KH Miftachul Akhyar : Beberapa Jenis Rejeki yang Harus Kita Ketahui

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menjelaskan, ada beberapa hal yang dimaksud dengan rejeki. Jadi rezeki bukan hanya uang, ilmu juga termasuk rezeki, karena rezeki memiliki arti setiap yang bisa dimanfaatkan. Menurut Kiai Miftach, apapun yang dimiliki, baik rezeki dhahir maupun rezeki ilmu harus ada nilai infaq di dalamnya. “Jadi, apapun yang kita punya harus ada nilai infaqnya, baik berupa infaq rezeki dhahir, maupun rezeki ilmu, dan lain sebagainya. Setiap yang bisa dimanfaatkan itu namanya rezeki. Ilmu dimanfaatkan, makanan dimanfaatkan, baju dimanfaatkan,” ujarnya dilansir dari YouTube Multimedia KH Miftachul Akhyar, Senin (04/09/2023). Ia menjelaskan, rezeki dibagi menjadi dua, yaitu rezeki halal dan rezeki haram. Rezeki haram pun termasuk ke dalam rezeki di mana yang haram adalah cara mendapatkannya. Sementara rezeki baik yang halal atau haram itu tidak lepas dari apa yang ditulis oleh malaikat saat 40 hari yang ketiga di rahim ibu. “Sebenarnya rezeki kita itu sudah dibagi habis oleh Allah, nggak tambah, nggak kurang. Hanya saja ada orang nggak tahan, akhirnya ambil milik orang lain, mencuri milik orang lain. Padahal yang diambil itu sebenarnya rezekinya sendiri. Hanya caranya yang salah, ambilnya dengan cara yang salah, akhirnya jadi haram,” terangnya. Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya tersebut menegaskan bahwa apapun yang bisa gunakan, bisa dimakan, bisa dipakai, bisa dihabiskan itu namanya rezeki. Kemudian jika manusia dapat menerapkan rezeki yang dimilikinya dengan baik, tidak akan saling menuntut, iri, dan lain sebagainya. Lebih lanjut, Kiai Miftach menjelaskan bahwa setan dan iblis merupakan salah satu makhluk yang diberi kekuasaan atau kemampuan oleh Allah untuk mengganggu rezeki manusia. “Iblis, syetan, jin, dan semua jaringan-jaringannya, dan semua yang ikut dalam barisannya itu bisa mengganggu rezeki manusia. Makanya kalau kita makan dan minum sebelumnya baca bismillah, maka setan akan kelaparan dan kehausan karena nggak bisa menikmati rezeki kita, karena sudah baca bismillah. Pokoknya kita diperintah bagaimana menjadikan setan di sekeliling kita, setan yang tidak mau melepaskan kita itu bisa menjadi kurus-kurus. Maka seringlah baca bismillah,” sambung Kiai Miftach.

Read More

Keutamaan Luar Biasa Puasa Ayyamul Bidh

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rukun Islam merupakan lima perkara dasar yang menjadi syarat untuk menjadi sosok Muslim yang sempurna. Di antara lima perkara tersebut adalah ibadah puasa. Selain bulan yang wajib yakni puasa di bulan Ramadhan, terdapat beberapa puasa sunnah. Diantara sekian puasa sunnah yang ada, puasa Ayyamul Bidh dihukumi sebagai sunnah muakkad atau sangat dianjurkan. Ibadah ini dilakukan di hari-hari putih (white days), saat bulan bersinar terang atau purnama sempurna di malam hari. Karena itu, puasa Ayyamul Bidh dilakukan sesuai dengan penanggalan kalender Hijriah, yaitu setiap tanggal 13, 14 dan 15 di setiap bulannya. Dari Jarir bin ‘Abdullah, dari Nabi Muhammad SAW bersabda, “Puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa Dahr dan puasa hari-hari Bidh (putih cerah karena sinar rembulan), adalah waktu pagi tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas.” [Sunan an-Nasa’i] Selain itu, dalam hadits lain diketahui bahwa Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Menjalankan Saum (puasa) pada tiga hari setiap bulan setara dengan puasa sebulan penuh.” [Al-Bukhari dan Muslim] Puasa merupakan suatu amalan yang sangat diganjar oleh Allah SWT. Dari Abu Huraira meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Allah Yang Maha Agung dan Ta’ala bersabda: Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Hal ini dilakukan demi Aku, dan Aku akan memberikan pahala untuk itu. Demi Allah yang di tangan-Nya nyawa Muhammad, nafas orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada wangi musk.” [Shahih Muslim] Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, “Pahala setiap amal (kebaikan) seseorang dikalikan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah (SWT) berfirman: ‘Pahala menjalankan Saum (puasa) berbeda dengan pahala amal shaleh lainnya; Saum itu untuk-Ku, dan Aku Sendiri yang akan memberikan pahalanya. Orang yang menjalankan Saum pantang makan dan minum hanya demi Aku.’ Orang yang berpuasa mempunyai dua peristiwa yang menggembirakan, satu pada saat berbuka, dan yang lainnya pada saat bertemu Rubb-nya. Sesungguhnya nafas orang yang mengamati Saum lebih harum di sisi Allah dari pada harumnya musk.” [Muslim] Dilansir di About Islam, Ahad (03/09/2023), disebutkan bahwa dengan puasa akan membantu seorang Muslim mendisiplinkan dirinya. Di sisi lain, ibadah ini juga bentuk dari pemurnian spiritual dan fisiknya. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman: ‘Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali As-Siyam (puasa) yang (khususnya) untuk-Ku, dan Aku akan membalasnya atas hal itu.’ Puasa adalah perisai. Jika ada di antara kalian yang menjalankan puasa, hendaknya ia tidak mengucapkan kata-kata kotor dan tidak boleh meninggikan suaranya; dan siapa pun yang mencaci-makinya atau mencoba bertengkar dengannya, hendaknya dia berkata: ‘Aku sedang berpuasa.’ Demi Dia yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, nafas orang yang menjalankan Saum lebih harum di sisi Allah daripada wangi musk. Orang yang berpuasa merasakan dua kebahagiaan: kenikmatan yang dirasakannya saat berbuka. Dia bergembira karena puasanya ketika bertemu Rubb-nya.” [Al-Bukhari dan Muslim]

Read More

Habib Lutfi : Ini Sebenarnya yang dimaksud Tasawuf

Pekalongan — 1miliarsantri.net : Ketua Forum Ulama Sufi Dunia, Habib Luthfi bin Yahya meluruskan pandangan orang terhadap dunia tasawuf. Hal ini disampaikan Habib Luthfi dalam acara penutupan Muktamar Sufi Internasional di Sahid Convention Center Pekalongan pada Kamis (31/08/2023) lalu. Rais Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) ini menjelaskan, jika masih ada yang beranggapan bahwa orang yang menggeluti dunia tasawuf hanya berkutat pada urusan akhirat dan takut pada dunia, maka perlu diluruskan. Karena, menurut dia, pemahaman seperti itu tidak tepat. “Kemungkinan masih banyak memahami dalam dunia tasawuf kalau orang tasawuf itu pandainya duduk, pandainya memutar tasbih, kurang peduli, sehingga jarang orang yang mau masuk tasawuf karena orang kalau sudah masuk tasawuf takut kepada dunia,” urai Habib Luthfi dikutip dari laman resmi Jatman, Sabtu (02/09/2023). Dia menjelaskan, tasawuf itu tazkiyatul qulub, yakni untuk membersihkan hati. Jika hati kita ini bersih, maka hal-hal yang selalu menghalangi-halangi hubungan kita kepada Allah itu akan sirna dengan sendirinya. “Kita setiap hari tidak lepas dari membersihkan fisik. Dari mulai mandi sampai wudhu sampai cuci muka. Tapi kapan kita akan membersihkan hati? Dengan apa cara membersihkan hati? Jelas peranan tarekat di sini sangat diperlukan sekali. Yang tidak terlepas dalam dunia tarekat ada tazkiyatil qulub, untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang luar biasa,” sambungnya. Menurut dia, tasawuf membersihkan hati dari penyakit hati seperti hasud, takabbur, dengki, dan penyakit senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. “Mungkin senang kalau melihat negara ini pecah belah, rakyat tidak akur, ramai, dan gembira sekali. Ini penyakit-penyakit hati yang sangat mengerikan,” imbuhnya.

Read More

KH Kafabih : Indonesia itu Negara Yang Sangat Luar Biasa

Surabaya — 1miliarsantri.net : Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo Kediri, KH Abdullah Kafabihi Mahrus atau yang akrab disapa Kiai Kafabih menegaskan, Indonesia adalah negara yang aman di tengah keyakinan bangsanya yang tidak tunggal. Demikian juga dengan warna kulit dan budayanya yang cukup kaya. Menurutnya, tak sedikit negara luar yang akhirnya datang ke Indonesia untuk menggali lebih jauh terkait upaya Indonesia menjaga persatuan di antara bangsanya. “Kita hidup di Indonesia itu merupakan anugerah. Indonesia adalah negara yang aman sehingga banyak sekali orang (luar) yang datang ke Indonesia,” terangnya kepada 1miliarsantri.net Jumat (01/09/2023). Kiai Kafabih mengajak kepada masyarakat Indonesia untuk mensyukuri anugerah Allah swt yang telah menjadikan Indonesia sebagai negara aman dan dijaga dari perpecahan-perpecahan. Persatuan dan kesatuan hendaknya terus menjadi karakter bangsa dalam membangun Indonesia ke depan. “Maka negara aman inilah yang harus kita syukuri,” jelasnya. Banyak cara yang bisa dilakukan warga Indonesia sebagai wujud syukur atas anugerah tersebut. Kiai Kafabih menyampaikan, salah satunya adalah dengan terus menghormati perjuangan para pahlawan yang telah berjibaku mengusir para penjajah di zamannya. Menaruh hormat kepada mereka dapat diwujudkan dengan sebuah tanggung jawab terhadap keberlangsungan Indonesia yang maju. “Arti syukur di sini bagaimana kita mengisi kemerdekaan kita supaya mendatangkan hal-hal yang positif, yang bermanfaat bagi negara dan bangsa. Sebab diharapkan ke depan Indonesia merupakan negara yang maju, sejahtera, (lebih) damai, dan (lebih) aman,” ungkapnya. Dalam mewujudkan hal itu, ia menegaskan bahwa warga Indonesia sudah memiliki bekal utama, yakni akhlak mulia yang sudah menjadi karakter yang kuat. Perangai ini menurutnya satu hal yang bisa manciptakan sikap saling menghargai perbedaan di tengah masyarakat Indonesia. Dan pada waktu yang sama, persatuan akan semakin kuat.

Read More

Ibu Melahirkan Termasuk Jihad Yang Paling Utama

Jakarta — 1miliarsantri.net : Wakabid Penyelenggaraan Peribadatan BPMI, KH Abu Hurairah Abd Salam, mengungkapkan, ada 36 ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang jihad dalam berbagai dimensi. Semua ayat tersebut menunjukkan jihad tidak bisa dipisahkan dari agama Islam, karena merupakan fakta sejarah yang terdokumentasikan dalam Al-Qur’an. “Namun Al-Qur’an juga memberikan begitu banyak ketentuan, hukum, aturan, syariat serta pesan-pesan moral terkait dengan jihad ini,” kata Abu Hurairah dikutip Jumat (01/09/2023). Tapi sayang, banyak orang yang minim ilmu mengambil pesan jihad dalam Al-Qur’an sepotong-sepotong. Bahkan, ada kecenderungan menggunakan sebagian ayat Al-Qur’an dan meninggalkan ayat-ayat lainnya, persis seperti apa yang dilakukan para ahli kitab pada masa lalu. Abu Hurairah menegaskan, jihad bukan menyerang orang, melukai orang, menghilangkan nyawa orang yang tidak berdosa, atau melakukan bom bunuh diri. Sebab, dalam konteks peperangan sekalipun, jihad bukan memerangi, tetapi membela diri ketika diserang. Kalau diserang tidak mungkin diam saja. “Jika negara kita diserang maka wajib hukumnya untuk bangkit membela, niatkan karena Allah SWT, itulah yang dimaksud dengan jihad. Makanya orang tua dan guru kita Hadratus Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari pernah mengeluarkan resolusi jihad, saat kita melawan penjajah karena konteksnya membela negara bukan menyerang,” ujar Abu Hurairah. Dia menjelaskan, makna Jihad tidak harus bentuknya perang. Namun, bukan berarti Islam itu anti perang. Itu karena jika Islam tidak punya konsep perang, pasti akan bingung saat berjuang melawan dan mengusir penjajah. “Jihad dalam makna perang itu adalah pilihan terakhir dan penting untuk diingat bahwa jihad itu bukanlah bertujuan untuk melakukan kekerasan, membunuh, merusak, membakar dan lain-lain,” tutur ABu Hurairah.

Read More

KH Miftachul Akhyar : Biasakan Berkata dan Berdoa Yang Baik dan Benar

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengajak masyarakat membiasakan dalam kehidupan sehari-hari dalam bertutur dengan ucapan yang baik, termasuk di dalam berdoa. Ada waktu-waktu yang mustajab dalam setiap pergantian masa. Dikhawatirkan, doa yang jelek itu terucap tepat pada waktu yang memang mudah dimakbul oleh Allah swt. “Kalau kamu memohon kepada Allah atau menginginkan sebuah cita-cita, periksa cita-cita itu, jangan cita-cita yang remeh murahan, isi doa yang penting. Jaga mulutmu dari ucapan yang jelek. Kenapa? Kalau harapan itu tepat pada waktu yang mustajabah, ya malapetaka,” terang Kiai Miftach di kanal Youtube Multimedia KH Miftachul Akhyar dikses Kamis (31/08/2023). Penjelasan ini dijabarkan Kiai Miftach saat mengurai maksud sebuah hadits Rasulullah SAW yang ada di Kitab Jami’ As-Shogir, sebagaimana berikut: “Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian mempunyai cita-cita, maka lihatlah apa yang dia cita-citakan, kerana dia tidak mengetahui apa yang ditulis (ditakdirkan) tentang cita-citanya”. Hadits dengan kualifikasi sanad hasan ini dijelaskan KH Miftachul Akhyar, memberi pesan bahwa hendaknya seseorang berhati-hati dalam berdoa atau bercita-cita. Permohonan yang disandarkan kepada Allah swt harus benar-benar dipastikan baik, bukan sebaliknya. Menurut Kiai Miftach, ulama memberikan banyak pandangan soal waktu-waktu yang mustajabah. Dengan demikian, perbedaan itu yang semestinya memacu kalangan Muslim khususnya untuk terus berdoa memohon kepada Allah untuk mewujudkan harapan-harapan baiknya. “Kita tidak tahu kapan waktu mustajabah. Oleh karena itu kalau doa, sehari semalam isi dengan doa, karena dalam sehari semalam akan ada saat yang mustajabah. Kapan? Kita tidak tahu. Ada yang mengatakan setelah Ashar, ada yang mengatakan mendekati Maghrib, ada yang mengatakan waktu matahari mau terbenam,” ungkapnya.

Read More

Keutamaan Menempati Shof Terdepan dalam Sholat Berjamaah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Sebagaimana diketahui dimana jamaah shalat yang menempati urutan shaf terdepan akan mendapatkan keutamaan dibandingkan lainnya. Hal ini telah disampaikan oleh Rasulullah SAW sebelumnya, seperti apa keutamaannya? Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْمُتَقَدِّمَةِ “Allah dan para Malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang berada di shaf-shaf terdepan” (HR. An Nasa-i no. 810. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i). Di samping itu, dalam riwayat lain disebutkan: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الأَوَّلِ “Allah dan para Malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang berada di shaf pertama” (HR. Ahmad no.18152, Ibnu Majah 825) Rasullah SAW menganjurkan umatnya untuk sholat tepat waktu, berjamaah di Masjid. Banyak fadilah bagi siapa saja yang istiqomah sholat berjamaah di masjid, salah satunya dia akan memiliki cahaya di atas cahaya.

Read More

Peristiwa Ketika Kaum Musyrik Tidak Berdaya Menghadapi Umar bin Khattab

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Fase dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di Makkah tidaklah mudah. Kebanyakan Muslimin ketika itu berasal dari golongan yang miskin atau kawula biasa. Sementara itu, musyrikin Quraisy menguasai pemerintahan kota itu sehingga leluasa mengekang syiar agama Islam. Dalam situasi demikian, Rasulullah SAW pernah memanjatkan doa, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari (kedua ini), Amr bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khattab.” Belakangan tersingkap jelas bahwa Allah SWT mengabulkan munajat tersebut. Adapun lelaki yang dikehendaki-Nya untuk menerima hidayah adalah yang tersebut akhir. Ada beragam riwayat tentang masuk Islamnya Umar bin Khattab. Yang paling populer adalah kisah tentang pria dari Bani Adi itu hendak membunuh Rasulullah SAW dengan sebilah pedang. Dalam perjalanan, ia dicegat seorang kawannya yang ternyata telah berislam. Lantas, temannya itu berkata bahwa beberapa orang terdekat justru sudah menyatakan iman kepada Nabi SAW. Termasuk di antara mereka adalah saudara perempuan Umar, Fatimah. Maka lelaki berbadan tinggi-besar itu tidak jadi menuju ke rumah Rasul SAW, melainkan kediaman saudarinya itu. Singkat cerita, Umar mengamuk hingga menampar wajah Fatimah. Menyesali perbuatannya, ia lalu meminta mushaf Alquran yang sedang dipegang saudarinya itu. Lembaran itu ternyata memuat surah Thaha. Setelah membacanya, Umar dirundung keharuan yang begitu hebat. Hatinya tersentuh sehingga seketika menyatakan komitmen berislam. Itu kisah pertama. Namun, ada pihak yang meragukan kesahihan riwayat tersebut. Sejarawan Mesir Muhammad Husain Haekal, misalnya, lebih yakin terhadap cerita lain, yakni bahwa Umar masuk Islam karena secara tidak sengaja mendengarkan Rasulullah SAW. Saat itu, beliau sedang membaca sebuah ayat Alquran di dekat Ka’bah. Apa pun versinya, yang pasti adalah keislaman Umar menjadi salah satu peristiwa yang paling menentukan dalam sejarah. “Islamnya Umar bin Khattab adalah suatu pembebasan. Sebelum Umar memeluk Islam, kami tak dapat shalat di Ka’bah. Setelah dia menjadi Muslim, diperanginya mereka (orang-orang musyrik) sampai mereka membiarkan kami. Maka kami pun dapat melaksanakan shalat,” kata salah seorang sahabat, Abdullah bin Ma’sud. Sejak hari pertama menjadi Muslim, Umar memang tidak gentar. Langsung saja ia mengabarkan keimanannya pada seluruh warga Makkah. Caranya dengan menyuruh seorang yang paling “ringan” lisannya di seantero kota tersebut. Waktu itu, Jamil bin Ma’mar bagaikan media sosial pada masa kini. Apa saja yang didengar orang ini, pasti segera disiarkannya kepada sebanyak-banyaknya orang. Maka Umar sengaja memberi tahu keislamannya kepada Jamil. Seketika, si juru berita lari, lantas naik ke bukit Makkah, sembari berteriak, “Wahai Quraisy! Umar telah menjadi murtad!” Mendengar seruan itu, Umar naik pitam. Baginya, kata-kata Jamil telah memelintir fakta. Yang benar bukan bahwa dirinya murtad—berbalik dari kebenaran. Justru dia sudah berpaling dari sikap Jahiliyah, yakni menyembah berhala, dan kembali pada Islam sebagai jalan tauhid. “Bohong! Tetapi yang benar adalah saya sudah masuk Islam dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad hamba dan Rasul-Nya,” sanggah Umar.

Read More

Rasulullah SAW Menganjurkan Agar Selalu Bertobat Kepada Allah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setiap Muslim dianjurkan untuk senantiasa bertobat kepada Rabb nya. Terdapat sejumlah keutamaan bagi mereka yang bertobat. Di antaranya adalah hadits riwayat Abu Hurairah RA. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: إنَّ عَبْدًا أصابَ ذَنْبًا – ورُبَّما قالَ أذْنَبَ ذَنْبًا – فقالَ: رَبِّ أذْنَبْتُ – ورُبَّما قالَ: أصَبْتُ – فاغْفِرْ لِي، فقالَ رَبُّهُ: أعَلِمَ عَبْدِي أنَّ له رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ ويَأْخُذُ بهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ ما شاءَ اللَّهُ ثُمَّ أصابَ ذَنْبًا، أوْ أذْنَبَ ذَنْبًا، فقالَ: رَبِّ أذْنَبْتُ – أوْ أصَبْتُ – آخَرَ، فاغْفِرْهُ فقالَ: أعَلِمَ عَبْدِي أنَّ له رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ ويَأْخُذُ بهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ ما شاءَ اللَّهُ، ثُمَّ أذْنَبَ ذَنْبًا، ورُبَّما قالَ: أصابَ ذَنْبًا، قالَ: قالَ: رَبِّ أصَبْتُ – أوْ قالَ أذْنَبْتُ – آخَرَ، فاغْفِرْهُ لِي، فقالَ: أعَلِمَ عَبْدِي أنَّ له رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ ويَأْخُذُ بهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثَلاثًا، فَلْيَعْمَلْ ما شاءَ “Sesungguhnya seorang hamba melakukan suatu dosa –atau beliau bersabda: berbuat dosa- lalu ia berkata, ”Wahai Rabb-(ku), aku telah melakukan (dosa) maka ampunilah aku.” Rabb-nya berfirman, ”Apakah hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang (mampu) mengampuni dosa dan (mampu pula) menyiksa (karena dosa yang telah dilakukan)nya? Aku telah mengampuni (dosa) hamba-Ku.” Lalu berhentilah ia (dari melakukan dosa hingga waktu yang) dikehendaki oleh Allah SubhanahuwaTa’ala. Kemudian ia melakukan dosa, atau berbuat dosa, (lagi) lalu dia berkata, ”Wahai Rabb-(ku), aku telah berbuat atau melakukan (dosa) yang lain maka ampunilah dosa(ku).” Rabb-nya berfirman, ”Apakah hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang (mampu) mengampuni dosa dan (mampu pula) menyiksa (karena dosa yang telah dilakukan)nya? Aku telah mengampuni (dosa) hamba-Ku.” Lalu berhentilah ia (dari melakukan dosa hingga waktu yang) dikehendaki oleh Allah subhanahuwata’ala. Kemudian ia melakukan dosa, atau berbuat dosa, (lagi) lalu ia berkata, ”Wahai Rabb-(ku), aku telah berbuat atau melakukan (dosa) yang lain maka ampunilah dosaku.” Rabb-nya berfirman, ”Apakah hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang (mampu) mengampuni dosa dan (mampu pula) menyiksa (karena dosa yang telah dilakukan)nya? Aku telah mengampuni (dosa) hamba-Ku tiga kali, maka silahkan ia melakukan apa yang dikehendakinya.” (HR Bukhari Juz 6: 7068, lafaz ini miliknya dan Muslim Juz 4)

Read More

Nasehat Imam Ghazali Terkait Pekerjaan Yang Dilakukan dengan Sungguh-sungguh

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bekerja dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga adalah bagian dari ibadah. Sehingga dengan cara ini seorang Muslim bisa dikata akan dapat menjaga kehormatannya dan tidak menjadi orang yang meminta-minta dan membebani orang lain. Imam Al Ghazali dalam kitab Bidayat al-Hidayah bahkan menjelaskan bahwa ketika seorang Muslim tidak mampu masuk dalam kategori kelompok para menuntut ilmu yang mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain, dan tidak juga mampu masuk kategori kelompok orang ahli dzikir yang mengamalkan dzikir secara konsisten, serta tidak juga mampu masuk dalam kategori orang yang mendermakan hasil usahanya untuk kemaslahatan umat dan syiar Islam, maka paling minimal hendaknya masuk dalam kategori kelompok orang yang menyibukan hari-harinya dengan bekerja untuk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Dengan begitu seorang Muslim akan terhindar dari meminta-minta pada orang lain dan menjadi beban orang lain. Selain itu bila tidak sanggup masuk pada kategori ahli ilmu, ahli dzikir, atau dermawan, maka hendaknya minimal memastikan keamanan dan keselamatan Muslim lainnya dari diri sendiri. Maksudnya memastikan agar jangan sampai diri kita sendiri menyakiti Muslim lainnya dengan lisan atau dengan perbuatan. Dan minimal jangan sampai melakukan maksiat-maksiat. Dengan itu semua, maka seorang hamba meski tidak masuk derajatnya golongan as sabiqun (derajatnya para kekasih Allah) paling tidak akan masuk derajatnya Ashabul Yamin, yakni golongan kanan yang selamat dunia dan akhirat)

Read More