RMI-NU DKI Usulkan Pesantren Kaji Lingkungan Hidup

Lamongan – 1miliarsantri.net : Ratusan ulama dan kiai dari berbagai penjuru daerah Indonesia menghadiri Halaqah Ulama Nasional yang digelar di Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Kamis siang (13/07/2023). Di dalam acara halaqah ini, Ketua RMI-NU DKI Jakarta, KH Rakhmad Zailani Kiki mengusulkan agar pesantren mengkaji persoalan lingkungan hidup (hifdz al-bi`ah) yang ada di kitab kuning atau karya ulama terdahulu. “Alhamdulillah, usulan PW RMI-NU DKI Jakarta tersebut diterima di sidang pleno. Karena memang, saat ini, umat manusia di dunia sedang menghadapi persoalan serius dari kerusakan lingkungan yang telah menyebabkan bencana ekologis di mana-mana, di berbagai tempat, yang jika tidak ditangani dengan cepat dan baik bisa menjelma menjadi kiamat ekologis,” ujar Ustad Kiki, Jumat (14/07/2023). Ustad Kiki menambahkan, saat ini saja, Jakarta sudah mengalami kerusakan lingkungan yang parah. Pada 2030 diprediksi Jakarta akan tenggelam atau terendam air laut. Menurut Ustad Kakai, kondisi Jakarta itu tidak jauh berbeda dengan beberapa daerah di Indonesia. “Kondisi itu disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah yang berlebih, beban karena konstruksi infrastruktur, dan kondisi geologi serta pemanasan global yang berdampak pada mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut naik,” ucapnya Lebih lanjut, Ustad Kiki menjelaskan, pesantren harus peduli dengan persoalan lingkungan hidup dan turut menjadi motor penggerak dalam mengatasi persoalan lingkungan hidup di daerahnya. Salah satunya, yakni melalui pengajian dan pembelajaran kitab kuning dan karya ulama yang membahas pentingnya menjaga lingkungan hidup. Menurutnya, ada beberapa ulama yang mempunyai karya pemikiran tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup, salah satunya adalah ulama terkemuka asal Indonesia yang juga Rais Aam PBNU periode 1991-1992, Prof KH Ali Yafie.

Read More

Ciptakan Aplikasi Pembelajaran Huruf Hijaiyah Sebagai Tugas Akhir Mahasiswa ITS

Surabaya – 1miliarsantri.net : Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Program Studi (Prodi) Rekayasa Kecerdasan Artifisial (RKA) mengembangkan aplikasi Belajar Huruf Hijaiyah bersistem Artificial Intelligence (AI) dengan gawai. Aplikasi ini dikembangkan seiring perkembangan dunia industri komputasi yang makin kompetitif dengan makin berkembangnya implementasi teknologi berbasis AI pada kehidupan sehari-hari. Menurut Dosen Departemen Teknik Informatika ITS Dr Eng Nanik Suciati SKom MKom, pengembangan aplikasi ini bermula dari hasil tugas akhir (TA) mahasiswa bimbingannya yakni Irman Kurniawan. Hasil TA yang berjudul Aplikasi Belajar Huruf Hijaiyah menggunakan Pengenalan Tulisan Tangan Berbasis Convolutional Neural Network (CNN) pun menjadi penelitian dan pengembangan lebih lanjut di Prodi RKA ini. “TA ini dipilih karena cocok menggambarkan karya Prodi RKA,” ujar Nanik. Kepala Laboratorium Komputasi Cerdas dan Visi ITS ini melanjutkan, aplikasi tersebut cocok digunakan oleh semua umur. Hal ini didukung metode pembelajaran yang simpel dan mudah dipahami, sehingga anak dengan mudah mengenali huruf Arab sebelum mengaji. “Di dalam aplikasi pun terbilang lengkap dengan 30 huruf hijaiyah yang dapat dipelajari pengguna,” jelasnya.

Read More

Gus Najih : NII Harus Dimasukkan Dalam Daftar Terduga Teroris

Jakarta – 1miliarsantri.net : Wakil Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Najih Arromadloni, menyebut Negara Islam Indonesia harus dimasukkan Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT) agar bisa dijangkau oleh hukum yang berlaku saat ini. Gus Najih dalam keterangan tertulis diterima media di Jakarta, Rabu (12/07/2023), mengatakan, NII merupakan induk organisasi teror di Indonesia dan semua kelompok teror yang ada di Indonesia saat ini adalah turunan NII. “Genealogisnya pasti bisa dilacak sampai ke NII. Dulu ketika ada Undang-Undang (UU) Subversif, mungkin bisa ditindak dengan itu. Sekarang kan sudah tidak ada; yang ada adalah UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Penanggulangan Terorisme. Oleh karena itu, supaya NII ini bisa dijangkau dengan undang-undang yang baru, NII harus dimasukkan DTTOT,” terangnya. Menurut Gus Najih, aparat keamanan di Indonesia sudah memiliki data sebaran jaringan NII, tetapi tidak ada payung hukum untuk menindaklanjuti hal itu. Dia mengatakan kewenangan aparat keamanan adalah melaksanakan produk hukum, sementara perancangan dan pembuatan hukum berada di ranah eksekutif dan yudikatif. “Di wilayah eksekutif dan yudikatif inilah yang seharusnya proaktif untuk memberikan payung hukum supaya aparat bisa bekerja dengan efektif,” lanjutnya. Eksistensi NII dapat ditelisik hingga zaman orde lama. Ketika itu, pemerintah Indonesia yang dipimpin Presiden Sukarno pernah beberapa kali menghadapi gerakan pemberontakan dari mereka yang melihat ada celah untuk bergerak saat Indonesia masih membangun stabilitas nasional.

Read More

Pertemuan LGBT Dibatalkan, Semua Berharap Tidak Ada Kelanjutan Lagi

Jakarta – 1miliarsantri.net : Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Ustadzah Syifa Fauzia menyebut rencana pertemuan aktivis LGBT se-ASEAN di Indonesia mengkhawatirkan. Dia pun berharap pemerintah Indonesia bisa terus mencegah dan menanggulangi munculnya kampanye LGBT ini. “Saya mendapat informasi dari berbagai pihak, katanya pertemuan ini sudah dibubarkan. Mungkin mereka mencari tempat lain selain di Indonesia. Mudah-mudahan ini memang betul dan tidak akan dilakukan di kota manapun di Indonesia,” jelasnya kepada media, Rabu (12/0/2023) Ustadzah Syifa menilai, kegiatan tersebut merupakan upaya untuk mengungkapkan eksistensi kelompok LGBT di Indonesia. Hal ini menjadi kekhawatiran dan ketakutan bangsa, mengingat betapa massifnya gerakan mereka saat ini. Kelompok LGBT disebut memiliki keinginan untuk tampil atau eksis, diakui, bahkan disahkan di Indonesia. Beragam kampanye dilakukan, yang mana mengkhawatirkan bagi generasi Tanah Air. “Mudah-mudahan dengan dibatalkannya acara ini, tidak ada acara serupa atau acara tandingan yang dibuat sehingga kampanye-kampanye LGBT yang lebih massif ini tidak hadir di Indonesia,” sambungnya. Kegiatan berkumpulnya kelompok pelangi tersebut juga disampaikan sebagai hal yang mengancam dan berbahaya, bagi generasi muda dan anak-anak Indonesia. Dari sisi orang tua dan lingkup agama, sosial dan budaya, hal ini merupakan tantangan karena tidak dikehendaki dan dilarang oleh agama. Dia menyebut, tidak ada pihak yang ingin budaya Indonesia terkontaminasi oleh aktivitas serupa. Karena itu, setiap pihak harus bersiap untuk mengatasinya di tahun-tahun ke depan. Ke depannya, aktivitas kelompok LGBT dinilai akan semakin beragam. Tidak akan ada yang bisa menebak tindakan atau terobosan yang akan mereka lakukan, untuk masuk dalam lingkup negara dan budaya Indonesia. “Kita harus bisa mencegah hal ini bagaimana pun caranya, semaksimal yang kita bisa. Untuk pemerintah, semoga bisa terus mencegah munculnya paham dan kampanye yang diisi LGBT ini,” kata Ustazah Syifa.

Read More

PP Muslimat Al Washliyah Tegas Menolak Pertemuan LGBT Karena Merusak Esensi Kemanusiaan

Jakarta – 1miliarsantri.net : Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Al Washliyah menyatakan diri menolak kegiatan pertemuan aktivis LGBT se-ASEAN di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum PP Muslimat Al Washliyah, Nurliati Ahmad. Pihak menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat agar menolak kegiatan yang diberi nama ASEAN QUEER ADVOCACY WEEK ini dan rencananya digelar di Jakarta 17 hingga 21 Juli nanti. “ASEAN QUEER ADVOCACY WEEK adalah tindakan yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, hati dan nurani manusia, merusak hakikat dan esensi kemanusiaan. Tidak ada satupun alasan atas dasar nilai kemanusiaan, akal sehat dan hati nurani yang dapat membenarkan upaya memperjuangkan kepentingan LGBT,” terang Nurliati Ahmad, dalam keterangan tertulis yang dilkirim ke media, Rabu (12/07/2023). Indonesia disebut sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh dalam menjalankan aturan perundang-undangan, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Sementara, kegiatan propaganda LGBT disebut dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta berpotensi memicu konflik sosial, karena pengabaian terhadap nilai-nilai yang hidup di masyarakat Indonesia. Indonesia juga disebut sebagai negara yang menyakini bahwa agama berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu, Negara harus mengaskan bahwa tidak ada tempat bagi propaganda LGBT di negara Indonesia. Sebagaimana hasil riset PEW, lanjutnya, yang menyatakan penerimaan homoseksualitas hanya tersebar luas di negara-negara di mana agama dianggap kurang penting dalam kehidupan (kecuali Rusia).

Read More

MUI Tegas Tolak Acara LGBT Se Asia di Jakarta

Jakarta – 1miliarsantri.net : Ketua MUI KH Cholil Nafis, secara tegas menolak rencana pertemuan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) se-ASEAN dengan nama ASEAN Queer Advocacy Week (AAW), akan dilangsungkan di Jakarta pada 17-21 Juli 2023. Dia menilai LGBT merupakan penyimpangan dan tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Indonesia. “Astaghfirullah. Ini sudah menyimpang terus masih mengampanyekan lagi. Saya selamanya menolak penyimpangan ini, khususnya di Indonesia. Jangan sampai dianggap normal apalagi dilegalkan. Ini bertentangan dengan norma agama, Pancasila dan kenormalan manusia. Tolak!,” tegas Kyai Cholil kepada media di Kantor MUI, Selasa (11/7/2023). Menurut Kyai Cholil, LGBT selamanya tidak bisa dibenarkan karena tidak sesuai dengan fitrah manusia. Maka itu, dia mengajak semua elemen masyarakat Indonesia untuk menolak acara tersebut.

Read More

KH Cholil Nafis Merasa Kecolongan Dengan Beredarnya NII

Jakarta – 1miliarsantri.net : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis tercengang benar-benar kaget karena ternyata masih banyak pengikut NII (Negara Islam Indonesia). Hal itu diketahui saat dirinya mendengar pengakuan Kepala Bakesbangpol Kabupaten Garut, sekaligus selesai menyampaikan keynote speaker dengan tema “Pancasila dan Islam Memupuk Nasionalisme” di Pendopo Kabupaten Garut, Jawa Barat, Ahad (09/07/2023) Menurut sambutan Kepala Kesbangpol Kabupaten Garut, realitanya masih ada aparatur yang menjadi pengikut NII. Ketua Umum MUI Kab. Garut juga menyampaikan kecolongan karena ada pengurus MUI dari NII yang sekarang sudah dikeluarkan. Demikian juga cerita Kepala Kantor Kemenag Kab. Garut yang masih ada penyuluh agama terpapar NII. “Jadi kesimpulannya, paham NII masih eksis dan nyata. Sejarahnya, Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia DI/TII itu meluas di seluruh Indonesia yang melawan negara yang sah. Dan melakukan perlawanan secara meliter. Mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi dan Aceh selama tahun 1948 sampai tahun 1962. Ternyata setelah organisasinya dibubarkan, pahamnya masih terus ada,” ujarnya.

Read More

Mantan Aktivis NII Beberkan Semua Bentuk Penyimpangan Al Zaytun

Jakarta – 1miliarsantri.net : Peneliti Ma’had Al Zaytun Indramayu Jawa Barat yang juga mantan aktivis Negara Islam Indonesia (NII), Sukanto membeberkan pemahaman dan praktik rukun Islam yang berbeda di kalangan NII. Menurut Sukanto, di NII itu ada dua sholat, yaitu sholat lima waktu dan sholat aqimuddin. Ketika jamaah NII sedangkan melaksanakan sholat aqimuddin, kata dia, maka diperbolehkan untuk meninggalkan sholat lima waktu. “Jadi sholatnya dibagi dua, ada sholat ritual yang lima waktu, ada sholat aqimuddin dalam rangka menegakkan negara. Sholat lima waktu itu bisa ditinggalkan ketika sholat aqimuddin dilakukan,” kata Sukanto. Dia menuturkan, salah satu contoh sholat aqimuddin adalah menjalankan program negara, seperti perekrutan jamaah dan pendanaan. “Jadi setiap jamaah dalam proses mencari dana atau dalam proses mencari jamaah baru, sholat lima itu itu boleh ditinggalkan. Karena seyogianya yang dia lakukan dalam konteks berprogram di NII tadi, yakni membaiat orang, itulah sholat aqimuddin. Itulah mengapa di NII jadi tidak sholat. Karena yang mereka lakukan dalam rangka bernegara, itu lah sholat sebenarnya,” terang Sukamto. Dia mengatakan, Pimpinan Ma’had Al Zaytun, Panji Gumilang sendiri juga pernah memecat seorang guru lantaran melakukan sholat pada saat sedang rapat. Karena itu, tak heran jika Al Zaytun selalu dikaitkan dengan NII. “Di Al Zaytun, Panji Gumilang pernah memecat guru karena sholat, karena dia sedang rapat sama Panji Gumilang. Jadi setelah istirahat dia sholat. Setelah balik lagi masuk forum rapat, dipecat langsung. Orang kita lagi sholat kok kamu sholat lagi (kata Panji). Itu pengakuan dari guru yang saya dengar,” ujar Sukanto. Sedangkan saat bergabung dengan NII, Sukanto menyaksikan sendiri bahwa warga NII memang tidak melaksanakan sholat. Hal ini karena, mereka menganggap dirinya sedang menjalankan tugas negara. Kedua, mereka juga berkeyakinan bahwa kondisi Makkah belum mewajibkan umat untuk sholat. “Republik Indonesia adalah Makkahnya, maka kondisi di Makkah itu belum wajib sholat. Jadi gerakan NIII itu karena doktrinnya sedang perang, dan kondisinya kondisi Makkiyah, jadi belum wajib sholat. Kalau ada shoalt ritual ya itu pura-pura saja,” kata Sukanto. Lalu, dalam memahami rukun Islam yang ketiga, yakni puasa, warga NII tetap menahan diri selama bulan Ramadhan.

Read More

Buya Yahya : Jutaan Orang Ikut Mendoakan Mbah Nun

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun saat ini masih menjalani pemulihan (recovery) usai mengalami pendarahan otak dan dirawat di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Kondisi budayawan penembang lagu Jaman Wis Akhir, kelahiran Jombang, Jawa Timur ini dikabarkan sudah stabil. Hal tersebut disampaikan Prof. KH. Yahya Zainul Ma’arif Al-Bahjah yang lebih akrab disapa Buya Yahya, usai menjenguk Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun, Jumat (07/07/2023) di Yogyakarta. Pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah ini melihat kondisi Cak Nun semakin membaik. Buya menandaskan, Cak Nun pejuang umat sejati. Hidupnya untuk umat, sampai tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, hingga kelelahan dan sakit. “Alhamdulillah jutaan umat mendokan. Insya Allah kabulkan doanya umat agar Mbah Nun bisa melanjutkan, membimbing kami. Saya murid beliau sejak muda,” imbuh Buya Yahya. Buya Yahya juga merasa bahagia bisa bertemu langsung dengan Cak Nun, meski tidak terlalu lama dikarenakan Cak Nun memang harus banyak istirajat untuk pemulihan kondisi tubuh nya. “Saya bahagia bisa bertemu Mbah Nun dalam proses pemulihan dan berdialog dengan Bu Novia Kolopaking, istri beliau dan mendapat penjelasan lengkap kondisi mbah Nun,” tegas Buya. Diberitakan sebelumnya, Cak Nun dilarikan ke RSUP Dr Sardjito Yogyakarta pada Kamis (06/07/2023) dalam keadaan tidak sadar karena mengalami pendarahan di otak. Cak Nun ternyata pernah memiliki riwayat stroke ringan. Namun suami Novia Kolopaking ini berhasil sembuh. “Cak Nun memang pernah menderita stroke ringan namun kemudian sembuh. Beliau bisa mengatasi atau recovery sendiri,” kata mantan sekretaris pribadi Cak Nun, Nur Janis Langgabuwana.

Read More

Wakil Ketua MUI Digugat Panji Gumilang

Jakarta – 1miliarsantri.net : Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas mendapat gugatan perdata dari Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun, Panji Gumilang. Secara langsung hal tersebut dilakukan melalui kuasa hukumnya dan sudah melayangkan gugatan perdata terhadap Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (6/7/2023). Anwar Abbas dinilai melontarkan tuduhan komunis kepada Panji Gumilang, dengan hanya berdasarkan potongan video di media sosial. Menanggapi gugatan tersebut, Ketua Umum DPP Forum Advokat Pembela Pancasila (FAPP), Ihsan Tanjung, menjelaskan fakta yang sebenarnya terjadi. Dia pun mengaku sudah bertemu langsung dengan Anwar Abbas untuk membahas hal yang dipersoalkan Panji Gumilang. “Jadi kami sudah lihat di SIPP di pengadilan, itu memang ada gugatan dari Panji Gumilang terhadap Buya Anwar abbas. Saya sudah ketemu dengan Buya Anwar Abbas, kita sudah bicara dan saya sudah menjelaskan ke Buya Anwar Abbas maksud dari gugatan saudara Panji Gumilang,” kata Ihsan kepada media, Sabtu (08/07/2023). Secara umum, menurut dia, Buya Anwar Abbas sudah paham apa yang digugat oleh mereka. Jadi, menurut dia, pernyataan Anwar Abbas soal Panji Gumilang Komunis itu memang berawal dari kutipan yang beredar di media. “Jadi ini memang berawal dari kutipan-kutipan yang berrdar dari media, tapi kutipan itu tidak pernah terkonfirmasi oleh Panji Gumilang sendiri. Itu beredar di media, sehingga ketika sampai ke Buya Anwar Abbas, nah dia berpikir bahwa kutipan itu benar,” jelas Ihsan. Lenih lanjut Ikhsan menyampaikan, setelah itu, Buya Anwar kemudian diundang ke acara televisi dan menyampaikan isi dari potongan video, yang di dalamnya Panji Gumilang seakan-akan mengakui bahwa diirnya komunis. “Buya menyampaikan apa yang dia tonton itu. Nah, setelah acara itu, baru dia mendapat kiriman video utuhnya,” ujar Ihsan. Setelah mendapatkan video utuhnya, menurut dia, barulah Buya Anwar memahami bahwa di video itu ternyata Panji Gumilang sedang bercerita saat kedatangan tamu dari China, yang si tamu itu mengatakan, “Saya komunis”.

Read More