Situs Gunung Padang Diketahui Sudah Ada Sejak 9000 Tahun Lalu

Cianjur – 1miliarsantri.net : Anda mungkin pernah mendengar nama Situs Gunung Padang yang terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Situs Gunung Padang adalah salah satu bukti peninggalan nenek moyang yang masih berdiri hingga saat ini. Situs Gunung Padang yang terletak tepatnya di Desa Karyamukti, telah menjadi pusat perhatian para peneliti karena keberadaannya yang diyakini sebagai situs megalitikum tertua di Indonesia. Asal usul Gunung Padang masih menjadi misteri dan menjadi subjek perdebatan di kalangan para ahli tentang sejarah Gunung Padang. Pada awalnya Gunung Padang dianggap sebagai situs pemakaman kuno yang berasal dari sekitar 5.000 tahun lalu. Namun, penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa situs ini mungkin memiliki sejarah yang jauh lebih tua berdasarkan penelitian sebelumnya. Beberapa penelitian menggunakan metode penanggalan radiokarbon dan analisa heologi mengindikasikan bahwa struktur di Gunung Padang bisa memiliki usia lebih dari 9.000 tahun. Situs Gunung Padang terdiri dari beberapa teras batu yang membentuk piramida teras yang mengarah ke puncak gunung. Terdapat pula struktur batu besar dan petilasan di sekitar area ini. Selain itu juga terdapat beberapa teori tentang asal-usul situs ini. Salah satu teori menyatakan bahwa Gunung Padang adalah sisa-sisa komplek kuil atau tempat ibadah yang telah lama hilang dari zaman pra-sejarah. Teori lain mengusulkan bahwa Gunung Padang merupakan situs pengamatan astronomi kuno atau bahkan merupakan tempat penyimpanan pengetahuan kuno yang terkait dengan peradaban hilang. Pada tahun 2011, penelitian dan ekskavasi resmi dilakukan oleh tim arkeologi yang dipimpin oleh Dr. Danny Hilman Natawidjaja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa struktur teras di Gunung Padang mungkin bukan hanya hasil dari akumulasi batuan alami, tetapi juga telah mengalami intervensi manusia. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengungkapkan lebih lanjut tentang sejarah dan fungsi sebenarnya dari Gunung Padang. Penting untuk dicatat bahwa sejarah Gunung Padang masih dalam tahap penelitian dan peneliti terus menggali lebih dalam untuk mengungkap misteri di balik situs ini. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya perang Gunung Padang dalam sejarah manusia di wilayah tersebut. Ada beberapa teori yang diajukan mengenai asal usul situs ini, namun belum ada konsensus yang diterima secara luas.

Read More

Melihat Sisi Dekat Sejarah Masyarakat di Pulau Bawean

Gresik – 1miliarsantri.net : Anda tentu pernah mendengar nama Pulau Bawean. Suatu wilayah yang terletak di Laut Jawa, merupakan pulau yang berlokasi sekitar 120 km di utara Kabupaten Gresik. Pulau Bawean terdiri dari dua kecamatan, yaitu Sangkapura dan Tambak. Untuk mencapai pulau ini, terdapat opsi perjalanan dengan kapal cepat selama tiga hingga empat jam, atau menggunakan pesawat perintis yang membutuhkan sekitar satu jam. Pulau Bawean sebelumnya dikenal sebagai Pulau Melati atau Pulau Majdi, nama “Majdi” berasal dari bahasa Arab yang berarti uang logam. Nama “Majdi” dipilih karena pulau ini memiliki bentuk yang bulat sempurna, menyerupai uang logam. Perubahan nama pulau dari Majdi menjadi Bawean erat kaitannya dengan kerajaan Majapahit, dimana masyarakat sekitar disebut juga masyarakat Suku Bawean. Menurut legenda, kata “Bawean” memiliki arti matahari. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, suku ini sering melakukan perantauan dalam mencari pekerjaan. Mereka sering merantau ke berbagai daerah dan bahkan ke negara lain seperti Singapura dan Malaysia. Kebiasaan merantau dari suku ini telah menjadi bagian dari budaya sehari-hari mereka, yang telah diajarkan sejak masa kanak-kanak. Budaya merantau telah menjadi tradisi kaum pria suku Bawean sejak abad ke-19. Selain itu, suku ini memiliki rumah adat unik yang disebut rumah Dhurung. Dhurung adalah bangunan tambahan yang digunakan untuk menyambut tamu. Luas Dhurung sekitar 2×3 meter. Pada masa lampau, bagian atas bangunan ini biasanya digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian dan barang-barang lainnya. Pulau Bawean terkenal dengan keindahan alamnya, termasuk keberadaan rusa liar dan wisata kampung bahari. Suku ini juga memiliki tradisi Maulud yang dirayakan oleh masyarakat di Kampung Sungai Datuk, Kecamatan Bitan Timur.

Read More

Mengenali Kampung Siluman Bekasi

Bekasi – 1miliarsantri.net : Di Kabupaten Bekasi, terdapat sebuah daerah yang bernama Kampung Siluman. Mendengar nama nya saja, mungkin Anda akan berimajinasi ke suatu lokasi serem, sebuah lembah dengan rumah penduduk yang jaraknya satu sama lain bisa puluhan bahkan ratusan meter. Bahkan Anda akan mengira kalau tempat itu sebuah lembah, atau areal makam bahkan bukit yang disekililingnya dipenuhi peninggalan-peninggalan mistik. Nyatanya tidak. Kampung Siluman berada di Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat atau lebih kurang 40 KM dari Ibukota Jakarta. Persisnya 1 km arah ke utara dari Stasiun KA Tambun dan Gedung Juang 45 (Gedung Tinggi) yang berada di Jl Diponegoro, Tambun Selatan, Bekasi, Jawa Barat. Kondisi di sana sekarang ini dipenuhi perumahan. Ada puluhan perumahan di sana Perumahan Mangunjaya Indah I, Perumahan Bumi Lestari, Perumahan Papan Mas, Perumahan Griya Persada, De Green serta sejumlah Cluster. Makanya jalan Tambun-Tambelang yang membelah Kampung Siluman tidak pernah ‘tidur’, selalu ramai malah cenderung sering macet. Kemacetan ini diperparah dengan titik pertemuan dan persimpangan. “Sekarang Kampung Siluman terdiri dari 9 Rukun Warga dengan 74 Rukun Tetangga,” kata Encep Hendra Gunawan, tokoh masyarakat Desa Mangunjaya. Dia sendiri asli warga Kampung Siluman, dia tahu kenapa wilayahnya ada yang di sebut Kampung Siluman. Napin Sumpena (75 tahun), salah satu tokoh masyarakat yang juga mantan pegawai Desa Mangunjaya dan tinggal di Kampung Siluman. Dia menyebutkan kalau Kampung Siluman diambil dari peristiwa penyerangan rakyat Bekasi terhadap trasportasi Kereta Api yang membawa tentara Jepang. Seperti dikutif dari Buku Sejarah Bekasi, bahwa Tentara Jepang saat itu menempati Gedung Tinggi, tahun 1943-1945, setelah tuan tanah keturunan Cina bernama Kouw Oen Huy, menyerahkan kepada Jepang. Gedung itu dijadikan sebagai pusat kegiatan tentara Jepang dalam menjajah Indonesia. Pasukan yang dikirim dari Jawa, dan turun di Stasiun Tambun, Cerita orang tua Napin Sumpena, Saat turun itulah rakyat Bekasi mencegatnya dan menyerang dengan senjata tajam golok dan bambu runcing.

Read More

KH Zuhdi Takeran : Kejadian Penculikan Para Kiai Selalu Kami Ingat Hingga Akhir Hayat

Magetan – 1miliarsantri.net : Rekam jejak kejahatan dan kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI) sangat dirasakan bagi seluruh penghuni Pondok Pesantren Takeran Magetan, bukan hanya santri, pengasuh dan pengurus tapi juga seluruh jamaah sangat teringat betul ketika terjadi nya peristiwa penculikan Kiai Imam Mursyid Muttaqirn pada 18 September 1948. KH. MS Zuhdi Tafsir, S.Ag atau akrab disapa Mbah Zuhdi, pendiri sekaligus Pengasuh Ponpes Cokrokertopati, dan juga generasi penerus Pesantren Takeran Magetan, secara ekslusif menuturkan kisah pilu tersebut kepada 1miliarsantri.net. Habis shalat Jumat, saya bersama para santri pondok yang sedang duduk-duduk di serambi masjid melihat ada mobil datang ke pesantren. Mobil itu warnanya hitam dan bentuknya kecil. Bersama mereka terlihat beberapa orang membawa stand gun dan ada yang membawa karaben. Di situ saya lihat ikut datang seseorang yang katanya berasal dari Jombang sebagai pemimpin rombongan. Orang itu beberapa waktu kemudian saya tahu namanya Suhud. Sesampai di pesantren dan bertemu Kiai Imam Mursyid Mutaqin, ia kemudian berkata dengan mengutip ayat Alquran yang artinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (bangsa) kecuali mereka yang berusaha mengubah nasibnya sendiri. Jadi, katanya rombongan yang datang itu ingin mengubah nasib bangsa Indonesia. Tapi, sebelum mereka datang di sekitar pesantren sudah tersebar pamflet yang isinya: Muso, Moskow, Madiun. Pamflet itu tersebar di sepanjang jalan raya yang ada di depan pesantren. Saya yang saat itu duduk di bangku kelas 1 SMP ikut membaca pamflet itu. Nah, rombongan yang dipimpin Suhud yang di situ ada pejabat camat Takeran yang menjadi anggota PKI itulah yang menculik Kiai Mursid. Saat itu juga Kiai dibawa pergi. Jadi, Anda masih ingat peristiwa itu? Iya betul, bahkan sampai kini mimik wajah, warna pakaian para penculik itu semuanya saya masih ingat. Yang membawa pergi adalah seseorang yang memakai piyama warna krem. Dia pergi bersama Kiai Mursyid yang diapit oleh Suhud dan camat Takeran yang jadi anggota PKI itu. Setelah Kiai Mursyid dibawa pergi, kompleks pesantren ini saat itu kemudian di-stealing (dikepung) oleh para anggota PKI lainnya. Kami dikepung selama sekitar seminggu. Kami ingat betul pengepungan itu membuat persediaan garam di pesantren habis. Kami dikepung sekitar tujuh hari hingga pasukan Siliwangi datang membebaskan kami. Kemudian bagaimana nasib Kiai Mursyid? Semenjak dibawa pergi itulah, kami sampai kini tidak mengetahui dimana keberadaan Kiai Mursyid. Namun, seorang pemuda yang masih menjadi kerabat dan tinggal tak jauh dari pesantren melaporkan bila beberapa hari sebelum penculikan itu, desa-desa di sekitar Takeran dikepung oleh orang-orang yang berseragam hitam-hitam. Mereka juga mengepung kantor Kecamatan Takeran. Beberapa rumah haji juga di sekitar Takeran didatangi, didobrak pintunya, dan penghuninya diancam. Mereka juga memukulinya dan memaksa agar tunduk pada PKI. Kata mereka: Kamu mau tunduk tidak? Kalau tidak, terus dipukuli. Dan, baru berhenti setelah menyatakan menerimanya.

Read More

Kisah Joko Tingkir dan Bajulgiling Pusaka Andalan nya

Sragen – 1miliarsantri.net : Joko Tingkir merupakan tokoh yang sangat dikenal di masyarakat. Bahkan, peninggalannya di Desa Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang dikenal dengan Punden Tingkir, selalu ramai dikunjungi masyarakat. Joko Tingkir merupakan sosok yang memiliki kesaktian dan kedigdayaan hingga melegenda di tanah Jawa. Kisah-kisah tentang Joko Tingkir, yang berkembang di tengah masyarakat, tidak pernah lepas dari pusaka berupa ikat pinggang atau timang yang memiliki nama Kiai Bajulgiling. Pusaka sakti Kiai Bajulgiling tersebut, didapatkan Joko Tingkir dari gurunya, Ki Buyut Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro. Banyak dikisahkan, pusaka sakti timang Kiai Bajulgiling itu, dibuat oleh Ki Buyut Banyubiru dari biji baja murni yang diambil dari dalam gumpalan magma lahar Gunung Merapi dan kulit buaya. Dengan kekuatan gaibnya, bijih baja murni itu oleh Ki Banyubiru dibuat menjadi pusaka. Berdasarkan Babad Jawi dan Babad Pengging, kekuatan gaib yang dimiliki timang Kiai Bajulgiling ialah, barang siapa yang memakai ikat pinggang Kiai Bajulgiling ini, maka dia akan kebal dari segala macam senjata tajam dan ditakuti semua binatang buas. Hal ini selain kekuatan alami yang dimiliki oleh inti biji baja murni itu sendiri, juga karena adanya kekuatan rajah berkekuatan gaib yang diguratkan Ki Banyubiru di seputar timang berkulit buaya tersebut. Kekuatan dan keampuhan ikat pinggang Kiai Bajulgiling beberapa kali dialami dan dibuktikan sendiri oleh Joko Tingkir. Sebelum berguru ke Ki Banyubiru, Joko Tingkir atau Mas Karebet ini, pernah juga berguru ke Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela. Setelah berguru kepada Ageng Sela, dan Sunan Kalijaga, Joko Tingkir lalu disuruh untuk mengabdi ke Keraton Demak Bintoro. Di Kesultanan Demak ini Joko Tingkir melamar sebagai pengawal pribadi. Keberhasilannya meloncati kolam masjid dengan lompatan ke belakang tanpa sengaja, karena sekonyong-konyong Joko Tingkir harus menghindari Sultan dan para pengiringnya memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai pengawal. Joko Tingkir juga dikenal pandai menarik simpati Raja Demak Trenggono, sehingga dia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat Lurah Wiratamtama. Beberapa waktu kemudian, Joko Tingkir ditugaskan menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Ketika dihadapan Joko Tingkir, Dadungawuk tidak ingin diseleksi seperti yang lain, namun malah ingin menjajal kesaktian dari Joko Tingkir. Karena merasa diremehkan, Joko Tingkir sakit hati dan tidak bisa menahan emosinya sehingga Dadungawuk ditusuk dengan Sadak Kinang (tusuk konde) yang menembus jantungnya. Akibatnya, Joko Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak karena konon Dadungdawuk juga merupakan kerabat Kesultanan Demak. Kepergian Joko Tingkir menimbulkan rasa sedih yang mendalam pada kawan-kawannya. Dengan rasa putus asa Joko Tingkir pulang kembali dan ingin mati saja. Dua orang pertapa, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang (suami dari putri Bondan Kejawen atau adik Ki Ageng Getas Pendawa, kakek buyut Panempahan Senopati) memberinya semangat. Ketika Joko Tingkir berziarah pada malam hari di makam ayahnya di Pengging. Di sana Joko Tingkir mendengar suara atau wangsit yang menyuruhnya pergi ke tokoh keramat lain, yaitu Ki Buyut dari Banyubiru. Lalu Mas Karebet atau Joko Tingkir pergi menemui Ki Buyut Banyubiru. Ki Banyubiru yang telah mengetahui maksud kedatangan Joko Tingkir, langsung menerimanya sebagai murid. Oleh guru yang sakti ini, Joko Tingkir diberikan pelajaran-pelajaran ilmu kedigjayaan di Gunung Lawu. Salah satunya adalah dengan merendam diri dalam sungai yang dingin, dengan tujuan dapat mengendalikan hawa nafsu dalam diri Joko Tingkir. Setelah beberapa bulan lamanya Joko Tingkir menimba ilmu, Ki Buyut Banyubiru sudah memperbolehkan Joko Tingkir untuk menemui Sultan Demak guna memohon pengampunan atas kesalahan yang pernah dilakukannya yaitu membunuh Dadungawuk. Sebelum berangkat ke Demak Ki Buyut Banyubiru memberikannya azimat Timang Kiai Bajulgiling. Perjalanan kembali Joko Tingkir ke Demak dilakukan dengan getek, yakni rakit yang hanya terdiri dari susunan beberapa batang bambu. Saat akan melewati Kedung Srengenge, Joko Tingkir menghadapi hambatan karena adanya sekawanan buaya, kurang lebih berjumlah 40 ekor, yang menjadi penghuni dan penjaga kedung tersebut. Percaya dengan kekuatan gaib dari timang ikat pinggang pemberian Ki Buyut Banyubiru, Joko Tingkir nekad mengayuhkan geteknya memasuki kawasan Kedung Srengenge. Bahaya mengancam, ketika sekawanan buaya menghadang dan mengitari rakitnya. Namun, berkat kekuatan gaib dari Timang Kiai Bajulgiling, buaya-buaya yang semula buas beringas seketika menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada Joko Tingkir. Bahkan, keempat puluh buaya ekor buaya itu menjadi pengawal perjalanan Joko Tingkir selama menyebrangi Kedung Srengenge dengan berenang di kiri-kanan, depan dan belakang rakitnya Di wilayah Demak, keampuhan jimat pemberian Kiai Buyut Banyubiru berupa ikat pinggang Kiai Bajulgiling diterapkannya kembali. Seekor kerbau liar atau banteng, dibuat Joko Tingkir menjadi gila, sehingga tiga hari tiga malam para prajurit di Demak tidak dapat menghalau kerbau tersebut, bahkan dengan malu terpaksa mengaku kalah. Hanya Joko Tingkir yang akhirnya berhasil membunuh kerbau itu, yakni dengan mengeluarkan jimat yang telah dimasukkan ke dalam mulut hewan itu sebelumnya. Para prajurit Demak terkagum dengan aksi Joko Tingkir yang mampu menaklukan banteng buas. Raja Demak Sultan Trenggono akhirnya mengampuni perbuatan Joko Tingkir tempo hari, dan memaafkannya. Kemudian Joko Tingkir diangkat kembali sebagai prajurit, dengan jabatan sebagai pemimpin laskar tamtama. Joko Tingkir menikah dengan putri ke-5 raja, yaitu Ratu Mas Cempaka dan menjadi Bupati Pajang dengan gelar Adipati Adiwijaya. Sepeninggal Trenggono tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian tewas dibunuh Aryo Penangsang pada tahun 1549. Aryo Penangsang membunuh Sunan Prawoto, sebagai bentuk balas dendam atas kematian ayahnya. Ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen, tewas dibunuh Sunan Prawoto sewaktu dia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Solo. Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi utusan itu gagal karena dia memiliki kekebalan dari jimat Ki Bajulgiling.

Read More

Bukti Sejarah Pesantren Takeran Tertulis di Masjid Jamik Pesantren

Magetan – 1miliarsantri.net : Pondok Pesantren (Ponpes) Takeran merupakan salah satu Ponpes tertua di Indonesia. Didirikan di Takeran-Magetan, Jawa Timur pada tahun 1880 (1303 H) oleh Kkai Hasan Ulama, salah satu Kiai kharismatik dan juga dianggap sebagai Penasehat Pangeran Diponegoro waktu itu. Seiring perjalanan waktu, Pesantren Takeran berkembang dan kerap kali menjadi sasaran target Belanda karena dianggap sebagai penghalang, dikarenakan Mbah Kiai Hasan Ulama juga dikenal sebagai telik sandi ulung yang dimiliki Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1899 (1317 H), Mbah Kiai Hasan Ulama wafat dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, Kyai Haji Imam Muttaqien. Di era kepemimpinan Mbah Imam Muttaqien inilah banyak tercetus ide serta gagasan untuk dapatnya merebut Indonesia dari tangan penjajah kolonial Belanda beserta sekutunya. KH. MS. Zuhdi Tafsir S.Ag (Mbah Zuhdi) sebagai Pendiri Pesantren Cokrokertopati sekaligus penerus Pesantren Takeran menuturkan, di Pesantren Takeran banyak dilakukan pertemuan-pertemuan tokoh penting Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan, termasuk diantara nya Hadratus Syekh Hasyim Asyari sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Mbah KH. Achmad Dahlan sebagai tokoh yang akhir nya mencetuskan berdirinya organisasi Muhammadiyah. “Mbah Imam Muttaqien, Mbah Hasyim, Mbah Dahlan itu dulunya pernah mondok di Pesantren nya Saichonna Kholil Bangkalan Madura, tapi beliau mondok nya cuman sebentar karena sudah menyerap semua ilmu bahkan diberi ijazah khusus oleh Mbah Kholil Bangkalan,” terang Mbah Zuhdi kepada 1miliarsantri.net. Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah maupun NU, Mbah Kholil sempat menyampaikan kepada Mbah Hasyim dan juga Mbah Dahlan agar meminta doa dan ijazah ke Pesantren Takeran karena dianggap sudah mewarisi ijazah Thareqoh Syattariyah. “Jadi Mbah Hasyim dan Mbah Dahlan itu dulunya juga mengikuti Thareqoh Syattariyah, sama seperti Mbah Kiai Imam Muttaqien yang diwarisi ijazah dari ayah beliau, Mbah Kiai Hasan Ulama,” jelas Mbah Zuhdi. Mbah Zuhdi menambahkan, di Pesantren Takeran juga sering dilakukan musyawarah untuk membahas negara, termasuk lahir nya Masyumi, Piagam Jakarta dan sebagainya. Waktu itu tidak terlalu banyak orang yang hadir untuk pertemuan dan tempat nya berada di langgar (musholla) dekat kediaman almarhum Mbah Kiai Hasan Ulama. “Dulu cuman bertiga, kadang lima orang yang hadir jagongan sambil musyawarah membahas negara. Tidak seperti sekarang ini, bahas umat tapi tempatnya di hotel atau di rumah makan, sedangkan belum tahu bagaimana nasib umat nya sendiri. Jika haus atau lapar, tinggal nyuruh santri beliau untuk mengambil kelapa di kebun belakang rumah,” terang Mbah Zuhdi. Pada tahun 1936 (1355 H), Mbah Kiai Imam Muttaqien wafat dan kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Kyai Imam Mursyid Muttaqien. Pemuda sangat tampan, jujur dan memiliki keilmuan yang sangat mumpuni. Pada perkembangannya, atas prakarsa beliau, pada tanggal 16 September 1943 (9 Syawal 1362 H) Pesantren Takeran diganti namanya menjadi Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) melalui mekanisme rapat besar (Ihtifal).

Read More

Kisah 2 Santri Yang Adu Kesaktian Karena Perbedaan Prinsip

Jombang – 1miliarsantri.net : Sumoyono adalah nama sebuah pesantren yang berdiri tak jauh dari Tebu Ireng di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang Jawa Timur. Pesantren ini diasuh oleh Kiai Sumoyono. Di pesantren yang berdiri tahun 1800-an ini ada dua santri yang amat menonjol dan terkenal. Mereka adalah Surontanu dan Joko Tulus alias Kebo Kicak. Sayangnya kedua santri tersebut harus bermusuhan karena berbeda jalan. Surontanu merupakan murid pesantren Sumoyono yang sangat keras menolak segala bentuk maksiat dan ketidakadilan, termasuk saat Belanda datang ke Desa Cukir untuk mendirikan pabrik gula. Sementara Joko Tulus adalah santri murtad yang memilih jalan sesat demi mencapai duniawi sesaat hingga rela menjadi antek belanda. Perbedaan itu membuat kedua santri yang sama-sama memiliki kanuragan mumpuni ini selalu berbenturan sehingga menjalin permusuhan abadi. Awal permusuhan Surontanu dan Joko Tulus dimulai saat Belanda membangun pabrik gula di Desa Cukir. Kesewenang-wenangan Belanda dalam mendirikan pabrik dengan merubah paksa sawah warga menjadi kebun tebu, membuat Surontanu emosi dan memberikan perlawanan terhadap kebijakan kolonial itu. Terlebih Belanda sengaja mendukung berdirinya tempat maksiat di lokasi bernama Kebo Ireng yang tak jauh dari pabrik gula serta Pesantren Sumoyono. Tak ayal Surontanu kian meradang, apalagi lokasi Kebo Ireng dipimpin oleh mantan adik perguruannya di Sumoyono yaitu Joko Tulus alias Kebo Kicak yang telah memilih jalan sesat. Cikal bakal Joko Tulus menjadi penjahat sebenarnya sudah tercium sejak awal masuk pesantren. Karena masuk pesantren Sumoyono sebenarnya bukan keinginan Joko Tulus, namun kakeknya yang mengirim dan menitipkan langsung kepada Kiai Sumoyono. Oleh Kiai Sumoyono, Joko Tulus diberi perhatian khusus saat di pesantren hingga menjadi murid kesayangan Kiai. Sayang perhatian dan kasing sayang Kiai Sumoyono tak mampu meluluhkan hati Joko Tulus untuk menuju jalan hitam dan menjadi pimpinan utama tampat maksiat Kebo Ireng. Cerita Joko Tulus bergabung dengan Kebo Ireng berawal ketika dirinya makan di warung yang ada di Pasar Cukir. Saat makan Joko Tulus diganggu oleh para preman Desa Cukir. Emosi dan naik pitam, Joko Tulus menantang preman tersebut berkelahi. Hanya dalam hitungan detik, Joko Tulus yang memang sakti itu melumpuhkan preman tersebut. Kehebatan Joko Tulus terlihat oleh Wiro, dukun sakti aliran hitam yang menjadi antek belanda serta pemimpin tempat maksiat Kebo Ireng. Karena bujukan Wiro, akhirnya Joko Tulus keluar dari Pesantren Sumoyono untuk masuk ke lembah hitam dan dinobatkan sebagai pemimpin utama Kebo Ireng.

Read More

Kampung Gelgel, Kampung Tertua Islam di Bali

Klungkung – 1miliarsantri.net : Jika anda berwisata ke Pulau Bali, jangan lewatkan untuk singgah ke Kampung Gelgel, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali. Adalah salah satu pemukiman Islam tertua di wilayah Bali. Kawasan tersebut juga dikenal sebagai salah satu objek wisata religius. Desa Gelgel juga dikenal memiliki toleransi antarumat beragama yang kuat sehingga banyak dikunjungi oleh wisatawan asing ataupun domestik. Salah satunya bentuk toleransi yang masih dirawat hingga hari ini adalah aktivitas makan bersama yang dikenal dengan megibung. Tradisi megibung berasal dari kata gibung yang berarti kegiatan duduk dan makan bersama dalam satu wadah yang disebuh sagi. Sagi adalah nampan berbentuk lingkaran berbahan enamel. Sagi yang berisi makanan akan ditata rapi di atas deretan lantai ubin putih di teras depan Masjid Nurul Huda di Desa Gelgel. Megibung juga dikenal dengan nama ngaminang yakni setiap orang hanya boleh makan apa yang tersaji di depannya dan tidak boleh mengambil makanan milik teman sebelahnya. Jika sudah kenyang dan makan pun selesai, kita tak boleh beranjak dari sagi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk duduk bersama dan saling berdiskusi serta berbagi pendapat tanpa tersekat oleh berbagai perbedaan status sosial dan kasta. Acara megibung dilakukan saat buka puasa bersama pada 10 hari kedua Ramadhan di masjid desa. Sigi akan diisi nasi beserta lauknya seperti ikan, ayam goreng, sate lilit berbahan daging ayam, sayur dan sambal matah juga kerupuk dan beberapa botol air mineral. Tak ketinggalan buah-buahan seperti beberapa sisir pisang ambon, jeruk, dan salak ikut disajikan di dalam sagi, kemudian ditutup dengan tudung atau saap warna merah yang di atasnya diletakkan sekotak kurma. Tak jarang Raja Klungkung juga berkunjung ke desa tersebut untuk ikut berbuka puasa dengan warga Desa Gelgel yang mayoritas beragama Islam. Tradisi kunjung sang raja telah dipertahankan sejak ratusan tahun silam. Desa Kampung Gelgel memang memiliki perhatian khusus dari Raja Klungkung. Hal ini tak lepas dari sejarah panjang yang dilewati Kerajaan Klungkung dan prajurit Majapahit yang dikirim ke Bali. Kedekataan Kerajaan Klungkung dengan masyarakat Muslim di Bali tak lepas dari kisah Dalem Ketut Nglesir, Raja Gelgel yang memerintah pada tahun 1383. Awalnya Kerajaan Gelgel berada di Samprangan Gianyar. Lalu oleh Dalem Ketuk Nglesir, pusat pemerintahan dipindah ke Klungkung. Dalem Ketut Ngelesir sendiri naik tahta menggantikan sang kakak, Dalem Samprangan. Kala itu kerajaan mereka berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit. Dalam berbagai literasi disebutkan Dalem Ketut Ngelesir menghadiri sebuah konferensi di Majapahit yang diadakan Prabu Hayam Wuruk pada 1384.

Read More

Sejarah Sutowijoyo Dibelokkan Penjajah dan Akan Segera Diungkap Fakta Kebenarannya

Sukoharjo – 1miliarsantri.net : Pada saat itu ada seorang wali yang bernama Ki Ageng Sutowijoyo yang juga merupakan murid Sunan Kalijaga. Bermula dari pertemuan dengan Sunan Kalijaga saat dirinya melarikan diri dari kerajaan berakhir dengan ditugaskannya untuk menyebarkan agama Islam di bukit Maja Asto yang kini menjadi tempat pemakamannya. Ia membangun masjid yang juga ada di daerah tersebut dan menjadi peninggalan bersejarah. Sebuah peninggalan yang menjadi bukti dari adanya jejak penyebaran agama Islam di sana. Ada sebuah prasasti di gapura masjid yang diperkirakan sesuai dengan tahun pembangunannya yaitu pada tahun 1587-1653 Masehi. Bahkan, pembangunan masjid ini dijadikan sebagai tempat untuk melakukan dakwah memberikan pengetahuan tentang Islam kepada penduduk desa. Meskipun berlangsung secara perlahan, selain hanya ada sedikit penduduk yang memeluk agama Islam juga karena keterbatasan pengetahuan mereka tentang Islam sebelumnya. Dakwah yang dilakukannya adalah dengan selalu mengingatkan untuk menjadi orang yang menegakkan keadilan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Makam Ki Ageng Sutawijaya merupakan peninggalan sejarah yang jadi jejak adanya penyebaran Islam di Desa Majasto. Berada di sebuah bukit batu yang makamnya hanya memiliki kedalaman yang dangkal, tidak membuat makam menimbulkan bau tidak sedap. Berdasar catatan naskah, Peguron Agung – Bumi Arum Majasta, yang berada di wilayah Desa Majasta, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, ternyata memberikan sumbangsih yang sangat luar biasa untuk perjuangan, bukan hanya Pangeran Dipanegara tatkala melawan penjajah, yang kemudian perjuangan tersebut kita kenal dengan sejarah “Perang Jawa.” (1825-1830) tapi juga konon sekaligus dijadikan nya Padepokan bagi mereka yang ingin mempelajari ilmu Persaudaraan dan Kecintaan Pada Sang Khalik.

Read More

Napak Tilas Tebuireng dan Perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari

Jombang – 1miliarsantri.net : Nama Tebuireng memang sudah terkenal seantero Nusantara. Tebuireng merupakan sebuah pesantren yang berdiri tahun 1899 di Wilayah Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur. Namun, untuk mencapai kejayaan seperti sekarang, jalan terjal harus ditempuh oleh pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) yang merupakan tokoh nasional, sekaligus pendiri organisasi Nahdatul Ulama (NU). Salah satu perjuangan beratnya adalah saat para santri Tebuireng harus melawan kelompok pendekar hitam pimpinan dukun sakti Wiro yang menguasai tempat maksiat bernama Kebo Ireng. Kebo Ireng merupakan sebuah lokalisasi yang berada di areal pabrik gula Desa Cukir. Di mana untuk mengikat warga supaya mau menyerahkan tanah dan menjadi buruh pabrik, pemerintah Belanda sengaja mendukung berdirinya tempat maksiat Kebo Ireng. Setiap malam para buruh pabrik selalu mengunjungi dan menghabiskan uang di lokalisasi Kebo Ireng, terlebih usai menerima gaji sebagai buruh. Akibatnya, warga banyak yang terjerat hutang, karena kalah berjudi maupun main perempuan. Kondisi itu tentu membuat Belanda senang, karena dapat terus mengikat warga menjadi buruh pabriknya. Sehingga apapun keputusan Wiro beserta anteknya, Belanda selalu berada dibelakang mereka. Dalam memimpin wilayah Kebo Ireng, selain dibantu oleh para pendekar didikannya, Wiro juga didampingi seorang wanita cantik penari tayub bernama Sartini. Meski lembut dan cantik, Sartini dikenal cerdik dan merupakan wanita yang paling berpengaruh dalam setiap keputusan yang akan diambil Wiro. Kondisi Desa Cukir yang semakin suram dengan meningkatnya kriminalitas seperti perampokan, serta kemiskinan yang parah, membuat seorang Kiai bernama Sakiban prihatin. Sehingga kiai yang juga terkenal piawai mendalang itu mendatangi Mbah Hasyim untuk membantu menyelamatkan warga Desa Cukir dari cengkraman maksiat Kebo Ireng. Setelah mendengar cerita Kiai Sakiban dengan seksama, Mbah Hasyim akhirnya bersedia mendirikan pesantren di wilayah utara Pabrik Cukir demi menyelamatkan warga dari kemaksiatan Kebo Ireng yang didukung Belanda. Namun untuk membangun pesantren tidaklah mudah, apalagi Belanda sangat alergi dengan yang namanya pesantren. Sebab, sebelumnya di wilayah tersebut pernah ada sebuah pesantren bernama Sumoyono yang memberontak kepada Belanda. Sehingga untuk menyamarkan kegiatan pesantrennya, Mbah Hasyim mendirikan padepokan silat. Dimana untuk mengisi padepokan tersebut, MbahbHasyim melalui Kiai Sakiban memanggil beberapa santri pendekar dari Cirebon yang tentunya memiliki ilmu kanuragan mumpuni. Di samping menyamarkan pesantrennya menjadi padepokan silat, demi menarik masyarakat Mbah Hasyim Asy’ari juga melakukan dakwah terselubung melalui praktek pengobatan secara Islam melalui wirid atau zikir. Setidaknya ada sekitar 28 santri yang belajar di pesantren berkedok padepokan silat tersebut. Setiap malam Jumat seusai Salat Isya, di padepokan itu diadakan atraksi pencak silat serta debus untuk menarik masyarakat datang. Terbukti acara pencak silat tersebut mampu menarik masyarakat untuk datang. Sehingga secara tidak langsung membuat lokasi Kebo Ireng sepi. Tidak hanya itu pengobatan yang dilakukan oleh Mbah Hasyim juga mampu membuat warga beralih dari Wiro, dukun sakti yang terkenal bisa mengobati semua penyakit. Ketenaran Mbah Hasyim dengan padepokan silatnya tentu saja membuat Wiro terganggu dan cemas karena akan kehilangan pamor. Bahkan Wiro sempat beberapa kali menyusupkan anak buahnya untuk melihat atraksi pencak silat yang diadakan padepokan Mbah Hasyim. Mengetahui Wiro menyusupkan anak buahnya, Mbah Hasyim merasa senang, karena dengan begitu bisa memastikan jika Wiro tidak akan berani menggangu padepokannya secara langsung setelah mengetahui kemampuan ilmu silat putih santri-santrinya. Benar saja, Wiro tidak berani melakukan perlawanan terbuka pada padepokan Mbah Hasyim. Melalui anak buahnya, Wiro melakukan provokasi dengan melempari pondok, bahkan pernah anak buah Wiro melepaskan panah api yang membakar atap pondok padepokan. Namun Mbah Hasyim yang terkenal anti kekerasan itu melarang keras anak buahnya membalas provokasi tersebut. Bahkan kepada anak buahnya Mbah Hasyim selalu menyarankan agar selalu bersikap sopan terhadap semua orang, terutama masyarakat luar. Beberapa kali santri padepokan di provokasi oleh anak buah Wiro saat belanja di Pasar Cukir, hingga diajak berkelahi, tapi para santri tidak pernah terpancing. Sikap para santri semakin menarik simpati masyarakat dan membuat Wiro kian berang. Sehingga Wiro terus mengganggu padepokan dengan berbagai cara licik. Sikap licik Wiro yang terus menggangu padepokan lewat provokasi, akhirnya membuat Kiai Sakiban mengambil langkah untuk segera mengakhiri kekuasaan Wiro dan menyalamatkan warga dari kemaksiatan Kebo Ireng. Kiai Sakiban mengambali keputusan untuk menantang Wiro bertarung secara jantan dengan santri padepokan, karena Kiai Sakiban yakin santri padepokan mampu mengalahkan Wiro.

Read More