Buya Yahya : Rumah Tangga Ingin Harmonis, Hindari Sifat-sifat ini

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kehidupan yang harmonis, bahagia merupakan dambaan setiap pasangan rumah tangga. Namun, terkadang, ada sifat-sifat jelek yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga tersebut. Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya) memeparkan beberapa sifat jelek yang harus dihindari pasangan rumah tangga. Jika pasangan suami-istri menjauhi sifat itu, maka rumah tangga bisa harmonis. Sifat-sifat itu di antaranya: “Tuntutan dan ekspektasi yang tidak realistis dapat membawa dampak negatif pada rumah tangga. Hindari mengorbankan kesejahteraan keluarga demi memenuhi tuntutan yang tidak masuk akal,” tutur Buya Yahya dalam ceramahnya di Al Bahjah TV, dikutip Sabtu (16/09/2023). “Berbagi dengan sukarela dan ikhlas akan menguatkan hubungan dalam rumah tangga serta memberikan manfaat lebih besar,” lanjut Buya Yahya. “Sebagai gantinya, kita harus berusaha mandiri dan hanya meminta bantuan saat benar-benar diperlukan, bukan untuk hal-hal yang seharusnya dapat kita atasi sendiri,” ungkap Buya Yahya.

Read More

Hukum Boleh Tidaknya Muadzin Merangkap Imam Sholat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Muadzin merupakan sebutan untuk orang yang bertugas mengumandangkan azan. Sementara, imam adalah orang yang memimpin pelaksanaan shalat berjamaah. Lalu, apakah boleh seorang muadzin merangkap jadi imam? Menurut Pakar Fikih Kontemporer, KH Ahmad Zahro, seorang muadzin boleh merangkap jadi imam masjid. Tidak ada larangan dalam hal itu. “Apakah boleh? tidak ada larangan,” terangnya kepada 1miliarsantri.net, Kamis (14/09/2023). Kiai Zahro menambahkan, sebaiknya muadzin dan imam masjid terpisah. Ada khusus yang bertugas sebagai muadzin, dan ada pula yang bertugas sebagai imam shalat. Ini bertujuan agar pahala adzan dan imam shalat tidak diborong satu orang saja. “Jadi pertanyaannya apa boleh? boleh. Tapi apa baik? itu kalau baik sebaiknya tidak. Sebaiknya yang adzan dan qamat satu orang, yang ngimami orang lain. Sebaiknya jika tidak darurat. Tapi kalau ini darurat, tidak ada yang lain, maka boleh. Kalau ada yang lain, sebaiknya berbagi pahala, supaya juga pahala ngajak shalat, pahalanya imami salat itu berbagi dengan banyak pihak,” lanjutnya. Al Hattam dalam Mawahib Al Jalil pernah berpendapat, laki-laki dapat dapat berperan sebagai orang yang mengumandangkan azan, iqamah, bahkan memimpin salat berjamaah. Kemampuan ini juga berlaku bagi mereka yang mengumandangkan azan dan iqamah hanya tanpa menjadi imam. “Barangsiapa boleh menugaskan seorang laki-laki untuk mengumandangkan adzan, iqamah dan memimpin shalat bersama mereka. Pahala yang diberikan atas usahanya mengumandangkan adzan, iqamah dan memimpin shalat di masjid, bukan hanya untuk shalat.” Senada dengan itu, Imam An Nawawi dalam kitab Al Majmu’ juga pernah memperbolehkan seorang muazin menjadi imam dalam salat berjamaah. Bahkan, ini merupakan rekomendasi menurut pendapatnya. Imam An Nawawi menambahkan, hal tersebut diperbolehkan meski tidak dicontohkan oleh Nabi SAW dan para sahabat. Sebab, mereka melakukan hal tersebut bukan karena sibuk dengan urusan lain. Kemampuan tersebut juga disebutkan oleh Syekh Abdullah bin Jibrin dalam Fatawa Islamiyah. Menurutnya, menjadi hal yang diprioritaskan ketika muazin dinilai lebih baik dalam mengaji Al-Qur’an dibandingkan jamaah lainnya. “Iya, boleh mengumandangkan azan dan imam secara bersamaan. Begitu pula jika imam resmi dan penggantinya tidak hadir, karena bisa juga ditetapkan sebagai imam rutin,” jelasnya.

Read More

Penjelasan Terkait Hutang Bagi Fakir Miskin Yang Meninggal

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dalam aturan Islam dijelaskan, setiap orang Muslim yang memiliki hutang, maka wajib hukum nya untuk melunasi hutang tersebut. Namun ketika telah meninggal, maka para ahli waris nya lah yang akan melunasi hutang orang yang meninggal. Namun bagaimana bila ahli waris tidak sanggup melunasinya, karena ahli waris juga tergolong orang tidak mampu. Lalu siapa yang terkena kewajiban menanggung utang yang meninggal itu dan apa konsekuensinya bagi almarhum bila utangnya tidak ada yang membayar? Selain itu bagaimana juga bila ahli waris memiliki ekonomi yang baik tetapi tidak bersedia melunasi utang orang tuanya yang telah meninggal? Pendakwah yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas Syariah Djalaluddin Pane Foundation (DPF), KH Rakhmad Zailani Kiki, mengatakan seseorang Muslim yang berutang, di dalam fiqih zakat diistilahkan dengan gharim yang merupakan salah satu golongan penerima zakat. Namun, kriteria gharim ini adalah seseorang yang berutang untuk menafkahi kebutuhan pokok hidupnya, dan Dia tidak memiliki harta untuk membayar utang tersebut. Kalaupun orang tersebut memiliki harta, harta itu hanya cukup untuk menopang kebutuhan pokoknya sehari-hari. Seperti pengertian gharim di dalam kitab Kifayatul Akhyar Jilid 1: الدين الذي لزمه لمصلحة نفسه فيعطى من الزكاة ما يقضي به دينه إن كان دينه في غير معصية Artinya, “(Pihak yang memiliki) utang dan diperuntuk kan untuk kemaslahatan diri sendiri. Orang atau pihak ini (boleh) diberi harta zakat sekadar untuk menutup utangnya jika utang tersebut dipergunakan bukan dalam rangka maksiat.” Pengertian dari kemaslahatan diri sendiri adalah untuk menafkahi kebutuhan pokok hidupnya sendiri sehari-hari. Dengan demikian, jika seseorang Muslim terlilit utang namun dia masih memiliki harta yang lebih dari kebutuhan pokok, seperti misalnya tanah, rumah kedua, properti, serta kendaraan di luar kebutuhan pokok, maka dia tidak disebut sebagai gharim atau tidak termasuk ke dalam golongan gharimin. “Maka, ketika seseorang Muslim yang berutang wafat namun utangnya belum dilunasi dan ahli warisnya juga tergolong orang tidak mampu dan dia memeneuhi kriteria sebagai gharim, maka baitul maal, badan atau lembaga amil zakat “dapat” dan boleh melunasi utang si gharim yang telah wafat ini. Pengertian dapat di sini bukanlah kewajiban karena yang berkewajiban membayar utang adalah almarhum sendiri yang kalau almarhum masih memiliki aset atau harta benda maka dapat digunakan oleh ahli waris untuk membayar atau melunasi utang almarhum,” terang Kiai Kiki kepada 1miliarsantri.net, Kamis (14/09/2023). Menurut Kiai Kiki, kebolehan membayarkan utang almarhum dengan zakat memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, ada yang membolehkan dan ada pula yang tidak membolehkan. Yang membolehkan karena sesuai arah ayat “al-gharim” dengan tanpa menyebut spesifikasi orang hidup atau mati. Seperti yang tertera di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab karya Imam An-Nawawi: ـ (فَرْعٌ) لَوْ مَاتَ رَجُلٌ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ وَلَا تِرْكَةَ لَهُ هَلْ يُقْضَى مِنْ سَهْمِ الْغَارِمِينَ فِيهِ وَجْهَانِ حَكَاهُمَا صَاحِبُ الْبَيَانِ (أَحَدُهُمَا) لَا يَجُوزُ وَهُوَ قَوْلُ الصَّيْمَرِيِّ وَمَذْهَبُ النَّخَعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَأَحْمَدَ (وَالثَّانِي) يَجُوزُ لِعُمُومِ الْآيَةِ وَلِأَنَّهُ يَصِحُّ التَّبَرُّعُ بِقَضَاءِ دَيْنِهِ كَالْحَيِّ وَلَمْ يُرَجِّحْ وَاحِدًا مِنْ الْوَجْهَيْنِ Artinya: “Jika ada orang meninggal, diamempunyai tanggungan utang sedangkan ia tidak mempunyai aset yang ditinggalkan. Apakah utang boleh dibayarkan dari jatah “gharimin” (orang-orang utang)? Di sini terdapat dua wajah (dua pendapat). Pertama, tidak boleh. Pendapat ini dilontarkan oleh As-Shaimariy, mazhab An-Nakha’iy, Abu Hanifah dan Ahmad. Kedua, boleh-boleh saja sesuai arah ayat “al-gharim” dengan tanpa menyebut spesifikasi orang hidup atau mati.”

Read More

Meninggalkan Sholat, Akan Menjadi Penghalang Terkabulkan nya Doa

Jakarta — 1miliarsantri.net : Setiap Muslim memiliki kewajiban terhadap Allah SWT. Salah satu kewajiban yang dilakukan adalah mengerjakan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi larangan-Nya. Tapi bagaimana jika seorang Muslim sangat rajin berdoa tapi hampir-hampir tak pernah sholat? Najmi bin Umar Bakkar dalam buku 50 Sebab Doa tidak Terkabul menjelaskan, meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT akan menjadi penghalang terkabulnya doa.  Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 186:  وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ  الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا  لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ Yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” Laits berkata bahwa Nabi Musa AS melihat seseorang yang menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Kemudian Nabi Musa berkata, “Rabbku, hamba-Mu berdoa kepada-Mu agar Engkau merahmatinya dan Engkau Zat Yang Paling Penyayang, lalu apa yang akan Engkau perbuat untuk memenuhi kebutuhan hamba itu?” Allah kemudian berfirman, ‘Wahai Musa, jika seandainya hamba tersebut menengadahkan kedua tangannya hingga selesai maka aku tidak akan melihat kebutuhannya hingga ia memperhatikan hak-Ku.”

Read More

Beberapa Fakta Nabi Adam dan Keluarganya Setelah Berada di Bumi 

Jakarta — 1miliarsantri.net : Nabi Adam AS dan istrinya Siti Hawa diperintahkan untuk keluar dari surga dan turun ke bumi karena dianggap telah melanggar ketentuan apa yang sudah dilarang oleh Allah SWT. Maka sejak saat itulah Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke bumi dan menjadi manusia pertama yang hidup dan tinggal di bumi. Setelah pertemuan keduanya di bumi seusai berpisah beberapa puluh tahun, keduanya pun bertemu kembali. Berikut ini sejumlah fakta terkait pertemuan keduanya setelah berada di bumi:  1. Setelah Adam dan istrinya diturunkan ke bumi, berkembanglah anak keturunannya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Alquran surat Al-Araf [7]: 24-25. Allah SWT berfirman:  قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ “Allah berfirman, “Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan, kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan. Kemudian, Allah juga berfirman, “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” Penjelasan serupa juga terdapat dalam surah Al Baqarah [2]: 36. 3. Para ulama sepakat, sejak diturunkan ke bumi, istri Adam, yakni Hawa, melahirkan anak-anak Adam sebanyak 20 kali. Namun, setiap kelahiran selalu kembar, putra dan putri.  Dengan demikian, jumlahnya mencapai 40 orang  4. Di antara sekian banyak anak Adam, terdapat kisah yang menjadi awal mula pembunuhan di muka bumi. Pembunuhan itu dilakukan Qabil terhadap adiknya yang bernama Habil. (QS Almaidah [5]: 27-30)    5. Nabi Adam lalu pulang dan menemukan salah satu putranya telah tiada karena dibunuh oleh anaknya sendiri. Allah SWT berfirman:  إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا “Sesungguhnya, Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Maka, semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya, manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS Al-Ahzab [33]: 72). Dialah Qabil, manusia yang tidak amanah dalam menunaikan pesan Nabi Adam AS untuk menjaga keluarganya. Demikianlah keterangan Imam Ath-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Mulk, Jilid I, halaman 13 

Read More

Habib Syech : Berkah Sholawat, Maksiat Minggat

Bandar Lampung — 1miliarsantri.net : Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat dan memperbanyak majelis-majelis shalawat. Dengan banyaknya majelis shalawat dan lantunan-lantunannya, kemaksiatan dan hal-hal negatif bisa dihilangkan. “Insyaallah berkat shalawat, maksiat minggat,” tegas Habib Syech saat hadir pada Bandarlampung Bershalawat di Lapangan Saburai, Kecamatan Enggal, Bandarlampung, Jumat (08/09/2023) malam. Untuk lebih menguatkan kegiatan majelis shalawat, ia mengungkapkan keinginannya untuk sering datang ke Lampung. Ia berharap ke depan bisa berkunjung ke seluruh kabupaten dan kota di Lampung untuk bersama-sama bershalawat kepada Rasulullah SAW. Habib Syech pun mengungkapkan kerinduan kepada Lampung karena sudah lama tidak hadir ke Sai Bumi Ruwa Jurai ini. Ia menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah mempelopori kedatangannya ke Lampung untuk mensyiarkan shalawat sebagai bentuk kerinduan pada Rasulullah. “Saya doakan semua yang hadir akan mendapatkan kemuliaan dan keberkahan dapat berjumpa dengan Nabi Muhammad, berziarah ke tempat Nabi Muhammad, mendapatkan syafaat Nabi Muhammad, dibanggakan Nabi Muhammad. Dengan memandang wajah beliau walau dalam mimpi-mimpi, atau dengan ziarah ke tempat beliau di Madinah Munawwarah,” imbuhnya. Jika majelis-majelis shalawat ramai seperti pada acara tersebut, maka menurut Habib Syech, Rasulullah akan senang dan bangga. Ia pun menyampaikan terimakasih kepada Nahdlatul Ulama yang telah menjadi sebab kehadirannya di Lampung. “Saya datang ke sini juga sebabnya dari pada Nahdlatul Ulama. Yang juga mempelopori majelis di malam hari ini. Semua kepengurusan Nahdlatul Ulama ada di sini,” lanjutnya. Habib Syech pun mendoakan kepengurusan NU Lampung ke depan akan dapat berkiprah dengan baik dan lebih maju.

Read More

Ciri-ciri Orang Lalai Dalam Melakukan Sholat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Shalat adalah tiang agama Islam. Setiap Muslim wajib mendirikan shalat minimal 17 rakaat dalam lima waktu setiap harinya. Keutamaan ibadah tersebut didapat bila kita tidak lalai dalam shalat. Allah SWT berfirman dalam surah Al Ma’un ayat 4 yang berbunyi, “Celakalah orang yang shalat”. Seruan ini ditujukan bagi mereka yang lalai dalam shalat. Lalu, apa ciri-ciri dari orang yang lalai dalam shalatnya? Imam Ibnu Qayyim menyebut sejumlah ciri orang yang lalai dalam shalat, yaitu. Aa Gym mengatakan, ciri pertama ini dimiliki orang munafik yang menganggap shalat adalah beban dan berat dijalankan. “Ketika orang lain tidak mengetahui dia cenderung tidak mau shalat dan dia suka ingin diketahui oleh orang lain bahwa dia melaksanakan shalat,” kata Aa Gym dalam salah satu kajiannya. Padahal, Allah Ta’ala mencintai orang yang shalat di awal waktu, “ash-shalatu’ ala waqtiha”.

Read More

Kisah Musailamah Mengaku Nabi

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Suatu ketika, Musailamah al-Kazzab di hadapan baginda Nabi Muhammad SAW sudah mengaku sebagai Nabi. Setelah baginda Nabi Muhammad SAW wafat, ulah Musailamah al-Kazzab semakin menjadi-jadi. Ketika itu orang-orang Arab banyak yang murtad dari lslam, maka Musailamah al-Kazzab semakin mendapatkan kekuatan. Sehingga Sayyidina Abu Bakar As-Shidiq Radhiyallahu ‘anhu semakin memeranginya. Allah SWT memberi kekuatan kepada lslam dan Musailamah dapat dibunuh. Akan tetapi, pada pertempuran itu, satu shahabat Nabi Muhammad SAW mati syahid, termasuk para hafizh Alquran. Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Amirul Mukminin Abu Bakar, “Dalam pertempuran itu banyak para hafizh Alquran yang syahid. Aku khawatir jika ada pertempuran lagi, akan semakin banyak hafizh Alquran yang mati syahid, dan dikhawatirkan akan banyak bagian Alquran yang hilang. Untuk itu, sebaiknya Alquran ditulis di satu mushaf, agar selamat dan terjaga.” Abu Bakar berkata, “Bagaimana aku berani mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh baginda Rasulullah SAW?” Namun Umar bin Khattab terus mendesaknya dan menyampaikan pentingnya mengumpulkan Alquran. Akhirnya, Abu Bakar menyetujui usul Umar bin Khattab. Maka Abu Bakar memanggil Sayyidina Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu. Zaid bin Tsabit bercerita, “Aku datang kepada Abu Bakar, sedangkan Umar bin Khattab sudah berada di sana.” Kemudian Abu Bakar menceritakan pembicaraannya dengan Umar bin Khattab mulai dari awal sampai akhir. Setelah itu Abu Bakar berkata, “Kamu seorang pemuda yang cerdas, orang-orang sangat mempercayai kamu, dan tidak ada yang bersangka buruk terhadap kamu. Selain itu, kamu termasuk penulis wahyu pada zaman baginda Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, kumpulkanlah Alquran yang ada pada orang-orang dan tulislah di satu mushaf.” Zaid bin Tsabit menjawab, “Demi Allah, seandainya aku diperintahkan memindahkan sebuah gunung dari suatu tempat ke tempat lain, hal itu lebih mudah bagiku daripada harus mengumpulkan Alquran.” Zaid bin Tsabit berkata kepada Abu Bakar dan Umar bin Khattab, “Mengapa hal itu harus dilakukan, padahal baginda Rasulullah SAW tidak pernah melakukannya?” Abu Bakar dan Umar bin Khattab terus memberikan pemahaman kepada Zaid bin Tsabit sampai menerimanya.

Read More

Kisah Az-Zahrawi, Seorang Ahli Bedah yang Luar Biasa Kehebatannya

Jakarta — 1miliarsantri.net : Az-Zahrawi lahir pada 938 di Kordoba, Andalusia. Dia merupakan tokoh yang menulis At-Tasrif, sebuah ensiklopedia medis yang mencakup berbagai aspek kedokteran, termasuk kebidanan, kesehatan ibu dan anak, dan pembedahan Abad ke-10 merupakan puncak kejayaan Bani Umayyah di Andalusia. Di bawah kepemimpinan ‘Abd ar-Rahman An-Nasir (memerintah 912-961) dan putranya, Al-Hakam II, dinasti ini membangun kedaulatan atas sebagian besar Semenanjung Iberia. Ibu kota Cordoba berkembang menjadi kota metropolitan terbesar di Eropa, sebuah kota yang berkembang dengan setengah juta penduduk, di mana institusi pendidikan dan keagamaan serta perdagangan dan industri berkembang dalam atmosfer yang penuh dengan intelektual. Pada 936, An-Nasir memulai pembangunan ibu kota baru, Az-Zahra, di lereng Al-Arus, sebuah gunung yang terletak enam mil di sebelah barat laut Kordoba. Ditujukan terutama sebagai pusat politik dan militer, kota baru ini menjadi monumen arsitektur Muslim abad ke-10. Istana-istana megah, tempat tinggal, dan taman-tamannya yang indah membuat beberapa sejarawan menjulukinya sebagai “Versailles-nya Bani Umayyah.” Bani Umayyah dan Ilmu PengetahuanMengutip About Islam, pada saat yang sama, Bani Umayyah Andalusia memberikan dukungan yang besar terhadap seni dan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu hayati. Sebagai hasilnya, sejumlah besar dokter terkemuka tertarik ke ibu kota dan menambah kemajuan kedokteran dan farmasi Islam dengan tulisan dan penelitian mereka. Di kota kerajaan di tengah-tengah atmosfer pencapaian intelektual inilah Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Az-Zahrawi, yang dikenal di Barat dengan nama latinnya Albucasis, lahir sekitar tahun 938. Dia adalah ahli bedah Muslim terbesar, dengan ahli bedah Eropa pada masanya menganggapnya sebagai otoritas yang lebih besar daripada Galen, ahli bedah yang diakui di dunia kuno. Teks-teks bedah Eropa abad pertengahan lebih sering mengutip Az-Zahrawi daripada Galen. Namun, karena Az-Zahra, kota kelahirannya, dihancurkan pada tahun 1011, tidak banyak yang diketahui dengan pasti tentang kehidupan awalnya. Jadhwat al-Muqtabis (On Andalusia Savants) karya Al Humaydi berisi biografi pertama yang ada (meskipun, samar-samar) tentang dokter Islam yang hebat ini, yang hanya mencantumkan leluhurnya, tempat tinggal, dan perkiraan tanggal kematiannya. Karya TulisApa yang diketahui tentang Az-Zahrawi terdapat dalam satu-satunya karya tulisnya: At-Tasrif liman ‘Azija ‘an at-Ta’lif (Metode Pengobatan). At-Tasrif adalah ringkasan 30 risalah yang disusun dari data medis yang dikumpulkan Az-Zahrawi dalam karir medisnya selama lima dekade sebagai pengajar dan praktisi medis. Dalam At-Tasrif, Az-Zahrawi menghasilkan sebuah ensiklopedia medis yang mencakup sejumlah aspek kedokteran dengan penekanan khusus pada kebidanan, kesehatan ibu dan anak, serta anatomi dan fisiologi tubuh manusia.

Read More

Gus Baha : Belajar agama itu tidak perlu kaku

Rembang — 1miliarsantri.net : Ulama ahli tafsir sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran LP3IA di Narukan, Kragan, Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) membagikan tips belajar agama dengan bahagia. Tips tersebut berguna bagi umat Islam yang hendak mendalami syariat Islam. Dia menjelaskan, beragama tidak perlu kaku, apalagi menjadi seseorang yang paling benar. Nabi Muhammad SAW dan umat Islam terdahulu memiliki selera humor tinggi. Mereka tidak kaku dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ada banyak kisah-kisah humor dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat. “Hubungan khalik dan mahluk itu mesra. Apalagi antarmahluk, antarmanusia, nabi, sahabat, santri bersama gurunya, wali bersama muridnya, semua harus mesra,” urai Gus Baha saat menyampaikan tausiah yang disiarkan melalui kanal youtube, dikutip Rabu (06/09/2023). Gus Baha lalu menceritakan saat Nabi Musa AS mengajak 70 santrinya naik gunung. Nabi Musa AS mendapat perintah dari Allah SWT untuk bersiap-siap menerima wahyu, yakni Kitab Taurat. Ketika di atas gunung, Nabi Musa AS menyendiri. Setelah beberapa lama, dia mengajak santrinya turun. “Yuk, sudah dapat wahyunya. Kita turun sekarang,” ucap Gus Baha memperagakan Nabi Musa AS mengajak para santrinya turun gunung. Tetapi, para santri Nabi Musa AS protes. “Tidak bisa begitu wahai Musa. Kita juga harus sama dong, kami ingin menyaksikan Allah dengan mata kepala sendiri, sama seperti Anda, wahai nabi,” ujarnya. Lalu, Allah SWT memerintahkan petir menyambar dan mati semua santri Nabi Musa AS. Nabi Musa sangat terkejut menyaksikan hal tersebut. Nabi Musa lalu berkata kepada Allah:

Read More