Teroris Israel Hancurkan Situs Bersejarah Ribuan Tahun di Palestina

Gaza — 1miliarsantri.net : Hampir tiga bulan lamanya teroris Israel membombardir Jalur Gaza. Pengeboman tersebut tidak hanya menciptakan duka bagi warga sipil, namun juga menghancurkan sejumlah situs bersejarah. Dalam tayangan Aljazeera, Ahad (31/12/2023), terlihat sejauh mana kerusakan yang terjadi pada situs-situs bersejarah di Kota Gaza akibat serangan langsung Israel terhadap tempat-tempat terkenal dan bersejarah di wilayah Gaza. Video ini memulai tampilannya dengan menunjukkan bagaimana Hammam As-Samra, tempat bersejarah di Jalan Omar Al-Mukhtar di Kota Gaza, menjadi puing-puing yang terselimuti debu akibat serangan jet tempur Israel. Hammam As-Samra adalah situs bersejarah yang memiliki nilai sejarah, berfungsi sebagai tempat perawatan kesehatan dan area rekreasi vital bagi warga yang terkepung di Gaza. Hammam ini adalah satu-satunya hammam bersejarah yang masih ada dari masa Kesultanan Utsmaniyah, dibangun dan direnovasi sekitar 865 tahun yang lalu, menurut pernyataan Yusuf Al-Wazir, pejabat administratif Hammam As-Samra. Di tengah video, tampak jejak kerusakan yang signifikan di Masjid Al-Omari Al-Kabir, yang menjadi sasaran oleh pasukan Israel. Mereka menyerang menara masjid, lapangan, ruang sejarah, dan koleksinya. Masjid Al-Omari Al-Kabir adalah salah satu masjid tertua dan terkemuka di Gaza. Didirikan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, masjid ini merupakan yang ketiga terbesar di Palestina setelah Masjid Al-Aqsa dan Masjid Ahmad Pasha Al-Jazzar. Sebelumnya, masjid ini adalah kuil pada zaman Romawi, dan setelah penaklukan Islam, berubah menjadi gereja sebelum akhirnya menjadi salah satu masjid utama di Gaza. Kemudian, kerugian tragis sejarah di Istana Al-Basha di lingkungan Al-Daraj. Seluruh fasilitasnya mengalami kerusakan dan kehancuran karena serangan Israel.

Read More

Palestina Menjadikan 2023 Sebagai Tahun Paling Mematikan

Gaza — 1miliarsantri.net : Biro Pusat Statistik Palestina menyebut jumlah kematian warga Palestina di tahun 2023 lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak 1948. Kantor berita Xinhua mencatat, terdapat 22.404 warga Palestina tewas pada 2023, dimana 22.141 di antaranya meninggal dunia akibat konflik Israel-Hamas di Gaza yang terjadi sejak 7 Oktober 2023 lalu. Angka itu, menurut laporan biro, 98 persen korban jiwa warga Palestina berada di Gaza, dengan korban hampir 9.000 anak-anak dan 6.450 perempuan. Sementara di Tepi Barat, ada 319 warga Palestina yang tewas sejak konflik 7 Oktober lalu. Melansir The Siasat Daily, Senin (01/01/2024), Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa rakyatnya akan tetap teguh dan mematuhi hak-hak sah dan tidak akan menerima penggusuran dari tanah mereka. Dalam sebuah pernyataan yang menandai peringatan 59 tahun berdirinya gerakan Fatah, Abbas mengatakan Otoritas Palestina, yang dipimpinnya, tidak akan menyerahkan satu inci pun wilayah mereka, dan tidak akan mengabaikan tanggung jawabnya terhadap Gaza. Solusi militer, kata Abbas, alih-alih membawa perdamaian dan keamanan malah akan mengganggu stabilitas kawasan dan seluruh dunia.

Read More

Pejuang Hamas Meminta Gencatan Senjata Selama 30 Hari

Gaza — 1miliarsantri.net : Kelompok perlawanan Palestina Hamas dilaporkan bersedia kembali ke meja perundingan dengan permintaan gencatan senjata selama 20-30 hari. Informasi tersebut ditulis media Israel Axios yang mengutip Direktur Mossad David Barnae jika Hamas mengajukan penawaran tersebut sebagai imbalan atas pembebasan sebanyak 50 tawanan termasuk anak-anak, wanita dan orang tua. Pada gilirannya, Axios mengutip para pejabat Israel yang mengatakan bahwa mediator Qatar menyampaikan kepada “Israel” bahwa Hamas telah “sementara setuju” untuk melanjutkan diskusi mengenai perjanjian baru untuk pembebasan lebih dari 40 orang tawanan di Gaza. Hal ini akan menjadi imbalan atas gencatan senjata selama satu bulan, menurut tiga pejabat Israel. Laman tersebut yang dikutip kantor berita asal Lebanon Al-Mayadeen, melaporkan bahwa para pejabat Israel memperlakukan pesan tersebut “dengan sangat hati-hati.” Mereka berharap adanya klarifikasi lebih lanjut pada akhir pekan untuk menentukan “keseriusan” niat Hamas. Dalam catatan tersebut, seorang pejabat Israel mengatakan bahwa pesan Qatar masih dalam tahap awal. “Tetapi pesan ini positif karena, untuk pertama kalinya sejak perjanjian sebelumnya berakhir, Hamas memberi sinyal bahwa mereka siap untuk kembali ke meja perundingan. Kami bergerak dari situasi membeku hingga menjadi sangat dingin.” Selain itu, situs berita Israel lainnya “Walah” melaporkan bahwa “Israel” menyampaikan kesiapannya untuk melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza selama sepekan. Usulan ini bergantung pada kesediaan untuk membebaskan tahanan Palestina, dengan syarat lebih dari 40 tawanan Israel yang ditahan oleh perlawanan Palestina di Jalur Gaza juga dibebaskan. Laman tersebut menyoroti bahwa proposal ini adalah yang pertama dari “Israel” sejak penghentian perjanjian sebelumnya beberapa pekan lalu, menyusul gagalnya gencatan senjata selama sepekan. Para pejabat Israel menyatakan bahwa usulan tersebut menandakan “komitmen Israel untuk memulai kembali perundingan.” Keluarga para tawanan Israel, yang ditahan oleh perlawanan Palestina di Jalur Gaza, telah meningkatkan seruan mereka untuk segera mencapai kesepakatan pertukaran. Tuntutan ini meningkat setelah insiden al-Shujaiya, bersamaan dengan pembunuhan tawanan oleh IDF, dan perlawanan yang membenarkan kematian beberapa tawanan Israel akibat pemboman yang terus berlanjut di Jalur Gaza. Penting untuk dicatat bahwa pemimpin gerakan Hamas, Osama Hamdan, menekankan bahwa para pemimpin pendudukan menyatakan, “Tidak akan melihat tahanan mereka hidup kecuali ada penghentian agresi terhadap Gaza secara komprehensif, dan negosiasi dilakukan sesuai dengan kepentingan dari rakyat kita.” Delegasi tingkat tinggi Hamas dilaporkan telah tiba di Kairo, Mesir, pada Jumat (29/12/2023). Mereka hendak mengikuti perundingan gencatan senjata dengan Israel yang dimediasi Mesir. Dilaporkan laman Al Arabiya, seorang pejabat Hamas yang enggan dipublikasikan identitasnya mengungkapkan, dalam pertemuan di Kairo, delegasi Hamas akan memberikan tanggapan dari faksi-faksi Palestina, termasuk beberapa pengamatan mengenai proposal Mesir. Proposal tersebut mengatur pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina, setelah melalui pembicaraan dengan semua faksi Palestina, yang akan bertanggung jawab mengatur dan membangun kembali Gaza pasca perang. “(Hamas juga) mencari penarikan militer Israel sepenuhnya (dari Gaza),” ujar pejabat Hamas tersebut.

Read More

Para Wartawan Perang di Gaza Lebih Memilih eSIM Untuk Mempermudah Akses Komunikasi dan Mengirim Berita

Gaza — 1miliarsantri.net : Di tengah terputusnya jaringan internet dan komunikasi selama serangan dan pembantaian yang dilancarkan teroris Israel di Jalur Gaza, warga Palestina, khususnya wartawan, beralih menggunakan kartu SIM elektronik (eSIM) untuk berkomunikasi dan menyampaikan berita mereka serta situasi di Gaza ke dunia luar. Elektronik SIM atau eSIM adalah kartu SIM yang tertanam di dalam motherboard ponsel atau perangkat pintar. Hal itu memungkinkan pengguna menggunakan satu atau lebih nomor telepon secara bersamaan tanpa perlu menggunakan kartu SIM tradisional. Kartu ini bekerja dengan prinsip sederhana: pengguna harus memindai “kode QR” yang dikirim dari luar menggunakan kamera ponsel untuk menghubungkan mereka ke jaringan telekomunikasi eksternal, yang umumnya berasal dari Israel atau kadang-kadang Mesir. Menurut salah satu pedagang, wartawan dan koresponden di Gaza menggunakan kartu SIM elektronik lebih banyak untuk menyampaikan gambaran yang akurat ke dunia luar, juga digunakan oleh petugas ambulans sipil yang perlu berkomunikasi untuk mengetahui lokasi serangan Israel guna membantu korban dan menyelamatkan korban luka. Kartu SIM elektronik juga diminta oleh anggota Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), yang menggunakannya dalam pekerjaan mereka. Seorang wartawan menegaskan bahwa jika bukan karena kartu SIM elektronik, warga Palestina akan terputus dari dunia dan tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di Gaza. Selama menjalankan tugas jurnalistik mereka, mereka kadang-kadang melakukan liputan langsung melalui jaringan 4G dan 5G. Dia menyatakan bahwa cara-cara ini membantu wartawan berkomunikasi dengan dunia luar dan menyampaikan suara dan gambar. Banyak orang Palestina di luar negeri berkomunikasi melalui eSIM untuk mengetahui berita Gaza dan berita tentang keluarga dan kerabat mereka.

Read More

Ahmad Murtaja Pemuda Gaza Gunakan Tulisan Satir Guna Hadapi Kematian

Gaza — 1miliarsantri.net : Ahmad Murtaja, seorang pemuda berusia 28 tahun, menggunakan tulisan satir sebagai senjata untuk menghadapi kematian di Jalur Gaza. “Saya menulis dengan satir karena kita tidak boleh menganggap serius dunia ini. Apakah yang terjadi pada kami nyata?” ungkap Ahmad Murtaja, Jumat (29/12/2023). Dalam pembantaian yang dilakukan teroris Israel di Jalur Gaza selama tiga bulan berturut-turut, Ahmad melihatnya sebagai “situasi konyol” yang dihadapi oleh semua orang di seluruh dunia. Ahmad mengatakan, situasi sekitar membuatnya terprovokasi untuk melakukan sesuatu. Rasa ketidakberdayaan di hadapan semua yang terjadi sangat sulit dan menyakitkan, bahkan, jika tidak mengalami penderitaan fisik seperti korban oleh hujan peluru yang terus menerus menimpa wilayah kecil ini, baik di darat, udara, maupun laut. “Saya bukan seorang penulis, saya hanya orang yang terprovokasi oleh kenyataan, jadi saya menulis dengan satir karena kita tidak boleh menganggap serius dunia ini,” sambungnya. Ahmad dan keluarganya selamat dari serangan udara teroris Israel yang menghancurkan rumah mereka di distrik Shejaiya di timur Kota Gaza, Jalur Gaza utara. Mereka mencari tempat berlindung di dalam kota, dan setiap kali, menit-menit krusial menentukan kelangsungan hidup mereka dari kematian yang pasti. Ahmad adalah lulusan psikologi dari Universitas Islam di Gaza. Belum menikah, ia tinggal bersama keluarganya di distrik Shejaiya, yang namanya mencuat dalam berita perang sebagai salah satu distrik yang paling banyak diserang dan dihancurkan di Gaza. Distrik ini, menurut pengakuan para pemimpin Israel, menghadapi perlawanan sengit dari pejuang Palestina. Akibat satu serangan hebat di distrik ini, Ahmad menemukan dirinya terkubur di bawah reruntuhan, selamat secara ajaib. “Kami selamat lagi, mungkin ini yang ketiga atau keempat, saya tidak tahu, tetapi kami masih bernafas, dan setiap kali kami selalu berada satu langkah di depan kematian,” imbuhnya. Akibat serangan yang keras di distrik Shejaiya, Ahmad dan keluarganya mengungsi beberapa kali, dan setiap kali mereka dikejar oleh sabuk api. Mereka selalu meninggalkan tempat tinggalnya sebelum bangunan yang ditempati runtuh akibat serangan. Hingga mereka menetap di sebuah tempat yang dikelola oleh Perserikatan PBB di bagian barat Kota Gaza.

Read More

Zionis Israel Serang dan Tembaki Pengungsi yang Sedang Berlindung di Sekolah

Gaza — 1miliarsantri.net : Mayat-mayat ditumpuk. Peluru meninggalkan bekas lobang di beberapa dinding. Bagian lainnya tampak hangus karena terbakar api. Keluarga-keluarga pengungsi saat itu sedang berlindung di sekolah Shadia Abu Ghazala yang dikelola PBB di sebelah barat kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara. Tentara penjajah Israel tiba-tiba datang memasuki gedung tersebut. Menurut para saksi dan keluarga mereka yang terbunuh dalam serangan pada awal bulan Desember itu, tentara pengecut Israel langsung melakukan pembantaian. ‘’Para saksi mata mengatakan beberapa orang, termasuk perempuan, anak-anak dan bayi, dibunuh dengan gaya eksekusi oleh pasukan Israel ketika mereka berlindung di dalam sekolah,’’ terang Aljazeera. Video dan gambar yang diperoleh Aljazeera, menunjukkan mayat-mayat yang ditemukan pada 13 Desember itu menumpuk di dalam sekolah. Setelah beberapa hari, anggota keluarga korban dan para penyintas serangan brutal Israel tersebut baru bisa kembali ke sekolah untuk mencari orang yang mereka cintai. Seorang ayah dari salah satu korban mengatakan dia sedang tidur bersama istri dan enam anaknya ketika tentara Israel tiba-tiba menyerbu sekolah tersebut. ‘’Mereka memasuki ruang kelas tempat kami berada dan menembak langsung ke arah mereka yang hadir tanpa mengucapkan sepatah kata pun,” ujarnya. Pria tersebut yakin dia diperintahkan untuk meninggalkan sekolah karena alasan usia tuanya. ‘Tentara Popok’ (IDF, Israel Diapers Force) mengusir sekitar 20 orang dari sekolah, melucuti pakaian mereka, dan menginterogasi mereka. Rekaman video tersebut menunjukkan bekas darah dan sisa-sisa barang milik korban yang ada bersama mereka sebelum dibantai. Sementara, peluru menembus dinding kelas tempat ditemukannya mayat.

Read More

Warga Gaza Sudah Tidak Ada Lagi Tempat Untuk Berlindung

Gaza — 1miliarsantri.net : Ketua tim Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, Gemma Connell, mengatakan banyak warga Palestina di Gaza yang mengikuti perintah tentara Israel untuk mengungsi dan pindah ke tempat yang ditetapkan sebagai zona aman tidak dapat tempat di lahan yang sudah sangat padat. Connell sudah bertugas di Gaza selama beberapa pekan. Ia menggambarkan situasi ini sebagai “papan catur manusia.” Di mana ribuan pengungsi harus kembali mencari tempat perlindungan dan tidak ada jaminan tujuan mereka akan aman. Selama beberapa pekan terakhir Amerika Serikat (AS) menekan Israel mengambil langkah lebih jauh untuk memperkecil jumlah korban sipil dengan menetapkan zona aman dan memastikan rute kemanusiaan yang dapat digunakan pengungsi melakukan perjalanan dengan aman. “Warga menuju selatan dengan memasukan matras dan semua benda mereka ke dalam van dan truk dan mobil untuk mencoba dan menemukan tempat aman,” kata Connell di Deir al-Balah, Gaza tengah, Kamis (28/12/2023). Dia menambahkan bahwa dirinya sudah berbicara dengan banyak orang, ruang yang tersisa di Rafah ini sangat kecil, orang-orang tidak tahu kemana lagi mereka harus pergi dan pergerakan orang rasanya seperti papan catur manusia karena ada perintah evakuasi di tempat lain. “Orang-orang melarikan diri dari satu area ke area yang lain, tapi mereka juga tidak aman di sana,” imbuh Connell. Militer Israel mengklaim mereka meminta warga pindah dari medan tempur tapi Hamas dengan sistematis mencegah upaya tersebut. Juru bicara militer Israel mengatakan Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, tuduhan yang dibantah keras kelompok pembebasan Palestina itu. Connell menceritakan kematian anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Ahmed di Rumah Sakit al-Aqsa di Deir Al-Balah. Di rumah sakit itu ribuan orang terluka akibat serangan udara Israel dirawat. “Ia (Ahmad) tidak berada di area yang diperintahkan dievakuasi, ia berada di tempat yang seharusnya aman, tidak ada tempat yang aman di Gaza,” tambah Connell.

Read More

Kegiatan Alternatif yang Dilakukan Warga Gaza Akibat Blokade Teroris Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Beragam kegiatan dilakukan oleh warga di wilayah Gaza untuk bisa bertahan hidup akibat serangan bertubi-tubi yang dilakukan zionis Israel. Salah satu nya adalah Aed Salha, seorang tukang jahit menemukan cara untuk terus bekerja dengan mesin jahitnya di tengah krisis listrik dan bahan bakar akibat blokade yang diterapkan oleh teroris Israel. Aed Salha, yang berasal dari kota Rafah di selatan Jalur Gaza, menghadapi kendala selama empat hari pertama serangan sebelum akhirnya menemukan solusi. Dia menggunakan tenaga kinetik melalui sepeda angin untuk mengoperasikan mesin jahitnya. Selama krisis ini, anak-anak Saaleha bergantian memutar roda sepeda yang terhubung ke sabuk elastis di tuas mesin jahit. Gerakan ini memberikan daya putar dan memungkinkan mesin tetap beroperasi. Hal itu menjadi satu-satunya sumber penghasilan bagi Aed Salha yang telah menjalankan profesi ini selama 13 tahun. Upaya tukang jahit ini mencerminkan berbagai alternatif yang digunakan oleh penduduk Gaza untuk mengatasi kondisi sulit akibat perang dan blokade yang telah melekat dalam kehidupan mereka.

Read More

Pendapatan Warga Israel Krisis Pangan dan Terlilit Hutang

Tell Aviv — 1miliarsantri.net : Menurut survei NGO lembaga filantropi Israel, Latet’s Mission, pasca penyerangan bertubi-tubi yang dilakukan pasukan zionis Israel terhadap penduduk Palestina mengakibatkan pendapatan warga Israel menurun secara signifikan sekitar 20% sejak 7 Oktober 2023. Selain itu, 45% warga Israel khawatir akan kesulitan ekonomi akibat peperangan yang terus berlangsung. 85% warga yang hidup dalam kemiskinan melaporkan kesulitan memastikan pasokan air panas atau listrik yang diperlukan untuk mengoperasikan peralatan rumah tangga. Selain itu, Latet’s menyebutkan, persentase orang yang menderita utang telah meningkat dibandingkan survei tahun lalu. Laporan kemiskinan dari Institut Asuransi Israel, yang didasarkan pada data dari seluruh warga Israel, diperkirakan akan segera dirilis. Latet’s memperkirakan sekitar 710.000 keluarga di Israel hidup dalam kondisi kerawanan pangan. Setengah dari mereka menderita krisis pangan parah, yang didefinisikan sebagai gangguan pola makan dan penurunan jumlah pangan karena kesulitan ekonomi. Perkiraan Letet’s didasarkan pada survei terhadap sekitar 500 keluarga antara Juli dan September. Survei lain dengan jumlah peserta yang sama selama November, dan lebih tinggi dibandingkan survei yang dikeluarkan oleh Institut Asuransi Nasional, yang pada 2021 menunjukkan bahwa 522.000 keluarga mengalami krisis pangan di Israel.

Read More

Pemuda-pemuda Palestina Yang Sudah Menjadi Tulang Punggung Keluarga Mereka

Gaza — 1miliarsantri.net : Penderitaan di Palestina melahirkan anak-anak kuat secara mental. Kondisi keras memaksa anak-anak tumbuh dengan tugas-tugas berat sperti yang dipikul orang tua. Umumnya, anak-anak di lokasi pengungsian turut andil dalam membantu kehidupan keluarga hingga mengatur urusan sehari-hari. Anak Adham Nusair (13 tahun) duduk di depan kompor primitif setelah sekian lama mengumpulkan kayu dan karton untuk menyalakan api. Dia hendak menyiapkan roti untuk keluarganya, yang mengungsi di Sekolah Menengah Doha di kota Rafah , di ujung selatan Strip. Keluarga Nusair mengungsi dari rumah mereka di kota Beit Hanoun, Jalur Gaza utara. “Keinginan saya adalah kembali ke Beit Hanoun dan membangun kembali rumah kami yang hancur,” katanya saat wawancara dengan Aljazeera, Selasa (19/12). Di ruang kelas tempat para pengugnsi, Adham seharusnya duduk di kursi menerima pendidikan formal di sekolah menengah. Namun kini, dia harus memikul tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Pekerjaan Adham tidak mudah. Palestina saat ini, khususnya di Jalur Gaza, sedang mengalami krisis pangan. Menemukan makanan sangat susah. Itu merupakan terjemahan realistis dari peringatan-peringatan dari organisasi-organisasi internasional mengenai kelaparan yang dihadapi 2,3 juta warga Palestina. Terlepas dari kerasnya penderitaan yang dialami Adham dan teman-temannya, pemandangan anak-anak ini sudah tidak asing lagi di jalan-jalan dan lapangan umum. Di depan pintu pusat pengungsian di sekolah-sekolah negeri atau yang berafiliasi dengan UNRWA PBB di kota Rafah, berdiri di “stan penjualan” sederhana untuk menyediakan sebagian kebutuhan keluarga, berupa barang dagangan yang sudah langka di pasar. Pelajaran Hidup dari Realitas PalestinaSesaat sebelum fajar menyingsing, kedua bersaudara, Anas (12 tahun) dan Mahmoud (10 tahun), menemani sang ayah Ayman Rayhan (36 tahun), menuju sebuah warung kecil yang ia dirikan menggunakan kayu tua. Warung itu didirikan dekat pusat penampungan di sekolah UNRWA, tempat tinggal keluarganya yang beranggotakan 5 orang. Anas dan Mahmoud membantu ayah mereka, Ayman, menyiapkan roti, yang populer disebut “roti saj”. Mereka juga menyiapkannya di atas tungku primitif berbahan bakar kayu, untuk mengatasi krisis gas memasak yang parah. “Saya bekerja dengan ayah saya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya,” kata Anas.

Read More