Serentaun Kasepuhan Adat Ciptamulya Jadi Daya Tarik Wisata Selatan Sukabumi

Sukabumi — 1miliarsantri.net : Acara adat serentaun di Kasepuhan Adat Ciptamulya di Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat kembali digelar, Ahad (28/7/2024). Upacara tersebut mampu menarik perhatian warga khususnya wisatawan untuk berkunjung dan menyaksikan acara adat. Momen ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi yang masih bisa dilakukan. Kegiatan yang digelar setiap tahun ini menyedot perhatian warga baik lokal Sukabumi maupun dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Acara adat itu diperlihatkan warga membawa hasil panen yang dibawa ke Leuit (Lumbung) Si Jimat di komplek Kasepuhan Adat Ciptamulya. Serentaun di lakukan di kasepuhan adat yang berada di selatan Sukabumi yang merupakan bagian dari Kesatuan Masyarakat Adat Banten Kidul. Rangkaian kegiatan serentaun tahun ini dilakukan sejak Kamis (25/7/2024) dan mencapai puncaknya pada Ahad. Dalam acara itu digelar pementasan kesenian gondang buhun dan wayang golek. Puncaknya pada Ahad digelar upacara adat seren taun, warga membawa hasil panen untuk disimpan di lumbung padi Leuit Sijimat dan nantinya padi yang disimpan ini nantinya akan digunakan oleh warga sebagai benih untuk musim tanam berikutnya. ”Kegiatan serentaun di kasepuhan ini untuk mensyukuri hasil menanam padi dari tahun ke tahun. Kegiatan ini sebagai upaya menjaga nilai budaya yang menjadi kearifan lokal,’’ terang Pimpinan Kasepuhan Adat Ciptamulya E Suhendri Wijaya atau sering disebut Abah Hendrik. Terutama dalam menanam padi, baik di ladang maupun sawah. Abah Hendrik menambahkan, serentaun merupakan sarana puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena selama ini warga telah diberikan kenikmatan dan kebarokahan. ‘’Tanah subur makmur dan menghasilkan panen yang dirasakan masyarakat. Sehingga kegiatan cocok tanam berjalan dengan lancar dan tidak ada gangguan. Selain seren taun, ada acara lainnya sebelum puncak seren taun yakni menanam padi atau ngaseuk yang artinya padi tumbu satu minggu,’’ ujar Abah Hendrik.

Read More

Gunung-gunung Juga Banyak ditemukan di Jazirah Arab

Jakarta — 1miliarsantri.net : Gunung-gunung di Indonesia umumnya berwarna hijau karena ditutupi rimbunnya pepohonan. Selain itu, gunung-gunung di Indonesia banyak yang aktif bahkan pernah meletus. Sedangkan di jazirah Arab, umumnya gunung terlihat tandus dan tidak ditutupi rimbunnya pepohonan. Apakah gunung-gunung di jazirah Arab aktif dan pernah meletus? Di seluruh wilayah barat Jazirah Arab dari Al-Nafud (gurun di Arab Saudi) di utara hingga ujung selatan Yaman, terdapat rangkaian gunung berapi. Keberadaannya adalah akibat runtuhnya Dataran Tinggi Afrika-Arab yang mengakibatkan munculnya Laut Merah sekitar 30 juta tahun yang lalu. Sebagian besar gunung berapi ini sekarang tidak aktif, namun beberapa di antaranya, terutama di Yaman selatan, masih hidup dan mungkin meletus jika kondisi geologisnya menyebabkan hal tersebut. Wilayah Kerajaan Arab Saudi sendiri terletak di atas 2.000 gunung berapi yang tidak aktif selama ribuan tahun. Ketika gunung berapi ini aktif, dengan ledakan dan lava yang tersebar, terbentuklah 13 gunung berapi yang dihasilkan oleh aliran vulkanik yang besar dan terjadi di masa lampau. Persentase terbesar dari anakan dan kawah gunung berapi tersebut terdapat di wilayah Madinah. Menurut situs Survei Geologi, dalam 6.000 tahun terakhir telah terjadi 11 letusan gunung berapi di Harrat Rahat, Arab Saudi. Letusan terakhir adalah letusan gunung berapi terkenal yang terjadi pada tahun 654 H, yang berlangsung selama lebih dari 52 hari. Salah satu gunung berapi yang terkenal di Kerajaan Arab Saudi adalah Jabal al-Qadr, yang terletak di jantung Harrat Khaybar. Jabal Al Qadr merupakan gunung vulkanik yang sudah punah dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan bumi. Kawah gunung ini sangat dalam dan terdapat rongga-rongga besar. Dari kawah Gunung Al-Qadr, ada lava beku yang memanjang lebih dari 50 Km dalam pemandangan geologi yang langka. Di area yang sama terdapat kawah gunung berapi Jabal al-Abyad, dengan warna aneh dan formasi beragam, yang dapat dianggap sebagai salah satu landmark geologi langka di dunia.

Read More

Alm Hamzah Haz Orang yang Telah Membiasakan Shalat Jama’ah

Bogor — 1miliarsantri.net : Mantan Wakil Presiden ke 9 RI Hamzah Haz meninggal dunia pada Rabu (24/7/2024) sekitar pukul 09.45 WIB. Sebelum nya jenazah disalatkan di masjid yang dibangun Hamzah Haz di Jalan Nenas, Bogor, kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga di Bogor. Sejumlah tokoh tampak hadir di rumah duka, diantaranya Wapres ke-10 dan 12 Jusuf Kalla (JK) hingga Wakil Presiden ke-11 Boediono. Selain kedua tokoh ini, hadir Menteri ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kepergian Hamzah Haz meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang yang mengenalnya, khususnya bangsa Indonesia. “Selamat jalan, semoga Allah meridloi dan menerima amalnya sebagai bekal memenuhi panggilan-Nya. Mengampuni kesalahan dan dosanya, menempatkannya dalam alam kebahagiaan,” tulis mantan Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Maskuri. Senior Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini bersaksi, almarhum Hamzah Haz adalah orang yang telah membiasakan shalat jama’ah di Istana Wapres. “Saya menjadi saksi hidup, selain para saksi hidup lainnya, beliau telah membiasakan shalat jama’ah di istana wapres. Karena belum ada mushalla, beliau mengajak seluruh karyawan, mulai petugas kebersihan, staf, dan para ASN yang mengabdi di istana wapres,” ungkapnya. Maskuri melanjutkan, setidaknya jama’ah duhur dan ashar bila Hamzah Haz di Istana Wapres, selalu mengajak karyawan shalat berjamaah.

Read More

Letusan Gunung Vesovius menelan Kota Mozaina

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam tafsir Tahlili yang dikutip dari quran.kemenag.go.id dijelaskan, dalam alam Alquran Surat At Thur ayat 6 Allah berfirman: وَالْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِۙ Allah bersumpah, Demi al-Bahrul-Masjur (laut yang di dalamnya ada api) yakni laut yang tertahan dari banjir karena kalau laut itu dilepaskan, ia akan menenggelamkan semua yang ada di atas bumi sehingga hewan dan tumbuh-tumbuhan semuanya akan habis musnah. Maka rusaklah aturan alam dan tidaklah ada hikmah alam ini dijadikan. Sebagian ulama berpendapat dan menetapkan bahwa lapisan bumi itu seluruhnya seperti semangka, dan kulitnya seperti kulit semangka, itu artinya bahwa perbandingan kulit bumi dan api yang ada di dalam kulitnya itu seperti kulit semangka dengan isinya, yang dimakan itu. Sebab itu sekarang kita sebenarnya berada di atas api yang besar, yakni di atas laut yang dibawahnya penuh dengan api dan laut itu tertutup dengan kulit bumi dari segala penjurunya. Dari waktu ke waktu api itu naik ke atas laut yang tampak pada waktu gempa dan pada waktu gunung berapi meletus; seperti gunung berapi Vesovius yang meletus di Italia pada tahun 1909 M yang telah menelan kota Mozaina, dan gempa ini yang telah terjadi di Jepang pada tahun 1952 M yang memusnahkan kota-kotanya sekaligus.

Read More

Sejarah Pembangunan Masjid Istiqlal

Jakarta — 1miliarsantri.net : Cita-cita membangun masjid nasional sudah mengendap di kalbu masyarakat Muslim Indonesia sejak negara ini memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 silam. Namun, niat itu baru konkret terlaksana tiga dekade atau tepatnya 33 tahun kemudian dengan berdirinya Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat pada 22 Februari 1978. Awalnya, ide pembangunan masjid nasional pertama kali dibicarakan pada 1950 atau hanya beberapa bulan setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda. Menteri agama kala itu, KH Abdul Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur), mengundang sejumlah tokoh Muslim, seperti H Agus Salim, H Anwar Tjokroaminoto (putra HOS Tjokroaminoto), dan Ir Sofwan. Pertemuan para tokoh ini kemudian ditindaklanjuti dengan rapat akbar yang mengumpulkan sekitar 300 ulama di bawah pimpinan KH Taufiqurrahman di gedung Deca Park, Jakarta. Pada 1953, hasil rapat yang berintikan kehendak membangun masjid nasional disampaikan kepada presiden Sukarno. Proklamator RI menyambutnya gembira Pada 7 Desember 1954, Yayasan Masjid Istiqlal dibentuk. Gedung Deca Park di Lapangan Koningsplein (rakyat Jakarta masa itu menyebutnya Lapangan Gambir) menjadi saksi bisu peresmian yayasan tersebut di hadapan notaris Elisa Pondag. Kini, Gedung Deca Park sudah tak berbekas lantaran ikut digusur akibat proyek pembangunan Monumen Nasional (Monas). Nama “Istiqlal” pun diambil dari kata dalam bahasa Arab yang bermakna ‘merdeka.’ Rumah ibadah ini dimaksudkan sebagai simbol rasa syukur segenap bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang merupakan rahmat Allah SWT. Presiden Sukarno ingin Masjid Istiqlal menjadi kebanggaan Indonesia bukan hanya di tingkat nasional, melainkan internasional atau regional. Karena itu, penentuan lokasi Masjid Istiqlal tidak hanya bernuansa simbolis, melainkan juga politis (siyasah). Penentuan lokasi ini membuat rencana pembangunan Masjid Istiqlal sempat tertunda. Mandeknya rencana pembangunan tersebut lantaran terjadi perdebatan antara presiden Sukarno dan wakil presiden Mohammad Hatta. Bung Karno mengusulkan lokasi terletak di atas bekas benteng Belanda, Frederick Hendrik, yang ada di dalam Taman Wilhelmina. Taman ini dibangun gubernur jenderal Van Den Bosch pada 1834. Letaknya di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran. Memang, dalam periode 1950 sampai 1960, Taman Wilhelmina dikenal sepi, gelap, kotor, dan kumuh. Tembok-tembok sisa bangunan benteng Frederick Hendrik dipenuhi lumut yang menjalar dan rumput ilalang tumbuh rimbun di sekelilingnya. Sangat tak sedap dipandang mata. Dengan kata lain, Bung Karno ingin memusatkan bangunan-bangunan monumental, termasuk Monas dan Masjid Istiqlal, agar tak berjauhan. Di saat yang sama, Bung Karno terkesan ingin mengganti bangunan-bangunan peninggalan kolonial dengan bangunan-bangunan baru yang menampilkan identitas keindonesiaan.

Read More

Hodeidah, Kota Pelabuhan yang Diserang Israel Dulu Pernah Dikuasai Turki Utsmani

Jakarta — 1miliarsantri.net : Tentara Israel kembali berulah pada Sabtu (26/7/2024) lalu. Tentara dari negeri penjajah tanah Palestina itu menyerang melalui udara, menyerang sasaran militer Houthi di wilayah pelabuhan Hodeidah di Yaman. Akibat serangan itu, dilaporkan 80 orang menderita luka berat. Kebanyakan dari para korban menderita luka bakar. Untuk diketahui, Hodeidah merupakan kota di bagian barat Yaman. Dikutip Encyclopaedia Britannica, kota ini terletak di dataran pantai Tihāmah yang berbatasan dengan Laut Merah. Kota ini merupakan salah satu pelabuhan utama negara ini dan memiliki fasilitas modern. Dalam sejarah peradaban Islam, kota ini pertama kali disebutkan pada tahun 1454/55 dan menjadi penting pada tahun 1520-an ketika Tihāmah Yaman direbut oleh Turki Utsmani . Pada abad-abad berikutnya kota ini menggantikan Mocha sebagai pelabuhan utama negara tersebut. Di bawah kekuasaan Utsmani hingga tahun 1918, Hodeidah menjadi tempat pendaratan bagi upaya-upaya Utsmani berturut-turut untuk merebut kendali penuh atas Imamah Yaman dari para penguasa tradisionalnya (pendudukan Utsmani pertama, dimulai pada 1849; pendudukan kedua, 1872–1918). Selama perang Utsmani-Italia pada 1911-1912 kota ini dibombardir oleh kapal-kapal perang Italia yang berada di lepas pantai. Setelah Perang Dunia I, Inggris yang menang menyerahkan Hodeidah dan Tihāmah Yaman kepada para penguasa Idrīsī di Asir, di utara, tetapi wilayah tersebut direbut kembali oleh Yaman pada tahun 1925. Pemberontakan yang dipicu oleh Yaman di Asir (yang saat itu merupakan bagian dari Arab Saudi ) pada tahun 1934 menyebabkan pendudukan Saudi di Hodeidah.

Read More

PBNU Keluarkan Edaran Larangan Kerja Sama dengan Lembaga Berafiliasi Israel

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan surat instruksi penegasan kembali terkait pelarangan hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Israel. Surat resmi tersebut dikeluarkan dengan nomor 2020/PB.03/A.1.03.08/99/07/2024 yang mempertegas surat instruksi sebelumnya pada era kepengurusan KH Said Aqil Siroj pada 2021 lalu. “Merujuk Surat Edaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor 4207/C.1.034/09/2021 tanggal 13 Shafar 1443 H/20 September 2021 M sebagaimana terlampir, dengan ini kami tegaskan bahwa instruksi untuk menghentikan dan/atau menangguhkan semua program/proyek kerja sama yang berhubungan dengan Institut Leimena, Institute for Global Engagement (IGE), dan American Jewish Committee (AJC), baik yang masih dalam rencana maupun yang sedang berjalan, tidak pernah dicabut dan masih berlaku hingga saat ini,” isi surat edaran tersebut. Wakil Ketua Umum PBNU, H Amin Said Husni menegaskan, surat pelarangan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Israel yang keluar pada masa Kiai Said dan ditegaskan kembali pada masa kepengurusan Gus Yahya. “Sebetulnya kebijakan untuk menangguhkan atau menghentikan kerja sama dengan lembaga-lembaga internasional, seperti ACJ yang disebutkan secara eksplisit di dalam surat itukan sudah terbit pada kepengurusan PBNU periode yang lalu ketika Ketua Umumnya KH Said Aqil Siroj,” terang Amin Said Husni, Selasa (23/7/2024). Amin mengatakan, pelarangan hubungan atau kerja sama dengan lembaga yang disebutkan dalam surat instruksi itu seperti Institut Leimena, Institute for Global Engagement (IGE), American Jewish Committee (AJC), dan sejenisnya tidak pernah dicabut sejak 2021 silam. “Dan surat itu sampai hari ini tidak pernah dicabut, tidak pernah juga direvisi karena itu sifatnya masih berlaku,” jelasnya. Amin bercerita, yang melatarbelakangi surat tersebut diedarkan kembali adalah, setelah adanya kabar terkait lima orang nahdliyin yang berkunjung menemui Presiden Israel tanpa sepengetahuan PBNU.

Read More

Danau Kelimutu tak bisa dilepaskan dari kepercayaan Suku Lio.

Ende — 1miliarsantri.net : Suara nyaring burung saling bersahutan memecah suasana hening di kawasan yang masih asri di Taman Nasional Kelimutu, Ende, NTT. Sepanjang perjalanan menuju puncak Gunung Kelimutu, pengunjung akan ditemani suara burung garugiwa. Fauna terbang yang dikenal sebagai burung arwah tersebut merupakan peksi endemik yang hanya bisa ditemui di Flores. Garugiwa termasuk burung cerdas yang mampu menirukan hingga 12 suara. Tak heran burung tersebut dijadikan ikon Balai Taman Nasional Kelimutu. Untuk menuju Danau Kelimutu, yang merupakan kawah dari Gunung Kelimutu, dari tempat parkir pengunjung harus berjalan kaki menelusuri jalan setapak sepanjang 2 kilometer dan menapaki kurang lebih 300 anak tangga menuju puncak gunung. Berbicara tentang Danau Kelimutu memang tak bisa dilepaskan dari kepercayaan masyarakat Suku Lio di Kabupaten Ende. Mereka meyakini danau tersebut merupakan tempat bersemayamnya para arwah. Konon kabarnya, para arwah dari orang yang meninggal akan bersemayam di tiga danau yang berada di puncak gunung. Tiga danau berwarna atau triwarna tersebut bernama Tiwu Ata Mbupu, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, dan Tiwu Ata Polo. Orang yang semasa hidupnya mengamalkan kebaikan dan kebajikan hingga berumur panjang, maka setelah meninggal arwahnya akan menempati Tiwu Ata Mbupu, yakni danau yang berwarna gelap. Sementara, orang yang meninggal muda, arwahnya akan menempati Tiwu Nuwa Muri Koo Fai yang berwarna hijau. Sementara, orang yang semasa hidupnya berlaku jahat maka setelah meninggal arwahnya akan menempati Tiwu Ata Polo, yakni danau yang berwarna gelap seperti hijau tua, coklat, hingga dapat berubah warna menjadi merah. Warna danau yang terletak di Gunung Kelimutu itu dapat berubah-ubah, dari hijau menjadi biru, hitam, ataupun merah. Masyarakat yang mendiami kaki Gunung Kelimutu meyakini bahwa perubahan warna danau membawa pesan tertentu. “Misalnya, pada 1996 (sebelum terjadinya krisis moneter) danau mengalami perubahan warna dan selanjutnya pada 2008 menjelang Pak Harto (Soeharto) meninggal dunia,” kata warga setempat bernama Adel, saat ditemui di kawasan Danau Kelimutu, akhir pekan lalu. Terlepas dari kepercayaan masyarakat setempat, secara ilmiah perubahan warna terjadi karena pengaruh dari mekanisme vulkanis, yang mendesak gas-gas di dalam Bumi hingga keluar ke permukaan. Gas itu bereaksi dan bercampur di danau dan menyebabkan perubahan warna air danau. Perubahan warna dari hijau menjadi putih menandakan meningkatnya aktivitas Gunung Kelimutu. Perubahan warna ini tidak mempunyai pola yang jelas, tergantung aktivitas vulkanik yang terjadi

Read More

Sejarah Parfum: Mesir Kuno Hingga Persia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Memakai wangi-wangian adalah hal yang dianjurkan menurut ajaran Islam. Salah satu bentuk wewangian yang populer digunakan adalah parfum. Bangsa Mesopotamia yang menghuni daerah aliran Sungai Eufrat dan Tigris–kini Irak–diyakini sebagai pembuat parfum pertama, yakni pada masa sekira tiga ribu tahun sebelum Masehi (SM). Dari sana, pengetahuan tentang pembuatan wewangian ini terus menyebar, termasuk ke Mesir Kuno. Semula, parfum hanya dikenal dalam bentuk padat, bukan cairan. Wujudnya menyerupai dupa dan dipakai hanya untuk melengkapi ritual-ritual keagamaan. Namun, sejak penemuan kaca pada 1500 SM, parfum hadir sebagai cairan, bukan lagi padatan. Itu pun menjadi barang incaran individual, bukan hanya monopoli kaum pendeta. Wewangian lama kelamaan menjadi kebutuhan kaum bangsawan Mesir Kuno. Para raja dan ratu Mesir seperti berlomba-lomba mendapatkan parfum terbaik dengan wangi yang memanjakan hidung. Cairan beraroma itu lantas disimpan dalam wadah-wadah kaca, yang kadangkala dihargai lebih tinggi ketimbang permata. Para tetua adat Mesir Kuno memiliki pengetahuan mendasar tentang wewangian sebagai pelengkap ritual. Mereka terbiasa merendam kayu gaharu ke dalam air atau minyak. Aroma yang dihasilkan lantas ditambahi dengan madu atau bunga-bunga untuk meningkatkan keharuman. Air atau minyak itu lantas dioleskan ke dinding-dinding kuil atau proses pembalseman mumi. Kaum elite Mesir Kuno lantas mengadopsi tradisi ini. Bedanya, mereka menuangkan air atau minyak hasil rendaman kayu, bunga, dan bahan-bahan lain itu ke dalam bak mandi. Di sanalah, mereka berendam dan membersihkan badan. Untuk melindungi kulit dari terik matahari, krim pelembab pun dibuat dari bahan yang sama. Orang-orang Yunani dan Romawi Kuno juga menyenangi wewangian. Tak jauh berbeda dengan bangsa Mesir, mereka mengenal parfum. Kebanyakan pewangi itu dalam bentuk padat atau dupa, meskipun ada pula yang cairan. Khusus yang berupa minyak, masyarakat tersebut juga menyimpannya dalam botol-botol kaca. Bahkan, bangsa Yunani Kuno diyakini boros dalam menggunakan minyak wangi. Para pemikir setempat membuat beragam hipotesis mengenai indra penciuman. Seorang di antaranya, Theophrastus (371-287 SM), secara khusus meneliti berbagai aspek tentang parfum. Ia mengaitkan efeknya terhadap suasana hati dan proses berpikir manusia. Masyarakat Romawi, khususnya yang berasal dari kalangan elite, mencintai wewangian. Mereka biasa memakai minyak wangi minimal tiga kali sehari. Di pemandian-pemandian umum, biasanya terdapat ruangan yang disebut sebagai unctuarium. Di sana, para pengunjung dapat memanjakan diri dengan pelbagai minyak esensial dan aromatik sebelum mereka pulang. Kecintaan bangsa Romawi terhadap parfum, itulah antara lain yang menghubungkannya dengan dunia Islam. Kelak ketika Perang Salib berlangsung, para pemeluk Kristen itu mendapati bahwa Muslimin pun memakai parfum dan bahkan mengembangkan dengan amat baik industri minyak wangi.

Read More

Shabana Mahmood, Wanita Muslim Pertama di Pengadilan Kerajaan Inggris

Jakarta — 1miliarsantri.net : Anggota Parlemen Inggris, Shabana Mahmood dilantik sebagai Lord Chancellor wanita Muslim pertama di Pengadilan Kerajaan Inggris. Secara hukum, Lord Chancellor adalah menteri luar negeri untuk urusan kehakiman dan menteri Kerajaan yang bertanggung jawab atas administrasi pengadilan dan bantuan hukum di Inggris dan Wales. Sambil mengucapkan sumpah dengan Al-Qur’an, Mahmood mengungkapkan rasa terima kasih dan komitmennya. Ia merefleksikan awal perjalanannya dari seorang gadis muda di Small Heath, Birmingham, yang bekerja di toko pojok milik orang tuanya hingga perannya saat ini. “Menjadi yang ‘pertama’ adalah sebuah keistimewaan sekaligus beban. Melakukan hal ini dengan benar dapat membuka pintu bagi generasi mendatang, menunjukkan bahwa hak kepemilikan tanah yang paling tua sekalipun dapat dijangkau oleh kita semua,” kata Mahmood, dikutip Dawn, Sabtu (20/7/2024). Memimpin upacara tersebut, Dame Sue Carr, Ketua Hakim perempuan pertama, menyoroti berbagai elemen bersejarah dalam acara tersebut. “Hari ini menandai ‘tiga kali pertama’: Lord Chancellor pertama yang mengambil sumpah berdasarkan Al-Quran, Lord Chancellor wanita pertama, dan pertama kalinya Ketua Mahkamah Agung wanita mengambil sumpah Lord Chancellor. Tonggak sejarah ini mewakili evolusi berkelanjutan dari konstitusi kita untuk mencerminkan masyarakat yang dilayaninya.” kata Dame Sue Carr. Mahmood dikenal publik karena advokasinya yang cerdas dan pengetahuannya yang mendalam tentang etika profesional. Ia juga tercatat sebagai Lord Chancellor pertama yang bisa berbicara bahasa Urdu. Dalam upacara pelantikan tersebut, Mahmood berjanji akan terus membela supremasi hukum internasional dan menegakkan hak asasi manusia.

Read More