5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak Masa Rasulullah Hingga Saat Ini

Bekasi – 1miliarsantri.net: Al-Qur’an adalah kalam Allah, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an bukanlah ciptaan manusia, melainkan wahyu illahi yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, khususnya seluruh umat Islam. Banyak yang bertanya, apakah Al-Qur’an saat ini sama dengan Al-Qur’an saat diterima Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam ataukah berbeda? Baca juga : Investasi Akhirat ‘Bantu Bebaskan Lahan’ Untuk Pondok Pesantren Al Quran Fajar Ashshiddiq Patut diketahui, secara prinsip Isi Al-Qur’an sejak Rasulullah menerima wahyu pertama hingga saat ini adalah sama. Firman Allah yang diterima Nabi Muhammad selama 23 tahun itu tercatat dengan baik dari masa ke masa dan dalam pemeliharaan Allah. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9). 5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, terdapat 5 (lima) fase penulisan kitabullah yang perlu dipahami. Tidak ada perbedaan isi Al-Qur’an, yang berbeda hanya cara penulisannya. Fase Pertama: Penulisan Langsung, yang mana penulisan setiap potongan ayat saat itu juga ketika wahyu diturunkan, Rasulullah ﷺ kemudian memanggil para sahabat untuk menuliskan dihadapannya. Ada 4 sahabat nabi yang menuliskan ayat-ayat Allah yang diterima oleh Nabi Muhammad, diantara mereka ada yang merupakan penghafal Al-Qur’an. Para sahabat itu, Zaid bin Tsabit, Muawiyah Ibn Abi Sufyan, Ubaid bin Ka’ab (penghafal qur’an) dan Zubair Nawab. Baca juga : ‘Spirit Mencetak Pemimpin Qurani Menuju Indonesia Emas 2045’, Dipilih Jadi Tema ‘Wisuda Akbar Ke-XI’ Ponpes Darul Hijrah se Jawa Timur Zaid bin Tsabit mengatakan, Rasul mendiktekan Al-Qur’an dan meminta sahabat membaca sesudahnya, lalu Rasulullah mengkoreksi bacaannya/tulisannya. Lalu diijinkan untuk disampaikan kepada sahabat-sahabat dan kaum muslimin Madinah saat itu. Pada fase tersebut, ayat-ayat Qur’an ditulis dalam bentuk potongan pada media seperti pelepah kurma, papan, batu, kulit binatang dan lainnya, belum dalam bentuk buku yang tersusun rapi seperti saat ini.

Read More

Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam Dunia Konseling

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di era digital sekarang ini, teknologi artificial intelligence (AI) mulai merambah berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali dalam dunia konseling. Jika dulu konseling identik dengan pertemuan tatap muka dan keterlibatan emosional secara langsung, kini AI hadir sebagai pelengkap yang mampu mempercepat proses asesmen, menyederhanakan pencatatan, hingga memberikan respons awal bagi klien. Meski tak bisa menggantikan sepenuhnya peran konselor manusia, pemanfaatan AI dalam konseling membuka peluang besar untuk menciptakan layanan yang lebih efisien, terjangkau, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan. Teknologi AI mulai dikenal oleh masyarakat yaitu sekitar tahun 2022 melalui suatu program atau aplikasi chatboat, yaitu ChatGPT yang dikembangkan oleh OpenAI (OpenAI, 2022). Dikutip dari berbagai sumber, Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan merupakan salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan oleh manusia. Berangkat dari hal tersebut, teknologi AI memberikan berbagai kemudahan pada berbagai lini kehidupan, diantaranya dapat meningkatkan produktivitas, memberikan kemudahan pada saat menganalisis data, meminimalisir human eror hingga yang tidak kalah penting adalah meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental. Berbicara mengenai kesehatan mental, ada banyak isu di Indonesia yang mengangkat tentang minim nya kesadaran akan kesehatan mental. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2021, yang dipaparkan oleh Dr. Celestinus Eigya Munthe menyebutkan bahwa terdapat sekitar 20% dari seluruh populasi di Indonesia memiliki potensi untuk mengalami gangguan mental. Maka dari itu, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental yaitu dengan menggunakan AI. AI menjadi salah satu opsi yang dipilih untuk mencari informasi terkait kesehatan mental. Jika berbicara mengenai Kesehatan mental, maka salah satu yang dapat dibahas adalah mengenai konseling. Sebelum membahas lebih jauh mengenai pemanfaatan AI dalam konseling, berikut penjelasan singkat mengenai psikologi konseling. Psikologi Konseling Psikologi konseling merupakan salah satu disiplin ilmu dari psikologi yang mempelajari tentang berbagai kecenderungan yang berkaitan dalam gerakan bimbingan, kesehatan mental, psikometri, kasus-kasus sosial dan psikoterapi. Psikologi konseling saat ini telah diarahkan pada suatu bentuk pelayanan professional yang memiliki ruang lingkup sebagai berikut 1. Ruang Lingkup Sekolah Psikologi konseling dalam ruang lingkup sekolah bertujuan untuk memberikan layanan konseling bagi siswa-siswa yang membutuhkan bantuan psikologis, seperti misalnya siswa yang memiliki masalah dalam prestasi belajar. 2. Ruang Lingkup Karier dan Industri Psikologi konseling dalam ruang lingkup karier dan industri salah satunya bertujuan untuk membantu permasalahan-permasalahan psikologis yang terjadi pada karyawan di suatu perusahaan atau industri tertentu. 3. Ruang Lingkup Masyarakat Psikologi konseling dalam ruang lingkup masyarakat dinilai memiliki tujuan dalam membantu semua elemen masyarakat yang memiliki permasalahan psikologis dengen menemukan akar dari suatu permasalahan dan mencari problem solving yang tepat. Pada prosesnya, psikologi konseling memuat beberapa aspek yang saling berkaitan diantaranya berupa konseling, konselor, konseli, berbagai permasalahan yang menunjang serta menghambat konseling serta metode atau pendekatan-pendekatan dalam konseling. Lalu, Apa Itu Konseling? Konseling merupakan hubungan bantuan yang bersifat pribadi dengan menggunakan teknik-teknik hubungan yang efektif serta jaminan kerahasiaan kepada konseli. Konseling juga disebut sebagai bentuk bantuan professional dari konselor yang dilakukan dengan tujuan untuk mempengaruhi konseli agar dapat mengubah perilakunya ke arah yang lebih maju.

Read More

Santri Melek Digital: Menjadi Generasi Muslim yang Cakap Teknologi dan Tetap ‘Membumi’

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di tengah derasnya arus digitalisasi, para santri dituntut tidak hanya fasih dalam ilmu agama, tetapi juga cakap dalam teknologi. Dunia kini bergerak cepat, dan kemampuan mengakses serta memanfaatkan teknologi menjadi kebutuhan dasar, termasuk bagi generasi pesantren. Namun, tantangannya bukan sekadar melek digital, tetapi juga bagaimana para santri tetap membumi dalam akhlak, menjaga adab, dan menjadikan kecanggihan teknologi sebagai sarana dakwah dan kemaslahatan umat. Artikel ini mengajak kita melihat bagaimana santri masa kini bisa tampil sebagai generasi Muslim yang adaptif terhadap perubahan, tanpa kehilangan jati diri keislaman. Transformasi teknologi saat ini berlangsung tak hanya terjadi di kota-kota besar atau kantor perusahaan start up saja. Di balik tembok pesantren dan lantunan kitab kuning, para santri pun perlahan bangkit menjadi generasi yang tak hanya piawai mengaji, tetapi juga mulai melek teknologi. Fenomena santri digital bukanlah angan-angan. Kini, banyak pesantren yang mulai mengintegrasikan kurikulum teknologi dalam kegiatan belajar mengajarnya. Santri diajarkan membuat konten dakwah digital, menulis di blog, mengedit video Islami, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana syi’ar. Perpaduan antara nilai-nilai agama dan literasi digital menjadi potensi luar biasa bagi kemajuan umat. Namun, pertanyaannya: mungkinkah santri tetap membumi dengan akhlak Islami di tengah derasnya arus digitalisasi? Islam dan Teknologi: Bukan Dua Hal yang Bertentangan Sebagian orang mungkin masih ragu. Mereka menganggap bahwa teknologi bisa menggerus nilai-nilai keislaman. Padahal, jika dikelola dengan benar, teknologi justru bisa menjadi alat untuk memperluas dakwah dan meningkatkan kualitas umat. Dalam sejarah Islam, umat Muslim adalah pelopor dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk teknologi. Dari Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al-Khwarizmi di bidang matematika, hingga Al-Jazari yang menciptakan alat-alat mekanik di abad ke-12. Semangat mencari ilmu dan berinovasi sejatinya telah menjadi warisan Islam sejak dahulu. Oleh karena itu, tak ada alasan bagi santri masa kini untuk ketinggalan dalam hal teknologi. Justru, inilah saatnya santri mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat modern. Membentuk Karakter Digital Islami Tantangan terbesar dalam dunia digital bukan pada akses atau kecakapan, tetapi pada karakter penggunanya. Dunia maya adalah ruang yang luas dan bebas, namun tidak selalu ramah. Fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian berseliweran tiap detik. Di sinilah pentingnya peran santri sebagai “filter moral” yang menjaga nilai-nilai Islam tetap hidup di jagat digital. Santri yang melek digital seharusnya tidak sekadar tahu cara membuat konten, tetapi juga bijak dalam menggunakannya. Mereka harus mampu menebarkan kebaikan, menyebarkan ilmu, dan membendung arus informasi negatif. Konten-konten edukatif seperti ceramah pendek, kisah inspiratif sahabat Nabi, atau bahkan tutorial hafalan Al-Qur’an bisa menjadi alternatif positif yang sangat dibutuhkan masyarakat. Lebih dari itu, santri digital juga harus menjadi contoh etika bermedia yang baik. Tidak menyebar berita tanpa tabayyun, tidak berdebat tanpa adab, dan selalu menempatkan ilmu di atas emosi. Di sinilah akhlak Islami diuji dalam dunia virtual. Pesantren 4.0: Inovasi Tanpa Kehilangan Akar Beberapa pesantren kini mulai mengadopsi pendekatan teknologi secara kreatif. Misalnya, membuat platform e-learning berbasis kitab kuning, aplikasi belajar nahwu sharaf, hingga kelas daring untuk pembelajaran tafsir. Ini menjadi bukti bahwa Islam tidak anti terhadap inovasi.

Read More

Tradisi Malam Satu Suro dalam Warisan Jawa yang Dibalut Aura Keheningan

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, masih ada satu malam yang membuat sebagian besar masyarakat Jawa menahan napas, melambatkan langkah, dan memaknai waktu dengan lebih dalam. Malam itu dikenal dengan Tradisi Malam Satu Suro. Peringatan malam satu Suro adalah hasil akulturasi antara budaya Jawa dan penanggalan Islam, yang dimaknai secara spiritual oleh masyarakat Jawa. Meski tidak memiliki dasar syar’i secara eksplisit, peringatan ini masih dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya dan warisan leluhur. Tidak seperti perayaan tahun baru yang diwarnai gegap gempita, malam ini justru dibalut dalam keheningan, kesakralan, dan renungan. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun, menyimpan makna spiritual yang tak lekang oleh zaman. Untuk memahami dasar peringatan malam satu Suro, kita perlu menengok sejarah kalender Jawa. Penanggalan ini diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram Islam pada abad ke-17. Sultan Agung menyatukan dua sistem penanggalan: kalender Saka (Hindu-Buddha) dan kalender Hijriyah (Islam), dalam rangka islamisasi budaya Jawa. Satu Suro dalam kalender Jawa diselaraskan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah, yang menandai Tahun Baru Islam. Maka, malam satu Suro merupakan malam pergantian tahun menurut kalender Jawa-Islam. Lalu, apa sebenarnya yang membuat Tradisi Malam Satu Suro begitu dihormati? Mari kita simak perjalanan sejarahnya di bawah ini. 1. Kirab Pusaka Salah satu prosesi utama dalam Tradisi Malam Satu Suro adalah Kirab Pusaka. Biasanya digelar di Keraton Yogyakarta dan Surakarta, iring-iringan benda pusaka seperti keris, tombak, hingga gamelan dilakukan dengan penuh kehormatan. Tak sekadar benda, pusaka-pusaka ini dianggap menyimpan kekuatan spiritual dan nilai sejarah yang tinggi. Tradisi Malam Satu Suro menjadikan momen ini sebagai simbol pembersihan energi negatif, baik dari benda pusaka maupun diri sendiri. Dalam suasana hening dan khidmat, para abdi dalem membawa pusaka-pusaka tersebut mengelilingi keraton tanpa suara, tanpa senyum, hanya aura kebesaran leluhur yang terasa begitu kuat. 2. Tapa Bisu Mubeng Beteng Tradisi Malam Satu Suro tidak bisa dilepaskan dari ritual Tapa Bisu Mubeng Beteng. Ritual ini adalah perjalanan kaki mengelilingi benteng keraton, tanpa bicara, tanpa alas kaki, dan tanpa suara. Tidak banyak orang mampu melakukannya, karena dibutuhkan ketenangan batin dan tekad kuat. Tapa Bisu adalah lambang dari introspeksi diri yang mendalam. Dalam diam, setiap langkah menjadi doa, dan setiap tetes keringat adalah bentuk permohonan keselamatan untuk diri dan keluarga di tahun yang akan datang. 3. Mandi Suro Tak sedikit masyarakat Jawa yang menjalani Mandi Suro pada malam ini. Biasanya dilakukan di sumber mata air atau sungai yang dianggap suci. Tradisi ini dipercaya mampu membersihkan tubuh dan jiwa dari energi buruk yang mungkin menempel sepanjang tahun. Air menjadi media penyucian, sementara doa dan harapan dilantunkan dalam hati. Dalam Tradisi Malam Satu Suro, air bukan hanya elemen alam, tapi jembatan spiritual menuju ketenangan dan pembaruan diri. 4. Selamatan dan Tirakatan Malam Satu Suro juga identik dengan selamatan dan tirakatan. Selamatan adalah doa bersama yang dilanjutkan dengan makan bersama. Ini menjadi simbol kebersamaan dan ungkapan syukur atas segala nikmat yang telah diterima. Sedangkan tirakatan adalah bentuk ibadah pribadi, seseorang mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa, dzikir, dan perenungan. Tradisi Malam Satu Suro memberi ruang bagi tiap individu untuk menyendiri dan berdialog dengan Sang Pencipta. 5. Bubur Suro

Read More

Cara Menjalankan Usaha Tanpa Riba, Panduan Bisnis Halal dari Nol

Surabaya – 1miliarsantri.net : Dalam Islam, keberkahan sebuah usaha tidak hanya ditentukan dari seberapa besar keuntungannya, tetapi juga dari cara dan prinsip yang digunakan dalam menjalankannya. Salah satu prinsip utama dalam bisnis syariah adalah menjauhi riba, praktik yang dilarang tegas dalam Al-Qur’an karena menzalimi dan merugikan. Namun, di tengah sistem ekonomi modern yang sangat erat dengan bunga dan pinjaman konvensional, membangun usaha tanpa riba sering dianggap sulit. Banyak dari kita yang menginginkan punya usaha sendiri, tapi terkadang bingung harus mulai dari mana, apalagi ingin menjalankannya sesuai prinsip syariah. Salah satu hal penting yang sering menjadi pertimbangan adalah cara menjalankan usaha tanpa riba. Karena riba bukan hanya dilarang dalam Islam, tapi juga bisa membawa dampak negatif dalam jangka panjang, baik secara finansial maupun spiritual. Artikel ini dibuat bagi kamu yang ingin membangun bisnis dari nol, tapi tetap halal dan berkah. Ayo kita simak panduan selengkapnya! Menjaga Keberkahan Bisnis: Hindari Riba Sejak Awal Dalam membangun usaha, banyak orang tergoda untuk mengambil pinjaman berbunga agar bisa cepat berkembang. Tapi, jika kita serius ingin tahu cara menjalankan usaha tanpa riba, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami bahwa keberkahan lebih penting daripada sekadar keuntungan instan. Riba merupakan tambahan atau bunga dari pinjaman uang yang sangat dilarang dalam Islam. Jadi, langkah awal yang bisa kamu ambil adalah menghindari semua bentuk pinjaman berbunga, baik dari bank konvensional maupun pihak lain yang menetapkan bunga. Jika memang butuh modal, maka ada banyak alternatif halal yang bisa dijajaki. Salah satunya dengan mencari investor yang mau bagi hasil (mudharabah) atau sistem kerja sama syariah lainnya seperti musyarakah. Kamu juga bisa memulai dari modal kecil yang kamu kumpulkan sendiri, meskipun terlihat lambat di awal tapi ini lebih aman dan tenang dijalani. Ingat! rezeki itu bukan soal cepat atau lambat, tapi soal keberkahan. Jadi, selama masih berusaha sesuai dengan syariat, insyaAllah hasilnya pun akan membawa kebaikan. Cara menjalankan usaha tanpa riba membutuhkan komitmen yang tinggi. Berikut ada beberapa langkah yang bisa kamu terapkan: Pertama, mulailah yang kamu bisa dan kamu punya. Jangan menunggu punya modal besar dulu baru mulai usaha. Lihat potensi yang ada di sekitarmu. Misalnya, kamu jago masak? Bisa mulai dari jualan makanan rumahan. Atau punya keahlian desain? Bisa buka jasa desain online. Dengan modal keterampilan, kamu bisa menghindari utang yang berbunga.

Read More

Jejak Islam di Kerajaan Demak dan Mataram : Awal Peradaban Islam di Nusantara

Surabaya – 1miliarsantri.net : Membahas tentang awal peradaban Islam di Nusantara, rasanya seperti membuka halaman awal dari sebuah kisah besar yang membentuk jati diri bangsa ini. Kita semua tahu, Indonesia bukan hanya kaya budaya dan suku, tapi juga punya sejarah panjang dalam perkembangan agama, khususnya agama Islam. Proses masuknya Islam ke tanah air bukan suatu yang instan. Ia tumbuh perlahan menyesuaikan diri dengan budaya lokal, dan pada akhirnya melahirkan kerajaan-kerajaan Islam yang berjaya di masa lampau, seperti Demak dan Mataram. Jika kamu pernah bertanya bagaimana Islam bisa begitu mengakar di Indonesia, terutama di Jawa? maka menelusuri jejak awal peradaban Islam di Nusantara lewat Kerajaan Demak dan Mataram adalah langkah yang menarik. Yuk, kita ulas bersama-sama! Awal Peradaban Islam di Nusantara antara Demak dan Mataram Islam masuk ke Nusantara lewat berbagai jalur : perdagangan, dakwah, perkawinan, hingga kesenian. Namun, perubahan besar mulai terasa ketika kerajaan-kerajaan bercorak Islam mulai berdiri dan memegang kekuasaan. Dua di antaranya yang punya pengaruh besar dalam awal peradaban Islam di Nusantara adalah Kerajaan Demak dan Mataram Islam. Kerajaan Demak sering disebut sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Berdiri sekitar abad ke-15, Demak muncul setelah melemahnya Kerajaan Majapahit. Salah satu tokoh yang berperan penting di balik kejayaan Demak adalah Raden Patah. Ia dipercaya sebagai pendiri sekaligus raja pertama di kerajaan Demak. Kerajaan Demak begitu istimewa dalam sejarah awal peradaban Islam di Nusantara karena statusnya sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak juga aktif menyebarkan ajaran Islam lewat jalur politik dan militer. Salah satu misinya adalah menyerang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang masih bertahan, seperti di Blambangan (Banyuwangi) dan Majapahit. Tak hanya lewat kekuatan senjata, Demak juga dikenal karena perannya dalam pembangunan spiritual dan budaya. Masjid Agung Demak adalah bukti nyata peran besar kerajaan ini dalam menyebarkan Islam. Masjid tersebut konon didirikan oleh para Wali Songo, yang mempunyai peran vital dalam dakwah Islam saat itu.

Read More

Semangat Koperasi Membangun Dunia yang Lebih Baik

Jakarta – 1miliarsantri.net: Sebuah catatan singkat penuh makna dalam semangat Hari Koperasi Sedunia 5 Juli 2025 dan menjelang Perayaan Hari Koperasi Nasional 12 Juli 2025. Catatan tentang Gerakan Koperasi dengan kekuatan tersembunyinya dan harapan masa depan yang lebih baik. Catatan ini patut dijadikan literasi bagi insan perkoperasian di Indonesia dan dunia, disajikan dengan judul “Semangat Koperasi Membangun Dunia yang Lebih Baik”, oleh seorang wartawan senior dan pegiat/tokoh gerakan koperasi, Irsyad Muchtar. International Day of Cooperatives/CoopsDay Di tengah antusiasme masyarakat koperasi Indonesia merayakan Hari Koperasi Nasional pada bulan ini, tepatnya 5 Juli 2025, para pegiat koperasi di seluruh dunia juga turut memperingati Hari Koperasi Internasional dengan semangat tinggi. Tahun ini, perayaan tersebut mengusung tema yang sangat progresif: “Driving Inclusive and Sustainable Solutions for a Better World — Mendorong Solusi Inklusif dan Berkelanjutan untuk Dunia yang Lebih Baik.” Peringatan Hari Koperasi Internasional (International Day of Cooperatives/CoopsDay) tahun ini menjadi lebih bermakna karena bertepatan dengan perayaan Tahun Koperasi Internasional 2025 yang telah dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tema yang diangkat mencerminkan peran strategis koperasi sebagai penyedia solusi nyata terhadap berbagai tantangan global—mulai dari kemiskinan, krisis iklim, ketimpangan sosial, hingga inklusi ekonomi. CoopsDay 2025 bukan sekadar seremoni simbolik, tetapi menjadi panggilan bagi dunia untuk kembali menyadari kekuatan model usaha koperasi yang berpijak pada solidaritas, partisipasi, dan keberlanjutan. Presiden International Cooperative Alliance (ICA), Ariel Guarco, menyebut CoopsDay 2025 sebagai tonggak penting dalam sejarah gerakan koperasi internasional. “Sekarang adalah waktunya untuk memperkuat dampak kita dan memperluas jangkauan aksi kolektif—yang berakar pada prinsip dan nilai-nilai koperasi. Berkat identitas ini, koperasi tetap kuat secara global dan dapat beradaptasi dengan konteks lokal untuk menawarkan solusi nyata bagi tantangan global,” ujar Guarco. ICA meyakini bahwa koperasi bukan sekadar entitas bisnis, melainkan gerakan berbasis nilai—di mana demokrasi ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan menjadi pondasi utamanya. Di tengah ketidakpastian global, nilai-nilai tersebut terbukti relevan dan mampu memperkuat ketahanan komunitas. Kekuatan Ekonomi yang Tersembunyi Koperasi hadir di hampir semua sektor ekonomi—mulai dari pertanian, keuangan, perdagangan, energi, perumahan, kesehatan, hingga pendidikan. Saat ini, terdapat lebih dari 3 juta koperasi aktif di seluruh dunia yang menyediakan lapangan kerja atau peluang usaha bagi sekitar 280 juta orang, atau sekitar 10% dari populasi global. Selain itu, 300 koperasi terbesar dunia mencatat omzet gabungan mencapai USD 2,4 triliun, menjadikannya kekuatan ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam Laporan Sekretaris Jenderal PBB tahun 2023, koperasi disebut sebagai aktor pembangunan sosial yang berhasil menjangkau kelompok rentan dan memperkuat ketahanan masyarakat. Sekjen PBB António Guterres, dalam pernyataannya pada peluncuran Tahun Koperasi Internasional 2025, menyampaikan bahwa koperasi telah berkontribusi signifikan dalam mengatasi kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan, serta membuka akses pasar global bagi pelaku usaha lokal.

Read More

Gadis Kecil Gaza: ‘Kembalikan Ibuku Dari Surga’

Gaza – 1miliarsantri.net: Tangis sosok gadis kecil Gaza “Kembalikan Ibuku Dari Surga”, seolah mewakili jutaan kesedihan kolektif anak-anak Gaza yang nyaris tiap hari kehilangan orang tua, kehilangan sosok Ibu yang menyayanginya. Nariman Abdullah Al-Eisa yang berusia empat tahun, sosok gadis kecil di Gaza-Palestina, satu diantara ribuan anak dalam cerita yang menyayat hati. Hidupnya telah hancur akibat sebuah serangan udara zionis israel. Momen dimana dia kehilangan ibunya, kehilangan kaki kanan dan mata kanannya. Malam itu 26 Juni, Nariman bercengkrama bersama sang Ibu di rumah mereka, di dekat Al-Samer Junction, saat rudal zionis menghantam rumahnya. Ibundanya syahid (terbunuh) seketika dan Anas saudara laki-lakinya ikut terluka tertimpa puing-puing bangunan yang hancur. Baca juga: Arab Saudi Mengutuk Keras Eskalasi Militer Israel Di ‘Gaza’ Palestina Nariman, Gadis Kecil Gaza “Kehilangan Segala-galanya” Mengutip SAFA Press Agency, sang ayah, Abdullah Al-Eisa mengisahkan ketika nenek Nariman mencoba menenangkan dan menjelaskan kepada sang cucu. “Ibumu pergi bersama Tuhan, dia di surga”, namun Nariman tidak mengerti mengapa pelukan hangat ibundanya tidak ada lagi. Abdullah berupaya memulihkan kondisi fisik Nariman, bekerja sama dengan pihak Palang Merah (Red Cross) dan Médecins Sans Frontières untuk mendapatkan penanganan dan tindakan medis mendesak di luar negeri. Dia berharap Nariman dapat menerima prostetik, perawatan psikologis dan mungkin merebut kembali fragmen masa kecil yang telah dicuri perang. Baca juga: Negara-negara Eropa Mulai Mengakui Kemerdekaan Palestina

Read More

Antara Gaya dan Syariat! Pandangan Ulama’ Terhadap Trend Model Baju Muslim Terbaru

Surabaya – 1miliarsantri.net : Tren fashion muslimah terus mengalami transformasi dari waktu ke waktu. Kini, model baju muslim terbaru hadir dengan desain yang tak hanya modis tetapi juga dinilai tetap menjaga nilai-nilai kesopanan. Hal ini menciptakan pertanyaan besar di tengah masyarakat, bagaimana pandangan ulama terhadap perkembangan model baju muslim terbaru yang semakin beragam? Di sinilah perbincangan menjadi menarik, ketika dunia fashion bersinggungan langsung dengan norma agama dan pandangan para ahli syariah. Dan khusus untuk pembahasan ini, kami akan mengulas bagaimana tren berpakaian muslimah terkini dilihat dari kacamata para ulama, serta sejauh mana batasan dan kebebasan dalam berpakaian menurut Islam. Pandangan Ulama Terhadap Perkembangan Busana Muslim Fenomena model baju muslim terbaru yang semakin modern memicu beragam respons dari kalangan ulama. Sebagian melihatnya sebagai hal positif selama tidak keluar dari batas-batas syariat, sementara sebagian lainnya mengkhawatirkan terjadinya pergeseran nilai dalam berpakaian. Para ulama sepakat bahwa pakaian muslim harus memenuhi prinsip dasar, menutupi aurat, tidak ketat, tidak transparan, dan tidak menyerupai lawan jenis. Namun, mereka juga mengakui adanya kebutuhan umat Islam, khususnya perempuan, untuk tampil rapi dan menarik di ruang publik selama tetap berada dalam koridor Islam. Inilah titik tengah antara gaya dan syariat yang terus dicari oleh para desainer busana muslimah. Perpaduan Nilai Estetika dan Syariat dalam Model Baju Muslim Terbaru Dalam dunia fashion modern, estetika menjadi hal penting. Namun, dalam konteks busana muslim, keindahan visual harus tetap sejalan dengan prinsip agama. Para ulama memberikan pandangan yang cukup fleksibel, selama busana tersebut: 1. Tidak menonjolkan lekuk tubuh Meski beberapa model baju muslim terbaru memiliki potongan yang ramping dan mengikuti bentuk tubuh, ulama mengingatkan pentingnya kelonggaran agar tidak menimbulkan fitnah. 2. Tidak transparan atau menerawang Bahan yang digunakan dalam pakaian muslimah harus cukup tebal untuk menutupi warna kulit. Meski desain bisa menarik, aspek ini menjadi prioritas. 3. Tidak mengandung unsur tasyabbuh (menyerupai non-Muslim) Meskipun dunia fashion global semakin terbuka, ulama tetap memberi catatan agar umat Islam tidak meniru gaya berpakaian yang bertentangan dengan nilai keislaman. Inovasi Fashion Muslimah, Antara Kreativitas dan Keteladanan

Read More

Inilah Ide Model Hijab Syar’i Pesta yang Bisa Kamu Coba

Surabaya – 1miliarsantri.net : Dalam setiap undangan pesta, khususnya bagi wanita muslimah, memilih busana yang sesuai syariat sekaligus tetap modis tentu menjadi tantangan tersendiri. Banyak yang bingung bagaimana tampil elegan tanpa melanggar batasan aurat. Nah, bagi Anda yang ingin tampil istimewa tanpa meninggalkan kaidah syar’i, memilih model hijab syar’i pesta bisa jadi solusi terbaik. Dan artikel ini akan membahas inspirasi hijab syar’i khusus pesta yang tidak hanya menutup aurat dengan sempurna, tetapi juga menampilkan kesan mewah dan elegan yang cocok untuk berbagai acara formal. Simak ide-ide model hijab syar’i pesta berikut ini yang bisa menjadi referensi Anda tampil memukau tanpa meninggalkan nilai-nilai Islami. 1. Elegan dan Berkelas dengan Gaya Hijab Syar’i (Khimar Panjang) Gaya hijab syar’i dengan khimar panjang kerap menjadi pilihan utama untuk pesta karena memberikan kesan anggun dan menutup seluruh tubuh bagian atas dengan sempurna. Selain itu, khimar panjang juga cocok dipadukan dengan dress pesta yang bermodel A-line atau gamis brokat. – Khimar Layer dengan Bahan Ceruty Babydoll Model hijab syar’i pesta ini sangat cocok untuk menampilkan sisi feminin. Bahan ceruty yang lembut memberikan efek jatuh yang natural, sehingga terlihat lebih manis dan rapi. Layer-nya juga membantu menyamarkan bentuk tubuh secara maksimal. – Khimar Bordir Mewah Untuk acara formal seperti pesta pernikahan atau resepsi keluarga, khimar dengan bordir bunga di bagian bawah atau pinggiran khimar dapat menambah sentuhan eksklusif. Pilih warna netral seperti gold, navy, atau maroon agar tetap terlihat mewah. 2. Sentuhan Modern dalam Balutan Syar’i dengan Kombinasi Dress dan Hijab Satin Tidak sedikit wanita yang ingin tetap tampil stylish di pesta namun tetap syar’i. Kombinasi dress berbahan satin dengan hijab instan syar’i kini menjadi tren yang mulai digemari karena praktis dan tetap memberikan kesan modern. – Hijab Satin Instan Berpotongan Cape Model hijab syar’i pesta dengan potongan cape sangat cocok bagi Anda yang ingin tampil formal namun tetap simpel. Hijab jenis ini biasanya sudah dilengkapi dengan inner, sehingga tidak perlu banyak peniti atau jarum pentul. – Warna Pastel yang Lembut dan Feminin Warna seperti dusty pink, lavender, atau mocca sangat populer untuk acara pesta di siang hari. Warna ini memberikan kesan lembut dan hangat, cocok untuk pesta garden party atau acara semi-formal. 3. Gaya Hijab Syar’i Glamor untuk Acara Malam Hari Pesta malam hari biasanya identik dengan tampilan yang lebih mewah dan bold. Namun tenang, Anda tetap bisa tampil glamor tanpa meninggalkan gaya syar’i. Pilih model hijab syar’i pesta yang terbuat dari bahan berkilau namun tidak menerawang.

Read More