Meski Diterpa Polemik, China Tetap Lanjutkan Kerja Sama Proyek Kereta Cepat dengan Indonesia
Oleh karena itu, proyek ini diharapkan bisa dikelola secara mandiri tanpa membebani keuangan negara.
Baca Juga: Hari Stroke Sedunia 2025, Ini Tujuan dan Bentuk Peringatannya!
Dua Opsi Pembayaran Utang
Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang menyiapkan dua skema pembayaran untuk menutupi utang proyek yang mencapai sekitar Rp116 triliun.
“Utang pembangunan cukup besar. Kami mempertimbangkan penambahan equity agar perusahaan bisa mandiri karena secara operasional sudah cukup kuat,” jelas Dony dalam keterangannya di JICC, Jakarta, 9 Oktober 2025.
Selain itu, Dony menyebut opsi lain yang sedang dikaji adalah menyerahkan infrastruktur Whoosh kepada pemerintah, sebagaimana sistem yang berlaku pada industri perkeretaapian nasional.
Hingga kini, belum ada keputusan final terkait mekanisme pembayaran utang proyek kereta cepat tersebut. Pemerintah masih menunggu hasil pembahasan antara Danantara, KCIC, dan Kementerian Keuangan untuk menentukan langkah selanjutnya.
Sementara itu, Pemerintah China menegaskan kesiapannya untuk terus mendukung keberlanjutan proyek ini.
Beijing meyakini, proyek Whoosh tidak hanya memperkuat infrastruktur dan perekonomian Indonesia, tetapi juga menjadi simbol kemitraan strategis antara dua negara Asia yang kian berpengaruh di kawasan.
Penulis: Satria S Pamungkas
Editor: Glancy Verona
Sumber Foto: kcic.co.id
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


