Masjid Kudus Terinspirasi Dari Al Quds Palestina

Kudus – 1miliarsantri.net : Awal mula pendirian masjid Kudus, ketika Ja’far Shoddiq atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus kembali ke Tanah Jawa, setelah memperdalam ilmu agama Islam di Palestina dan mendirikan masjid di daerah Kudus pada tahun 1956 Hijriyah atau 1548 Masehi. Semula masjid tersebut diberi nama Al Manar, namun karena terinspirasi dari nama Al Quds maka masjid itu kemudian diberi nama Masjid Al Aqsho, meniru nama Masjid di Yerussalem yang bernama Masjidil Aqsho. Kota Yerussalem juga disebut Baitul Maqdis atau Al-Quds. Dari kata Al-Quds tersebut kemudian lahir kata Kudus, yang kemudian digunakan untuk nama Kota Kudus hingga saat ini. Sebelum mendirikan masjid, Sunan Kudus pernah menetap di Baitul Maqdis untuk belajar agama Islam. Kala itu, disana sedang terjangkit wabah penyakit, sehingga banyak orang yang mati. Namun berkat usaha Ja’far Shoddiq, wabah tersebut dapat diberantas. Atas jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah wilayah, yaitu pemberian wewenang menguasai suatu daerah di Palestina. Pemberian wewenang itu bahkan tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus. Mendapat kehormatan itu, kemudian Sunan Kudus memohon kepada Amir Palestina yang sekaligus sebagai gurunya untuk memindahkan wewenang wilayah tersebut ke Pulau Jawa. Permohonan tersebut disetujui dan Ja’far Shoddiq pulang ke Jawa dan mendirikan masjid. Kini masjid tersebut terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang dan berada di alun-alun kota Kudus Jawa Tengah. Namun jauh sebelum mendirikan masjid Alaqso, dalam babad Jawa dan hikayat Melayu, nama Sunan Kudus muncul saat perang jihad pertama di Jawa yang terjadi antara Kerajaan Islam Demak dengan Kerajaan Hindu Majapahit, pada 1524 dan 1526. Saat itu, Sunan Kudus mendampingi imam masjid Demak keempat yang tidak lain merupakan ayahnya sendiri, memimpin peperangan melawan Majapahit. Dalam pertempuran sengit itu, ayah Sunan Kudus gugur. Sunan Kudus kemudian diangkat menjadi imam masjid Demak. Menurut Hikayat Hasanudin, Sunan Kudus adalah imam masjid Demak kelima. Pada 1526 dan 1527, Raja Demak Sultan Trenggana memerintahkan Sunan Kudus menyerang Majapahit. Serangan itu dipimpin langsung oleh Sunan Kudus dan berakhir dengan kemenangan Kerajaan Demak. Setelah itu, Sunan Kudus kembali dengan aktivitas keagamaannya di masjid Demak, yakni membumikan ajaran agama Islam. Suatu ketika, Raja Demak meminta Sunan Kudus mendatangi kerajaan kecil yang dipimpin Raja Pengging, di kaki Gunung Merapi. Misi Sunan Kudus saat itu adalah meminta Raja Pengging mengakui kekuasaan Demak dan meninggalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Permintaan Sunan Kudus ini ditolak mentah-mentah oleh sang Penguasa. Raja Pengging tetap dengan kepercayaannya. Sunan Kudus merasa terhina permintaannya ditolak. Dia lalu menyuruh pasukannya untuk membunuh sang raja.

Read More

Kesaktian Sunan Gunung Jati Menaklukkan Pasukan Prabu Siliwangi

Cirebon – 1miliarsantri.net : Sunan Gunung Jati atau bernama asli Syarif Hidayatullah atau Sayyid Al-Kamil dikenal memiliki karomah yang tak bisa dilogika manusia, dimana kesaktian nya tersebut mampu membuat orang yang hendak menyerang nya bisa lumpuh seketika dan membuat sebanyak 100 pasukan Kerajaan Pajajaran yang setia kepada Prabu Siliwangi, bersama seorang patih yang juga dikenal dekat dengan raja, memilih memeluk Islam dan mau belajar menimba ilmu kepada Sunan Gunung Jati. Proses ratusan pasukan Pajajaran dalam memeluk Islam ini, diwarnai peristiwa tak logis akal manusia. Dikisahkan dalam “Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati: Naskah Mertasinga”, terjemahan Amman N. Wahju, Prabu Siliwangi awalnya sering melihat cahaya yang sangat terang di arah timur laut. Cahaya terang ini kian menganggu pikiran Prabu Siliwangi, sebab di sisi lain Ki Kuwu Carbon tak lagi mau membayar pajak terasi ke Pajajaran. Tersiar kabar, Ki Kuwu telah tunduk kepada Syekh Maulana sebutan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, sehingga terhentinya pembayaran pajak itu, dan dia telah membangkang kepada pemerintah Pajajaran. Dua peristiwa itu mengganggu betul di alam pikiran Prabu Siliwangi. Oleh karenanya sang penguasa Pajajaran ini, memerintahkan anak buahnya untuk mengecek sumber cahaya terang terlebih dahulu. Sang patih bernama Patih Lembusasrah dan 100 pasukannya berangkat untuk memeriksa cahaya itu. Patih Lembusasrah tiba di Carbon pada tengah malam, dan ternyata cahaya itu datang dari arah Gunung Jati. Sang patih Pajajaran dan 100 prajuritnya melanjutkan perjalanannya, dan telah tiba di Gunung Patuhunan. Keseratus prajuritnya yakin bahwa cahaya yang terlihat itu adalah cahayanya Bathara Luhung.

Read More

Napak Tilas Penyebaran Islam di Tanah Borneo

Jakarta – 1miliarsantri.net : Jika seorang raja memeluk Islam, maka Islam-lah seluruh rakyatnya. Mungkin kaidah tersebut tak hanya terjadi di kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa. Pentingnya kedudukan penguasa di tengah masyarakat Banjar juga membuat hal yang sama berlaku di tanah Borneo. Sejak berdiri, Kesultanan Banjar memang telah memiliki ikatan kuat dengan Kesultanan Demak di Jawa. Hal tersebut rupanya berdampak besar bagi pembentukan Kesultanan Banjar. Mengutip dari Hikayat Banjar, disebutkan bahwa sistem pemerintahan Kesultanan Banjar memiliki banyak kemiripan dengan yang diterapkan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Sistem tersebut terutama kondisi di mana istana merupakan miniatur kosmos dengan sultan sebagai pusat atau intinya. Dengan adanya filosofi tersebut, kedudukan sultan menjadi sangat penting bagi rakyatnya. Hal tersebut pun berdampak positif dalam penyebaran Islam yang dilakukan Kesultanan Banjar. Maka, makin luas kekuasaan kerajaan, makin luas pula agama Islam itu diterima. Dalam situs resmi Kesultanan Banjar disebutkan luasnya wilayah kekuasaan Banjar. Wilayah tersebut menggeser seluruh posisi kerajaan Hindu di Kalimantan Selatan. Wilayah inti kesultanan meliputi lima negeri besar, yakni Kuripan (Amuntai), Daha (Nagara-Margasari), Gagelang (Alabio), Pudak Sategal (Kalua) dan Pandan Arum (Tanjung). Mengutip Hikayat Banjar, sejak zaman pemerintahan kerajaan Hindu, wilayah yang termasuk mandala Kerajaan Banjar meliputi kawasan barat hingga negeri Sambas (Kerajaan Sambas kuno). Kemudian, kawasan ujung timur hingga negeri Karasikan (Kerajaan Tidung kuno). Seluruh kawasan tersebut lebih kurang sama dengan wilayah Borneo-Belanda. Dilihat dari wilayah kekuasaannya, maka tampak jelas meluasnya penyebaran Islam di Kalimantan. Belum lagi melihat suku Banjar yang merupakan kelompok masyarakat Melayu yang terbanyak di Kalimantan. Bahkan, dibanding para pendatang, suku Banjar telah menguasai wilayah Kalimantan lebih dahulu. Maka tugas sebagai juru dakwah pun dipegang oleh mereka. “Kesultanan Banjar mengalami masa kejayaan pada abad ke-17, yang pada masa itu belum banyak suku pendatang mendominasi seperti saat ini seperti suku Jawa, Bugis, Mandar, Arab dan Cina,” tulis web resmi Kesultanan Banjar. Sebagai penyebar Islam di Kalimantan, Kerajaan Banjar juga memiliki ulama ternama yang menjadi ujung tombak dakwah. Tak sedikit ulama yang lahir dari Banjar kemudian menjadi dai nusantara. Disebutkan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Islam di Indonesia, pada abad ke-18 tercatat ada seorang ulama besar di Kerajaan Banjar. Ulama tersebut yakni Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari (1710-1812). Dia lahir di Martapura. Sang ulama dikirim dan dibiayai pihak kesultanan untuk menempa ilmu agama ke Tanah Suci. Saat itu Kesultanan Banjar tengah dipimpin Sultan Tahlil Allah. Saat pulang dari Haramain, sang ulama pun ditugasi menyebarkan dakwah Islam di Banjarmasin.

Read More

Pesona Tan Eng Kian Yang Rela Belajar dan Masuk Islam

“Raden, bimbinglah saya untuk memeluk agama Islam, saya merasa cocok dengan Islam, seperti yang Raden Arya Damar dan Dewi Dilah lakukan.” tutur Dewi Kian di hadapan Arya Damar dikutip dari buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit. Itulah momen puncak dari proses pembelajaran agama Islam oleh Tan Eng Kian (Dewi Kian) sang selir cantik Raja Majapahit Prabu Brawijaya V di Palembang yang diarahkan langsung oleh Arya Damar menemui titik terang. Dewi Kian benar benar menyatakan keislamannya dengan tulus kepada Raden Arya Damar. “Alhamdulillah akhirnya Tuan Putri mendapatkan hidayah juga,” ujar Raden Arya Damar menyukuri karunia hidayah bagi Dewi Kian. Begitulah, akhirnya Dewi Kian secara tulus menyatakan syahadat di depan para ulama Kadipaten Palembang, terutama disaksikan langsung oleh Arya Damar. Dewi Kian berpindah agama dari Buddha ke agama Islam tanpa paksaan dari siapa pun. Dengan demikian, seiring dengan semakin dekatnya Dewi Kian akan melahirkan, ia semakin intens mendalami risalah ajaran Islam, terutama menelaah kandungan Al-Quran. Dewi Kian yang dikenal tidak hanya cantik tapi pintar ini pun hanya mempelajari beberapa bulan saja tentang Islam, namun dia sudah menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang sangat pesat. Bukan saja belajar membaca dengan ilmu tajwid, tetapi juga memperdalam kandungan isi Al-Quran dari para ulama Palembang, dan terutama Raden Arya Damar. Sang Dewi merenungkan dalam-dalam pernyataan Arya Damar bahwa janin yang dibacakan Al-Quran akan menjadi cerdas. Istri selir Prabu Brawijaya V yang baru tergolong mu’alaf itu menyadari terhadap kemurahan ajaran Islam, misalnya terkait dengan menjalankan ibadah salat. Dari khazanah yang ia pelajari, misalnya seseorang tidak bisa berdiri ketika salat, hendaknya ia duduk. Jika duduk pun tak mampu, maka ia boleh menunaikan ibadah sholat sambil berbaring. Jika berbaring pun tak kuasa, ia bisa menjalankan salat dengan mempergunakan isyarat mata. Nah, kalau isyarat mata pun tak bisa dikerjakan, maka ia akan disalatkan. Walaupun tengah hamil besar, namun hal itu tak sampai menghalangi semangat Dewi Kian untuk mendapatkan penjelasan mengenai esensi agama Islam. Suatu hari Dewi Kian bertanya kepada Arya Damar mengenai Nabi dan Rasul. “Apa itu Nabi dan Rasul?” tanya Dewi Kian. “Kalau Nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, tetapi untuk dirinya sendiri. Sementara Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, selain untuk dirinya sendiri juga diperuntukkan umat manusia,” jelas Arya Damar. Dewi Kian pun mengangguk sembari memikirkan pertanyaan selanjutnya. Tapi sepertinya Arya Damar tahu apa yang sedang dipikirkan Dewi Kian seraya menerangkan tentang Siddharta Gautama (Buddha) dan Nabi Muhammad SAW. “Sidharta Gautama itu diperkirakan salah seorang Nabi di antara 124.000 orang (Nabi) di dunia, sedang Rasul berjumlah 314 orang dan hanya 25 orang Rasul saja yang disebutkan di dalam Al-Quran. Tapi dalam hal ini Nabi Muhammad bukan saja seorang Nabi, tetapi juga Rasul Allah yang terakhir. Artinya, setelah Nabi Muhammad, maka tidak ada lagi utusan Tuhan karena sudah disempurnakan dalam agama Islam!” terang Arya Damar.

Read More

Sejarah Syekh Abdul Muhyi Penemu Goa Pamijahan

Tasikmalaya – 1miliarsantri.net : Nama Syekh Abdul Muhyi sudah tak asing lagi dikalangan masyarakat, terutama para warga di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat karena dikenal sebagai salah satu Wali Allah yang mempunyai segudang karomah. Dia merupakan anak dari Sembah Lebe Warta Kusumah yang masuh keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi lahir di Mataram sekitar 1650 Masehi atau 1071 Hijriah dan dibesarkan oleh orangtuanya di Kota Gresik. Dia selalu mendapat pendidikan agama baik dari orang tua maupun dari ulama-ulama sekitar Gresik. Saat berusia 19 tahun dia pergi ke Aceh untuk berguru kepada Syekh Abdul Rauf Singkil bin Abdul Jabar selama 8 tahun. Pada usia 27 tahun dia beserta teman sepondok dibawa oleh gurunya ke Baghdad untuk berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan bermukim di sana dua tahun. Setelah itu diajak Syekh Abdul Rauf ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji. Ketika sampai di Baitullah, Syekh Abdul Rauf mendapat ilham kalau di antara santrinya akan ada yang mendapat pangkat kewalian. Dalam ilham itu dinyatakan, apabila sudah tampak tanda-tanda maka Syekh Abdul Rauf harus menyuruh santrinya pulang dan mencari gua di Jawa bagian barat untuk bermukim di sana. Suatu saat sekitar waktu ashar di Masjidil Haram tiba-tiba ada cahaya yang langsung menuju Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh gurunya Syekh Abdul Rauf sebagai tanda-tanda tersebut. Setelah itu, Syekh Abdul Rauf menyuruh pulang Abdul Muhyi ke Gresik untuk minta restu dari kedua orangtua karena telah diberi tugas oleh gurunya untuk mencari gua dan harus menetap di salah satu daerah di Jawa Barat. Sebelum berangkat mencari gua, Abdul Muhyi dinikahkan oleh orangtuanya dengan Ayu Bakta putri dari Sembah Dalem Sacaparana putra Dalem Sawidak atau Raden Tumenggung Wiradadaha III. Tak lama setelah pernikahan, dia bersama istrinya berangkat ke arah barat dan sampailah di daerah yang bernama Darma Kuningan. Atas permintaan penduduk setempat Abdul Muhyi menetap di Darmo Kuningan selama 7 tahun. Kabar tentang menetapnya Abdul Muhyi di Darmo Kuningan terdengar oleh orang tuanya, maka mereka menyusul dan ikut menetap di sana. Di samping untuk membina penduduk, dia juga berusaha untuk mencari gua yang diperintahkan oleh gurunya, dengan mercoba beberapa kali menanam padi, ternyata gagal karena hasilnya melimpah. Sedang harapan dia sesuai isyarat tentang keberadaan gua yang diberikan oleh Syekh Abdul Rauf adalah apabila di tempat itu ditanam padi maka hasilnya tetap sebenih artinya tidak menambah penghasilan maka di sanalah gua itu berada. Karena tidak menemukan gua yang dicari akhirnya Syekh Abdul Muhyi bersama keluarga berpamitan kepada penduduk desa untuk melanjutkan perjalanan mencari gua. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah di daerah Pamengpeuk (Garut Selatan). Di sini dia bermukim selama 1 tahun untuk menyebarkan agama Islam secara hati-hati mengingat penduduk setempat waktu itu masih beragama Hindu. Setahun kemudian ayahanda (Sembah Lebe Warta Kusumah) meninggal dan dimakamkan di kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan. Beberapa hari seusai pemakaman ayahandanya, dia melanjutkan perjalan mencari gua dan sempat bermukim di Batu Wangi. Perjalanan dilanjutkan dari Batu Wangi hingga sampai di Lebaksiu dan bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690 M). Walaupun di Lebaksiu tidak menemukan gua yang dicari, dia tidak putus asa dan melangkahkan kakinya ke sebelah timur dari Lebaksiu yaitu di atas Gunung Kampung Cilumbu. Akhirnya dia turun ke lembah sambil bertafakur melihat indahnya pemandangan sambil mencoba menanam padi. Bila senja tiba, dia kembali ke Lebaksiu menjumpai keluarganya, karena jarak dari tempat ini tidak begitu jauh, sekitar 6 km. Suasana di pegunungan tersebut sering membawa perasaan tenang, maka gunung tersebut diberi nama Gunung Mujarod yang berarti gunung untuk menenangkan hati. Pada suatu hari, Abdul Muhyi melihat padi yang ditanam telah menguning dan waktunya untuk dipetik. Saat dipetik terpancarlah sinar cahaya kewalian dan terlihatlah kekuasaan Allah. Padi yang telah dipanen tadi ternyata hasilnya tidak lebih dan tidak kurang, hanya mendapat sebanyak benih yang ditanam. Ini sebagai tanda bahwa perjuangan mencari gua sudah dekat. Untuk meyakinkan adanya gua di dalamnya maka di tempat itu ditanam padi lagi, sambil berdoa kepada Allah, semoga gua yang dicari segera ditemukan. Maka dengan kekuasaan Allah, padi yang ditanam tadi segera tumbuh dan waktu itu juga berbuah dan menguning, lalu dipetik dan hasilnya ternyata sama, sebagaimana hasil panen yang pertama. Di sanalah dia yakin bahwa di dalam gunung itu adanya gua. Sewaktu Abdul Muhyi berjalan ke arah timur, terdengarlah suara air terjun dan kicauan burung yang keluar dari dalam lubang. Dilihatnya lubang besar itu, di mana keadaannya sama dengan gua yang digambarkan oleh gurunya. Seketika kedua tangannya diangkat, memuji kebesaran Allah. Telah ditemukan gua bersejarah, dimana ditempat ini dahulu Syekh Abdul Qodir Al Jailani menerima ijazah ilmu agama dari gurunya yang bernama Imam Sanusi.

Read More

Napak Tilas Perjalanan Ki Ageng Gribig

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Kerajaan Mataram Islam era Sultan Agung menjadi awal mula ekspansi atau perluasan wilayah secara masif. Perluasan wilayah ini juga membawa misi penyebaran agama Islam, hingga ke Malang. Ki Ageng Gribig menjadi salah satu tokoh Kerajaan Mataram Islam yang ditugaskan melakukan ekspansi sekaligus menyebarkan agama Islam ke wilayah timur selatan Pulau Jawa. Sosoknya konon merupakan penyebar agama Islam hingga akhir hayat nya di wilayah Pasuruan dan Malang. Kini Ki Ageng Gribig dimakamkan di pemakaman dan jalan yang juga dinamakan sesuai dengan namanya, Ki Ageng Gribig. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesarean Ki Ageng Gribig Malang Devi Nur Hadianto menyatakan, sosok yang dimakamkan di sini merupakan salah satu tokoh ulama dari Kerajaan Mataram Islam. Sosoknya konon terkait dengan kesultanan di masa era Sultan Agung hingga Sultan Amangkurat I atau di kisaran tahun 1600-an hingga 1700-an. “Beliau ini adalah sosok penyebar agama Islam pada masa awal peradaban Mataram Islam masuk ke Malang. Malang di sini Malang Raya, di mana pada masa tersebut masih ada sisa-sisa peradaban dari masa sebelum Islam,” ucap Devi Nur Hadianto. Banyak cerita muncul dari sosok Ki Ageng Gribig itu, konon sosoknya merupakan seseorang dari Bagelan, Purworejo yang kemudian menyebarkan Islam hingga Pasuruan dan Malang raya. Tak cuma sebagai pemuka agama saja, Ki Ageng Gribig juga dikenal sebagai umara’ atau pemimpin di masanya. “Ki Ageng Gribig ini awalnya ditugaskan di Pasuruan, makanya kaitan erat Pasuruan kota besar di waktu itu. Sementara Malang adalah kota bawahan dari Pasuruan saat itu, setelah beliau ditugaskan atau mungkin, jadi umara’ di Pasuruan, terus dia bergeser ke Malang ini sekarang pun masyarakat Pasuruan masih mempunyai keterikatan emosional dengan Ki Ageng Gribig yang ada di lokasi saat ini,” paparnya. Ki Ageng Gribig disebutnya bukanlah merupakan nama asli, melainkan sebutan dengan nama asli konon ada dua versi. Versi pertama nama asli Ki Ageng Gribig yakni Raden Ario Pamoetjong dan versi kedua bernama Raden Mosi Bagono, yang konon merupakan keturunan Menak Koncar, ksatria dari Mataram.

Read More

Mengenali 10 Raja Kesultanan Mataram Islam

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Pada awal berdirinya Kesultanan Mataram Islam terletak di Alas Mentaok yang berada di antara Kali Opak dan Kali Progo. Tanah tersebut hadiah yang diberikan oleh Sultan Pajang kepada Ki Ageng Pemanahan. Tanah itu kemudian dikembangkan oleh Ki Ageng Pemanahan dan berkembang menjadi Kerajaan Mataram dan berlanjut Kesultanan Mataram. Sejak saat itu, Mataram Islam telah dipimpin oleh sejumlah raja yang pernah mempertahankan kedaulatannya. Berikut 10 raja yang pernah memimpin kesultanan mataram islam: Pada masa kekuasaannya, ia berhasil menaklukan beberapa wilayah yang ada di sekitar Mataram Islam seperti Madiun, Surabaya, dan Kadiri. Untuk memperluas daerah kekuasaannya, ia juga berhasil menguasai daerah Priangan dan menjalin kerjasama dengan Cirebon. Pada masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai seorang sultan yang ahli dalam menyelesaikan pemberontakan. Namun ketika pemerintahannya berjalan dengan rukun dan damai, secara mengejutkan Raden Mas Jolang meninggal di hutan Krapyak. Sehingga namanya dikenal dengan Panembahan Seda ing Krapyak. Sultan yang satu ini memiliki masa jabatan hingga 32 tahun lamanya. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai sosok sultan yang banyak meninggalkan perkembangan budaya. Sultan Agung dikenal sebagai pendiri kalender, penulis karya sastra berjudul Serat Sastra Gendhing dan menyempurnakan bahasa di Pulau Jawa. Tidak jauh dari sang ayah, ia juga memiliki jabatan yang lama sebagai sultan yakni 31 tahun. Pada masa kepemimpinannya, Raden Mas Sayidin memiliki kebijakan yang berbeda dengan sang ayah.

Read More

Fakta-fakta Panembahan Senopati Sakti Mandraguna

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Sejumlah fakta mengenai Panembahan Senapati Ing Alaga yang sangat menarik diikuti dan dibahas dalam berbagai forum, terutama mengenai kajian sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Dalam riwayatnya, Panembahan Senapati dikenal sebagai pendiri kerajaan Mataram Islam. Penguasa Mataram Islam periode 1586 hingga 1601 ini memiliki sejumlah fakta menarik yang jarang diketahui orang umum. Berikut lima fakta panembahan senopati sang raja pertama dari Mataram Islam. Nama asli Panembahan Senopati adalah Danang Sutawijaya. Sebelum menjadi raja Mataram Islam, sebelumnya dia pernah membantu ayahnya dalam sebuah sayembara yang dilakukan Kerajaan Pajang. Singkatnya, sayembara dilakukan untuk menumpas pemberontakan Arya Penangsang yang dikenal sakti mandraguna. Mengutip laman Humas Jateng, pria bernama asli Danang Sutawijaya ini adalah penerima sah hadiah sayembara yang sempat dilakukan Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Singkatnya, sayembara tersebut ditujukan untuk membunuh Arya Penangsang. Kabar tersebut didengar Ki Ageng Pamanahan dan Ki Panjawi, akhirnya bersama Sutawijaya mereka ikut sayembara. Pada akhirnya, Danang Sutawijaya berhasil membunuh Arya Penangsang dan berhak atas alas Mentaok. Namun, sebelum kelahiran Mataram Islam, Ki Ageng Pamanahan telah meninggal lebih dahulu. Pada akhirnya, Mentaok menjadi milik Sutawijaya hingga berubah sebagai Kerajaan Mataram Islam. Dalam hal ini, dia mendapat gelar Panembahan Senopati dan menjadi raja yang pertama.

Read More

Sejarah Kejayaan Mataram Islam

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Mataram Islam merupakan sebuah kerajaan yang pernah berjaya dan berkuasa sepanjang abad ke 16 hingga abad ke 18 M dibawah kepemimpinan Ki Ageng Pamanahan yang juga sosok pemimpin pertama dan orang yang mendirikan kesultanan di tanah Jawa ini. Dilansir dari jurnal bertajuk “Sejarah Perkembangan Mataram Islam Keraton Plered”, berkat keberhasilan Ki Ageng Pemanahan dalam membunuh Arya Penangsang dalam perang perebutan tahta atas Demak, membuat dirinya mendapat hadiah tanah di Mataram dari Sultan Pajang. Tanah tersebutlah yang dijadikan Ki Ageng Pemanahan dan para pengikutnya membuka hutan untuk dijadikan tempat pemukiman dan menjadikan sebuah dinasti sendiri yang disebut Mataram Islam. Kerajaan Mataram Islam pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura. Kesultanan ini juga pernah dua kali menyerang VOC di Batavia untuk mencegah semakin berkuasanya perdagangan itu. Kejayaan Mataram Islam mengalami Masa keemasan Kesultanan Mataram terjadi pada era kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593 – 1645). Raja yang punya nama asli Raden Mas Jatmika ini naik tahta ketika masih berusia 20 tahun. Mengutip dari laman Kebudayaan Jogja, Sultan Agung dikenal sebagai salah satu raja yang berhasil membawa kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada 1627, tepatnya setelah empat belas tahun Sultan Agung memimpin kerajaan Mataram Islam. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, daerah pesisir seperi Surabaya dan Madura berhasil ditaklukan. Sepanjang tahun 1613 sampai 1645, kesultanan ini aktif memperluas wilayah kekuasaannya hingga mencakup hampir seluruh Pulau Jawa.

Read More

Kalahnya Sultan Hadiwijaya Oleh Pasukan Gaib Panembahan Senopati

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Dikisahkan, Raja Pajang Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang berkuasa pada 1568-1583 M pernah mengalami kekalahan dalam pertempuran melawan Kerajaan Mataram di bawah kekuasaan Panembahan Senopati. Pertempuran antara ayah dengan anak angkat ini berlangsung singkat namun menyimpan cerita mistis. Kerajaan Mataram dikisahkan mengerahkan pasukan gaib hingga berhasil mengalahkan prajurit Kerajaan Pajang. Panembahan Senopati saat itu meminta bantuan makhluk gaib yang menimbulkan gejolak alam dan membuat Pasukan Pajang kalah dalam pertempuran yang berlangsung di Prambanan, perbatasan DIY dengan Jawa Tengah saat ini. Padahal secara jumlah kekuatan pasukan pertempuran di Prambanan, Kerajaan Pajang lebih banyak mengerahkan pasukan daripada Mataram. Kekalahan ini membuat sang Sultan Pajang melarikan diri dari kejaran musuh. Berdasarkan tulisan De Graaf dalam bukunya “Puncak Kekuasaan Mataram : Politik Ekspansi Sultan Agung”, dikisahkan bagaimana sang Sultan Pajang yang dikenal kesaktiannya dan digdaya akhirnya memilih melarikan diri ke kawasan Tembayat yang keramat pascapertempuran dengan Mataram. Kisah itu juga disebut di Babad Tanah Djawi yang mengisahkan Sultan Pajang terpaksa melarikan diri dan ingin berdoa di Makam Tembayat, tetapi pintu makam tidak dapat dibuka. Dalam Serat Kandha, kisah pelarian Sultan Pajang usai kekalahan pertempuran melawan tentara gaib Mataram ini dijelaskan lebih singkat. Pada pelariannya ke Tembayat membuat Raja Pajang berusaha membuka pintu makam, tetapi sia-sia. Karena itu ia memanjatkan doa di luar. Sultan Hadiwijaya memiliki firasat tentang akan berakhirnya pemerintahannya dan hidupnya. Firasat itu di antaranya jatuhnya raja dari gajah yang ditungganginya disebabkan oleh binalnya hewan itu.

Read More