Penyebar Agama Islam di Afrika Didominasi Orang-orang Indonesia

Cape Town — 1miliarsantri.net : Di ujung benua Afrika, tepatnya di selatan negara Afrika Selatan, terletak pesisir Cape Town. Wilayahnya yang beragam terbentang pada gabungan gugusan pegunungan tinggi yang mengelilingi kota dan dua lautan luas yang melindunginya dari beberapa sisi. Di sana terdapat makam umat Islam pertama yang datang ke Cape Town. Kota ini menjadi saksi kedatangan pertama mereka yang tercatat dalam sejarah negara tersebut. Ini terjadi setelah Belanda menetap di wilayah tersebut pada abad ke-17. Kedatangan kaum Muslimin ini ada di bawah pengawasan dan pimpinan Perusahaan Hindia Timur Belanda. Hal itulah yang menjadikan Cape Town sebagai tempat peristirahatan dan transit bagi kapal-kapal yang melakukan perdagangan antara Belanda dan Indonesia. Belanda, karena perdagangan tersebut, membutuhkan tenaga kerja dan budak untuk mendukung ekspansinya. Penjajahan Belanda di Indonesia telah membantu kelompok dagang saat itu dalam memperoleh para tahanan politik, pejuang perlawanan, dan budak yang dipenjarakan atas tuduhan menghasut kerusuhan terhadap pemerintah Belanda. Ini didorong putusan Mahkamah Agung di Batavia (kini Jakarta) yang menjatuhkan hukuman pengasingan dan deportasi kepada mereka. Karena itu, pada abad ke-18, ada sebuah lingkungan di kaki Table Mountain atau Gunung Meja di Afrika Selatan, yang ditinggali untuk pertama kalinya oleh orang-orang asal Indonesia, Malaysia, dan orang Asia lainnya yang pernah menjadi budak Belanda. Lingkungan tersebut kini terkenal dengan nama Bo-Kaap, sebuah daerah pemukiman yang memiliki pesona warna-warna cerah pada rumah-rumah di sana. Di antara mereka yang datang ke kawasan itu adalah para politikus di pengasingan dan mereka yang dihukum karena kejahatan, serta pengrajin terampil, pemimpin agama, dan cendekiawan yang mewariskan pengetahuan mereka kepada generasi baru di Afrika Selatan. Sejarawan Afrika Selatan, Shafiq Morten mengatakan Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Afrika Selatan adalah Ibrahim Batavia yang datang sebagai tawanan dan tahanan politik. Kemudian, umat Islam terus masuk, dan kebanyakan dari mereka adalah tahanan politik yang dilarang menampakkan agamanya atau mengajak orang lain kepadanya. Dia melanjutkan umat Islam yang datang ke Afrika Selatan sebagai budak tidak hanya datang dari Indonesia, tetapi dari Afrika Utara bagian barat, Madagaskar, dan Sri Lanka. Bahkan pada akhir periode pendudukan Inggris, lebih dari 50 persen populasi Muslim adalah orang Afrika. Morton mengatakan maraknya shalawat di kota Cape Town menjadi bukti kehadiran ulama dan dampak positifnya terhadap masyarakat Muslim dan non-Muslim. Makam mereka masih ada dan dirawat sebagai pengingat terhadap sejarah dan tonggak hidup mereka. Mantan wali kota Cape Town dan mantan duta besar Afrika Selatan untuk Amerika Serikat Ibrahim Rasool mengatakan kelompok Muslim yang dideportasi dari Indonesia ke Cape Town kemudian mendatangi Syekh Sayed Mahmud, beserta anggota keluarga dan teman-temannya. Mahmud, pendiri tarekat sufi, berasal dari keluarga terpandang di Indonesia sehingga tidak dipenjara, tetapi diasingkan jauh dari kota. Di mata Belanda, cukuplah mengasingkan Sayed Mahmud dari kampung halamannya agar tidak mengancam pemerintahan mereka di Indonesia. Namun, Belanda tetap mengawasi Sayed Mahmoud. Dari sinilah bermula pertama kali munculnya komunitas Islam di Afrika Selatan. Rasool juga mengatakan tokoh Muslim lainnya di Afrika Selatan adalah Imam Abdullah bin Qadir bin Abdul Salam Al-Sufi. Ia memiliki kontribusi terhadap perjuangan melawan pendudukan Inggris. Kemudian, dia dipenjarakan di Pulau Robben yang sama di mana mendiang Presiden Nelson Mandela diasingkan. Imam Al Sufi itu menulis Alquran dengan tulisan tangannya sendiri di sana. Komunitas Muslim di Afrika Selatan juga mendapatkan dampak yang positif setelah Pemilu pertama yang benar-benar demokratis di Afrika Selatan dimenangkan Nelson Mandela. Umat Muslim di sana memperoleh hak-hak politik dan sosial mereka. Pengaruh mereka meluas lebih jauh ke dalam tatanan masyarakat, sebagai penghargaan atas partisipasi dan pengorbanan mereka dalam perjuangan melawan pendudukan pada tahun 1960-an, 1970-an hingga 1980-an. Hal ini tercermin dari bobot relatif komponen Islam dalam pembentukan pemerintahan pertama setelah transisi demokrasi di Afrika Selatan pada tahun 1994. Saat itu, ada lebih dari empat menteri Muslim dan 10 duta besar Muslim yang mewakili Afrika Selatan di luar negeri. Beberapa undang-undang status khusus bagi umat Islam, yang berasal dari hukum Islam, juga telah disetujui. Umat Islam di Afrika Selatan telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk tatanan masyarakat Muslim dan non-Muslim sejak awal masuknya Islam dan penyebarannya. Bahkan hingga tahap pemberantasan rezim pendudukan dan apartheid di Afrika Selatan. Direktur Yayasan Imam Harun, Qasim Khan, menyampaikan, salah satu simbol masa perjuangan yang paling menonjol bersama dengan masyarakat lainnya adalah Imam Abdullah Harun. Ia lahir pada tahun 1924 di lingkungan selatan Cape Town. Imam Harun melakukan perjalanan ke Makkah untuk menerima ilmu-ilmu Islam. Ia dianggap sebagai salah satu simbol perjuangan Islam melawan rezim apartheid. Partisipasi umat Islam di Afrika Selatan, dalam perjuangan melawan apartheid, telah melampaui skalanya. Sebab, meski minoritas di Afrika Selatan, umat Muslim memberikan dampak yang begitu besar. Sehingga sampai saat ini tidak ditemukan tindakan diskriminasi maupun kekerasan terhadap umat Islam di Afrika Selatan. Ini karena rasa hormat dan penghargaan atas jasa besar mereka, dan juga karena keluhuran akhlak yang mereka tampilkan. (yan) Baca juga :

Read More

Beberapa Doa Yang Dibaca Para Nabi Ketika Menghadapi Kesulitan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Berdoa merupakan cara seorang hamba memohon pertolongan kepada Allah. Berdoa juga merupakan cara kita untuk selalu dekat dengan Allah dan mencegah dari sifat sombong. Karena dengan berdoa, kita mengakui bahwa manusia sejatinya hanyalah makhluk yang sering kali lalai dan minim rasa syukur. Karenanya, berdoa merupakan media untuk berkomunikasi dengan Allah, menceritakan kesulitan hidup yang dialami, dan memohon bantuan-Nya untuk mengangkat kesusahan itu. Bahkan para Nabi Allah pun menjadikan doa sebagai senjata mereka untuk menyelamatkan mereka dan melawan orang-orang kafir. Dikutip dari buku “Perbaiki Dirimu, Mengucurlah Rezekimu” Abdul Qosim menyebutkan, bahwa doa bukanlah rentetan kalimat permohonan verbal semata, melainkan menyatunya hati, pikiran, ucapan, dan tindakan. Yahya bin Muadz ra berkata, “siapa yang berdoa kepada Allah dengan penuh konsentrasi, maka Dia tidak menolaknya.” Ibnu al-Qayyim juga berkata, “Jika hati seseorang berkonsentrasi saat berdoa, betul-betul merasa butuh dan harapannya kuat, maka doanya dikabulkan.” Maka, sebaik-baiknya doa adalah yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya, baik yang terdapat di dalam Alqur’an maupun hadits. Berikut ini doa-doa para Nabi terdahulu: Dengan berdoa, Allah menyelamatkan Nabi Nuh as فَدَعَا رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْفَفَتَحْنَآ اَبْوَابَ السَّمَاۤءِ بِمَاۤءٍ مُّنْهَمِرٍۖوَّفَجَّرْنَا الْاَرْضَ عُيُوْنًا فَالْتَقَى الْمَاۤءُ عَلٰٓى اَمْرٍ قَدْ قُدِرَ ۚوَحَمَلْنٰهُ عَلٰى ذَاتِ اَلْوَاحٍ وَّدُسُرٍۙتَجْرِيْ بِاَعْيُنِنَاۚ جَزَاۤءً لِّمَنْ كَانَ كُفِرَ Artinya, “Dia (Nuh) lalu mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku). Lalu, Kami membukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka, berkumpullah semua air itu sehingga (meluap dan menimbulkan) bencana yang telah ditetapkan.Kami mengangkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pengawasan Kami sebagai balasan (kebaikan) bagi orang yang telah diingkari (kaumnya).” (QS Al Qamar ayat 10-14). Melalui doa pula, Nabi Ayyub as terbebas dari musibah وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ Artinya: “(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, Kami mengembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami melipatgandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami dan pengingat bagi semua yang menyembah (Kami).“ (QS Al Aniya yat 83-84) Dengan berdoa, Nabi Musa diselamatkan Allah dari kejaran Firaun dan pasukannya. فَخَرَجَ مِنْهَا خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ ۖقَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ Artinya: “Maka, keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut dan waspada. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS Al Qasas ayat 21) Doa Nabi Musa ketika menghadapi kesulitan dan meminta kemudahan قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙوَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙوَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙيَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ Artinya: “Dia (Musa) berkata, “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS Taha ayat 25-28) Doa Nabi Ibrahim ketika akan dilahap api حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali Imran ayat 173). (yat) Baca juga :

Read More

Kisah Pangeran Diponegoro Menendang Komandan Pasukan Keraton Yogyakarta di Depan Sultan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kala itu, Diponegoro menjewer telinga Tumenggung Wiroguno. Tak hanya itu, Diponegoro pun menendang komandan pasukan keraton itu. Diponegoro melakukannya di depan Sultan Hamengkubuwono IV. Saat itu, Tumenggung Wiroguno dipanggil untuk urusan pengangkatan 60 pemungut pajak yang gajinya diambil dari pajak yang dipungut itu. Tumenggung Wiroguno dan Patih Danurejo sangat patuh Residen Yogyakarta Nahuys. Mereka membuat surat pengangkatan 60 pemungut pajak lalu meminta Sultan Hamengkubuwono IV membubuhkan cap. Kepada Hamengkubuwono IV disampaikan jika para pangeran dan bupati sudah menyetujui. Residen Nahuys juga sudah mengizinkan. Atas dasar itulah Hamengkubuwono IV membuhukna capnya. Namun, Diponegoro menerima keluhan dari para pangeran dan bupati. Mereka belum diajak bicara mengenai pengangkatan pemungut pajak yang mereka nilai akan menambah kesengsaraan rakyat itu. Diponegoro pun lalu menanyakan hal itu kepada Hamengkubuwono IV, yang merupakan adiknya sendiri. Hamengkubuwono IV dinobatkan menjadi sultan ketika berusia 10 tahun dan Pakualam ditunjuk sebagai walinya. Hamengkubuwono IV sejak kecil tidka pernah lepas dari Diponegoro. Namun, ketika perwalian Pakualam sudah selesai, Hamengkubuwono IV lebih banyak dapat pengaruh dari Danurejo dan Wiroguno. Dari Danurejo dan Wiroguno pula Hamengkubuwono IV mengenal pesta-pesta ala Barat dengan mauk-mabukan. Resah dengan kelakuan Sultan yang mendapat pengaruh buruk dari Danurejo dan Wiroguno, para pangeran dan bupati melapor kepada Diponegoro. “Ini ada masalah apa? Ibu kenapa tidak memberi tahu saya? Menyusahkan semua orang,” tanya Diponegoro ketika tiba di keraton bertemu dengan sang ibu. Sang ibu mengaku tidak mengetahui adanya kesepakatan yang dibuat Danurejo dan Wiroguno serta Residen dalam hal pengangkatan pemungut pajak. Diponegoro pun lantas menanyakan keberadaan Sultan, adiknya. Mendapat informasi mengenai keberadaan Hamengkubuwono IV, Diponegoro pun segera menghampirnya di bangsal panggung. Lalu ia menanyakan pengangkatan pemungut pajak. Hamengkubuwono IV pun menjawab pengangakatan pemungut pajak itu atas usul Danurejo dan Wiroguno, karena petugas yang ada tidak mencukupi. Ia menyetujui karena katanya sudah atas persetujuan Diponegoro juga. “Itu pasti menipu,” kata Diponegoro. “Sultan, kalau kau tidak tahu, menurut perasaanku itu sangat kelewat durjana. Pada akhirnya besok akan membuat kesusahan pada rakyat kecilnya,” lanjut Diponegoro. Diponegoro membuat perumpaaan mengenai kesengsaraan yang akan ditimbulkan. Para pemungut pajak itu, jika tidak mengeruk hasil bumi pasti akan mengeruk gunung. Karenanya, ia meminta Hamengkubuwono IV membatalkannya. “Sudah telanjur itu. Cap saya ini sudah dipakai untuk mengecap surat perintah kepada desa-desa,” jawab Sultan. “Sultan, cabutlah. Undanglah Wironegoro,” kata Diponegoro. Ketika Wironegoro menghadap, Hamengkubuwono IV langsung memarahinya. Wironegoro dianggap telah berbohong jika pengangkatan 60 pemungut pajak sudah disetujui para pangeran dan bupati, termasuk Diponegoro. Wironegoro hanya bisa menunduk. Ketika Hamengkubuwono IV meminta suratnya dikembalikan, Wironegoro menjawab bahwa surat sudah dikirim ke Residen, tak mungkin ia mengambilnya. “Bagaimana menjawabnya? Dalam kitab juga berbunyi demikian, nasi kalau sudah ditelan ya sudah salam. Kalau raja sudah berkata, tidak dapat dikembalikan ucapannya,” kata Wiroguno. Mendengar kelancangan itu, Diponegoro marah. Ia lalu menjewer telinga Wiroguno dan kemudian menendangnya dengan keras. “Hai, kau Mukidin. Caramu menasihati dari kitab yang kau sembunyikan, kau lebih bisa. Orang banyak tidak ada yang mengetahui, baik-buruk kamu yang tahu,” bentak Diponegoro. Diponegoro pun meminta ketegasan dari hamengkubuwono. Jika keputusan pengangkatan pemungut pajak itu berasal dari Sultan itu terjadi karena sudah tertulis di lauh mahfud. Tapi jika itu atas ide orang lain, setan yang melakukannya. Hamengkubuwono IV mengulang kembali jawabannya yang sudah diberikan kepada Diponegoro sebelumnya. Bahwa pengangkatan pemungut pajak itu merupakan ide dari Danurejo dan Wiroguno yang katanay sudah disetujui Diponegoro. “Itu sudah jelas kalau setan membuat rencana, kitab sebagai pelindung,” kata Diponegoro. “Kalau kau masih berani, mengenai kitab itu aku ingin mengetahui,” kata Sultan Hamengkubuwono IV kepada Wiroguno mengenai kitab rujukan Wiroguno. Wiroguno diam seribu bahasa. (mif) Baca juga :

Read More

Pangeran Abdullah Qadhi Abdussalam Pendiri Masjid Pertama di Afrika Selatan

Cape Town — 1miliarsantri.net : Pada tahun 1767, Pangeran Abdullah Qadhi Abdussalam dari Indonesia diasingkan ke Tanjung Harapan (Cape Town Ibukota Afrika Selatan saat ini) oleh Belanda, yang sedang menjajah wilayah sejumlah wilayah di Nusantara. Pangeran Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam lahir di Tidore pada tahun 1712 dan meninggal di Cape Town pada tahun 1807 pada usia 95 tahun. Tidore adalah kota yang berada di wilayah Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Dulu berdiri Kesultanan Tidore atau Kerajaan Islam Tidore yang berpusat di kota Tidore. Selama Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam diasingkan di Afrika Selatan, dia menulis salinan Alquran dari hafalannya. Musfah Alquran yang dia tulis masih disimpan di Cape Town hingga saat ini. Setelah dibebaskan dari status tahanan pada tahun 1793, Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam mendirikan madrasah pertama di Afrika Selatan. Madrasah itu menjadi sangat populer di kalangan budak dan komunitas pribumi kulit hitam saat itu. Pada era kolonial itu, orang kulit putih masih menjadikan sebagian orang kulit hitam dan asia sebagai budak. Dilansir dari laman Muslim Hands, diriwayatkan bahwa Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam kemudian menjadi imam pertama di Masjid Auwal, yang terletak di lingkungan Bo-Kaap di Cape Town. Masjid Auwal dikenal sebagai masjid pertama yang didirikan di Afrika Selatan. Masjid ini dibangun di atas tanah milik Coridon Van Ceylon, seorang budak Muslim kulit hitam yang telah dibebaskan. Masjid Auwal adalah masjid pertama yang melaksanakan sholat berjamaah, sekaligus sebagai tempat bahasa Arab-Afrika pertama kali diajarkan. Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam dimakamkan di Pemakaman Tana Baru, di Bo-Kaap, Cape Town, Afrika Selatan yang merupakan pemakaman Muslim pertama di negara tersebut. Kemudian, imigrasi umat Islam dari India pada awal tahun 1800-an yang dimotori oleh Inggris membantu penyebaran Islam ke seluruh Afrika Selatan. Umat ​​Islam ini segera mendirikan Masjid Jumu’ah, masjid pertama di Jalan Gray di Kota Durban, Afrika Selatan pada tahun 1881. Kemudian Masjid Jalan Kerk juga dikenal sebagai Masjid Jumu’ah di Kota Johannesburg, Afrika Selatan didirikan pada tahun 1906. Islam adalah salah satu agama dengan pertumbuhan tercepat di Afrika Selatan. Muslim di Afrika Selatan sangat berhutang budi atas dedikasi dan komitmen para pemukim Muslim awal yang tetap teguh pada keyakinan mereka dan terus bertawakal kepada Allah SWT meskipun dalam keadaan yang sangat sulit di era penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Awal masuknya Islam di Afrika Selatan dapat ditelusuri kembali ke abad ke-17, di tempat yang sekarang disebut Cape Town. Belanda sering mengasingkan para pemimpin Muslim dari Hindia Timur (Indonesia) ke Tanjung Harapan (Cape Town) yang juga mereka kuasai. Orang-orang buangan politik biasanya adalah orang-orang Muslim yang berpangkat tinggi dan kaya, yang diasingkan karena merupakan ancaman terhadap stabilitas pemerintahan Belanda di tempat yang dijajahnya. Salah satu pemimpinnya adalah Abadin Tadia Tjoessoep atau yang dikenal sebagai Syekh Yusuf. Dia tiba di Afrika Selatan melalui kapal bernama De Voetboog pada tanggal 2 April 1694, bersama keluarga dan pengikutnya. Belanda mencoba mengisolasi pemimpin umat tersebut jauh dari orang lain dengan menempatkannya di sebuah peternakan di Zandvliet, sebagai tahanan. Namun hal itu tidak berhasil, dan Syekh Yusuf mulai menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW kepada budak-budak di dekatnya. Islam segera menjadi sangat populer di kalangan budak lain dan majikan mereka. Para budak menggunakan ajaran tersebut untuk mendapatkan posisi yang lebih baik di rumah majikan mereka, sementara tuan budak belajar betapa pentingnya memperlakukan budak mereka dengan baik. Segera, komunitas Muslim membuat persatuan pertama di Afrika Selatan didirikan di Zandvliet. Syekh Yusuf meninggal di Zandvliet pada tanggal 23 Mei 1699 dan daerah tersebut berganti nama menjadi Macassar untuk menghormati tempat kelahiran Syekh Yusuf. Syekh Yusuf dimakamkan di perbukitan Faure, menghadap Macassar dan masih dianggap sebagai pendiri dan bapak Islam di Afrika Selatan. (yat) Baca juga :

Read More

Tata Ruang Hunian Sekarang Banyak Mengadopsi Konsep Bangunan Jaman Majapahit

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Sejak jaman dahulu, masyarakat Majapahit dalam mendirikan rumah dikenal dengan menggabungkan nilai filosofis dan fungsi efisiensi. Dimana bangunan yang baik-baik seperti tempat ibadah ada di bagian depan, yang buruk semacam kamar mandi dan tempat sampah letaknya di belakang. Mirip konsep interior rumah sekarang. Menurut Budayawan Putut Nugroho, konsep penataan secara terperinci itu bahkan sudah berkembang sejak sekitar 200 tahun sebelumnya. Tata ruang bangunan rumah di era abad ke 13 sampai 16 itu mengadopsi tata ruang kota Kerajaan Majapahit. ’’Konsep arsitektur dalam penataan posisi bangunan berikut isinya mengacu pada tataran filosofis tiga penyebab kebahagiaan,’’ ungkapnya. Tiga nilai penting dalam ajaran Hindu-Budha itu meliputi hubungan harmonis antara manuasia dengan tuhan, antarmanusia, dan manusia dengan alam. Nilai ini diterapkan dalam konsep pembagian area tiga zona yang oleh masyarakat Bali disebut dengan Tri Mandala. Pedoman pembagian ruang itu menyangkup bagian utama, madya, dan nista. Utama adalah bagian bangunan yang berhubungan dengan spiritualitas, yakni tempat ibadah. Bangunan ini biasanya menjadi satu area dengan rumah dan posisinya berada di depan. ’’Masyarakat saat itu punya keyakinan bahwa posisi tempat ibadah harus pakem,’’ ujarnya. Putut mengatakan, konsepsi yang berpadu dengan kultur Jawa kuno melahirkan gaya baru arsitektur. Dalam tradisi rumah adat Joglo misalnya, bisa ditemui bagian senthong yang memiliki fungsi sakral sebagai tempat sembahyang atau bermeditasi Selanjutnya, area madya yang berupa pelatan utama rumah atau sekarang mirip dengan ruang tamu, kamar, sampai dapur. ’’Yang terakhir adalah area nista, seperti tempat untuk kamar mandi dan tempat sampah,’’ tandas perupa asal Kota Mojokerto itu. Dalam penerapannya, konsepsi tata ruang hunian ini juga mempertimbangkan peran efisiensi yang berhubungan dengan perilaku. Tingginya tingkat spiritualitas masyarakat di zaman 700 tahun lalu itu membuat fungsi ibadah menjadi yang utama. Dan, menutupi urusan-urusan yang berkonotasi buruk seperti membuang sampah dan membuang kotoran sehingga posisinya di belakang. Situs cagar budaya yang diyakini sebagai kompleks tempat tinggal ditemukan di sejumlah tempat. Salah satunya Situs Watesumpak, Kecamatan Trowulan, yang menunjukkan sebagai area hunian bangsawan Majapahit. Terdapat pula kompleks bangunan suci yang dikelilingi permukiman di Situs Klinterejo dan Bhre Kahuripan di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko. (tin) Baca juga :

Read More

Kisah Mpu Sindok dan Selirnya Membangun Tiga Bendungan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Perintah pembangunan di masa Kerajaan Mataram kuno era Mpu Sindok, konon tak hanya datang dari sang raja saja. Bahkan dikisahkan permaisuri atau seorang selir Raja Mpu Sindok konon pernah memerintahkan pembangunan tiga bangunan bendungan. Bangunan bendungan ini tercantum dalam Prasasti Wulig tahun 856 Saka atau sama dengan 935 Masehi. Di dalam Prasasti Wulig itu disebutkan perintah Rakryan Binihaji Rakryān Mangibil, permaisuri atau salah seorang selir Pu Sindok, kepada Samgat Susuhan agar memerintahkan penduduk Desa Wulig, Pangiketan, Padi Padi, Pikatan, Panghawaran, dan Busuran untuk membuat bendungan. Menariknya dalam perintahnya itu permaisuri Mpu Sindok memperingatkan jangan ada yang berani mengusik atau mengganggu pembangunan dan selama beroperasi, dengan menyatukan bendungan tersebut. Tak hanya itu, peringatan agar penduduk sekitar tidak mengambil ikan di bendungan tersebut sewaktu siang juga menjadi isi dari prasasti tersebut. Dikutip dari “Sejarah Nasional Indonesia II : Zaman Kuno” pada tanggal 8 Januari 935 M, Rakryan Binihaji meresmikan ketiga bendungan yang ada di Desa Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya. Nama permaisuri Mpu Sindok ini pun muncul pula di dalam prasasti Géwég tahun 855 Saka atau sama dengan 933 M dan prasasti Cunggrang tahun 851 Saka atau sama dengan 929 M. Di dalam prasasti Geweg itu Mpu Sindok tidak memakai gelar mahārāja, tetapi rakryan sri mahamantri dan sang permaisuri disebut Rakryan Sri Parameswari Sri Warddhani pu Kbi. Di dalam prasasti Cunggrang sang permaisuri disebut Rakyan Binihaji Sri Parameswari Dyah Kbi. Tapi ada tafsiran dari sejarawan Stutterheim yang berpendapat, tokoh Rakryan Binihaji, bukanlah permaisuri Mpu Sindok, melainkan neneknya. Akan tetapi, karena kata kbi itu didahului oleh pu dan dyah, yang biasa mendahului nama orang, agak sulit menerima tafsiran Stutterheim itu. Sebab di sini lebih condong untuk menerimanya sebagai permaisuri atau rakryan binihaji parameswari, yang namanya Pu atau Dyah Kebi. Prasasti Cunggrang juga menyatakan bagaimana Mpu Sindok memerintahkan Desa Cunggrang, yang masuk wilayah Bawang, di bawah pemerintahan langsung dari Wahuta Wungkal, dengan penghasilan pajak sebanyak 15 süwarna emas, dan kewajiban kerja bakti. Tapi adanya bangunan suci tempat pemujaan arwah Rakryan Bawang yang telah diperdewakan, yaitu ayah dari permaisuri raja yang bernama Dyah Kebi, membuat Mpu Sindok memutuskan membebaskan wilayah tersebut dari pajak atau daerah sima. Ia pun menugaskan penduduk daerah yang dijadikan sima atau wilayah yang bebas dari pajak itu bisa memelihara pertapaan dan prasada, juga memperbaiki bangunan pancuran di Pawitra (umahayua sang hyang tirtha pancuran i pawitra). Di sisi lain Mpu Sindok konon memberikan hadiah kepada permaisurinya, yang ikut dijadikan sima sebagai sumber pembiayaan pemujaan arwah mertua raja Rakryan Bawang di Prasada, dan biaya pemujaan di pertapaan di Tirtha pada tanggal 3 tiap bulan, serta biaya persembahan caru setiap harinya. (mif) Baca juga :

Read More

Kisah Ibnul Mubarak yang Berguru Pada 4.000 Ulama

Surabaya — 1miliarsantri.net : Abdullah ibnu Al Mubarak bin Wadlih Al Handzali Al Marwazi atau dikenal dengan sebutan Ibnul Mubarak, adalah seorang ulama besar yang lahir di Kota Marwa, Khurasan, pada tahun 118 H. Dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala, Syamsuddin az-Zahabi, Jilid 8, halaman 379, dijelaskan bahwa Ibnu Mubarak merupakan ulama terkemuka pada masanya, yang dikenal dengan keilmuannya yang luas, kesalehannya, dan sifat zuhudnya. Ayahnya, Al Mubarak, berasal dari Turki, sedangkan ibunya berasal dari Khwarezmia (sekarang Khiva) yang dulunya termasuk bagian Khurasan atau sebelah barat Uzbekistan. Ibnul Mubarak lahir dari pasangan suami istri yang taat dalam menjaga dan mengamalkan nilai-nilai ketakwaan agamanya. Ibnul Mubarak tumbuh menjadi anak yang cerdas dan gemar belajar. Sejak kecil, ia sudah mempelajari ilmu agama dari ayahnya dan ulama-ulama lainnya di Marwa. Ia juga berguru kepada ulama-ulama besar di berbagai kota di dunia Islam, seperti Basrah, Baghdad, dan Damaskus. Guru pertama yang ditemui Ibnul Mubarak adalah Rabi’ bin Anas al-Kharasyi. Ia berusaha untuk menemuinya di penjara dan mendengar sekitar 40 hadits darinya. Kemudian, melakukan perjalanan pada tahun 141 H dan mengambil hadits dari para tabi’in yang ditemuinya. Menurut catatan Syamsuddin az Zahabi, dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala, Ibnul Mubarak berguru kepada banyak ulama, bahkan lebih dari 4.000 orang. Sementara Imam bin Hanbal menuturkan bahwa Ibnul Mubarak adalah ulama yang sangat giat mencari ilmu. Ia rela merantau ke berbagai negeri untuk belajar kepada para ulama. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menimba ilmu. Imam Ahmad bin Hanbal juga berkata, “Pada zamannya, tak ada seorang pun yang lebih giat menimba ilmu melebihi Ibnu Al-Mubarak.” Ibnu Al-Mubarak pernah belajar kepada 4.000 orang guru di berbagai negeri. ad Di antara gurunya dari kalangan tabi’in lainnya, seperti Sulaiman at-Taimi, ‘Ashim al-Ahwal, Humaid at-Tawwal, Hisyam bin ‘Urwa, al-Jariri, Ismail bin Abi Khalid, al-A’masy, Buraidah bin Abdullah bin Abi Burdah, Khalid al-Khudhari, Yahya bin Sa’id al-Anshari. Kemudian Ibnul Mubarak juga pernah berguru pada Abdullah bin Aun, Musa bin Uqbah, Ajlajah al-Kindi, Husain al-Mu’allim, Hanzhalah as-Sadusi, Huyawah bin Syarih al-Misri, Kahmas, al-Auza’i, Abu Hanifah, Ibnu Juraij, Ma’mar, at-Tsauri, Syu’bah, Ibnu Abi Dzi’b, Yunus al-Ili, al-Hammadan, Malik, al-Laits, Ibnu Lahi’ah, Hisyam, Ismail bin ‘Iyasy, Ibnu ‘Uyainah, dan Baqi’ bin al-Walid. Semasa hidupnya, Ibnul Mubarak banyak melakukan perjalanan dan mengembara hingga ia meninggal dunia dalam pencarian ilmu. Ia pernah mengunjungi berbagai kota di Irak, Suriah, Hijaz, dan Yaman. Saat mengunjungi Irak, ia berguru kepada para ulama besar seperti Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, dan Abu Hanifah. Di Suriah, ia berguru kepada para ulama besar seperti Yahya bin Sa’id al-Ansari, Abu Hazim al-A’raj, dan Malik bin Dinar. Di Hijaz, ia berguru kepada para ulama besar seperti Urwah bin Zubair. Di Yaman, ia berguru kepada para ulama besar seperti Syu’bah bin al-Hajjaj dan Hammad bin Zaid. ad Kesaksian Tabi’in tentang Abdullah Ibnu Mubarak Berdasarkan penuturan para ulama semasanya, sosok Ibnul Mubarak digambarkan sebagai ulama dan ahli hadits yang sangat mulia akhlaknya. (yat) Baca juga :

Read More

Perang Salib Bentuk Agresi yang Cenderung Melakukan Pembantaian Muslim

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kebanyakan sejarawan Muslim pada akhir Abad Pertengahan menilai Perang Salib sebagai serangan brutal yang dilakukan orang asing (alien intruders) kepada penduduk lokal, yakni warga Baitul Makdis dan sekitarnya. Perang Salib merupakan serangkaian pertempuran yang terjadi secara periodik antara 1095 dan 1291 Masehi. Palagan yang memakan waktu nyaris dua abad itu dilatari ambisi para pemimpin agama dan politik Kristen Eropa Barat. Mereka berhasrat merebut Baitul Makdis atau Yerusalem dari tangan Muslimin. Pasukan Salib yang memasuki Yerusalem (1099) kemudian melakukan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Kota Suci itu. Haddad Wadi Z dalam artikelnya, The Crusaders through Muslim Eyes, menjelaskan para ahli sejarah itu juga menyoroti perbedaan Salibis dengan agresor lainnya pada masa itu. Kaum penjajah dari Eropa Barat ini terkesan datang bukan untuk merampas suatu wilayah, lalu memerintah dan menarik pajak dari seluruh masyarakat lokal. Alih-alih begitu, mereka justru lebih suka mendirikan koloni di wilayah taklukannya setelah membantai semua orang setempat yang berlainan iman dengannya. Dapat disimpulkan, tentara Salibis dalam perspektif sejarawan Muslim adalah gerombolan ekstremis. Bagaimanapun, yang cukup menarik perhatian adalah bahwa tidak satu pun ahli sejarah itu yang menyebut mereka sebagai pasukan salib atau namanama lain yang menunjukkan identitas keagamaan tertentu, semisal Kristen. Para agresor itu disebutnya bangsa Frank (al-Faranj atau al-Ifranj) yang menandakan asal negeri, bukan agama, mereka. Dengan demikian, apa yang dinamakan sejarawan modern kini sebagai tentara Salib, itu diidentifikasi para sarjana Muslim abad pertengahan lebih sebagai orang asing. Walaupun memang, lanjut Haddad Wadi, ada kalanya balatentara itu disebut sebagai orang kafir, seperti pada saat pertempuran berlangsung antara kedua belah pihak. Haddad meneruskan, banyak dinasti Muslim yang memerangi Romawi Timur (Bizantium) sebelum gelombang Salibis terjadi. Artinya, pertempuran melawan bangsa asing yang non-Islam bukanlah sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi, fenomena yang dihadirkan Pasukan Salib membuka mata mereka tentang perangai barbar yang datang dari luar dunia Islam. Mereka menyaksikan dengan sedih, bagaimana Salibis tidak beretika dalam melancarkan perang. Saat menduduki Antiokia, Akra, Haifa, Jubail, dan puncaknya Baitul Makdis, gerombolan tersebut bertindak tanpa perikemanusiaan sedikit pun. Mereka membasmi semua orang Islam setempat dan membumihanguskan rumah-rumah warga sipil. Karena itu, ketika Sultan Salahuddin membebaskan Tanah Suci pada 1187, kebijakan yang diambil sang pemimpin Dinasti Ayyubiyah bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Salibis berpuluh-puluh tahun silam. Di Masjid al-Aqsa terdapat genangan darah setinggi mata kaki, karena banyaknya kaum Muslimin yang dibantai. Fulcher of Chartress menyatakan, bahwa darah begitu banyak tertumpah, sehingga membanjir setinggi mata kaki: “If you had been there your feet would have been stained to the ankles in the blood of the slain.” Seorang tentara Salib menulis dalam Gesta Francorum, bagaimana perlakuan tentara Salib terhadap kaum Muslim dan penduduk Jerusalem lainnya, dengan menyatakan, bahwa belum pernah seorang menyaksikan atau mendengar pembantaian terhadap ‘kaum pagan’ yang dibakar dalam tumpukan manusia seperti piramid dan hanya Tuhan yang tahu berapa jumlah mereka yang dibantai: “No one has ever seen or heard of such a slaughter of pagans, for they were burned on pyres like pyramid, and no one save God alone knows how many there were.” (David R Blanks and Michael Frassetto (ed), Western Views of Islam in Medieval and Early Modern Europe, (New York, St. Martin’s Press, 1999). (yus) Baca juga :

Read More

Kerusuhan Aksi SARA Sudah Terjadi di Era Cokro Aminoto Tahun 1920 di Surabaya

Surabaya — 1miliarsantri.net : Persoalan penistaan ajaran agama di Indonesia semenjak dahulu itu sangat serius. Soal ini yang termasuk dalam isu sangat sensitif, SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan), telah terbukti memicu kerusuhan. Kasus Arya Dwikarma misalnya harus segera diselesaikan. Di zaman kolonial pemerintah Hindia Belanda kala itu pun bertindak sangat tegas, bahkan keras ketika muncul soal ini. Persoalan ini misalnya terjadi pada tahun 1920-an tatkala meletus isu SARA di Surabaya. Waktu itu kalangan umat Islam membuat aksi besar-besaran memprotesnya. Kalau dipadankan mirip aksi 212 yang terjadi beberapa tahun silam. Rusuh di Surabaya itu terjadi pada bulan Februari 1920. Keributan sudah berubah menjadi aksi kekerasan yakni berupa pembakaran tempat ibadah. Golongan etnis tertentu jadi sasaran amuk massa. Untunglah saat itu ‘Pak Tjokro’ (HOS Tjokro Aminoto) sebagai pemimpin Islam turun tangan. Tjokro pun berusaha keras untuk menentramkan suasana. Aparat keamanan pemerintah kolonial saat itu pun bertindak sangat tegas dengan menangkap banyak orang dan memasukannya ke bui. Tak hanya pemerintah kolonial Hindia Belanda, rezim yang sekuler pun di zaman Orde Baru. Presiden Soeharto tak pernah mau mentoleransi soal isu SARA. Pak Harto memang semenjak awal kekuasaannya dia selalu bertindak tegas bila muncul soal SARA. Pak Harto menjalankan aturan dengan melaksanakan Peraturan Presiden (Pepres) N0 1 tahun 1965 yang dibuat oleh Presiden Soekarno. Isi aturan hukum ini adalah tentang pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. Tak hanya itu, Perpres tersebut kemudian menetapkan untuk menambahkan pasal penodaan agama di dalam bab yang mengatur tentang ketertiban umum, Pasal 156 a KUHP. Tujuannya diantaranya adalah untuk menjaga tertib sosial di masyarakat. Tapi pertanyaan nya kemudian: Apakah sinisme terhadap agama –di antaranya Islam– menjadi berhenti? Jawabannya ternyata tidak! Sinisme (bahkan bisa disebut phobia) terus berlanjut. Sebagai ujian pertama ‘keampuhan’ aturan hukum ini terjadi pada bulan Agustus 1968 atau di masa awal Orde Baru. Majalah sastra termuka yang diasuh HB Jassin –Majalah Sastra, Th. VI. No. 8, Edisi Agustus 1968 – mempublikasikan cermin kontroversial ‘Langit Makin Mendung’ karya sesorang yang menyebut dirinya sebagai Ki Panji Kusmin yang mengolok nabi Muhammad SAW dan Jibril turun di kawasan Pasar Senin. Saat itu kontroversi pun meledak hebat. Umat Islam saat itu merasa tersinggung dengan cerpen tersebut yang dianggap menghina Islam. Ki Panji Kusmin dihukum. Dan HB Jassin selaku penanggung jawab Majalah Sastra dihukum percobaan selama dua tahun. (har) Baca juga :

Read More

Sejarah dan Legenda Candi Prambanan

Sleman — 1miliarsantri.net : Candi Prambanan atau yang dikenal juga sebagai Candi Roro Jonggrang merupakan situs bersejarah yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Candi ini dibangun dengan arsitektur yang indah dan ramping dengan memiliki ketinggian yang mencapai 47 meter. Prambanan sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia dan salah satu yang tercantik di Asia Tenggara, Candi Prambanan telah diakui sebagai warisan dunia oleh organisasi Internasional yang bergerak pada bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan (UNESCO). Candi Prambanan dikaitkan dengan legenda tentang kutukan Bondowoso terhadap Roro Jonggrang. Di mana, legenda Roro Jonggrang menceritakan tentang candi-candi yang dibangun oleh Bandung Bondowoso dan tidak selesai. Salah satu candinya dikenal sekarang sebagai Candi Sewu. Dalam legenda ini, Arca Durga yang berada di ruang utara candi utama dianggap sebagai perwujudan Rara Jonggrang yang dikutuk menjadi batu karena tidak memenuhi janji. Tidak hanya cerita Roro Jonggrang, candi ini juga dikaitkan dengan sejarah perebutan kekuasaan antara Dinasti Syailendra dan Sanjaya untuk berkuasa di Jawa Tengah. Pada tahun 850 Masehi, Rakai Pikatan memulai pembangunan candi ini sebagai tandingan untuk Borobudur dan Candi Sewu. Kemudian, Raja Lokapala dan Raja Balitung Maha Sambu melakukan perluasan kompleks candi ini. Selain itu, Prasasti Siwagrha pada tahun 856 M menyebutkan bahwa pembangunan ini untuk memuliakan Dewa Siwa sehingga menjadikan kompleks ini dikenal juga sebagai Siwagrha atau Rumah Siwa dan Siwalaya yang berarti Ranah Siwa atau Alam Siwa. Diketahui, Candi Prambanan dibangun secara berkelanjutan disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram, seperti raja Daksa dan raja Tulodong hingga menjadikannya kompleks. Para raja-raja tersebut tidak hanya memperluas kompleks dengan pembangunan ratusan candi tambahan di sekitar candi utama, namun juga menggunakan kawasan ini untuk menyelenggarakan berbagai upacara penting bagi kerajaan Mataram. Kompleks candi Prambanan sendiri terdapat sebuah kumpulan bangunan suci yang memiliki berbagai fitur dan struktur yang tersusun secara khusus. Pertama-tama, kompleks ini memiliki empat arah penjuru mata angin, dengan bangunan utamanya menghadap ke arah timur, sehingga pintu masuk utamanya adalah gerbang timur. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa jenis candi yang disusun dalam susunan yang teratur: Terkait itu, terdapat 224 Candi Perwara yang tersusun dalam empat barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar adalah 44, 52, 60, dan 68. Sehingga jumlah keseluruhan candi di kompleks Prambanan adalah 240 candi. Arsitektur Candi Prambanan memiliki keunikan tersendiri, mengikuti prinsip arsitektur Hindu yang tercatat dalam kitab Wastu Sastra. Di mana denah dan bentuk candi mengikuti pola mandala, dengan bentuk candi yang menjulang tinggi sebagai ciri khas arsitektur Hindu. Bentuk candi Prambanan juga meniru struktur gunung suci Mahameru, yakni tempat di mana para dewa diyakini bersemayam. Model kompleks candi Prambanan juga mencerminkan konsep kosmologi Hindu yang membagi alam semesta menjadi beberapa lapisan tanah atau loka. (mif) Baca juga :

Read More