Rahasia Surat Ar Rahman Terdapat Ayat yang Diulang Sebanyak 31 kali

Jakarta — 1miliarsantri.net : Surat Ar-Rahman mempunyai sejumlah keistimewaan baik dari aspek pahala dan manfaat membacanya atau segi bahasanya. Salah satu contoh keistimewaan tersebut adalah bentuk pengulangan yang ada dalam surat Ar-Rahman. Kalimat فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ fa bi ayyi aalaai rabbikuma tukadzziban diulang sebanyak 31 kali dalam surah ar-Rahman. Arti dari ayat ini adalah: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Ungkapan ini ditujukan kepada bangsa jin dan manusia. Dalam surat ar-Rahman, Allah SWT menyebutkan nikmat-nikmat yang banyak sekali, yang Dia limpahkan kepada jin dan manusia agar mereka bersyukur dan tidak kufur terhadap nimat-nikmat tersebut. Banyaknya nikmat yang Allah SWT limpahkan itu menunjukkan kekuasaan dan rahmat-Nya yang sudah sepantasnya dijadikan sebagai satu-satunya yang berhak disembah. Adapun hikmah di balik pengulangan ayat ini, antara lain, sebagaimana yang kita ketahui bahwa Alquran diturunkan dalam bahasa Arab dan di antara gaya penyampaian (uslub)-nya adalah pengulangan ( tikrar) untuk menguatkan kesan dan mendalamkan pemahaman ayat. As-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan fi Ulumil Qur`an menyebutkan bahwa hal itu untuk memantapkan pemahaman, memberikan tekanan terhadap masalah yang dijelaskan, mengingatkan kembali, serta menunjukkan betapa besar dan pentingnya masalah itu. Hal itu sama seperti perkataan seseorang kepada orang yang selalu ditolong tapi dia mengingkarinya. Bukankah kamu dahulu fakir kemudian saya berikan kamu harta, apakah kamu mengingkari itu? Bukankah kamu dahulu tidak punya pakaian kemudian saya beri kamu pakaian, apakah itu juga kamu ingkari? Gaya bahasa seperti ini biasa digunakan dalam bahasa Arab. Lalu, pengulangan ayat ini bertujuan mengingatkan hamba untuk selalu ingat dan bersyukur kepada Allah SWT tanpa harus menunggu dan menghitung nikmatnikmat Allah yang tidak akan bisa dihitung. Surat Ar-Rahman dikenal juga dengan nama Arus Alquran, yang secara harfiah berarti Pengantin Alquran. Mengapa demikian? Prof Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al Misbah jilid 13 membenarkan bahwa Surat Ar Rahman memang dikenal dengan nama Pengantin Alquran. Imam Baihaqi meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Segala sesuatu memiliki pengantinnya dan pengantin Alquran adalah Surat Ar Rahman.”

Read More

Beberapa Dalil Yang Menjelaskan Perihal Tertawa Menertawakan dan Wajib Kita Ketahui

Surabaya — 1miliarsantri.net : Tertawa adalah tindakan ekspresi yang umumnya terkait dengan kegembiraan atau hiburan. Ini merupakan respons alami terhadap sesuatu yang dianggap lucu atau menghibur. Dalam kehidupan sehari-hari, tertawa dapat menjadi cara yang baik untuk melepaskan stres, meningkatkan suasana hati, dan merasakan koneksi sosial dengan orang lain. Dalam hukum Islam, tertawa tidak dianggap sebagai sesuatu yang dilarang atau negatif. Sebaliknya, tertawa dipandang sebagai salah satu cara untuk merelaksasi diri, meningkatkan suasana hati, dan menikmati kegembiraan yang diberikan Allah SWT. Terdapat banyak riwayat dari Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan bahwa beliau sendiri tersenyum dan tertawa dalam berbagai kesempatan. Di dalam Alquran juga terdapat beberapa ayat yang membahas tentang tertawa. Tertawa dalam Alquran ditulis dengan kalimat dari kosa kata yang artinya tertawa. Setidaknya ada delapan ayat yang menyebut tentang tertawa di dalam Alquran. Berikut delapan ayat Alquran tersebut: Allah SWT berfirman:وَتَضْحَكُوْنَ وَلَا تَبْكُوْنَۙ Artinya: “Kamu mentertawakan dan tidak menangisi(-nya).” Dalam tafsir Tahlili Kemenag dijelaskan bahwa ayat ini diungkapkan dalam bentuk pertanyaan, maksudnya: Apakah layak bagi kamu, sesudah keterangan yang jelas itu bahwa manusia merasa heran terhadap Alquran, sedang Alquran membawa petunjuk untuk kamu ke jalan yang benar dan menghantarkan kamu ke jalan yang lurus; atau kamu masih memandangnya rendah dengan mencemoohkan dan berpaling dari padanya. Dalam ayat ini, Allah SWT berfirman: فَلْيَضْحَكُوْا قَلِيْلًا وَّلْيَبْكُوْا كَثِيْرًاۚ جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ Artinya: “Maka, biarkanlah mereka tertawa sedikit (di dunia) dan menangis yang banyak (di akhirat) sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka perbuat.” Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang munafik itu sepantasnya lebih banyak menangis daripada tertawa memikirkan nasib dan dosa mereka di dunia dan di akhirat karena mereka akan menerima azab yang pedih, sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan kerugian karena perbuatan mereka sendiri, yaitu menghina dan mengejek orang-orang mukmin, membuat propaganda busuk untuk menghalang-halangi orang Islam dan mematahkan semangat perjuangan. Sedang di akhirat nanti membawa dosa yang banyak dan tidak dapat ampunan dari Allah SWT. Dalam ayat ini, Allah SWT berfirman: اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu mentertawakan orang-orang yang beriman.” Dalam Tafsir Tahlili Alquran Kemenag dijelaskan, sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas dan berdosa dahulu selalu menertawakan orang-orang yang beriman. Ketika Nabi Muhammad membawa Alquran dengan ajaran Islam yang mengandung kebajikan, ia mendapatkan perlawanan yang hebat dari orang-orang musyrik Makkah. Perlawanan ini terutama dari para pembesarnya yang sejak nenek moyangnya sudah biasa menyembah patung berhala. Mereka menentang ajaran apa saja yang datang dari luar yang bertentangan dengan kepercayaan mereka. Telah menjadi kebiasaan bagi orang-orang besar yang bersandar kepada kekuasaan dan kebendaan atau kekayaan bahwa mereka selalu bersikap sinis atau mencemoohkan pihak lain yang tidak sejalan dengan kepercayaan dan kebudayaan mereka. Dalam ayat ini, Allah SWT berfirman: فَاتَّخَذْتُمُوْهُمْ سِخْرِيًّا حَتّٰىٓ اَنْسَوْكُمْ ذِكْرِيْ وَكُنْتُمْ مِّنْهُمْ تَضْحَكُوْنَ Artinya: “Lalu, kamu jadikan mereka bahan ejekan sehingga itu membuatmu lupa mengingat-Ku dan kamu (selalu) menertawakan mereka.” Pada ayat ini Allah menerangkan sebab musabab mereka disiksa dan diazab, serta jawaban yang menghina atas permintaan mereka kembali ke dunia. Hinaan itu muncul karena mereka menghina hamba-hamba Allah yang telah beriman, seperti Bilal, Khabbab, Ṣuhaib dan orang-orang mukmin yang lemah lainnya, selalu mendekatkan diri kepada Allah, menegaskan ikrar dan pengakuan keimanan mereka kepada-Nya, membenarkan para rasul yang telah diutus-Nya, senantiasa meminta ampunan dan memohon rahmat kepada-Nya karena Dialah pemberi rahmat yang sebaik-baiknya. Orang-orang kafir menghadapi orang-orang mukmin itu dengan sikap mengejek, menertawakan, dan menghina. Ayat ini juga menerangkan bahwa kesibukan orang-orang kafir itu mereka mengejek dan menertawakan orang-orang mukmin, membuat mereka lupa mengingat Allah.

Read More

Alquran Menjelaskan Tentang Perilaku Orang-orang Munafik yang Menipu Allah SWT

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam beberapa ayat Alquran dijelaskan tentang perilaku orang-orang munafik yang menipu Allah SWT, seperti dalam surah al-Baqarah ayat 9. “Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari.” Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa orang munafik telah melakukan penipuan, sementara yang hendak mereka tipu adalah Allah SWT dan orang-orang beriman. Penipuan yang dilakukan oleh orang-orang munafik adalah pengakuan keimanan kepada Allah SWT, kepada Nabi Muhammad SAW, dan segenap rukun iman lainnya. Hanya saja pengakuan itu dusta belaka. Karena pada hakikatnya, justru mereka mengingkari semua perangkat rukun iman itu. Bahkan, dengan pengakuan itu mereka mengira telah menipu Allah SWT. Mungkinkah orang-orang munafik itu bisa menipu Allah SWT? Jawabannya jelas mustahil, karena orang-orang munafik pada hakikatnya adalah manusia biasa yang notabene adalah makhluk Allah SWT. Bagaimana mungkin makhluk yang diciptakan Allah SWT bisa menipu penciptanya? Oleh karenanya, di pengujung ayat ditegaskan bahwa senyatanya orang-orang munafik itu menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari. Senyatanya orang-orang munafik itu menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari. Dalam ayat yang lain ditegaskan bahwa Allah SWT membalas tipuan mereka. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Jika mereka melaksanakan shalat, mereka melaksanakannya dengan perasaan malas, mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan orang lain, dan mereka tidak menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS an-Nisa’ [4]: 142). Orang-orang munafik menipu Allah SWT dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Artinya, orang-orang munafik itu membaca syahadat layaknya orang beriman. Tetapi, kesaksian itu nyatanya merupakan kesaksian palsu. Di bibir, mereka membaca syahadat, tapi di hati mereka mengikrarkan kekufuran.

Read More

Allah Menciptakan Gunung-gunung di Bumi Supaya Bumi Tidak Berguncang.

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Alquran sejak belasan abad yang lalu telah mengetahui fungsi gunung-gunung bagi bumi dan kehidupan manusia dari sudut pandang ilmu geologi. Hal ini menunjukan kesempurnaan Alquran, sebagai kitab suci yang mengandung informasi lintas zaman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ Dia memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu serta (menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. (QS An-Nahl Ayat 15) Tafsir Kementerian Agama menjelaskan dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan nikmat yang didapat manusia secara tidak langsung. Allah menciptakan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak berguncang. Dengan demikian, binatang-binatang serta manusia yang berada di permukaannya dapat hidup tenang. Gambaran yang dapat diambil dari ayat ini adalah gunung diciptakan oleh Allah sebagai pemelihara keseimbangan bumi sehingga dapat berputar dengan tenang. Mengenai ketenangan bumi karena adanya gunung itu dapat diumpamakan seperti tenangnya perahu di atas air. Apabila perahu itu tidak diberi beban, ia mudah terguncang oleh gelombang ombak. Tetapi apabila diberi beban yang cukup berat, maka perahu itu tidak mudah oleng atau tidak mudah bergoyang. Allah SWT menciptakan sungai di permukaan bumi yang mengalir dari suatu tempat ke tempat lain sebagai nikmat yang diberikan pada hamba-Nya. Sungai itu berfungsi sebagai sumber pengairan yang dapat diatur untuk mengairi sawah dan ladang, sehingga manusia dapat bercocok tanam untuk memenuhi segala macam kebutuhannya. Di samping itu, sungai dapat juga dijadikan sebagai sarana lalu lintas guna kepentingan pengangkutan barang-barang dagangan manusia.

Read More

Sikap Tawakal Menjadi Landasan Keberhasilan dan Ketenangan Hidup

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Sikap tawakal, yang menggabungkan usaha maksimal dengan doa serta kepercayaan penuh kepada Allah SWT, menjadi landasan utama bagi keberhasilan dan ketenangan hidup. Rasulullah SAW telah menjadi contoh nyata dalam menunjukkan sikap tawakal sebagai pedoman bagi umat Islam. Tawakal bukanlah tanda kelemahan, melainkan ciri khas seseorang yang beriman. Bagi orang beriman, usaha sekeras tenaga harus diiringi dengan keyakinan bahwa hasil akhirnya sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Memiliki sikap tawakal bukan hanya sebagai pilihan, melainkan suatu kebutuhan untuk menjaga semangat, menghindari keputusasaan, dan memperkuat keyakinan kepada Sang Pencipta. “(Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung.” (QS Al-Muzammil: 9) Mengutip Islam Religion, ada empat cara untuk meningkatkan sikap tawakkal kepada Allah SWT. Imam Mufti menegaskan, tawakkal sejatinya tidak boleh diartikan sebagai menyerah pada usaha. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya berusaha dan bekerja, sambil memegang keyakinan bahwa Allah akan mengurus urusan dan memberikan bantuan dalam menghadapi cobaan. Lebih lanjut, Mufti menegaskan bahwa tawakkal tidak berarti mengesampingkan upaya mencari rezeki, mengabaikan pendidikan, atau mengabaikan peluang pekerjaan. “Allah menetapkan kewajiban untuk bekerja, dan dari jalan-Nya, Dia memberikan rezeki kepada mereka yang berusaha,” kata Mufti. Mufti memberi peringatan agar tidak terjebak dalam pemahaman keliru bahwa tawakkal berarti duduk diam di rumah sambil berharap rezeki akan datang dengan sendirinya. Sebaliknya, Allah memerintahkan untuk bergantung kepada-Nya sambil tetap aktif bekerja. Dengan demikian, upaya keras dalam mencari rezeki dianggap sebagai ibadah fisik, sementara tawakkal kepada Allah dianggap sebagai ibadah hati, seiring dengan firman Allah. “Maka mintalah rezeki dari Allah dan sembahlah Dia (saja).” (QS Al-Ankabut: 17) Cara lain untuk benar-benar memahami tawakal kepada Allah adalah dengan memahami definisi iman. Iman bukan hanya sekedar percaya di dalam hati, tetapi merupakan kombinasi antara iman dan tindakan. Demikian pula, tawakal kepada Allah tidak berarti menyerah pada usaha Anda sendiri. Melainkan berusaha dengan sikap bahwa Allah akan mengurus urusan Anda dan akan membantu Anda melewati cobaan. Ingatlah ketika Nabi Muhammad bertanya kepada seorang Badui: “Mengapa kamu tidak mengikat untamu?” Dia menjawab: “Saya bertawakal kepada Allah!” Nabi kemudian berkata: “Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

Read More

Lelah nya Manusia Yang Sangat Disuka Allah dan Rasulullah SAW

Surabaya — 1miliarsantri.net : Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki kekurangan dan keterbatasan. Karenanya sangat manusiawi bila kita merasa kelelahan dan mengeluh akan permasalahan yang dihadapi. Namun, ada kepayahan atau kelelahan yang disukai Allah Ta’ala dan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Rasa lelah tersebut bahkan bisa menjadi pengampun dosa-dosa seseorang. “Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim) Dalam “Surabi (Suara Bestari): Pesan dan Keteladanan” karya KH Adrian Mafatihallah Kariem, disebutkan ada 8 kepayahan yang disukai Allah dan Rasulullah, yaitu: Allah Ta’ala berfirman dalam surat At-Taubah ayat 111, yang berbunyi: اِنَّ اللّٰهَ اشۡتَرٰى مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اَنۡفُسَهُمۡ وَاَمۡوَالَهُمۡ بِاَنَّ لَهُمُ الۡجَــنَّةَ‌ ؕ يُقَاتِلُوۡنَ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ فَيَقۡتُلُوۡنَ وَ يُقۡتَلُوۡنَ‌وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقًّا فِى التَّوۡرٰٮةِ وَالۡاِنۡجِيۡلِ وَالۡقُرۡاٰنِ‌ ؕ وَمَنۡ اَوۡفٰى بِعَهۡدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسۡتَـبۡشِرُوۡا بِبَيۡعِكُمُ الَّذِىۡ بَايَعۡتُمۡ بِهٖ‌ ؕ وَذٰ لِكَ هُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِيۡمُ Artinya: Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” Seperti disebutkan dalam surat Fussilat ayat 33, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” Al-Qur’an surat Al-‘Ankabut ayat 69 menjelaskan bahwa Allah SWT selalu bersama orang-orang yang berbuat baik. وَالَّذِيۡنَ جَاهَدُوۡا فِيۡنَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَا ‌ؕ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 14 yang berbunyi, وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Read More

Rahasiakan Sejarah Rasulullah SAW, Pendeta Yahudi Senang Merubah Isi Taurat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Para pendeta-pendeta Yahudi senang sekali mengubah-ngubah isi Taurat dan menafsirkannya sesuai dengan ambisi mereka. Apalagi tentang informasi akan datangnya rasul akhir zaman yaitu nabi Muhammad SAW dari tanah Arab keturunan Ismail. Pendeta-pendeta Yahudi menutup-nutupinya karena bagi mereka nabi terakhir itu harus dari Yahudi. ۞ اَفَتَطْمَعُوْنَ اَنْ يُّؤْمِنُوْا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُوْنَ كَلَامَ اللّٰهِ ثُمَّ يُحَرِّفُوْنَهٗ مِنْۢ بَعْدِ مَا عَقَلُوْهُ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ Artinya: Maka, apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka agar percaya kepadamu, sedangkan segolongan mereka mendengar firman Allah lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui(-nya)? (Alquran surat Al Baqarah ayat 75). Ibnu Katsir dalam tafsir Qur’an Al Adzim menjelaskan tentang ayat ini. Ia menjelaskan lafadz:اَفَتَطْمَعُوْنَ اَنْ يُّؤْمِنُوْا لَكُمْ Artinya adalah apakah kalian (Muslimin) mengharapkan mereka percaya pada kalian?. Maksudnya mengikuti dengan penuh ketaatan. Mereka (orang Yahudi) adalah golongan sesat sebagaimana nenek moyang mereka yang telah menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah dan bukti-bukti yang jelas, tetapi hati mereka mengeras. Orang-orang Yahudi itu diberi petunjuk oleh Allah dengan diturunkannya Taurat. Tetapi mereka mengubahnya. وَقَدْ كَانَ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُوْنَ كَلَامَ اللّٰهِ ثُمَّ يُحَرِّفُوْنَهٗ Artinya : padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah kemudian mereka mengubahnya. Artinya mereka (orang Yahudi) menakwilkannya dengan penafsiran yang tidak semestinya. Mereka mengetahui bahwa mereka melakukan kesalahan dengan mengubah dan menakwilkan firman-firman Allah. Menurut AS Siddiq yang diubah oleh orang Yahudi adalah kitab taurat. Menurut Qatadah orang-orang Yahudi mendengar firman Allah (Taurat) lalu mengubahnya setelah mereka memahami. Sedang menurut Mujahid yang mengubah dan mengenyembunyikan adalah para pendeta dari kalangan Yahudi. وقال أبو العالية ، عندما إلى ما أنزل الله في كتابهم ، من نعت محمد ﷺ فحرفوه عن مواضعه. Artinya: Abu Aliyah berkata : mereka memahami apabila mereka merujuk ke apa yang diturunkan Allah dalam kitabnya, dari yang menyangkut nabi Muhammad, tetapi mereka mengubahnya dari yang sebenarnya. (Lihat tafsir Qur’an Al Adzim karya Ibnu Katsir, cetakan Dar Thayyibah linnasyri wa Tauzi, Saudi, jilid 1/A halaman 308).

Read More

Membangun Relasi Hubungan Anak dengan Orang Tua Menurut Al Qur’an

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam Islam, membangun sebuah relasi atau hubungan antara anak dan orang tua sangatlah penting. Dengan adanya hubungan tersebut, terjalin sebuah ikatan yang kuat antara anak dan orang tua. Keluarga merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan ini, karena setiap aspek dalam kehidupan ini, sebagian besar berasal dari keluarga. Tentu saja seluruh aspek kehidupan ini ada di dalam Al-Qur’an, salah satunya relasi anak dan orang tua dalam keluarga. Allah SWT. telah mengatur itu semua dalam Q.S. Al-Isra (17) ayat 23-27. Pada ayat 23 dan 24, Allah memerintahkan kita agar selalu berbuat baik dan menghormati orang tua, dengan cara bertutur kata yang baik terhadap orang tua serta selalu menyayanginya. Kemudian, dalam ayat selanjutnya yakni 25, Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam hati, dan Allah menganpuni orang yang ingin bertaubat. Selanjutnya dalam 2 ayat terakhir, yaitu 26 dan 27, Allah menganjurkan untuk berbagi dan jangan bersikap boros, karena sesungguhnya pemboros itu adalah saudaranya setan. Berikut adalah ayat, terjemahan, dan isi kandungan Q.S. Al-Isra (17) 23-27: وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا (٢٣) “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (23) Isi kandungan: Pada ayat ini, berisi tentang perintah menyembah kepada Allah dan menyayangi orang tua. Sebagai anak, kita dilarang untuk mengucap kata “ah” dan membentak kedua orang tua. Jika berbicara yang menyakiti hati orang tua saja dilarang, apalagi memukul atau melakukan tindak kekerasan lain pada orang tua. وَا خْفِضْ لَهُمَا جَنَا حَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا (٢٤) “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (24) Isi kandungan: Dalam ayat ini, kita dianjurkan untuk bersikap rendah diri sebagai rasa sayang kita terhadap kedua orang tua. Kemudian, meminta do’a kepada Allah agar selalu menyayangi mereka, karena merekalah yang telah mendidik kita sedari kecil. رَّبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا فِيْ نُفُوْسِكُمْ ۗ اِنْ تَكُوْنُوْا صٰلِحِيْنَ فَاِ نَّهٗ كَا نَ لِلْاَ وَّا بِيْنَ غَفُوْرًا (٢٥) “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat.” (25)

Read More

Wanginya Jasad Para Syuhada Palestina Adalah Tanda-tanda Kekuasaan Allah SWT

Jakarta — 1miliarsantri.net : Tercatat belasan ribu warga dan pejuang Palestina gugur sebagai syuhada dalam berjihad melawan penjajah zionis Israel. Sejatinya mereka mendapatkan kemuliaan dan derajat tinggi di sisi Allah SWT. Allah SWT bahkan menampakkan diantara tanda-tanda penghormatan dan kemuliaan yang diberikan pada para syuhada Palestina dengan menjadikan jasad mereka, diantaranya memunculkan wangi yang sangat harum dan raut wajah yang tersenyum gembira. Subhanallah. Setelah wafat, lalu apa yang terjadi dengan roh-roh para syuhada selanjutnya di akhirat? Ada satu riwayat yang cukup panjang yang menjelaskan keadaan roh para mujahid di akhirat. Riwayat ini dari Abu Abdullah Al Husain bin Husain bin Harb sahabatnya Ibnu Mubarak yang meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab ar raqiq yang disandarkan kepada Abdullah bin Umar. Dijelaskan bahwa ketika seorang hamba Allah mati syahid di jalan Allah, maka tetesan darah pertama yang menetes ke tanah menjadi kaffarah (penghapus dosa) baginya. Kemudian, Allah mengangkat roh para syuhada itu ke langit bersama para malaikat. ثم يعرج مع الملائكة كأنه معهم ، والملائكة على أرجاء السماء يقولون: قد جاءت روح من الأرض ، روح طيبة ، و نسمة طيبة فلا يمر بباب إلا فتح لها ، ولا ملك إلا صلى عليها ، ودعا لها ، ويشيعها حتى يؤتي بها الرحمن ، فيقولون : يا ربنا هذا عبدك توفيته فيسجد قبل الملائكة ، Artinya: Kemudian dia (roh mujahid) itu naik bersama malaikat seakan-akan dia bersama mereka, dan para malaikat yang berada di atas langit berkata: Telah datang roh dari bumi, roh yang baik, maka tidak ada pintu langit yang dilewati kecuali dibukakan bagi roh mujahid itu, dan tidaklah para malaikat yang berada di setiap pintu langit kecuali bersholawat atas roh mujahid itu, dan mendoakan roh mujahid itu, dan mengiringnya hingga roh mujahid itu bertemu dengan Allah Yang Maha Pengasih. Maka berkatalah para malaikat itu, Ya Tuhan kami, inilah hamba-Mu yang telah Engkau wafatkan dia di jalan-Mu, maka bersujudlah roh mujahid itu sebelum para malaikat bersujud. (Lihat kitab At Tadzkirah karya Imam Qurthubi, penerbit Maktabah Darul Minhaj, halaman 364). Lebih lanjut, dijelaskan dalam riwayat itu bahwa Allah SWT menyucikan dan mengampuni dosa Mujahid itu. Mereka disuruh pergi ke tempat para syuhada. Mereka pun bertemu dengan para syuhada lainnya. Ia diperlihatkan para syuhada lainnya itu berada di dalam kubah-kubah dari sutra di dalam taman-taman yang hijau. Para syuhada itu menikmati ikan yang berada di sungai-sungai surga yang dagingnya begitu harum. Setelahnya, roh mereka diperlihatkan bagaimana kondisi rumah di surga. ثم يعودان وينظرون إلى منازلهم من الجنة ويدعون الله عز وجل أن تقوم الساعة Artinya: Kemudian mereka kembali dan melihat rumah mereka di surga, dan berdoa kepada Allah Yang Maha Esa agar segera tiba Hari Kiamat. (At Tadzkirah, 364). Dalam penjelasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa wanginya jasad para syuhada adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang memberikan kemuliaan dan kehormatan kepada roh dan jasad para syuhada dan orang-orang beriman. Di dalam sebuah hadis riwayat imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

Read More

Membaca Ayat Ini Agar tidak Diganggu Setan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam menjalani kehidupan, kerap kali kita dihantui kecemasan atau ketakutan. Dan sering kita diberikan berbagai macam amalan bacaan, diantara nya doa yang dibaca untuk mengusir setan. Doa ini bersumber langsung dari Alquran yang terdapat dalam surat Al-Baqarah. Berikut doa untuk mengusir setan اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum, la ta’khuzuhu sinatuw wa la na’um, lahu ma fis-samawati wa ma fil ard, man zallazi yasyfa’u ‘indahu illa bi’iznih, ya’lamu ma baina aidihim wa ma khalfahum, wa la yuhituna bisyai’im min ‘ilmihi illa bima sya’, wasi’a kursiyyuhus-samawati wal-ard, wa la ya ‘uduhu hifzuhuma, wa huwal-‘aliyyul-‘azim “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya): tidak mengantuk dan tidak tidur, hanya milik-Nya apa saja yang di langit dan di bumi: tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa saja yang belum dikerjakan mereka dan apa saja yang telah dikerjakan mereka: dan mereka tidak mampu menjangkau ilmu Allah sedikitpun melainkan apa yang dikehendaki-Nya: Kursi Allah meliputi langit dan bumi: Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS Al-Baqarah ayat 255, HR Al-Bukhari no 2311) Di antara dalil yang menunjukkan keutamaan membaca ayat kursi, yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah menugaskan kepadaku untuk menjaga zakat di bulan Ramadhan. Kemudian seseorang datang kepadaku dan mencuri dari makanan (zakat) ….” Di akhir hadits, pencuri itu berkata, ”Bila engkau hendak tidur, maka bacalah ‘Ayat Kursi’ karena penjagaan dari Allah akan terus bersamamu dan setan tidak akan mendekatimu sampai Subuh”. Kemudian Nabi berkata, “Ia telah berkata benar kepadamu, walau ia pendusta. Ia adalah setan.” (HR al-Bukhari 2311]. Buya H Muhammad Alfis Chaniago dalam Indeks Hadits dan Syarah yang diterbitkan oleh Pustaka Kalbu, menjelaskan, doa adalah senjatanya orang beriman. Setiap kita punya kebutuhan, maka hendaklah manusia berdoa kepada Allah SWT, mohonlah kepada Allah SWT agar keinginan terpenuhi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Read More