Mengapa Mazhab Syafii Dominan di Dunia Islam, Terutama di Wilayah Asia

Surabaya — 1miliarsantri.net : Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Dan sebagian besar umat Islam di Indonesia, ternyata menganut Mazhab Syafii dalam berfikih. Mengapa demikian? Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin mengungkap alasan mazhab Imam Syafi’i lebih dominan di dunia Islam, termasuk Indonesia. Ungkapan itu disampaikan KH Ma’ruf Khozin usai mendapatkan sebuah pertanyaan dari salah satu mahasantri dalam acara Daurah Aswaja di Pondok Darussalam Kencong, Pare-Kediri, Jawa Timur, Jumat (12/1/2024). Kiai Ma’ruf Khozin menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa secara geografis, Mazhab Imam Syafi’i disebarkan ke wilayah Asia khususnya Indonesia. “Dan karena Indonesia jumlah Muslimnya terbesar di dunia, tentu secara rasional menunjukkan bahwa Mazhab Syafi’i memang menjadi satu yang terbesar,” urainya. Kiai Ma’ruf Khozin menyampaikan, terlepas dari penyebaran Mazhab Imam Syafi’i ke Asia dan Indonesia, yang menyebabkan mazhab tersebut lebih dominan dibanding mazhab lainnya di dunia Islam juga telah diprediksi oleh sebuah riwayat. Kiai Ma’ruf Khozin menambahkan, riwayat tersebut menyampaikan bahwa salah satu suku Quraisy keilmuannya akan memenuhi isi dunia.

Read More

Habib Muhammad: Raih lah Ketakwaan dengan Interaksi 3 Arah

Surabaya — 1miliarsantri.net : Manusia dapat meraih ketakwaan dengan menerapkan interaksi tiga arah. Interaksi itu dapat tercapai dengan senantiasa berbuat kebaikan kepada Allah, diri sendiri dan sesama makhluk. Hal ini diungkapkan Habib Muhammad bin Anies Shahah saat memberi kajian Universitas Airlangga (Unair) di Masjid Ulul Azmi Kampus C MERR. “Maka bertakwalah di mana pun kamu berada,” kata Habib Muhammad. Dia mengatakan, kunci menjalankan takwa adalah menyadari bahwa manusia tidak akan terlepas dari pengawasan Allah dan malaikatnya. Pihaknya juga turut menekankan agar selalu mengutamakan dan berbuat kebaikan. Habib Muhammad memaparkan, setiap kebaikan akan selalu beriringan dengan keburukan. Dua hal tersebut tidak akan mungkin terpisahkan. Maka, pihaknya menegaskan agar tidak menghindari melainkan menyelamatkan keburukan. Meskipun demikian, dia juga tetap menekankan agar setiap orang selalu menjaga diri dari keburukan. Dalam hal ini Habib bermaksud agar tidak takut menghindari lingkungan yang buruk. “Kalau berteman, temannya selalu bermaksiat, cut-off, jangan takut. Orang yang tenggelam tidak bisa menolong orang lain yang tenggelam,” terangnya. Upaya menghindari keburukan teman adalah untuk menyelamatkan. Hal itu dilakukan karena pada dasarnya manusia mudah terjerumus akan keburukan. Sehingga, jika seseorang sudah terjerumus dalam keburukan maka ia tidak akan bisa menyelamatkan keburukan itu sendiri.

Read More

Tafsir Al Mishbah Mengenai Surat Al Mulk ayat 15 Menguraikan Lebih Lanjut Mengenai Rububiyat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Umat Islam harus senantiasa meyakini bahwa setiap ikhtiar dan doa akan membuahkan hasil. Sebab Allah SWT sesungguhnya telah memudahkan jalan bagi orang-orang yang mencari nikmat dan rezeki-Nya. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Al Mulk ayat 15: هُوَ الَّذِىۡ جَعَلَ لَـكُمُ الۡاَرۡضَ ذَلُوۡلًا فَامۡشُوۡا فِىۡ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِهٖ‌ؕ وَاِلَيۡهِ النُّشُوۡرُ “Huwal ladzi ja’ala lakumul ardha dzulalan famsyu fi manaakibiha wa kuluu min rizqihi wa ilaihinnusyur.” Yang artinya, “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Pakar Ilmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al Mishbah menjelaskan kelompok ayat-ayat ini menguraikan lebih lanjut mengenai rububiyat (betapa kuasa dan wewenang Allah dalam mengatur alam semesta). Maka setelah melalui ayat yang lalu yang berisi tentang penegasan Allah atas keluasan pengetahuan-Nya, kini melalui ayat ke-15 ditegaskan sekali lagi mengenai luthf yakni kemahalembutan-Nya dalam pengaturan makhluk.

Read More

Ketika Nabi Adam Sempat Lakukan Kesalahan ke Setan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Sebelum Nabi Adam AS dan keturunannya diturunkan ke bumi dan diberikan amanah sebagai khalifah, dia hidup di surga bersama sejumlah makhluk Allah. Namun siapa sangka? Nabi Adam justru berbuat beberapa kesalahan. Sebagai umat pertama di muka bumi, Nabi Adam tak luput dari kesalahan. Salah satu kesalahan Nabi Adam yang langsung ditegur Allah adalah di saat dia menatap iblis dengan hina. Allah SWT telah mengariskan takdir-takdir makhluk-Nya. Namun demikian, makhluk itu sendiri-lah yang harus mencari jalan nasibnya untuk menemui takdir. Nabi Adam diciptakan Allah dengan takdir-Nya, yang mana kebaikan harus ditempuh selama menuju takdir tersebut. Seyed G Safavi dalam bukunya berjudul Struktur dan Makna Matsnawi Rumi menjelaskan, terdapat pesan utama batiniah yang disampaikan Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi-nya. Yakni pada bab kelima di episode Adam yang menatap dengan penghinaan kepada iblis. Nabi Adam langsung mendapat teguran keras dari Allah dan membuatnya segera memohon ampunan kepada Allah. Seandainya Allah berkehendak, Dia bisa saja mempermalukan 100 Adam dan membuat 100 iblis berbalik masuk Islam. Namun Nabi Adam justru disadarkan akan tempatnya yang sesungguhnya. Hal sikapnya itu mengandung pesan yang jelas bagi salik bahwa kurangnya atau tiadanya kerendahan hati merupakan masalah khusus bagi nafs muthmainah (jiwa yang tenang). Dalam Matsnawi, Rumi mengakhiri bab kelima dengan untaian doa permintaan tolong. Bab tersebut juga diakhiri dengan sebuah ungkapan, “Segalanya selain Allah adalah kosong dan sia-sia. Rahmat Allah adalah awan yang mencurahkan karunia secara terus-menerus.”

Read More

Doa Adalah Senjata Ampuh Mengatasi Kesempitan Hidup

Surabaya — 1miliarsantri.net : Allah SWT selalu menurunkan rahmat-Nya kepada setiap makhluk. Maka ketika seorang hamba dihimpit kesusahan dan merasa hidupnya sempit, maka perbanyaklah bersimpuh. Dalam buku Kumpulan Doa Doa terbitan Kementerian Agama disebutkan mengenai doa memohon keluasan rahmat Allah. Doa ini bersumber dari Alquran surat al-Mukmin ayat 7-8. Berikut lafaznya : رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذذَابَ الْججَحِيمِ رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Robbana wasi’ta kulla syai’in rohmatan wa ilman faghfir lilladzina taabuu wattaba’u sabilaka waqihim adzabal jahim. Robbana wa adkhilhum jannati adnin allati wa adatahum wa man sholaha min aabaa-ihim wa azwaajihim wa dzurriyatihim innaka antal azizul hakim.” Artinya :“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertauba dan mengikuti jalan-Mu serta peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga yang Engkau janjikan kepada mereka dari orang-orang shalih di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sungguh Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari balasan kejahatan.” Pakar Tasawuf Haidar Bagir dalam bukunya berjudul Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan menyebut, sifat asli Allah dalah memberikan kebaikan setinggi-tingginya dan kebahagiaan bagi penghuni alam semesta. Sebagai konsekuensinya, Dia membentangkan juga kemungkinan jalan, termasuk jalan keluar, dari cobaan-cobaan yang diberikan. Alam ini adalah himpunan jalan-jalan dan kesempatan ke arah kebaikan tertinggi, kesempurnaan, dan kebahagiaan manusia. Maka jika suatu saat manusia sedang menjalani suatu keadaan melalui salah satu jaannya, maka yang perlu diingat adalah satu di antara banyak jalan-Nya yang terbatas. Jika melalui jalan tersebut manusia dapat melaluinya, maka bersyukurlah. Namun jika tidak, jangan putus asa. Sebab Allah SWT masih menyediakan jalan-jalan lainnya yang dapat dilalui untuk menyelesaikan cobaan dan menujua kebahagiaan. Manusia hanya butuh pindah lintasan jika tidak berhasil dengan satu jalan. Sebab Allah SWT menyediakan beragam jalan untuk dilalui dan disediakan kepada hamba-hamba-Nya. Barangkali di jalan pertama yang dilalui dan tidak berhasil itu, Allah SWT telah sisipkan hikmah sehingga di jalan atau pintasan lain lah manusia dapat mendapatkan solusi dari setiap cobaan yang mendera. Buya H Muhammad Alfis Chaniago dalam Indeks Hadits dan Syarah yang diterbitkan oleh Pustaka Kalbu, menjelaskan, doa adalah senjatanya orang beriman.

Read More

UAH : Jika Ingin Allah Merubah Hidupmu, Perbaikilah Shalatmu

Jakarta — 1miliarsantri.net : Mubaligh Muda Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, shalat tidak hanya sekadar rangkaian gerakan fisik, melainkan sebuah koneksi spiritual yang memiliki kekuatan untuk mengubah hidup seseorang. Shalat merupakan sebuah ajaran yang mengajarkan seseorang untuk merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta. Melalui meletakkan diri dalam posisi tunduk, seseorang mengakui kebesaran-Nya dan memperoleh rasa hormat yang mendalam. UAH menekankan, setiap gerakan dalam shalat memiliki makna mendalam. Saat sujud, setiap individu menyadari kelemahan dan ketergantungan pada Allah. “Shalat adalah membangun konektivitas dengan Allah yang kuat. Itulah yang dimaksud dalam Surat An-nisa 103,” terang UAH dalam unggahan di kanal YouTube Adi Hidayat Official, Jumat (5/1/2023). Menurut penjelasan UAH, salat dianggap tuntas atau berhasil ketika seseorang merasakan konektivitas langsung dengan Allah. “Jika Anda telah menyelesaikan salat dengan baik, maka ukuran keberhasilan salat adalah ketika Anda merasakan konektivitas dengan Allah,” tuturnya. Dia menambahkan bahwa kunci utama adalah selalu mengingat Allah. Saat berjalan, bekerja, atau dalam situasi apa pun, ketika seseorang ingat Allah, dia dapat mengarahkan tubuhnya sehingga tidak melakukan apa yang tidak disukai Allah.

Read More

Buya Yahya : Antara Membaca atau Merenungi Makna Al-Quran

Jakarta — 1miliarsantri.net : Al-Qur’an secara harfiah bermakna bacaan sempurna yang merupakan nama pilihan Allah SWT. Maka itu, umat Islam seharusnya mengisi hari-harinya dengan membaca dan memahami Al-Qur’an. Hal itu dikarenakan Al-Qur’an menyimpan banyak keutamaan, terutama dalam membaca dan memahaminya. Al-Qur’an lautan ilmu dan hidayah. Ada banyak makna yang terkandung dalam Al-Qur’an yang harus direnungi secara mendalam. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif, menjelaskan, beberapa poin penting terkait apakah lebih baik membaca banyak ayat ataukah merenungkan makna dari setiap ayat yang dibaca. Buya Yahya menekankan keistimewaan Al-Qur’an. Orang yang membaca Al-Qur’an meski tidak paham akan tetap mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. “Meskipun seseorang mungkin tidak memahami isi Al-Qur’an, tetapi tetap mendapatkan kebaikan dan pahala dari setiap huruf yang dibacanya,” terang Buya Yahya, Jumat (5/1/2024). Buya Yahya menekankan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan penuh tadabur atau merenungi makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dia mencontohkan, membaca lima atau sepuluh ayat dengan merenungi maknanya jauh lebih bernilai dibandingkan membaca puluhan ayat tanpa memahami kontennya. Membaca Al-Qur’an dengan tulus hati akan memberikan pemahaman yang diberikan langsung oleh Allah. Meskipun seseorang mungkin tidak memahami makna ayat-ayat secara detail, hatinya akan dipenuhi dengan ketenangan dan keimanan yang kuat. Buya Yahya memberikan saran bagi mereka yang ingin memahami Al-Qur’an dengan membaca terjemahannya secara perlahan-lahan. Proses ini adalah bentuk tadabur, yakni seseorang berusaha memahami makna dari setiap ayat yang dibaca. “Sah sah saja bahkan bagus bila anda membaca alquran sembari membaca artinya, karena memang ada beberapa ayat yang memang tidak memerlukan penafsiran khusus ataupun bantuan ulama untuk memahaminya,” ungkap Buya Yahya.

Read More

Sayyidul Istighfar adalah Bacaan Yang Disuka Rasulullah dan Para Sahabat Nya

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Ibnu Abbas pernah menyampaikan bahwa tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar. Begitu dahsyatnya kekuatan istighfar, itulah mengapa umat Islam senantiasa dianjurkan untuk membacanya. Dan di antara banyaknya lafadz istighfar yang ada, Rasulullah SAW memilih satu lafadz istighfar yang terbaik. Yakni Sayyidul Istighfar. Dalam buku Kumpulan Doa Doa terbitan Kementerian Agama disebutkan sejumlah bacaan doa harian. Salah satunya adalah doa sayyidul istighfar. Berikut lafadznya: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ “Allahumma anta robbi la ilaha illa anta kholaqtani wa ana abduka wa ana ala ahdika wawa’dika mastatha’tu audzubika min syarri maa shona’tu, abu-u laka bini’matika alayya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu la yaghfirudzzunuba illa anta.” Yang artinya, “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, yang tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku. Aku adalah hamba-Mu dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu, yang dengan segala kemanpuanku perintah-Mu aku laksanakan. Doa tersebut bersumber dari hadits. Dalam hadits pembukanya, Rasulullah SAW bersabda bahwa Sayyidul Istighfar adalah lafadz istighfar terbaik. Dan tak hanya itu, dalam redaksi penutup haditsnya, Rasulullah bersabda:

Read More

Membaca Istighfar Ternyata Mampu Mengempaskan Kegundahan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Istighfar merupakan salah satu dzikir yang mudah dilafazkan. Dengan membaca lafaz Astaghfirullah, hati akan menjadi tenang pada saat gundah, emosi bakan ditimpa musibah. Karena itu, tidak heran jika kita terbiasa membaca istighfar selepas menunaikan ibadah shalat. Memperbanyak membaca istighfar juga ternyata dapat menjadi jalan pembuka terhadap segala kemudahan urusan. Di dalam QS Hud ayat 52, Allah SWT berfirman tentang istighfar. “Dan (dia berkata): “Hai kaumku, beristighfarlah kepada Rabb-mu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yang sangat deras dan Dia akan menambahkan kekuatan pada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, Nabi Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar (memohon ampun kepada Allah) agar dosa mereka dihapus dan apabila ampunan mereka diterima maka Allah akan memudahkan rezekinya, memudahkan urusannya, dan menjaganya. Dalam QS Nuh ayat 10-12, Allah juga menjanjikan akan memberikan rezeki kepada hamba-Nya yang memohon ampun.“Lalu aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun), niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” Imam Qurthubi mengatakan, ayat ini menunjukkan bahwa kita bisa meminta diturunkan rezeki dan hujan dengan melalui istighfar. Maka dari itu diperlukan kunci untuk membuka pintu rezeki tersebut. Rasulullah saw mengatakan, kuncinya adalah memperbanyak beristigfar. Dengan beristighfar, maka akan dibuka pintu-pintu rezeki itu, baik rezeki berupa harta, jodoh, anak, maupun rezeki kesehatan. Karena istighfar pada hakikatnya adalah memohon ampunan kepada Allah, sehingga dengan memperbanyak beristighfar, menjadi sarana kita untuk meraih ampunan-Nya. Tak hanya mendatangkan rezeki, membaca kalimat istighfar juga ternyata mampu mengempaskan kegundahan dan menghadirkan solusi atas masalah-masalah duniawi. Di dalam salah satu hadis dikatakan bahwa Abdullah bin Abbas ra berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa senantiasa beristigfar, niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan yang menderanya, solusi dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka,” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al Baihaqi). Istighfar juga akan membuat seseorang keluar dari kesedihannya hingga mendatangkan rezeki dari arah yang tidak terduga.“Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai shahih oleh al-hakim serta Ahmad Syakir).

Read More

Alquran Mengabadikan Satu Kata Diduga Bermakna Kapur Barus

Surabaya — 1miliarsantri.net : Di kalangan mufasir ditemukan keragaman penjelasan tentang istilah kafur dalam Alquran. Allah SWT berfirman: إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud memang sejenis wewangian seperti yang dikenal umum. Akan tetapi, mufasir lain berpendapat bahwa kafur yang dimaksud dalam ayat itu adalah nama diri (proper name) sebuah mata air di surga, sebagaimana ditafsirkan oleh ayat berikutnya (al-Insan ayat 6). Menurut versi ini, kafur bukan sejenis wewangian. (lihat: Tafsir ath-Thabari juz 24 hal 93, Tafsir Ibnu Katsir juz 8 hal 287, dan Al-Tahrir wa al-Tanwir juz 15 hal 463-464, Mufradat Alfazh Alquran hal 350 entri kafa-ra, Lisân al-‘Arab juz 5 hal 144 entri kafa-ra). Seandainya yang dipilih dari tafsir di atas adalah makna pertama, yaitu sejenis wewangian, persoalan berikutnya adalah mengenai jenis dan muasal wewangian ini. Sejauh ini, para mufasir belum menjelaskan secara rinci dari manakah produk wewangian ini berasal. Hanya Thahir Ibnu Asyur, mufasir Mesir kontemporer, dalam Al-Tahrir wa al-Tanwir (Juz 15 hal 463) yang memberikan penjelasan agak panjang mengenai identitas kafur ini. Menurutnya, “Kafur adalah sejenis minyak yang diambil dari pohon yang bunganya seperti mawar. Pohon ini tumbuh di China dan Jawa. Pohon ini dapat diproduksi (menjadi wewangian) apabila sudah berumur lebih kurang 200 tahun. Kayunya dipanaskan kemudian diambil minyaknya yang disebut kafur.” Keterangan Thahir Ibnu Asyur di atas cukup menarik. Ia menyebut langsung tempat asal kafur, yaitu China dan Jawa. Bila yang dimaksud “Jawa” adalah pulau Jawa tentu tidak tepat, karena Jawa tidak dikenal sebagai penghasil kapur barus. Sangat mungkin bahwa yang dimaksud “Jawa” oleh mufasir ini adalah kawasan Melayu atau Asia Tenggara. Dalam berbagai sumber sejarah, orang-orang Arab sampai awal abad ke-20 menyebut orangorang Melayu yang datang atau bermukim di Arab sebagai orang Jawa, tidak peduli apakah dia dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bima, Semenajung Malaysia, atau dari kawasan mana pun di Asia Tenggara. Oleh sebab itu, bila dispesifikkan sangat mungkin yang dimaksud Thohir Ibnu Asyur adalah Barus di Sumatra. Bila penjelasan ini benar, cukup masuk akal apabila disimpulkan bahwa Sumatra (nusantara) memang sudah dikenal baik oleh Nabi SAW. Cukup masuk akal juga apabila Rasulullah SAW, yang dikenal memiliki pengetahuan geopolitik yang baik, menganjurkan kepada para sahabatnya untuk datang ke wilayah ini.

Read More