Hari Santri dan “Cermin Retak” di Layar Televisi
Pesantren selama ini dikenal sebagai tempat lahirnya generasi berakhlak dan berilmu. Di balik tembok sederhana, para santri belajar makna ta’dzim (hormat), tawadhu’ (rendah hati), dan khidmah (pengabdian). Tradisi mencium tangan kiai, duduk sopan, bahkan minum sambil jongkok bukan simbol feodalisme, tapi latihan adab—sebuah pendidikan karakter yang sulit ditemukan di sekolah modern. Sayangnya, tayangan “Xpose Uncensored” menampilkan semua itu sebagai sesuatu yang lucu, kaku, bahkan kuno.
Inilah tantangan zaman bagi dunia santri. Di tengah era digital yang serba cepat, nilai-nilai kesederhanaan dan kehormatan kerap disalahartikan. Media kadang lebih tertarik menyorot hal yang “aneh” ketimbang makna yang dalam. Padahal, pesantren bukan sekadar tempat tinggal para santri—ia adalah pusat peradaban moral bangsa.
Baca juga: Aksi Damai Himpunan Alumni Santri Lirboyo di Brebes Warnai Gelombang Protes Nasional terhadap Trans7
Pelajaran dari Layar Kaca

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


