Beberapa Kriteria Menjadi Imam Sholat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ustadz Asep Sholahuddin memberikan panduan menjadi imam salat berjamaah. Menjadi imam salat adalah amalan terpuji dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW menggaris bawahi seorang imam harus pandai dalam bacaan al-Qur’an. Asep Sholahuddin merinci beberapa hal yang perlu diketahui seorang imam. Pertama-tama, imam menghadap ke arah makmum. Imam diharapkan dapat memberikan perhatian khusus terhadap kesejajaran dan kerapian barisan jamaahnya, mengingatkan mereka untuk meluruskan dan merapikan barisannya sebelum memulai salat berjamaah. Selain itu, Asep Sholahuddin juga menyoroti tugas imam untuk menjaga kekhusyukan salat. Imam memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengingat kepada jamaahnya agar menghindari hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi selama ibadah. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang tenang dan khidmat selama pelaksanaan salat berjamaah. Lebih lanjut, Asep Sholahuddin menganjurkan agar imam memastikan bahwa shaf depan terisi lebih dulu sebelum shaf-shaf berikutnya. Hal ini bertujuan untuk menjamin kekompakan dan kesejajaran antara jamaah, menciptakan kebersamaan dalam melaksanakan salat. Kedua, dalam aspek teknis salat, Asep Sholahuddin menyoroti pentingnya imam untuk menguatkan suara dalam bacaan takbir. Ketika melakukan takbiratul ihram, takbir intiqal, tasmi’, dan salam, imam diharapkan mampu memperkuat suaranya. Ini bertujuan agar jamaah dapat mendengar dengan jelas setiap langkah dalam rangkaian takbir dan tasmi’, sehingga mereka dapat mengikuti salat dengan lebih baik.

Read More

Terdapat 4 Kisah Perjuangan Dalam Surat Al Kahfi

Surabaya — 1miliarsantri.net : Surat Al-Kahfi terdiri atas 110 ayat. Surat ini secara umum menceritakan kisah perjuangan para pemuda yang taat dan beriman kepada Allah, namun menghadapi tantangan yang cukup karena selalu diintimidasi dan dikerja-kejar oleh pemimpin yang zalim. Akhirnya para pemuda tersebut pergi dari kampungnya dan bersembunyi di sebuah gua (al kahfi). Selain kisah pemuda gua (ashabul kahfi), banyak pula kisah lainnya dalam surat tersebut. Surat Al Kahfi ini sangat dianjurkan Rasulullah SAW untuk diamalkan umat Islam, terutama di malam atau hari Jumat. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka’bah,” (HR Ad-Darimi). Sedikitnya ada empat kisah yang terdapat dalam Surat Al Kahfi. Kelima kisah itu adalah: Surat Al Kahfi, secara khusus menceritakan tentang Kisah Pemuda yang Tertidur di dalam Gua selama 309 tahun. Disebut Al Kahfi karena surat ini menceritakan tentang kisah Ashabul Kahfi yang rela meninggalkan kampung halamannya dalam keadaan terusir demi mempertahankan agamanya. Kisah berikutnya yang terdaat dalam Surat Al Kahf adalah tentang pemilik dua kebun (Shohibul Jannatain). Kisah ini mengajarkan umat Islam untuk tidak mudah terpukau oleh harta dan tidak meninggalkan agama hanya demi urusan dunia.

Read More

Bagaimana Hukum Menangis Disaat Mengerjakan Sholat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kerap kita mendapati orang menangis saat shalat. Lalu, apakah menangis saat shalat diperbolehkan atau justru membatalkan shalat? Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, menangis saat adalah adalah karunia dari Allah SWT. Asal tangisan tersebut tidak dibuat-buat. “Sehingga apapun yang terjadi, maka itu tidak membatalkan,” terang Buya Yahya dalam tausiahnya, dikutip Sabtu (3/2/2024). Namun ada catatan yang harus diperhatikan saat seseorang tiba-tiba menangis dalam shalat, yakni air mata tidak tertelan. Air mata yang masuk ke dalam mulut bisa membatalkan shalat. “Dengan catatan kita tidak menelan tetesan air mata, air mata ke mulut lalu kita telan, menjadi batal, batalnya karena menelan,” lanjut Buya Yahya. Buya Yahya mengatakan, seseorang yang menangis dalam shalat juga bisa menyeka air mata. Tapi, jika tidak sampai ke mulut, maka tidak perlu diusap dan tetap dibiarkan jatuh. Jika sampai ke mulut dan khawatir tertelan, maka boleh diseka asal tidak sampai tiga kali gerakan berturut-turut. “Anda usap dan cara mengusapnya pun adalah boleh berulang ulang asalkan tidak dengan tiga gerakan berturut turut, yang penting jangan 3 kali berturut-turut karena gerakan tersebut dapat membatalkan shalat,” ucap Buya Yahya.

Read More

Kisah Isam bin Yusuf Sebagai Seorang yang Wara, Tawadlu, dan Taat Beribadah.

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Ada seorang ahli ibadah yang bernama Isam bin Yusuf. Ia terkenal sebagai seorang yang wara’ (hati-hati), tawadlu (rendah hati), taat beribadah, dan senantiasa khusyu’ dalam shalatnya. Karena kehati-hatiannya, ia selalu khawatir bila ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT. Berkenaan dengan ini, Isam pun senantiasa menjaga dirinya dan ibadahnya dari hal-hal yang menyebabkan tertolaknya ibadah yang dikerjakan. Sebab, akan sia-sialah apa yang dikerjakannya, bila ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT. Suatu hari, saat menghadiri pengajian yang diajarkan oleh seorang sufi ternama, Hatim Al-Asham Isam bin Yusuf bertanya kepada gurunya itu. ‘’Wahai Abu Abdurrahman (panggilan Hatim), bagaimanakah cara Anda shalat?” Hatim menjawab; “Apabila waktu shalat telah tiba, maka aku berwudhu secara lahir dan batin.” Isam bertanya lagi. “Bagaimanakah wudhu batin itu?” “Wudhu lahir adalah membersihkan anggota wudhu sebagaimana yang diajarkan Alquran dan hadis Nabi SAW. Sedangkan wudhu batin itu adalah membasuh anggota badan dengan tujuh cara, yakni (1) senantiasa bertobat kepada Allah atas segala dosa, (2) kemudian menyesali segala dosa-dosa yang dikerjakan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. (3) Membersihkan diri dari cinta dunia (hubbuddunya); (4) menghindarkan diri dari segala pujian manusia; (5) meninggalkan sifat bermegah-megahan; (6) tidak berkhianat dan menipu; (7) serta menjauhi perbuatan iri dengki,” jawab Hatim. “Kemudian, aku pergi ke masjid, lalu kuhadapkan wajahku ke arah kiblat dan hatiku kepada Allah. Selanjutnyua, aku berdiri dengan penuh rasa malu di hadapan Allah. Aku bayangkan bahwa Allah ada di hadapanku dan sedang mengawasiku, sementara surga ada di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut di belakangku. Dan aku membayangkan pula, seolah-olah aku berada di atas jembatan Shirat al-Mustaqiem, dan aku anggap shalat yang akan aku kerjakan adalah shalat terakhir bagiku. Kemudian aku bertakbir, dan setiap bacaan dalam shalat senantiasa aku pahami maknanya. Aku juga ruku dan sujud dengan menganggap diriku sebagai makhluk yang paling kecil dan tak punya kemampuan apapun di hadapan Allah. Selanjutnya aku akhiri dengan tasyahud (tahiyat) dengan penuh penghambaan dan pengharapan kepada Allah dan aku memberi salam. Demikianlah shalatku selama 30 tahun terakhir ini,” ujar Hatim.

Read More

Perbedaan Suasana Subuh di Era Nabi Muhammad

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ulama besar penulis buku fenomenal La Tahzan, Syekh Aidh Al Qarni, membandingkan bagaimana perbedaan mencolok antara suasana subuh di masa Rasulullah SAW dengan di akhir zaman. Suasana subuh di Kota Madinah era Rasulullah SAW memiliki ciri khas yang unik dan syahdu, berbeda jauh dengan suasana subuh di mayoritas kota-kota Muslim saat ini. Syekh Aidh Al-Qarni dalam buku Sentuhan Spiritual menjelaskan, terdapat kisah yang dinukil dari para sahabat dan tabi’in. Konon jika ada orang berlalu melewati rumah-rumah para sahabat dan tabi’in di waktu subuh, maka terdengar gemuruh seperti suara lebah. Suara tersebut tidak lain berupa bacaan doa, tangisan, dan tartil Alquran. Inilah yang terjadi di Kota Madinah era Rasulullah SAW. Syekh Aidh Al-Qarni pun lantas membandingkannya dengan suasana subuh yang terjadi di mayoritas kota-kota umat Muslim saat ini. Apakah umat Islam saat ini di waktu subuh tidak berhenti menangis, berdoa, dan membaca Alquran? Doa, tangisan, dan bacaan Alquran yang terwujud karena takut kepada Allah, menurut beliau, sekarang berganti dengan gemuruh suara musik, nyanyi-nyanyian, dan goyangan. Dari Abu Hatim bahwa Rasulullah pernah suatu malam berjalan untuk mencari tahu bagaimana para sahabatnya menjalankan sholat. Bagaimana mereka berdoa dan bagaimana mereka menangis. Hingga beliau mendengar seorang wanita tua membaca ayat Alquran sambil menangis.

Read More

Motif Di Balik Serangan Abrahah ke Ka’bah

Surabaya — 1miliarsantri.net : Di tahun kelahiran Rasulullah SAW, pasukan gajah yang dipimpin Abrahah menyerang Kabah. Meski serangan tersebut gagal, sebetulnya apa motif di balik penyerangan itu? Pakar Ilmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW menjelaskan, Abrahah bermaksud mengalihkan masyarakat Arab berkiblat dari Makkah menuju Yaman. Sebab dia sadar bahwa kedudukan Kabah di kalangan masyarakat Arab sangat istimewa. Salah satu dampaknya adalah giat dan berkembangnya perdagangan di sana, khususnya pada musim haji. Inilah yang kemudian diincar oleh Abrahah, sebab itulah dia membangun di Shan’a, ibu kota Yaman, suatu bangunan guna menandingi Kabah guna menarik masyarakat Arab ke sana. Bangunan yang dibangun untuk menandingi Kabah itu dalam bahasa Arab disebut Al-Qullais, kata ini berasal dari bahasa Yunani Ekklesia yang bermakna gereja. Abrahah bermaksud menjadikan Yaman sebagai pusat agama Kristen, sekaligus jembatan guna menguasai jazirah Arab secara keseluruhan. Prof Quraish menjelaskan bahwa gereja tersebut dibangun dengan sangat besar dan megah pada masanya. Batu-batu marmer dan granit peninggalan istana ratu Balqis yang berlokasi tidak jauh dari sana dijadikan bahan bangunannya. Pekerja-pekerja Yaman dipaksa hingga disiksa untuk mengerjakan pembangunannya. Kemudian, upaya untuk mengajak masyarakat Arab berkunjung ke sana pun dilakukan dengan berbagai cara. Namun demikian upaya tersebut sia-sia sebab masyarakat Arab sangat menghormati Ka’bah dan sangat kuat mempertahankan tradisi leluhur mereka. Pada akhirnya di saat Abrahah melakukan penyerangan bersama tentara bergajahnya di tahun kelahiran Nabi, Allah menggagalkan aksi tercelanya itu. Salah satu faktor kegagalan Abrahah menyerang Kabah adalah hadirnya burung ababil. Kisah burung ababil ini diabadikan dalam Alquran Surat Al Fiil ayat 3-5: Allah SWT berfirman,

Read More

Rasulullah SAW Selalu Tersenyum Sekalipun Disakiti atau Diperlakukan Tidak Sopan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dikisahkan, Rasulullah SAW diperlakukan tidak sopan atau disakiti oleh musuh-musuhnya, namun Rasulullah SAW tetap tersenyum kepada orang yang menyakitinya agar hatinya tetap baik. Rasulullah SAW tidak pernah marah karena dirinya, akan tetapi ia marah karena Allah SWT. Sebagaimana dilansir dari Sa’atan Sa’atan (Semua Ada Saatnya) yang ditulis Syekh Mahmud Al-Mishri diterjemahkan Ustaz Abdul Somad diterbitkan Pustaka Al-Kautsar, inilah beberapa peristiwa yang menggugah yang diriwayatkan kepada kita tentang bagaimana Rasulullah SAW tidak pernah marah karena dirinya. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, Anas bin Malik Radhiayalahu anhu berkata, “Aku berjalan bersama Rasulullah, beliau mengenakan selendang dari Najran yang tepinya kasar. Tiba-tiba datang seorang Arab Badui dari belakang Rasulullah, (orang Arab Badui itu) menarik selendang (Rasulullah) dengan keras, hingga aku melihat ada bekas tepi ujung selendang di tengkuk Rasulullah karena kuatnya tarikan orang Arab Badui itu.” “Kemudian orang Arab Badui itu berkata, ‘Wahai Muhammad, perintahkanlah agar aku diberi sebagian dari harta Allah yang ada padamu.’ Rasulullah menoleh kepada (orang Arab Badui itu) sambil tertawa. Kemudian Rasulullah memerintahkan agar ia (orang Arab Badui itu) diberi suatu pemberian.” (HR Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim) Demikian kisah Rasulullah SAW yang penyabar dan suka tersenyum meski diperlakukan tidak sopan atau disakiti oleh orang Arab Badui itu. Rasulullah SAW juga menganjurkan kepada seluruh kaum muslimin agar tersenyum dengan menampilkan wajah yang cerah dan mengucapkan kata-kata yang baik agar hati kaum muslimin bertaut dan menjadi erat. Rasulullah bersabda sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim.

Read More

Beragam Penyembuhan Penyakit Dengan Menggunakan Tasbih

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW menegaskan, zikir kepada Allah SWT merupakan obat bagi manusia dan memiliki keutamaan yang lebih bernilai dari emas dan perak. Untuk mencapai tujuan ini, banyak umat Islam membawa sibhah atau tasbih. Secara tradisional, tasbih digunakan untuk melacak berapa kali seseorang telah mengucapkan Subhanallah, Alhamdulliah dan Allahu Akbar. Cara yang paling populer adalah dengan menggunakannya setelah salat wajib untuk melafalkan dzikir. Diriwayatkan dari Abu Ma’bad: Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Pada masa hidup Nabi, merupakan kebiasaan untuk merayakan pujian kepada Allah dengan suara keras setelah salat wajib.” Ibnu Abbas lebih lanjut berkata, “Ketika saya mendengar zikir, saya akan mengetahui bahwa salat berjamaah wajib telah selesai” (HR Bukhari). Namun, meskipun dzikir kepada Allah telah diucapkan sejak zaman Nabi, sibhah seperti yang kita kenal sekarang belum tercatat ada pada saat itu. Beberapa catatan sejarah menunjukkan , umat Islam mengadopsi sibhah dari India pada abad ke-2 Hijriah. Mengutip About Islam, sebelum adanya tasbih atau sibhah, umat Islam kerap menggunakan batu-batu sebagai alat bantu dzikir. Agama-agama lain menggunakan tali yang diikat atau selendang anyaman untuk melacak bacaan. Akan tetapi, teknologi modern telah menambahkan dimensi baru pada tasbih ketika sibhah elektronik ditemukan. Banyak orang bahkan memilih untuk tidak menggunakan sibhah sama sekali. Padahal, menggunakan sibhah tidak hanya membantu dalam melacak zikir, tetapi juga dapat menyembuhkan, tergantung dari kayu atau batu yang digunakan untuk membuat tasbih. Di situs Islamic Shopping Network, banyak jenis tasbih yang tersedia mulai dari batu Pirus dan Mata Harimau hingga manik-manik Cendana dan Rosewood. Pencarian di situs-situs lain mengungkapkan sejumlah situs yang didedikasikan untuk membuat tasbih batu khusus. Sepanjang sejarah, berbagai budaya telah menggunakan batu permata dan kayu untuk penyembuhan. Robert Frost, seorang dokter di Basel, Swiss, baru-baru ini mempelajari sifat-sifat ilmiah dari permata dan kayu ini dan menciptakan sebuah metode pengujian kayu dan batu permata yang mengungkapkan khasiat penyembuhannya secara ilmiah. Dalam penelitian klinisnya, Dr. Frost dalam “Gems and Woods” menemukan, menggunakan batu permata atau kayu yang tepat dapat mengurangi rasa sakit, mencegah reaksi alergi, meningkatkan koordinasi, dan bahkan meningkatkan kekuatan otot. Sebagai contoh; Mata harimau secara tradisional digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan memperkuat keyakinan. Batu ini dapat menyembuhkan area perut dan sering digunakan untuk membantu masalah ginjal, pankreas, hati, usus kecil atau perut. Batu ini juga ditemukan memiliki efek menenangkan bagi orang yang memegangnya. Pirus menjaga perasaan cinta tanpa syarat di dalam hati seseorang dan membantu seseorang merasa lebih terhubung dengan Allah. Pirus juga membantu pencernaan protein dan dengan demikian membantu pencernaan.

Read More

Bulan Rajab Secara Makna Adalah Bulan yang Mulia, Guna Persiapan Menuju Ramadhan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Al Washliyah, Dr KH Masyhuril Khamis membeberkan apa itu bulan Rajab dan berbagai keutamaannya. Bulan Rajab secara makna adalah bulan yang mulia. Bulan Rajab juga salah satu dari empat bulan yang dimuliakan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ [ التوبة: 36] “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (At Taubah ayat 36) Imam At-Thabari dalam tafsirnya menukil perkataan sahabat Ibnu Abbas RA, perihal kemuliaan yang Allah SWT berikan untuk bulan-bulan haram ini: خصَّ من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حُرُمًا، وعظّم حُرُماتهن، وجعل الذنبَ فيهن أعظم، والعمل الصالح والأجر أعظم. “Allah SWT memberikan keistimewaan untuk empat bulan haram di antara bulan-bulan yang ada, dan diagungkan kemuliaannya bulan itu, dan menjadikan dosa yang terbuat serta amal ibadah yang dilaksanakan menjadi lebih besar ganjaran dosa dan pahalanya.” (Tafsir At-Thabari 14/238) Karena itu, di bulan yang dimuliakan ini kita diperintahkan untuk memperbanyak ibadah secara umum dan lebih kuat dalam menahan untuk tidak bermaksiat. Salah satu ibadah yang baik dan bisa dilakukan oleh hampir semua orang di bulan haram atau mulia ini, adalah puasa. Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunan mereka, meriwayatkan hadits dari salah seorang dari suku al-Bahilah: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا لِي أَرَى جِسْمَكَ نَاحِلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ مَا أَكَلْتُهُ إِلَّا بِاللَّيْلِ قَالَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمَيْنِ بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ “Aku mendatangi Nabi SAW lalu aku berkata kepada beliau, “Wahai Nabi, aku adalah orang yang pernah datang kepadamu di tahun pertama.” Nabi kemudian bertanya, “Kenapa badan kamu menjadi kurus?” Dia menjawab, “Aku –selama ini- tidak makan dalam sehari kecuali malam saja.” Nabi bertanya, “Siapa yang menyuruhmu menyiksa tubuhmu seperti ini?” Aku –al-Bahiliy- menjawab, “Wahai Nabi, aku ini orang yang kuat bahkan lebih kuat.” Nabi SAW bersabda, “Puasalah bulan sabar –bulan Ramadhan- saja, dan sehari setelahnya!” Lalu aku menjawab, “Aku lebih kuat dari itu ya Nabi!” Nabi menjawab, “Kalau begitu, puasa Ramadhan dan 2 hari setelahnya!” Aku menjawab lagi, “Aku lebih kuat dari itu wahai Nabi!” Nabi berkata, “Kalau begitu, puasa Ramadhan, kemudian 3 hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan haram!”

Read More

Gus Mus Memberikan Pesan Kepada Warga NU Harus Tetap Rukun, Tenang dan Tidak Berlebihan

Renbang — 1miliarsantri.net : Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, memberikan pesan masyarakat, khususnya warga NU untuk tetap rukun, tenang, dan tidak berlebihan dalam dukung mendukung capres dan cawapres pada pemilu 2024. “Nasihat saya, kalau kalian setuju. Di tahun politik ini, tenang saja. Ini sesuatu yang rutinan setiap 5 tahun sekali. Kalau teman kalian tidak sama pilihan sama kalian, ya tidak apa-apa,” terang Gus Mus dalam kegiatan Lailatul Ijtima’ PWNU Jawa Tengah, dikutip dari Youtube Kanal Mata Air, Sabtu (27/1/2024). Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini, perbedaan pilihan sesuatu yang alamiah dan akan berulang setiap ada pemilu. Penyebabnya tentu ada banyak faktor, bisa karena kedekatan emosional, perbedaan sudut pandang, hingga beda dalam tujuan. Namun, ciri dari tokoh NU dan Nahdliyin sejak dulu selalu berpendapat berdasarkan dalil-dalil atau dasar yang kuat sehingga dalam setiap gerak-geriknya ada landasan yang kuat. “Karena ketidaksamaan tersebut sesuatu yang alamiah. Beda itu fitrah, tidak ada salahnya beda,” tegas Gus Mus. Gus Mus juga mengingatkan, jangan sampai perbedaan pilihan dalam pemilu yang lima tahun sekali merusak pernikahan yang sudah dibangun puluhan tahun. Begitu juga pemilu tersebut tidak boleh merenggut persaudaraan dan memutuskan silaturahim. “Suami istri beda pilihan itu tidak dosa, jangan bertengkar. Kenapa harus bertengkar, yang enak adalah calonnya. Kalian dapat apa ketika harus ngotot-ngototan?” sambung Gus Mus. Menurut Gus Mus, untuk menyikapi ketika ada yang meminta dukungan maka jika cocok, dukung dengan tanpa merusak hubungan suami istri dan persaudaraan. Karena nanti lima tahun kemudian akan ada calon baru lagi, beda kembali calonnya, calon yang didukung akan berbeda lagi.

Read More