Foto Udara Pelabuhan Gaza Sebelum dan Sesudah Agresi: Bukti Kehancuran yang Tak Bisa Disembunyikan

Foto Bukti Kehancuran Pelabuhan Gaza, Suara yang Lebih Jujur dari Propaganda Gaza, Palestina – 1miliarsantri.net: Foto udara Pelabuhan Gaza sebelum dan sesudah agresi menjadi saksi bisu kehancuran. Khaled Safi menyerukan agar dunia menyebarkan kebenaran dan menyingkap propaganda penjajah Israel. Kehancuran Gaza-Palestina, Suara yang Lebih Jujur dari Propaganda Zionis Israel Khaled Safi, influencer Palestina, kembali mengingatkan dunia bahwa apa pun yang dilakukan penjajah untuk mempercantik citranya, fakta kehancuran Gaza tidak bisa disembunyikan. Dalam unggahan terbarunya, ia membagikan foto udara pelabuhan Gaza sebelum dan sesudah agresi, sebagaimana ditulis Free Palestine. Sebarkan kebenaran dan singkap kepalsuan propagandanya. Kehancuran Gaza berbicara lebih keras daripada semua retorika mereka dan lebih jujur ​​daripada semua klaim mereka.” dikutip dari t.me/freepalestine. Mengungkap Kepalsuan Propaganda Khaled Safi menegaskan bahwa dunia harus terus mengungkap kebenaran. Foto-foto seperti ini penting untuk:

Read More

Krisis Kemanusiaan Gaza: Penghancuran dan Blokade Sistemik dan Masif

65 ribu warga Gaza tewas, rumah sakit hancur, bayi tanpa inkubator. Kesaksian parlemen Italia bongkar strategi kelaparan yang disengaja. Dunia ditantang: sampai kapan hanya diam tanpa beraksi? Suara Saksi Mata di Tengah Krisis Sistemik Italia, Palestina – 1miliarsantri.net | KRISIS kemanusiaan di Gaza bukan sekadar deretan angka statistik. Ia adalah kisah manusia, penuh luka dan kehilangan, yang terkuak melalui kesaksian seorang anggota parlemen Italia di hadapan majelisnya. Pidato tersebut mengguncang ruang sidang: bukan hanya karena deskripsinya yang memilukan, tetapi juga karena keberaniannya mengungkap pola kebijakan yang disengaja—bukan sekadar “dampak sampingan perang.” Kesaksian ini menyingkap tiga dimensi utama yang saling berkaitan: penghancuran infrastruktur sipil, blokade bantuan kemanusiaan, dan kelumpuhan institusi internasional. Tiga pilar inilah yang menopang analisis, sekaligus memperlihatkan wajah krisis yang jauh melampaui tragedi lokal—ia adalah ujian moral bagi dunia internasional. Infrastruktur Sipil: Target yang Disengaja Rumah sakit, sekolah, jaringan air, hingga kamp pengungsian adalah fondasi kehidupan masyarakat. Namun di Gaza, fondasi ini nyaris seluruhnya diruntuhkan. Kesaksian itu menyebut: 90% fasilitas kesehatan hancur, sekolah-sekolah rata dengan tanah, jaringan air tak lagi mengalir, bahkan kamp pengungsi ikut menjadi sasaran serangan. Akibatnya, penyakit yang bisa dicegah berubah menjadi penyebab kematian massal. Luka ringan bisa berakhir tragis karena ketiadaan fasilitas medis. Dari catatan parlemen Italia, lebih dari 65.000 warga sipil telah terbunuh. Namun yang lebih mengerikan: jumlah kematian tak langsung akibat runtuhnya layanan kesehatan dan sanitasi diprediksi melampaui korban serangan bom itu sendiri. Kelaparan sebagai Senjata Perang Kesaksian yang paling mencengangkan datang dari perbatasan Rafah. Seorang anggota parlemen Italia menceritakan bagaimana ia melihat konvoi truk bantuan sepanjang 15 kilometer dihentikan. Barang-barang yang ditolak masuk sungguh mencengangkan: kasur, inkubator bayi, hingga obat bius. Blokade ini bukan masalah logistik, melainkan keputusan politik yang disengaja. Dan dampaknya langsung terasa pada nyawa manusia: Barang Bantuan yang Diblokir Implikasi Kemanusiaan Langsung Kasur / Matras Pengungsi tidur di lantai dingin, rentan hipotermia, penyebaran penyakit meningkat. Inkubator Bayi Bayi prematur kehilangan akses perawatan kritis, angka kematian neonatal melonjak. Bahan Anestesi Operasi darurat dilakukan tanpa bius, melahirkan praktik medis yang kejam dan tidak manusiawi. Ketika barang-barang yang jelas bersifat kemanusiaan dianggap “ancaman,” maka jelas tujuannya bukan lagi keamanan, melainkan penghukuman kolektif. Asimetri Konflik yang Tak Terbantahkan

Read More

Jakarta Pusat Job Festival 2025: Temukan Peluang, Wujudkan Masa Depan Gemilang

Peluang Kerja Melalui Job Fair Virtual dan Job Festival Offline Jakarta Pusat – 1miliarsantri.net: Dalam rangka mengurangi angka pengangguran sekaligus meningkatkan layanan penempatan tenaga kerja, Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi Kota Administrasi Jakarta Pusat akan menggelar Jakarta Pusat Job Festival 2025. Mengusung tema “Temukan Peluang, Wujudkan Masa Depan Gemilang”, acara ini diselenggarakan secara hybrid, sehingga para pencari kerja dapat mengikuti baik secara daring maupun luring. Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin dalam video singkat yang tersebar dimedia sosial mengajak para pencari kerja untuk menghadiri Jakarta Pusat Job Festival pada 30 September – 1 Oktober 2025. Arifin mengatakan, “job festival ini dibuka dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore, dengan menghadirkan 36 perusahaan serta ribuan lowongan pekerjaan untuk berbagai kalangan usia, termasuk disabilitas. Semuanya gratis dan terbuka untuk umum.” Rangkaian Kegiatan Jakarta Pusat Job Festival 2025 Job Fair Virtual– 25 September – 8 Oktober 2025– Melalui situs resmi: jobfair.kemnaker.go.id Job Festival Offline– 30 September – 1 Oktober 2025– Gedung Pertemuan PertaminaJl. Cempaka Putih Tengah XX B No.20B, RT.3/RW.6, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Kecamatan Cempaka Putih, Kota Administrasi Jakarta Pusat. Perusahaan yang terdaftar hingga saat ini ada 10 perusahaan, dengan kebutuhan tenaga kerja sebanyak 309, jabatan sebanyak 41, sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Tenaga Kerja.

Read More

Rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional Resmi Dibuka Menteri Agama, Ini Makna Logo Hari Santri Nasional 2025

Menteri Agama Secara Resmi Membuka Rangkaian Hari Santri 2025 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Jombang – 1miliarsantri.net: Rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2025 telah secara resmi dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, 22 September 2025. Dalam kesempatan pembukaan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2025, Menteri Agama juga mengungkapkan rencana pemerintah terkait penguatan pondok pesantren. Kemenag akan menghadirkan Eselon I untuk menggantikan Eselon II dalam mengurus pondok pesantren. “Selama ini pondok pesantren diurus eselon II. Insya Allah, dalam waktu tidak lama lagi akan keluar ketetapan untuk menjadikannya diurus oleh satu eselon I tersendiri,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jombang, Jawa Timur, Senin (22/9/2025). Kemandirian Pesantren dan Kuatnya Pesantren Menunjukan Kekuatan Bangsa Nasarudin mengatakan, pesantren sejak dulu dikenal mandiri. “Kemandirian ini tidak boleh hilang. Namun, bukan berarti pemerintah lepas tangan. Buktinya, kita punya Undang-Undang Pesantren dan sekarang sedang dalam proses penguatan kelembagaan,” dikutip dari Kemenag.Go.Id Lebih lanjut Menag menambahkan, pemilihan Ponpes Tebuireng sebagai lokasi pembukaan Hari Santri 2025 penuh makna. “Di sinilah dimulai Resolusi Jihad yang kemudian menjadi cikal bakal Hari Santri. Tahun ini kita mengenang satu dasawarsa pengakuan negara terhadap santri,” terang Nasarudin. “Kalau pesantren kuat, bangsa ini juga akan kuat,” tegas Menag.

Read More

Adab First: Cultivating Character Through Language

Bondowoso – 1miliarsantri.net : “Knowledge without adab is like fire without light.” This powerful adage reminds us that knowledge by itself may burn intensely—but without the light of character, it may also consume and blind. How, then, can we pursue a foreign language—especially English—without losing the essence of Islamic etiquette? In today’s interconnected world, English opens doors: access to higher education, broader career opportunities, and platforms for global da‘wah. Yet fluency alone is hollow if it lacks moral grounding. Before we master grammar and vocabulary, we must plant our roots in adab—principles that guide how we speak, listen, and express ourselves. The Case for “Adab First” The Prophet ﷺ declared seeking knowledge as a duty for every Muslim. But scholars emphasize an important caveat: adab must precede and accompany knowledge. The Qur’ān commands: “And say, ‘My Lord, increase me in knowledge.’” (20:114) This invocation reveals more than a desire to learn; it signals humility, reverence, and awareness of our dependence on Allah. In our journey to master English, adab serves as a safeguard—protecting our faith, preserving our identity, and ensuring our manners grow alongside our language skills. In a world that often equates fluency with status, adab ensures our words bear dignity and purpose. Embodying Adab in English Learning To let adab become second nature in your language learning, incorporate the following principles:  Your first lesson must be planted in the heart. You learn not just for scores, jobs, or prestige—but as a means to benefit others, spread knowledge, and serve a higher cause.  When choosing expressions, avoid slang or idioms that clash with Islamic values. Favor words that reflect respect, honor, and dignity in every context.  Whether online or face to face: greet kindly, listen intently, and offer feedback with humility. Our manners shape the tone of learning spaces.  Engage with positive aspects of Western culture—innovation, diversity, creativity—but reject harmful elements gently and thoughtfully.  Let your English be used to motivate, uplift, and encourage. Avoid ridicule, gossip, or mockery. May each sentence become a small act of worship. Practical Steps to Learn English with Adab Transforming these ideals into habit requires strategy:

Read More
Jusuf Hamka

Inspirasi Pengusaha Muslim Sukses dengan Prinsip Gigih, Amanah, dan Sedekah ala Jusuf Hamka (Babah Alun)

Surabaya – 1miliarsantri.net: Pada usia 15 tahun, seorang remaja bernama Alun Josef, atau sekarang yang sudah kita kenal sebagai Jusuf Hamka hanya berani bermimpi menjadi tukang parkir. Anak dari seorang dosen dan guru itu sering kali pulang sekolah sambil mendorong termos berisi es mambo untuk dijajakan. Kadang ia juga membawa kacang goreng atau dagangan asongan lain, sekadar menambah uang jajan. Dari hasil berjualan keliling di sekitar Masjid Istiqlal, ia memperoleh Rp 120 sehari. Tak jarang pembeli memberikan uang kembalian, hal itu menambah semangat kecilnya. Sejak itu, ia terbiasa memupuk mimpi. Buku-buku motivasi tentang cara menjadi orang sukses menjadi bacaan favoritnya. Walau awalnya ia mengira hanya bualan, justru dari sanalah pola pikirnya terbentuk: janji harus ditepati, tanggung jawab dijaga, dan loyalitas ditanamkan. “Mimpi itu perlu. Jangan jadikan mimpi tercecer di jalanan. Bikin mimpi itu jadi kenyataan,” kenangnya suatu ketika. Dari Alun Josef ke Muhammad Jusuf Hamka Perjalanan hidupnya membawa Alun bertemu dengan sosok besar: Buya Hamka. Pada 1981, ia mantap mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan ulama kharismatik itu. Nama “Josef” pun berubah menjadi Muhammad Jusuf. Tiga bulan kemudian Buya menambahkan nama “Hamka” sebagai pengikat spiritual sekaligus amanah dakwah. Sejak itulah, Jusuf tidak hanya meniti karier, tetapi juga meyakini bahwa harta sejati ada pada kebermanfaatan. Ia kerap mengulang nasihat Buya, “Harta yang kamu makan akan jadi kotoran, harta yang kamu simpan akan jadi rebutan, tetapi harta yang kamu sedekahkan akan jadi tabungan kekal di akhirat.” Pahit Manis Perjalanan Bisnis Perjalanan bisnis yang dijalani Jusuf tidak selalu mulus. Saat krisis 1998 melanda, ia mengalami kerugian besar, ratusan juta dolar hilang hanya dalam hitungan jam. Dengan hati yang berat, ia pulang ke rumah, memeluk istrinya, dan memohon maaf. Setelah itu, ia mengambil sajadah dan bersujud.  Dalam doanya, ia pasrah seraya berkata, “Ya Allah, musibah ini aku terima. Harta yang dulu Engkau titipkan kini Engkau ambil kembali. Aku ikhlas. Tapi mohon, beri aku kesehatan, kesempatan, dan kekuatan berpikir. Insya Allah aku akan bangkit kembali.” Air mata istrinya jatuh mendengar doa itu, tetapi justru dialah yang menguatkan sang suami. Dengan lembut ia berkata, “Pa, jangan disesali. Kita bisa mulai lagi.” Dari titik terendah itulah, Jusuf belajar arti keteguhan. Berpegang pada prinsip kerja keras, kejujuran, dan semangat belajar tanpa henti, ia kembali melangkah hingga bangkit lebih kuat. Baca juga: LMI Berikan Dukungan Usaha ke Pedagang Keliling Prinsip Bisnis Babah Alun Tiga prinsip utama yang selalu ia pegang menjelma menjadi etos kerja yang relevan hingga kini: 1. Kerja Keras, Tiada Jalan Pintas Jusuf Hamka pernah mengalami masa sulit hingga harus berjualan di pinggir jalan. Namun, ia tidak pernah menyerah. Baginya, kerja keras adalah kunci. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam bahwa rezeki diperoleh melalui usaha yang sungguh-sungguh. Allah SWT berfirman: وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ Artinya:  “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).

Read More
digital marketing

Potensi Digital Marketing Syariah, Dapat Untung dengan Prinsip Islami

Surabaya – 1miliarsantri.net: Perkembangan teknologi telah mengubah wajah dunia bisnis secara drastis. Perusahaan besar maupun usaha kecil kini berlomba-lomba memanfaatkan digital marketing sebagai strategi utama untuk bertahan dan berkembang. Penulis  sendiri pernah bekerja di sebuah perusahaan yang sudah 30 tahun berdiri. Perusahaan itu memiliki sejarah panjang dengan sistem konvensional, mengandalkan pemasaran langsung, brosur, hingga jaringan pelanggan lama. Namun, seiring berjalannya waktu, cara lama tidak lagi efektif. Persaingan semakin ketat, konsumen semakin cerdas, dan perilaku belanja bergeser ke dunia digital. Akhirnya, perusahaan memutuskan merekrut talenta digital marketing agar mampu bersaing di era baru. Di titik inilah muncul pertanyaan penting, bagaimana agar digital marketing yang kita jalankan tetap sesuai dengan syariat Islam? Dan melalui artikel ini, sengaja penulis paparkan agar kita bisa belajar bersama. Perbedaan Digital Marketing Modern  dan Digital Marketing Syariah Meski sama-sama menggunakan media digital, ada perbedaan mendasar antara pemasaran modern dan pemasaran syariah. Perbedaan ini tidak hanya soal media, tetapi juga terkait tujuan, aturan, hingga etika yang melandasinya. 1. Tujuan Digital marketing modern biasanya berfokus pada penjualan naik dan keuntungan berlipat. Sementara itu, digital marketing syariah tetap ingin meningkatkan penjualan, tetapi orientasinya lebih luas yaitu  mencari keberkahan, kesejahteraan bersama, dan menerapkan  nilai yang diridhai Allah. 2. Prinsip yang dipegang Dalam sistem modern, selama produk laku dan menguntungkan maka  dianggap sah. Berbeda dengan syariah, produk yang dipasarkan wajib halal, akadnya jelas, dan terbebas dari riba maupun gharar. Inilah pondasi yang membedakan keduanya. 3. Strategi yang dipilih Pemasaran modern sering menghalalkan segala cara, mulai dari iklan menyesatkan hingga promosi berlebihan. Sementara itu, strategi syariah menekankan kejujuran, transparansi, dan etika komunikasi.  Rasulullah  bersabda: “Barang siapa menipu maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim) 4. Media yang digunakan Baik modern maupun syariah sama-sama memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp. Bedanya, pemasaran syariah lebih selektif dalam menyusun konten yang tidak menggunakan visual yang melanggar adab, tidak menyebarkan kebencian, dan tidak mengejar tren yang merusak moral. 5. Output dan Dampak Keberhasilan konvensional diukur dari grafik penjualan semata. Sedangkan dalam syariah, ukuran sukses lebih luas yaitu keuntungan yang halal, konsumen yang puas, serta kebermanfaatan bisnis bagi banyak orang. Dari sini jelas bahwa digital marketing syariah bukan hanya tentang cara menjual, melainkan bagaimana menjaga nilai Islam di tengah derasnya persaingan digital. Baca juga: LMI Berikan Dukungan Usaha ke Pedagang Keliling

Read More

Di Balik Ilusi Solusi Dua Negara, Rakyat Palestina Masih Bertahan

Palestina – 1miliarsantri.net | Solusi dua negara kerap dijual sebagai jalan keluar konflik, namun bagi rakyat Palestina, ia lebih mirip ilusi yang menambah luka lama. Di balik jargon diplomasi, mereka hidup dalam trauma kolektif, kehilangan arah, dan keputusasaan yang merayap. Meski begitu, di tengah reruntuhan, harapan masih tumbuh: kekuatan rakyat yang menolak menyerah, serta solidaritas dunia yang mulai melihat perjuangan Palestina sebagai isu kemanusiaan sejati. Manusia di Balik Narasi Politik Ketika para pemimpin dunia sibuk berdebat tentang solusi politik, dari meja perundingan hingga ruang sidang internasional, ada hal mendasar yang sering terlupakan: manusia. Bukan sekadar angka korban atau statistik di layar televisi, melainkan kehidupan yang terkoyak, keluarga yang tercerai-berai, dan komunitas yang kehilangan arah. Semua jargon diplomasi kerap menutupi kenyataan pahit di lapangan: penderitaan yang tiada henti. Bencana yang Lebih dari Sekadar Angka Konflik yang berkepanjangan melahirkan luka kemanusiaan yang tak tertandingi. Ia bukan hanya soal rumah yang hancur atau ekonomi yang runtuh. Yang lebih menakutkan adalah jejak psikologis yang melekat—trauma kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah masyarakat dipaksa hidup dengan rasa takut, kehilangan, dan harapan yang dikubur hidup-hidup setiap hari. Trauma ini tak hanya melumpuhkan jiwa, tetapi juga melemahkan kemampuan rakyat untuk berperan dalam menentukan masa depan politik mereka sendiri. Gelombang Putus Asa Dalam kondisi serba tertekan, keputusasaan menjadi wabah yang merayap cepat. Ketika janji politik tak kunjung ditepati, ketika pihak yang seharusnya membela justru dituding ikut melanggengkan sistem kolonial, rakyat merasa terbuang. Mereka hidup tanpa kompas, seolah ditinggalkan untuk mengarungi masa depan sendirian. Frustrasi ini bukan hanya melemahkan semangat perjuangan, tapi juga merusak tatanan sosial yang menjadi penopang kehidupan sehari-hari. Ilusi Politik yang Tak Pernah Usai Di meja diplomasi, istilah “solusi dua negara” kerap disebut sebagai jalan keluar. Namun bagi banyak rakyat, itu lebih mirip ilusi ketimbang solusi. Syarat-syarat yang tidak adil hanya akan melahirkan versi baru dari perjanjian lama yang gagal. Energi, waktu, dan dana terbuang untuk sesuatu yang sudah terbukti rapuh, sementara di lapangan, pembersihan etnis terus berjalan tanpa henti. Harapan rakyat pun semakin terkikis, tergantikan oleh rasa skeptis pada semua bentuk kesepakatan yang lahir dari luar suara mereka. Harapan yang Tumbuh dari Akar Rumput

Read More

Pengakuan Dunia, Derita Gaza: Legitimasi di Atas Kertas, Air Mata di Bawah Reruntuhan

Gaza – 1miliarsantri.net | Saat para pemimpin dunia berkumpul, memberikan pengakuan resmi atas status kenegaraan Palestina—sebuah kabar yang disiarkan di seluruh penjuru dunia—timbul sebuah pertanyaan krusial dari balik puing-puing: Apakah pengakuan di atas kertas bisa menghentikan kesengsaraan? Pergerakan diplomatik dari negara-negara Barat seperti Prancis, Inggris, Kanada, dan lainnya yang mengakui negara Palestina memang disambut sebagai penegasan legitimasi. Namun, bagi mereka yang hidup di tengah operasi militer yang masih berlangsung dan kelaparan hebat, pengakuan itu terasa “tidak berharga”. Fokus utama, jauh melampaui peta dan batas negara, adalah kebutuhan paling mendasar: diakui sebagai manusia biasa. Suara di Tengah Fajar yang Kelabu Kenyataan di Gaza saat ini adalah medan perang yang menghancurkan. Seluruh wilayah berada dalam reruntuhan. Hampir semua penduduk Palestina telah mengungsi. Dalam konteks penderitaan ini, Adeeb Abu Khalid, seorang pengungsi dari Kota Gaza, menyampaikan inti dari harapan mereka: “Yang penting bagi kami adalah perang berhenti,”. Ia menambahkan bahwa saat ini, mereka hidup dalam kelaparan, diliputi kesengsaraan. Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan betapa parahnya situasi ini, dengan setidaknya 65.000 orang tewas, di mana sekitar setengahnya adalah perempuan dan anak-anak. Di tengah statistik yang mengerikan ini, pengakuan internasional terasa begitu jauh. Huda Masawabi, seorang pengungsi lainnya, mengungkapkan perasaannya secara lugas, menyatakan bahwa yang ia harapkan hanyalah agar Allah membuat orang-orang di luar sana mengakui mereka, atau setidaknya memperlakukan mereka sebagai “manusia biasa semata”. Air Mata dan Drama ‘Serial TV’ Bagi banyak orang, pergerakan diplomatik ini hanyalah sebuah tontonan yang tidak memiliki dampak jangka pendek di lapangan. Di Tepi Barat, wilayah yang diimpikan menjadi jantung negara Palestina masa depan, kenyataan dipertentangkan dengan perluasan permukiman Israel dan peningkatan kekerasan pemukim. Tragedi kemanusiaan terekam dalam momen yang tak terlupakan, seperti tangisan pilu Omar Al-Zaqzouq, yang berusia 7 tahun, yang berduka di atas jenazah adik laki-lakinya, Malek, yang baru berusia 2 tahun, terbunuh dalam serangan militer. Melihat pemandangan ini, Murad Banat, seorang pria Palestina yang mengungsi, merasakan keputusasaan atas janji-janji yang diberikan dunia. Ia menyebut pengakuan terbaru ini “hanya omong kosong”. Ia membandingkan dunia yang menonton mereka dengan teater: “Semua orang menonton kami seperti drama. Seperti serial TV, setiap hari ada serial TV,”. Mohammad Hammad dari Kamp Jenin juga merasakan hal serupa, menegaskan bahwa semua pengakuan ini “tidak ada artinya,” karena mereka masih berada di bawah pendudukan.

Read More
Masjid Nabawi

3 Wisata Religi Madinah Selain Masjid Nabawi

Surabaya – 1miliarsantri.net: Dulu kalau mendengar kota  Madinah yang diingat hanya Masjid Nabawi dan Quba. Tapi setelah mengunjungi Madinah di akhir tahun 2024 jadi tahu bahwa ada 3 masjid dekat Masjid Nabawi yang menyimpan jejak bersejarah sahabat nabi. Pertama kali masuk Masjid Nabawi melalui gate 310. Dalam perjalanannya kesana melewati Masjid Al-Ghamamah dan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Selain itu merasa bersyukur karena  lokasi hotel di Madinah “Manazel Al-Falah” berderet dengan Masjid Ali bin Abi Thalib bahkan hanya semenit menuju Masjid Nabawi melalui gate 315. Saat hari terakhir di Madinah, tepatnya setelah subuh memberanikan diri untuk jalan sendiri mengunjungi 3 masjid bersejarah itu. Yang dari awal memandangnya ada sebuah ketertarikan hati untuk mengunjunginya. Mengunjungi masjid-masjid bersejarah ini adalah salah satu cara untuk menghidupkan syiar Islam serta menguatkan iman. Dan tanpa basa basi lagi, yuk langsung lihat daftar 3 masjid berseharah tersebut di bawah ini! 1. Masjid Ali bin Abi Thalib Masjid ini mudah ditemukan ketika keluar dari gate 315 Masjid Nabawi tepatnya di jalan As-Salam. Jarak dari Masjid Nabawi sekitar 290 meter. Masjid ini pertama kali dibangun pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (87–93 H). Lalu pada tahun 1411 H, Raja Fahd memperlebar masjid  hingga 682 meter dan menambahkan menara setinggi 26 meter. Dulunya lokasi masjid ini merupakan teras rumah Ali bin Abi Thalib. Bahkan Nabi Muhammad pernah shalat ied di masjid Ali.  Masjid ini dibangun untuk mengenang pengabdian Ali bin Abi Tablin  yang merupakan sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad. Arsitektur masjidnya bernuansa putih sederhana yang memiliki satu kubah utama dan satu menara pucuk hitam. Masjid Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita bahwa keberanian dan keteguhan hati harus diiringi dengan kerendahan hati. Ali bin Abi Thalib bukan hanya menantu Rasulullah, tetapi juga sosok yang setia pada kebenaran, sehingga masjid ini menjadi simbol pengabdian tanpa pamrih. Baca juga: Sejarah Partai Syarikat Islam, Sebelum Terlahirnya Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda 2. Masjid Al-Ghamamah Pertama kali mau shalat Maghrib di Masjid Nabawi, pernah melewati sebuah masjid yang kubahnya penuh dengan burung merpati dan dinaungi awan sore menyejukkan. Melihat masjid itu serasa dibawa ke zaman Nabi, karena bangunan tua yang indah. Ternyata itu adalah Masjid Ghamamah/Al-Mushalla. Masjid ini mudah ditemukan ketika keluar dari gate 310 Masjid Nabawi. Dengan Masjid Nabawi berjarak sekitar 300 meter. Al-Ghamamah berada di sekitar Pasar Tamar. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Khalifah Umar bin Khattab tepatnya di posisi tempat shalat rasulullah. Bangunan masjid Ghamamah terkini merupakan renovasi dari Sultan Abdul Majid al-Ustmani. Di era  Raja Fahd pernah diperbaiki kembali pada 1411 H. Arsitektur masjid ini ada tiga kubah besar yang selalu dihinggapi burung merpati dan ada menara puncaknya. Didominasi dengan warna cream. Dan dinding masjidnya dari batu alam berwarna abu-abu.  Sebelumnya area masjid ini merupakan lapangan lapang di kawasan al-Manakha. Pada tahun kedua hijrah, rasulullah pernah shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Masjid ini dinamakan “Al-Ghamamah” yang dalam bahasa arab berarti “awan”. Dulu di lokasi masjid ini Nabi Muhammad melaksanakan shalat istisqa dan berdoa agar turun hujan dikala penduduk Madinah diserang kekeringan akut yang membuat masyarakat kesusahan. Setelah istiqomah itu, muncullah awan yang menjadi tanda turun hujan deras. Abu Hurairah ra meriwayatkan: “Setiap kali Rasulullah melewati Al-Mushalla (tempat shalat), beliau menghadap kiblat lalu berdoa.” (HR. Bukhari). Kisah turunnya hujan di Masjid Ghamamah ini memberikan pelajaran bahwa kunci menghadapi masa sulit adalah bersabar. Dan ketika hidup terasa kering tetaplah terus berdoa sepenuh hati maka karunia Allah akan datang. Yang pasti berdoa dan berharap kepada Allah tidak akan pernah mengecewakan. Allah pasti mendengar dan akan mengabulkannya di waktu terbaik. Masjid Al-Mushalla dibuka untuk shalat sunnah seperti Dhuha dan tahiyatul masjid. Tapi cuma bisa diakses untuk jamaah laki-laki.

Read More