Gus Mustain: Pembagian Alat Kontrasepsi Jangan Diartikan Melegalkan Seks Bebas

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pembagian alat kontrasepsi kepada remaja yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, sebaiknya jangan diartikan melegalkan seks bebas. Hal tersebut disampaikan Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Ahmad Muhamad Mustain Nasoha “Saya berhusnudzon pemerintah kita tidak mungkin memiliki niat tidak baik yaitu melegalkan seks bebas melalui terbitnya PP ini,” terang pria yang akrab dipanggil Gus Musta’in ini. Wakil presiden kita, lanjutnya, adalah ulama dan bahkan Mantan Ketua Umum MUI Pusat yang sangat paham mana yang halal dan mana yang haram. Tentunya pendapat beliau menjadi pertimbangan penting bagi presiden dan pejabat lainnya l, untuk menetapkan setiap kebijakan khususnya PP ini. Seperti diberitakan, pemerintah telah resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Pelaksanaan Undang-Undang (UU) Kesehatan. Menurut Gus Mustain, peraturan ini sering kali disalahartikan sebagai regulasi yang berpotensi melegalkan seks bebas khususnya pada pasal berikut ini: Pasal 103 ayat (1): “Upaya Kesehatan sistem reproduksi usia sekolah dan remaja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) huruf b paling sedikit berupa pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, serta Pelayanan Kesehatan reproduksi.” 
Pasal 103 ayat (2): “Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mengenai: a. sistem, fungsi, dan proses reproduksi; b. menjaga Kesehatan reproduksi; c. perilaku seksual berisiko dan akibatnya; d. keluarga berencana; e. melindungi diri dan mampu menolak hubungan seksual; dan f. pemilihan media hiburan sesuai usia anak.”
Pasal 103 ayat (3): “Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan melalui bahan ajar atau kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kegiatan lain di luar sekolah.” 
Pasal 103 ayat (4): “Pelayanan Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit meliputi: a. deteksi dini penyakit atau skrining; b. pengobatan; c. rehabilitasi; d. konseling; dan e. penyediaan alat kontrasepsi.” Pasal 103 ayat (4): “Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf d dilaksanakan dengan memperhatikan privasi dan kerahasiaan, serta dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, konselor, dan/atau konselor sebaya yang memiliki kompetensi sesuai dengan kewenangannya.” Bahkan ia mengutip pernyataan pakar masyarakat Dr. F.X. Hadisoemarto, bahwa pemberian informasi yang benar kepada remaja dapat mengurangi perilaku seksual yang tidak aman.

Read More

Itjen Kemenag Evaluasi Menyeluruh Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah

Semarang — 1miliarsantri.net : Pemetaan dan penataan guru menjadi masalah krusial pada Pendidikan Madrasah. Membutuhkan kerjasama antar unit, dikelola secara sistematis dan data yang akurat.Hal ini dikatakan Inspektur Wilayah II, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI Ruchman Basori, saat memberikan pembekalan Tim Evaluasi Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah Itjen Kemenag, pada Rabu (14/08/2024) lalu. Ruchman berharap kehadiran Itjen akan membantu mengurai benang kusut terkait pemetaan dan penataan guru Madrasah. “Tim harus berangkat dari basis data, melakukan diskusi mendalam dengan para pihak dan membuat point-point penting sebagai hasil dari evaluasi”, terang Doktor Manajemen Kependidikan UNNES saat dikonfirmasi 1miliarsantri.net, Senin (19/8/2024). Ruchman menambahkan hasil evaluasi Tim Itjen, diharapkan dapat menjadi acuan bagi Kementerian Agama, dalam menyusun strategi peningkatan mutu pendidikan madrasah melalui optimalisasi sumber daya guru di Jawa Tengah dan daerah lainnya di Indonesia.Tim Evaluasi Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah, turun ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah dari mulai tanggal 14-20 Agustus 2024. Wawan Saepul Bahri sebagai Pengendali Teknis, Yulianti Rini Fadilah sebagai Ketua Tim, Kholiddin dan Dessy Putri Ardian sebagai Anggota. Pengendali Teknis Tim Evaluasi Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah Wawan Saepul Bahri, mengatakan tujuan evaluasi pemetaan dan penataan guru Madrasah adalah untuk meninjau efektivitas program redistribusi guru di madrasah-madrasah negeri se-Jawa Tengah, yang telah dilaksanakan sebelumnya. Melalui upaya komprehensif ini, Wawan berharap dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari inisiatif penataan ulang tenaga pendidik (guru), memastikan bahwa setiap madrasah negeri memiliki tenaga pendidik (guru) yang memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sesuai dengan kebutuhan aktual di lapangan. Wawan yang merupakan Auditor Ahli Madya pada Inspektorat Wilayah II, berharap dapat menjawab pertanyaan mendasar apakah proses penempatan dan pengaturan guru-guru madrasah selama ini sudah tepat sasaran dan selaras dengan kebutuhan riil. Tim Evaluasi Itjen ke Kanwil Jateng diterima langsung Kepala Bagian Tata Usaha Wahid Arbani didampingi oleh Ketua Tim Bidang Madrasah Agus Mahasin dan Ketua Tim Kepegawaian Sugianto.Wahid Arbani berharap hasil evaluasi dapat memberikan masukan berharga untuk penyempurnaan kebijakan penataan guru madrasah, di Jawa Tengah.

Read More

Ir Soekarno dan Pergerakan Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ir Sukarno (1901-1970) adalah salah satu figur sentral dalam sejarah negara Republik Indonesia. Sosok berjulukan “Penyambung Lidah Rakyat” ini merupakan seorang Proklamator RI pada 17 Agustus 1945. Menjelang peringatan HUT ke-79 RI, tak lengkap rasanya bila tidak mengenang kembali ketokohan Bung Karno. Ahmad Syafi’i Ma’arif memperlihatkan sebuah dokumen yang belum pernah dipublikasikan. Dokumen itu adalah sebuah surat yang ditandatangani Sukarno selaku konsul Dewan Pengadjaran Moehammadijah Daerah Bengkoeloe. Surat bertanggal 9 Januari 1940 itu merupakan balasan terhadap surat Tuan Guru Hasan Basri di Muara Aman. Isinya tentang penugasan Hasan Basri. Saat itu, Sukarno sedang dalam tahanan Belanda di daerah Bengkulu. Sebetulnya, jauh sebelum itu, Sukarno juga terlibat dalam pergerakan Islam, yakni Sarekat Islam, kala ia indekos di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Inilah masa ketika dirinya masih bersekolah di HBS yang menghabiskan masa lima tahun. Adapun yang bertalian dengan pemikiran Islam, Sukarno juga bersentuhan saat ia ditahan di Ende, Flores. Ia berkorespondensi soal Islam dengan Ustaz A Hassan dari Persatuan Islam (Persis), Bandung. Bung Karno juga pernah berpolemik dengan Mohammad Natsir di surat kabar. Polemik keduanya berlangsung sangat sehat. Buktinya, tulisan Bung Karno tersebut dimuat dalam majalah Pedoman Masyarakat Medan pada 1938 yang diasuh orang-orang Masyumi. Selain itu, tulisan Bung Karno yang berjudul “Islam Sontolojo” yang dimuat di Pandji Islam 1940 adalah bukti kepedulian tokoh nasionalis ini pada Islam. Di situ, ia sangat marah terhadap seorang kiai yang menurutnya telah mengelabui mata Tuhan. Ini merujuk pemberitaan di sebuah surat kabar tentang kiai cabul. Tak hanya berhenti di situ. Dalam hal kehidupan pribadi pun, ada persentuhan dengan orang pergerakan Islam. Ahmad Syafi’i Ma’arif menambahkan, saat di Bengkulu, Bung Karno tertarik dengan seorang murid Muhammadiyah, Fatmawati. AR Sutan Mansyur ikut menentukan kemulusan hubungan mereka. Namun, di periode akhir hidupnya, Sukarno berseberangan politik dengan sebagian kekuatan politik Islam, yakni Masyumi. Saat Demokrasi Terpimpin, ini tak berarti hubungan dirinya dengan Islam-politik terputus. Sebab, dalam periode ini ia menggandeng Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga merekrut secara perorangan tokoh-tokoh Masyumi, yang bukan mainstream, seperti Mulyadi Djojomartono, Farid Ma’ruf, dan Marzuki Yatim dalam Kabinet 100 Menteri. Ada beberapa tonggak untuk melihat retaknya hubungan ini. Dahlan Ranuwihardjo, misalnya, melihat usai Pemilu 1955–tepatnya saat pembentukan Kabinet Ali Sastroamidjojo II–merupakan awal. Seiring dengan pergolakan di daerah, cabang-cabang Maysumi di daerah menuntut agar Masyumi mundur dari kabinet. Hal ini diperkuat dengan Konferensi Akbar Daerah 1957 di Bandung, Jawa Barat. Akhirnya, Masyumi mundur dari kabinet. Hal ini menyebabkan kegusaran Bung Karno sehingga ia menunjuk dirinya sendiri “sebagai warga negara” untuk menjadi formatur dan membentuk kabinet. Sjafi’i Ma’arif menerangkan, ada sebab lain mengapa Masyumi keluar. Ini tak lain karena Bung Karno meminta Ali membentuk “kabinet berkaki empat” dengan memasukkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai Nasional Indonesia (PNI) masih bisa menerima usulan ini, tetapi tidak demikian halnya dengan Masyumi. Sebab berikutnya, saat terlibatnya beberapa petinggi Masyumi, seperti Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Burhanuddin Harahap dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tidak adanya tindakan organisatoris membuat Bung Karno pada 1960 mengirim surat pada ketua DPP Masyumi, Prawoto, untuk membubarkan partai. Puncaknya saat penangkapan pada tokoh-tokoh Masyumi pada 1962. Menurut Dahlan, ini adalah kesalahan besar Bung Karno karena perintah tersebut atas informasi keliru. Pasalnya, dasar perintah adalah tuduhan perencanaan makar saat mereka berkumpul di Bali. Padahal, saat itu mereka hanyalah menghadiri upacara ngaben raja Bali Sukawati, ayah Anak Agung yang menjadi sahabat tokoh Masyumi dan PNI. Namun, di masa itulah luka-luka terjadi: Masyumi dibubarkan dengan alasan memberontak, tokoh-tokoh Islam ditangkap dan dipenjarakan tanpa alasan yang jelas, dan seterusnya. Bahkan, akibat pembubaran Masyumi tersebut, dampaknya masih terlihat sampai masa-masa jauh berikutnya. Saat Pemilu 1999, misalnya, banyak yang memperbandingkannya dengan Pemilu 1955. Dari empat besar (PNI, Masyumi, NU, dan PKI) pada Pemilu 1955–dengan mengecualikan PKI yang tak lagi berpartai sampai kini–maka metamorfosis Masyumi pada Pemilu 1999 tak jelas sosoknya. Berbeda dengan NU yang ke PKB ataupun PNI yang ke PDI Perjuangan. PDI yang kemudian menjadi PDI Perjuangan pun lebih banyak berseberangan dengan aspirasi Islam. Puncaknya adalah pada Pemilu 1999 itu. Caleg PDI Perjuangan penuh diwarnai tokoh-tokoh yang berpandangan berseberangan dengan Islam-politik. Akibatnya, saat Sidang Umum MPR, Megawati gagal menjadi presiden, padahal partainya pemenang pemilu. Setelah itu, kedua belah pihak saling mengoreksi untuk memperbaiki diri. Kini, hubungan itu menjadi lebih cair.

Read More

Lima Negara Adidaya Bersatu

Gaza — 1miliarsantri.net : Para pemimpin Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia baru-baru ini mengeluarkan pernyataan bersama mengenai situasi terkini di Timur Tengah. Pernyataan ini menjadi sorotan dunia, mengingat ketegangan yang terus meningkat di kawasan tersebut. Dalam pernyataan tersebut, mereka menyatakan dukungan penuh terhadap upaya-upaya yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan di Gaza. Para pemimpin negara adidaya ini juga mendorong tercapainya gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera di wilayah konflik tersebut. Mereka mendukung seruan bersama dari Presiden Biden, Presiden Sisi dari Mesir, dan Amir Tamim dari Qatar agar perundingan segera dilanjutkan minggu ini. Tujuannya jelas: mencapai kesepakatan secepat mungkin. “Tidak ada waktu lagi yang bisa disia-siakan,” tegas para pemimpin negara tersebut kepada media, Senin (19/8/2024). Para pemimpin dunia ini juga menekankan pentingnya semua pihak untuk memenuhi tanggung jawab mereka. Selain itu, mereka menyoroti kebutuhan mendesak akan distribusi bantuan kemanusiaan tanpa hambatan di Gaza.

Read More

Unair Kukuhkan 8.732 Mahasiswa Baru

Surabaya — 1miliarsantri.net : Universitas Airlangga (Unair) kembali mengukuhkan putra-putri terbaik bangsa menjadi Ksatria Muda Airlangga. Jumlah mahasiswa yang dikukuhkan sebanyak 8.732 mahasiswa baru (maba) pada program pendidikan sarjana, sarjana terapan, dan ahli madya. Pengukuhan berlangsung meriah di Airlangga Convention Center, Kampus MEER-C. Rektor UNAIR, Prof Dr Moh Nasih SE MT Ak menyampaikan bahwa mahasiswa Unair harus belajar dengan serius dan sebaik mungkin agar bisa menjadi pemimpin hebat di masa depan. “Anda adalah putra putri terbaik bangsa ini, gunakan kesempatan menjadi mahasiswa UNAIR sebaik-baiknya. Kita semua yakin jika anda belajar dengan baik hari ini, maka anda akan menjadi pemimpin-pemimpin hebat di hari esok,” ucap Nasih. Bergabung menjadi bagian Ksatria Airlangga dan bisa belajar di salah satu universitas terbaik di dunia merupakan kesempatan yang tidak semua orang miliki. Oleh karena itu, mahasiswa baru UNAIR harus bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempelajari ilmu sebanyak-banyaknya. “Barangsiapa yang ingin di dunia dan di akhirat bahagia, maka kuncinya adalah ilmu pengetahuan. Kunci untuk sukses adalah bagaimana kita memperoleh sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan,” tambah Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR itu. Berkarakter HEBATHEBAT merupakan karakter yang harus dimiliki oleh seluruh mahasiswa UNAIR. Salah satu karakter HEBAT adalah humble (rendah hati). Ksatria Airlangga harus menjadi pembelajar sejati yang memiliki sikap rendah hati dan terbuka untuk menerima berbagai pengetahuan baru .“Jadilah pembelajar sejati, pembelajar yang humble, karena dengan kerendahan hati, anda akan menjadi orang yang terbuka kepada ide-ide baru, pengetahuan baru, pengalaman baru, sehingga ilmu yang diberikan oleh dosen akan mampu anda terima dengan baik,” imbuhnya.

Read More

Sejarah Jilbab Dalam Peradaban Pra-Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dari sekian banyak pokok bahasan keislaman, hijab atau jilbab merupakan salah satu tema yang sering dibahas. Ada yang memandang persoalan jilbab melalui pintu literal semata. Dalam arti, bagi yang berpandangan seperti ini, apa-apa yang tercantum dalam Alquran dan hadis wajib hukumnya dilaksanakan. Husein Shahab tampaknya dapat dijadikan contoh kelompok ini. Dalam kata pengantar bukunya, Jilbab Menurut Alquran dan As-Sunnah, ia mengatakan, “Jilbab adalah satu hukum yang tegas dan pasti yang seluruh wanita Muslim diwajibkan Allah SWT untuk mengenakannya. Melanggar atau tidak mengakuinya berarti mengingkari salah satu hukum Islam yang esensial.” Kelompok kedua melihat jilbab melalui pintu mistikisme. Kelompok ini meletakkan jilbab sebagai sebuah pengalaman keagamaan melalui ibadah-ibadah ritual. Sedapat mungkin mereka menjalani hidup sesuai dengan apa-apa yang diyakini dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Menurut Dedy Mulyana dalam Islam: Antara Simbol dan Identitas, pemakaian jilbab yang dilandasi pengalaman keagamaan merupakan cermin dari inner-states yang tulus. Jilbab di sini bukan instrumen untuk menyenangkan orang lain atau sekadar memenuhi persyaratan masuk ke dalam sebuah institusi. Namun, ini sebagai perwujudan rasa nyaman yang subjektif. Tema tentang jilbab dan pengalaman keagamaan ini dikupas lebih mendalam oleh Murtadha Muthahhari dalam bukunya, Hijab Gaya Hidup Wanita Muslimah. Menurutnya, pemakaian hijab untuk memberikan kenyamanan diri sudah dipraktikkan sejak zaman pra-Islam atau jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Ini dapat dijumpai di peradaban-peradaban India, Persia, dan Yunani kuno. Pada masyarakat India kuno, misalnya, motif pemakaian hijab ialah kecenderungan ke arah kerahiban. Ini sebuah perjuangan melawan kesenangan dan menaklukkan ego diri. Murtadha menengarai, praktik pemakaian hijab berasal dari India. Kelompok agamawan setempat membuat batas antara wanita dan pria dalam rangka kerahiban. Konsep ini, menurutnya, lantas berkembang dalam tradisi Yahudi dan Kristen.

Read More

Rutinitas Olahraga Cegah Serangan Jantung Saat Padat Bekerja

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan pentingnya rutinitas olahraga di tengah kepadatan bekerja guna mencegah terjadinya serangan jantung. Seseorang yang tidak berolahraga rutin karena sudah merasa lelah bekerja justru rentan terkena berbagai penyakit. “Kalau orang kerja keras yang terjadi adalah kecapekan, habis itu mereka tidak olahraga bahkan bisa sampai setahun nggak pernah olahraga nah itu yang membuat bahaya kesehatan, tidak ada aktivitas fisik. Jadi pekerja keras harus tetap tahu cara untuk sehat, work life balance-nya harus diusahakan,” jelas dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Mega Febrianora secara daring di Jakarta, belum lama ini. Ia menambahkan seseorang yang memilih tidak berolahraga rutin karena merasa sudah mendapatkan perasaan letih dari aktivitas pekerjaannya justru rentan terkena berbagai penyakit selain serangan jantung, seperti diabetes dan obesitas. Mega menerangkan olahraga yang benar tidak sekadar aktivitas fisik yang memberikan perasaan letih atau berkeringat, namun harus memberikan kenaikan denyut jantung. Oleh karena itu, segala aktivitas fisik selama bekerja sudah pasti tidak dapat dikategorikan sebagai olahraga. Ia menyebutkan pula total durasi aktivitas olahraga sebaiknya dilakukan paling sedikit 150 menit selama satu minggu, dengan rata-rata durasi berkisar 20 menit setiap hari yang diikuti dengan kenaikan denyut jantung. “Jadi meskipun sudah lelah bekerja, tetap harus berolahraga untuk menjaga dari sisi kardiovaskuler, muscle, otak dan olahraga kan juga mengurangi reaksi stres oksidatif,” imbuhnya.

Read More

Presiden Abbas Temui Erdogan Bahas Gencatan Senjata Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Rabu di Ankara untuk membicarakan gencatan senjata dan perdamaian, sehari setelah kunjungannya ke Moskow. Pertemuan tertutup ini berlangsung di tengah situasi tegang dalam perang Israel-Hamas yang sudah berlangsung 10 bulan. Upaya gencatan senjata masih tersendat, sementara Israel bersiap menghadapi ancaman serangan dari Iran dan sekutunya setelah pembunuhan pejabat senior Hamas di Iran dan Lebanon. Abbas dan Erdogan membahas “pembantaian yang dilakukan Israel di wilayah Palestina” serta “langkah-langkah yang perlu diambil untuk gencatan senjata permanen dan perdamaian” selama pertemuan mereka di istana kepresidenan, menurut kantor Erdogan. Erdogan telah menjadi kritikus tajam terhadap perilaku Israel dalam perang yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober lalu. Ia bahkan menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “penjagal Gaza.” Sementara Hamas dianggap sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Israel, Erdogan justru menyebutnya sebagai “gerakan pembebasan.” Ia juga mengkritik dunia Barat yang gagal menekan Israel untuk menghentikan perang. Dalam pembicaraan dengan Abbas, Erdogan kembali mengecam sikap diam beberapa negara Barat di tengah meningkatnya korban jiwa di Gaza. Menurutnya, hal itu “tidak bisa diterima.”

Read More

Tiga Golongan Orang Beribadah Menurut Abu Bakar Ash Shiddiq

Jakarta — 1miliarsantri.net : Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad menukil riwayat yang diriwayatkan Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu anhu tentang tiga golongan orang yang beribadah. Sahabat Rasulullah Muhammad SAW tersebut juga menjelaskan ciri-ciri tiap golongan orang yang beribadah. Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu anhu bahwa ia berkata, “Mereka yang beribadah ada tiga golongan, masing-masing mempunyai tanda-tanda yang dapat diketahui. Yaitu, golongan pertama, beribadah kepada Allah karena takut kepada-Nya. Golongan kedua, beribadah kepada Allah karena mengharap anugerah-Nya. Golongan ketiga, beribadah kepada Allah karena cinta kepada-Nya.” “Adapun tanda-tanda golongan yang pertama adalah sebagai berikut, melihat dirinya hina, merasa kebajikannya sedikit dan merasa kejelekannya banyak.” “Golongan yang kedua memiliki ciri-ciri, ia mengikuti semua hal ihwal manusia, ia dermawan kepada orang lain, zuhud terhadap dunia, dan ia berbaik sangka kepada Allah dalam menghadapi semua makhluk.” “Sedangkan tanda-tanda golongan yang ketiga adalah sebagai berikut, ia memberikan sesuatu yang disenangi dan tidak peduli setelah Tuhannya ridha, mengerjakan pekerjaan yang membuat benci nafsunya dan tidak melayani nafsunya setelah mendapat ridha Tuhannya, dan di dalam segala hal ihwal hidupnya selalu bersesuaian dengan Tuhannya, baik mengenai perintah maupun larangan-Nya.” (Syekh Nawawi al-Banteni, Nashaihul Ibad) Syekh Nawawi al-Bantani juga menyampaikan pesan-pesan lainnya. “Jangan sampai salah satu dari kalian mati, melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah SWT.”

Read More

Penderita Penyakit Jantung Wajib Konsul Dokter Jika Ingin Mendaki Gunung

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bagi para pencinta alam, mendaki gunung adalah aktivitas yang mengasyikkan. Namun, bagi penderita penyakit jantung, aktivitas fisik yang berat seperti mendaki gunung perlu dilakukan dengan hati-hati. Sebelum memutuskan untuk menaklukkan puncak, sangat penting bagi penderita jantung untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr Hendry Yoseph Nainggolan, Sp.JP, FIHA mengatakan seorang dengan penyakit jantung perlu berkonsultasi terlebih dulu dengan ahli sebelum melakukan aktivitas fisik yang berat seperti naik gunung. “Saran saya sebaiknya, sebelum melakukan aktivitas fisik berat tertentu, misalnya naik gunung. Kalau ingin naik gunung kan nggak mendadak, pasti direncanakan. Jadi menurut saya, sebelum melakukannya, pastikan dulu konsultasi ke dokter jantung,” terang Hendry, Sabtu (18/8/2024). Dia mengatakan, dalam ilmu kardiologi, dokter jantung akan menilai banyak hal saat pemeriksaan. Pertama, dokter akan melihat secara echocardiography. Dokter juga akan melihat bagaimana kondisi struktur jantung pada saat pasien datang berkonsultasi. Kedua, dokter akan melakukan serangkaian tes, misalnya yang paling sederhana adalah melakukan uji latih jantung. Pemeriksaan ini dilakukan guna menilai seberapa besar kapasitas fungsional pasien tersebut walau sudah dipasangi stent di pembuluh jantungnya. “Sehingga dari data-data ini bisa disimpulkan bolehnya beraktivitas sejauh dan seboleh apa. Meski merasa tak ada keluhan dan sudah pasang stent, ini adalah aktivitas yang berisiko ya. Jadi sebaiknya dikonsultasikan terlebih dulu,” sambung Hendry.

Read More