Kisah Leluhur Sultan Agung Gagal Jadi Tamtama Demak

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dikisahkan, Ki Ageng Selo, leluhur Sultan Agung, gagal menjadi tamtama Kerajaan Demak. Ia tidak lulus tes. Tapi, cucunya, Ki Ageng Pemanahan, menjadi pimpinan tamtama Kerajaan Pajang. Cucunya yang lain, Ki Juru Martani menjadi patih saat Sutowijoyo, anak Ki Ageng Pemanahan, menjadi adipati Mataram. Bagaimana orang-orang Selo itu menjadi pembesar di Kerajaan Pajang? Bagaimana pula akhirnya menjadi raja Mataram? Ki Ageng Pemanahan bersama saudara sepupunya — Ki Ageng Panjawi dan Ki Juru Martani — bertemu dengan Joko Tingkir ketika sama-sama menjadi murid Sunan Kalljaga. Saat Joko Tingkir menjadi santri kakek mereka, Ki Ageng Selo, mereka belum lahir. Karena Joko Tingkir pernah menjadi santri Ki Ageng Selo, maka Sunan Kalijaga meminta tiga murid dari Selo itu menganggap Joko Tingkir sebagai kakak mereka. Joko Tingkir kemudian meminta anak Ki Ageng Selo yang juga ayah Ki Ageng Pemanahan, yaitu Ki Ageng Ngenis, pindah ke Pajang. Ki Ageng Ngenis, diberi tanah di Laweyan. Ketika meninggal, Ki Ageng Ngenis juga dimakamkan di Laweyan. Ki Juru Martani menjadi penasihat bagi Pemanahan dan Panjawi. Ki Juru Martani juga menjadi pengasuh Raden Bagus Srubut, anak Pemanahan. Raden Bagus Srubut ini di kemudian hari dikenal sebagai Sutowijoyo. Pada akhirnya dikenal pula sebagai Panembahan Senopati setelah menjadi raha Mataram. Raden Bagus Srubut diangkat menjadi anak oleh Joko Tingkir. Saat itu Joko Tingkir belum memiliki anak. Maka, hubungan Joko Tingkir semakin erat dengan tiga tokoh dari Selo, Grobogan, itu. Joko Tingkir sangat menyukai orang-orang Selo itu. Joko Tingkir mengangkat Pemanahan dan Panjawi sebagai pemimpin para tamtama Pajang. Ki Juru Martani tetap menjadi penasihat mereka. Tanpa sepengetahuan Joko Tingkir, Sutowijoyo yang masih kanak diajukan untuk melawan Adipati Jipang Aryo Penangsang. Ketika Aryo Penangsang tewas di tangan Sutowijoyo, Pemanahan mengaku bahwa diirinya dan Panjawulah yang membunuhnya. Dengan cara ini, Joko Tingkir mebeoati janji memberi hadiah tanah di Pati dan huran di Mataram. Pemanahan memilih hadiah hutan dan menyerahkan Panjawi untuk memilih Pati yang sudah ramai. Setelah hutan dibuka menjadi perkampungan Mataram, akhirnya Mataram menjadi wilayah kadipaten di bawah Kerajaan Pajang. Itu terjadi setelah Pemanahan meninggal dunia. Sutowijoyo diangkat menjadi adipati Mataram oleh Sultan Pajang. Setelah Suktan Pajang meninggal, akhirnta Sutowijoyo menjadi raja Mataram setelah menyingkirkan Adipati Demak Aryo Pangiri yang nerebut tahta dari Pangeran Benowo, putra mahkota Pajang. (jeha) Baca juga :

Read More

Anggapan Orang Jawa Dahulu, Ikut Garebek (Grebeg) Besar di Demak Disebut Setara dengan Naik Haji

Demak — 1miliarsantri.net : Hingga tahun 1930-an, orang Jawa masih mempunyai anggapan: menghadiri Garebek (Grebeg) Besar di Masjid Demak setara dengan naik haji. Lho lho lho, bagaimana urusannya? Pada masa lalu, Demak disepadankan dengan Makkah. Babad Sengkala memberitakan, ada pemberontakan di Mataram pada tahun 1522 Jawa yang dilakukan Adipati Mesir. Apakah Mesir di bawah kekuasaan Mataram? Tentu saja bukan. Jika Demak adalah Makkah, maka Mesir digunakan untuk menjuluki Pati. Jika dihitung dalam kalender Masehi, pemberintakan Adipati Mesir itu tetjadi tahun 1600. Mataram masih dipimpin oleh Panembahan Senopati, kakek Sultan Agung. Ada pula Madinah dan Al Quds untuk menyebut Kadilangu dan Kudus. Pada masa Kerajaan Demak, Sunan Kudus tak puas hanya menjadi penghulu keraton. Peran penghulu kurang luas. Ia menginginkan para wali memiliki peran yzng luas seperti yang berlaku di Giri. Ia mengundurkan diri sebagai penghulu lalu membangun negeri baru yang ia sebut Kudus. Kota suci ini diambil dari nama Al Quds yang ada di Palestina. Jika Kudus adalah Al Quds, mana Makkah yang menjadi kiblat bagi orang Jawa? Mana pula Madinah? Mana Mesir? Pati dirujuk sebagai Mesirnya orang Jawa. Kadilangu, tempat tinggal dan tempat makam Sunan Kalijaga sebagai Madinah. Lalu Demak menjadi Makkah bagi orang Jawa. Hingga tahun 1930-an, orang Jawa masih mempunyai anggapan: tujuh kali berturut-turut menghadiri Garebek Besar di Masjid Demak sepadan dengan naik haji. Pada 1922, penerintah kolonisl Belanda menetapkan kebutuhan minimal untuk naik haji sebesar 600 gulden-850 gulden. Pada 1927, untuk bisa makan di warung milik pengurus Muhammadiyah di Kramat, mahasiswa STOVIA di Batavia mengeluarkan 15 gulden per bulan. Penetapan kebutuhan minimal itu dilakukan agar tak ada yang nekat naik haji lalu mengandalkan belas kasihan orang lain selama hidup di Tanah Suci. Jadi, hanya orzng-orang yang mampu yang bisa pergi ke Makkah, Arab Saudi. Maka, orang-orang yang tak mampu ke Arab Saudi cukup menghadiri Garebek Besar di Makkah, Jawa Tengah, eh, di Demak, Jawa Tengah. Hingga 1937, Garebek (Grebeg) Besar di Demak itu yercatat masih selalu ramai didatangi orang. Di Demak ada masjid yang dibangun pada masa Raden Patah menjadi sultan Demak di abad ke-15. Pendirinya adalah para wali. Berbagai jenis kendaraan dari berbagai kota mengangkut, orang-orang yang ikut merayakan Garebek Besar di Masjid Demak,. Mereka seperti jamaah haji melakukan tawaf di Ka’bah, Masjidil Haram. Mereka juga melakukan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak. Seperti ziarah ke makam Nabi di Madinah. Garebek Besar diadakan pada tanggal 10 bulan Besar, yaitu bulan menurut kalender Jawa. Sama dengan bulan Dzulhijjah dalam karender Hijriyah. Pada Garebek Besar 1937 itu, selain menggunakan kereta dan bus, ada pula yang menggunakan sepeda dari Semarang untuk mencapai Demak Jumlah pesepeda ini juga mencapai ribuan. Saat Garebek Besar diadakan, biasanya ada penyembelihan hewan kurban. Sekain di Demak, Garrbek Besar juga diadakan di Surakarta dan Yogyakarta. Pada Garebek Besar 1904 di Yogyakarta, ada 2.000 warga yang mfnerima dagung kurban. Ada 25 ekor kambing kurban dan 12 ekor sapi kurban yang dipotong pada saat Garebek Besar di Yogyakarta pada 1904 itu. Pada 1935 pemerintah kolonial menarik pajak pemotongan hewan kurban. Pimpinan Muhammadiyah bereaksi dengan menyerukan agar tak ada pemotongan hewan kurban karena pengenaan pajak pemotongan ini. Gambaran Garebek Besar di Demak pada 1937 juga terjadi pada 1924. Untuk mengangkut orang-orang yang akan “naik haji” ke Demak, disediakan kereta tambahan dari Semarang. Alun-alun Demak penuh dengan tenda. Bukan untuk tempat tidur para jamaah, eh pata pengunjung yang ikut merayakan Garebek (Grebeg) Besar, tapi untuk berjualan. Masyarakat Jawa memercayai, bagi yang tidak memiliki cukup uang untuk pergi ke Makkah, cukup menghadiri Garebek Besar di Masjid Demak tujuh kali berturut-turut. Itu sama dengan naik haji. (san) Baca juga :

Read More

Kisah Sunan Kalijogo Nyamar Jadi Marbot Masjid dan Menemukan Emas di Kullah Masjid

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Meninggal pada tahun 1592 Masehi, ia menampakkan diri di depan Sultan Agung yang menjadi raja Mataram sejak 1613. Guru Panembahan Senopati itu memang dikenal bisa menampakkan diri di berbagai tempat dalam sekali waktu ketika masih hidup. Panembahan Senopati, kakek Sultan Agung, pernah dikritik soal rumah tanpa pagar. Sebab itu tanda kesombongan. Guru kakek Sultan Agung itu adalah Sunan Kalijaga, yang pada masa mudanya adalah seorang perampok. Sebelum menjadi wali, ia suka bertapa di pinggir sungai. Dari situlah ia mendapat nama Kalijaga sebelum kemudian pergi ke Cirebon menyamar menjadi marbot masjid dan menemukan emas di kulah masjid. Apa yang kemudian ia lakukan? Saat bersemedi, jika diserang kantuk, ia mengambang menghanyutkan diri di sungai, sambil memegang obor dan seludang kelapa yang sudah kering. Ia memperoleh kesaktian berkat rajin bertapa itu. Karena kesaktiannya itu pula, obor yang ia bawa saat menghanyutkan diri di sungai, tetap menyala kendati terbenam di dalam air. Jangan salah sangka bahwa kegiatan bertapa itu selama 24 jam dalam sehari terus bersemedi. Tidak. Bertapa adalah hidup menyepi dari keramaian. Sehari-hari melakukan aktivitas biasa: makan, tidur, berkegiatan, shalat, dan sebagainya. Di sela kegiatan itu, ada kegiatan bersemedi. Sunan Kalijaga bersemedi di pinggir kali pada malam hari, sehingga ia kemudian mendapat nama Kalijaga. Semula ia adalah seorang pemuda yang hidupnya mengandalkan dari merampok. Nama kecilnya adalah Raden Said. Sebelum menjadi pertapa, Raden Said pernah mengadang Sunan Bonang di tengah jalan. “Aku sedang bekerja, pekerjaanku ialah menyamun,” kata dia sewaktu ditanya Sunan Bonang. Tak mau dirampok, Sunan Bonang lalu menyarankan Raden Said agar merampok orang yang lewat besok pagi. Sunan Bonang memberi tahu, besok pagi akan lewat seorang berpakaian hitam dengan bunga wura wari di telinga. Orang itulah yang pantas dirampok oleh Raden Said. Raden Said memenuhi saran Sunan Bonang, tapi tiga pagi berlalu tak juga lewat itu orang. Baru pada pagi keempat, orang dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Sunan Bonang itu melintas. Raden Said, yang kelak menjadi guru kakek Sultan Agung itu, pun mengadangnya. Tiba-tiba, orang itu menjadi empat, datang dari arah yang berbeda. Ketika Raden Said memandang ke timur, ke utara, ke barat ke sekatan, ia selalu terlihat sosok yang sama. Ia terduduk lemas. Lalu meminta ampun kepada empat sosok berpakaian hitam bersumping bunga wura-wari itu, lalu meminta izin dibolehkan menjadi muridnya, dan berhentik sebagai perampok. Orang sakti berpakaian hitam itu tak lain adalah otang yang empat lagi hari hendak dirampok Raden Said. Dialah Sunan Bonang. Sebelum menerima Raden Said sebagai muridnya, Sunan Bonang memberinya tombak pendek. Ia meminta Raden Said menjaganya selama ia pergi. Kepada Raden Said –yang kelak menjadi guru kakek Sultan Agung, Sunan Bonang mengatakan, jika Raden Said bersungguh-sungguh hendak berguru, ia tidak boleh pergi dari tempat itu. Raden Said menyanggupi. Tapi Sunan Bonang tidak pergi dalam satu-dua hari lalu kembali. Sunan Bonang baru kembali setahun kemudian. Tempat Raden Said menjaga tombak pendek pemberiannya sudah berubah menjadi hutan. Sunan Bonang mengucapkan sesuatu, pepohonan itu lenyap dari pandangannya, dan terlihat Raden Said sedang menjaga tombaknya. Tapi, Sunan Bonang tidak menyapa Raden Said. Ia segera pergi lagi, baru setahun kemudian datang lagi. Raden Said tetap masih ada di lokasi menjaga tombak pendek. Raden Said benar-benar teguh memegang amanah Sunan Bonang. Sunan Bonang pun menerimanya sebagai murid. Ia mengajari Raden Said ilmu tentang cara berbakti kepada Sang Pencipta. Setelah cukup, Sunan Bonang meminta Raden Said pergi. Raden Said pun pergi mencari tempat untuk bertapa. Selama setahun ia menjadi pertapa di pinggir kali. Ia selalu bersemedi tiap malam. Ia akan menceburkan diri ke kali jika kantuk menyerang. Ia kemudian dikenal sebagai Kalijaga. Selesai bertapa, guru kakek Sultan Agung itu pergi ke Cirebon dengan cara menyamar. Ia menjadi marbot masjid, yang bertugas mengisi kulah masjid. Kulah adalah bak air yang volumenya memenuhi syarat untuk bersuci. Kulah berasal dari bahasa Arab, qullah. Arti kulah, menurut KBBI: ukuran banyaknya air yang menggenang yang dapat digunakan untuk mencuci dan berwudu (dua kulah ialah banyaknya air yang menurut ukuran 1,25 hasta panjang, lebar, dan tinggi). Arti pertama di KBBI adalah: tempat menyimpan air yang dibuat dari batu; bak air. Sunan Gunungjati sangat kagum pada ketekunan marbot itu. Suatu malam, saat kulah sudah kosong, Sunan Gunungjati mengisinya dengan emas. Menjelang Subuh, Sang Marbot kaget ketika hendak mengisi kulah, ternyata kulahnya penuh dengan emas. Ia lalu memakai emas itu untuk melapisi dasar kulah. Saat Sunan Gunungjati hendak mengambil wudhu, ia melihat emasnya sudah dipakai untuk dasar kulah. Ia pun berkesimpulan bahwa marbot itu adalah Sunan Kalijaga. Dan akhirnya Sunan Gunungjati mengambilnya sebagai menantu. (jeha) Baca juga :

Read More

Ketika Sultan Agung Menjatuhkan Hukuman Mati kepada Panglima Penyerbuan Batavia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Raja Mataram menjatuhkan hukuman mati kepada Tumenggung Suro Agul-agul. Panglima penyerbuan Batavia itu telah melakukan kesalahan besar karena salah menjalankan perintah raja. Dalam penyerbuan Batavia, Suro Agul-agul membawahkan Adipati Pekalongan Mandurorejo dan adik Adipati Pekalongan, Adipati Upo Sonto. Dua saudara kakak-beradik ini memiliki hubungan dekat dengan Raja Mataram Sultan Agung. Tapi, kedua kakak-beradik itu mendapat putusan hukuman mati dari Suro Agul-agul atas nama raja, karena dianggap telah gagal dalam perang di Batavia. Raja Mataram Sultan Agung sebenarnya memerintahkan Suro Agul-agul menjatuhkan hukuman kepada pasukan Mandurorejo, bukan kepada Mandurorejo. Mandurorejo membawa anak cucu dan penduduknya di wilayah pesisir untuk menyerbu Batavia. Iajuga membawa meriam Mataram. ”Tetapi perasaanku mengatakan meskipun menang perang, aku tidak pulang. Pasti aku tidak pulang,” kata Mandurorejo kepada anak cucu. Ketika Mandurorejo berangkat ke Batavia, ia berharap Batavia sudah hampir ditaklukkan oleh Tumenggung Baurekso yang datang terlebih dulu. Dengan begitu, Mandurorejo berharap tinggal menyita barang-barang Kompeni setibanya di Batavia. Tetapi cerita berjalan lain. Tumenggung Baurekso meninggal dan pasukannya kalah dalam peperangan di luar benteng. Pada 21 Oktober 1628, 2.866 prajurit Kompeni menyerang kemah-kemah pasukan Mataram untuk kedua kalinya. Kemah-kemah itu ada di luar benteng, yang hanya bisa dijangkau oleh Kompeni menggunakan kapal menyusuri Kali Ciliwung. Mereka menyerang dari arah sungai dan darat, mengerahkan kapal-kapal yang setiap kapal memuat 150 prajurit. Kapal-kapal itu menyusuri Kali Ciliwung untuk mencapai kemah-kemah Mataram. Kemah Tumenggung Baurekso diserang pada kesempatan kedua, dalam pertarungan jarak dekat. Sebanyak 200 tentara Mataram gugur, termasuk Tumenggung Baurekso dan putranya. Kemah-kemah Mataram di Marunda juga diserbu Kompeni. Kompeni hanya kehilangan 60 prajurit, tetapi sebanyak 140 prajurit kehilangan senjata karena direbut oleh orang-orang Mataram. Mataram mengalami kerugian lebih besar. Dari 200 kapal yang dibawa orang-orang Mataram, setelah serbuan itu tinggal 50 kapal. Kekalahan ini membuat Mandurorejo memikirkan siasat membendung Kali Ciliwung. Sebanyak 3.000 anak buahnya ia kerahkan untuk membendungnya agar kapal-kapal Kompeni tidak bisa melintasinya lagi. Pekerjaan membendung Kali Ciliwung membuat anak buah Mandurorejo kehabisan tenaga. Setok pangan juga semakin menipis. Baru berjalan sebulan, pembendungan Kali Ciliwung dihentikan karena orang-orang Mataram semakin kelaparan. Maka, dengan kekuataan seadanya, Mandurorejo mencoba melakukan serangan. Itu menjadi satu-satunya serangan yang dilakukan Mandurorejo, yaitu pada 27 November 1628. Ada 400 prajurit yang dikerahkan dalam dua gelombang serangan. Dalam perang ini, Adipati Mandujrorejo sempat mengalami luka-luka. Banyak anggota pasukannya yang gugur dan banyak pula yang melarikan diri. Dalam keadaan patah semangat, datang Panembahan Puruboyo yang mendapat tugas dari Raja Mataram Sultan Agung. Dengan kesaktiannya, Panembahan Puruboyo berhasil membuat tembok benteng Batavia retak, sehingga anak buah Manduroejo bisa masuk ke dalam benteng. Setelah memberi bantuan, Panembahan Puruboyo kembali ke Mataram. Ia melaporkan kondisi Mandurorejo yang cedera. Mendapat kabar itu, Sultan Agung meminta Mandurorejo menarik pasukannya pulang dan beristirajat di Kaliwungu. Tapi Mandurorejo diberangkatkan ke Kaliwungu sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Panglima penyerbuan Batavia Tumenggung Suro Agul-agul telah membunuhnya lewat putusan hukuman mati bersama anggota pasukan Mandurorejo. Ada yang dipancung, ditusuk keris, dan sebagainya. “Pada 1 Desember Tumenggung Suro Agul-agul memerintahkan mengikat Mandurorejo dan Upo Sonto berikut anak buahnya dan melalui pengadilan dan atas perintah Raja Mataram dihukum mati karena Batavia tidak ditaklukkannya dan karena mereka tidak bertempur mati-matian,” tulis Dr HJ de Graaf. Ada 744 prajurit Mataram yang mendapat hukuman mati bersama Mandurorejo dan Upo Sonto. Mayatnya dibiarkan begitu saja ketika sisa-sisa prajurit Mataram pulang. Mereka meninggalkan Batavia pada 3 Desember 1628. Jenazah Mandurorejo dibawa ke Kaliwungu untuk dimakamkan di Kaliwungu, sesuai perintah awal Raja Mataram Sultan Agung kepada Mandurorejo. Tapi hukuman mati yang diterima Mandurorejo tak sesuai dengan keinginan Raja Mataram Sultan Agung. (jeha) Baca juga :

Read More

Anak Sultan Agung Ini Membunuh 60 Orang Termasuk Mertua

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Anak Sultan Agung, Amangkurat I, menetapkan Pangeran Anom sebagai putra mahkota. Ibu Pangeran Anom, yaitu Kanjeng Ratu Pangayun, adalah putri Pangeran Pekik dari Surabaya. Pada 1659, Amangkurat I membunuh Pangeran Pekik –sang mertua sekaligus paman. Pangeran Pekik juga menikahi saudara perempuan Sultan Agung. Setelah istri Amangkurat I yang bernama Ratu Wetan meninggal, ia minta dicarikan calon istri lagi. Dapatlah Roro Oyi putri bangsawan tinggi di Mataram, tapi, suatu hari Roro Oyi diculik. Cucu Pangeran Pekik, yang merupakan putra mahkota Mataram, sangat mencintai Roro Oyi. Sang kakek, yang merupakan mertua anak Sultan Agung, membantu sang cucu mendapatkan Roro Oyi. “Kakeknya yang lembut hati itu berusaha sekuat tenaga menyuap Ngabei Wirorejo dan istrinya yang bertugas menjag agadis itu, agar Putra Mahkota dapat bersatu dengan jantung hatinya,” tulis Dr HJ de Graaf. Tapi catatan-catatan Belanda menyebut, penculikan itu dilakukan Pangeran Anom bekerja sama dengan Pangeran Purboyo. De Graaf menyebut Purboyo sebagai saudara Sultan Agung, meski sebenarnya Sultan Agung tidak memiliki saudara bernama Purboyo. Yang ada, Purboyo adalah paman Sultan Agung, yang dikenal sebagai Panembahan Purboyo atau Panembahan Puruboyo, yang ikut menyerbu Batavia. Purboyo anak Prabu Anyokrowati dengan istri dari Giri. Amangkurat I, masih menurut catatan Belanda, menyebut perbuatan Pangeran Anom dan Pangeran Purboyo sebagai tindakan yang tidak baik dan akan membawa kibat buruk. Meski mencela, tetapi ia tidak menyelahkan Pangeran Anom. Ia menyebut Pangeran Anom dalam pengaruh Pangeran Purboyo. Tindakan Amangkurat I ini tujuannya adalah menjauhkan Putra Mahkota dari Pangeran Purboyo, tetapi ia salah perhitungan. Pangeran Anom mengadu kepada Pangeran Purboyo. Anak Sultan Agung pun memberi hukuman kepada Pangeran Anom, membakar tempat tinggalnya. Sumber Jawa mempunyai versi lain. Penculikan Roro Oyi itu lakukan atasdukungan para ulama. Pangeran Pekik pergi bersama istrinya, Ratu Pandan, membawa banyak hadiah untuk Wirorejo. Mereka kemudian membawa Roro Oyi menggunakan tandu, mengantarnya ke kadipaten, tempat tinggal Putra Mahkota. Cinta sang kakek kepada cucu itu berakibat fatal. Anak Sultan Agung setelah tahu kejadian itu menjatuhkan hukuman mati kepada sang mertua beserta anggota keluarganya, sebanyak 40 orang. Tempat tinggal Pangeran Anom dibakar, Pangeran Anom dibuang ke Lipuro. Sedangkan Wirorejo dan keluarganya dibuang ke hutan Lodaya di Ponorogo. Wirorejo dan keluarga kemudian juga dihukum mati. Bersama keluarga pekik dan keluarga Wirorejo, yang diberi hukuman mati mencapai 60 orang. Sebelum ada peristiwa calon istri diculik, Pangeran Pekik juga tersandung masalah dengan menantunya itu. Pangeran Pekik memelihara ayam bekisar. Pada mulanya, ayam itu seperti ayam betina. Namun, ketika dihadiahkan kepada anak Sultan Agung, berubah menjadi jantan. Amangkurat I menyangka Pangeran Pekik telah menyindirnya. Ia menganggap sang mertua itu meminta dirinya segera turun tahta dan digantikan oleh Putra Mahkota, cucu Pangeran Pekik. Gara-gara kasus ayam bekisar ini, anak Sultan Agung itu sudah berniat mengalihkan status putra mahkota kepada anaknya yang lain, yang berasal dari Ratu Wetan. Tapi ia mengurungkannya, karena ia hanya salah sangka, dan tidak perlu membunuh sang mertua pula. Bibinya, istri Pangeran Pekik, meminta agar dibunuh terlebih dulu jika Pangeran Pekik memang bersalah. Pangeran pekik pun bersumpah tak ada niat mendorong Amangkurat I turun tahta. Amangkurat I pun mengatakan, telah terjadi penyebaran berita yang tidak benar. Ia mengaku tak pernah menuduh Pangeran pekik hendak merebut tahta untuk putra mahkota. Dalam kasus ayam bekisar ini, Pangeran Pekik meminta ampun kepada Amangkurat I. Ia tak bermaksud seperti sangkaan Sang Raja. Pangeran Pekik kemudian bersama 60-an anggota keluarganya menjemur diri di bawah matahari. Anak Sultan Agung tidak membunuh sang mertua. Ia lalu membebaskannya beserta anggota keluargaanya. Namun, Pangeran Pekik tidak selamat dalam kasus calon istri diculik. Sang mertua mati di tangan sang menantu. (jeha) Baca juga :

Read More

Muhammad Ahmed Faris Kosmonot Pertama Suriah Yang Membawa Tanah Bumi ke Luar Angkasa

Jakarta — 1miliarsantri.net : Muhammad Ahmed Faris, kosmonot pertama dari Suriah dan orang Arab kedua yang terbang ke luar angkasa, meninggal dunia pada usia 72 tahun. Kematian Faris pada Jumat, 19 April 2024 diberitakan media Suriah. Menurut laporan, dia meninggal karena sakit yang berkepanjangan di Turkiye, tempat dia tinggal sebagai pengungsi sejak 2012. Dipilih pada tahun 1985 sebagai bagian dari program Interkosmos Uni Soviet, Faris lepas landas pada 22 Juli 1987 bersama kosmonot Aleksandr Viktorenko dan Aleksandr (Pavlovich) Aleksandrov dengan pesawat Soyuz TM-3. Faris menjadi orang di luar Rusia ke-12 yang terbang dengan penerbangan luar angkasa Rusia. Selama sepekan misinya, Faris melakukan observasi Suriah dari orbit dan mengambil bagian dalam penyelidikan sains, termasuk pemrosesan material dan eksperimen biologis. “Kami kini terbang di atas negara tercinta kami, Suriah. Pada momen bahagia ini, saya mengirimkan seluruh rasa hormat dan cinta saya yang terdalam… kepada seluruh rakyat saya di mana pun,” urai Faris dalam siaran langsung nya saat itu. Faris juga menjadi orang pertama yang membawa tanah Bumi ke luar angkasa. “Saya membawa botol berisi tanah dari Damaskus,” ungkapnya dalam wawancara tahun 2015 dengan The National, surat kabar Uni Emirat Arab (UEA). Pada 30 Juli 1987, Faris mendarat kembali di Bumi dengan Soyuz TM-2 bersama Viktorenko dan Aleksandr Laveykin. Itu adalah pertama kalinya kru Mir meluncurkan satu pesawat ruang angkasa dan mendarat di pesawat ruang angkasa lainnya. Faris mencatat total 7 hari, 23 jam dan 4 menit di luar angkasa. Menurut Pendaftaran Penjelajah Luar Angkasa dari Asosiasi Penjelajah Luar Angkasa, Faris adalah manusia ke-209 yang terbang ke luar angkasa dan yang ke-202 yang mengorbit Bumi. “Butuh waktu berhari-hari bagi saya untuk menggambarkan perasaan pergi ke sana, melihat planet bumi, melihat Suriah dari atas, dan rasa bangga mencapai sesuatu yang bersejarah bagi negara saya dan bangsa Arab,” katanya kepada The National. Faris lahir pada tanggal 26 Mei 1951 di Aleppo, Suriah. Ia lulus dari sekolah pilot militer di Aleppo pada tahun 1973 dan menjadi pilot di Angkatan Udara Suriah dengan spesialisasi navigasi. Faris berlatih untuk penerbangan luar angkasa bersama anggota Angkatan Udara Suriah lainnya, Munir Habib. Sementara Munir tidak pernah terbang ke luar angkasa, Faris dinobatkan sebagai Pahlawan Uni Soviet dan dianugerahi Ordo Lenin atas perannya dalam program Interkosmos. Setelah misinya, Farris kembali ke Aleppo dan terus bertugas di militer Suriah, naik pangkat menjadi jenderal. Pada tahun 2012, ia membelot dan melarikan diri bersama keluarganya ke Turkiye. Surya kemudian terjebak dalam perang saudara. Tinggal di pengasingan, Faris mengatakan dia menantikan hari dimana rezim Suriah saat ini akan digantikan, sehingga dia dan banyak orang lainnya dapat kembali ke rumah. Faris menikah dengan Gind Akil dan dikaruniai lima orang anak. “Penting untuk mengingat Suriah karena sejarahnya yang panjang dan kaya, banyaknya pionir dan bagaimana negara ini menaklukkan banyak batas, termasuk batas akhir ruang angkasa,” bebernya. (yan) Baca juga :

Read More

KH Soleh Darat Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional

Semarang — 1miliarsantri.net : Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Prof KH Mudzakir Ali mengusulkan Mahaguru KH Soleh Darat dijadikan sebagai pahlawan nasional. Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) saat ini tengah menyiapkan naskah akademik untuk melengkapi dokumen pengusulan mahaguru ulama Nusantara tersebut. Prof KH Mudzakir Ali mengatakan draft naskah akademik dibedah dalam seminar bertajuk Genealogi Nasionalisme Indonesia dalam Kitab-Kitab KH Sholeh Darat yang dilaksanakan di aula Rektorat Lantai 6 Kampus I Unwahas, Jl Menoreh Tengah X/22 Sampangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (19/4/2024) lalu. “Salah satu perwujudan nasionalisme Kiai Sholeh Darat Semarang tercermin dari karya-karyanya berupa sejumlah kitab yang dijadikan pegangan murid-muridnya dalam menanamkan semangat cinta Indonesia pada saat Indonesia masih di bawah cengkeram penjajah,” ungkap Prof Mudzakir. Sholeh Darat dikenal sebagai guru dari para ulama Nusantara. Di antara murid-muridnya, di kemudian hari jadi ulama terkenal dan berpengaruh. Di antarannya, KH Hasyim Asy’ari pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan pendiri Persarikatan Muhammadiyah. Dalam kitab-kitab yang ditulisnya, dia acap menggunakan nama Syeikh Haji Muhammad Shalih ibn Umar Al-Samarani. Sematan nama Darat karena beliau tinggal di kawasan dekat pantai utara Semarang, yakni tempat berlabuhnya orang-orang dari luar Jawa, yang lantas juga menjadi nama pesantren, Ponpes Darat. Hingga kini makam Mbah Sholeh Darat pun menjadi tujuan ziarah banyak orang. Salah seorang wali terkenal yang sering mengunjungi makamnya adalah Gus Miek (Hamim Jazuli). Sholeh Darat memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Murid-muridnya kelak terus berdakwah Islamiyah di penjuru tanah air. Sholeh Darat juga dikenal nasionalis. Beliau adalah sosok ulama yang menentang penjajahan. (hud) Baca juga :

Read More

Pemerintah Arab Saudi akan Gelar Kompetisi Hafalan Alquran Berhadiah Total Rp 17 Miliar

Riyadh — 1miliarsantri.net : Kompetisi Internasional Raja Abdulaziz untuk Hafalan Alquran. Pelafalan, dan Interpretasi Alquran akan dimulai pada awal Agustus 2024. Ini merupakan kompetisi Alquran ke-44 yang akan digelar di Makkah. Ajang bergengsi yang menarik kontestan dari seluruh dunia ini menawarkan total hadiah sebesar 4 juta riyal saudi atau 1,07 juta dolar AS (Rp 17,3 miliar). Kompetisi ini dibagi menjadi lima kategori. Pertama, menghafal seluruh isi Alquran dengan bacaan dan intonasi yang tepat sesuai dengan tujuh kaidah bacaan. Dua, menghafal Alquran beserta tafsir syarat-syaratnya. Tiga, hafalan 15 juz (bagian) dari Alquran dengan bacaan dan intonasi yang tepat. Empat, hafalan lima juz dengan bacaan dan intonasi yang benar. Terakhir, kategori untuk hafalan yang lebih pendek dengan persyaratan pembacaan dan intonasi yang sesuai. Pada kategori pertama, tiga pemenang teratas akan menerima 500 ribu riyal (Rp 2,16 miliar), 450 ribu riyal (Rp 1,94 miliar), dan 400 ribu riyal (Rp 1,73 miliar). Upacara penutupan acara akan diadakan di Masjidil Haram di Makkah. Menteri Urusan Islam Saudi, Dawah dan Bimbingan Sheikh Abdullatif Al-Asheikh mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin Kerajaan atas dedikasi mereka terhadap Alqur’an, menambahkan bahwa kompetisi tersebut menunjukkan komitmen negara untuk mempromosikan nilai-nilainya di kalangan pemuda Arab Saudi. (dul) Baca juga :

Read More

Kisah Anak Sultan Agung Bangun Keraton Baru, Terdapat Kejadian Kekurangan Beras

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Keraton yang dibangun kakek Sultan Agung di Kerto sepertinya tidak tahan lama. Sedangkan keraton baru yang dibangun anak Sultan Agung mulai 1648, pada 1826 masih bisa digunakan sebagai benteng pertahanan yang baik. Kakek Sultan Agung, Senopati, menggunakan batu bata untuk membangun tembok. Utusan Kompeni, Jan Vos, pada 1624 mencatat, keraton Mataram di Kerto sebagian besar menggunakan kayu, masih digunakan oleh cucu Senopati, Sultan Agung. Namun, pada masa Mataram dipimpin oleh anak Sultan Agung, Amangkurat I, dibangun keraton baru di Plered sejak 1648, menggunakan batu bata. Para pejabat yang menolak membantu diikat, lalu dijemur, tapi mengapa terjadi dua kali kekurangan beras pada masa pembangunan keraton itu? Pada Juni 1648, utusan Kompeni Van Goens sudah melihat tembok keliling dengan pintu gerbang di alun-alun utara dan di selatan. Plered dan Kerto, keduanya dapat dilihat oleh Van Goens dalam sehari. Artinya, jarak istana baru di Plered dan istana lama di Kerto tidak jauh. Tujuh tahun kemudian, pembangunan keraton di Plered itu belum juga selesai. Pada 1655 Amangkurat I masih disibukkan oleh pembangunan keraton Plered, sehingga tidak menerima utusan Kompeni yang tiba. Pembangunan keraton ini dilakukan secara bertahap. Setelah pembangunan tembok setinggi lima depa dengan tebal dua depa selesai, pada 1650 mulai dibangun Sitinggil. Bagian bawah Sitinggil dibangun dengan batu bata. Di bagian atasnya dibangun apilan. Apilan menggunakan papan-papan kayu yang tebal. Pada 1651 dimulai pembuatan anjungan di Sitinggil. Pembangunan istana raja, Prabayasa, juga dimulai, tetapi sumber Jawa menyebut perbedaan waktu. Ada yang menyebut dimulai tahun 1650, ada juga yang menyebut dimulai 1654. Pada 1653 mulai dibangun kediaman untuk putra mahkota. Tahun 1662 mulai dibangun bangsal di lapangan Srimanganti. Sebelum keraton baru dibangun oleh Amangkurat I, Sultan Agung telah membuat plered (bendungan air) di Kali Opak, pada 1643. Plered inilah yang kemudian dipakai sebagai nama lokasi keraton baru itu. Mulai 1651, Amangkurat I melanjutkan penggalian plered. Penggalian diperluas, sehingga menjadi danau yang besar dan ia beri nama Segarayasa. “Untuk kepentingan pembangunan keraton, dibuatlah sebuah bendungan yang tidak hanya mengendalikan air danau, melainkan juga berfungsi melindungi keraton di sebelah selatan dan timur dari banjir,” kata Dr HJ de Graaf. Pembangunan keraton baru ini memang tidak berjalan mulus. Ada pejabat yang menentangnya, tetapi anak Sultan Agung ini bertangan besi. “Beberapa pejabat tinggi yang tidak mau turut membantu dalam pekerjaan itu disuruhnya … ikat dan dibaringkan di paseban, dijemur dalam panas matahari,” ujar Dr HJ de Graaf, mengutip catatan Belanda. Pejabat dijemur itu tentu untuk memuluskan pelaksanaan pembangunan keraton. Pada 1658, pembangunan Segarayasa dilanjutkan lagi. Amangkurat I mendatangkan orang-orang dari Karawang untuk memperluas Segarayasa. Gara-gara orang Kerawang dikerahkan untuk perluasan Segarayasa, mereka tidak menanam padi. Alhasil timbul kekurangan beras. Pada 1661, perluasan Segarayasa belum juga selesai, sehingga dikerahkan 300 ribu orang. Pekerjaan ini dilakukan karena pada bendungan air itu jebol pada musim hujan 1661. Bendungan besar disapu banjir. sawah-sawah juga diterjang banjir. Lagi-lagi, terjadi kekurangan beras. Pengerjaan bendungan dilakukan lagi setelah jebol itu. Rupanya, anak Sultan Agung ini menginginkan istana yang dikelilingi laut buatan, sehingga ia bisa bermain perahu di danau itu. Pada 1663 dilakukan penggalian lagi. Setelah jadi, danau itu selain dipakai untuk hiburan bermain perahu, juga berguna untuk pertahanan. Ada jembatan di atas danau yang mengeleilingi keraton itu. Jembatan itu menghubungkan wilayah luar dengan keraton. Pada 1666, istana raja (Prabayasa) dikompleks keraton baru di Plered yang dibangun anak Sultan Agung itu terbakar. Maka, dilakukan pembangunan ulang. Tak ada cerita masih ada pejabat dijemur lagi atau tidak di masa pembangunan ulang ini. Juga tak ada cerita kekurangan pangan lagi. Pada 1889, sisa-sisa bangunan keraton Plered digunakan untuk membangun pabrik gula oleh Rouffaer. Bahan dasar keraton Plered itu masih dikenali: batu bata disisipi batu alam putih di sana-sini. (mif) Baca juga :

Read More

Ki Juru Martani Kakek Sultan Agung Berjalan di Permukaan Laut

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Senopati dan pamannya, Ki Juru Martani berbagi tugas setelah bintang jatuh menimpa Senopati. Kakek Sultan Agung itu disuruh ke laut selatan, Ki Juru Martani ke Gunung Merapi, untuk mengetahui kehendak Allah mengenai bintang jatuh itu. Di laut selatan, kehadiran kakek Sultan Agung itu membuat ombak bergulung-gulung, ikan terlempar ke darat. Badai itu membuat Nyi Roro Kidul keluar dari istana, dan mengajaknya masuk ke istananya. Pulang dari istana Nyi Roro Kidul, Senopati berjalan di atas permukaan laut, tak perlu menunggu datangnya nenu untuk mencapai daratan. Nenek moyang orang Sumba turun dari matahari, dari kaki langit melintasi nenu untuk mencapai daratan. Nenek moyang orang Sumba datang dari matahari. Saat matahari hendak tenggelam, mereka turun ke kaki langit. Dari kaki langit, menuju ke daratan dengan melintas di atas pantulan cahaya matahari yang membentang seperti jalan di permukaan laut, disebut nenu, sehingga tidak salah arah. Orang Barat menyebut matahari hendak tenggelam sebagai sunset. Orang Sumba menyebutnya matalodu. Kilau sinar matahari di permukaan laut itu oleh orang orang Barat disebut sun glitter atau sun reflection, orang Sumba menyebutnya nenu. KBBI belum mencatatnya sebagai kekayaan kosakata bahasa Indonesia. Pada saat matalodu, jika tidak ada awan, sinar matahari memantul ke permukaan laut, jika dilihat dari daratan membentuk garis lebar seperti jalan di permukaan laut menuju ke matahari di kaki langit. Itulah yang disebut orang Sumba sebagai nenu. Mereka menulis nenu, tetapi mengejanya sebagai ninu. Entah mengapa, huruf e di Indonesia tengah dan timur sering dieja sebagai i. Yang memunculkan nenu tak hanya matahari, melainkan juga rembulan. Orang Swedia menyebutnya mangata. “Mangata is a Swedish word that means the glimmering, road-like reflection that the moon creates on water,” tulis survivaltechniques.co.uk. Memandangi nenu memang tidak ada puas-puasnya. Menurut cerita legenda di Sumba, seperti yang diceritakan oleh penenun Sumba, Karyawati Liwar, nenu adalah ‘jalan’ yang dilewati nenek moyang yang turun dari matahari lalu menuju ke daratan. Bagi orang Sumba penganut agama Marapu, bayi datang dengan perahu dari seberang laut. Persis seperti kedatangan nenek moyang mereka dulu. Karena itu, mereka memiliki doa menyambut kelahiran bayi. Mapawelingu la kiri awangu, mata lodu, mamai palehu mamai padangganggu. Artinya, yang datang dari kaki langit, matahari, yang datang untuk bertukar dan berdagang. Bayi, bagi orang Sumba juga diibaratkan datang dari kaki langit. Mencapai daratan lewat nenu di atas permukaan laut. Begitulah doa itu terucap ketika sirih-pinang sudah disajikan di ruang sudut kiri belakang rumah. Itulah tempat di rumah Sumba untuk perempuan yang hendak melahirkan. Sang pendoa duduk di tiang persembahan meminta persalinan lancar. Lanjutan dari doa itu: Pakunduhuya na katiku tenamu, patanjiya na kamurimu. Artinya: Luruskanlah haluan perahumu dan luruskanlah arahmu. Ketika Ki Juru Martani meminta kakek Sultan Agung pergi ke laut selatan, Ki Juru Martani memintanya untuk meluruskan niat. Tak boleh orang yang bercita-cita menjadi penguasa Tanah Jawa, enak-enakan tidur saat bertapa. Saat, Ki Juru Martani datang di Lipuro, kakek Sultan Agung sedang tidur-tiduran di batu pertapaan. Dari aktivitas pertapaan inilah kakek SUltan AGung bisa berjalan di atas permukaan laut. Saat tidur-tiduran itulah muncul bintang jatuh berupa cahaya yang menimpa kakek Sultan Agung. (mif) Baca juga :

Read More