Benarkah Husni Thamrin Meninggal Setelah Disuntik Dokter yang Dikirim Polisi Belanda

Dengarkan Artikel Ini

Saat sekolah tinggi kedokteran, Geneeskundige Hogeschool te Batavia, pada 1927 didirikan atas usulan Direktur STOVIA dokter Abdul Rivai, Kajadoe menjadi salah satu penasihat. Ia diangggap sebagai dokter yang kompeten.

Tahun 1937, Ikatan Dokter Hindia berusia 25 tahun, menjadi periode terakhir (1937-1938) kepemimpinan Kajadoe di Ikatan Dokter Hindia. Pada Oktober 1937, Kajadoe mendapat penghargaan sebagai Ksatria Oranye-Nassau.

Mungkin pemberian gelar inilah yang membuat masyarakat Indonesia menyebut Kajadoe sebagai dokter yang berpihak kepada Belanda. Untuk ukuran sekarang, jika Kajadoe diajukan sevagai calon pahlawan ansional, penghargaan Ksatria Oranye-Nassau ini bisa menghalangi dirinya menjadi pahlawan nasional.

Kajadoe mulai memeriksa Thamrin pada 10 Januari 1941 siang. Thamrin sakit sejak 6 Januari 1941 dan malam harinya polisi menggeledah rumah Thamrin.

Pada hari Jumat 10 Januari 1941 Kajadoe yang sudah biasa menangani pasien sakit malaria, mendapati Thamrin dengan panas badan tinggi dan dalam keadaan hampir tidak bisa bicara. Oleh Kajadoe, Thamrin disuntik.

“Untuk menurunkan panasnya dengan memberi tahu keluarganya jika tidak membaik supaya segera menjemput dirinya,” tulis Bob Hering.

Pada malam harinya, kondisi Thamrin terus memburuk. Menjelang tengah malam, disuntik lagi oleh Kajadoe.

“Kemudian kepada kami dipesankan supaya jangan mengganggu tidur beliau yang sudah nyenyak. Tapi aneh, ayah makin tenang dan akhirnya menjelang Subuh tidak ada tanda bahwa beliau bernapas. Akhirnya kami mengetahui bahwa ayah sudah tidak ada lagi,” ujar Deetje kepada Merdeka, 29 April 1968, seperti dikutip Yasmine Zaki Shahab.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca