Sejarah Gresik dari dulu Hingga Kini

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kabupaten Gresik, merupakan kota yang terletak di pesisir utara Jawa Timur, memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Perannya sebagai pusat perdagangan maritim sejak abad ke-11 menjadikan Gresik salah satu kota tertua di Jawa dengan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan Islam di Nusantara. Gresik pada Masa Lalu: Pusat Perdagangan Maritim Pelabuhan Internasional: Sejak abad ke-11, Gresik telah menjadi pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai negara seperti Cina, Arab, India, dan Persia. Letaknya yang strategis di muara Bengawan Solo membuatnya menjadi titik pertemuan jalur perdagangan yang menghubungkan Jawa dengan wilayah lain di Nusantara bahkan hingga ke luar negeri. Komoditas Perdagangan: Komoditas yang diperdagangkan di Gresik sangat beragam, mulai dari rempah-rempah, hasil pertanian, hingga barang-barang mewah. Kemakmuran Gresik sebagai kota perdagangan menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat perekonomian di Jawa.Peran Gresik dalam Penyebaran Islam. Kedatangan Maulana Malik Ibrahim: Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Gresik adalah kedatangan Maulana Malik Ibrahim, seorang ulama besar yang berasal dari Persia. Beliau dianggap sebagai salah satu Wali Songo yang berperan besar dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Pusat Penyebaran Islam: Dengan kedatangan Maulana Malik Ibrahim, Gresik menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa. Beliau mendirikan pesantren dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Kerajaan Giri Kedaton: Setelah wafatnya Maulana Malik Ibrahim, muridnya, Sunan Giri, mendirikan Kerajaan Giri Kedaton. Kerajaan ini menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Timur dan memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan budaya dan peradaban di Nusantara. Gresik pada Masa Kolonial

Read More

Seni Lebon di Desa Wisata Selasari Pangandaran

Pangandaran — 1miliarsantri.net : Desa Wisata Selasari merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Desa Selasari menurut data sekunder dari RPJMDes telah ada sejak jaman penjajahan Jepang. Daerah yang berada pada ketinggian 200-500 mdpl ini memiliki luas wilayah lebih kurang 2.292.500 hektare (ha). Desa Wisata Selasari menawarkan wisata menjelajah desa dan sungai yang menyenangkan, seperti body rafting dan river tubing. Selain itu ada pula wisata alam seperti Bukit Pepedan Hills dan Goa Sutrareregan. Selain menawarkan wisata menjelajah sungan dan wisata alam, Desa Wisata Selasari juga menawarkan wisata seni dan budaya, yaitu Kesenian Lebon. Lebon atau yang saat ini dikenal dengan Kesenian Lebon mulai ada pada abad ke-17, yaitu sekitar tahun 1951-1952 dan mulai berkembang di Pangandaran sekitar tahun 1950-an. Lebon yang memiliki arti kubur/dikubur, pada zaman dahulu merupakan satu adat atau tradisi yang sering digunakan untuk menyelesaikan suaru permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan jalan kekeluargaan atau musyawarah, seperti permasalahan sengketa lahan atau sengketa wilayah. Permasalahan-permasalahan tersebut akan diselesaikan dengan cara pertarungan antara jawara dari tiap wilayah tersebut sampai mati. Adapun tempat dan waktu pertandingan akan dirundingan terlebih dahulu antar kedua utusan bobotoh dari tiap wilayah tersebut dengan dipimpin oleh sesepuh atau pimpinan daerah setempat. Sebelum memulai pertandingan biasanya setiap kubu akan melakukan ritual pemberangkatan dengan membakar kemenyan. Selain itu juga menyiapkan sesaji dan do’a bersama untuk keselamatan para jawara dan bobotoh yang akan yang akan ikut ke tempat pertandingan. Selain itu, para jawara juga akan diberikan doa khusus dengan jampi-jampi dan sebagainya untuk keselamatan mereka. Dalam pertandingan Lebon, jawara yang kalah dalam pertandingan akan langsung dikuburkan di tempat pertandingan oleh bobotohnya. Maka dari itu, setiap pertandingan Lebon, para bobotoh akan membawa peralatan untuk menguburkan jawaranya jikalau gugur dalam pertandingan. Peralatan yang dibawa antara lain: kain kafan, pacul, dan sekop. Selain peralatan untuk mengubur jawaranya yang gugur, para bbotoh juga membawa bunyi-bunyian untuk memberi semangat kepada jawaranya yang sedang bertanding.

Read More

Daftar 10 Kota Terbengkalai dengan Arsitektur Sangat Indah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Hampir di seluruh dunia, kota-kota yang ramai dan kota-kota metropolitan yang semarak telah ditinggalkan begitu saja, beberapa di antaranya tampak sepi dalam semalam. Kota-kota terbengkalai ini, yang dulunya merupakan komunitas yang semarak, kini menawarkan sekilas masa lalu—dan situs-situs bersejarah seperti itu merupakan surga bagi fotografer sekaligus pengalaman yang menghantui bagi wisatawan potensial. Baik terletak di hutan lebat atau gurun tandus, kota-kota ini menanggung bekas luka waktu, memamerkan kecerdikan manusia sambil mengingatkan kita tentang keniscayaan pembusukan. Namun, dalam keadaan rusaknya, tempat-tempat ini memiliki kekuatan untuk memikat dan meresahkan kita secara setara. Di bawah ini, kami menjelajahi 10 kota terbengkalai paling menakjubkan di seluruh dunia, masing-masing menceritakan kisah indahnya yang menghantui. Kota Tua Al-‘Ula, Madinah, Arab Saudi Terletak di padang pasir yang disinari matahari di barat laut Arab Saudi, Kota Tua Al-‘Ula yang penuh teka-teki dicirikan oleh gang-gangnya yang berliku dan rumah-rumah bata lumpur kuno. Kota yang dulunya ramai ini, perhentian penting di Rute Dupa lebih dari 2.000 tahun yang lalu, berkembang sebagai surga bagi para pedagang dan peziarah. Itu terjadi, sampai modernisasi yang diantar pada tahun 80-an memikat penduduk kota itu. Tertarik ke rumah-rumah baru dengan fasilitas yang lebih baik, mereka meninggalkan kota yang membeku dalam waktu, rumah-rumahnya yang kosong dan jalan-jalan sempit menjadi pengingat komunitas yang dulu ramai. Saat ini, berbagai upaya sedang dilakukan untuk mengubah permata bersejarah ini menjadi tujuan wisata, termasuk mengubah 30 rumah bata lumpur menjadi Dar Tantora The House Hotel yang baru. Al Jazira Al Hamra, Ras Al Khaimah, UAE Hanya 90 menit di utara Dubai, di emirat Ras Al Khaimah, terdapat Al Jazira Al Hamra, kota hantu yang berakar dari awal abad ke-14. Dulunya merupakan desa nelayan dan perdagangan mutiara yang berkembang pesat, tempat ini sekarang dibatasi oleh rumah-rumah dari batu karang dan bata lumpur yang runtuh, masjid-masjid yang sunyi, dan pasar-pasar yang terbengkalai. Lukisan ini menggambarkan kehidupan yang jelas sebelum ledakan minyak, yang menyebabkan penduduk desa meninggalkan kota pada tahun 1960-an, meninggalkan potret kehidupan tradisional Emirat yang terpelihara dengan sempurna. Villa Epecuén, Imereti, Argentina Pada tahun 1985, Villa Epecuén lenyap di bawah air danau yang meluap di wilayah Imereti, Argentina. Kota resor tepi danau yang dulunya berkembang pesat itu langsung tenggelam di bawah air sedalam 33 kaki. Selama lebih dari dua dekade, jalan-jalan dan bangunannya terpelihara dalam keheningan bawah air, baru muncul dari kegelapan pada awal tahun 2000-an, ketika air di sekitarnya mulai surut. Kini, kota itu berdiri sebagai bukti nyata dari interaksi antara ambisi manusia dan kekuatan alam yang tak kenal lelah. Tskaltubo, Georgia Terkenal karena mata air mineralnya yang menyembuhkan dan sanatorium mewah era Soviet, Tskaltubo kini terletak dengan tenang di tengah lanskap Georgia yang hijau. Kota ini pernah menarik pengunjung yang mencari kesehatan dan kesenangan, aula-aulanya yang mewah menjadi bukti status kota ini sebagai tujuan resor kesehatan utama. Namun, runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an mengakhiri masa keemasan Tskaltubo secara tiba-tiba. Dengan pergolakan ekonomi datanglah pengabaian, dan sanatorium serta pemandian yang dulunya glamor menjadi rusak. Saat ini, arsitektur megah Tskaltubo berdiri sebagai bukti kejayaannya yang memudar—lengkungan yang menyapu, motif dekoratif, dan mural yang memudar semuanya mengingatkan pada keindahannya yang dulu menyentuh hati. Al-Madam, Sharjah, UEA Di lanskap gurun Sharjah terdapat Al-Madam, sebuah kenangan yang menghantui tentang komunitas gurun yang pernah berkembang pesat. Didirikan pada tahun 1970-an, Al-Madam dirancang sebagai upaya modernisasi pemerintah yang bertujuan untuk membentuk kembali lanskap selama penyatuan tujuh emirat. Dengan 12 rumah sederhana dan sebuah masjid di pusatnya, desa ini dulunya merupakan pusat kehidupan dan perdagangan Badui. Desa ini akhirnya ditelan pasir setelah ditinggalkan pada tahun 1990-an, meninggalkan sekumpulan rumah, toko, dan masjid yang setengah terkubur, yang dibuat dari lumpur dan batu bata—sebuah bukti arsitektur tradisional Emirat. Tianducheng, Shanghai, Tiongkok Tianducheng mungkin menyerupai Paris, tetapi jalanannya yang menyeramkan menceritakan kisah yang berbeda. Dibangun pada awal tahun 2000-an dengan rencana ambisius untuk meniru keanggunan dan pesona kota Prancis, kota replika ini kini membeku dalam waktu dan kosong. Jalan-jalan lebar dan bangunan-bangunan berwarna pastelnya tampak terbengkalai karena perhatian dan sumber daya dialihkan dari Tianducheng. Apa yang dimaksudkan sebagai pusat kehidupan perumahan dan komersial yang ramai kini telah direklamasi dengan lembut oleh alam, termasuk replika Menara Eiffel yang diperkecil.

Read More

Benarkah Indonesia tidak Dijajah Belanda 350 Tahun

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Fakta Indonesia tidak dijajah 350 tahun oleh Belanda terus digaungkan. Klaim bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun disebut datang dari pihak Belanda. Benarkah? Jadi Indonesia dijajah berapa tahun? Memakai logika ini, berarti Indonesia hanya dijajah lima tahun. Lho? Lalu, apa kata Bung Karno yang sudah ditangkap Belanda pada 1929? Bangsa Indonesia baru ada pada 17 Agustus 1945, lalu Belanda datang menumpang NICA hingga 1950. Jadi cuma pada masa itu Indonesia dijajah Belanda? Nanti dulu. Ada pula yang menyebut bangsa Indonesia sudah ada sejak 28 Oktober 1928 lewat Sumpah Pemuda. Bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia. Jadi, Indonesia baru dijajah Belanda sejak 1928. Benarkah? Lalu, kehadiran orang-orang Belanda sejak Kompeni menaklukkan Jayakarta pada Mei 1619 tidak disebut menjajah? Pihak-pihak yang menolak klaim Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun menyebut Kompeni datang bukan untuk menjajah, melainkan untuk berdagang. Wah sederhana sekali pemahamannya mengenai konsep penjajahan. KBBI yang memakai definisi sederhana menyebut, menjajah adalah menguasai dan memerintah suatu negeri (daerah dan sebagainya). Sedangkan kolonialisme, menuru KBBI: paham tentang penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara itu. Jadi, benarkah, Kompeni hanya datang untuk berdagang? Kompeni (VOC) adalah perusahaan yang dibentuk dari enam perusahaan dagang di Belanda untuk menghilangkan persaingan yang ada di antara berbagai perusahaan. Pembentukan Kompeni difasilitasi oleh pengacara pemerintah. Kerajaan Belanda kemudian memberikan hak oktroi kepada Kompeni. Kerajaan melimpahkan kewenangannya kepada Kompeni. Maka, Kompeni bisa wewenang membentuk armada militer dan memerintah di negeri sasaran. Maka, di Indonesia Kompeni membentuk pemerintahan dan memiliki armada militer.

Read More

Sejarah dan Mitos bulan Shafar

Jakarta — 1miliarsantri.net : Safar merupakan bulan kedua dalam sistem penanggalan Hijriyah. Bulan ini memiliki sejarah yang cukup unik, sebab turut dibumbui mitos yang ada. Pembahasan tentang sejarah Safar tidak lepas dari mitos yang berkembang pada periode masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Lalu bagaimanakah sejarah Safar? Mengutip penjelasan dari Ibnu Mandzur dalam Lisanul ‘Arab, kata Safar memiliki dua arti yaitu bisa berarti kosong (Shafar) atau dapat juga berarti warna kuning (Shufrah). Adapun sebab penamaan Safar berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang meninggalkan rumah atau kediaman mereka (sehingga kosong) untuk berperang atau bepergian jauh. Pendapat tersebut diceritakan dalam al-Mufasshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam bahwa orang-orang yang ditinggal bepergian ini mengeluh sambil berkata, “Shafira an-Nasu minna shafaran (Orang-orang mengosongkon kota (meninggalkan) kita sebab kita miskin (kosong/tidak memiliki harta).” (Juz 6, h. 120) Dalam sejarahnya, masyarakat Arab Jahiliyah menganggap Safar sebagai bulan kesialan. Hal tersebut tidak lepas dari keyakinan mereka bahwa Safar adalah salah satu jenis penyakit yang bersarang di dalam perut. Tak hanya sampai di situ, mengutip penjelasan dalam buku Mengenal Nama Bulan dan Kalender Hijriah, masyarakat Arab Jahiliyah meyakini Safar sebagai bulan yang penuh kejelekan. Sebagian masyarakat berpendapat, Safar adalah jenis angin berawak panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit. Keyakinan terhadap hal-hal tersebut dibantahkan manakala Islam datang. Rasulullah SAW bersabda: عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا غُولَ وَلَا صَفَرَ Artinya: “dari Jabir Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya.” (HR Muslim, no 4120)

Read More

Sejarah Penemuan Candi Borobudur

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Candi Borobudur, salah satu mahakarya arsitektur kuno, dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar abad ke-8 hingga abad ke-9 Masehi di bawah pemerintahan Raja Samaratungga. Candi ini terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, dan dikenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia. Borobudur dibangun sebagai tempat ibadah dan ziarah umat Buddha, dengan desain yang melambangkan alam semesta dalam ajaran Buddha Mahayana. Struktur candi Borobudur terdiri dari sepuluh tingkat, yang menggambarkan perjalanan manusia dari dunia fana menuju nirwana, yang diwakili oleh stupa terbesar di puncak candi. Selama berabad-abad, Borobudur mengalami masa kejayaan dan kemunduran, sebelum akhirnya terlupakan dan tersembunyi oleh hutan lebat serta tertimbun abu vulkanik. KRONOLOGI PENEMUAN KEMBALI CANDI BOROBUDUR

Read More

Semangat Perjuangan Arek Suroboyo

Surabaya — 1miliarsantri.net : Pada 19 September 1945, terjadi insiden Hotel Yamato atau yang dikenal waktu itu dengan Orange Hotel Surabaya (kini berganti nama menjadi Hotel Majapahit), dimana penduduk kota, utamanya para pemuda, berdatangan ke penginapan tersebut lantaran melihat bendera kebangsaan Belanda berkibar di pucuk bangunan hotel tersebut. Inilah tandanya tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) sama sekali tidak menghormati fakta historis Proklamasi RI 17 Agustus 1945. Keributan tak terhindarkan. Seorang kader Pemuda Anshor, Cak Asy’ari, berupaya mencapai ketinggian Hotel Yamato. Lantas, dia berhasil mencapai Tri Warna dan merobek bagian berwarna biru dari kain bendera itu. Merah-Putih kembali berkibar. Sepanjang September 1945, situasi di Surabaya betul-betul di atas ambang emosi. Laskar rakyat Indonesia terus berupaya mengambil alih persenjataan dari gudang-gudang yang dahulunya milik tentara Jepang. Di antara pergerakan bersenjata itu adalah Barisan Hizbullah dan Sabilillah yang terus melakukan konsolidasi untuk mempersiapkan strategi terbaik. Sebagai informasi, keduanya dibentuk atas prakarsa KH Abdul Wahid Hasyim kala Jepang masih bercokol di Indonesia. Baik Hizbullah maupun Sabilillah merupakan wadah perjuangan fisik umat Islam, khususnya kaum santri, di zaman mempertahankan kemerdekaan. Situasi kian memanas. Sejak 15 Oktober 1945, pecah pertempuran lima hari di Semarang, Jawa Tengah, antara sisa pasukan Jepang dan laskar rakyat setempat. Beberapa hari kemudian, PBNU menggelar rapat konsolidasi se-Jawa dan Madura di Surabaya. Hasilnya mengukuhkan Resolusi Jihad, yang merupakan penguatan atas fatwa yang pada 17 September 1945 telah dikeluarkan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Memasuki November, situasi semakin mendekati perang besar. Inilah pertaruhan eksistensi Republik Indonesia, yang memproklamasikan kemerdekaannya bukan lantaran hadiah penjajah, melainkan perjuangan mati-matian dengan darah dan air mata para pahlawan. Pada 7-8 November 1945, Resolusi Jihad yang digaungkan pertama kali oleh KH Hasyim Asy’ari dikukuhkan dalam konteks yang lebih luas, yakni Kongres Umat Islam (KUI) di Yogyakarta. Ini juga sebagai respons atas ultimatum Sekutu. Sehari sebelum pecah pertempuran akbar di Surabaya, KH Hasyim Asy’ari selaku komando tertinggi Hizbullah memerintahkan segenap kekuatan bersenjata dari kalangan santri untuk memasuki Surabaya. Perintahnya jelas: tidak akan menyerah dalam mempertahankan kemerderkaan RI.

Read More

Rencana Bangun Bioskop Dekat Kakbah Picu Kontroversi

Riyadh — 1miliarsantri.net : Arab Saudi berencana membangun bioskop di Mekkah. Namun, rencana tersebut menuai kontroversi karena tempat hiburan baru itu terletak di dekat Kakbah di Masjidil Haram. Sebuah video yang ramai beredar memperlihatkan seorang insinyur Saudi mendiskusikan pembangunan proyek hiburan besar itu di Mekkah memicu perdebatan di media sosial. Bioskop tersebut merupakan komponen kunci dari “Smart Mecca”, yang menurut informasi publik bertujuan untuk mengintegrasikan fasilitas hiburan modern ke dalam kota dengan tetap memperhatikan makna keagamaannya. Proyek ini dikembangkan oleh anak perusahaan Public Investment Fund (PIF), yaitu Saudi Entertainment Ventures (Seven). Perusahaan ini menjadi garda terdepan dalam upaya ekspansi hiburan di Arab Saudi. Proyek Mekkah ini adalah salah satu dari beberapa pengembangan hiburan yang dilakukan Seven di seluruh Kerajaan. Perusahaan berencana untuk berinvestasi sebesar 50 miliar riyal Saudi atau setara Rp210 triliun di 21 destinasi hiburan terintegrasi di 14 kota. Sebelumnya pada tahun 2023, Seven mendapatkan kontrak senilai 2,5 miliar dollar AS untuk berbagai proyek hiburan di seluruh Kerajaan Arab Sudi. Proyek bioskop Mekkah, senilai 347 juta dollar AS, sedang dibangun oleh perusahaan lokal Modern Building Leaders (MBL). Bioskop ini berlokasi di distrik Al Abidiyah dekat Universitas Ummul Qura di luar kompleks Masjid Ka’bah, proyek ini mencakup area seluas 80.000 meter persegi. Pembangunan bioskop di Arab Saudi menandai perubahan budaya yang signifikan. Selama 40 tahun, bioskop dilarang di Kerajaan, yang mencerminkan norma-norma sosial konservatif yang berlaku di negara tersebut.

Read More

Mengenang WR Soepratman, Sang Pahlawan dengan Biola

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam setiap perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, lagu “Indonesia Raya” pasti berkumandang. Inilah karya dari seorang pejuang bangsa, Wage Rudolf Soepratman atau yang biasa dikenal dengan sebutan WR Soepratman. Ia lahir pada 19 Maret 1903 di Jatinegara, Jakarta. Pada tahun 1914, WR Soepratman diasuh oleh kakak iparnya yang bernama WM van Eldik alias Sastromihardjo, di Mataram. Di sana, ia belajar memetik gitar dan menggesek biola. Pada 1919, WR Soepratman diangkat menjadi guru. Dalam masa itu, ia juga mendirikan grup band jazz, Black and White, di Makasar. Untuk itu, ia berada di bawah bimbingan sang kakak ipar. Setelah tahun 1924, WR Soepratman hijrah ke Surabaya (Jawa Timur) dan Bandung (Jawa Barat). Di sana, dirinya mulai terjun ke dunia jurnalistik, yakni sebagai wartawan Surat Kabar Kaoem Moeda. Saat bekerja untuk koran Sin Po, WR Soepratman rajin mengunjungi rapat-rapat pergerakan kebangsaan Indonesia di gedung Pertemuan Gang Kenari, Jakarta. Dari sanalah, ia mulai tergugah untuk menggubah lagu “Indonesia Raya” pada 1928. Semula, WR Soepratman menciptakan lagu tersebut dengan judul “Indones, Indones, Merdeka, Merdeka.” Saat karyanya mulai beredar, alhasil dirinya dikejar-kejar polisi intel Hindia Belanda. Kongres Pemuda II di Jakarta berlangsung pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Hasilnya adalah teks dan ikrar Sumpah Pemuda. Yang istimewa bagi WR Soepratman, karyanya itu diakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Dalam kongres itu pula, dinyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan iringan gesekan biola WR Soepratman sendiri. Sebuah momen yang tak akan dilupakannya. Rezim kolonial merepresi kaum pergerakan. “Indonesia Raya” pun dilarang. Keadaan berubah sejak pasukan Jepang datang dan mengusir Belanda dari Nusantara. Sejak 1944, lagu itu kembali boleh dinyanyikan.

Read More

Bung Karno yang Memilih Proklamasi Tanggal 17 Agustus 1945

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bukan hanya peristiwa Pembebasan Makkah (Fath Makkah) yang terjadi pada bulan Ramadhan, tepatnya di kedelapan Hijriyah. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pun berlangsung pada bulan puasa. Momen yang amat bersejarah itu terjadi pada 17 Agustus 1945 M atau bertepatan dengan hari Jumat, pukul 10.00 WIB pada 9 Ramadhan 1364 H. Naskah teks proklamasi dituliskan oleh tangan Sukarno, dengan beberapa perbaikan kalimat atas usulan sejumlah tokoh lainnya, termasuk Ahmad Subardjo. Kemudian, hasil tulisan tangan itu diketik oleh Sayuti Melik. Setelah jadi, hasilnya ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta, keduanya atas nama bangsa Indonesia. Semua momen krusial ini dilakukan pada waktu jam makan sahur di bulan Ramadhan 1364 H. Mohammad Hatta menuturkan situasi malam itu di rumah Laksamada Tadashi Maeda, seorang Jepang yang bersimpati pada pergerakan nasionalisme Indonesia. Sang laksamana mempersilakan kediamannya dipakai oleh para tokoh Indonesia untuk mereka merumuskan teks Proklamasi RI. Beberapa jam sebelum Proklamasi Kemerdekaan, kondisi Bung Karno dan Bung Hatta sesungguhnya dalam keadaan lelah. Mereka baru tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00 WIB. Sebelumnya, kedua bapak bangsa ini berada di Rengasdengklok, akibat diculik sejumlah pemuda yang memaksa mereka untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, yakni sebelum 17 Agustus 1945. Sebab, anak-anak muda ini- yang menurut Bung Karno dalam pengaruh Sutan Sjahrir, mengetahui bahwa Jepang telah menyerah terhadap Sekutu di Perang Dunia II. Para pemuda ini menganggap, jangan sampai Indonesia diserahkan lagi ke Belanda, sebagai salah satu negara Sekutu, dan akhirny kembali dijajah. Cerita bermula ketika Bung Karno- beserta anak dan istri dan juga Bung Hatta “diculik” ke Rengasdengklok oleh para pemuda revolusioner. Mereka berniat ingin menjauhkan Dwitunggal dari pengaruh Jepang. Jepang sudah kalah di PD II. Tidak ada gunanya lagi mengandalkan Nippon untuk mewujudkan Indonesia Merdeka. Demikian pemikiran mereka. Seperti diceritakan dalam buku autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang disusun Cindy Adams, Sukarno lalu “diintimidasi” oleh para pemuda. Mereka mendesak sang bung besar, demikian sebutan dari mereka agar mengumumkan proklamasi RI sekarang juga: pada 16 Agustus 1945. Tentu saja, Bung Karno tidak bisa diintimidasi. Seorang pemuda, Wikana, sempat menyampaikan kata-kata yang menyinggung perasaan Bung Karno karena dirinya dianggap pengecut. Langsung saja suami Fatmawati itu naik pitam. “Mereka langsung diam, dan keheningan mencekam. Tak seorang pun tahu apa yang harus dilakukan. Tak ada yang bergerak. Mereka takut. Malu, Marah. Kecewa. Aku mengangkat kepala dan, dengan sengaja, aku menatap mereka. Aku menatap langsung ke wajah mereka sehingga mereka satu demi satu menjatuhkan pandangan mereka,” kata Sukarno menuturkan kejadian malam 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok itu, dalam buku autobiografi yang disusun Adams (hlm 253). “Aku duduk lagi. Butir-butir keringat menggantung di bibir atasku. Tak ada lagi yang menyebut Sukarno pengecut. Aku menangkap mata Farmawati di bagian lain dari kusen pintu. Mukanya kelihatan murung dan tegang. Ia menyaksikan semua kejadian itu dengan sungguh-sungguh,” sambung Bung Karno. Memecah keheningan, Sukarno lalu menyampaikan kepada mereka. Sewaktu para jenderal Nippon mengundang para tokoh bangsa Indonesia–termasuk dirinya ke Saigon pada 10 Agustus 1945. Ketika itulah, Bung Karno merenungi momen tepat untuk Proklamasi Indonesia Merdeka.

Read More