Israel Klaim Tewaskan Mohammed Deif

Dhoha — 1miliarsantri.net : Menyusul kematian Ismail Haniyeh pada Rabu (31/7/2024), secara tiba-tiba, The Israel Defence Force (IDF) secara resmi mengumumkan kematian Mohammed Deif, Komandan Tertinggi Brigade Izzuddin el-Qassam, Kamis (1/8/2024). Padahal, dalam pada serangan dua pekan lalu, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pernyataan tersebut tidak dikeluarkan IDF. “Setelah memperoleh informasi intelijen, kami pastikan kematian Mohammed Deif, komandan Qassam, sayap militer gerakan Hamas, dalam serangan dua pekan lalu di Gaza,” tulis IDF dalam pernyataan resminya, dikutip Senin (5/8/2024). Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menyatakan, kematian Deif menandakan kemajuan besar dalam upaya menghabisi Gerakan Hamas sebagai organisasi militer dan pemerintahan dan tercapai sudah tujuan perang Gaza. Tetapi, kabar ini langsung dibantah Hamas. Anggota Biro Politik Hamas, Ezzat Rasyaq, menegaskan bahwa konfirmasi dan penegasian informasi tentang Syahidnya siapapun pemimpin Qassam adalah otoritas internal Qassam dan Hamas. “Dan apa yang belum diumumkan secara resmi dari kedua otoritas itu, maka informasi yang beredar di media atau pihak lain tidak bisa dibenarkan,” jelas Rasyaq. Pada 14 Juli 2024 lalu, tentara Zionis Israel melakukan pembantaian di Mawasi, barat kota Khan Younis yang menyebabkan gugurnya 90 warga Palestina dan terluka nya 300 yang lain, termasuk puluhan anak-anak dan perempuan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, saat it mengatakan operasi Mawasi menargetkan Deif dan wakilnya, Rafi’ Salamah. “Tetapi sampai sekarang belum dipastikan kematian mereka berdua,” kata Netanyahu. Merespons pernyataan tersebut pada waktu itu, Khalil el Hayah, Wakil Ketua Hamas di Jalur Gaza membantah kabar tersebut. Dia menegaskan Netanyahu hanya berharap pepesan kosong, kemenangan palsu. “Saya katakan ke Netanyahu, Mohammed Deif sekarang mendengar dan menertawakan kebohongan-Kebohongan Anda,” kata dia sembari menyatakan Netanyahu berupaya menggagalkan perundingan pergantian tahanan, menghentikan perang, dan membebaskan sandera, dari operasi-operasi itu. Deif adalah salah satu pendiri sayap militer Hamas, Brigade Qassam, pada 1990-an dan telah memimpin pasukan tersebut selama lebih dari 20 tahun. Dia juga disebut-sebut sebagai tokoh kunci yang merencanakan aksi bom bunuh diri yang menyebabkan kematian puluhan warga Israel. Israel mengidentifikasi dia dan pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, sebagai arsitek utama serangan 7 Oktober yang menewaskan sedikitnya 1.139 orang di Israel selatan dan memicu perang di Gaza. Pada pagi 7 Oktober, Hamas mengeluarkan rekaman suara langka Deif yang mengumumkan operasi Al-Aqsa yang menandakan serangan itu sebagai balasan atas serangan Israel di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, situs tersuci ketiga umat Islam. Deif, 58, jarang berbicara atau tampil di depan umum. Jadi ketika saluran TV Hamas mengumumkan bahwa dia akan berbicara pada tanggal 7 Oktober, warga Palestina di Gaza tahu bahwa sesuatu yang signifikan sedang terjadi. Berbicara dengan suara tenang dalam rekaman itu, Deif mengatakan Hamas telah berulang kali memperingatkan Israel untuk menghentikan kejahatannya terhadap warga Palestina, membebaskan para tahanan, dan menghentikan perampasan tanah Palestina. “Hari ini kemarahan Al-Aqsa, kemarahan masyarakat dan bangsa kita sedang meledak. Mujahidin kami [pejuang], hari ini adalah hari Anda untuk membuat penjahat ini mengerti bahwa masanya telah berakhir,” kata Deif. ‘Pahlawan rakyat’ dari Khan Younis Lahir pada 1965 di kamp pengungsi Khan Younis, yang didirikan setelah Perang Arab-Israel pada 1948, Mohammad Masri dikenal sebagai Mohammed Deif setelah bergabung dengan Hamas selama Intifada pertama, atau pemberontakan Palestina, pada 1987. Deif memiliki gelar di bidang sains dari Universitas Islam di Gaza, tempat dia belajar fisika, kimia, dan biologi. Dia mengepalai komite hiburan universitas dan sering tampil di atas panggung. Pada1989, saat puncak Intifada Palestina pertama, Deif ditangkap oleh Israel dan dibebaskan setelah 16 bulan ditahan. Dia menjadi kepala Brigade Qassam pada 2002 setelah Israel membunuh pendahulunya dan pemimpin pendiri, Salah Shehadeh. Beberapa upaya dalam hidupnya dimulai setelah dia menggantikan Shehadeh. Deif berarti “pengunjung” atau “tamu” dalam bahasa Arab, dan ada yang mengatakan hal itu karena komandan militer Hamas selalu bergerak diiringi pemburu Israel. Menurut laporan, Deif kehilangan matanya dan menderita luka serius di salah satu kakinya dalam salah satu upaya pembunuhan Israel. Kelangsungan hidupnya saat memimpin sayap bersenjata Hamas menjadikannya “pahlawan rakyat” di kalangan warga Palestina. Selama lebih dari 30 tahun, Deif diyakini telah mengembangkan jaringan terowongan kelompok tersebut dan keahliannya dalam membuat bom. Pada Agustus 2014, istri Deif dan putranya yang berusia tujuh bulan gugur dalam serangan udara Israel yang menargetkan sebuah rumah di Gaza tempat keluarga tersebut tinggal. Pada bulan Mei, jaksa Pengadilan Kriminal Internasional mengatakan dia telah meminta surat perintah penangkapan terhadap Deif, Sinwar dan tokoh Hamas lainnya terkait serangan 7 Oktober. Surat perintah juga dikeluarkan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas tanggapan Israel yang sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 38.584 orang dalam apa yang digambarkan oleh kelompok hak asasi manusia sebagai genosida yang sedang berlangsung. (zul) Baca juga :

Read More

Qotzman Bukan Syahid, Ternyata Penghuni Neraka

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dakwah Rasulullah Muhammad SAW selama di Madinah tidak sepi dari rongrongan kaum musyrikin Quraisy. Perang Uhud merupakan salah satu bukti nyata provokasi orang-orang kafir itu yang tidak ridha akan syiar Islam. Dalam pertempuran ini, pasukan Muslimin berjumlah sekitar tujuh ratus orang. Rasulullah SAW memimpin langsung mereka. Sementara itu, kaum musyrikin yang bertolak dari Makkah mencapai tiga ribu orang. “Kalah” jumlah tak berarti surutnya semangat jihad. Bahkan, tekad para sahabat Nabi SAW semakin kuat untuk melawan musuh-musuh Allah. Mati syahid menjadi sebuah kerinduan; melindungi Rasul SAW menjadi sebuah dorongan hati yang kuat. Salah seorang yang berangkat ke medan pertempuran dari Madinah ialah Qotzman. Ia ikut dalam kubu Muslimin. Pasukan Muslimin hampir saja berhasil merebut kemenangan. Namun, sekelompok yang ditugaskan untuk berjaga-jaga di atas bukit melalaikan tugasnya. Alhasil, sejumlah prajurit musyrikin yang dipimpin Khalid bin Walid (waktu itu belum menjadi Muslim) berhasil menyerang balik Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Barisan Muslimin pun panik dan porak poranda. Bahkan, Nabi SAW mengalami luka-luka pada wajah beliau. Tak sedikit sahabat yang gugur. Ketika pertempuran Uhud benar-benar usai, Muslimin menderita kekalahan. Sementara, kaum musyrikin kembali ke Makkah dengan rasa puas karena dendam sejak Perang Badar telah terlampiaskan. “Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman.”, kata salah seorang sahabat. Sebab, Qotzman ditemukan telah ikut gugur dengan luka-luka yang banyak di sekujur tubuhnya. Mendengar perkataan itu, Nabi Muhammad SAW menjawab, “Sungguh, dia itu adalah golongan penduduk neraka.” Para sahabat menjadi heran. Bagaimana mungkin seseorang yang telah berjuang dengan begitu gagah berani di medan pertempuran justru akhirnya dimasukkan Allah SWT dalam neraka? Rasulullah SAW lalu menjelaskan, “Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Qotzman mengambil pedangnya, kemudian mata pedang itu dihadapkan ke dadanya. Ia benamkan pedang itu ke dalam dadanya.” Qotzman ternyata mati bukan karena dibunuh musuh, melainkan bunuh diri. Menurut Nabi SAW, warga Madinah itu bunuh diri karena tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Nabi SAW juga mengungkapkan, sebenarnya sejak awal niat yang muncul dalam hati Qotzman sudah keliru. Sebab, lanjut beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, Qotzman sebelum berangkat telah berkata, “Demi Allah aku berperang bukan karena agama, tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan Madinah agar tidak dihancurkan kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku.” Maka dari itu, Rasulullah SAW mengingatkan para sahabatnya agar berhati-hati dalam memberikan penilaian. Belum tentu perbuatan yang tampak di mata orang-orang seperti amalan mulia benar-benar tulus. Bisa jadi justru sebenarnya tidak baik. “Sesungguhnya seseorang tampak benar-benar beramal dengan amalan penghuni surga menurut pandangan manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan sungguh seseorang tampak beramal dengan amalan penghuni neraka menurut manusia, padahal dia termasuk penghuni surga,” sabda beliau. (yan) Baca juga :

Read More

Kisah Syahidnya Abu Ubaidah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketika pada zaman sahabat Rasulullah SAW pernah dilanda wabah daulah Islam. Ketika itu, episentrum sebaran penyakit mematikan tersebut berada di Amawas, suatu kota sebelah barat Baitul Makdis, Palestina. Muhammad Husain Haekal dalam buku biografi tentang Umar bin Khattab menjelaskan, wabah tersebut terus menjalar ke Syam (Suriah) dan bahkan Irak. Tiap orang yang tertular tak lama kemudian akan meninggal dunia. Sebulan lamanya wabah tersebut menyeruak. Total korban jiwa mencapai 25 ribu orang. Basrah di Irak menjadi kota dengan jumlah korban terbanyak. Sapuan epidemi juga tiba di kompleks barak tempat tinggal tentara Muslimin di Syam. Jenderal Khalid bin Walid ikut terdampak. Sebanyak 40 orang anaknya meninggal dunia setelah terjangkit penyakit itu. Kala itu, Muslimin sedang konfrontasi dengan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Namun, para jenderal Romawi memilih pasif, alih-alih memanfaatkan “kesempatan” saat pasukan Islam diserang wabah. Sebab, mereka pun tak mau terimbas epidemi yang sama. Khalifah Umar bin Khattab menyadari bahaya sebaran wabah yang kian menjadi. Saat itu, sahabat berjulukan al-Faruq ini beserta rombongannya dalam perjalanan dari Madinah menuju Suriah (Syam). Turut bersama sang khalifah adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah. Khalifah Umar baru saja tiba di Sar, dekat Tabuk, ketika tiga tokoh tersebut memberitahukan kepadanya ihwal kian merebaknya wabah Amawas. Mendengar keterangan mereka, Umar merasa khawatir. Ia lantas memimpin musyawarah untuk menentukan sikap: apakah meneruskan perjalanan ke Syam atau balik ke Madinah. Sebagian mendesak agar perjalanan dilanjutkan. Sebagian yang lain meminta Umar untuk kembali saja ke Kota Nabi. Keesokan harinya, usai memimpin shalat subuh Umar berseru, “Saya akan kembali ke Madinah, maka ikutlah kalian pulang.” Namun, keputusan Umar itu didebat Abu Ubaidah. Salah satu jenderal terbaik kaum Muslimin ini mengatakan, dirinya tak mau meninggalkan pasukannya yang masih ada di barak di Syam. “Wahai Umar, kita akan lari dari takdir Allah?” tanya Abu Ubaidah, retoris. “Ya, lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah juga,” jawab Umar. Saat keduanya sedang beradu argumen, datanglah Abdurrahman bin Auf. Ia lantas mengingatkan kepada mereka berdua ihwal sabda Rasulullah SAW: “Jika ada wabah di suatu kota, janganlah kalian masuk. Kalau kalian sedang ada di dalamnya, janganlah kalian lari keluar.” Mendengar nasihat itu, Umar semakin merasa yakin. Ia dan para pengikutnya lantas beranjak pulang. Adapun Abu Ubaidah tetap dalam ijtihadnya, yakni meneruskan perjalanan ke Sam. Sebab, ia ingin mendampingi seluruh pasukannya yang masih bertahan di sana. Sesampainya di Madinah, berhari-hari lamanya Umar memikirkan keadaan rakyat–termasuk Abu Ubaidah–di Syam. Dalam benaknya, Abu Ubaidah-lah yang pantas menggantikannya kelaksebagai amirul mukminin. Al-Faruq kemudian bersurat kepada Abu Ubaidah. Isinya mengajak yang bersangkutan agar segera menemuinya di Madinah. Membaca surat itu, Abu Ubaidah sudah dapat menangkap maksud implisit Khalifah Umar. Sang khalifah hendak membebaskannya dari wabah. Ia pun menulis surat balasan, “Saya sudah tahu tujuan Anda kepada saya. Saya berada di tengah-tengah pasukan Muslimin. Saya tidak ingin menjauhi mereka dan berpisah dengan mereka sampai nanti Allah menentukan keputusan-Nya untuk saya dan untuk mereka. Lepaskanlah saya dari kehendak Anda, wahai Amirul mukminin, dan biarkanlah saya bersama dengan prajurit saya.” Ketika surat itu sampai di Madinah, Umar membacanya sambil menitikkan air mata. Ia pun menulis lagi surat kepada Abu Ubaidah. Isinya menyarankannya agar memimpin rakyat Syam untuk pindah ke tanah yang lebih tinggi. Belum sempat instruksi itu sampai dan dilakukan, Abu Ubaidah lebih dahulu meninggal dunia. Muadz bin Jabal tampil sebagai penggantinya. Namun, ia pun ikut terserang wabah yang sama hingga wafat beberapa hari kemudian. Posisinya digantikan oleh Amr bin Ash. Gubernur Mesir itu lantas berpidato di hadapan rakyat Suriah, “Penyakit ini bila sudah menyerang, menyala bagaikan api. Maka hendaknya kita berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit!” Seluruh warga mengikuti anjuran ini. Amr dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas hilang sama sekali. Amr kemudian bersurat ke Madinah. Khalifah Umar tak menyalahkan Amr yang berinisiatif melaksanakan instruksinya kepada Abu Ubaidah. Sesudah mengetahui ihwal meredanya wabah Amawas, Umar pun berangkat menuju Syam. Sang khalifah berusaha memulihkan kembali kondisi seluruh warga, termasuk yang sampai mengungsi ke bukit-bukit. (jeha) Baca juga :

Read More

Peraturan Pemerintah Hapus Praktik Sunat Perempuan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menetapkan dalam Pasal 102 menghapus praktik sunat perempuan. Berikut bunyi Pasal 102: Upaya Kesehatan sistem reproduksi bayi, balita, dan anak prasekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) huruf a paling sedikit berupa: a. Menghapus praktik sunat perempuan. b. Mengedukasi balita dan anak prasekolah agar mengetahui organ reproduksinya. c. Mengedukasi mengenai perbedaan organ reproduksi laki-laki dan perempuan. d. Mengedukasi untuk menolak sentuhan terhadap organ reproduksi dan bagian tubuh yang dilarang untuk disentuh. e. Mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat pada organ reproduksi. f. Memberikan pelayanan klinis medis pada kondisi tertentu. Hukum Sunat Perempuan Dalam Islam Ulama kharismatik, Buya Yahya Zainul Maarif yang akrab disapa Buya Yahya dalam sebuah kajian di Channel Youtube Al-Bahjah TV menjelaskan hukum khitan atau sunat bagi perempuan. “Hukum khitan dalam mazhab Imam Syafi’i yang dikukuhkan. Pendapat pertama, bagi kaum laki-laki dan perempuan wajib khitan dalam mazhab Imam Syafi’i. Meskipun perempuan wajib khitan dalam pendapat pertama dalam mazhab Imam Syafi’i,” terangnya. Pendapat kedua dalam mazhab Imam Syafi’i, khitan wajib bagi kaum laki-laki. Sunnah bagi kaum perempuan. Pendapat ini yang banyak digunakan di Indonesia. “Artinya walaupun sunnah tetap dianjurkan. Kalau anda mengambil pendapat yang wajib maka khitan putri anda. Kalau anda mengambil pendapat yang sunnah maka terserah anda mau dikhitan atau tidak,” ucap Buya. Ada dalam mazhab Imam Malik, khitan laki-laki dan perempuan hanya kemuliaan sunnah. Laki-laki dikhitan hukumnya sunnah, tapi tetap mereka khitan semua. Jadi jangan kemudian berkata mazhab Imam Malik tidak mau khitan. Dulu ada tokoh wanita dari Amerika yang melarang khitan perempuan ke mana-mana. Menurutnya khitan itu adalah penyiksaan dan lain sebagainya. Anda jangan ikut dia, anda punya Nabi Muhammad SAW. Khitan bagi perempuan adalah kemuliaan. Ada yang mengatakan wajib khitan, maka wajib melakukannya. Bagi yang mengatakan sunnah, maka melaksanakan khitan sebisa mungkin. Tapi yang perlu diperbaiki adalah cara mengkhitan perempuan. Ahli intan mengatakan ada wilayah tertentu yang diambil. Pada bagian perempuan hanya wilayah yang menonjol di bagian kelamin perempuan itu yang digesek saja, dilukai, itu bukan diambil. Karena kalau diambil bisa hilang syahwatnya. Sebab yang salah adalah mengambil sebanyak-banyaknya. “Para bidan dan dokter-dokter seharusnya sudah mengerti hal ini,” pungkasnya. (wink) Baca juga :

Read More

Kelompok Amanah Latih Teman Tuli di Aceh Jadi Pramusaji

Banda Aceh — 1miliarsantri.net : Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) melatih penyandang disabilitas untuk menjadi pramusaji (waiter-waitress) di cafe atau restoran. Kegiatan itu digelar di Ivory Coffee, Banda Aceh pada 29 Juli sampai dengan 1 Agustus 2024. Program tersebut dibuka oleh Kepala Balai Pelatihan Vokasi Produktivitas (BPVP) Banda Aceh, Rahmad Faisal. “Kegiatan hari ini sangat luar biasa karena kita ada perbedaan sedikit. Kita melatih bagi teman-teman tuli,” ungkapnya kepada 1miliarsantri.net, Ahad (4/8/2024). Menurut Rahmad, para penyandang disabilitas memerlukan perhatian dari semua pihak. Hal itu sesuai amanat undang-undang yang menyatakan bahwa mereka juga berhak mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang layak. Sama halnya seperti warga negara lain, warga disabilitas diharapkan dapat bekerja untuk menghidupi diri dan keluarganya. Untuk itu, mereka harus memiliki kemampuan yang sama, sesuai dengan kebutuhan di perusahaan-perusahaan. “Dan, kita sendiri sangat mengapresiasi AMANAH yang mempunyai ide untuk teman-teman tuli ini biar mereka nanti ke depannya bisa lebih survive untuk kehidupannya. Jadi, mereka bisa bekerja dan memiliki keahlian di bidang tersebut,” tutur Rahmad. Lebih dari 20 peserta mengikuti pelatihan pada hari pertama yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Mereka mendapatkan pengetahuan mengenai standar operasional prosedur (SOP) dalam hal pelayanan di cafe atau restoran. Penyampaian materi dari para mentor ahli dibantu dengan penerjemah bahasa isyarat sehingga mudah ditangkap para peserta. Rangkaian kegiatan juga diselingi games yang interaktif sehingga para peserta tidak bosan. Program talent class kali ini bisa membantu pemerintah untuk mengurangi pengangguran. Bagi BPVP Banda Aceh, kegiatan itu menambah realisasi disabilitas yang mengikuti pelatihan kerja dengan target dua persen dari total peserta tahun ini. Rahmad mengeklaim target tersebut berhasil dilampaui berkat bantuan AMANAH. Lebih dari itu, ia mengakui materi pelatihan kali ini merupakan hal yang baru dilakukan di Banda Aceh bahkan untuk Provinsi Aceh secara keseluruhan. “Saya belum pernah menemukan teman-teman tuli yang menjadi waitres. Ini bisa menjadi suatu hal yang baik dan silakan para pengusaha cafe dan restoran bisa memberdayakan teman-teman yang sudah mendapatkan pelatihan ini,” sambungnya. Keberadaan teman tuli di bidang pelayanan ke depan bahkan dipandang sebagai potensi yang bisa digali oleh para pengusaha. Menurutnya, karyawan disabilitas bisa menjadi keunikan tersendiri bagi tempat yang mempekerjakannya. Selain itu, semakin sering terjadi interaksi antara masyarakat luas dengan teman tuli, semakin baik bagi keduanya untuk bersosialisasi. Sehingga, mereka tidak canggung untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. “Jadi, sebenarnya tidak ada perbedaan di antara kita. Tapi, bagaimana sekarang mereka itu harus mempunyai keberanian dan harus PD (percaya diri) berinteraksi langsung, mungkin di tempat umum. Tidak lagi merasa malu atau kekurangan,” pungkas Rahmad. (mik) Baca juga :

Read More

Ismail Haniyeh merupakan seorang pejuang Palestina yang menentang penjajahan

Teheran — 1miliarsantri.net : Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh telah gugur sebagai syuhada usai dibunuh militer zionis Israel di Teheran, Iran, Rabu (31/7/2024) lalu. Umat Islam seluruh dunia berduka atas wafatnya Ismail Haniyeh, seorang pejuang Palestina di ranah politik yang menentang penjajahan dan ketidakadilan penjajah. Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan kabar gembira kepada umat Islam yang berjuang yang syahid di jalan Allah SWT. Mereka akan mendapatkan hadiah surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dijelaskan enam hadiah untuk Muslim yang wafat dengan jalan syahid. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ (رواه الترمذي وابن ماجه) “Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mati syahid di sisi Allah mempunyai enam keutamaan; dosanya akan diampuni sejak awal kematiannya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dijaga dari siksa kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, diberi mahkota kemuliaan yang satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari dan diberi hak untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah). Dalam hadits lain dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menyangkal orang yang mati syahid bukan hanya orang yang terbunuh saat berperang di jalan Allah SWT. Sebab, jika yang syahid hanya orang yang terbunuh saat berperang maka hanya sedikit jumlahnya. حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ ابْنُ مِقْسَمٍ أَشْهَدُ عَلَى أَبِيكَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ قَالَ وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ (رواه مسلم) Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang dimaksud orang yang mati syahid di antara kalian?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, orang yang mati terbunuh karena berjuang di jalan Allah itulah orang yang mati syahid.” Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu, sedikit sekali jumlah umatku yang mati syahid.” Para sahabat berkata, “Lantas siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang terbunuh di jalan Allah maka dialah syahid, dan siapa yang mati di jalan Allah juga syahid, siapa yang mati karena suatu wabah penyakit juga syahid, siapa yang mati karena sakit perut juga syahid.” Ibnu Miqsam berkata, “Saya bersaksi atas bapakmu mengenai hadits ini, bahwa beliau (Nabi SAW) juga berkata, orang yang meninggal karena tenggelam juga syahid.” (HR Imam Muslim). (ula) Baca juga :

Read More

Cara Mandi Taubat untuk Pelaku Dosa Besar

Jakarta — 1miliarsantri.net : Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, memberikan nasihat penting bagi mereka yang telah melakukan dosa besar. Dalam sebuah pernyataan yang menarik perhatian publik, beliau menekankan pentingnya mandi taubat sebagai langkah awal untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa dosa besar mencakup berbagai tindakan yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Beberapa contoh yang disebutkan antara lain zina, aborsi, fitnah, dan kebohongan yang berdampak fatal bagi orang lain. Beliau menegaskan bahwa pelaku dosa-dosa tersebut perlu segera melakukan mandi taubat. “Segeralah mandi taubat. Basuhi seluruh rambutnya, kemudian sholat sunnat dua rakaat dengan baca disitu Astagfirullahaladzim Seratus kali,” terang Nasaruddin Umar. Prosedur mandi taubat yang dianjurkan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal ini meliputi beberapa langkah penting. Pertama, membasuh seluruh rambut dan tubuh. Kedua, melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Ketiga, membaca istighfar (Astagfirullahaladzim) sebanyak 100 kali. Keempat, dilanjutkan dengan membaca “Ya tawwab, ya ‘afuw, ya ghafur” sebanyak 100 kali. Terakhir, membaca surat Al-Fatihah. Nasaruddin Umar menekankan bahwa rangkaian ibadah ini memiliki riwayat atau dasar dalam ajaran Islam. Beliau berharap dengan melakukan mandi taubat ini, Allah SWT akan meringankan beban perasaan orang yang telah melakukan dosa besar. Dengan adanya anjuran ini, diharapkan umat Muslim yang merasa telah melakukan dosa besar dapat mengambil langkah positif untuk memperbaiki diri dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Mandi taubat bisa menjadi langkah awal yang bermakna dalam proses pertaubatan dan perbaikan diri seorang Muslim. (Iin) Baca juga :

Read More

Anggota Pansus Haji DPR-RI bantah kaitan dengan PBNU

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kritik parlemen terhadap penyelenggaraan ibadah haji tahun 1445 H/2024 M tidak berkaitan dengan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan tertentu. Hal itu disampaikan anggota Panitia Khusus (Pansus) Angket Pengawasan Haji DPR-RI, John Kennedy Azis. Menurut dia, pembentukan Pansus dilakukan untuk memperbaiki manajemen penyelenggaraan haji. Politikus Partai Golkar itu membantah adanya anggapan bahwa Pansus bertujuan “menyerang” Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). “Pansus dibentuk bermula dari pelaksanaan ibadah haji yang, menurut saya, carut-marut, ini adalah pembagian kuota haji yang melanggar undang-undang dan juga melanggar kesepakatan,” kata John Kennedy saat dikonfirmasi 1miliarsantri.net, Sabtu (3/8/2024). Dia menambahkan, mekanisme ibadah haji semestinya berjalan sesuai prosedur yang ada. Namun, penyelenggaraan haji pada tahun ini yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) justru semakin carut-marut. Di antara pelbagai persoalan yang disoroti Pansus ialah antrean jamaah hingga kualitas makanan saat di Tanah Suci. “Jangan orang baru antre empat tahun sudah bisa berangkat haji karena sesuatu. Sementara, orang yang antre belasan tahun bahkan puluhan tahun tidak berangkat. Jadi, itu yang harus kami rapikan. Jauh lebih penting saat ini memastikan Pansus bekerja untuk perbaikan pelayanan haji, daripada melayani pernyataan Ketum PBNU yang tidak jelas landasannya,” beber Kennedy. Pada Ahad (28/7/2024), Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mengatakan, pihaknya bertanya-tanya mengenai bergulirnya Pansus Angket Haji 2024. Menurut Gus Yahya, tidak ada alasan kuat untuk pembentukan pansus ini. Lebih lanjut, Ketum PBNU menduga bahwa keberadaan Pansus Angket Haji DPR-RI kini memiliki keterkaitan dengan posisi adiknya, Menteri Agama (Menag) RI, Yaqut Cholil Qoumas. Jadi, bukan sekadar menyoroti penyelenggaraan ibadah haji. (rid) Baca juga :

Read More

Ekonomi Sumenep Semakin Tumbuh Signfikan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di kabupaten Sumenep pada 2021 tercatat sebesar 2,16 persen. Kemudian pada 2022, pertumbuhan ekonomi Sumenep tercatat sebesar 3,11 persen. Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, pertumbuhan ekonomi di wilayah ujung timur pulau Madura tersebut mengalami pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. Pada 2023, angka pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sumenep mencapai 5,35 persen. Lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Jawa Timur maupun nasional. “Pertumbuhan ekonomi Sumenep dalam beberapa tahun terakhir memang yang tertinggi se-Madura Raya,” ungkap Fauzi kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (3/8/2024). Salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sumenep adalah terus meningkatnya jumlah investasi yang masuk. “Dengan kenaikan jumlah investasi ini membuka lapangan kerja baru bagi warga Sumenep,” tambahnya. Faktor lain yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sumenep adalah meningkatnya kunjungan wisatawan. Pada 2021 tercatat jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sumenep sebanyak 248.158 orang. “Kemudian di tahun 2023 meningkat menjadi 1.388.922 baik wisatawan manca negara maupun wisatawan nusantara. Penyumbang terbesar di tahun 2023 berasal dari event yaitu sebanyak 346.202 pengunjung,” ucapnya. Fauzi menambahkan, sektor UMKM di Sumenep juga makin bergairah, seiring dengan kenaikan investasi dan kunjungan wisatawan di wilayah tersebut. Jumlah UMKM di Kabupaten Sumenep pada 2021 tercatat sebanyak 281.467 UMKM. “Kemudian di tahun 2023 meningkat menjadi 282.712 UMKM atau bertambah sebanyak 1.245 UMKM,” pungkasnya. (har) Baca juga :

Read More

Kisah Tersusunnya Muwatta’ Kitab Populer Pertama

Jakarta — 1miliarsantri.net : Semenjak Khalifah Umar bin Abdul Aziz menghimbau para Alim Ulama untuk membukukan hadis-hadis Nabi, dari situ gerakan pembukuan mulai berjalan dan terus berkembang waktu demi waktu. Mula-mula ulama hanya mengumpulkan hadis Nabi dalam satu karangan kitab tanpa menyortir dan mengelompokannya dalam bab-bab yang tersusun, sebagaimana kitab yang dikarang Az-Zuhri dan Ibnu Hazm. Hingga pada tahun 170 H kitab Muwatta’ muncul menjadi kitab pertama yang disusun dengan pengelompokan hadis dalam bab tertentu. Kitab fenomenal ini dikarang oleh Imam Malik bin Anas bin Malik, pendiri mazhab Maliki. Berawal dari pertemuannya dengan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur pada saat tengah melaksanakan ibadah haji, Khalifah Abbasiyah kedua itu meminta Imam Malik untuk menulis kitab yang memuat hadist beserta fiqih didalamnya—sebagaimana yang tercantum dalam kitab Tartibul Madarik, lebih lengkapnya beliau berpesan, “Orang alim yang tersisa hanya aku dan dirimu. Aku saat ini telah disibukkan dengan politik, maka yang tersisa hanya dirimu. Karanglah kitab yang berguna bagi umat, yang di dalamnya memuat hadis dan fiqih, hindari rukhsas-rukhsas Ibnu Abbas, pendapat-pendapat yang memberatkan milik Ibnu Umar, dan pendapat syadz Ibnu Mas’ud. Lalu jelaskan secara perinci.”, sejak saat itulah Imam Malik mulai menggarap kitab sesuai dengan permintaan Al-Manshur. Dalam penulisannya beliau menggunakan metode yang moderat dengan proporsi seimbang. Kitab ini oleh Imam Malik diberi nama “Muwatta’” yang artinya yang disepakati, karena setelah menyelesaikannya Imam Malik memberikan Muwatta’ ke tujuh puluh ulama fiqih Madinah dan mereka semua menyepakati isi dari kitab Muwatta’. Dalam Muwatta’ sendiri terhimpun sepuluh ribu hadist yang selama empat puluh tahun oleh Imam Malik semua hadis tersebut dikoreksi. Hadis-hadis yang cacat serta yang tak diamalkan oleh para Imam, dihapus sehingga sampai selesainya tahap pengkoreksian hadis yang tersisa lima ratus lebih. Muwatta’ merupakan kitab yang memuat hukum asal dan cabang ilmu fiqih, yang diterima oleh ulama dan umat pada masa itu. Kitab ini pun menjadi terkenal ke seluruh penjuru negeri serta menuai decak kagum dan pujian dari banyak kalangan. Banyak orang dari segala penjuru yang pergi untuk menuntut ilmu ke Imam Malik karena kagum akan keluasaan ilmu yang beliau tuang dalam Muwatta’. Salah satu penyebab terkenalnya Muwatta’ ialah keinginan Abu Ja’far—dalam keterangan lain Harun Ar-Rasyid—yang ingin menggantung Muwatta’ di Ka’bah dan menyebarkannya ke seluruh negeri agar seluruh masyarakat mengamalkannya sehingga tidak ada lagi perselisihan. Namun Imam Malik menolaknya, dikarenakan para Sahabat Nabi terdahulu banyak yang hijrah ke tempat-tempat lain lalu meriwayatkan hadist yang dijadikan dalil oleh masyarakat setempat. Akhirnya Abu Ja’far mengurungkan niatnya tersebut. Melihat luasnya pandangan Imam Malik mengenai hal itu serta tak mau melibatkan politik (pemerintah) untuk membuat kitabnya terkenal, umat Islam dengan sendirinya menerima Muwatta’ tanpa ada tekanan. Kitab ini menjadi rujukan untuk kitab-kitab hadis yang lain, sampai-sampai ada riwayat yang mengatakan kutubus-sittah seluruhnya merujuk ke Muwatta’. Begitu banyak komentar dan cerita tentang keagungan kitab Muwatta’ yang bisa dilihat dengan banyak kitab manaqib Muwatta’. (jeha) Baca juga :

Read More