Beberapa Kebiasaan Yang Dilakukan Rasulullah Sebelum Tidur

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rasulullah SAW mencontohkan pola hidup sunnah bagi umatnya. Selain pahala ibadah sunnah, mengikuti cara Rasulullah juga bisa mendatangkan manfaat lain, misalnya manfaat kesehatan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21, “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” Segala sesuatu yang dilakukan Rasulullah adalah sunnah, di antaranya adalah kebiasaan-kebiasaan Rasulullah sebelum tidur, yaitu: Tidur sering dikiaskan layaknya persimpangan jalan menuju kematian. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Az-Zumar ayat 42, di mana Allah Ta’ala berfirman: “Allah menggenggam nyawa (manusia) pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika dia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.” Karena itu, untuk menyiapkan diri menghadapi kematian, seseorang harus mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam kondisi bebas dari kotoran dan najis yaitu dengan berwudhu. Seperti yang disampaikan dalam hadits, “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk sholat.” (HR. Al Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710). Sayidah Aisyah RA, pernah meriwayatkan sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah engkau tidur sebelum mengerjakan empat hal. Pertama menghatamkan Al-Qur’an. Kedua menjadikan para Nabi sebagai pemberi syafaat bagimu. Ketiga meminta ridha dari semua kaum muslimin. Keempat melaksanakan haji dan Umrah”. Kemudian Aisyah menjawab “bagaimana aku bisa melakukan keempat hal tersebut?” Seraya tersenyum Rasulullah SAW berkata “Apabila engkau membaca surat al-Ikhlas tiga kali, maka seakan-akan engkau telah mengkhatamkan al-Quran. Dan apabila engkau bershalawat kepadaku dan kepada semua Nabi-Nabi maka engkau sama dengan menjadikan kami sebagai pemberi syafaatmu.” “Dan apabila engkau beristighfar untuk kaum muslimin, maka engkau telah menjadikan mereka ridha kepadamu. Dan terakhir apabila engkau membaca tasbih seolah engkau telah melaksanakan haji dan umrah”.

Read More

Syekh Ibnu Athaillah Berbagi Nasehat Ketika Menghadapi Permasalahan Berat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam menghadapi musibah di alam dunia yang terasa berat, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menawarkan perspektif yang menenangkan dan menginspirasi, membimbing individu untuk menemukan kedamaian dalam menghadapi cobaan hidup yang sulit. Saat datang ujian dan cobaan berupa musibah, seringkali manusia merasa kecewa, terluka dan terasa pedih. Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari menyampaikan bahwa ada cara untuk membuat musibah itu terasa lebih ringan. Yakni dengan menyadari bahwa ujian berupa musibah itu dari Allah SWT. Syekh Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam menjelaskan, jika ujian berupa musibah dari Allah SWT, maka hal yang perlu diingat adalah Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana. Apapun yang diberikan kepada manusia merupakan bentuk kasih sayang serta kebijaksanan-Nya. “Yakinlah Allah SWT tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya di dunia dan akhirat. Agar kamu bisa meringankan derita musibah yang sedang menimpa maka hendaklah kamu mengetahui bahwa Allah SWT adalah Dzat yang menguji kamu. Dzat yang mengarahkan kamu menghadapi berbagai takdir adalah Dzat yang membiasakan kamu untuk selalu mengambil pilihan yang terbaik.” Jika sering tertimpa musibah atau sedang menghadapi bencana, maka ada satu resep yang bisa dimanfaatkan untuk meringankan kepedihan tersebut. Resep itu yaitu mengetahui bahwa Allah SWT yang telah menguji. Allah adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana. Setiap ketetapan-Nya pasti mengandung hikmah dan maslahat bagi para hamba-Nya. Tidak ada satupun ketetapan-Nya yang bertujuan menyiksa dan merugikan hamba-hamba-Nya.

Read More

Beberapa Manfaat Wudhu Bagi Kesehatan, Berdampak Positif Juga untuk Mental dan Fisik

Surabaya — 1miliarsantri.net : Islam menekankan pentingnya kebersihan diri untuk memperkuat jiwa. Salah satunya tercermin dari perilaku selalu bersuci sebelum menjalankan ibadah untuk Allah Ta’ala. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 6: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ6 Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. Wudhu merupakan amalan sederhana dengan mencuci bagian tubuh tertentu, termasuk tangan, kaki, lengan, mulut, lubang hidung, telinga, dan wajah. Selain berfungsi untuk membersihkan tubuh, wudhu juga membawa manfaat kesehatan yang besar yang berdampak positif pada kesejahteraan mental dan fisik. Melansir laman Islamic Finder, berikut beberapa manfaat kesehatan dari wudhu: Wudhu menawarkan pengalaman terapeutik, terutama bagi mereka yang menderita depresi. Beberapa ahli yoga bahkan menganjurkan untuk melakukan wudhu sebelum tidur. Berwudhu sebelum tidur disebut dapat menenangkan pikiran dan tubuh, alhasil tidur malam pun menjadi lebih nyenyak. Wudhu disebut juga menawarkan kelebihan bagi kecantikan kulit. Rutin berwudhu dapat menyegarkan kulit dan membuatnya terlihat lebih muda. Saat berwudhu dapat membuka pori-pori kulit, menghilangkan rasa lelah, dan membersihkan segala debu yang menumpuk sekaligus menyebarkan keringat dan lemak.

Read More

Aa Gym : Orang Qonaah Dijamin Kebahagiaan nya Oleh Allah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pendakwah Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym menyebut orang qanaah tidak akan pernah merasa kekurangan sehingga selalu merasa bahagia. Bahkan, kata Aa Gym, Allah akan menambah karunianya pada orang yang bersyukur. “Orang bahagia itu qanaah dan dia dijamin oleh Allah kebahagiaan nya,” terang Aa Gym, Kamis (28/12/2023). Beruntunglah seseorang yang memeluk Islam, diberi kecukupan rezeki dan Allah jadikan ia qana’ah dengan apa didatangkan kepadanya”. (HR Muslim). Menurut pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhid ini, orang qanaah akan menerima apapun yang diberikan Allah SWT dengan rasa syukur. “Puas hatinya itu dengan Allah. Walaupun rumahnya kecil, kontrakan, puas. Walaupun kendaraannya sederhana, puas. Diberi apa saja, puas” terang Aa Gym. Aa Gym menepis anggapan apabila orang yang menerima apa adanya susah maju. “Justru karena dia qanaah, Allah menganggapnya bersyukur. Allah tambah. Walaupun tidak terpikirkan, tidak ingin, tapi kalau Allah memberi, maka tambah. Jadi qanaah itu tidak menghentikan pemberian Allah namun menambah,” tegas Aa Gym. Khalid Abu Shalih dalam buku Qanaah: Obat Anti Stres, menyebutkan ada beberapa manfaat yang didapat dari sifat terpuji ini, yaitu: Sifat qanaah menjadikan manusia merasa puas dan sadar atas takaran yang diberikan Allah SWT. Seperti disinggung Aa Gym, qanaah malah menambah rezeki dari Allah Ta’ala.

Read More

Meraih Cinta Kasih Allah melalui Akhlak Mulia

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kisah cinta kepada Allah terpatri dalam firman-Nya, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali Imran/3:31). Kata-kata ini menjadi panggilan kepada setiap jiwa yang merindukan kasih-Nya. Sebuah perjalanan spiritual dimulai dengan mengikuti jejak Rasulullah yang mencintai Allah dengan sepenuh hati. Orang yang sungguh mencintai Allah akan menjadikan-Nya sebagai pusat kehidupan. Cinta kepada Allah bukan hanya ungkapan kata, tetapi juga tindakan nyata. Mencintai Allah berarti mengutamakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah tuntunan yang akan membawa kepada akhlak mulia yang dicintai-Nya. Cinta kepada Allah terwujud melalui peneladanan dan pengamalan ajaran-Nya. Rasulullah, sebagai utusan-Nya, telah menyampaikan ajaran tersebut dengan sempurna. Dalam risalah dan penjelasannya, Beliau menjelaskan segala akhlak mulia yang Allah cintai. Oleh karena itu, langkah pertama dalam meraih cinta-Nya adalah memahami dan meneladani ajaran tersebut. Rasulullah tidak hanya berbicara, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai luhur Islam. Keutamaan cinta kepada Allah terletak pada ketaatan kepada-Nya dan menjauhi perilaku tercela yang diharamkan. Maka, langkah selanjutnya adalah menjauhi akhlak-akhlak tercela yang terlarang dalam syariat-Nya. Ini adalah jalan yang mengantar kepada puncak cinta kepada Allah. Dalam petunjuk-Nya, Rasulullah telah memperingatkan umatnya dari perilaku yang dibenci dan diharamkan oleh Allah. Melalui lisan dan perbuatan, Beliau memberikan contoh nyata tentang apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah. Meneladani Rasulullah berarti menjauhi segala bentuk kemurkaan-Nya dan meraih ridha-Nya. Cinta kepada Allah tidak hanya berarti mencintai-Nya, tetapi juga mencintai apa yang dicintai-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya. Dengan itulah seorang hamba dapat mencapai tingkatan cinta yang sesungguhnya. Oleh karena itu, perjalanan spiritual ini mengajarkan bahwa mencintai Allah bukanlah sesuatu yang hampa, melainkan sebuah pengorbanan dan keteladanan.

Read More

Beberapa Kisah Perjuangan Empat Ibu Mulia Yang Termaktub Dalam Al Qur’an

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam keindahan Al-Quran, termaktub kisah-kisah mengharukan dan menginspirasi tentang perjuangan empat ibu mulia. Hajar, Milyanah, Hanah, dan Maryam, keempat perempuan ini melukis cerita tentang keimanan, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian kehidupan. Masing-masing membawa pesan mendalam tentang kasih ibu, keberanian, dan ketulusan yang menggetarkan hati. Hajar Ibunda Nabi Ismail Salah satu kisah yang mengharukan adalah kisah Hajar, ibunda Ismail. Ketika Nabi Ibrahim berdo’a dan meninggalkannya bersama Ismail di gurun tandus, ia berucap, “Ya Tuhan Kami, sesungguhnya diriku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Ka’bah) yang dihormati. Ya Alloh, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat. Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim ayat 37). Keteguhan dan kesabaran Hajar diuji oleh Alloh ketika Ismail membutuhkan air. Dalam pencarian air, Hajar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Al-Quran menjelaskan, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Alloh. Maka, siapa beribadah haji ke Baitulloh atau berumroh, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya Alloh Maha Mensyukuri, lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqarah ayat 158). Dalam kisah ini, para ibu diajarkan tentang ketekunan, kesabaran, dan kepasrahan kepada kehendak Allah. Hajar barangkali tidak memikirkan keadaan dirinya yang sedang lemah tak ada tenaga, namun ia tetap berusaha melakukan ikhtiar untuk mendapatkan air. Beginilah sosok ibu yang senantiasa tidak rela bila mendapati anaknya berada dalam kelaparan, kehausan, dan kepayahan. Milyanah Ibunda Nabi Musa Selain kisah Hajar, Al-Qur’an menuturkan kisah ibu yang luar biasa, yakni ibunda Musa, yang oleh sejarawan disebut Milyanah. Dalam masa pemerintahan Fir’aun yang kejam, di mana penguasa tersebut memerintahkan pembunuhan terhadap bayi laki-laki Bani Israil, Milyanah menghadapi ujian besar. Fir’aun melaksanakan kebijakan yang mengerikan: “Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir’aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash ayat 4). Milyanah, ibu Musa, hidup dalam keadaan bingung dan terpukul dengan kebijakan diskriminatif Fir’aun. Di tengah keputusasaan itu, Allah memberi ilham ke dalam hatinya untuk mengambil langkah yang benar: “Letakkanlah ia (Nabi Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku”. (QS. Thaha ayat 39). Sebelum peti itu terlempar ke sungai Nil, sang ibu menyusui Musa. Al-Qur’an mencatat, “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‘Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya. Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari Para Rasul”. (QS. Al-Qashash ayat 7). Kisah Milyanah menggambarkan keharuan seorang ibu yang tegar dalam menghadapi ujian berat. Kesetiaan dan keberanian yang ditunjukkan oleh ibu Musa menjadi inspirasi abadi bagi setiap ibu yang menghadapi tantangan dalam perjalanan hidupnya. Hanah Ibunda Maryam Dalam Al-Qur’an, kita mendapati kisah Hanah, ibunda Maryam, dan istri dari Imran. Hanah terkenal karena melakukan nazar sebelum kelahiran Maryam, menghadiahkan anaknya untuk berbakti di Baitul Maqdis. “(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: ‘Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran ayat 35). Namun, ketika saat kelahiran tiba, kenyataan tak sesuai dengan prasangka ibunda Maryam. Hanah, dengan tulus dan rendah hati, menerima anak perempuannya sebagai anugerah dari Allah dan tetap setia pada nazarnya. “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Alloh lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk. (QS. Ali Imran ayat 36). Kisah Hanah memancarkan ketulusan dan keikhlasan seorang ibu yang setia pada janji dan nazar yang telah diucapkannya. Sebagai teladan bagi umat, Hanah mengajarkan kita untuk selalu berserah diri pada kebijaksanaan Alloh meski rencana kita tak selalu sejalan dengan takdir-Nya. Maryam Ibunda Nabi Isa

Read More

Kadar Keikhlasan Menurut Syekh Nawawi Al Bantani

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam perjalanan seorang mukmin, Ikhlas menjadi fondasi utama yang membangun nilai-nilai ibadah. Sejalan dengan pandangan Syekh Nawawi Al-Bantani, ada tiga tingkatan ikhlas yang menjadi pilar utama dalam setiap amal ibadah. Ikhlas inti dari kebermaknaan ibadah, menelurkan perbedaan dalam dimensi spiritualitas merupakan tingkatan dari kepasrahan kepada Allah SWT dalam beribadah. Syekh Nawawi dalam Kitab Nurudh Dholam menyampaikan tingkatan ikhlas yang harus dipahami setiap muslim. Pertama, ikhlas karena Allah. Ikhlas karena Allah menempati posisi pertama dan utama. Ikhlas dalam kelompok ini adalah seorang mukmin ketika beribadah kepada Allah dan melakukan amal saleh, sama sekali tidak mengharapkan apapun kecuali ridha Allah. Seorang mukmin tidak juga mengharapkan pahala surga atau untuk menghindari siksa neraka. Menurut Syekh Nawawi, ikhlas seperti ini berada pada tingkatan tertinggi. Kedua, ikhlas karena akhirat. Tingkatan ikhlas kedua adalah beribadah dan beramal saleh karena mengharapkan pahala, mendapatkan surga, dan takut pada siksa neraka. Menurut Syekh Nawawi, tingkatan ikhlas ini berada pada tingkatan menengah. Ketiga, ikhlas karena dunia. Tingkatan ikhlas terakhir adalah beribadah karena mengharapkan balasan di dunia, misalnya seseorang melakukan ibadah membaca Surat Al-Waqi’ah dengan harapan bisa mendapat kekayaan, mengeluarkan sedekah berharap mendapat rezeki yang berlipat ganda, dan seterusnya.

Read More

Saat Rasulullah SAW Ditantang untuk Melawan Takdir Ajal

Surabaya — 1miliarsantri.net : Nabi Muhammad SAW kerap diejek dan diolok-olok oleh orang kafir Quraisy yang tidak mempercayai risalah Islam. Sampai suatu ketika, Nabi ditantang untuk melawan takdir seperti maut dan musibah agar dapat dihalau untuk membuktikan kenabiannya. Allah berfirman dalam Surat Yunus ayat 49: قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ “Qul lā amliku linafsī ḍarraw wa lā naf‘an illā mā syā’allāh(u), likulli ummatin ajal(un), iżā jā’a ajaluhum falā yasta’khirūna sā‘ataw wa lā yastaqdimūn(a).” Yang artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa (menolak) mudarat dan tidak pula (mendatangkan) manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak (pula) dapat meminta percepatan.” Pakar Ilmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah menafsirkan ayat tentang orang-orang musyrik yang berulang-ulang mengatakan, “Bilakah datang janji, yakni ancaman, Wahai Muhammad beserta pengikut-pengikutmu yaitu orang-orang yang benar, cobalah segera datangkan siksa itu.” Tujuan dari orang-orang musyrik tersebut adalah mengejek agar disegerakan datangnya siksa. Maka ayat ini merupakan jawaban dari pertanyaan orang-orang musyrik itu. Rasulullah SAW sendiri tidak mampu menolak kemudharatan dan tidak pula dapat mendatangkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri. Jika demikian, bagaimana mungkin Rasulullah dapat menghadirkannya kepada orang lain? Apa yang akan terjadi kepada manusia adalah kehendak Allah yang waktu dan kadarnya telah ditetapkan oleh-Nya. Sehingga semua itu bersifat gaib dan Rasulullah tidak mengetahui hal tersebut.

Read More

Doa yang Dibaca Rasulullah SAW Setiap Sholat Hanya Untuk Umatnya

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Suatu hari, ada seseorang menemui Rasulullah SAW. Lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu terjadi?” Mendengar pertanyaan itu, Nabi SAW balik bertanya, “Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapi hari itu?” Orang itu menjawab, “Tidak ada, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Mendengar itu, Nabi SAW bersabda, “Engkau bakal bersama yang engkau cinta.” (HR al-Bukhari). Kita tidak melihat Rasulullah SAW karena tidak hidup pada zamannya. Bagaimana Nabi SAW berjuang mendakwahkan Islam dan menegakkan risalah Ilahi meskipun menghadapi banyak cobaan dan penentangan yang keras dari kaumnya. Bahkan, sampai dahi Nabi SAW berdarah karena terkena batu yang dilemparkan orang-orang Thaif. Kita tak juga tak melihat langsung bagaimana Nabi SAW rela meninggalkan Makkah, tanah kelahirannya, menuju Madinah demi menjaga iman dan harapan bahwa Islam akan bersinar di tanah yang baru, dan itu akhirnya terbukti. Meskipun kita tak melihat Rasulullah SAW secara langsung, tetapi kita membaca sirah atau perjalanan hidup Nabi SAW yang penuh dengan perjuangan. Nabi SAW melakukan itu tiada lain karena mencintai kita, umatnya, agar tidak salah jalan atau melenceng dari jalan yang lurus. Melalui Nabi SAW, Allah SWT menurunkan risalahnya untuk kita. Nabi SAW adalah rahmat bagi alam semesta. Nabi SAW mengasihi, menyayangi, dan mencintai kita sepenuh hati dan ingin sekali kita selamat di dunia dan akhirat kelak. Nabi SAW sangat mencintai kita, dan demi itu rela menderita di jalan dakwah. Dalam hadis diceritakan, Rasulullah SAW berbincang santai di rumahnya bersama Aisyah, istrinya. Aisyah menuturkan, “Ketika aku memandang wajah Rasulullah, hatiku terasa tenteram. Lalu, aku berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, doakanlah aku.’ Beliau pun mengangkat tangannya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah Aisyah, seluruh dosanya yang lalu dan yang akan datang, dosanya yang terlihat dan yang tersembunyi’.” Mendengar itu, Aisyah begitu senang. Saking senangnya, sampai ia menjatuhkan kepalanya di pangkuan suaminya itu.

Read More

Kefanaan Waktu Insaniyah dan Keabadian Waktu Illahiyah

Surabaya — 1miliarsantri.net : Pengetahuan dan kesadaran kita tentang waktu, tidak terlepas dari kesadaran dan pengetahuan kita tentang ruang. Kita berada di ruang bumi yang berputar pada porosnya serta mengitari pusat semesta dengan teratur. Keteraturan beredar dan berputarnya bumi pada poros dan jalurnya, beredarnya matahari dan bulan yang tetap tak berubah. Telah memampukan manusia sebagai makhluk berakal membangun sistem perhitungan waktu. Angka2 tahun, nama-nama bulan, nama-nama hari, angka-angka tanggal bahkan akhirnya terwujud dalam sistem kalender yang beragam berdasarkan perhitungan benda langit, dapat diciptakan. Kita mengenal kalender gregorian, kalender hijriyah, kalender çaka, kalender jawa, kalender china, kalender jepang, kalender maya, dan lain sebagainya. Kalender tersebut menghasilkan ilmu tentang semesta, tentang siklus dan liniernya sang “waktu”, tentang zodiac astrologi, ilmu falak dan astronomi, siklus pasaran, wuku, ilmu tentang musim dan cuaca bahkan ilmu meramal masa depan. Kalender menjadi sangat penting sebagai penanda dan pencatat peristiwa penting dalam hidup kemanusiaan. Kalender mencatat dan menandai hari lahir dan mati manusia, peristiwa peristiwa bersejarah, bangun dan runtuhnya peradaban, rencana2 masa depan manusia, juga menentukan hari2 suci keagamaan dan bahkan memperhitungkan bencana dan bahagia masa depan manusia. Juga me”ramal”kan seluruh semesta ini entah kapan pasti binasa. Kalender seharusnya menjadi rekakarya manusia yang menyadarkan dirinya betapa fana dan maya hidupnya. Beberapa hari ke depan, angka tahun 2023 sudah berganti menjadi 2024 dalam perhitungan kalender Gregorian berdasar peredaran matahari, yang dipakai sebagian besar umat manusia di dunia sebagai penanda perjalanan waktu. Ada sistem kalender lain yang didasarkan peredaran bulan atau kombinasi keduanya. Seperti sistem kalender Jawa karya Sultan Agung. Waktu bisa diukur dan diperhitungkan, sistem kalender bisa dibuat, karena kita berada di bumi sebagai bagian dari semesta yang perputaran dan peredaran kosmologisnya sangat teliti, detil dan presisi. Manusia sadar waktu, karena “diri” masih terbungkus jasad. Entah apa yang terjadi kalau jasad kita musnah karena kematian. Entah apa yang terjadi kalau planet bumi, ruang tempat tinggal semua makhluk, perputaran dan peredarannya bergeser nol koma nol derajat saja.

Read More