Kebo Iwa, Seorang Patih yang Rela Berkorban

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kebo Iwa adalah seorang Patih atau Panglima Militer yang berasal dari Bali. Badannya besar, tubuhnya tinggi. Selain menguasai ilmu perang, ia juga menguasai ilmu arsitektur. Ia membangun berbagai tempat ibadah di Bali, dan seringkali mengangkut sendiri batu-batu besar dengan kekuatan fisiknya. Meskipun berbadan besar, Kebo Iwa tak pernah semena-mena menggunakan kekuatannya. Hatinya sangat mulia. Ia bahkan sering membantu warga yang mengalami kesulitan, misalnya dengan membuatkan sumur dengan jarinya yang sakti. Kebo Iwa juga merupakan patih yang setia. Ia pernah berjanji pada Sang Raja, selagi ia masih bernafas, Kerajaan Bali Aga tak akan diserahkan pada kerajaan manapun. Berita tentang kesaktian Kebo Iwa pun sampai ke telinga Mahapatih Gajah Mada. Gajah Mada adalah seorang patih dari Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan sumpahnya untuk menyatukan nusantara, yaitu Sumpah Palapa. Gajah Mada, begitu mengetahui bahwa Kerajaan Bali Aga memiliki seorang patih yang sakti, segera mengatur siasat bersama Raja Tribuana Tungga Dewi. Mereka geram, karena kerajaan kecil itu tak juga takluk, sedangkan Kerajaan Daha yang merupakan induk dari Kerajaan Bali Aga, malah lebih dulu tunduk pada Majapahit. Gajah Mada pun berupaya mencari cara agar bisa menaklukkan kerajaan itu. Ia mengirimkan sebuah surat yang berisi ajakan agar Kerajaan Bali Aga bersedia menjadi sekutu Kerajaan Majapahit. Kebo Iwa pun diundang untuk hadir ke Kerajaan Majapahit sebagai tanda persahabatan. Raja Bali Aga menyambut hangat ajakan itu. Raja pun mengizinkan Kebo Iwa untuk berkunjung ke sana tanpa rasa curiga. Saat itu Kerajaan Bali Aga diperintah oleh Raja Sri Ratna Bumi Banten yang dikenal adil, bijaksana, dan dicintai oleh rakyatnya. Sesampainya Kebo Iwa di Majapahit, Gajah Mada segera menemui tamunya tersebut. Gajah Mada berkata, “Kami sedang mengalami paceklik. Rakyat kekurangan air bersih. Untuk itu, sudikah kiranya Patih Kebo Iwa membantu membuatkan sumur?” Kebo Iwa yang lurus hati itu pun bersedia membantu. Dengan jemarinya yang sakti, Ia mulai membuat lubang di tanah. Namun keanehan terjadi. Air tak juga muncul meskipun Kebo Iwa sudah menggali cukup dalam. Ia pun masuk ke dalam sumur buatannya untuk menggali lebih dalam lagi. Ia tak sadar bahwa sesungguhnya ada bahaya yang sedang mengintai.

Read More

Cara Allah Membangkitkan Makhluk di Akhirat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ulama dan cendikiawan asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi menjawab pertanyaan yang terkait dengan kebangkitan makhluk di akhirat kelak. Dalam Alquran, telah disebutkan berulang kali: اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً … Artinya: “Teriakan (tiupan sangkakala) itu hanya sekali teriakan saja…” (QS Yasin [36]: 53). Disebutkan juga: وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ … Artinya: “Tidaklah kejadian kiamat itu melainkan seperti sekejap mata…” (QS an-Nahl [16]: 77). Nursi menjelaskan, ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa kebangkitan makhluk di akhirat akan terlihat seketika dalam satu waktu. Akan tetapi, akal yang sempit membutuhkan contoh nyata yang dapat disaksikan agar dapat menerima dan tunduk kepada peristiwa luar biasa dan permasalahan yang tiada tara itu. Lalu seperti apa proses kebangkitan makhluk pada saat itu?“Pada hari kebangkitan terdapat tiga persoalan, yaitu kembalinya roh ke jasad, proses menghidupkan jasad, serta penciptaan dan penyusunan jasad,” kata Nursi dikutip dari bukunya yang berjudul “Risalah Kebangkitan” halaman 134-135. Pertama: Kedatangan dan Kembalinya Roh ke Jasad Menurut Nursi, kedatang roh saat itu seperti berkumpulnya tentara yang sebelumnya berpencar di masa istirahat lewat suara trompet militer. Ya, sangkakala yang merupakan trompet Israfil AS tidak terbatas seperti trompet militer. Di samping itu, roh yang berada di alam abadi dan alam partikel di mana ia menjawab dengan (قَالُوا بَلٰى‎) (QS al-A’raf [7]: 172) terhadap firman Allah (اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ‎), tentu saja jauh lebih taat, teratur dan tunduk daripada pasukan tentara. Nursi telah menegaskan dengan berbagai argumen yang kuat bahwa bukan hanya roh yang merupakan pasukan Ilahi, tetapi semua partikel merupakan prajurit-Nya yang bersia-siap menyambut sangkakala umum tersebut.

Read More

Tewas nya Haniyeh Memicu Kemarahan Ayatollah Ali Khamenei

Teheran — 1miliarsantri.net : Terbunuhnya pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam sebuah ledakan di kediamannya di Teheran, Iran pada Rabu (31/7/2024) lalu, sepertinya sangat membuat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei marah hingga ia menyiapkan suatu serangan balasan serius kepada Israel. Meski hingga kini pihak Israel belum secara langsung mengaku bertanggung jawab atas kematian Haniyeh, Khamenei telah mengeluarkan pernyataan menyasar rezim zionis di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu. Jika merujuk pada pernyataan terakhir Khamenei saat merespons kematian Haniyeh, ia tidak menggunakan diksi “hukuman” seperti sebelumnya kala Iran melancarkan serangan drone pada April lalu sebagai balasan atas dibomnya kantor konsulat Iran di Suriah. Kini, Khamanei menggunakan frasa yang lebih tegas, yakni jika diartikan maknanya sebagai “darah dibalas darah”. Pernyataan Khamenei keluar beberapa jam setelah Haniyeh terbunuh pada Rabu (31/7/2024) dini hari waktu Teheran. Khamenei memberikan instruksi kepada tiga pejabat dan dua anggota IRGC untuk menyerang Israel dalam rapat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Khamenei, yang memiliki kewenangan tertinggi termasuk dalam mendeklarasikan perang dan sekaligus komandan angkatan bersenjata Iran, telah menginstruksikan para komandan IRGC untuk menyiapkan rencana baik untuk melancarkan serangan dan bertahan jika peperangan nantinya meluas. Dalam pernyataan kepada publik setelah kematian Haniyeh, Khamenei memberikan isyarat bahwa Iran akan melancarkan serangan secara langsung, sambil mengatakan, “Kita melihat pembalasan atas darahnya (Haniyeh) adalah kewajiban,” karena pembunuhan terjadi di wilayah Republik Islam Iran. Khamenei menyanjung Haniyeh sebagai “seorang pemimpin yang berani dan pejuang Palestina yang khas,” sambil menambahkan, bahwa front pejuang saat ini tengah berduka. Haniyeh bersama pemimpin Jihad Islam Ziad Nakhaleh sempat bertemu langsung dengan Khamenei saat menyaksikan pengucapan sumpah Pezeshkian sebagai Presiden Iran pada Selasa (30/7/2024). Utusan Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amir Saeed Iravani menegaskan, pada Rabu (31/7/2024) juga menegaskan, bahwa negaranya akan membalas pembunuhan Ismail Haniyeh di Teheran. “Republik Islam Iran memiliki hak yang melekat untuk membela diri sesuai dengan hukum internasional untuk menanggapi tindakan teroris dan kriminal ini secara tegas ketika dianggap perlu dan tepat,” kata Iravani kepada Dewan Keamanan PBB. Iravani menyebut kematian Haniyeh “hasil dari tindakan terorisme agresif oleh rezim pendudukan Zionis Israel”. Dia menggambarkan serangan itu sebagai kelanjutan dari kegiatan teroris dan sabotase yang dilancarkan Israel di kawasan. Iravani juga menegaskan kembali “komitmen Iran untuk menegakkan hukum internasional serta tujuan dan prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.” Perdamaian di kawasan itu hanya dapat dicapai dengan menghormati prinsip-prinsip tersebut, katanya. Dia menuduh Israel mengambil sikap agresif terhadap semua negara di kawasan itu. Iravani menyebut “para pemimpin rezim (Israel) yang kasar dan suka berperang” tidak menghormati prinsip-prinsip dasar hukum internasional. Amerika Serikat, menurutnya, juga memikul tanggung jawab karena merupakan “sekutu strategis dan pendukung utama rezim Israel.” Dia mendesak masyarakat internasional dan Dewan Keamanan PBB untuk tidak tinggal diam dalam menghadapi kejahatan keji tersebut. “Selama hampir 10 bulan, negara-negara tertentu, khususnya AS, telah melindungi Israel dari tanggung jawab apa pun atas pembantaian di Gaza dan kegiatan jahat di kawasan itu,” ujarnya.

Read More

Penyebab Perang Armagedon dan Jalannya Perang

Jakarta — 1miliarsantri.net : Perang Armagedon, atau Perang Akhir Zaman, merupakan peristiwa besar yang disebutkan dalam berbagai tradisi agama, termasuk dalam Islam. Dalam konteks Islam, perang ini sering dikaitkan dengan akhir zaman dan tanda-tanda kiamat. Konflik Israel dengan beberapa negara semakin mengarah kepada perang akhir zaman ini. Karena, Perang Armageddon menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan poros kaum Muslimin yang dipimpin oleh Al Mahdi bersama Isa Al Masih. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Hari kiamat tidak akan terjadi, hingga dua kelompok berperang. Pembunuhan besar-besaran akan berlangsung dan mereka berperang dengan tuntutan yang sama.” (HR Bukhari dan Muslim) Beberapa tahun terakhir ini Israel mulai banyak bermusuhan dengan berbagai negara di dunia. Baru-baru ini hubungan Israel dan Lebanon memanas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun berupaya mencegah perang keduanya pasca serangan ke Majdal Shams, kota di Dataran Tinggi Golan, yang diduduki Israel pada Sabtu (27/7/2024). Tidak hanya bersitegang dengan Lebanon, hubungan Israel dengan Turki juga kembali memanas menyusul rencana Presiden Recep Tayyip Erdogan “menginvasi” negara Zionis itu demi membela Palestina di Jalur Gaza. Armageddon sendiri merupakan sebuah nama gunung di Palestina/Israel. Arti Armageddon berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti ‘gunung’, dan Mageddon (Magiddo) adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Lalu apa sebenarnya penyebab perang Armagedon ini? Dan seperti apa jalannya Perang al-malhamah kubra ini? Penyebab Perang Armagedon: Salah satu yang menjadi penyebab Perang Armagedon adalah kemerosotan moral. Hadis-hadis menyebutkan bahwa tanda-tanda akhir zaman termasuk merosotnya moral dan akhlak manusia. Banyak orang akan meninggalkan ajaran agama dan melakukan kejahatan serta kemaksiatan. Munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak adil dan tirani juga disebut sebagai penyebab perang ini. Mereka akan menindas rakyat dan menimbulkan kekacauan. Hal ini mulai tampak dengan kejamnya para pemimpin dunia, khususnya pemimpin Israel. Umat manusia akan terpecah belah dan terjadi banyak pertentangan serta konflik antar bangsa dan kelompok. Jalannya Perang Armagedon Dalam hadis-hadis Islam, munculnya Imam Mahdi merupakan salah satu tanda besar akhir zaman. Imam Mahdi akan datang sebagai pemimpin yang adil dan memimpin umat Islam dalam perjuangan melawan kezaliman. Rasulullah bersabda: “Umat tidak akan rusak, yang aku ada di awalnya, Isa ibn Maryam berada di akhirnya, dan al-Mahdi pada pertengahannya (sebelum akhir). Dajjal adalah sosok yang sangat ditakuti dalam Islam, digambarkan sebagai penipu besar yang akan menyesatkan banyak orang. Kedatangannya akan menandai dimulainya masa fitnah dan ujian besar bagi umat manusia.

Read More

Kisah Abu Bakar Menjadi Ahli Surga

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu Anhu adalah orang yang paling utama di antara seluruh manusia di dunia ini selain para nabi. Abu Bakar dipastikan termasuk ahli surga. Baginda Rasulullah SAW memberi kabar gembira bahwa Abu Bakar adalah ahli surga. Bahkan, dikatakan akan menjadi pimpinan kaum tua yang akan masuk surga. Semua pintu surga akan memanggil namanya dan menyampaikan kabar gembira kepadanya. Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang paling dahulu masuk surga di kalangan umatku adalah Abu Bakar.” Meskipun demikian, Abu Bakar juga berkata, “Alangkah bahagianya, jika aku menjadi sebatang pohon yang akhirnya ditebang.” Abu Bakar juga berkata, “Alangkah bahagianya, jika aku menjadi rumput yang dimakan hewan.” Kadangkala Abu Bakar juga berkata, “Alangkah bahagianya, jika aku menjadi sehelai bulu di badan seorang mukmin.” Suatu ketika, Abu Bakar pernah berada di dalam sebuah kebun dan melihat seekor burung yang sedang berkicau. Sambil menarik napas berat, Abu Bakar berkata, “Wahai burung, alangkah beruntungnya hidupmu. Kamu makan, minum, dan beterbangan di antara pepohonan, tetapi di akhirat tidak ada hisab bagimu. Alangkah bahagianya, jika Abu Bakar menjadi sepertimu” (dari kitab Tharikhul Khulafa). Sayyidina Rabi’ah Aslami Radhiyallahu anhu bercerita, “Suatu ketika pernah terjadi kesalahpahaman antara aku dan Abu Bakar. Dia berbicara kasar kepadaku sehingga aku tersinggung. Ketika dia menyadari kesalahannya, dia berkata kepadaku, ‘Ucapkanlah kata-kata kasar kepadaku sebagai balasan’. Namun, aku menolaknya.” Abu Bakar berkata lagi, “Kamu harus mengucapkannya. Jika tidak, akan aku adukan kepada Rasulullah SAW.” Sementara, Rabi’ah Aslami tetap tidak menjawab apa pun. Lalu, Abu Bakar bangun dan pergi meninggalkanku. Ketika itu, beberapa orang dari kabilahku (Banu Aslam) yang menyaksikan kejadian tersebut berkata, “Orang ini aneh sekali. la sendiri yang bersalah dan ia sendiri yang mengadukannya kepada baginda Rasulullah SAW.”

Read More

Kisah Syahidnya Abu Ubaidah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketika pada zaman sahabat Rasulullah SAW pernah dilanda wabah daulah Islam. Ketika itu, episentrum sebaran penyakit mematikan tersebut berada di Amawas, suatu kota sebelah barat Baitul Makdis, Palestina. Muhammad Husain Haekal dalam buku biografi tentang Umar bin Khattab menjelaskan, wabah tersebut terus menjalar ke Syam (Suriah) dan bahkan Irak. Tiap orang yang tertular tak lama kemudian akan meninggal dunia. Sebulan lamanya wabah tersebut menyeruak. Total korban jiwa mencapai 25 ribu orang. Basrah di Irak menjadi kota dengan jumlah korban terbanyak. Sapuan epidemi juga tiba di kompleks barak tempat tinggal tentara Muslimin di Syam. Jenderal Khalid bin Walid ikut terdampak. Sebanyak 40 orang anaknya meninggal dunia setelah terjangkit penyakit itu. Kala itu, Muslimin sedang konfrontasi dengan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Namun, para jenderal Romawi memilih pasif, alih-alih memanfaatkan “kesempatan” saat pasukan Islam diserang wabah. Sebab, mereka pun tak mau terimbas epidemi yang sama. Khalifah Umar bin Khattab menyadari bahaya sebaran wabah yang kian menjadi. Saat itu, sahabat berjulukan al-Faruq ini beserta rombongannya dalam perjalanan dari Madinah menuju Suriah (Syam). Turut bersama sang khalifah adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah. Khalifah Umar baru saja tiba di Sar, dekat Tabuk, ketika tiga tokoh tersebut memberitahukan kepadanya ihwal kian merebaknya wabah Amawas. Mendengar keterangan mereka, Umar merasa khawatir. Ia lantas memimpin musyawarah untuk menentukan sikap: apakah meneruskan perjalanan ke Syam atau balik ke Madinah. Sebagian mendesak agar perjalanan dilanjutkan. Sebagian yang lain meminta Umar untuk kembali saja ke Kota Nabi. Keesokan harinya, usai memimpin shalat subuh Umar berseru, “Saya akan kembali ke Madinah, maka ikutlah kalian pulang.” Namun, keputusan Umar itu didebat Abu Ubaidah. Salah satu jenderal terbaik kaum Muslimin ini mengatakan, dirinya tak mau meninggalkan pasukannya yang masih ada di barak di Syam. “Wahai Umar, kita akan lari dari takdir Allah?” tanya Abu Ubaidah, retoris. “Ya, lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah juga,” jawab Umar. Saat keduanya sedang beradu argumen, datanglah Abdurrahman bin Auf. Ia lantas mengingatkan kepada mereka berdua ihwal sabda Rasulullah SAW: “Jika ada wabah di suatu kota, janganlah kalian masuk. Kalau kalian sedang ada di dalamnya, janganlah kalian lari keluar.” Mendengar nasihat itu, Umar semakin merasa yakin. Ia dan para pengikutnya lantas beranjak pulang.

Read More

Kisah Tersusunnya Muwatta’ Kitab Populer Pertama

Jakarta — 1miliarsantri.net : Semenjak Khalifah Umar bin Abdul Aziz menghimbau para Alim Ulama untuk membukukan hadis-hadis Nabi, dari situ gerakan pembukuan mulai berjalan dan terus berkembang waktu demi waktu. Mula-mula ulama hanya mengumpulkan hadis Nabi dalam satu karangan kitab tanpa menyortir dan mengelompokannya dalam bab-bab yang tersusun, sebagaimana kitab yang dikarang Az-Zuhri dan Ibnu Hazm. Hingga pada tahun 170 H kitab Muwatta’ muncul menjadi kitab pertama yang disusun dengan pengelompokan hadis dalam bab tertentu. Kitab fenomenal ini dikarang oleh Imam Malik bin Anas bin Malik, pendiri mazhab Maliki. Berawal dari pertemuannya dengan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur pada saat tengah melaksanakan ibadah haji, Khalifah Abbasiyah kedua itu meminta Imam Malik untuk menulis kitab yang memuat hadist beserta fiqih didalamnya—sebagaimana yang tercantum dalam kitab Tartibul Madarik, lebih lengkapnya beliau berpesan, “Orang alim yang tersisa hanya aku dan dirimu. Aku saat ini telah disibukkan dengan politik, maka yang tersisa hanya dirimu. Karanglah kitab yang berguna bagi umat, yang di dalamnya memuat hadis dan fiqih, hindari rukhsas-rukhsas Ibnu Abbas, pendapat-pendapat yang memberatkan milik Ibnu Umar, dan pendapat syadz Ibnu Mas’ud. Lalu jelaskan secara perinci.”, sejak saat itulah Imam Malik mulai menggarap kitab sesuai dengan permintaan Al-Manshur. Dalam penulisannya beliau menggunakan metode yang moderat dengan proporsi seimbang. Kitab ini oleh Imam Malik diberi nama “Muwatta’” yang artinya yang disepakati, karena setelah menyelesaikannya Imam Malik memberikan Muwatta’ ke tujuh puluh ulama fiqih Madinah dan mereka semua menyepakati isi dari kitab Muwatta’. Dalam Muwatta’ sendiri terhimpun sepuluh ribu hadist yang selama empat puluh tahun oleh Imam Malik semua hadis tersebut dikoreksi. Hadis-hadis yang cacat serta yang tak diamalkan oleh para Imam, dihapus sehingga sampai selesainya tahap pengkoreksian hadis yang tersisa lima ratus lebih. Muwatta’ merupakan kitab yang memuat hukum asal dan cabang ilmu fiqih, yang diterima oleh ulama dan umat pada masa itu. Kitab ini pun menjadi terkenal ke seluruh penjuru negeri serta menuai decak kagum dan pujian dari banyak kalangan. Banyak orang dari segala penjuru yang pergi untuk menuntut ilmu ke Imam Malik karena kagum akan keluasaan ilmu yang beliau tuang dalam Muwatta’. Salah satu penyebab terkenalnya Muwatta’ ialah keinginan Abu Ja’far—dalam keterangan lain Harun Ar-Rasyid—yang ingin menggantung Muwatta’ di Ka’bah dan menyebarkannya ke seluruh negeri agar seluruh masyarakat mengamalkannya sehingga tidak ada lagi perselisihan. Namun Imam Malik menolaknya, dikarenakan para Sahabat Nabi terdahulu banyak yang hijrah ke tempat-tempat lain lalu meriwayatkan hadist yang dijadikan dalil oleh masyarakat setempat. Akhirnya Abu Ja’far mengurungkan niatnya tersebut. Melihat luasnya pandangan Imam Malik mengenai hal itu serta tak mau melibatkan politik (pemerintah) untuk membuat kitabnya terkenal, umat Islam dengan sendirinya menerima Muwatta’ tanpa ada tekanan. Kitab ini menjadi rujukan untuk kitab-kitab hadis yang lain, sampai-sampai ada riwayat yang mengatakan kutubus-sittah seluruhnya merujuk ke Muwatta’. Begitu banyak komentar dan cerita tentang keagungan kitab Muwatta’ yang bisa dilihat dengan banyak kitab manaqib Muwatta’. (jeha)

Read More

Kisah Ketika Yahudi Pembangkang Menjadi Kera

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ada tiga ayat dalam Alquran yang menyebutkan perihal kera. Semuanya itu berkaitan dengan kisah orang-orang Yahudi yang tidak menaati perintah Allah SWT. Karena melanggar ketentuan-Nya tentang hari Sabat (Sabtu), mereka diubah wujud oleh Allah menjadi kera. Menukil buku Hewan Dalam perspektif Alquran dan Sains yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, disebutkan bahwa ayat-ayat yang menyebut kera tersebut dipahami beragam oleh para mufasir. Sebagian memandang bahwa kera hanyalah metafora dari suasana hati orang-orang Yahudi yang enggan menerima nasihat dan peringatan. Ada pula yang memahami penyebutan kera itu sebagai perubahan fisik yang nyata, bukan sekadar metafora. Kera menjadi perwujudan orang-orang Yahudi itu, tetapi mereka dipercaya tidak beranak, tidak pula makan dan minum. Mereka hanya hidup selama tiga hari, lalu mati serentak. Ayat-ayat Alquran yang dimaksud adalah sebagai berikut. Pertama, surah al-Baqarah ayat ke-65. وَلَقَدۡ عَلِمۡتُمُ الَّذِيۡنَ اعۡتَدَوۡا مِنۡكُمۡ فِىۡ السَّبۡتِ فَقُلۡنَا لَهُمۡ كُوۡنُوۡا قِرَدَةً خَاسِـِٔـيۡنَ ‌ۚ‏ “Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina!’” Kedua, surah al-Maidah ayat ke-60. قُلۡ هَلۡ اُنَـبِّئُكُمۡ بِشَرٍّ مِّنۡ ذٰ لِكَ مَثُوۡبَةً عِنۡدَ اللّٰهِ‌ ؕ مَنۡ لَّعَنَهُ اللّٰهُ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ وَجَعَلَ مِنۡهُمُ الۡقِرَدَةَ وَالۡخَـنَازِيۡرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوۡتَ‌ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضَلُّ عَنۡ سَوَآءِ السَّبِيۡلِ

Read More

Membaca Tujuh Tanda Kedatangan Al-Masih Si Pendusta, Mesiah yang Dinantikan Bangsa Yahudi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Israel memang bukan ‘negara’ biasa. Dia merupakan sebuah pertanda, terutama bagi penganut Islam, Kristen, dan Yahudi. Seperti ditulis pakar eskatologi Islam, Imran Hosein, dalam bukunya, Jerusalem in the Qur’an, Yahudi meyakini restorasi Israel setelah dua ribu tahun Kerajaan Israel dihancurkan merupakan satu dari tujuh tanda kehadiran Mahsiah, atau Moshiah, atau Mashiach, atau Moshiach. Itu adalah bahasa Ibrani dari al-Masih atau Messiah. Tapi, al-Masih yang mereka tunggu bukanlah kedatangan Nabi Isa al-Masih, sebagaimana keyakinan Islam dan Kristen. Mereka menunggu Messiah yang lain. Meski sedang berlangsung, restorasi Israel tersebut belumlah sempurna. Yang dimaksud restorasi Israel bukanlah sekadar pendirian negara Israel, tapi juga negara dengan luas seperti pada era Nabi Daud, yang merupakan era keemasan Bani Israil. Bahkan, gerakan Zionis saat ini menambahkannya dengan gagasan Israel Raya (Eretz Yisrael), yang membentang dari Delta Nil (yang kini masih dikuasai Mesir) hingga ke Sungai Eufrat (yang kini masih dikuasai oleh Irak), seperti yang tertulis di Kitab Genesis, bahkan lebih luas lagi. Tanda kedua, dari kehadiran Messiah versi Yahudi, ini, adalah kembalinya orang-orang Yahudi yang semula terpencar (diaspora) ke Tanah Suci (Yerusalem). Tanda kedua ini telah lama berlangsung, dan masih berlangsung sampai saat ini. Terus mengalirnya orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia ke Israel, membutuhkan tempat tinggal. Dan, persoalan inilah yang sampai saat ini terus menerus memicu persoalan, karena Israel terus mem bangun pemukiman baru, dan mengusir orang Arab. Tanda ketiga, adalah pembebasan Tanah Suci (Yeru salem) dari tangan goyim (sebutan untuk semua orang non-Yahudi). Tanda ketiga ini pun sudah terjadi, tapi juga belum sepenuhnya sempurna. Pada 1948, saat Israel diproklamasikan, mereka telah menguasai Yerusalem Barat. Setahun kemudian, Israel menobatkan Yerusalem sebagai ibu kota. Bahkan, saat itu, parlemen Israel (Knesset) yang semula di Tel Aviv, telah diboyong ke sana. Namun, saat itu, Yerusalem Timur yang meru pakan lokasi Kota Tua Yerusalem, dan merupakan tempat berdirinya situs penting tiga agama, termasuk Masjid al-Aqsa— masih dikuasai bangsa Arab (Yordania). Yerusalem Timur dicaplok Israel, setelah Perang Enam Hari pada 1967. Meski Israel secara sempurna telah menguasai Yerusalem, dan mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota abadi Israel, namun sampai saat ini prosesnya masih tarik-ulur. Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel itu kerap muncul dalam kampanye presiden Amerika Serikat, terutama Donald Trump. Tanda keempat, adalah kembali dibangunnya Kuil Sulaiman (Haykal Sulaiman atau Masjid Sulaiman). Tanda ini pun belum terpenuhi. Kendati Kota Tua Yerusalem telah berada di bawah pendudukan Israel, namun Masjid al-Aqsa dan Masjid Kubah Batu (the Dome of Rock) masih berdiri. Kompleks Haram al-Sharif ini, berdiri di atas reruntuhan Haikal Sulaiman yang dihancurkan Romawi. Kompleks ini, sampai saat ini masih dikelola Yayasan Wakaf di bawah pemerintahan Palestina dan Yordania. Tapi, skenario penghancuran Masjid al-Aqsa itu, hanyalah menunggu waktu. Di atas kompleks itulah di rencanakan akan dibangun Kuil Sulaiman. Ini merupakan kuil ketiga. Kuil pertama dibangun Nabi Sulaiman, sebelum akhirnya dihancurkan Nebukadnezar. Kuil kedua dibangun Cyrus Agung, dan kemudian dihancur kan Romawi. Sedangkan kuil ketiga, menurut keyakinan Yahudi, akan dibangun di masa mendatang, yang menjadi pertanda era messiah (the messianic age).

Read More

Kisah Bahtera Nabi Nuh dalam Al-Qur’an

Jakarta — 1miliarsantri.net : Nabi adalah utusan Allah yang datang dari waktu ke waktu untuk membimbing umat manusia ke jalan Allah, jalan kebenaran. Di antara sekian banyak orang yang datang sebagai pembimbing dan pemberi peringatan kepada manusia, Nabi Nuh (Alaihisalam) [1] adalah salah satunya. Beliau hidup jauh sebelum zaman Nabi Muhammad (Salallahu alaihi wasalam), nabi terakhir. [2] Allah mengangkat Nuh sebagai nabi bagi umatnya, agar dapat membimbing mereka ke jalan yang benar dan menjauhkan mereka dari jalan yang jahat. Al-Qur’an menceritakan kisah Nabi Nuh dan kaumnya dalam beberapa surah[3], yaitu surah 71 (Nuh), surah 11 (Hud), dan surah 23 (al-Mu’minun), dan masih banyak lagi. ayat-ayat [4] di dalamnya. Kisah ini menceritakan kepada kita tentang keimanan yang kuat yang dimiliki Nabi kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tentang kebinasaan terakhir bagi mereka yang mengabaikan Pesan Ilahi. Memerintahkan Nabi Nuh untuk memperingatkan umatnya, Allah berfirman: “Peringatkanlah umatmu sebelum mereka mendapat hukuman yang pedih.” — Al-Qur’an, 71:1 Menaati perintah Allah, Nabi Nuh mendatangi kaumnya dan berkata: “Aku datang kepadamu dengan peringatan yang jelas bahwa kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kepadamu siksa hari yang celaka.” — Al-Qur’an, 11:25-26 Para pemimpin yang khawatir akan kehilangan kekuasaan dan wibawa mereka atas rakyat yang mereka pimpin, tidak menyetujui apa yang dikhotbahkan Nabi Nuh dan berusaha menyesatkan rakyat dari Jalan yang Benar. Mereka berdebat dengan Nabi yang bersabda: “Kami tidak melihat sesuatu yang istimewa dalam dirimu kecuali sebagai manusia seperti kami. Kami juga tidak melihat orang-orang yang mengikuti Anda, melainkan orang-orang yang paling hina di antara kami dan tidak dewasa dalam menilai. Kami juga tidak melihatmu lebih unggul dari kami; sebenarnya kami pikir kamu pembohong.” — Al-Qur’an, 11:27 Nabi Nuh tidak terganggu oleh komentar-komentar menghina mereka dan melanjutkan misi ilahinya dengan sengaja. Dia menyerukan kepada umatnya dengan cara yang sangat sopan dan penuh kasih untuk memperbaiki cara hidup mereka. Ia juga memperingatkan mereka akan akibat buruk yang akan terjadi jika mereka terus menyembah dewa-dewa palsu dan menjalani kehidupan yang amoral. Meyakinkan mereka bahwa dia tidak mencari kekayaan atau kekuasaan atau bantuan apa pun dari mereka, dia berkata: “Dan hai umatku! Aku tidak meminta kepadamu imbalan harta, pahalaku hanya dari Allah.” — Al-Qur’an, 11:29 Namun para pemimpin terus menghalangi Nabi Nuh dalam misinya dengan menimbulkan keraguan terhadap Nuh. Mereka berkata kepada orang-orang: “Dia tidak lebih dari pria sepertimu. Keinginannya adalah untuk menegaskan superioritas atas Anda. Seandainya Allah menghendaki (mengirimkan rasul), Dia bisa saja menurunkan Malaikat. Kami belum pernah mendengar hal seperti itu (seperti yang dikatakannya), di kalangan nenek moyang kami dahulu kala.” — Al-Qur’an, 23:24. [5] Para kepala suku kemudian menjadi marah terhadap Nabi dan menantangnya dengan arogan: “Wahai Nuh! Sesungguhnya kamu telah berselisih dengan kami dan kamu telah memperpanjang perselisihan itu: sekarang bawakan kepada kami apa yang telah kamu ancam kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang jujur.” — Al-Qur’an, 11:32 Nabi Nuh kemudian mengingatkan mereka bahwa bukanlah kekuasaannya melainkan kekuasaan Allah untuk menghukum mereka karena perbuatan jahat mereka. “Sesungguhnya Allah akan menimpakannya kepadamu jika Dia menghendakinya, — dan kemudian, kamu tidak akan dapat menggagalkannya.” — Al-Qur’an, 11:33 Namun semua peringatannya, nasehat dan nasehatnya yang baik sepertinya tidak didengarkan. Kecuali segelintir orang yang mengikuti petunjuknya, sebagian lainnya terus memuja berhala batu dengan nama berbeda sebagaimana dibuktikan dalam ayat berikut: “Dan mereka berkata (satu sama lain) ‘Jangan tinggalkan tuhan-tuhanmu: jangan tinggalkan Wadd, Suwa, Yaguth, Yauq, atau Nasr. — Al-Qur’an, 71:23 Nabi Nuh kembali melipatgandakan usahanya namun semuanya sia-sia. Dia kemudian berseru kepada Tuhannya: “Ya Tuhanku! Aku telah menyeru umatku di siang dan malam hari, namun seruanku hanya (meningkatkan) pelarian mereka (dari Jalan yang Benar). Dan setiap kali Aku berseru kepada mereka, agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka, menutupi diri mereka dengan pakaian mereka, menjadi keras kepala dan menyerahkan diri kepada kesombongan. Maka aku telah menyeru mereka dengan lantang: selanjutnya aku telah berbicara kepada mereka di muka umum dan secara diam-diam secara sembunyi-sembunyi.” — Al-Qur’an, 71:5-9 Ketika masyarakat menjadi lebih keras kepala dan menolak menerima pesan Tuhan yang menuduh Nabi Nuh melakukan kebohongan, Tuhan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman-Nya kepada orang-orang kafir. Kepada Nabi Nuh, Allah memerintahkan:

Read More