Benarkah Husni Thamrin Meninggal Setelah Disuntik Dokter yang Dikirim Polisi Belanda
Saat mengikuti pemilihan anggota Volksraad pada 1934 –wakil dari Sarekat Ambon, Kajadoe mengumpulkan 619 suara di Batavia. Jumlah paling banyak untuk kandidat pribumi. Capaian itu disebut Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie edisi 3 Juli 1934, sebagai ‘’bukti popularitas dokter Maluku ini”.
Jika sekarang ini ada yang menganggap ia sebagai dokter yang tidak kompeten, cukup aneh rasanya jika ia bisa menjadi ketua ikatan dokter bertahun-tahun dan bisa mengumpulkan banyak suara untuk menjadi anggota Volksraad. Di pemilihan tahun 1934 untuk Volksraad periode 1935-1939, pemilih pribumi yang mencoblos ada 952 dari total 2.245 pemilih pribumi di Batavia.
Saat itu, Thamrin terancam pencalonannya. Thamrin disebut Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie sebagai sosok yang tidak disukai karena kevokalannya di Volksraad. Bob Hering menulis, Gubernur Jenderal de Jonge tak menginginkan perkembangan Volksraad menguntungkan bagi Indonesia (Hindia).
Untuk pemilihan tahun 1934 ini, nama Thamrin masuk daftar pemilihan di Jawa Barat. Daerah Pemilihan I (Jawa Barat) mendapat jatah tiga kursi di Volksraad. Dua kandidat sudah aman posisinya, yaitu Wiranatakusuma dan Oto Iskandar Dinata. Untuk dapat masuk lagi Volksraad, Thamrin harus memperebutkan kursi ketiga bersama kandidat lainnya.
Maka, Kajadoe pun –bersama Mr Koentjoro– membentuk ‘’Komite Thamrin’’ untuk pemenangan Thamrin. Koran Pemandangan yang dipimpin Saeroen –Tabrani baru bergabung di Pemandangan pada 1936– dan Bintang Timoer –yang dipimpin Paraha Harahap– ikut mendukung Thamrin.
“Dr Kajadoe menyatakan dirinya bersedia untuk mundur demi Thamrin ‘jika susunan daftar itu akan menyebabkan kesulitan’,’’ tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie edisi 9 Mei 1934. Yang dimaksud tentu saja ‘menyebabkan kesulitan bagi Thamrin’.
“Kita harap supaya Pasoendan dan beberapa partai kecil yang tidak dapat membawa kandidatnya lebih jauh ke tengah, memberikan suaranya kepada Tuan Thamrin, sebab sangatlah kurang pantas jika seorang Voorzitter Nationale Fractie itu … mesti mendapat benuman dari Pemerintah Tinggi!” tulis Bintang Timoer, 20 November 1934.
Lewat Komite Thamrin, Kajadoe fokus pada propaganda pemenangan Thamrin dengan menyebarkan brosur ke berbagai daerah. Brosur itu menegaskan bahwa Thamrin adalah seorang nasionalis dan pemimpin. Di Jawa Barat, cukup dengan mendapat 135 suara saja Thamrin bisa lolos ke Volksraad.
Kajadoe sudah menjadi kolega Thamrin sejak awal 1920-an. Kajadoe –seperti dikutip Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers edisi Nomor 35, 15 Januari 1920– adalah sosok yang dianggap kompeten mewakili orang-orang Ambon duduk di Volksraad pada awal 1920-an itu. Thamrin menjadi anggota Volksraad pada tahunn 1927, sebelumnya menjadi anggota Gemeenteraad van Batavia sejak tahun 1919.
Di buku Mohammad Hoesni Thamrin, Bob Hering memberi catatan bahwa laporan HJ Levelt dan HJA Vermijs kepada Jaksa Agung mengenai kasus Thamrin hanya berdasarkan kabar angin dan laporan berat sebelah dari aparat spion pribumi ARD. Vermijs adalah wakil kepala ARD yang ikut menggeledah rumah Thamrin.
Levelt adalah Wakil Pemerintah untuk Urusan Umum di Volksraad (Regeerings Gemachtide voor Algemeene Zaken, RGAZ) dan Vermijs adalah Wakil Kepala Jawatan Investigasi Umum (Algemeene Recherche Dienst, ARD). Dalam laporannya itu, HJ Levelt dan HJA Vermijs yang menyebut Thamrin, Ratulangi, perlu terus diawasi.
Levelt juga menyebut mulai 10 Mei 1940 Thamrin terlihat sangat berhati-hati dan menutupi kegiatannya. Vermijs menyebut surat van der Plas 6 Mei 1940 yang ditujukan kepada Jaksa Agung AS Block tentang kegiatan sejumlah tokoh yang pro-Jepang berdasarkan laporan polisi 18 April 1940.
Nota setebal 103 halaman khusus tentang Thamrin, dijadikan dasar oleh AS Block untuk menempatkan Thamrin sebagai tokoh yang ‘’tidak setia dan mempengaruhi yang lain untuk mengikutinya”. Kepada Gubernur Jenderal AWL Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, Block membuat laporan bahwa Thamrin telah bertindak ilegal, tidak berbeda dengan perlawanan orang Eropa terhadap rezim Nazi.
Bob Hering memberi catatan bahwa laporan Levelt dan Vermijs kepada Jaksa Agung hanya berdasarkan kabar angin dan laporan berat sebelah dari aparat spion pribumi dari ARD. (yan)
Baca juga :
- Selamat Hari Bhayangkara: 80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat
- Breaking News: Argentina Tutup Fase Grup Piala Dunia FIFA 2026 dengan Kemenangan 3-1 atas Yordania di AT&T Stadium
- Piala Dunia FIFA 2026: Afrika Selatan Lolos Dampingi Meksiko Menuju Fase Gugur
- Formasi Drone “Ubur-Ubur” Iran Diduga Lumpuhkan F-15 Amerika, Pengakuan Pilot Picu Kekhawatiran Baru soal Perang Drone
- Wisuda Bimba Opung ASA Kidz Station 2026: Momen Haru, Ceria, dan Penuh Kenangan dalam Pelepasan Generasi Hebat
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


