Dzikir Yang Sering Terlupakan dan Ditinggalkan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Sebaik-baik dzikir yang seharusnya dipraktikkan seorang hamba adalah membaca Alquran. Sebab Alquran adalah perkataan Allah SWT, perkataan yang paling baik, indah, istimewa, bermanfaat dan paling jujur. Pengasuh pesantren Tunas Ilmu Purbalingga sekaligus dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyyah Imam Syafi’i Jember, Ustadz Abdullah Zaen Lc MA, mengatakan Alquran merupakan wahyu dari Allah SWT, sebuah kitab yang paling utama yang diturunkan kepada nabi yang paling mulia, Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Allah Ta’ala berfirman: “إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ” “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Dzikir (Alquran), dan pasti Kami (pula) yang menjaganya.” (QS Al-Hijr ayat 9). “Alquran tidak akan pernah membosankan walaupun dia dibaca berulang-ulang, keajaiban kandungannya tidak ada habisnya dan barang siapa membacanya dia akan meraih limpahan pahala. Siapapun yang mengamalkan isinya dan mengajak orang lain kepadanya ia akan terhantarkan kepada jalan yang lurus,” terang Ustadz Abdullah. Abu Abdirrahman as-Sulamy menjelaskan, “Keutamaan Alquran dibanding perkataan lainnya seperti keutamaan Allah dibanding para makhluk-Nya. Sebab Alquran adalah bagian dari-Nya.” Keharuman seseorang tergantung apakah dia membaca Alquran atau tidak. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالْأُتْرُجَّةِ؛ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌبٌ. وَالْمُؤْمِنُ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْمْرَةِ؛ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا. وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ. وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِةِ؛ طَعْمُهَا مُرٌّ أَوْ خَبِيثٌ وَرِيحُهَا مُرٌّ” “Mukmin yang membaca Alquran dan mengamalkannya seperti buah Utrujjah (semacam jeruk); rasanya enak dan baunya harum. Mukmin yang tidak membaca Alquran namun mengamalkannya seperti buah kurma, rasanya enak namun tidak ada baunya. Perumpamaan munafik yang membaca Alquran seperti Raihanah (sejenis Kemangi), baunya harum tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan munafik yang tidak membaca Alquran seperti Hanzhalah; rasanya pahit dan baunya tidak sedap.” (HR Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu’anhu). “Perbanyaklah membaca Alquran, sebab itulah ukuran kadar kecintaan kita kepada Allah ta’ala,” kata Ustadz Abdullah. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu menerangkan, “Barang siapa ingin mengetahui apakah dirinya mencintai Allah atau tidak, lihatlah bagaimana sikap dirinya terhadap Alquran. Jika ia mencintai Alquran, sesungguhnya ia mencintai Allah. Sebab Alquran adalah perkataan Allah SWT.” Dzikir sangat penting dalam kehidupan ini. Dengan berdzikir, manusia akan selalu merasa diawasi dalam gerak langkahnya, selalu diingatkan bahwa Allah SWT adalah Sang Pengatur dan Pemilik segalanya, dan dari-Nya segala hasil dari aktivitas manusia akan diperolehnya. Ustadz Zezen Jaenal Alim melalui bukunya, “Fadhilatul Amal Doa Pembuka Rezeki, Sukses Usaha dan Karir” mengatakan, dzikir memiliki beberapa keutamaan dan fadhilah, sebagaimana disebutkan di dalam Alquran dan hadits, di antaranya sebagai berikut. Manusia selalu menginginkan ketenangan dan kebahagian dalam hidupnya, tidak mengharapkan segala masalah yang akan mendatangkan kecemasan dan kegelisahan. Untuk itu, dzikir dapat berguna untuk menentramkan hati. Allah SWT berfirman: الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Orang-orang yang beriman, hati mereka tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d ayat 28)

Read More

Syawanah Wanita Ahli Maksiat, Langsung Taubat Ketika Mendengar Ayat-ayat Allah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Fadhul Naragi dalam kitab Mi’raj al-Sa’adah menukil sebuah kisah bahwa di kota Basrah (Irak) pernah hidup seorang wanita yang bernama Syawanah. Wanita itu selalu hadir dalam pesta-pesta yang bernuansa maksiat di kota Basrah. Suatu hari, Syawanah bersama para pembantunya sedang melewati lorong-lorong kota Basrah. Ketika melalui sebuah rumah, mereka mendengar suara raungan dan teriakan dari dalamnya. Syawanah berkata, “Subhanallah, aneh sekali suara raungan dan teriakan dari rumah itu.” Kemudian, Syawanah menyuruh salah seorang pembantunya untuk masuk ke rumah itu guna mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi di dalamnya. Sang pembantu masuk, akan tetapi dia tidak kembali. Syawanah pun menyuruh pembantunya yang lain agar masuk mengecek ke dalam rumah tersebut tempat suara orang-orang meraung dan menangis. Setelah masuk, pembantu kedua ini juga tidak kembali ke luar. Didorong rasa penasarannya, Syawanah kembali memerintahkan pembantunya yang lain untuk masuk ke dalam, dengan pesan, agar cepat kembali. Setelah pembantu ketiga ini masuk, sebagaimana pesan majikannya, dia kembali. Kemudian, pembantu tersebut menjelaskan apa-apa yang telah terjadi di dalam rumah itu. Pembantu itu berkata, “Wahai nyonya (Syawanah), teriakan histeris dan raungan itu bukanlah karena ada orang yang meninggal dunia, tetapi mereka sedang meratapi diri mereka sendiri. Di dalam rumah ada majelis tangisan orang-orang yang suka bermaksiat.” Setelah mendengar semua keterangan itu, Syawanah masuk ke dalam rumah itu. Di dalam, dia menyaksikan seorang pembimbing rohani sedang dikelilingi sejumlah orang. Pembimbing ruhani itu sedang memberikan nasihat dan peringatan dengan azab Tuhan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Orang-orang itu tidak henti-hentinya menangis. Syawanah memperhatikan ucapan-ucapan pembimbing rouhani itu, tepat ketika dia sedang menjelaskan ayat suci Alquran ini. إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ سَمِعُوا۟ لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya. (QS Al-Furqan Ayat 12) وَإِذَآ أُلْقُوا۟ مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُّقَرَّنِينَ دَعَوْا۟ هُنَالِكَ ثُبُورًا Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka dengan dibelenggu, mereka di sana berteriak mengharapkan kebinasaan. (QS Al-Furqan Ayat 13)

Read More

Dijaman Rasulullah SAW, Wanita Boleh Sholat Jumat di Masjid

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Di zaman Rasulullah, para sahabiyah (sahabat wanita) ikut menjalankan sholat Jumat di masjid bersama Nabi Muhammad Shalallahu Alahi Wassalam dan para sahabat. Namun, mengapa di era sekarang perempuan diminta untuk Sholat Jumat di rumah, bukan di masjid? Seorang Muslim wajib melaksanakan Sholat Jumat di masjid secara berjamaah, sementara Muslimah atau perempuan, khususnya di Indonesia, tidak menunaikan Sholat Jumat dan menggantinya dengan sholat Dzuhur. Namun di beberapa negeri Muslim dan Timur Tengah seperti di Masjidil Haram Makkah dan masjid-masjid besar di Kairo Mesir, ada beberapa masjid menyediakan fasilitas ruangan khusus untuk perempuan yang ingin menunaikan sholat Jumat. Apakah Sholat Jumat untuk Muslimah tidak wajib hukumnya? Hasan al-Bashri menjelaskan, di zaman Ra sulullah, para sahabiyah dari golongan muhajirin mengikuti ritual sholat Jumat sebagaimana kaum lelaki. Mereka pun tidak perlu lagi melakukan sholat Zhuhur setelahnya. Tidak ada dalil yang melarang kaum wanita untuk ikut menunaikan sholat Jumat. Meski tidak dibebani kewajiban sholat Jumat, tetapi kaum perempuan diperbolehkan ikut. Hal ini berdalil dari hadis Rasulullah SAW, “Shalat Jumat itu fardhu (wajib) bagi setiap Muslim, kecuali empat golongan; orang sakit, hamba sahaya, orang musafir, dan wanita.” (HR Bukhari). Meski tidak ada larangan dan diperbolehkan mengikuti Sholat Jumat, tetapi sejumlah ulama di Arab Saudi dan Timur Tengah menyarankan kaum wanita untuk tidak ikut sholat berjamaah di masjid. Apalagi, ikut sholat Jumat yang fitnahnya tentu lebih besar dibanding sholat berjamaah biasa. Namun, hal ini hanya sebatas saran dan tidak masuk ke ranah hukum berlandaskan dari sabda Rasulullah, “Shalatnya salah seorang dari kalian (wanita) di makhda’ (kamar khusus yang dipergunakan untuk menyimpan barang berharga) lebih utama daripada sholatnya di kamarnya. Dan, sholat di kamarnya lebih utama daripada sholatnya di rumahnya. Dan, sholatnya di rumahnya lebih utama daripada sholat di masjid kaumnya. Dan, sholat di masjid kaumnya lebih utama daripada sholatnya bersamaku (di masjid).” (HR Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).

Read More

Kisah Zainab binti Jahsy Dinikahkan Langsung Oleh Allah

Surabaya — 1miliarsantri.net : Nama aslinya adalah Barrah. Namun kemudian diganti namanya menjadi Zainab oleh Rasulullah SAW. Shahabiyah (sahabat perempuan) satu ini dilahirkan di kota Makkah, 33 tahun sebelum Nabi SAW menerima wahyu. Seperti dikutip dari buku The Wonderful Ummahatul Mukminim oleh Erlan Iskandar, Zainab binti Jahsy masuk Islam karena diajak oleh saudara kandungnya sendiri, yaitu Abdullah bin Jahsy, yang merupakan salah seorang seorang sahabat yang syahid pada perang Uhud. Ibunya Zainab binti Jahsy bernama Umaimah binti Abdul Muththalib adalah bibinya Nabi. Itu artinya Zainab binti Jahsy juga merupakan saudara sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memiliki anak angkat yang bernama Zaid bin Haritsah. Karena telah cukup usia, Nabi mencarikan seorang yang pantas dinikahi oleh anak angkatnya ini. Beliau temui Zainab binti Jahsy, kemudian menawarkan pilihan supaya Zainab mau menikah dengan Zaid bin Haritsah. Zainab lantas menolak tawaran Nabi SAW. Zainab pun berkata, “Aku tidak tertarik menikah dengannya.” Rasulullah SAW kemudian secara tegas menyuruh Zainab untuk tetap mau menikah dengan Zaid bin Haritsah, “Hendaknya engkau menikah dengannya.” Mendengar ucapan Rasulullah tersebut, Zainab lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda benar-benar yang memerintahkanku?” Saat Nabi SAW dan Zainab tengah berbincang, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al Ahzab ayat 36). Zainab pun kemudian berkata, “Apakah Anda meridhai Zaid sebagai orang yang akan menikahiku, wahai Rasulullah?” Sejurus kemudian, Zainab berujar, “Jika demikian, aku tak akan bermaksiat (dengan tidak patuh pada perintahmu), wahai Rasulullah. Engkau telah menikahkan diriku denganya.”

Read More

Wajibkah Menjawab Salam Dari Tamu Ketika Kita Sedang Sholat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kita pasti sering mengalami, di saat sedang melaksanakan ibadah shalat, terutama sendirian di rumah atau di tempat lain, ada tamu yang berkunjung dan memberi salam. Apakah kita harus menjawab salam tersebut, ataukah kita harus membatalkan shalat, atau meneruskan shalat? Hadis berikut ini adalah contoh yang dilakukan Rasulullah SAW saat beliau sedang melaksanakan shalat dan salah seorang sahabat memberikan salam padanya. حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنْتُ أُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَرُدُّ عَلَيَّ فَلَمَّا رَجَعْنَا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ وَقَالَ إِنَّ فِي الصَّلَاةِ لَشُغْلًا “Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari ‘Abdullah radhiallahu’anhu berkata, “Aku pernah memberi salam kepada Nabi SAW ketika beliau sedang salat maka beliau membalas salamku. Ketika kami kembali (dari negeri An-Najasyi), aku memberi salam kembali kepada beliau namun beliau tidak membalas salamku. Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya dalam salat terdapat kesibukan.” (HR. Bukhari 1140, Fathul Bari No. 1216). Dalam hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan: حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ لَهُ فَانْطَلَقْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ وَقَدْ قَضَيْتُهَا فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَوَقَعَ فِي قَلْبِي مَا اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِ فَقُلْتُ فِي نَفْسِي لَعَلَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَدَ عَلَيَّ أَنِّي أَبْطَأْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَوَقَعَ فِي قَلْبِي أَشَدُّ مِنْ الْمَرَّةِ الْأُولَى ثُمَّ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيَّ فَقَالَ إِنَّمَا مَنَعَنِي أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ أَنِّي كُنْتُ أُصَلِّي وَكَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ مُتَوَجِّهًا إِلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ

Read More

Sifat Buruk Yahudi Yang Kerap Disebutkan Dalam Hadist Rasulullah SAW

Surabaya — 1miliarsantri.net : Sifat-sifat buruk Yahudi kerap disebutkan di dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Sifat buruk di dalam riwayat tersebut rupanya cukup familier di telinga umat Islam, apa saja? Dilansir di albetaqa, Rabu (22/11/2023), setidaknya terdapat tujuh sifat buruk yang terekam dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Berikut penjabarannya: Pertama, Yahudi merupakan kaum yang dimurkai Allah SWT serta sesat. Hal ini sebagaimana hadits sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW dari firman Allah SWT Al-Fatihah ayat 7: صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ Yang artinya, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” عن عدي بن حاتم ، قال : سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن قول الله : ( غير المغضوب عليهم ) قال : هم اليهود ( ولا الضالين ) قال : النصارى هم الضالون Diriwayatkan dari Addi bin Hatim, dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah SWT ( غير المغضوب عليهم ), beliau menjawab, ‘Mereka adalah yahudi’ dan ( ولا الضالين ), beliau menjawab, ‘Orang Nasrani adalah orang sesat.” (HR Tirmidzi) Kedua, kaum Yahudi kerap memutarbalikkan kalam Tuhan. Hal ini sebagaimana terekam dalam hadits riwayat Imam Bukhari: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ الْيَهُودَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ أَنَّ رَجُلًا مِنْهُمْ وَامْرَأَةً زَنَيَا فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَللَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَجِدُونَ فِي التَّوْرَاةِ فِي شَأْنِ الرَّجْمِ فَقَالُوا نَفْضَحُهُمْ وَيُجْلَدُونَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ كَذَبْتُمْ إِنَّ فِيهَا الرَّجْمَ فَأَتَوْاا بِالتَّوْرَاةِ فَنَشَرُوهَا فَوَضَعَ أَحَدُهُمْ يَدَهُ عَلَى آيَةِ الرَّجْمِ ففَقَرَأَ مَا قَبْلَهَا وَمَا بَعْدَهَا فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ ارْفَعْ يَدَكَ فَرَفَعَ يَدَهُ فَإِذَا فِيهَا آيَةُ الرَّجْمِ فَقَالُوا صَدَقَ يَا مُحَمَّدُ فِيهَا آيَةُ الرَّجْمِ فَأَمَرَ بِهِمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَا قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَجْنَأُ عَلَى الْمَرْأَةِ يَقِيهَا الْحِجَارَةَ Telah bercerita kepada kami [Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik bin Anas] dari [Nafi’] dari [Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma] bahwa orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bercerita bahwa ada seseorang laki-laki dari kalangan mereka dan seorang wanita berzina. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian dapatkan dalam Kitab Taurah tentang permasalahan hukum rajam?.” Mereka menjawab, “Kami mempermalukan (membeberkan aib) mereka dan mencambuk mereka.” Maka Abdullah bin Salam berkata, “Kalian berdusta. Sesungguhnya di dalam Kitab Taurat ada hukuman rajam. Coba bawa kemari kitab Taurat.” Maka mereka membacanya saecara seksama lalu salah seorang diantara mereka meletakkan tangannya pada ayat rajam, dan dia hanya membaca ayat sebelum dan sesudahnya. Kemudian Abdullah bin Salam berkata, “Coba kamu angkat tanganmu.” Maka orang itu mengangkat tangannya, dan ternyata ada ayat tentang rajam hingga akhirnya mereka berkata; “Dia benar, wahai Muhammad. Di dalam Taurat ada ayat tentang rajam”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kedua orang yang berzina itu agar dirajam.” Abdullah bin ‘Umar berkata, “Dan kulihat laki-laki itu melindungi wanita tersebut agar terhindar dari lemparan batu.” Ketiga, kaum Yahudi kerap berbohong dan suka memfitnah. Hal ini juga disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari: بَاب حَدَّثَنِي حَامِدُ بْنُ عُمَرَ عَنْ بِشْرِ بْنِ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ حَدَّثَنَا أَنَسٌ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَلَامٍ بَلَغَهُ مَقْدَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَأَتَاهُ يَسْأَلُهُ عَنْ أَشْيَاءَ فَقَالَ إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلَاثٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ مَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ وَمَا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ وَمَا بَالُ الْوَلَدِ يَنْزِعُ إِلَى أَبِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي بِهِ جِبْرِيلُ آنِفًا قَالَ ابْنُ سَلَامٍ ذَاكَ عَدُوُّ الْيَهُودِ مِنْ الْمَلَائِكَةِ قَالَ أَمَّا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ فَنَارٌ تَحْشُرُهُمْ مِنْ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ الْحُوتِ وَأَمَّا الْوَلَدُ فَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الرَّجُلِ مَاءَ الْمَرْأَةِ نَزَعَ الْوَلَدَ وَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الْمَرْأَةِ مَاءَ الرَّجُلِ نَزَعَتْ الْوَلَدَ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْيَهُودَ قَوْمٌ بُهُتٌ فَاسْأَلْهُمْ عَنِّي قَبْلَ أَنْ يَعْلَمُوا بِإِسْلَامِي Bab. Telah menceritakan kepadaku [Hamid bin ‘Umar] dari [Bisyir bin Al Mufadlal] telah menceritakan kepada kami [Humaid] telah menceritakan kepada kami [Anas] bahwa telah sampai berita kepada Abdullah bin Salam tentang kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah, lalu dia menanyakan beberapa perkara kepada beliau. Katanya, “Aku akan bertanya kepada anda tiga perkara yang tidak akan dapat diketahui kecuali oleh seorang Nabi. Apakah tanda-tanda pertama hari kiamat?, dan apa makanan pertama yang akan dimakan oleh penghuni surga dan bagaimana seorang anak bisa mirip dengan ayahnya dan bagaimana ia mirip dengan ibunya?”

Read More

Rasulullah SAW Berpesan untuk Umat Islam Agar Senantiasa Jaga Masjid Al Aqsa

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rasulullah SAW menyerukan pada umatnya untuk senantiasa peduli terhadap Masjid Al Aqsa, yang saat ini berada di kawasan Yerusalem Palestina. Jika kita menilik sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW, maka akan kita dapatkan seruan itu sebagaimana dalam hadits berikut: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ قَالَ ثَنَا عِيسَى قَالَ ثَنَا ثَوْرٌ عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي سَوْدَةَ عَنْ أَخِيهِ أَنَّ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ أَرْضُ الْمَنْشَرِ وَالْمَحْشَرِ ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ قَالَتْ أَرَأَيْتَ مَنْ لَمْ يُطِقْ أَنْ يَتَحَمَّلَ إِلَيْهِ أَوْ يَأْتِيَهُ قَالَ فَلْيُهْدِ إِلَيْهِ زَيْتًا يُسْرَجُ فِيهِ فَإِنَّ مَنْ أَهْدَى لَهُ كَانَ كَمَنْ صَلَّى فِيهِ حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْهَرَوِيُّ قَالَ ثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ بِإِسْنَادِهِ فَذَكَرَ مِثْلَهُ Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr berkata, telah menceritakan kepada kami Isa berkata, telah menceritakan kepada kami Tsaur dari Ziyad bin Abu Saudah dari saudara laki-lakinya bahwa Maimunah bekas budak Rasulullah SAW berkata, “Wahai Nabi Allah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis.” Beliau menjawab, “Itu adalah bumi yang terbentang dan mahsyar (perkumpulan), datanglah ke sana dan laksanakan sholat di sana, karena sholat di sana sama dengan melaksanakan seribu salat di tempat lainnya.” Beliau bertanya, “Bagaimana pendapat tuan jika seseorang tidak mampu untuk datang ke sana?” Nabi menjawab, “Hendaklah dia menginfakkan minyak untuk penerangan di sana karena barang siapa yang memberikan minyak untuk penerangan di dalamnya, maka ia seperti orang yang melaksanakan sholat di dalamnya.” Telah menceritakan kepada kami Abu Musa al-Harawi dia berkata, telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dengan sanadnya, kemudian dia menyebutkan hadits seperti itu. (HR Ahmad nomor 26343). Dalam redaksi lainnya dijelaskan sebagai beriku:

Read More

Ini Sebab Ahli Kubur Tidak Bisa Menjawab Pertanyaan Munkar Nakir

Surabaya — 1miliarsantri.net : Manusia akan mendapatkan serangkaian pertanyaan ketika di alam kubur. Pertanyaan-pertanyaan itu ditanyakan oleh malaikat Munkar dan Nakir. Bila manusia itu dapat menjawabnya dengan lancar, sudah pasti ia akan selamat di alam kubur. Namun bila manusia tersebut tak dapat menjawab, maka malaikat Munkar dan Nakir akan menyiksanya. Sebagaimana disebutkan manusia yang mendapatkan siksa kubur adalah mereka yang kesulitan menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir. Ketika mereka ditanya tentang agamanya, mereka tak dapat menjawab bahwa Islam adalah agama mereka. Sebab saat hidup di dunia mereka ragu terhadap Islam. Selain itu, mereka juga susah mengatakan Alquran adalah imamnya. Sebab saat di dunia ia tak membaca Alquran, tak mempelajari Alquran, dan tak mengamalkan Alquran. Lalu pertanyaan apa lagi yang ditanyakan kepada ahli kubur? Imam Qurthubi melanjutkan penjelasannya dalam kitab at Tadzkirah bahwa ketika malaikat bertanya siapa nabimu?, sebagian ahli kubur sulit mengucapkan ‘Muhammad Nabiku’. Hal itu karena orang tersebut ketika hidup di dunia melupakan sunah-sunah rasul dan meremehkannya. Selain itu juga, ada orang yang kesulitan menjawab bahwa Ka’bah adalah kibatnya. Sebab saat di dunia mereka lalai dalam ibadah, ketika ibadah pun asal-asalan, bersuci pun asal-asalan, dan pakaian dan makanan mereka berasal dari uang haram. Lalu mereka juga kesulitan berkata bahwa nabi Ibrahim itu ayahku. Sebab ketika di dunia mereka berharap nabi Ibrahim itu adalah dari golongan Yahudi atau Nasrani.

Read More

Tercatat Mukjizat Rasulullah Mencapai Ribuan Macam

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) adalah hamba, kekasih, dan rasul utama Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT). Kedudukan beliau begini tinggi, sampai-sampai berulang kali nama atau identitas beliau disebut dalam Al-Quran dengan keluhuran budi pekerti akhlak yang mulia. Misalnya seperti termaktub dalam Al-Quran Surah Al-Qolam [68]: 4: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍۢ“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam [68]: 4). Ayat ini menegaskan bahwa akhlak Rasulullah SAW begitu mulia. Bahkan, saking mulia dan terpujinya akhlak beliau, kawan maupun lawan (musuh)-nya acapkali memujinya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah teladan yang baik, panutan yang utama. Namun demikian, banyak manusia yang meragukan akhlaknya, meragukan identitasnya, dan tak percaya akan beliau yang diutus oleh Allah SWT sebagai Rasul-Nya. Karena itu pula, Allah SWT memberikan berbagai mukjizat kepada para Nabi dan Rasul-Rasul Allah, termasuk Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai riwayat dikatakan ada ribuan mukjizat yang dimiliki Rasulullah SAW. Dan mukjizat yang paling utama itu adalah Al-Quran Al-Karim. Sebagian ulama berpendapat bahwa mukjizat Rasulullah mencapai 3000 macam. Angka tersebut belum termasuk mukjizat Al-Quran yang—menurut sebagian riwayat—di dalamnya terdapat sekitar 60-70 ribu mukjizat. Mukjizat tersebut juga belum termasuk setiap perilaku, ucapan, dan tindakan Rasulullah SAW dalam menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Menurut Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah, ada banyak mukjizat Rasulullah SAW. “Ayat-ayat dan petunjuk yang menunjukkan kenabian Nabi Muhammad SAW sangat banyak dan beragam jumlahnya. Bisa dikatakan, jumlahnya lebih banyak dan lebih agung daripada ayat-ayat nabi sebelum beliau,” ungkapnya. Ibnu Taimiyah menambahkan, perjalanan hidup Rasulullah (Sirah Nabawiyah) juga termasuk tanda kenabian. “Demikian pula akhlak, sabda, perbuatan, syariat, umatnya, dan karamah-karamah orang-orang saleh dari umat beliau, semua itu termasuk ayat (tanda kenabian) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW).”

Read More

Empat Hikmah Yang Terdapat Dalam Surat Al Mulk

Surabaya — 1miliarsantri.net : Setiap surat di dalam Alquran memiliki hikmah dan keistimewaan tersendiri, salah satunya adalah Surat Al Mulk. Apa saja hikmah dari surat tersebut bagi jiwa? Dilansir di About Islam, Jumat (17/11/2023), seorang dokter yang berpraktik kedokteran di Amerika yang juga memiliki lebih dari 10 tahun pengalaman pengorganisasian komunitas Islam serta pendiri SALIM Life LLC, Hana Alasry, menjabarkan empat hikmah Surat Al Mulk bagi jiwa. Berikut penjabarannya. Keberkahan Surat Al-Mulk di atas membuat kita bertanya-tanya, jika Alquran akan bertindak sebagai sekutu untuk membela kita di saat-saat paling rentan, apakah kita memperlakukannya seperti sekutu? Atau apakah kita menggunakan alasan yang banyak digunakan anak muda dengan mengatakan, “Saya sibuk. Saya akan membahasnya nanti. Saya akan mencari waktu.” Hana menjabarkan pelajaran pertama dari Surat Al-Mulk bahkan sebelum seorang Muslim mulai membacanya adalah dengan memperlakukan Alquran seperti seorang teman. Habiskan waktu dengannya dan dengarkan itu berulang-ulang. Salah satu refleksi paling kuat yang pernah ia dengar tentang Alquran adalah karena Alquran merupakan wahyu dari Allah. Maka Alquran bisa dikatakan ‘hidup’. Alquran berbicara kepada orang yang beriman dengan cara yang diizinkan Allah. Surat Al-Mulk tidak terkecuali, maka ia menekankan bagi seorang Muslim untuk berteman dengannya dan biarkan ia berbicara kepada sanubari hati orang-orang beriman. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Mulk ayat 3-4, “Allazii khalaqa sab’a samaawaatin tibaaqam maa taraa fii khalqir rahmaani min tafaawutin farji’il basara hal taraa min futuur. Summar ji’il basara karrataini yanqalib ilaikal basaru khaasi’anw wa huwa hasiir.” Yang artinya, “(Dia) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian, ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.” Jika dicermati, kata Hana, ayat tersebut memerintahkan pengulangan untuk membacanya lagi. Harga diri, kata Hana, merupakan perjuangan banyak anak muda yang dapat terbawa hingga dewasa. Hal ini terdokumentasi dengan baik dalam literatur penelitian dan siapa pun yang bekerja dengan kaum muda dapat membuktikannya secara anekdot. Lantas bagaimana kaitannya dengan ayat ini? Allah yang menciptakan langit tanpa jeda pun menciptakan manusia beserta jiwanya. Allah yang menjaga langit tetap utuh telah memberi manhsia semua yang dibutuhkan untuk tetap utuh di dunia ini. Dia telah memberi petunjuk bagi manusia berupa Alquran dan teladan Nabi Muhammad. Sayyidina Umar bin Khattab diketahui pernah berkata, “Sesungguhnya kami adalah kaum yang tercela dan Allah memuliakan kami dengan Islam. Jika kita mencari kehormatan dari sesuatu selain yang telah diberikan Allah kepada kita, niscaya Allah akan mempermalukan kita.” Dari itu dapat diketahui bahwa terdapat satu lagi pengingat indah akan harga diri, terutama ketika seseorang merasa ragu atau malu dalam melakukan tindakan seorang Muslim di depan umum.

Read More