Masjid Walidah Dahlan Universitas Aisyiah Yogyakarta Ciptakan Kondisi Ramah Lingkungan dan Hemat Energi

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Masjid Walidah Dahlan di kawasan kampus Universitas Aisyiah (Unisa) Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan masjid yang terdapat nilai sejarah di kota Yogyakarta dan dibangun di arra Universitas Aisyiah Yogyakarta. Rektor Universitas Aisyiah Yogyakarta, Warsiti, yang mendampingi Presiden Jokowi menjelaskan, masjid tersebut dibangun tidak hanya untuk kepentingan civitas, tetapi juga masyarakat umum. “Masjid ini memang didirikan dalam rangka untuk pertama pastinya memenuhi kebutuhan civitas. Selain itu, karena letak yang strategis masjid ini juga bisa dimanfaatkan untuk masyarakat luas,” ungkapnya. Menurut Warsiti, Masjid Walidah Dahlan dirancang dengan desain yang ramah lingkungan, misalnya sirkulasi air wudlu yang bisa dipakai kembali. Selain itu, masjid juga didesain dengan sistem ventilasi udara yang memungkinkan penghematan energi. “Jadi memang kita desain untuk hemat energi dan itu memang salah satu dari visi Aisyiah Yogyakarta sebagai kampus berwawasan kesehatan,” imbuhnya. Masjid Walidah Dahlan sendiri diberi nama dari dua tokoh Muhammadiyah, yakni pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan dan istrinya, Siti Walidah. Kedua tokoh tersebut dinilai telah memberikan inspirasi kepada umat, khususnya kaum perempuan. “Masjid ini kita beri nama Walidah Dahlan sebagai dua tokoh Muhammadiyah yang memberikan inspirasi kepada kita, kaum perempuan khususnya, untuk bisa terus berkemajuan,” tutur Warsiti. Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Unisa Yogyakarta, Siti Noordjannah Djohantini, menambahkan bahwa Presiden Jokowi mengapresiasi kehadiran Masjid Walidah Dahlan. Presiden juga mengapresiasi desain serta cepatnya pembangunan masjid tersebut. “Beliau memang sejak awal sudah melihat dan mendukung tentang keberadaan masjid di sebuah kampus. Oleh karena itu, Bapak Presiden mengatakan bahwa ini masjid yang dimiliki oleh Aisyiah, oleh Universitas Aisyiah yang membanggakan,” ungkap Siti Noordjannah. Siti pun berharap Masjid Walidah Dahlan bisa memenuhi tujuan didirikannya, serta dapat menjadi masjid yang makmur. “Kami berharap masjid ini makmur, digunakan untuk ibadah, untuk berbagai kegiatan karena ada fasilitas yang lain, ada pemberdayaan ekonomi dan sebagainya. Masjid untuk kampus dan masyarakat,” tandasnya. Usai melakukan peninjauan, Presiden Jokowi kemudian menunaikan salat zuhur berjemaah di Masjid Walidah Dahlan. Turut hadir mendampingi Presiden dalam kesempatan tersebut yakni Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. (Yus) Baca juga :

Read More

Membawa Pesan Kemanusiaan dan Perdamaian, Peringatan Haul Gus Dur Digelar di Kairo Mesir

Kairo — 1miliarsantri.net : Peringatan Haul Ke-14 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) digelar di Andalus Hall, Al-Azhar Conference Center (ACC), Nasr City, Kairo, Mesir, Ahad (28/1/2024). Acara ini mengangkat tema Humanity and Peace, Gus Dur’s Day: Remembering Gus Dur’s Wisdom and Legacy Cairo. Peringatan Haul Gus Dur di Kairo ini menjadi upaya untuk menerjemahkan pesan kemanusiaan dan perdamaian, sekaligus refleksi terhadap situasi global akhir-akhir ini yang makin meminggirkan nilai-nilai kemanusian yang membawa kedamaian. Duta Besar Indonesia untuk Mesir Lutfi Rauf menyampaikan sambutan dalam acara ini. Ia menyebutkan tiga hal yang membuat Gus Dur sangat familier terhadap banyak kalangan. “Tiga hal yang membuat Gus Dur familier sebagai figur yang luar biasa yakni pergaulan yang lintas preferensi, khazanah keilmuan yang luas, dan selera humor yang tinggi sebagai penyederhanaan pesan agama,” ungkap Lutfi Rauf kepada media, Selasa (30/1/2024). Sementara itu, putri sulung Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid menuturkan bahwa spirit ketauhidan merupakan lokus utama yang mengilhami segenap sikap, pemikiran dan pergerakan brilian Gus Dur selama hidup. “Beliau juga menyampaikan bahwa melalui Al-Azhar inilah, pemikiran Gus Dur telah berhasil menembus batas-batas teritorial negara,” ungkap Alissa. Sementara itu Deputi Grand Imam al-Azhar Syekh Abdurrahman al-Dluwaini memaparkan penyebab tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Ia menjelaskan, tragedi kemanusiaan yang sampai saat ini terjadi di Palestina adalah bentuk kepicikan dan kebohongan Zionis yang sudah lama tersingkap oleh sejarah. “Cepat atau lambat, Palestina akan segera meraih kemerdekaannya. Relasi antara umat Islam dan Palestina berbasis asas ketauhidan yang berkelanjutan,” tegas Syekh Abdurrahman. Sosok nomor dua di Al-Azhar itu juga menyampaikan posisi Al-Azhar yang akan terus konsisten menjaga marwah Islam sebagai agama yang penuh akan cinta kasih dan kedamaian. Hadir pula Rektor Universitas Al-Azhar Syekh Salamah Dawud. Ia menyampaikan bahwa secara historis, Mesir dan Indonesia telah lama menjadi mitra keilmuan. Baginya, Gus Dur dan Nahdlatul Ulama memiliki posisi yang fenomenal, baik di telinga orang Indonesia maupun di Mesir. Hal itu dibuktikan melalui banyaknya buku yang mendiskusikan keduanya. Di Mesir misalnya terdapat buku al-Mujaz al-Lathif fi ‘Alaqat Indunisia bi al-Azhar al-Syarif karya Husam Syakir, Jamiyat Nahdlat al-‘Ulama wa Dauruha fi al-Da’wah al-Islamiyah di Indonesia karya Taufiq al-Baidlawi, dan Masirat al-‘Alaqat baina Mishra wa Indunisia. Haul Gus Dur di Kairo ini diisi dengan dialog terbuka bersama Syekh Usamah Sayyid al-Azhari dan Alissa Wahid. Lalu ada Peluncuran Abdurrahman Wahid Center for Humanity and Islamic Studies (AWCHIS) serta pembacaan Piagam Kemanusiaan dan Perdamaian. Rentetan Haul Gus Dur dihadiri lebih dari 900 mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Acara ini dimulai dengan pembacaan yasin dan tahlil, ayat-ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu nasional Biladi-Biladi, Indonesia Raya, dan Mars Ya Lal Wathan. (ris) Baca juga :

Read More

Mengungkap Sejarah Monumen 47 Tokoh Pendiri Selecta

Batu — 1miliarsantri.net : Taman Rekreasi Selecta Kota Batu meremajakan monumen 47 Tokoh pendiri pembangunan PT Selecta. Monumen yang sebelumnya berada di atas kolam ikan Koi, kini dibangun lebih mewah dan diletakkan di bagian depan area masuk Taman Rekreasi Selecta. Monumen tersebut menggunakan arsitektur bangunan Belanda lengkap dengan jam klasik diatas nama-nama 47 Tokoh. Warna putih mendominasi bangunan monumen itu, sementara nama 47 tokoh diukir diatas batu marmer hitam dengan tinta warna emas. Direktur Utama PT Selecta, Sujud Hariadi mengatakan, 47 tokoh tersebut adalah pendiri Selecta usai ditinggal oleh pemiliknya yaitu warga Belanda. Secara pembangunan, memang Selecta dibangun oleh warga Belanda pada tahun 1930. Namun, Selecta dibuka kembali melalui PT Selecta pada tahun 1950. “Sejak 1945 Selecta kosong tidak ada yang memiliki. Setelah agresi militer Belanda pada tahun 1949, pemuda dan tokoh masyarakat desa sekitar Selecta berinisiatif untuk menghidupkan Selecta kembali. Padahal Selecta sudah terbengkalai bahkan sudah ditanami sayuran oleh warga,” ungkapnya kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (27/1/2024). Sujud menceritakan, Selecta saat akan diambil alih warga pada waktu itu sudah berbentuk PT yang dimiliki oleh warga Belanda. Sehingga tidak bisa serta merta bisa di miliki oleh warga. Oleh karena itu, 47 tokoh sepakat membentuk PT Selecta untuk membeli Selecta ke pemiliknya.  Kemudian, kata Sujud, PT Selecta menjual saham dengan harga Rp 100 perlembar waktu itu. Dan terkumpul 5000 ribu saham yang selanjutnya untuk membeli Selecta. “Pada tahun 1949 Selecta dibeli dengan harga 305 ribu rupiah. Jaman dulu sudah banyak banget. Jaman itu emas satu gram hanya 10 rupiah,” jelas Sujud. Setelah dibeli pada 1949, kemudian Taman Rekreasi Selecta diresmikan setahun kemudian yaitu pada tahun 1950. Dikatakan Sujud, saat ini saham PT Selecta dimiliki oleh 10100 Persero atau orang. “Kemudian Selecta diresmikan 19 januari 1950. Sehingga hari tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Selecta,” sambung Sujud. Lebih lanjut Sujud mengutarakan, Monumen 47 tokoh Pendiri Selecta sebenarnya sudah ada sejak 1990. Namun, saat itu terletak di dalam karena pos tiket juga ada dia dalam.  Seiring perluasan area Selecta zaman, pos tiket di pindah ke depan. Sehingga, monumen tidak begitu terlihat. “Akhirnya kita remajakan dengan diletakkan di depan, lebih menonjol terus kita mengunakan ukiran dengan tinta emas,” pungkasnya. (fin) Baca juga :

Read More

Kisah Heroik Sahabat Abbad ibn Bisyr Saat Menjaga Rasulullah SAW

Surabaya — 1miliarsantri.net : Abbad bin Bisyr bin Waqasy adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar. Abbad ibn Bisyr ibn Waqasy berasal dari suku Aus keturunan Bani Asyahli, biasa dipanggil Abu Bisyr atau Abu al-Rabi. Diriwayatkan dari sahabatnya sendiri, Ibn Yasar dari Uqail ibn Jabir bahwa Jabir ibn Abdullah al-Anshari berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah dari tempat perlindungan kami di kebun kurma dalam perang Dzatur Riqa. Dalam perang itu, seorang wanita musyrik terkena anak panah seorang Muslim.” “Usai peperangan, dan setelah Rasulullah pulang ke markas, suami wanita musyrik itu datang dan melihat apa yang terjadi pada istrinya. la marah dan bersumpah akan membalas dendam hingga salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW bersimbah darah. Diam-diam, ia (suami wanita musyrik) mencari tahu di mana Nabi Muhammad SAW menginap malam itu.” Saat Nabi Muhammad SAW hendak masuk rumah, beliau bersabda, “Siapakah yang mau berjaga malam ini?” Amar ibn Yasar dan Abbad bin Bisyr bangkit dan berkata, “Kami (siap berjaga), wahai Rasulullah.” Berjagalah Amar bin Yasar dan Abbad bin Bisyr dekat gerbang Syi’ib. Saat itu Rasulullah SAW dan para sahabat menginap di Syi’ib, di sebuah lembah. Amar bin Yasar dan Abbad bin Bisyr pergi menuju gerbang Syi’ib. Abbad ibn Bisyr bertanya, “Kau ingin aku berjaga di awal atau di akhir malam?” Amar bin Yasar menjawab, “Kau berjaga di awal malam, dan aku di akhir malam.” Kemudian Amar bin Yasar berbaring dan tertidur pulas. Abbad bin Bisyr mendirikan sholat sunnah sambil berjaga. Ketika itulah suami wanita musyrik itu datang. Ketika melihat Abbad bin Bisyr yang sedang sholat, lelaki (suami wanita musyrik) itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. la langsung melepaskan panah ke arah Abbad bin Bisyr dan tepat mengenai tubuhnya. Terkena panah tidak membuat Abbad bin Bisyr membatalkan sholatnya. la hanya mencabut panah dan melanjutkan shalatnya. Lelaki itu kembali melepaskan anak panah dari busurnya. Abbad bin Bisyr tetap berdiri dalam sholatnya. Untuk ketiga kalinya lelaki itu meluncurkan anak panah, dan Abbad ibn Bisyr mencabut panah yang tertancap di tubuhnya, lalu ia rukuk, lantas sujud. Baru setelah selesai sholat sunnah, Abbad ibn Bisyr membangunkan Amar ibn Yasar dan berkata, “Bangunlah, ada orang yang datang.” Amar ibn Yasar terkejut ketika melihat suami wanita musyrik itu berada di dekat mereka. Ketika melihat mereka berdua, lelaki itu tahu, mereka berdua menjadi benteng hidup bagi Nabi Muhammad dan menjadikan diri mereka sebagai penebus sumpahnya. Amar bin Yasar kaget melihat sahabatnya Abbad bin Bisyr berlumuran darah. Amar bin Yasar berkata, “Subhanallah! Kenapa kau tidak membangunkanku saat pertama kali kau terkena panah?” Abbad bin Bisyr menjawab, “Aku sedang membaca salah satu surat dan aku tidak mau memutuskan bacaanku sampai selesai. Saat beberapa anak panah menancap di tubuhku, aku pun menyelesaikan sholat, dan membangunkanmu. Demi Allah, jika tidak karena tugas berjaga yang diperintahkan Rasulullah, niscaya jiwaku sudah lepas dari raga sebelum aku memutuskan atau menyelesaikan bacaanku.” Dikisahkan, Abbad bin Bisyr selalu hadir mengikuti peperangan bersama Rasulullah SAW sampai beliau wafat. (yat) Baca juga :

Read More

Pasar Ngrancah, Jejak Sejarah Pasar Pemerintah di Gunungkidul

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pasar Ngrancah, sebuah pasar yang menjadi bagian dari pengelolaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gunungkidul, memiliki daya tarik sejarah yang tak ternilai. Terletak di Kemantren Pasar Rongkop, sebuah wilayah yang dikelola oleh seorang mantri pasar, Pasar Ngrancah menjadi pusat kegiatan perdagangan yang menarik perhatian masyarakat sekitarnya. Menurut Supangadi (58 tahun) warga sekitar, pasar ini memiliki akar sejarah yang melibatkan masa kolonial Belanda. Dibangun pada masa tersebut, Pasar Ngrancah awalnya hanya terdiri dari dua los besi, yaitu Los B1 dan B2. Pasar ini bukan hanya tempat biasa untuk berjualan, namun juga menjadi pusat aktivitas ekonomi pada hari pasaran Kliwon dan Pahing. Supangadi mengungkapkan bahwa pada masa lalu, aktivitas pasar dimulai dari jam 6 pagi hingga jam 12 siang. Namun, seiring berjalannya waktu, pola jam pasaran berubah menjadi jam 3 pagi hingga jam 8 pagi. Fenomena ini mencerminkan perubahan kebiasaan masyarakat dan dinamika ekonomi di sekitar Pasar Ngrancah. Seiring dengan pertumbuhan dan keberlanjutan pasar, banyak perubahan terjadi. Los pasar bertambah jumlahnya karena Pasar Ngrancah tumbuh besar dan ramai. Di sekeliling pasar, berdiri banyak kios dari bahan kayu, memberikan nuansa tradisional dan kentalnya aroma pasar tradisional yang ramai. Wartiyem (54 tahun), menambahkan bahwa pada tahun 2012, pasar ini mengalami renovasi. Proses renovasi melibatkan penggantian bagian wuwung, genteng, usuk dan reng kayu, serta penambahan lisplang dan keramik. Renovasi ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mempertahankan keberlanjutan dan kenyamanan pasar. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Supangadi, Pasar Ngrancah yang dulu sangat ramai mulai mengalami sepi setelah tahun 2000. Pada masa tersebut, pasar ini menjadi sangat sibuk karena adanya terminal bus di sebelah barat pasar. Banyak aktivitas penduduk yang ingin melakukan perjalanan dengan bus, membuat Pasar Ngrancah menjadi tujuan utama. Sayangnya, setelah tahun 2000, Pasar Ngrancah mengalami perubahan dramatis. Kesibukan pasar menghilang dan pasar ini mulai sepi hingga saat ini. Faktor-faktor perubahan ini bisa saja disebabkan oleh perkembangan infrastruktur transportasi dan perubahan kebiasaan masyarakat. Menariknya, Pasar Ngrancah tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah. Dianggap sebagai peninggalan kolonial Belanda, pasar ini telah melewati berbagai fase perkembangan, dari dua los besi awal hingga mengalami renovasi pada tahun 2012. Pasar Ngrancah bukan hanya menjadi tempat transaksi jual-beli, tetapi juga menjadi bagian hidup masyarakat di sekitarnya. Dengan perubahan yang dialaminya, pasar ini menghadirkan nuansa nostalgia dan mengingatkan kita pada sejarah panjang perdagangan di Gunungkidul. Meski sepi saat ini, Pasar Ngrancah tetap menjadi salah satu penanda kaya akan cerita dan jejak sejarah di Kabupaten Gunungkidul. (mif) Baca juga :

Read More

Moment Dimana Buya Hamka Menitipkan Sang Ayah Kepada Bung Karno Dengan Menitikkan Air Mata

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kisah ini bermula dari kasus pengasingan yang menimpa Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), atau yang juga akrab disapa Haji Rasul. Laki-laki kelahiran Nagari Sungai Batang Maninjau Oud Agam pada 10 Februari 1879, adalah ayah kandung dari Haji Abdul Karim Amrullah – atau yang akrab disapa Buya HAMKA Residen Whitlaw dalam Memorandum van Overgave di Sumatra Westkust, merilis sebuah tulisan yang menguatkan peran HAKA dalam menggerakkan Muhammadiyah. Dalam laporannya untuk Penasehat Urusan Bumiputra di Batavia, Whitlaw menulis, bahwa Haji Rasul berada di belakang lahirnya Muhammadiyah di Padang Panjang (Sufyan, 2021). Meskipun digadang-gadang Whitlaw selaku pionir Islam Berkemajuan di ranah Minang – Residen Sumatra Barat itu juga menulis HAKA sebagai seorang dubbelhartig. Posisinya pun serba susah. Ia tidak mendapat tempat di mata murid-murid dan guru Sumatra Thawalib yang berafiliasi ke Kuminih, namun ia lebih tidak dipercayai Whitlaw karena tidak pernah menegaskan posisinya sebagai pembenci Kuminih. Dalam tulisan akhirnya, Whitlaw mengingatkan pada para penggantinya, untuk tidak mempercayai HAKA. Padahal, Whitlaw hanya berpedoman pada surat kaleng yang tidak jelas siapa pengirimnya. Dalam surat kaleng itu ditulis,”Lahirnya dia berpihak pada pemerintah, batinnya memihak pada Communisten. Buktinya paduka tuan mulia lihat sendiri, yaitu murid-muridnya hampir semuanya berhaluan merah.” (Mailrapport No.2488/1926). Dua tahun kemudian, pemerintah Kolonial Belanda kembali mencatat perlawanan dari pendiri Sumatra Thawalib dan majalah Al Munir Al Manar itu. HAKA memainkan peran penting dalam penolakan Ordonansi Guru tahun 1926. Bersama ratusan ulama dan guru agama dari sekolah Islam partikelir, ordonansi itu batal diterapkan. HAKA terus melawan kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Selain kebijakan pemerintahan dan adat, ada juga Ordonansi Guru dan Sekolah. HAKA dicap berbahaya. Controleur di Maninjau, asisten residen di Fort de Kock, dan residen Sumatra Westkust telah memanggil dan meminta pertanggung jawabannya sebanyak dua belas kali. Sejumlah siswanya ditangkap karena berpartisipasi dalam aktivitas politik. Keluarganya, adiknya, anaknya, dan kemenakannya dianggap bersalah dan dihadapkan pada proses hukum. Semuanya dinilai berdasarkan ceramah dan tulisannya yang dianggap melawan pemerintah dan otoritas adat. Di hadapan Contrelur di Maninjau, HAKA menegaskan pendirinya, “Jangan tuan ancam saya!” Saya sudah bosan dengan ancaman. Tuan memiliki kekuatan! Saya dibuang jatuh dari ketinggian. Dengan pedang tuan yang tajam, leher saya genting. Namun, saya tidak dapat berhenti mengajar agama. Saya akan berhenti hanya jika saya dapat menghentikan setiap nafas yang saya ambil dari tubuh saya!” Sampai akhirnya, ia pun di bui dan dihadapkan ke meja hijau. Hoofddjaksa Oud Agam menegaskan, bahwa penyelidikan yang dilakukan terhadap HAKA tidak ada hubungannya dengan aliran agama (Islam modernis) yang disebarkan olehnya. Namun, penyelidikan itu semata-mata karena tindakan politik yang dilakukan oleh HAKA di sekitar Sungai Batang dan Tanjung Sani Maninjau. Penyelidikan yang dilakukan otoritas jaksa Oud Agam itu menyasar pada pengajian yang dilakukanya pada 10 Mei 1940 (Sumatra Bode, 17 Juli 1941). Haji Rasul dituding melakukan penghasutan, dan menyebar perlawanan terhadap otoritas adat dan pemerintahan di SungaiBatang dan Tandjung-Sani yang berpenduduk sekitar 11.000 orang. Ia pun dituding telah merusak rust en orde. “Haji Amarullah melakukan agitasi politiknya, hampir tidak dapat menegaskan dirinya lagi. Meskipun telah berulang kali diperingatkan, Haji Amarullah tetap melanjutkan aksinya, yang merugikan ketentraman dan ketertiban umum.” (de Sumatra post, 19 Juli 1941). Dari persidangan, Jaksa menuduh murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi telah melanggar pasal 153a Strafwetboek dan Regeeringsbesluit tertanggal 13 Januari 2010, No. 2x. Pasal dan tuduhan bertubi-tubi disematkan padanya. HAKA dituduh secara sistematis, merongrong kewibawaan negara, menyebar ujaran kebencian terhadap Pemerintah Hindia Belanda, dengan tujuan akhir menggulingkan pemerintah. Putusan akhir pengadilan menjatuhkan hukuman buang terhadap Haji Rasul. Keputusan itu kemudian dikuatkan dengan putusan Residen Sumatra Westkust, “Rasul Gelar Dr Haji Abdul Karim Amarullah, yang dijuluki Hadji Rasul, guru agama di Sungai Batang (Sumatra Westkust) Demi kepentingan ketenangan dan keamanan masyarakat, Sukabumi telah ditetapkan sebagai tempat tinggal. Perlu dicatat bahwa pengasingan Dr Amrullah tentu saja didasarkan pada upaya politiknya” (Bataviaasch nieuwsblad, 21 Juli 1941).” Tiga tahun berlalu. Hamka masa itu berusia 36 tahun. Ia masih ingat dengan kisah ayahnya yang diundang makan oleh Bung Karno. HAKA tidak lagi berada di pengasingan, berkat bantuan Bung Karno, ia dibebaskan serdadu Jepang, dan dipindah ke Jakarta. HAKA diundang untuk bersantap siang di kediaman Soekarno, yang beralamat di Jalan Pegangsaan Timur. Ia telah berada di ruang makan bersama dengan suami dari Fatmawati itu. Sedang makan, Soekarno berkata: “Inyik tetap sajalah di Jakarta, Soekarno ini anggap sajalah sebagai ganti Hamka, untuk mengurus Inyik”. HAKA, hanya mengangguk pelan. Ayahnya menceritakan kisah itu. Dan Bung Karno pun menceritakan sebaliknya kepada penulis Tenggelamnya Kapal vander Wijk itu. Hamka pada bulan April 1944 telah berada di Jakarta dan menemui sang ayah yang dirindukannya. Ia pun hendak kembali ke Medan, beberapa hari kemudian. Hatinya remuk redam meninggalkan ayahnya yang sudah sepuh dan sakit-sakitan di Jakarta. Ia membatin, barangkali hari itu lah akhir dari pertemuannya dengan Sang Ayah. “Saya tidak bisa melihat wajah ayah lagi.” Hamka membatin. Dengan tertatih-tatih karena tuanya, Haji Rasul mengantarkan putra yang telah ditunggu-tunggu sepuluh tahun kelahirannya itu, ke stasiun Tanah Abang. Soekarnopun turut mengantar Hamka. Ketika kereta api akan berangkat, Hamka pun meciumi ayahnya. Dengan berbisik lirih ke Soekarno, Hamka pun berpesan, “Ayah kita Bung! Bung ganti saya”. “Jangan kuatir, berangkatlah” Mereka pun berpelukan. Tanpa terasa airmata keduanya pun menetes, dan disaksikan oleh Haji Abdul Karim Amrullah yang telah berusia 65 tahun dan sakit-sakitan. Mata itu berair, menyaksikan kepergian anaknya, seiring menjauhnya kereta api yang membawa Hamka. (yan) Baca juga :

Read More

Situs Goa Siluman, Peninggalan Cagar Budaya di Yogyakarta Yang Terlupakan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Yogyakarta merupakan kota dengan sejarah panjangnya, menyimpan banyak cagar budaya yang menceritakan kejayaan masa lalu. Salah satunya adalah Situs Gua Siluman, sebuah pesanggrahan bekas pabrik senjata Sultan Hamengku Buwono II yang terletak di Jalan Wonocatur, Banguntapan, Bantul. Dari catatan sejarah, diketahui bahwa setidaknya ada 13 pesanggrahan yang dibangun olehnya, termasuk Pesanggrahan Wonocatur atau yang lebih dikenal sebagai Situs Gua Siluman. Menurut Budianto, Juru Pelihara BPK Wilayah X Yogyakarta, pesanggrahan ini bukan hanya tempat peristirahatan, melainkan juga fungsi pabrik senjata pada masa Sultan HB II. Keunikan Arsitektur dan Patung di Gua SilumanDi dalam kompleks Situs Gua Siluman, terdapat kolam yang dulunya dialiri air dari sungai yang melintasi pesanggrahan. Bangunan di tengah kompleks tersebut dulu menjadi saluran air yang mengalir ke kolam, memberikan nuansa sejuk dan indah. Patung berbentuk naga dan burung beri, atau garuda, di pojok timur dan barat situs juga menjadi bagian dari keunikan arsitektur Gua Siluman. Patung-patung tersebut dahulu mengeluarkan air dari mulutnya yang kemudian ditampung di dalam kolam. Himawan Prasetyo, Pamong Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Yogyakarta, mengungkapkan bahwa situs ini menjadi pabrik pembuatan senjata pada era Sultan HB II. Dua meriam hasil produksi Gua Siluman dapat ditemukan di Keraton Yogyakarta, menjadi bukti sejarah penting yang diwariskan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, Situs Gua Siluman mengalami masa terlupakan dan terbengkalai. Pada tahun 2017, Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY) melakukan konsolidasi untuk memperkuat bangunan yang mulai rapuh. Renovasi besar-besaran kemudian dilakukan pada tahun 2018 untuk memulihkan situs bersejarah ini. Pemugaran yang dilakukan pada 2018 difokuskan pada dinding gua yang mengalami kerusakan parah. Upaya ini merupakan bagian dari usaha untuk melestarikan warisan budaya yang tak ternilai ini. Dengan adanya pemugaran tersebut, diharapkan Situs Gua Siluman dapat terus dijaga dan dinikmati oleh generasi mendatang. Saat ini, Situs Gua Siluman menjadi saksi bisu dari kejayaan masa lalu, dan upaya pemugaran menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali keindahan dan makna sejarah yang terkandung di dalamnya. Melalui pemeliharaan dan kesadaran kolektif, cagar budaya ini dapat terus menjadi bagian yang hidup dari identitas dan warisan budaya Indonesia. (mif) Baca juga :

Read More

Masa-masa Kekalahan Pangeran Diponegoro Atas Belanda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Belanda dengan gemilang menguasai wilayah selatan dan tengah Yogyakarta pada awal 1828. Diponegoro terdesak ke barat. Ia bersembunyi di hutan Bagelen pada tahun 1829. Belanda mencoba membuka perundingan untuk bisa menangkap Diponegoro. Kekalahan Diponegoro berawal pada 7 Januari 1828. Saat itu, wakil Jenderal De Kock, Kolonel Chochius, dibantu 120 prajurit Madura dan dan kolone kesultanan berhasil merebut Desa Tegalsari. Sebanyak 30 prajurit Diponegoro ditawan. Sebanyak 100 ekor sapi dirampas. Setelah itu, Chochius membakar semua desa dekat Plered. Pasar Gede dan desa-desa sekitarnya pun dikuasai Belanda, 21 ekor sapi dirampas dari Desa Wonokromo. Selama Maret 1828, Cochius berhasil menguasai desa-desa di perbatasan Yogyakarta-Kedu. Setelah itu merebut desa-desa di sekitar jalan Yogyakarta-Magelang pada April 1828. Dalam waktu tiga bulan, wilayah utara Yogyakarta pun direbut oleh Belanda. Benteng-benteng pertahanan dibangun Belanda di wilayah-wilayah yang telah dikuasai. Benteng-benteng itu menyulitkan Patih Abdullah Danurejo untuk memungut pajak. Akibatnya pasukan-pasukan Dipoengoro makin kesulitan mendapatkan perbekalan. Pada November 1828, Kiai Mojo dan 500 prajuritnya yang kesulitan perbekalan dikalahkan oleh Belanda. Mereka ditawan. Pasukan Diponegoro dipukul mundur, terdesak di tepi barat Kali Progo pada April 1828. Belanda beruntung bisa menangkap Kerto Pengalasan. Pengalasan membantu membuka peluang perundingan Belanda-Diponegoro. Pada akhir Januari dimulai gencatan senjata, berlangsung hingga tiga bulan. “Pada akhir Januari 1829 terjadi gencatan senjata sehubungan dengan rencana perundingan antara Ali Basah Sentot Prawirodirjo (utusan Diponegoro) dengan Kolonel Nahuys (utusan Jenderal De Kock),” tulis Saleh As’ad Djamhari. Kerto Pengalasan pun memberikan informasi mengenai rencana Diponegoro mendirikan keraton baru, terpisah dari gubernemen. “Kita tahu dari sumber-sumber lain bahwa yang pernah menjadi tempat markas besarnya di Sambiroto, daerah Adikarto, Kulon Progo, sebelah barat Kali Opak mungkin akan dipilih sebagai ibu kota kerajaan ini,” kata Peter Carey. Ketika masa gencatan senjata akan usai, Diponegoro memindahkan pasukan ke Pajang. Diponegoro memilih ke Bagelen ketika Belanda terus menyerbunya De Kock terus melanjutkan revana perundingan dengan dibantu oleh Pengalasan. Namun, Johannes van den Bosch, gubernur jenderal baru yang datang pada awal Januari 1830, menegaskan tidak ada ruang perundingan untuk Diponegoro. Perintah Raja Willem I yang ia bawa adalah menangkap Diponegoro. “Kehendak mutlak raja itu, tidak bileh ada perundingan lagi, hanya penyerahan diri tanpa syarat yang diizinkan,” kata De Kock kepada Kolonel Cochius. “Jika mungkin menangkap atau membunuh Diponegoro, hal itu tentunya sangat menyenangkan […] jangan mengikat perjanjian apa pun dengan dia,” kata Van den Bosch kepada De Kock. Maka, De Kock merancang perundingan sebagai alasan agar bisa menangkap Diponegoro. Nasib Diponegoro berarti sudah dientukan sebelum perundingan dimulai “Jangan melakukan perundingan apa pun dengan dia […] hanya dengan syarat pemenjaraan seumur hidup penyerahan diri dan penangkapannya diizinkan. Tidak ada syarat lain apa pun,” kata Van den Bosch kepada De Kock. Pada 8 Maret 1830 Diponegoro telah tiba di Magelang atas undangan De Kock. Pada tanggal itu juga Van den Bosch menulis surat untuk De Kock: Sekalipun berkemampuan … [Diponegoro] tetaplah seorang kriminal yang menimbulkan cercaan […]. Memberi hati kepada oang srperti itu tentu saja akan dipandang kelak sebagai kelemahan yang tak bisa dimaafkan […].Apa anggapan orang jika kita sampai menunjukkan perkenan kepada seseorang yang sejauh ini sudah dikalahkan sehingga dia terpaksa berkeliaran di hutan belantara dengan hanya dua orang pengikut? (mif) Baca juga :

Read More

Sejarah Emas Hingga Dijadikan Alat Pertukaran dan Transaksi Jual Beli

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dalam sejarah Islam, emas memiliki peran penting, baik secara ekonomi maupun budaya. Emas dianggap sebagai salah satu bentuk kekayaan yang legal dan dihargai. Mata uang emas telah digunakan dalam sejarah Islam sebagai standar nilai dan alat tukar. Salah satu contoh yang terkenal adalah dinar emas dan dirham perak. Sebelumnya, bangsa Arab hanya berdagang dengan menerapkan sistem barter dan tidak pernah memproduksi mata uang sendiri. Bangsa Arab lalu mengadopsi dinar dan dirham sebagai sistem mata uang dan hal ini berlangsung hingga zaman Rasulullah SAW. Dalam proses penimbangan bobot dinar dan dirham tersebut, Rasulullah SAW dibantu oleh seorang sahabatnya, yaitu Arqam bin Abi Arqam yang merupakan seorang ahli tempa emas dan perak pada masa itu. Namun, pada awal abad ketujuh masa Rasulullah SAW koin belum ada. Sementara, koin emas dari kekaisaran Bizantium dan koin perak dari Persia saat itu sudah beredar. Orang-orang Arab kemudian menyebar ke Timur Dekat atau Kawasan Levant pada pertengahan abad ketujuh. Mereka menjalin hubungan erat dengan masyarakat yang telah mengeluarkan koin selama berabad-abad tersebut. Dinar emas Islam pertama baru dicetak sekitar setengah abad setelah wafatnya Nabi SAW oleh khalifah Bani Umayyah kelima, Khalifah Abdul Malik bin Marwan (68 M-705 M). Khalifah Abdul Malik mulai mencetak koin emas pada 697 M. Koin emas yang dicetak tersebut berbobot 4,4 gram dengan mencantumkan tulisan dinar. Dua tahun berikutnya, pemerintahan Khalifah Abdul Malik kembali mencetak dinar yang bobotnya berubah menjadi 4,25 gram emas karena mengikuti standar yang diletakkan Khalifah Umar bin Khattab. Koin emas pada zaman itu dicetak secara khusus di Damaskus, ibu kota kekhalifahan Umayyah. Khalifah Abdul Malik menggantikan sosok kaisar Bizantium di dalam koin emas yang selama ini telah digunakan. Lambang salib juga dihilangkan, dan untuk pertama kalinya kata-kata dari Alquran dimunculkan di dalam koin. Setiap koin yang dicetak pada saat itu bertuliskan kalimat tauhid. Sejak saat itu, dilakukan penghentian penggunaan gambar wujud manusia dan binatang dari mata uang peradaban Islam itu. Sebagai gantinya, digunakan huruf-huruf. Dinar emas lazimnya berbentuk bundar. Selain itu, tulisan yang tercetak pada dua sisi koin itu memiliki tata letak yang melingkar. Pada satu sisi mata koin tercantum kalimat tahlil dan tahmid. Sedangkan di sisi lainnya, tertera nama penguasa (amir) dan tanggal dicetak. Selain itu, terdapat suatu kelaziman untuk menuliskan shalawat kepada Rasulullah SAW dan ayat-ayat Alquran dalam koin dinar itu. Koin emas dan perak tetap menjadi mata uang resmi hingga jatuhnya Kekhalifahan. Dengan kekuatan dinar dan dirham yang tahan akan hantaman roda ekonomi, para ulama menjadikan dinar dan dirham sebagai tolok ukur dalam menentukan nisab zakat. Misalnya, Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat (ikhtilaf) bahwasanya dalam zakat emas itu adalah 20 mitsqal (dinar).” Dinar dan dirham memang dikenal sebagai alat perdagangan resmi yang paling stabil sejak berabad-abad lamanya. Namun, pemanfaatan dinar dan dirham sebagai mata uang mulai ditinggalkan dan hanya beberapa negara di kawasan Timur Tengah yang masih memanfaatkan dinar dan dirham sebagai mata uang. Selain memiliki peran penting dalam ekonomi, emas juga memiliki nilai simbolis dalam budaya Islam. Perhiasan emas sering digunakan sebagai bagian dari tradisi pernikahan dan sebagai bentuk investasi jangka panjang. Namun, penggunaan emas dalam konteks ekonomi modern dapat bervariasi sesuai dengan interpretasi dan implementasi hukum Islam oleh berbagai komunitas. (yus) Baca juga :

Read More

Punakawan Roto Menangis Saat Mendampingi Diponegoro yang Jadi Tawanan Belanda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Saat itu Punakawan Roto mengiringi Diponegoro ketika Belanda membawa Diponegoro ke Semarang. Saat menginap di Ungaran, Roto menangis, dikarenakan sebagai tawanan, Diponegoro dilarang Jenderal De Kock mengajak serta anak, panglima, dan prajuritnya. Punakawan yang boleh ikut hanya Roto. Pada hari kedua Lebaran, Diponegoro berniat baik melakukan silaturami. Tapi De Kock tidak mengizinkan Diponegoro pulang dengan dalih ingin menuntaskan pembahasan persoalan perang. Tapi sebenarnya ini hanya dalih, ksrena De Kock sudah mendapat perintah dari Gubernur Jenderan Van den Bosch. Perintahnya menangkap Dipinegoro, bukan melakukan perundingan. Diponegoro kemudian dibawa ke Semarang untuk kemudian ke Batavia. Saat De Kock menahan, Diponegoro mengungkit janji Kolonel Cleerens. “Kolonel Cleerens dahulu juga mempunyai janji kepadaku kalau musyawarah gagal aku dipersilakan krmbali ke Gejawan,” kata Diponegoro. “Kalau Paduka pulang pun sudah tidak berani perang lagi,” kata De Kock. Pernyataan De Kock terdengar bernada hinaan. Diponegoro pun segera menyergahnya. “Mengapa taku perang kalau semua prajurit memang jantan,” kata Diponegoro. De Kock lantas mengaku tidak memiliki wewenang mengizinkan Diponegoro melanjutkan perang. De Kock keluar, meminta prajuritnya masuk ke loji. Dipinegoro pun memberi kode kepada Basah Martonegoro yang mendampinginya. Ia lalu menegur De Kock. “He, kau, Jenderal De Kock. Kau membuat kisruh,” kata Diponegoro. Diponegoro pun lalu meraih tangan De Kock. Dipinegoro mengajaknya duduk di kursi panjang. Ada keinginan Diponegoro membunuh De Kock saat itu. Karena itulah ia memberi kode kepada Basah Martonegoro untuk bersiaga. Namun niat itu ia urungkan karena Haji Isa Badarudin yang juga mendampinginya menasihatinya agar ingat Allah. Diponegoro pun menyadari, membunuh De Kock justru akan menjadi tidak baik. Maka, Diponegoro meluapkan amarahnya dengan memaki-maki De Kock yang selama Ramadhan sangat baik kepada Diponegoro. Tapi Diponegoro kemudian pasrah pada nasib. Ia pun pasrah ketika kemudian dibawa naik kereta kuda menuju Semarang sebagai tawanan. Jenderal De Kock berpesan kepada anak buahnya agar mengistirahatkan Diponegoro di Ungaran. Begitu di Ungaran, Roto menangis. Diponegoro menanyakannya kepada punakawannya itu. Roto menyatakan teringat ibunya, sehingga ingin pulang. Tapi, dalam pandangan Diponegoro, Roto menangis bukan karena ibunya. Ia tahu jika Roto takut pada pasukan Belanda yang mengawal mereka ke Semarang. Karenanya, Diponegoro perlu menenangkan hati Roto. “Hai Roto, kalau kau ingin pulang, besok saja kalau di Semarang. Aku ini sesungguhnya ingin naik haji, walai sendiri. Tidak sanggup aku tunda perihal keberangkatan ke Makkah,” kata Diponegoro. (mif) Baca juga :

Read More