Renungan Peristiwa G30S/PKI di Ma’had Darul Hijrah Salam: Santri Kokoh, Banteng Penjaga Islam dari Bahaya Laten Komunis

Pasuruan – 1miliarsantri.net : Suasana malam di Pondok Tahfidzul Qur’an Darul Hijrah terasa berbeda pada Sabtu (26/09). Ratusan santri berkumpul di lapangan utama pondok untuk mengikuti rangkaian peringatan tragedi kelam G30S/PKI, sebuah momentum yang selalu diperingati bangsa Indonesia sebagai pengingat akan bahaya laten kaum komunis. Malam hari itu ba’da Isya’ lapangan utama pondok penuh dengan seluruh santri Darul Hijrah Salam, mulai dari santri MA maupun MTS. Mereka sudah berbaris rapi dengan seragam kepanduan mereka masing-masing, warna biru untuk MA dan oranye untuk MTs. OSDHA dan mudabbir seakan-akan menjadi tokoh utama pada malam hari itu. Mereka menyiapkan semua kebutuhan acara dari awal sampai akhir, bahkan sampai hal-hal kecil sekalipun, walaupun acara yang diadakan begitu sederhana tapi sudah cukup untuk menyentuh hati para santri. Ditambah lagi dengan adanya tausiyah yang disampaikan oleh akhinaa Maharsi Martina Nurcahyo Sudaryo selaku musyrif pengabdian di tahun ini. Seolah mengingatkan kembali kejadian terkutuk di tahun 1965 yang merengut nyawa putra-putra terbaik bangsa Indonesia oleh pemberontak G30S/PKI. Gerakan itu bukan hanya ancaman terhadap stabilitas negara, tetapi juga terhadap agama. Terutama Islam yang sejak awal ditolak oleh ideologis komunis yang cenderung anti-Tuhan. Penyampaian Tausiah yang Berlangsung Khidmat Tausiyah yang disampaikan begitu tegas yang dapat membakar semangat muda para santri. Mulai dari sejarah bagaimana pengkhianat bangsa itu bisa hadir di tanah air, sampai pernyataan bahwa mereka tidak akan pernah bisa berdampingan bersama bangsa Indonesia. Karena kepercayaan mereka yang tak bertuhan, tidak akan pernah selaras dengan sila pertama yakni: Ketuhanan Yang Maha Esa, apalagi selaras dengan agama Islam. “Komunis bukan hanya sebuah ideologi, tetapi ancaman yang berusaha menghapus nilai agama dan budaya bangsa. Santri harus menjadi benteng agar sejarah kelam itu tidak terulang,” tegas beliau. Baca juga : Semangat Juang 45 Tersulut dalam Lomba Agustusan Santri Darul Hijrah Salam Pada masa itu, banyak pesantren dan santri ikut berdiri di garda depan untuk mempertahankan keutuhan bangsa, sekaligus menjaga akidah umat agar tidak terpengaruh paham yang menyesatkan. Kaum komunis sangat membenci umat beragama, terutama umat muslim karena para santri dan umat muslim secara keseluruhan merupakan kontributor terbesar saat masa Pra-Kemerdekaan. Bagaimana bisa mereka mengambil alih bangsa ini sedangkan benteng terkuatnya belum bisa dirobohkan? Maka dari itu mereka sering sekali bergesekan, bahkan tak jarang membantai umat muslim terutama di pondok-pondok pesantren.

Read More

Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober: Dari Resolusi Jihad Hingga Penetapan Presiden

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 Yang dipimpin KH. Hasyim Asy’ari “Pendiri Nahdlatul Ulama” Merupakan Titik Awal Peran Serta Santri Dan Ulama Dalam Merebut Serta Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Bekasi – 1miliarsantri.net: Sejak 22 Oktober 2015, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengakuan negara atas peran besar santri dan ulama dalam merebut serta mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Latar belakangnya erat kaitannya dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dipimpin KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Asal-Usul Hari Santri Nasional Hari Santri berawal dari peristiwa sejarah pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945. Saat itu, Belanda yang diboncengi sekutu berusaha kembali menjajah Indonesia. Melihat kondisi tersebut, para ulama di Jawa Timur segera bergerak untuk mengobarkan semangat jihad demi mempertahankan kemerdekaan. KH. Hasyim Asy’ari kemudian mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Isinya menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim). Seruan ini membuat semangat rakyat, khususnya di Surabaya, semakin berkobar dan meletuslah pertempuran 10 November 1945 yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan. Penetapan Hari Santri Nasional Untuk mengenang peristiwa bersejarah dan semangat juang Ulama dan Santri, pada tahun 2015 Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Sejak saat itu, setiap pesantren, ormas Islam, dan masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri dengan berbagai kegiatan, mulai dari apel santri, kirab, pengajian, hingga diskusi kebangsaan. Makna Hari Santri Hari Santri tidak hanya mengingatkan kita pada perjuangan fisik melawan penjajah, tetapi juga mengandung pesan penting:

Read More

Presiden Prabowo Gelar Rapat Bahas MBG dan Program Strategis Usai Lawatan Luar Negeri

Presiden Prabowo gelar rapat di Kertanegara bahas Program MBG, ketahanan pangan, kesehatan gratis hingga pembangunan strategis usai lawatan luar negeri. Jakarta – 1miliarsantri.net: Sekembalinya dari luar negeri dalam rangkaian kunjungan kerja kenegaraan, Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat yang dihadiri sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di kediaman pribadinya, Jalan Kertanegara, Jakarta, pada Minggu petang (28/9). Rapat yang berlangsung sekitar dua jam itu digelar segera setelah Presiden Prabowo kembali dari lawatan luar negeri. Meski bertepatan dengan hari libur, pertemuan tersebut menunjukkan komitmen Presiden dalam memastikan jalannya program prioritas pemerintah tetap sesuai rencana dan tepat sasaran. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulis menyampaikan bahwa salah satu topik utama yang dibahas adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini kembali mendapat sorotan karena dinilai sangat penting bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. “Salah satu yang menjadi pembahasan utama adalah mengenai Program Makan Bergizi Gratis, terkait langkah terbaik dan evaluasi agar program ini dapat berjalan baik sesuai dengan yang direncanakan dan tepat sasaran,” ujar Seskab Teddy. Presiden Beri Arahan Teknis dan Detil Mengutip setkab.go.id, Teddy menuturkan bahwa Presiden Prabowo memberikan arahan yang sangat teknis terkait implementasi MBG. “Presiden Prabowo memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat detil, bahkan sangat teknis, misalnya berkenaan dengan masalah kedisiplinan, prosedur, terutama masalah kebersihan,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan perhatian Presiden tidak hanya pada aspek kebijakan besar, tetapi juga hingga ke level operasional lapangan. Selain membahas MBG, rapat tersebut juga menyinggung sejumlah program strategis pemerintah di berbagai sektor. Di antaranya adalah ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, energi, kelautan, program Desa Nelayan, penguatan Koperasi Desa, serta pembangunan Tanggul Laut Pantai Utara Jawa.

Read More
Kasus Chromebook Jadi Pelajaran

Kasus Chromebook Jadi Pelajaran, Transformasi Digital Sekolah Harus Lebih Serius

Malang – 1miliarsantri.net : Kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) hendaknya menjadi refleksi dalam tranformasi digital sektor pendidikan. Di balik visi percepatan digitalisasi, minimnya pengawasan justru menimbulkan persoalan serius, baik dari sisi hukum maupun manfaatnya di lapangan. Diketahui sebelumnya pengadaan Chromebook untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia dilakukan melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Satuan Pendidikan (DSP) sejak tahun 2021. Anggaran yang digelontorkan tidak kecil, yaitu sekitar Rp 9,9 triliun selama periode 2019 hingga 2023. Namun, upaya besar itu tercoreng oleh dugaan korupsi yang merugikan keuangan negara hingga Rp 1,98 triliun. Kejaksaan Agung telah menaikkan kasus ini ke tahap penyidikan dan menetapkan sejumlah tersangka, termasuk pejabat di lingkungan Kemendikbudristek serta pihak swasta. Salah satu pokok permasalahan yaitu dugaan mark-up harga dan pemilihan sistem operasi yang dinilai tidak sesuai kebutuhan sebagian besar sekolah, terutama di daerah dengan akses internet terbatas. Perangkat tak Tepat Sasaran Kasus Chromebook ini memperlihatkan bahwa penyediaan perangkat keras bukan serta-merta menjawab kebutuhan sekolah dalam beradaptasi dengan pembelajaran digital. Justru, di banyak daerah perangkat tersebut tidak terpakai secara optimal. Beberapa sekolah bahkan membiarkan Chromebook tetap dalam kardus karena keterbatasan listrik dan jaringan internet. Bukan itu saja, guru belum dibekali pelatihan teknis memadai. Lebih jauh lagi, dalam beberapa kasus, pengadaan perangkat juga tidak mempertimbangkan daya dukung teknis sekolah. Misalnya, tidak adanya tenaga IT yang bisa membantu guru dan siswa dalam mengoperasikan Chromebook. Bahkan ada sekolah yang hanya memiliki satu sumber listrik aktif di seluruh bangunan, yang tentu saja menyulitkan pemanfaatan perangkat digital dalam pembelajaran. Padahal, mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim sempat menyatakan bahwa program digitalisasi ini telah menjangkau lebih dari 77.000 sekolah dan 97 persen perangkat telah diterima. Namun, penerimaan perangkat tidak otomatis berbanding lurus dengan pemanfaatan. Tanpa dukungan infrastruktur dan sumber daya manusia yang siap, perangkat digital cenderung hanya menjadi simbol modernisasi semu. Permasalahan ini diperparah oleh pola implementasi yang bersifat top-down. Sekolah-sekolah di berbagai daerah tidak dilibatkan secara penuh dalam perencanaan maupun pemetaan kebutuhan. Imbasnya, banyak institusi pendidikan menerima alat yang tidak sesuai dengan kapasitas dan kesiapan masing-masing. Beberapa sekolah negeri di daerah tertinggal bahkan tidak memiliki akses internet yang memungkinkan pemanfaatan Chromebook secara optimal.

Read More
Tradisi Maulid Nabi di Betawi

Begini Uniknya Tradisi Maulid Nabi di Betawi

Malang – 1miliarsantri.net : Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak pernah lepas dari ekspresi budaya lokal yang membentuk kekhasan di setiap daerah. Di tengah kota metropolitan seperti Jakarta, khususnya di kalangan masyarakat Betawi, peringatan Maulid bukan hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dilestarikan lintas generasi. Bagi masyarakat Betawi, Maulid Nabi adalah momen spiritual sekaligus sosial yang mengikat hubungan antarwarga, keluarga, bahkan antar-kampung. Lebih dari sekadar pembacaan sejarah kelahiran Nabi melalui kitab Barzanji, peringatan Maulid di tanah Betawi berlangsung dengan semarak, menyatukan nilai religius, tradisi lokal, dan kebersamaan komunal. Kitab Barzanji dalam Setiap Hajatan Kitab Barzanji menjadi elemen utama dalam perayaan Maulid Nabi di berbagai wilayah Indonesia, tak terkecuali di Betawi. Kitab yang berisi syair-syair pujian kepada Nabi dan kisah hidupnya ini dibacakan dengan irama khas, menciptakan suasana khidmat sekaligus hangat. Menariknya, di kalangan masyarakat Betawi, pembacaan Barzanji tidak hanya terbatas pada bulan Maulid (Rabi’ul Awal), tetapi juga hadir dalam berbagai kegiatan lainnya. Mulai dari acara tasyakuran, khitanan, akad nikah, hingga peringatan kematian, kitab Barzanji selalu menjadi pengiring utama. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya keterikatan masyarakat Betawi terhadap sosok Nabi Muhammad SAW, sekaligus memperlihatkan bagaimana unsur spiritual menyatu dalam siklus kehidupan masyarakatnya. Lebih dari itu, sebagian masyarakat Betawi mulai membaca Maulid sejak bulan Rabi’ul Awal hingga Rajab. Keyakinan ini berangkat dari pemahaman bahwa ketiga bulan tersebut adalah masa yang dipenuhi berkah kelahiran Rasulullah. Tak heran jika tradisi pembacaan Barzanji dapat berlangsung berbulan-bulan, mewarnai malam-malam warga dengan lantunan doa dan pujian. Petasan sebagai Penanda Kegembiraan Salah satu aspek yang membedakan tradisi Maulid Nabi di Betawi dengan daerah lain adalah hadirnya petasan. Meskipun bagi sebagian masyarakat hal ini tampak sebagai elemen hiburan semata, petasan memiliki makna historis dan simbolis yang dalam. Penggunaan petasan dalam budaya Betawi merupakan bentuk akulturasi dengan tradisi Tionghoa, yang sejak dulu menggunakan petasan sebagai penolak bala dan pengusir roh jahat. Masyarakat Betawi kemudian mengadaptasi elemen ini dalam berbagai hajatan, termasuk Maulid Nabi, sebagai bentuk kegembiraan dan simbol ajakan kepada warga sekitar untuk turut hadir. Secara fungsional, petasan menjadi semacam “kode” undangan. Ketika suara petasan terdengar, warga dari kampung-kampung sekitar akan tahu bahwa sedang ada perayaan. Mereka pun akan datang berbondong-bondong, membawa serta makanan, kerabat, dan semangat gotong royong.

Read More
Khazanah Pesantren

Khazanah Pesantren, Dari Kitab Kuning ke Ruang Siber

Malang – 1miliarsantri.net : Di antara menara-menara surau dan riuhnya lodak santri, khazanah pesantren telah lama menjadi benteng keilmuan Islam tradisional seperti kitab kuning, sorogan, bandongan, bahkan bahtsul masail. Kini, khazanah pesantren menghadapi era baru saat kitab kuning tak lagi terbatas di ruang kelas atau mushala, tetapi meluas ke jaringan siber (digital). Transformasi ini tidak hanya tentang digitalisasi teks atau arsip, namun tentang bagaimana nilai-nilai luhur pesantren tetap hidup dan relevan di zaman yang makin serba cepat dan layar menyala. Digitalisasi sebagai Wujud Kontemporer Khazanah Pesantren Khazanah pesantren sangat identik dengan kitab kuning, karya ulama klasik yang ditulis dalam bahasa Arab atau campuran Arab-Pegon, menyimpan ajaran tafsir, fikih, ushul, akhlak, dan tasawuf. Kini perubahan zaman membawa khazanah pesantren ke ruang siber. Pemerintah lewat Kementerian Agama (Kemenag) menginisiasi proyek seperti aplikasi Tarkib Digital, repository kitab kuning Nusantara, dan platform “Rumah Kitab” sebagai media pembelajaran online berbasis kitab kuning. Inovasi-inovasi ini membuktikan khazanah pesantren tidak stagnan, tetapi adaptif terhadap kebutuhan generasi kekinian yang ingin belajar agama lewat gadget. Pengajian kitab kuning secara daring sudah praktis dan menjangkau santri di pelosok, memungkinkan khazanah pesantren tetap menyala walaupun tanpa bangunan fisik. Tantangan Memelihara Khazanah Pesantren di Era Siber Tidak semua hal dalam digitalisasi khazanah pesantren berjalan mulus. Ada tantangan keilmuan, seperti kitab kuning kadang dipotong-potong atau disederhanakan agar cocok dengan format digital singkat, sehingga kedalaman teks atau konteks tradisional terabaikan. Ada pula tantangan teknis, yaitu akses internet di daerah terpencil masih bermasalah, koleksi kitab kuning asli belum semuanya terdigitalisasi, dan ada kendala hak cipta atau sanad ilmu. Selain itu, khazanah pesantren di ruang siber berpotensi kehilangan suasana spiritual pengajian tradisional seperti tatap muka, wudu, suasana kitab, bertanya langsung ke kiai. semua ini yang sulit diganti oleh layar.

Read More
Dari Seribu Rupiah Menuju Sejahtera

Dari Seribu Rupiah Menuju Sejahtera: Donasi sebagai Jalan Bersama

Malang – 1miliarsantri.net : Donasi, meski kecil nilainya, namun memiliki kekuatan besar dalam membentuk wajah kesejahteraan umat. Di tengah kesenjangan ekonomi yang masih tinggi, semangat memberi tidak harus menunggu kaya. Donasi sekecil seribu rupiah bisa menjadi jalan bersama yang menghubungkan satu kebutuhan dengan satu kepedulian. Ketika dilakukan secara kolektif, kontribusi kecil itu bisa mengubah kehidupan membiayai pendidikan, memenuhi kebutuhan pangan, bahkan memulai usaha kecil bagi mereka yang tertinggal secara ekonomi. Donasi adalah bentuk solidaritas di tengah masyarakat yang ingin tumbuh dan pulih bersama. Donasi merupakan praktik sosial yang tidak membedakan status, usia, atau kemampuan ekonomi, semua orang bisa terlibat. Dalam tradisi Islam, zakat dan sedekah menekankan pentingnya berbagi. Namun di luar aspek keagamaan, donasi juga tumbuh sebagai gerakan sosial yang menghubungkan orang yang memiliki dengan yang membutuhkan melalui skema kolaboratif, seperti crowdfunding atau program infak harian. Inklusivitas donasi menjadi fondasi penting dalam membangun kesejahteraan bersama. Ketika seluruh elemen masyarakat merasa punya ruang untuk berkontribusi, maka upaya membangun kehidupan sosial yang lebih setara menjadi lebih mungkin tercapai. Donasi Mikro: Kecil Nilainya, Besar Dampaknya Fenomena donasi mikro menunjukkan bahwa jumlah bukan satu-satunya ukuran dampak. Seribu rupiah yang disumbangkan oleh satu orang mungkin terasa kecil, tetapi jika dilakukan oleh sejuta orang, maka nilainya menjadi luar biasa. Konsep ini telah diadaptasi oleh banyak platform digital yang memfasilitasi donasi mikro, seperti Kitabisa atau BenihBaik. Beberapa inisiatif donasi bahkan sengaja menggunakan pendekatan mikro untuk mendekatkan donasi ke kelompok muda atau masyarakat berpenghasilan rendah. Misalnya, program “uang kembalian untuk kebaikan” di minimarket, yang menyulap receh menjadi program bantuan kesehatan, pendidikan, dan pangan. Donasi kecil ini berhasil menciptakan efek psikologis bahwa setiap orang bisa berdampak, sekecil apa pun kontribusinya. Donasi dan Pemberdayaan Ekonomi Umat Lebih dari sekadar bantuan langsung, donasi juga bisa dimanfaatkan sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi. Lembaga-lembaga sosial mulai mengarahkan dana donasi untuk modal usaha mikro, pelatihan kerja, hingga pembentukan koperasi berbasis komunitas. Pola ini membuat penerima donasi tidak hanya bertahan dari krisis, tetapi punya kesempatan untuk tumbuh dan mandiri.

Read More

Transformasi Digital Sekolah Langkah Penting Menuju Pendidikan Masa Depan

Malang – 1miliarsantri.net : Dalam percakapan publik saat ini, transformasi digital sekolah sering kali dipahami semata-mata sebagai pengadaan perangkat keras seperti laptop, proyektor, atau koneksi internet. Pandangan ini mengerdilkan makna transformasi itu sendiri. Padahal, transformasi digital dalam pendidikan bukan sekadar sebagai alat atau perangkat, tetapi menyangkut perubahan menyeluruh dalam ekosistem belajar. Seperti halnya cara guru mengajar, cara siswa belajar, cara sekolah dikelola, hingga bagaimana teknologi menjadi katalis peningkatan mutu pendidikan. Transformasi Digital : Dari Pengadaan Menuju Perubahan Budaya Pengadaan perangkat memang penting, tetapi transformasi digital sejati baru terjadi ketika sekolah membangun budaya yang mendukung pemanfaatan teknologi secara bermakna. Transformasi ini menuntut semua elemen sekolah, dari kepala sekolah, guru, staf administrasi, hingga siswa untuk mengadopsi pola pikir baru. Budaya digital berarti menjadikan teknologi sebagai bagian dari proses berpikir, bukan sekadar alat presentasi. Guru perlu merasa nyaman bereksperimen dengan pendekatan baru dalam mengajar, siswa diajak lebih aktif dan kolaboratif, serta pimpinan sekolah perlu membuka ruang untuk inovasi. Tanpa ini, semua perangkat hanya akan menjadi simbol tanpa substansi. Transformasi Digital dan Peran Guru sebagai Agen Perubahan Guru adalah jantung dari transformasi digital. Tidak cukup hanya melatih mereka mengoperasikan perangkat, namun juga penting mengembangkan kompetensi pedagogi digital. Transformasi digital juga menuntut guru untuk adaptif dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mereka harus diberi ruang untuk salah, didorong untuk mencoba pendekatan baru, dan didukung dalam proses peningkatan kapasitas. Tanpa pelatihan berkelanjutan dan komunitas belajar, transformasi digital bisa berhenti hanya sebagai jargon dalam dokumen perencanaan. Baca juga : Tantangan Dan Solusi Transformasi Digital Sekolah Infrastruktur dan Kebijakan yang Mendukung Transformasi Digital Di luar manusia, aspek teknis seperti infrastruktur juga menjadi kunci transformasi digital. Sayangnya, banyak sekolah yang belum memiliki jaringan internet stabil, perangkat yang memadai, atau bahkan teknisi untuk pemeliharaan. Oleh karena itu, perlu komitmen jangka panjang dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk menjamin keberlangsungan dukungan infrastruktur. Lebih dari itu, regulasi juga harus mendukung. Misalnya, kebijakan tentang keamanan data siswa, kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta insentif bagi guru yang berhasil menerapkan pembelajaran digital secara efektif.

Read More

Nathan Tjoe-A-On, Andalan Willem II di Liga 2 Belanda dan Harapan Baru Timnas Indonesia

Nathan Tjoe-A-On tampil penuh saat Willem II menang 2-1 atas Vitesse di Eerste Divisie. Simak kiprah bintang Timnas Indonesia yang jadi andalan di Belanda Jakarta – 1miliarsantri.net: Pemain Indonesia di era PSSI dengan ketuanya Erick Thohir seaat ini terus memberikan kontribusi positrif bagi klub yang mereka bela. Kabar membanggakan datang dari kancah sepak bola Eropa. Pemain Timnas Indonesia, Nathan Tjoe-A-On, kembali menunjukkan perannya sebagai andalan klub Willem II di kompetisi Liga 2 Belanda (Eerste Divisie). Dalam laga terbaru, Nathan dipercaya tampil penuh kala Willem II menaklukkan Vitesse dengan skor 2-1. Performa solid sang bek kiri berusia 22 tahun itu membantu klub meraih kemenangan penting sekaligus menjaga posisi di papan atas klasemen. Willem II Tempel Ketat Persaingan Promosi Nathan buktikan kontribusi positifnya untuk Willem II. Hasil positif melawan Vitesse membuat Willem II kini mantap bertengger di posisi lima klasemen sementara Eerste Divisie. Dengan kompetisi yang masih panjang, peluang mereka untuk bersaing memperebutkan tiket promosi ke Eredivisie tetap terbuka lebar. Pelatih Willem II menaruh kepercayaan besar kepada Nathan, baik sebagai bek kiri maupun gelandang bertahan. Kontribusinya dalam menjaga lini pertahanan serta membantu transisi serangan menjadi faktor penting dalam performa stabil tim. Jadwal Terdekat Willem II Bagi para penggemar yang ingin mengikuti perjalanan Nathan bersama Willem II, berikut jadwal pertandingan berikutnya: Dua laga ini akan menjadi ujian konsistensi Willem II sekaligus kesempatan bagi Nathan untuk kembali membuktikan kualitasnya di level klub.

Read More

Ustadz Abdul Somad Tekankan Toleransi Di Mabes Polri, Perkuat Sinergi Ulama dan Polri

Jakarta – 1miliarsantri.net: Ada yang istimewa di Mabes Polri dengan kehadiran Ustadz Abdul Somad, da’i internasional yang dikenal dengan sapaan UAS memberikan ceramah di Mabes Polri, menekankan pentingnya toleransi beragama, penguatan mental, dan hubungan harmonis antara Polri dan masyarakat. UAS menyampaikan pesan penting tentang toleransi beragama dalam ceramahnya di Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta Selatan, Jumat (26/9/2025). Dalam kesempatan tersebut, UAS menegaskan bahwa menjaga toleransi adalah kunci untuk memperkuat persatuan di Indonesia. Pentingnya Kekuatan Mental dan Amanah Dalam Menjalankan Tugas Pada kesempatan itu, selain menyoroti tentang toleransi, ustad yang pernah mengenyam pendidikan di Mesir dan Maroko juga mnenekankan pentingnya kekuatan mental dan amanah dalam menjalankan tugas. Sebagai tokoh agama, ia mengajak seluruh anggota Polri untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kejujuran dan integritas dalam pengabdian kepada masyarakat. “Saya menyampaikan sesuai dengan kapasitas saya sebagai guru, dosen, dan pendidik. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan hari ini bisa memperkuat hubungan Polri dengan masyarakat,” terangnya. Kapolri: Kegiatan Ini Untuk Perkuat Sinergi Polri-Ulama

Read More