang sudah menjadi selembar kain. Sepintas kesan dari luar, seolah-olah jaringan ulama itu sudah tak ada lagi. Menurut Hermanu, bila ditelisik lebih dalam, di sana akan segera terlihat bahwa ‘pohon’ jaringan ulama di wilayah itu akhirnya akan terkait dengan pesantren yang didirikan Sunan Giri, di Prapen, Gresik (Jawa Timur), pada abad ke 15 M. Namun, selain terpengaruh pesantren Sunan Giri, jaringan ulama di selatan Jawa juga terkait dengan jaringan ulama yang berasal dari Demak, Makassar (Sulawesi Selatan), Sumatra, Cirebon, hingga berbagai pesantren di Jawa Timur, seperti Pacitan dan Jombang. Bukan hanya itu, di dalam jaringan itu juga sudah dari dulu terkoneksi dengan jaringan ulama internasional, seperti dari Yaman, Arab Saudi, Mesir, Maroko, Sudan, India, dan Campa. Ini bisa dimengerti karena usia jaringan ini melampaui banyak zaman karena sudah terpintal semenjak abad ke-15 M itu. Salah satu buktinya adalah dengan mengacu pada prasasti pendirian Pesantren Al Kahfi di Somalangu di Kebumen yang berdiri pada 4 Januari 1475 M. ”Jadi, menurut saya, asal jaringan ulama di Jawa itu berasal dari ‘satu pohon’, yakni bermula dari Maulana Malik Ibrahim (Sunan Giri) yang berada di Jawa Timur itu. Jadi, asal usul pemikiran pesantren berasal dari sana,” tutur Hermanu menegaskan. Menurut Hermanu, Islam masuk ke Indonesia itu ada dalam dua versi. Pertama, versi Islam yang masuk ke Sumatra, dan satu versi lainnya masuk dari Campa ke Jawa. Sedangkan, khusus Islam yang berada di wilayah selatan Jawa tersebut kemudian mempunyai mempunyai tiga kultur, yakni kultur Arab, Cina, dan Jawa. ”Tiga kultur ini menjadi satu kesatuan dalam kehidupan masyarakat yang ada di selatan Jawa itu. Inilah yang harus dipahami dulu karena memang ada perbedaan masyarakat Jawa yang tinggal di pantai utara dan selatan tersebut,” ujarnya seraya menyatakan bila ciri masyarakat di pesisir utara Jawa itu mempunyai ciri egalitarian dan kosmopolitan, sedangkan yang di pesisir selatan Jawa berciri tertutup dan feodal.

Read More