Syekh Abdul Karim Amrullah, Tokoh Pembawa Muhammadiyah Pertama di Sumatera

Jakarta — 1miliarsantri.net : Memasuki abad ke-20 muncul gerakan modernisme Islam di Minangkabau. Peran kaum ulama dan saudagar signifikan sekali. Mereka tidak hanya sibuk berdagang, tapi juga mendukung lalu lintas keilmuan para kaum terpelajar untuk menimba ilmu di Tanah Suci. Di lingkup internal, kalangan ulama menghadapi beberapa kecenderungan adat yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Secara eksternal, tantangan terbesarnya adalah kolonialisme yang kian pesat di masa itu. Salah seorang tokoh Minangkabau yang termasuk kalangan pembaru adalah Syekh Abdul Karim Amrullah. Dia lahir di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Sumatra Barat, pada 1879. Sebagaimana anak-anak dari keluarga Minangkabau waktu itu, dia dahulu tidak menempuh pendidikan formal yang dikelola pemerintah kolonial Belanda di Sumatra Barat. Saat berusia 15 tahun, Muhammad Rasul, demikian nama kecilnya, berangkat ke Makkah bukan hanya untuk beribadah haji, melainkan juga melanjutkan pengembaraan menuntut ilmu. Di Masjid al-Haram, dia belajar kepada ulama sekaligus imam besar asal Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib. Selain Abdul Karim Amrullah, ada pula tiga nama lain yang merupakan murid termasyhur dari Syekh al-Minangkabawi. Mereka adalah Syekh Tahir Jalaluddin al-Azhari (sepupu Abdul Karim Amrullah, lahir 1869), Syekh Muhammad Jamil Jambek (lahir 1860), dan Haji Abdullah Ahmad (lahir 1878). Tujuh tahun lamanya Abdul Karim Amrullah muda menimba ilmu-ilmu agama di Tanah Suci. Dia sempat pulang ke Tanah Air, tetapi berangkat lagi ke Makkah pada 1903. Tiga tahun kemudian, sosok reformis Islam ini kembali ke kampung halamannya di Sumatra Barat untuk mengamalkan ilmunya dan berdakwah. Ayahanda Buya Hamka ini termasuk yang paling awal memperkenalkan sistem pendidikan modern Islam di Sumatra Barat. Di sana Abdul Karim Amrullah pernah belajar tartil Alquran dengan Haji Muhammad Salih, tata bahasa Arab dengan Haji Hud at-Tarusan, Sutan Muhammad Yusuf, serta fikih dan tafsir Alquran dengan ayahandanya sendiri, Syekh Muhammad Amrullah. Syekh Abdul Karim Amrullah merupakan yang pertama memperkenalkan Muhammadiyah ke Sumatra Barat. Dia memang gemar berpergian ke luar Minangkabau, semisal, Semenanjung Malaya atau Jawa. Dalam perjalanan ke Malaya, menurut Murni Djamal, Syekh Abdul Karim kurang mendapat sambutan yang baik dari masyarakat setempat. Sebab, otoritas setempat menganggap gaya mengajarnya kurang ortodoks. Sebaliknya, di Jawa dia mendapatkan banyak sahabat, khususnya setelah menemui para pemuka Sarekat Islam dan Muhammadiyah. Ini wajar karena, umpamanya, KH Ahmad Dahlan selaku pendiri ormas Islam itu pun pernah satu guru dengannya selama di Makkah, yakni di bawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sejak 1925, Muhammadiyah tumbuh dan berkembang dengan pesat di Bumi Minangkabau berkat rintisan Syekh Abdul Karim. Buya Hamka dalam bukunya, Ayahku, menjelaskan, sebenarnya Syekh Abdul Karim Amrullah pernah bertemu dengan HOS Tjokroaminoto pada 1917 dalam sebuah lawatan di Jawa. Sosok berjulukan raja Jawa tanpa mahkota itu kemudian menawarkan agar Syekh Abdul Karim memimpin Sarekat Islam di Sumatra. Namun, dia menolak tawaran ini. Sebab, kata Buya Hamka, dia tidak suka politik, meskipun cukup banyak murid-muridnya di Minangkabau yang terjun dalam pergerakan politik. Bukan hanya menyemarakkan Muhammadiyah di Sumatra Barat. Syekh Abdul Karim Amrullah juga merancang dan mempraktikkan cara pengajaran Islam yang lebih modern di masyarakat Minangkabau. Keberadaan surau sebagai tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan Islami direformasinya. Hasilnya berujung pada kemunculan lembaga Sumatra Thawalib, sebuah sistem sekolah yang banyak memunculkan insan-insan Muslim yang cerdas, kritis, dan berkiprah besar bagi pergerakan Muslim antikolonialisme. Sebut saja, Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang kerap menyuarakan kecaman keras terhadap praktik-praktik penjajahan Belanda atas Pribumi. Syekh Abdul Karim Amrullah juga ikut kerap menyuarakan antikomunisme di Sumatra Barat. Menurut Buya Hamka, sikap antikomunisme itu mulai menguat sejak Syekh Abdul Karim Amrullah tamat membaca buku Arradu ‘alad Dahriyin karya Jamaluddin al-Afghani. Pada 1920, Syekh Abdul Karim Amrullah menjadi penasihat Persatuan Guru Agama Islam (PGAI). Atas inisiatifnya, berdirilah Sekolah Normal Islam di Padang pada 1931 yang menyediakan pendidikan dasar. Pada masa itulah pemerintah kolonial Belanda mulai bersikap keras terhadap sekolah-sekolah yang didirikan swadaya masyarakat pribumi. Keluarlah peraturan ordonansi yang mengecap sekolah-sekolah itu berstatus “liar”. Syekh Abdul Karim memimpin gerakan yang mendesak pemerintah kolonial untuk mencabut aturan tersebut pada 1932. Hingga 1939, dia kerap mengadakan lawatan ke pelbagai daerah di Sumatra untuk mengajar, berceramah, dan membangun jaringan alim ulama. Sebagai pereformasi dakwah Islam, dia memiliki karakteristik keras dan tegas, tetapi mengimbau para muridnya untuk menjaga daya kritis. Menurut uraian Murni Djamal, dia tidak berkompromi terhadap otoritas lokal (adat) dan kaum tua sehubungan dengan praktik-praktik agama. Dia pun bersikap keras terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dia dapat secara terang-terangan mengecam orang yang mempraktikkan bid’ah. Kemudian, dia banyak mengkritik sikap taklid kaum Muslim pada umumnya dan tarekat Naqshabandiyah di zamannya. Bersama dengan Syekh Abdullah Ahmad di Padang dan Syekh Djamil Djambek di Bukittinggi, Syekh Abdul Karim di Padang Panjang berdakwah untuk membersihkan Islam dari kecenderungan taklid, bid’ah, dan keterpurukan. Ketiga tokoh pembaru Islam di Minangkabau itu saling dukung untuk mengentaskan sikap taklid di kalangan umat. Dalam sebuah risalahnya, Muqaddimah, Syekh Abdullah Ahmad menulis sebagai dukungan terhadap giat dakwah Syekh Abdul Karim Amrullah yang mengimbau agar kaum Muslim tidak bersikap fanatik buta terhadap keempat mazhab fikih. Kata Syekh Abdul Karim Amrullah, “Mereka (keempat imam pemuka mazhab fikih) bahkan mengimbau para pengikutnya agar kembali kepada Alquran dan hadis bilamana fatwa-fatwa mereka ketahui bertolak belakang dengan ajaran Alquran dan hadis.” Demikian pula dengan kaum adat. Syekh Abdul Karim Amrullah menegaskan bahwa ajaran-ajaran Islam hanya akan tersebar efektif di tengah masyarakat bilamana kaum penghulu (adat) dibimbing alim ulama. Dalam pemahaman Minangkabau yang sampai kini masih kuat, “Adat bersendikan syariat; syariat bersendikan Alquran.” Dengan demikian, praktik-praktik adat tidak dibenarkan bertentangan dengan ajaran Islam. Sebagai contoh, Syekh Abdul Karim Amrullah menulis sedikitnya dua buku, al-Fara’id dan Sendi Aman Tiang Selamat, yang mengkritik praktik pembagian harta warisan menurut adat yang berdasarkan garis ibu. Dalam buku yang tersebut terakhir, dia membedakan adanya harta pusaka yang bisa saja tidak menuruti hukum waris Islam karena harta itu milik suku. Buah kegigihan Syekh Abdul Karim Amrullah mendapatkan apresiasi, antara lain, dari pihak Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Dia bersama dengan Syekh Abdullah Ahmad merupakan orang Indonesia yang mula-mula memperoleh gelar doktor honoris causa (doktor kehormatan) dari salah satu kampus tertua di dunia Islam itu. Dalam sebuah bukunya, Taufiq Ismail (2011) menuliskan fakta unik tentang hubungan ayah-anak, yakni Syekh Abdul Karim Amrullah dan Buya Hamka. Keduanya sama-sama mendapatkan…

Read More

Amangkurat 1 Pekerjakan Secara Paksa 300 Ribu Orang di Ibu Kota Baru Mataram, Pasca Penggantian Sultan Agung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kerajaan Mataram bangkit berkat watak kuat Panembahan Senopati dan Sultan Agung. Tetapi demikianlah keruntuhan kerajaan tersebut disebabkan oleh sifat-sifat kejam anak-cucu mereka, yaitu Sunan Tegalwangi yang selalu curiga dan membawa malapetaka. Sunan Tegalwangi adalah julukan untuk Susuhunan Amangkurat I. Sifat kejam Amangkurat I yang dimulai dengan membunuh Tumenggung Wiroguno, berlanjut pada proyek pemindahan ibu kota mulai 1648. Saat Amangkurat I memindahkan ibu kota Mataram dari Kartosuro ke Plered, pejabat-pejabat yang tidak menyetujuinya, ia beri hukuman. Ia juga mempekerjakan secara paksa 300 ribu orang di ibu kota baru. “Beberapa pejabat tinggi yang tidak mau turut membantu dalam pekerjaan itu disuruhnya … ikat dan dibaringkan di paseban, dijemur dalam panas matahari,” tulis De Graaf mengutip catatan Winrick Kieft, utusan Kompeni yang dikirim ke Mataram pada November 1655. Untuk pembangunan ibu kota baru yang berkepanjangan itu, Amangkurat I juga mengerahkan 300 ribu tenaga kerja paksa pada 1661. Mereka diperkerjakan untuk meneruskan pembangunan danau yang belum tuntas. Danau untuk kesenangan Amangkurat I itu –tempat Amangkurat I bermain perahu– telah dibangun sejak 1651. Danau ini mengelilingi istana, sehingga tempat tinggal Amangkurat itu seperti pulau di tengah danau. Para penguasa dari pesisir juga dilibatkan dalam proyek ini. Mereka diberi tugas sebagai pengawas, sehingga tidak diperbolehkan pulang ke negerinya masing-masing. Pembuatan danau ini dilakukan dengan membendung sungai. Pada musim hujan 1661-1662, muncul banjir besar pada tengah malam, bendungan jebol. Pengerjaan danau pun berantakan, membuat Amangkurat I pusing kepala. Setahun sebelum membangun ibu kota baru, Amangkurat I menemukan kesempatan untuk menghabisi Tumenggung Wiroguno. Ini tumenggung yang istrinya pernah diculik oleh Amangkurat I sebelum naik tahta. Begitu naik tahta, ia mengambil hati Tumenggung Wiroguno dengan menaikkan jabatannya. Wiroguno menganggapnya sebagai anugerah raja, tetapi Amangkurat I menganggapnya sebagai taktik. Pada 1647 daerah taklukan Mataram di ujung timur Jawa, Blambangan, diserbu orang Bali. Amangkurat I berpura-pura marah dan menyatakan hendak berkunjung ke Blambangan. Namun, pejabat-pejabat pendukungnya tahau keinginan Amangkurat I yang sebenarnya, Mereka pun bermain drama, lalu menyarankan cukup mengutus Wiroguno untuk melihat Blambangan. Wiroguno pun pergi ke Blambangan, tetapi tidak pernah kembali. Pendukung Amangkurat I membunuh Wiroguno dengan alasan ia tidak menjalankan perintah raja secara tepat. Keluarga Wiroguno pun dihabisi. Sebelum pergi ke Blambangan, Wiroguno sempat membantu Pangeran Alit melakukan pemberontakan. Pangeran Alit yang gagal merebut posisi putra mahkota pada 1437, melakukan gerakan politik lagi pada 1647 di usianya yang ke-19. Pada tahun itu ia memerintahkan pendukungnya menyerang alun-alun selatan untuk melaksanakan kudeta. Ia mendapatkan dukungan dari kalangan santri. Namun, pemberontakannya bisa ditumpas oleh Amangkurat I dan Pangeran Alit terbunuh. Kepada rakyat, Amangkurat I menunjukkan belasungkawa atas kematian Pangeran Alit. Ia gunduli kepalanya, untuk menarik simpati kalangan santri. Namun, di balik tindakannya itu, ia mencari cara untuk membalas dendam kepada kalangan santri yang telah mendukung adiknya melakukan kudeta-gagal. Ia panggil empat orang kepercayaannya, yang sebaya dengannya, yang telah membantunya sejak ia belum menjadi raja. Mereka diinstruksikan untuk menyebar ke empat penjuru angin bersama para pengikut masing-masing. Tugasnya, jangan ada satu pun kalangan santri dan kiai yang luput dari tindakan tegas raja. Setelah mereka berada di posisi masing-masing, mereka akan bergerak setelah mendapat isyarat istana. Isyarat itu berupa bunyi tembakan senjata. “Belum setengah jam berlalu setelah bunyi tembakan, 5.000-6.000 jiwa dibasmi dengan cara yang mengerikan,” tulis De Graaf. Hamka menyebut angka sampai 7.000 santri dan kiainya yang menjadi korban tindakan raja ini. (mif) Baca juga :

Read More

Bayt Al Qur’an Kembangkan Mushaf Digital di Museum Istiqlal

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pengelola Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI) sedang mengembangkan mushaf Al-Qur’an Istiqlal menjadi koleksi interaktif yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Inovasi berbasis teknologi digital ini diciptakan untuk memberikan pengalaman yang memuaskan bagi pengunjung BQMI dalam menikmati keindahan setiap halaman mushaf Istiqlal. “Untuk melihat keindahan mushaf Istiqlal, pengunjung cukup melambaikan tangan di atas sensor layar digital. Tanpa ada sentuhan, secara otomatis lembaran-lembaran mushaf dalam bentuk digital akan terbuka. Jadi, lebih interaktif,” terang Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf AL-Qur’an (LPMQ), Abdul Aziz Sidqi, yang sekaligus sebagai penanggungjawab pengelolaan BQMI kepada 1miliarsantri.net, Ahad (17/12/2023). Aziz mengatakan, selama ini bagian dari mushaf Istiqlal yang didisplay di ruang pamer BQMI hanya surah Al Fatihah dan beberapa halaman surah lainnya dalam bentuk foto. Namun sekarang, dengan kemajuan teknologi, pengunjung bisa menikmati seluruh keindahan mushaf 30 juz dalam bentuk digital. “Untuk membuka ke kanan, tangan kanan yang dilambaikan, begitu juga sebaliknya, untuk membuka halaman ke kiri,” tambah Aziz. Mushaf Al Qur’an Istiqlal merupakan salah satu koleksi masterpiece BQMI. Teknik dan pola penulisan mushaf dirancang oleh tim yang terdiri dari ahli kaligrafi, ahli seni rupa, ulama Al-Qur’an, budayawan, dan pakar desain grafis dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Hingga saat ini, mushaf Istiqlal dianggap sebagai salah mushaf terindah yang dimiliki bangsa Indonesia. Keindahan mushaf Istiqlal terletak pada desain iluminasi (hiasan pinggir) mushaf yang merepresentasikan ragam budaya dari 27 provinsi di Indonesia. Dalam proses penulisannya, goresan awal teks mushaf ini dimulai oleh Presiden H. Muhammad Soeharto pada 15 Oktober 1991 M.Iluminasi mushaf ini sangat indah, mewakili kekhasan budaya dari 27 provinsi di Indonesia. “Ketika itu penulisan teks ayatnya diawali oleh Presiden Soeharto,” imbuhnya. Mushaf Istiqlal terdiri atas 970 halaman, lebih banyak dari mushaf-mushaf pada umumnya. Di setiap tepi halaman dihiasi iluminasi dengan nuansa khas Nusantara. Pada tiap 22 halaman, iluminasi diganti dari satu wilayah budaya ke wilayah budaya lainnya. Sistem penulisannya menganut kaidah /golden section/, yaitu, tata letak yang serasi, indah dipandang, dan tidak membuat penat mata pembacanya. Seorang pemandu di BQMI, Ibnu Athoillah, menjelaskan bagi pengunjung yang ingin menggunakan layanan digital ini, mereka harus memperhatikan jarak telapak tangan dengan sensor. Jaraknya harus proporsional, sekitar 20 cm di atas sensor, tidak boleh terlalu dekat atau terlalu jauh. “Kalau terlalu dekat, sensor tidak merespon, begitu juga kalau terlalu jauh. Jadi jaraknya harus pas, sekitar 20 sentimeter, lah, dari sensor,” jelas pemandu yang akrab dipanggil Atok ini sambil memeragakan tangannya di atas mushaf Istiqlal digital. (Iin) Baca juga :

Read More

Trunojoyo Dibesarkan di Keraton Mataram, Tapi Justru Melakukan Pemberontakan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Meski Raden Trunojoyo lahir di Madura, tetapi semenjak kecil ia diasuh di lingkungan Keraton Mataram. Ia dikenalkan kepada Putra Mahkota Mataram, yang di kemudian hari menjadi Amangkurat II dan membunuh Trunojoyo dengan keris. Pada 1656, Trunojoyo masih berusia tujuh tahun ketika ayahnya dibunuh saat Madura berperang dengan Mataram. Trunojoyo yang selamat, kemudian dibawa ke ibu kota Mataram, Plered. Pangeran (Adipati) Sampanglah yang membawa Trunojoyo masuk Keraton Mataram. Ia telah tinggal di Plered, di kemudian hari menjadi Cakraningrat II menggantikan ayahnya sebagai bupati Madura. Setelah dewasa, Trunojoyo melakukan pemberontakan terhadap Mataram. Alasannya, seperti yang ia kemukakan kepada perwira Kompeni Jacob Couper, ia mempunyai hak di Madura. Ayahnya, Demang Mloyo, jika tidak dibunuh, memiliki hak sebagai pengganti Cakraningrat I sebagai penguasa Madura. Pangeran Sampang, yang merupakan kakak dari Demang Mloyo lantas menjadi Cakraningrat II, meski sebenarnya ia tidak memiliki hak untuk itu. Terlebih, Cakraningrat II memimpin Madura dari Plered, tidak di Madura. Selain itu, ternyata juga ada persoalan pribadi antara Trunojoyo dengan Pangeran Sampang. Pangeran Sampang mencurigai Trunojoyo menjalin hubungan rahasia dengan keponakannya. Ketika Pangeran Sampang hendak menghabisi Trunojoyo, orang-orang Madura di Plered menyelamatkannya. Kepada perwira Kompeni Cornelis Speelman, Trunojoyo mengaku, “Dicurigai berbuat salah terhadap paman saya, yang ingin membunuh saya, padahal saya tidak bersalah.” Kepada perwira Jacob Couper, Trunojoyo mengaku, Pangeran Sampang hendak membunuhnya tanpa ia tahu kesalahannya. “Raja Mataram tidak menyelidiki masalah itu … tetapi juga ingin membunuh saya,” tulis Trunojoyo dalam suratnya untuk Couper. Trunojoyo juga menceritakannya kepada Putra Mahkota Pangeran Adipati Anom. “Mengapa mereka ingin merusakkan diri saya di Mataram? Saya juag diburu dan hendak dibunuh, dan itulah yang dilakukan Adipati Sampang tanpa membawa masalahnya kepada raja Mataram untuk diselidiki,” tulis Trunojoyo kepada Putra Mahkota. Dalam catatannya, Couper menyebut alasan Trunojoyo memberontak kepada Mataram. Adalah Demang Angantaka yang menjadi penyebabnya. Demang dari Balega, Madura, ini tidak mau menyerah kepada Pangeran Sampang. Ketika pada 1677 Trunojoyo menyerbu Mataram, Demang Angantaka ada di dalamnya. Demang Angantaka memiliki catatan buruk terhadap Pangeran Sampang. Pada 1673, ayah Angantaka dibunuh atas perintah Pangeran Sampang. Trunojoyo pada 1670 pulang ke Madura. Trunojoyo telah menjadi menantu Raden Kajoran. Dekat dengan Putra Mahkota, Raden Kajoran menyarankan Putra Mahkota mengirim Trunojoyo ke Madura unntuk membujuk orang-orang Madura agar tidak pergi ke Mataram, menghadap Pangeran Sampang yang sudah menjadi bupati Madura dengan gelar Cakraningrat II. Dengan cara itu, Pangeran Sampang itu akan terkucil di lingkungan keraton. Sebagai pertapa, Raden kajoran mengetahui masa depan Trunojoyo yang akan menjadi orang besar. Ia juga melihat, masa depan Mataram akan semakin surut dan Trunojoyo akan muncul. Di Madura, dengan cepat Trunojoyo memiliki pengaruh. Dan ketika ia harus memberontak terhadap Mataram, mertuanya, Raden Kajoran menjadi panglima perangnya. Penyerbuan Trunojoyo membuat Amangkurat I meninggalkan keraton secara diam-diam pada malam hari diiringi kerabatnya, termasuk Putra Mahkota. (har) Baca juga :

Read More

Goa Sentono Blora Menjadi Saksi Perang Sunan Bonang dengan Pasukan Majapahit

Blora — 1miliarsantri.net : Blora adalah kabupaten yang didirikan pada 11 Desember 1749. Dengan usianya yang kini sudah menginjak 274 tahun, tak heran jika Blora memiliki tempat-tempat wisata yang menyimpan berbagai sejarah menarik. Salah satunya adalah sebuah gua yang sering dikunjungi untuk mengisi libur akhir pekan di Kabupaten Blora. Meskipun lokasinya cukup jauh dari pusat kota, yakni sekitar 40 km, namun gua ini cukup dikenal masyarakat. Pasalnya, selain jadi tempat healing, gua tersebut juga cocok dijadikan destinasi wisata untuk mempelajari kisah-kisah sejarah yang terjadi di tempat itu. Dengan keunikan serta kisah sejarahnya itulah, gua tersebut berhasil tercatat sebagai salah satu cagar budaya di Kabupaten Blora. Terlebih, tempat bersejarah yang kini telah dibuka sebagai objek wisata itu sudah diatur dan ditata rapi untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung. Gua ini sebenarnya sangat cantik, ada beberapa lubang kecil yang menjadi salah satu keunikannya. Namun, minimnya penerangan membuat pengunjung harus berhati-hati saat menyusuri gua sedalam 10 meter ini. Terlebih, bagian dalam gua yang bentuknya mengerucut membuat pengunjung harus membungkuk agar bisa menyusurinya lebih dalam. Gua yang terbentuk dari batuan karst ini lebarnya sekitar 3 meter dengan ketinggian 2,5 meter. Pada zaman dahulu, gua ini diperkirakan pernah dijadikan sebagai tempat pertapaan umat Hindu. Pendapat ini didukung dengan adanya relief atau gambar Dewa umat Hindu yang bisa ditemukan di bagian dinding gua. Gua yang terletak di kawasan lembah Bengawan Solo ini dinamakan Gua Sentono. Secara administratif, lokasinya terletak di Dukuh Sentono, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Karena lokasinya di tepi aliran Bengawan Solo, lahan di sekitar gua tersebut dimanfaatkan penduduk lokal untuk pertanian. Oleh sebab itu, tak heran jika sekeliling gua didominasi oleh hamparan sawah yang sangat luas. Ada sebuah kisah tentang terbentuknya Gua Sentono yang masih dipercaya masyarakat sampai saat ini. Pada zaman dahulu, konon di sekitar aliran Bengawan Solo ada sebuah padepokan kecil bernama “Sentono” yang dipimpin oleh Ki Blacak Ngilo. Blacak Ngilo merupakan salah satu prajurit Majapahit yang melarikan diri dari kerajaan saat terjadi Perang Paregreg. Saat menetap di Dusun Sentono, Ki Blacak Ngilo dikenal sebagai seseorang yang berbudi pekerti luhur, mau mengajarkan cara bercocok tanam, ilmu spiritual, hingga memberikan pelajaran ilmu kanuragan pada masyarakat setempat. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, perilaku Ki Blacak Ngilo mulai berubah. Ia diketahui sering bertindak semena-mena. Misalnya, Ki Blacak Ngilo menarik pajak tinggi hingga mewajibkan warga untuk memberikan anak gadisnya agar bisa dijadikan istri olehnya. Hal ini rupanya terdengar sampai ke telinga Sunan Bonang. Ia lantas mengirim utusan kepada Ki Blacak Ngilo. Namun, Ki Blacak Ngilo malah memenggal kepala utusan tersebut dan menantang Sunan Bonang untuk bertarung. Dalam peperangan yang terjadi selama sepekan itu, Ki Blacak Ngilo kalah dan melarikan diri ke dalam tanah. Namun, Sunan Bonang selalu mengikutinya. Dari peristiwa kejar-kejaran itulah konon tercipta lubang-lubang yang berada di Goa Sentono Blora. (huz) Baca juga :

Read More

Prasasti Kuno di temukan di Desa Keben Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan

Lamongan — 1miliarsantri.net : Sebuah prasasti kuno kembali ditemukan di Lamongan. Prasasti tersebut dinamakan Prasasti Keben karena ditemukan di kawasan Desa Keben, Kecamatan Turi, Lamongan tengah yang selama ini memang jarang ditemukan. Lokasi penemuan prasasti ini tidak jauh dari balai desa setempat, tepatnya di belakang balai desa dan berdekatan dengan lapangan desa. Hanya berjarak sekitar 50 meter dari belakang balai desa, kawasan dimana prasasti ini ditemukan dikenal dengan nama Telogo Watu (telaga batu). “Dulu kawasan ini dikenal warga sebagai telogo watu dan memang dikeramatkan oleh warga,” kata Kepala Desa Keben H Abdul Kholik kepada 1miliarsantri.net, Kamis (14/12/2023). Berada di sebuah tempat yang dikenal warga dengan sebutan telogo watu, prasasti Keben memang berada di sebuah telaga kecil di belakang balai desa dan dekat dengan lapangan desa. Sebelum terlihat penampakan batu prasasti, kata Kholik, batu prasasti tersebut hanya nampak bagian atasnya saja. “Kalau musim penghujan terendam air karena memang dikenal sejak dulu sebagai telogo watu,” ujarnya. Kondisinya yang tertimbun tanah dan kerap kebanjiran memang membuat prasasti ini aman tanpa ada gangguan. Apalagi, warga masyarakat sekitar mengkeramatkan lokasi di mana telogo watu tersebut berada meski bersebelahan dengan tambak. Kholik menyebut, ada beberapa kali penggalian yang dilakukan oleh warga namun karena banjir sehingga batu prasasti tersebut kembali tertimbun tanah. “Penggalian terakhir ya waktu mau sedekah bumi sekitar bulan Oktober kemarin hingga saat ini masih bisa terlihat,” jelasnya. Kekeramatan telogo watu ini memang diakui oleh Kholik. Ia menyebut, lokasi dimana prasasti Keben berada ini kerap menjadi lokasi shooting untuk acara TV lokal yang berbau mistis. Batu prasasti yang ditemukan di Desa Keben ini memang sudah tidak utuh dan pecah menjadi beberapa bagian. Bagian atasnya pun sudah hilang dan tidak berada di tempatnya. Banyak pula peneliti yang datang ke Prasasti Keben ini. “Kalau dulu kabar-kabarnya yang ada di sana itu adalah tumbal milik dari Syeh Subakir,” imbuhnya. Prasasti Keben saat ini yang baru digali sebagian itu memang menampakkan bentuk sebagai prasasti dengan guratan aksara yang sebagian masih terlihat dan terbaca. Penggalian yang dilakukan warga pada saat sedekah bumi pun, hanya menampakkan sebagian dan belum secara keseluruhan. Sebelum digali, aku Kholik, batu prasasti yang terpendam itu hanya terlihat sebagian saja, yaitu bagian atasnya saja. “Jadi waktu sedekah bumi itu, kita gali dan menampakkan lempengan batu tersebut. Penggalian itupun karena ada saran untuk merawat telogo watu ini,” lanjutnya. Pada saat penggalian yang dilakukan warga sebelum sedekah bumi, tutur Kholik, kondisi batu tersebut tidak terlihat apapun karena mungkin masih kotor. Namun, kini kondisi prasasti sudah bersih dan bisa terlihat aksara yang muncul dari prasasti tersebut. Kalau kondisi pecah, Kholik menyebut jika hal itu memang sudah lama terjadi dan ada yang bilang jika sebagian pecahan batu tersebut dibawa entah kemana. “Saya juga kaget kok ternyata sekarang kondisinya sudah bagus seperti itu, bisa terlihat aksaranya. Padahal dulu saat digali tidak terlihat apa-apa,” ucapnya. Kholik bersama warga desa lainnya berharap agar batu prasasti yang berada di areal persawahan itu bisa diteliti dan menjadi aset budaya yang bisa dilestarikan. Untuk itu, Kholik pun sudah berkomunikasi dengan dinas instansi terkait untuk kelanjutan terhadap batu prasasti yang saat ini masih diberi nama sesuai desanya tersebut. “Kami berharap agar prasasti Keben ini bisa diteruskan proses ekskavasinya oleh dinas dan instansi terkait,” pungkasnya. (nik) Baca juga :

Read More

Karomah Sultan Agung Bisa Sholat di Mekah Dengan Hanya Melompat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Sultan Agung merupakan raja Mataram pertama yang mengirim pasukan ke Batavia untuk menyerbu Kompeni. Ia mendapat julukan Nata Binathara ing Tanah Jawa, Raja Agung di Tanah Jawa, yang dikisahkan bisa shalat Jumat di Makkah meski berangkat dari Mataram pukul 11.00. Nama kecilnya Raden Mas Jatmiko dan ketika dewasa bernama Pangeran Rangsang. Naik tahta pada 1613, sebagai Sultan Agung Prabu Anyokrokusumo Senopati ing Ngalogo Ngabdurahman Sayidin Panata Dinan Nata Binathara ing Tanah Jawi. Ia merupakan anak pertama dari Adi Prabu Anyakrawati Senopati ing Ngalogo Mataram, raja kedua Mataram. Anyakrawati memiliki nama kecil Raden Mas Jolang, anak dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Sultan Agung dikishkan sering bepergian sendirian, bahkan sampai ke Aceh, Makassar, Siam, Ternate, dan Turki. Ia juga sering bertapa di gunung-gunung. Cerita babad menyebut, ia berpindah dari gunung yang satu ke gunung lainnya dengan cara melompat. Yaitu, dari Gunung Lawu melompat ke Gunung Merapi, melompat lagi ke Lawu lalu melompat ke Gunung Semeru. Dari Semeru melompat ke Gunung Merbabu, lalu pulang ke keraton. Suatu ketika, dalam aktivitas bertapa dari gunung ke gunung di hari Jumat, Sultan Agung bertemu dengan sosok Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pun menanyakan aktivitas Sultan Agung berkali-kali melompati dari gunung ke gunung. “Tidak untuk maksud apa-apa. Daripada berdiam diri, sehabis sembahyang Subuh saya mencoba meniru kebiasaan Raden Arjuno. Ketika Raden Arjuno mencari kesenangan, selalu melompat dari gunung ke gunung,” jawab Sultan Agung. Sunan Kalijaga menyatakan, zaman sudah berubah, agama di Jawa sudah berganti. Lalu ia menyarankan kepada Sultan Agung, daripada melompat dari gunung ke gunung, lebih baik melompat ke Makkah untuk shalat Jumat. “Siapa tahu mendapat kemuliaan,” kata Sunan Kalijaga. Sultan Agung pun menerima saran Sunan Kalijaga itu. Ketika Sunan Kalijaga sudah menghilang dari tempat duduknya, hari itu sudah pukul 11.00. Bergegaslah Sultan Agung melompat ke Makkah. Ketika Sultan Agung masih di atas Panarukan, sebelum melompat ke Makkah, Sultan Agung mendengar suara teriakan dari bawah yang meminta untuk berhenti sejenak. Suara itu berpesan kepada Sultan Agung agar sesampainya di Makkah menemui Imam Syafii. “Mintakan izin bahwa saya hari ini tidak shalat Jumat di Makkah, karena belum selesai menyiangi rumput di kebun. Rumputnya sudah lebat,” kata suara dari bawah itu. Sultan Agung pun menanyakan nama orang itu. Tiba di Masjidil Haram, jamaah sudah penuh. Sultan Agung mencari sosok Imam Syafii. Ia pun menyampaikan pesan dari penduduk Kramatwatu yang menitip pesan kepadanya. Sultan Agung berpikir, padahal orang yang menitip pesan itu bisa meninggalkan pekerjaannya untuk berangkat ke Makkah. “Duh Nak Sultan, jangan sedih. Kanjeng Sultan ke sini hanya di hari Jumat, sementara orang Kramatwatu itu sehari lima kali sembayang di sini,” ujar Imam Syafii. Syafii menyebut, penduduk Kramatwatu itu selalu shalat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya, di Masjidil Haram. “Karena dia memang sudah khatam dan fasih tentang agama, maka pantas jika dia menjadi penghulu agung di Kerajaan, sehingga bisa menambah kemuliaan Kerajaan,” jawab Imam Syafii. Sultan Agung masygul, apa mungkin orang yang tadi menitip pesan bersedia diajak ke Keraton? Imam Syafii meyakinkan Sultan Agung bahwa orang di Kramatwatu itu akan mematuhi keinginan Sultan Agung. (mif) Baca juga :

Read More

Masjid Tua ini Dibangun Pasukan Sultan Agung Ketika Kalah Perang Dengan VOC

Jakarta — 1miliarsantti.net : Masjid Al-Makmur di Jl KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, merupakan salah satu dari belasan masjid tua yang masih tersisa di Jakarta. Masjid ini dibangun pada 1704 oleh para keturunan bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro. Kini masjid yang berusia lebih tiga abad itu terkepung oleh hingar bingar pusat perdagangan Tanah Abang, salah satu pusat perdagangan terbesar di Jakarta. Di kiri kanan masjid jami ini sudah tidak ditemukan lagi perumahan penduduk karena hampir seluruh daerah sekitarnya menjadi pusat kegiatan bisnis. Sejarah masjid yang cukup tersohor di Jakarta itu terjadi ketika Sultan Agung dua kali menyerang kota Batavia (1618 dan 1619). Sekalipun mengalami kegagalan tapi para bangsawan Mataram merupakan juru dakwah yang handal. Di antara mereka kemudian menetap di Jakarta menjadi da’i dan membangun masjid sejumlah masjid, yang masih kita dapati di beberapa tempat di Ibu Kota. Masjid Al-Makmur mula-mula hanya sebuah mushola berukuran 12×8 meter. Pada 1915 diperluas oleh Habib Abu Bakar Alhabsyi, pendiri organisasi Jamiatul Chaer dan pendiri rumah yatim piatu Daarul Aitam di jalan yang sama. Luas masjid menjadi 1.142 m2 ketika Habib Abubakar memberikan tanah sebagai wakaf. Tahun 1932 masjid diperluas lagi atas tanah wakaf Salim Bin Muhammad bin Thalib. Kemudian pada tahun 1953 diperluas hingga luasnya menjadi 2.175 m2. Sayangnya, di depan masjid yang sangat bersejarah ini, di depannya tampak kumuh. Terutama oleh para pedagang kaki lima yang terkadang mangkal di depan masjid dan tumpah ruah ke jalan. Sementara mobil dan motor menjadikannya sebagai tempat parkir saat mereka hendak berbelanja ke pusat-pusat perdagangan Tanah Abang. Akibat pengembangan jalan, kini Masjid Al-Makmur hanya menyisakan (habis) beranda depan dengan tiga gerbang berpilar ramping berbentuk kelopak melati dan list-plang dengan lima lubang angin serta dua menara berkubah kecil bergaya mercusuar (dengan jendela dan teras) di kiri kanan bangunan utama. Sementara pedagang kaki lima kadang-kadang dengan enaknya menjajakan dagangannya di muka masjid. Jadi lengkap sudah kesendirian Masjid Al-Makmur yang makin terus dikepung. Masjid ini dikepung pertokoan, pusat bisnis, dan pedagang eceran yang makin banyak mencari doku di Tanah Abang. Tapi ketika masih ada kuburan wakaf, kini jadi rumah susun Tanah Abang, warga keturunan Arab yang meninggal dunia sebelum dimakamkan terlebih dulu jenazahnya dishalatkan di Masjid Al-Makmur. Para pedagang dan pembeli di Pasar Tanah Abang juga menjadikan masjid tua ini sebagai tempat sholat mereka terutama sholat Dzuhur dan Ashar. Makin berkembangnya bisnis di Tanah Abang, mengakibatkan Jalan KH Mas Mansyur dan sekitarnya seperti Kebon Kacang I sampai Kebon Kacang VI kini sudah berubah fungsi. Sebagian besar rumah telah menjadi tempat pertokoan, ekspedisi, dan gudang-gudang. Tidak heran kalau harga tanah yang berdekatan dengan Proyek Pasar Tanah Abang termasuk termahal di Jakarta. Seperti ketika pembangunan jembatan Metro Tanah Abang, rumah-rumah yang tergusur mendapat ganti rugi Rp 10 juta per m2. Menurut sejumlah warga, harga tanah milik mereka saat ini harganya Rp 20 juta per meter persegi. (yan) Baca juga :

Read More

Peristiwa Ketika Sultan Agung Mataram Tidak Menunaikan Puasa Ramadhan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kiai Penghulu di Keraton Mataram sedang bercengkerama dengan anak cucu di bulan Ramadhan. Dua abdi dalem (pembantu) keraton yang sedang menggunjingkan Sultan Agung mengeraskan suaranya saat melewati tempat Kiai Penghulu. Kiai Penghulu mendengar gunjingan itu dengan jelas bahwa Raja Mataram Sultan Agung tidak menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Kiai Penghulu pun mendapatkan bahan untuk menguji Sultan Agung. Keesokan harinya, Kiai Penghulu menghadap Sultan Agung. Saat itu Sultan Agung sudah siap menyantap makanan. “Ah, baru tahu, ternyata ada Ratu Wali, Panatagama, di bulan Ramadhan tidak berpuasa. E-e-e-e, mana ada kalifah yang menjadi tuntunan malah tidak bisa dipatuhi. Kitab apa yang mengajarkan hal ini?“ cerocos Kiai Penghulu. Kiai Penghulu ini adalah orang Kramatwatu di Panarukan yang dulu pernah menitip pesan untuk Imam Syafii ketika Sultan Agung hendak berangkat ke Makkah untuk shalat Jumat. Sultan Agung lalu mengangkatnya menjadi penghulu keraton atas saran Imam Syafii. “Kakang Penghulu, aku kok kurang paham dengan perkataanmu. Maksud Kakang Penghulu bagaimana?” tanya Sultan Agung yang heran karena datang tiba-tiba Kiai Penghulu berkata menyerocos. “Sekarang bulan Ramadhan, Gusti. Mengapa Panjenengan tidak menjalankan puasa Ramadhan?” jawab Kiai Penghulu. Kemarin, Kiai Penghulu mendengar gunjingan dua abdi dalem keraton yang mempermasalahkan Sultan Agung karena tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Salah satu abdi dalem bercerita bahwa Sultan AGung setiap hari makan seperti biasa. Bahkan, jumlah waktu makan di bulan Ramadhan ini melebihi jumlah waktu makan di hari-hari biasanya. “Kok malah makan sampai lima-enam kali. Apa tidak kasihan dengan para pembantu,” keluh di abdi dalem yang satu kepada temannya. “Aku tahu ini bulan puasa, namun yang berpuasa kan bulannya. Jadi, aku tak perlu ikut berpuasa,” jawab Sultan Agung. “Duh bagaimana ini, Gusti? Padahal semua abdi dalem, besar kecil, laki perempuan, yang sudah beragama Islam, menurut syariat Islam yang diajarkan Nabi Muhammad semua berpuasa. Saya yang mengajarkannya,” kata Kiai Penghulu. Kiai Penghulu pun menekankan bahwa ia mengajarkan hal itu karena perintah dari Sultan Agung yang menunjuknya sebagai penghulu keraton. “Jika rakyat mendengar bahwa Panjenengan tidak berpuasa, tentu saja nanti mereka juga tidak berpuasa,” lanjut Kiai Penghulu. “Kakang Penghulu, jangan salah terima. Aku ini kan Kalifatullah, berbeda dengan rakyat kebanyakan kan?” kata Sultan Agung. Kiai Penghulu pun membenarkan pernyataan Sultan Agung. Namun, menurutnya, menjadi kalifatullah itu adalah menjadi wakil Allah di muka bumi, yang menjadi penguasa keadilan seluruh jagad. Memiliki jasad yang sama dengan rakyat kebanyakan. Juga memiliki syahwat, memiliki keinginan untuk makan, tidur, bangun tidur. Juga bisa lupa, kaget, tertawa, sakit, meninggal, seperti haknya rakyat kebanyakan. Karena itu, menurut Kiai Penghulu, sebaiknya Sultan Agung tetap berpuasa di bulan Ramadhan karena rakyat kebanyakan juga berpuasa. Mendengar penjelasan itu, Sultan Agung tertawa. Lalu bertanya, “Puasanya rakyat kebanyakan itu seperti apa?” Kiai Penghulu pun menjelaskan, bahwa rakyat kebanyakan setiap bulan Ramadhan bangun jam tiga pagi untuk sahur. Sepanjang hari mereka tidak makan minum. “Ketika kelelawar sudah beterbangan di sore hari, itulah waktunya berbuka,” kata Kiai Penghulu. Kelelawar akan terbang mencari makan saat matahari tenggelam. “Apa sudah benar-benar berpuasa jika melakukan hal itu,” tanya Sultan Agung. Kiai Penghulu pun menjawab, seperti itulah syariat berpuasa di bulan Ramadhan. Maka Sultan Agung pun lantas berpuasa Ramadhan. (mif)

Read More

Ketika Panglima Perang Mataram Membuat Peluru dari Timah Panas dengan Tangan Kosong di Palembang

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Raja Mataram Sultan Agung sedang berkunjung ke Banten didampingi Panembahan Puruboyo. Saat di Banten itu, Panglima Perang Mataram Panembahan Puruboyo mendapat informasi jika Raja Palembang hendak menyerbu Mataram. Kanjeng Adipati Gusti Pangeran Adipati Panembahan Puruboyo merupakan kakak beda ibu dari ayah Sultan Agung, Prabu Anyokrowati. Ia merupakan panglima perang Mataram yang sakti. Babad menceritakan, ia bisa membuat peluru menggunakan tangan kosong. Ini berbeda dengan cara orang Palembang yang membuat peluru dengan cara dicetak. Pasukan Palembang sudah berlatih siang malam, segala jenis senjata sedang dibuat. Meriam, bedil, peluru dari timah, baja, besi terus dibuat. Mendapat informasi itu, Panembahan Puruboyo lalu menyamar menjadi pekatik (juru tuntun kuda raja). Ia diam-diam pergi ke Palembang. Niat Raja Palembang menyerbu Mataram lantaran Raja Palembang telah mendengar kekuatan Sultan Agung yang sering menaklukkan daerah-daerah lain. Ia ingin menguji kekuatan Mataram. Setiba di Palembang, ia mendengar banyak cerita dari rakyat Palembang mengenai persiapan Palembang menyerbu Mataram. Ia pun diam-diam mencari tahu tempat-tempat yang perlu ia datangi. Salah satu yang harus ia datangi adalah tempat pandai besi membuat senjata. Ia begitu terkejut begitu melihat para pandai besi menyiapkan senjata yang dibutuhkan untuk perang. Kehadiran Panembahan Puruboyo pun tidak ada yang mencurigainya. Begitu banyak pandai besi yang bekerja membuat senjata yang diperlukan. Panembahan Puruboyo mendengar, para pandai besi itu selama bekerja selalu membicarakan rencana penyerbuan ke Mataram. Ia pun mendekati pandai besi yang sedang membuat meriam dan peluru. Ia pun memulai pembicaraan. “Ternyata peribahasa desa mawa cara, negara mawa tata itu benar adanya. Di sini orang membuat peluru dicetak. Di tempat saya orang membuat peluru tidak dicetak,” kata Panglima Perang Mataram itu. Yang diajak bicara tertawa mendengar pernyataan Panembahan Puruboyo. “Ki Sanak ini ada-ada saja, mana ada orang membuat peluru dicetak. Seberapa besar cetakan yang diperlukan untuk mencetak orang yang membuat peluru itu?” tanya pandai besi Palembang itu. “Maksud saya, bukan orangnya yang dicetak. Di tempat saya kalau membuat peluru tidak dicetak,” kata Panembahan Puruboyo mengoreksi kata-katanya. “ Di sini pun begitu, Kalau sudah jadi peluru yang tidka dicetak. Yang dicetak itu kan bakal peluru,” sahut pandai besi Palembang. Panembahan Puruboyo merasakan pernyataannya salah lagi. Ia pun segera mengoreksinya. “Betul Ki Sanak, memang berbeda. Di tempat saya membuat peluru itu dilakukan dengan cara timah yang masih mendidih dipelintir-pelintir pakai tangan sampai bulat. Bentuk memang kasar, tetapi lebih cepat pengerjaannya,” kata Panembahan Puruboyo. Para pandai besi Palembang yang mendengar tentu pada tertawa. Bagi mereka tidak mungkin membuat peluru dilakukan dengan cara itu. Mereka pun menanyakan daerah asal dan jati diri Panembahan Puruboyo. “Saya hanya orang desa di wilayah kekuasaan Mataram yang menjadi tetangga Palembang. Nama Saya Pak Jadhug,” jawab Panembahan Puruboyo. Pandai besi Palembang lalu menduga yang bisa membuat peluru dengan tangan kosong bisa jadi hanya para pembesar di Mataram, seperti para bupati dan para panglima. “Kalau seperti Pak Jadhug mana mungkin bisa melakukannya? Beda kalau disuruh membuat klepon, pasi bisa,” kata pandai besi Palembang. Panembahan Puruboyo pun membantahnya. Kata dia, tidak hanya pembesar yang bisa membuatnya. Rakyat biasa pun bisa membuat peluru dengan tangan kosong. Mereka pun meminta bukti, lalu meminta Panembahan Puruboyo menunjukkan kebisaannya membuat peluru. Panembahan Puruboyo pun segera mengambil timah mendidih dengan kedua tangannya, lalu ia adon sampai membentuk perlu bundar. Besarnya tidak berbeda dengan peluru yang mereka buat dengan cetakan. Dalam waktu sekejap, Panembahan Puruboyo telah membuat beberapa peluru, ketika pandai besi Palembang belum menyelesaikan satu peluru yang dicetak. Pandai besi lainnya pun berkerubung melihat keahlian Panembahan Puruboyo. Mereka meninggalkan pekerjaan mereka. Penanggung jawab di pembuatan senjata itu pun marah melihat hal itu. “Setan alas Mataram,” kata dia. Ia pun menuduh Panembahan Puruboyo sebagai mata-mata Mataram. Mendengar teguran itu, Panglima Perang Mataram itu pun berusaha menjauh, seperti orang sedang ketakutan. Ia menyandar pada meriam-meriam yang ada di situ. Meriam-meriam itu pun menjadi gepeng terkena tubuh Panembahan Puruboyo. Para pandai besi yang kemudian berganti gemetaran. Orang yang tadi menegur Panembahan Puruboyo segera meminta prajurit menangkap Panembahan Puruboyo. Begitu prajurit berbondong-bondong hendak menangkapnya, Panembahan Puruboyo lalu menjentik meriam-meriam dengan jarinya. Meriam-meriam terlempar ke arah orang-orang yang mengepungnya. “Hai, para prajurit Palembang, saya tidak bersalah. Jika kalian tunduk pada saya surga imbalannya. Jika tidak, tangkaplah meriam-meriam ini,” kata Panglima Perang Mataram itu sambil menjentik meriam. Para prajurit itu pun tak berdaya. Yang masih bisa melarikan diri segera melapor ke Patih yang kemudian melapor ke Raja Palembang. (mif) Baca juga :

Read More