Penemuan Candi Megah Bawah Tanah di Trowulan Mojokerto, Harta Karun Majapahit Kembali Muncul

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Mojokerto banyak dikenal sebagai pusat peradaban kerajaan paling ternama di nusantara pada masanya yaitu Kerajaan Majapahit. Berbagai peninggalan kerajaan tercatat rapi di Mojokerto, mulai dari prasasti, petirtaan hingga candi-candi. Mojokerto sendiri merupakan wilayah tertua ke-10 di Provinsi Jawa Timur. Sementara itu, nama Mojokerto sendiri sangat erat kaitanya dengan kerajaan Majapahit. Mojokerto juga merupakan bekas Ibu Kota Kerajaan Majapahit pada abad 13 hingga abad 15. Jejak Mojokerto sebagai daerah kerajaan semakin kuat manakala menurut catatan sejarah bahwa Mojokerto merupakan daerah pertama yang disinggahi Raden Wijaya saat mengembara menuju Lumajang. Jejak Kerajaan Majapahit di Mojokerto makin eksis dan kuat manakala hampir di setiap sudut daerah ini terdapat peninggalan kerajaan. Salah satunya yaitu berada di kawasan Trowulan, dimana di tempat ini banyak ditemukan keramik, mata uang logam, sumur kuno, candi hingga benda seperti pecahan tembikar. Melansir dari youtube channel Daftar Populer, dikabarkan bahwa sekelompok petani di Mojokerto berhasil menemukan candi megah di bawah tanah. Penemuan candi megah di bawah tanah ini bermula dari petunjuk mimpi salah satu petani tersebut.

Read More

Keris Kiai Cokro Senjata Unik Milik Pangeran Diponegoro

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pangeran Diponegoro merupakan salah satu pahlawan nasional yang berjuang melawan Penjajah Belanda. Sebagai seorang pejuang sekaligus pemimpin, Pangeran Diponegoro acap kali terlihat menyandang pusaka. Bagi sebagian besar orang, mungkin hanya mengenal beberapa pusaka Pangeran Diponegoro seperti keris Kanjeng Kyai Bondoyudo, keris Kyai Nogo Siluman, wedung Kyai Wreso Gumilar, dan lain-lain. Namun di antara deretan pusaka Pangeran Diponegoro, ada sebuah pusaka yang tak kalah istimewa. Sekretaris Umum Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) Pandu Setyawan menyatakan, dari sekian banyak pusaka milik Pangeran Diponegoro, ada sebuah pusaka yang cukup unik dan jarang disandang Pangeran Diponegoro. Pusaka ini bernama Kanjeng Kyai Cokro. “Kanjeng Kyai Cokro merupakan pusaka piandel, di mana hanya disandang saat momen khusus. Berbeda halnya dengan keris Kanjeng Kyai Bondoyudo, yang hampir selalu terlihat dipakai, bahkan mendampingi beliau hingga akhir hayat,” ucap Pandu.

Read More

Mengenali Mahamenteri Kartini, 3 Pembantu Raja dalam Mengatur Kerajaan Majapahit

Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Minggu, 23 Juli 2023 – 06:41 WIB oleh Avirista Midaada dengan judul “Kisah Mahamenteri Kartini, 3 Pembantu Raja dalam Mengatur Kerajaan Majapahit | Halaman 3”. Untuk selengkapnya kunjungi:https://daerah.sindonews.com/read/1158175/29/kisah-mahamenteri-kartini-3-pembantu-raja-dalam-mengatur-kerajaan-majapahit-1690067227/20 Untuk membaca berita lebih mudah, nyaman, dan tanpa banyak iklan, silahkan download aplikasi SINDOnews.– Android: https://sin.do/u/android– iOS: https://sin.do/u/ios Mojokerto — 1miliarsantri.net : Kerajaan Majapahit pernah menjadi kemaharajaan besar di Nusantara sejak akhir abad ke-13 hingga abad ke-16 Masehi. Kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Timur ini memiliki struktur pemerintahan dan pembagian area dengan masing-masing pemimpinnya. Dalam menjalankan pemerintahan, ada tiga mahamenteri yang membantu sang raja. Berbagai piagam Majapahit mencatat bahwa perintah raja ditampung tiga mahamenteri, yang disebut mahamenteri kartini terdiri dari Mahamenteri Hino, Mahamenteri Halu, dan Mahamenteri Sirikan. Kemudian perintah itu disalurkan kepada para tandapakirakiran makabehan, termasuk sang panca Wilwatikta. Demikianlah kedudukan Mahâmenteri Kartini itu dalam pemerintahan negara terlalu tinggi dan mahamantri katrini sudah dikenal sejak pemerintahan raja Kertarajasa. Tetapi, ketiga mahamenteri itu tidak mempunyai wewenang dalam urusan pemerintahan negara secara langsung. Urusan pemerintahan negara ada di tangan sang panca Wilwatikta yang dikepalai oleh patih seluruh negara, seperti dinyatakan dalam Nagarakretagama pupuh 10. Sang panca Wilwatikta terdiri dari patih, demung, kanuruhan, rangga, dan tumenggung. Artinya secara kesimpulan jabatan Mahamenteri Kartini ini konon telah ada sejak awal pembentukan negara Majapahit, sebagaimana tercantum dalam Piagam Kudadu dan Piagam Pemanggungan. Jika susunan Mahamenteri Kartini dalam O.J.O. LXXXIV dibanding dengan susunan Mahamenteri Kartini pada Piagam Bendasari, terdapat dua nama yang sama, yakni Dyah Iswara dan Dyah Ipoh, tetapi berbeda kedudukannya.

Read More

Keris Kiai Naga Siluman Milik Pangeran Diponegoro Yang Telah Hilang Ratusan Tahun Lalu, Akhirnya Kembali

Jakarta — 1miliarsantri.net : Keris Kiai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro yang sempat hilang ratusan tahun telah ditemukan di Belanda dan resmi diserahkan ke Museum Nasional Indonesia di Jakarta pada 5 Maret 2020 lalu. Penyerahan keris Kiai Naga Siluman itu dilakukan Duta Besar Indonesia untuk Belanda saat itu, I Gusti Agung Wesaka Puja dan diterima langsung oleh Kepala Museum Nasional Indonesia Siswanto. “Ini momentum bersejarah dengan kembalinya keris Pangeran Diponegoro sejak keluar dari tanah air kita 150 tahun lalu,” kata I Gusti Agung Wesaka Puja dikutip dari laman BBC Indonesia. Sejarawan Belanda, Caroline Drieenhuizen mengatakan Belanda selalu ragu terkait pemulangan artefak-artefak Indonesia. “Kalaupun dikembalikan, mereka melakukannya seperti keinginan baik mereka, bukan karena Indonesia punya hak untuk mendapatkan barang itu kembali. Mereka tidak merasa itu,” kata Caroline. Keris Pangeran Diponegoro tersebut dikabarkan sempat hilang dan Caroline menyatakan museum-museum itu tidak mencari dengan benar.

Read More

Perjalanan Jenderal Sudirman, Mulai Guru SD Hingga Menjadi Jenderal

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : “Dan hari ini saya dengan rasa khidmat akan melantik saudara Soedirman menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat kita dengan pangkat Jenderal. Kewajiban seorang panglima besar bagi kita adalah berat sekali,” Demikian ucapan Presiden Sukarno saat melantik Soedirman menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 18 Desember 1945 di Markas Besar Tentara di Gondokusuman, Yogyakarta. Pengangkatan Kolonel Soedirman yang masih berumur 29 tahun menjadi orang nomor satu di TKR di luar dugaan Belanda saat itu, karena dalam pemilihan Panglima Besar TKR, Soedirman harus bersaing dengan Hamengkubuwono IX, Widjoyo Soeryokusumo, GPH Purbonegoro, Oerip Soemohardjo, Suryadarma, M Pardi, dan Nazir. Peluang Soedirman menjadi panglima besar sangat tipis. Setelah pemilihan, sebuah surat kabar Belanda mengejek dan meremehkan pengangkatan Soedirman menjadi panglima. “Republik Indonesia mengangkat seorang guru SD menjadi panglima besar. Tahu apa guru sekolah itu!” tulis media Belanda seperti dikutip dari buku Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman yang ditulis oleh Letjen (Purn) Tjokropranolo terbitan CV Haji Masagung 1993. TKR terpaksa menggelar rapat pemilihan panglima besar karena di kalangan pucuk pimpinan TKR daerah merasakan adanya satu kekurangan, yaitu Soepriyadi sebagai pimpinan tertinggi TKR yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno tidak pernah muncul. Atas dasar itu, ada keinginan kuat di kalangan pimpinan markas tinggi TKR untuk memilih dan mengangkat seorang perwira tinggi guna menggantikan Soepriyadi. Kemudian, pada 12 November 1945 di Markas Tinggi Tentara Keamanan Rakyat (MTTKR) di Gondokusuman, Yogyakarta, menggelar Konferensi Besar TKR. Selain dihadiri oleh hampir semua Komandan Divisi dan Resimen TKR, Konferensi juga dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuono IX, Sunan Pakubuwono XII, dan Mangkunegoro X. Utusan dari Sumatra yang hadir hanya seorang, yaitu Kolonel Moh Noeh mewakili enam Divisi di Sumatera, sedangkan wakil dari Jawa Timur tidak hadir lengkap karena sedang menghadapi keadaan genting sebagai akibat peristiwa 10 November. Hadir pula beberapa mantan KNIL seperti Didi Kartasasmita, Jatikusumo (KNIL dan PETA), Gatot Soebroto (KNIL dan PETA), dan Suryadarma. Awalnya, konferensi yang dipimpin Kepala Staf Umum Letjen Oerip Soemohardjo berjalan lancar. Namun, suasana tiba-tiba menjadi tegang ketika diumumkan akan dilanjutkan rapat lain yang tidak dapat ditunda, yakni memilih calon-calon yang akan dipilih menjadi pimpinan tertinggi TKR. Karena dadakan, peserta yang hadir belum siap dengan calon-calonnya. Suasana tegang menjadi tenang dan hangat setelah Soedirman meminta rapat diskors untuk memilih calon-calon. Pada saat itu sudah kelihatan kebijaksanaan dan kearifan Soedirman yang ketika itu berpangkat Kolonel dengan senjata dan pasukannya yang paling banyak. Ketika rapat dimulai lagi, rapat dipimpin oleh Holland Iskandar. Pemilihan berjalan secara terbuka, demokratis. Ada delapan nama calon yang tercantum di papan tulis, di antaranya Hamengkubuwono, Widjoyo Soeryokusumo, GPH Purbonegoro, Soemohardjo, Soedirman, Suryadarma, M. Pardi, dan Nazir. Tata cara pemilihan dilakukan dengan hanya mengangkat tangan satu persatu, setelah nama-nama calon disebutkan oleh panitia. Pemilihan dilakukan tiga kali. Yang pertama dua orang calon gugur. Pemilihan selanjutnya dua orang calon juga gugur lagi. Barulah pada pemilihan yang ketiga, giliran nama Kolonel Soedirman disebut.

Read More

Berikut 10 Pondok Pesantren Tertua dan Masih Berkembang Hingga Saat Inu

Jakarta — 1miliarsantri.net : Perjuangan kemerdekaan Indonesia, tidak terlepas dari peran penting para Kiai dan Santri yang berada dilingkungan Pondok Pesantren. Perjuangan, pengabdian serta pengorbanan mereka pada saat itu sangat luar biasa, hingga mengalami berbagai macam ancaman dan sebagainya. Dari sekian banyak Pondok Pesantren di Indonesia, terdapat 10 Pondok Pesantren tertua dan tercatat dalam sejarah perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Berikut kami sajikan 10 Pondok Pesantren tertua di Indnesia yang telah di himpun tim redaksi 1miliarsantri.net : Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani merupakan anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahnya bernama Sayid Abdur Rasyid bin Abdul Majid Al-Hasani dan ibunya bernama Syarifah Zulaikha binti Mahmud bin Abdullah bin Sayid Shahabuddin Al-Huseini seorang qodhil qudhoh di Inath. Ayah dari Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani merupakan keturunan Rasulullah Saw ke-22 dari Sayidina Hasan ra., melalui jalur Sayid Abdul Bar yang merupakan putera dari Sayid Abdul Qadir al-Jaelani al-Baghdadi. Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani datang ke Jawa tahun 852 H/1448 M ketika masa pemerintahan Prabu Kertawijaya Majapahit atau yang dikenal dengan julukan Prabu Brawijaya I (1447 – 1451). Sayyid Sulaiman, yang merupakan keturunan Rasulullah SAW dari marga Basyaiban asal Cirebon, Jawa Barat. Ia adalah putra dari Sayyid Abdurrahman, seorang perantau dari Hadramaut, Yaman. Sedangkan ibunya bernama Syarifah Khodijah, putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Kiai Syafii Pijoro Negoro merupakan keturunan dari Ki Ageng Gribig, Jatinom, Klaten. Sebelum menetap di Kampung Dondong, Kiai Syafii menjadi salah satu Komandan Pasukan Sultan Agung yang ikut menyerbu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia (Jakarta) pada 1629. Setelah peristiwa penyerbuan itu, Kiai Syafii singgah dan kemudian bermukim di Kampung Dondong. Pada mulanya, setelah menetap di Kampung Dondong, Kiai Syafii mendirikan padepokan. Namun, yang datang untuk belajar justru santri, yang hendak belajar ilmu agama. Maka, padepokan itu pun bertransformasi menjadi pesantren ditandai dengan dibangunnya musala yang kini dikenal sebagai Musala Abu Darda’. Hingga kini musala itu masih berdiri kukuh setelah mengalami beberapa kali renovasi. Adalah Kiai Abdul ‘Allam perintis pendirian pondok pesantren yang berada di Desa Prajjan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, ini. Sejarah perjuangan Kiai Abdul ‘Allam hingga merintis pendirian pesantren Nazhatut Thullab terekam dalam Babad Ranah Pajjan. Ia yang membuka daerah yang kini dikenal sebagai Desa Prajjan itu. Konon, Kiai Abdul ‘Allam memiliki nama asli Pang Ratoh Bumi. Ia berasal dari Sumenep, kota yang terletak di ujung timur Pulau Madura. Kiai Abdul ‘Allam adalah nama pemberian dari Hadratus Al Syaikh Aji Gunung Sampang, gurunya mengaji. Saat berguru pada Syaikh Aji Gunung, atau dikenal juga dengan julukan Buju’ Aji Gunung, Kiai Abdul ‘Allam memiliki dua sahabat karib dari Jawa yang memperoleh julukan Buju’ Napo dan Gung Rabah Pamekasan. Kedua sahabat ini ikut mewarnai perjalanan hidup Abdul ‘Allam. Berdasarkan hikayat yang berkembang di masyarakat, Kiai Abdul ‘Allam termasuk salah seorang yang intens melakukan komunikasi dengan Pangeran Cakra Ningrat II ketika sang pangeran ini ditangkap dan diasingkan oleh Penjajah Belanda ke Madura. Peristiwa itu terjadi pada periode 1674-1679. Pada saat itu, Kiai Abdul ‘Allam dan Pangeran Cakra Ningrat II sering membahas perjuangan rakyat melawan Belanda. Karena itu, berdasarkan hikayat ini, Kiai Abdul ‘Allam menjadi salah satu tokoh perlawanan terhadap Belanda bersama Pangaran Cakra Ningkrat II. Nama asli Ki Jatira adalah Syekh Hasanuddin bin Abdul Latif dari Kajen Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon. Syekh Hasanuddin merupakan seorang pengembara yang selalu menyebarkan Islam di wilayah yang disinggahinya. Tidak terkecuali di pedukuhan Babakan. Di wilayah ini, syekh Hasanuddin membuat mushola kecil yang digunakan untuk mengajarkan tentang agama Islam. Julukan Ki Jatira sendiri disematkan oleh murid-murid Syekh Hasanuddin, karena kebiasan Syekh Hasanuddin yang beristirahat dibawah dua pohon jati ketika sedang membangun mushola. Julukan jatira sendiri mengandung arti Jati = pohon jati, ra=loro (dua). Dipilihnya wilayah Babakan untuk dikembangkan menjadi wilayah pesantren, dikarenakan sosok Ki Jatira yang sangat dekat dengan masyarakat miskin. Kondisi Babakan yang memiliki lahan yang cukup kering dan sulit untuk dikembangkan dalam sektor pertaniannya, membuat Ki Jatira tertantang untuk mengembangkan wilayah tersebut sebagai pusat pendidikan Islam dan menjaga masyarakat untuk lepas dari pengaruh kekuasaan belanda.

Read More

Diantara Deretan Walisongo Yang Dianggap Keturunan Tionghoa

Surabaya — 1miliarsantri.net : Peranan Wali Songo dalam penyebaran Islam di tanah Jawa pada abad 15 dan 16 tercatat dalam sejarah perkembangan Islam Nusantara. Setiap wali dipanggil dengan sebutan sunan, yang berasal kata susuhunan, yaitu sebutan bagi orang yang dihormati. Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, gelar Sunan untuk Wali Songo disebabkan para wali itu dianggap memiliki karamah atau kemampuan di luar kelaziman. Dalam menyebarkan agama Islam, para waliyullah yang merupakan kumpulan para ulama tersebut menamakan dirinya Dewan Dakwah yang melakukan pendekatan masyarakat melalui strategi budaya, pernikahan, maupun pendidikan. Berikut nama-nama sembilan wali yang dikenal dan diketahui sebagian besar masyarakat : Dinukil dari buku Prof Hembing Pemenang The Star of Asia Award oleh Siti Nafsiah, empat dari sembilan tokoh Wali Songo masih mempunyai hubungan dengan keturunan Tionghoa, yaitu Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Pengetahuan mengenai beberapa wali dari Wali Songo yang dianggap sebagai orang keturunan Tionghoa juga diungkapkan oleh Profesor Kong Yuanzhi, seorang profesor Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Indonesia Universitas Peking, diantaranya : Menurut Lee Khoon Choy, Sunan Ampel sebenarnya adalah Bong Swee Hoo, yaitu seorang muslim Tionghoa yang menganut mazhab Hanafi yang tiba Indonesia pada tahun 1445. Sunan Ampel tinggal di muara Sungai Brantas, Jawa Timur pada 1447-1451. Kemudian pindah ke Ampel. Sunan Ampel sangat bersahaja dan piawai serta sederhana. la termasuk perintis berdirinya Kerajaan Demak Bintaro. Sunan Ampel juga berjasa dalam mengharumkan nama Glagah Wangi yang kemudian menjadi pusat pengajaran Islam pada masa itu dan ikut memprakarsai pembangunan Masjid Demak bersama Sunan Kalijaga. Menurut S. Wardi dalam bukunya yang diterbitkan oleh surat kabar Wahyu, dituturkan bahwa terdapat seorang Tionghoa yang bernama Oei Tik To yang berputra seorang bupati Tuban yang bernama Wirotikto. Selanjutnya, Wirotikto ini memiliki putra yang bernama Oei Sam lk atau biasa dipanggil dengan nama Said atau kini dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. Selain pandai dalam bidang agama Islam, Sunan Kalijaga juga sangat pandai bergaul, baik dengan rakyat jelata maupun kalangan atas dan para pemikir karena memang ia seorang politikus, ahli tasawuf, dan filosof. Berkat perjuangannya bersama para wali yang lain, Islam berhasil disebarkan kepada 75 persen sampai 90 persen masyarakat Jawa.

Read More

Napak Tilas Makam Sunan Amangkurat 1

Tegal — 1miliarsantri.net : Jika kita nerkunjung ke wisata religi Sunan Amangkurat I di Tegal, terlihat tidak seperti berkunjung ke pemakaman pada umumnya. Wisata religi Sunan Amangkurat I memiliki pesona Islam yang terlihat masih religius. Bukan hanya itu, di dalam wisata religi ini juga menyimpan peninggalan kerajaan mataram. Di area wisata religi ini terlihat rapi dan bersih, bahkan jauh dari kata seram. Dari luar, bangunan ini dikelilingi oleh tembok bata dengan luas sekitar 1,1 Ha. Tempat ini bukanlah lahan biasa, namun di lahan yang diberi nama Tegal Arum tersebut terdapat petilasan dan makam Raja Mataram Sunan Amangkurat I, yang pernah berjasa membangun pemerintahan Mataram serta menyebarkan ajaran Islam hingga ke wilayah Barat. Area makam yang masih mempertahankan bangunan lama dengan pagar dinding dari bata merah masih tertata rapi, bahkan jalan setapak menuju makam telah dipaving. Sehingga nampak bersih dan dibalut pepohonan yang rindang serta hamparan rerumputan, menambah lingkungan tersebut menjadi bersih dan nyaman untuk di kunjungi para peziarah yang datang secara periodik. Bangunan yang tercatat sebagai petilasan Raja-raja Mataram ini dilindungi oleh undang-undang cagar budaya Indonesia yang harus dirawat keberadaannya. Untuk menjaga keaslian tempat tersebut masih mempertahankan pagar dan ornamen bangunan dengan bata merah meski telah mengalami pemugaran pada 1982 dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr Daoed Joesuf. Ornamen tersebut dipertahankan karena ada kesamaan ciri khas, seperti di kerajaan Kasultanan Plered, di Cirebon Jawa Barat. Di Plered inilah Sunan Amangkurat I pernah berkuasa. Memasuki kompleks makam raja Mataram ini kita harus melewati tiga pintu, masing masing pintu memiliki makna filosis yang masih bercampur dengan ajaran Kejawen. Pintu pertama dijadikan penanda awal kehidupan manusia dan pintu kedua sebagai perlambang kehidupan selanjutnya. Di pintu kedua ini juga terdapat makam keturunan Sunan Amangkurat dan orang-orang yang pernah dekat dengan Sunan Amangkurat. Di sini banyak ditumbuhi pohon sawo kecil sebagai pertanda kebaikan dari orang-orang yang disemayamkan di tempat tersebut, sedangkan pintu ketiga merupakan pintu pembatas dunia dan akhirat. Pada pintu kamu akan menuju makam utama yang berbentuk bangunan Joglo dengan dinding kayu jati yang kokoh dan terletak di gundukan tanah tinggi yang konon berbau harum. Sedangkan di sekitar makam utama di tanah datar disemayamkan juga Ratu atau isteri pertama Sunan Amangkurat dan dua anak Sunan Amangkurat yaitu Klenting Kuning. Sunan Amangkurat I merupakan putra ke sepuluh dari Sultan Agung yang lahir pada tahun 1619. Nama aslinya adalah Raden Mas Sayidin. Pada tahun 1645 beliau diangkat menjadi Raja mataram menggantikan ayahnya dan mendapat gelar Susuhunan Ing Alaga.

Read More

Masjid Agung Kota Tegal, Antara Kebesaran dan Bukti Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro

Tegal — 1miliarsantri.net : Penting untuk mengetahui misteri sejarah dan keunikan Masjid Agung Tegal agar semangat dalam memperjuangkan kehidupan tetap terjaga. Inilah misteri sejarah dan keunikan Masjid Agung Tegal yang menjadi saksi bisu perang Dipenogoro. Selain bangunan masjid yang besar dan megah, ternyata terdapat sejarah di dalamnya serta keunikan yang masih jarang diketahui. Masjid Agung Kota Tegal berdiri diatas tanah yang diwakafkan oleh seorang Penghulu I yang juga berprofesi sebagai tokoh agama dan muballigh bernama Kiai Abdul Aziz. Luas tanah wakaf pembuatan masjid ini mencapai 2.864,36 m2. Masjid Agung Kota Tegal ini diperkirakan dibangun pada tahun 1825 M. Bagaimana sejarah tercipta pada masjid ini? Dan apa keunikan yang berada di dalamnya? Simak artikel ini sampai selesai. Di antara riwayat perang epik antara Pangeran Diponegoro dan penjajah Belanda yang dikenal sebagai Perang Jawa, terdapat sebuah bangunan yang menyimpan sejuta cerita. Masjid Agung Kotamadya Tegal, Jawa Tengah, memiliki hubungan erat dengan periode bersejarah tersebut. Pada rentang tahun 1825-1830, ketika Perang Jawa pecah, K.H. Abdul Aziz mulai membangun masjid ini. Kehadiran masjid ini pada masa perang menjadikannya saksi bisu perlawanan Pangeran Diponegoro dan pengikut setianya dalam mempertahankan kebenaran. K.H. Abdul Aziz, pendiri masjid ini, adalah seorang ulama dan penghulu pertama di kota Tegal. Dia juga memiliki hubungan keluarga dengan Raden Reksonegoro, Bupati Tegal saat itu. Karena ikatan kekerabatan dan ikatan ukhuwah islamiyah yang kuat, pembangunan Masjid Agung Tegal berlangsung lancar tanpa hambatan. Menurut catatan sejarah, Masjid Agung Tegal telah mengalami beberapa kali renovasi sejak didirikan. Pada tahun 1927, ruang paseban masjid direnovasi karena sudah tidak representatif lagi. Sebagai penggantinya, dibangunlah KUA (Kantor Urusan Agama), tempat bagi umat Islam Tegal untuk melangsungkan pernikahan. Pada tahun 1953-1954, Masjid Agung yang terletak di sebelah barat alun-alun kota Tegal ini mengalami renovasi besar-besaran. Serambi depan masjid diperluas ke arah depan sehingga menyatu dengan KUA. Untuk memenuhi kebutuhan jamaah akan air wudhu, tempat wudhu sebelah kanan masjid diperbaiki pada tahun 1970. Pada tahun 1985, atap masjid dirombak dan diganti dengan atap tumpang, memberikan tampilan yang lebih modern pada bangunan masjid ini. Namun, meskipun atapnya telah diperbaharui, jika kita melihat masjid ini dari belakang, gaya arsitektur modernnya tidak akan terlihat.

Read More

Kedekatan Raja Mataram Dengan Generasi Utsmani Turki Serta Keinginan Pangeran Diponegoro Meninggal di Makkah

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Meski Pemilihan Presiden (Pilpres) masih delapan bulan mendatang, nama Pangeran Diponegoro ramai disebut-sebut. Prabowo Subianto ketika memaparkan visi dan misinya di depan para wali kota se-Indonesia di Makassar menyatakan akan memindahkan makam Pangeran Diponegoro ke Jawa. Sontak pernyataan ini memicu banyak komentar. Sayangnya, komentar yang keluar negatif. Baik masyarakat di Makassar dan para anak keturunan Pangeran Diponegoro yang ada di Yogyakarta menolak keras. Raja Ngayogyakarto Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X tegas menolak wacana Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang ingin memindahkan makam pahlawan nasional Pangeran Diponegoro dari Makassar kembali ke kampung halamannya di Yogyakarta. “Kalau saya enggak usah, Pangeran Diponegoro di sana [Makassar] juga dihargai oleh masyarakat,” ujar Sultan di Yogyakarta, Minggu (16/07/2023). Sultan menilai warga Makassar pun menjaga sekaligus menghormati keberadaan makam sosok pahlawan dengan nama asli Bendara Raden Mas Antawirya. Oleh karena itu, menurut Sultan, wacana pemindahan itu tak perlu dilaksanakan. Melihat itu tampaknya usulan pemindahan makam Diponegoro akan mentok. Publik lebih menyukai sekaligus bangga bila Pangeran Diponegoro di makamkam di Makssar. Apalagi anak cucu dan keturunan nya pun sampai kini banyak tetap berada di tempat itu. Mereka bangga dan menjaga makam leluhurnya yang sangat dihormati. Meminjam istilah pangeran Diponegoro itu sebagai ‘takdir’. Perlu diketahui pula, sosok Pangeran Diponegoro muncul sebagai semangat perjuangan politik kemerdekaan itu selepas 50 tahun dari wafatnya di Makasar pada tahun 1850. Diponegoro ‘bangkit dari kuburnya’ setelah Sarikat Islam menggaungkan nama dan jasa perjuangannya dalam setiap rapat-rapatnya. Mulai saat itu poster Pangeran Dipoengoro tersebar luas. Rakyat yang sebelumnya hanya tahu dari mulut kemulut, kini dapat mengetahui sosok Pangeran Diponegoro secara lebih jelas. Pangeran Diponegoro bukan lagi nama khayali. Tapi nyata dan ada! Bila dibaca pada serat ‘Babad Diponegoro’ yang ditulis sang pangeran sendiri, dia tak secara jelas menunjuk tempat dia dimakamkan kelak bila tutup usia. Dalam buku ‘Kuasa Ramalan’ karya sejarawan Inggris Peter Carey, obsesi masa tua Pangeran Diponegoro adalah mengakhiri hidupnya di Makkah. Yang paling unik adalah kebiasannya meminum Air Zamzam. Pada bagian itu jelas di sebut Pangeran Diponegoro dalam babadnya. Pater Carey pun menulis bila sang Pangeran ketika berada di pembuangan Makassar berkali-kali meminta agar diizinkan pergi ke Makkah untuk berhaji. Obesesi Pangeran Diponegoro untuk berhaji dan tinggal di Makkah tampak pada beberapa peristiwa ketika pangeran ini menjalani masa awal penangkapan, berlayar menuju tanah pengasingan, dan tinggal di pembuangan. Catatan komandan tentara De Stuers melaporkan betapa pangeran itu pergi berangkat ke pengasingan dengan tetap memakai pakaian ala ulama atau haji: ‘’Diponegoro tampak senang mengamati banyak orang di dermaga. Karena rasa ingin tahu ia menutupi muka dengan ujung sorbannya, yang justru membuat kerumunan merasa lebih tertarik kepadanya…’’ Bahkan guna menunjang semangatnya, Diponegoro sempat meminum sebotol air zamzam yang diberikan kepadanya di Magelang oleh seorang haji yang baru kembali dari tanah suci. Menurut Dipongero: air ini (zamzam) yang diminum para Muslim terkemuka yang telah memahami rahasia agung ajaran agama Rasul.” Tak hanya itu, selama dalam perjalanan menuju tanah pengasingan, di atas kapal dari Semarang ke Jakarta, Diponegoro selalu menuntut hak atas kepastian di mana dia akan diasingkan.”Orang tahu bahwa saya ingin mendapat kepastian mengenai hak-hak legal saya apakah akan dikirim ke Makkah atau ke tempat lain.”

Read More