Doa Orang Yang Tidak Akan Tertolak dan Waktu Dikabulkan nya Doa

Surabaya — 1miliarsantri.net : Doa adalah salah satu cara utama bagi umat Islam untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Doa dalam Islam digunakan untuk berbagai tujuan, seperti memohon petunjuk, kesembuhan, keberkahan, perlindungan, ampunan, atau untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Doa dapat dilakukan dalam bahasa Arab atau bahasa ibu masing-masing. Bahasa Arab digunakan dalam doa untuk membaca Alquran, sementara doa pribadi bisa dalam bahasa yang lebih dimengerti oleh diri masing-masing. Umat Islam dapat berdoa dengan mengangkat tangan. Doa biasanya dimulai dengan memuji Allah SWT, kemudian diikuti dengan permohonan atau ungkapan keinginan, dan diakhiri dengan salam. Doa dalam Islam adalah cara untuk menjalin hubungan yang lebih dalam dengan Allah SWT dan meminta bimbingan serta berkah-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat penting dalam agama Islam. Berdoa juga termasuk hal yang disukai oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah tidak menyukai orang yang tidak berdoa kepadanya karena dianggap sombong. Dalam surat Al-Baqarah ayat 186, Allah SWT berfirman: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدّاعِ إِذَا دَعَانِ Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang aku, maka sesungguhnya aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-ku.” (QS Al-Baqarah ayat 186) Berdasarkan ayat di atas, Allah SWT pasti akan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya dan hanya Allah SWT yang tahu kapan dikabulkan. Namun, ada beberapa orang yang doanya tidak akan ditolak Allah SWT.

Read More

Allah Bersemayam di Arsy

Surabaya — 1miliarsantri.net : Allah SWT menyebut dalam berbagai ayat jika Dia bersemayam di atas Arsy. Allah SWT berfirman, “Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. (QS al-A’raf [7]: 54) Lantas, bagaimanakah sifat Arsy itu? Dalam buku Ensiklopedi Islam Jilid I, dijelaskan arsy bisa diartikan sebagai takhta atau singgasana Tuhan. Hal ini berdasarkan kata dasar dalam bahasa Arab arsya, yang berarti bagunan, singgasana, istana, atau takhta. Arsy dengan pengertian tersebut banyak disebutkan dalam Alquran, seperti dalam surah at-Taubah ayat 129, surah Yunus ayat 3, surah al-Mu’minun ayat 86 dan 87, serta surah an-Naml ayat 26. Arsy, menurut paham Ahlussunah waljamaah, adalah makhluk Allah yang tertinggi berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat. Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran, “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (QS al-Haaqah [69]:17) Dalam Tafsir ad-Durr al-Mansur fi Tafsir bi al-Maksur, Jalaluddin as-Suyuti menyebutkan, ada hadis yang diriwayatkan Ibnu Abi Khatim dari Wahhab bin Munabbih. Hadis tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan Arsy dan kursi (kedudukan) dari cahaya-Nya. Arsy itu melekat pada kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi. Di sekeliling Arsy itu terdapat empat sungai, yaitu sungai yang berisikan cahaya berkilauan, sungai yang berisikan api menyala kemerahan, sungai yang berisikan salju putih berkilauan, dan sungai yang berisikan air. Di setiap sungai tersebut para malaikat berdiri sambil membaca tasbih, yang berarti Mahasuci Allah. Di Arsy terdapat lisan atau bahasa sebanyak lisan makhluk seluruhnya. Setiap lisan bertasbih kepada Allah dengan bahasanya. Abu as-Syaikh meriwayatkan hadis dari asy-Sya’bi. Rasulullah Saw bersabda, “Arsy itu terbuat dari batu permata (yakut) merah. Satu malaikat di antara malaikat memandang Arsy dan keagungannya,” jelas potongan hadis tersebut. Penjelasan tentang Arsy yang demikian, dipertegas dengan hadis yang diriwayatkan Abu asy-Syaikh dari Hammad. Rasulullah bersabda, “Allah menciptakan Arsy dari permata zamrud hijau dan diciptakan baginya tiang penopang dari batu permata (yakut) merah. Di Arsy terdapat seribu bahasa (lisan). Di bumi diciptakan seribu umat. Setiap umat bertasbih kepada Allah dengan bahasa Arsy.” Terkait ukuran singgasana Tuhan tersebut, tidak akan ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri. Hal ini diriwayatkan Ibnu Abi Khatim dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas mengatakan, “Tidak akan ada yang mampu mengetahui berapa ukuran Arsy kecuali yang menciptakannya. Langit dibandingkan dengan Arsy ibarat kubah di atas padang sahara nan luas,” katanya.

Read More

Empat Perkara Yang Akan Dipertanyakan di Akhirat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Segala bentuk tindakan selama hidup di diunia, kelak akan kita pertanggungjawabkan di hari kiamat. Pada hari akhir ini manusia akan mendapatkan empat pertanyaan untuk mempertanggungjawabkan segala hal yang diperbuat di dunia. Perkara-perkara yang akan ditanyakan pada hari kiamat telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW. لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ) “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai 4 hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan.” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi). Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, empat perkara tersebut harus diperhatikan oleh umat manusia. Perkara tersebut bisa menjadi tolak ukur selaa hidup di dunia. “Setiap detik yang kita habiskan memiliki nilai, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban atas penggunaan waktu tersebut. Apakah kita memanfaatkannya dengan baik untuk beribadah, bekerja dengan halal, dan berbuat kebaikan?” ujar Buya Yahya dalam kajiannya, Jumat (7/10/2023).

Read More

Beberapa Sifat Orang Mukmin Yang Dicintai Allah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Mencapai level orang beriman dan dicintai oleh Allah SWT tidak bisa didapatkan begitu saja. Setidaknya ada sifat-sifat tertentu yang bisa menjadikan seorang mukmin dicintai oleh Allah SWT. Mengutip About Islam, untuk menjadi seorang mukmin yang dicintai Allah, ada delapan sifat yang perlu diperhatikan. Di antaranya: Pertama, bertaubat. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang selalu bertaubat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 222. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang bersuci.” Kedua, berbuat baik. Menjadi muslim yang lebih baik perlu dilakukan dengan memilih jalan ihsan, yaitu mengikuti perintah Allah dalam segala hal. Salah satunya adalah berbuat baik. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (Al-Muhsinin) hal ini disebutkan minimal tiga kali dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: “Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-BAqarah: 195) Ketiga, orang bertawakal. Orang yang bertawakal dan bersandar hanya kepada Allah disebut orang yang bertakwa. Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya (Al-Mutawakilin). Allah SWT berfirman: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS Ali-Imran: 159) Keempat, orang yang berlaku adil. Orang yang berbuat adil dikasihi karena Allah mencintai keadilan dan orang yang berbuat adil. Mereka atau gollngan disebutkan setidaknya tiga kali dalam Al-Qur’an. Pertama kali di Surat ke-5 ayat 42, lalu Surat ke-9 ayat 49, dan dan di Surat ke-8 ayat 60.

Read More

Ketika Rasulullah SAW Menemui Malaikat yang Wajahnya Masam

Surabaya — 1miliaraantri.net : Dalam peristiwa Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW ditemani Malaikat Jibril pergi ke langit. Di langit yang berlapis-lapis itu, terdapat sebuah peristiwa di mana Rasulullah SAW menemui malaikat yang wajahnya masam dan tak pernah senyum. Siapa dia? Dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Ishaq syarah dan tahqiq Ibnu Hisyam dijelaskan mengenai perjalanan Isra Miraj Nabi. Ibnu Ishaq berkata, “Berkata kepadaku dari Abu Said Al Khudri yang berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketika aku telah menuntaskan seluruh urusan di Baitul Maqdis, aku melakukan Miraj dan aku tidak pernah menyaksikan sebuah peristiwa yang lebih indah daripada peristiwa itu. Yakni seperti seseorang yang melihat kematian saat sedang menjelang ajal. Lalu Malaikat Jibril membawaku naik hingga tiba di salah satu gerbang langit. Gerbang langit tersebut bernama gerbang Al Hafazhah (para penjaga). Pintu Al Hafazhah ini dijaga salah satu malaikat yang bernama Ismail yang mengomandoi 12 ribu malaikat dan setiap satu dari mereka juga mengomandoi 12 ribu malaikat.” Di tengah-tengah Rasulullah SAW menceritakan peristiwa tersebut, beliau melantunkan firman Allah dalam Surat Al Mudatsir ayat 31, “Wa maa ya’lamu junuda Rabbika illa huwa.” Yang artinya, “Dan tidak ada yang mengetahui tantara Tuhan-Mu melainkan Dia sendiri.” Rasulullah SAW melanjutkan lagi, “Ketika Jibril masuk bersamaku, Malaikat Ismail bertanya, ‘Siapa orang ini?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia Muhammad,’ kemudian Malaikat Ismail bertanya, ‘Apakah dia sudah diutus?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Ya. Sudah,’ Malaikat Ismail lalu berdoa untuukku.” Ibnu Ishaq berkata, “Sebagian pakar bercerita kepadaku dri orang yang berbicara dengan Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda, ‘Para malaikat menyambut kedatanganku pada saat aku tiba di langit dunia. Semua dari para malaikat, tersenyum dan memberi kabar gembira kepadaku, dia tidak tertawa dan tidak tampak wajah gembira padanya sebagaimana yang terlihat pada malaikat-malaikat yang lain.

Read More

Begini Sifat Rasulullah SAW ketika Menjenguk Orang Sakit

Yogyakarta — 1miliarssntri.net : Menjenguk orang sakit merupakan hal terpuji dan juga sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Menjenguk orang sakit juga termasuk ke dalam adab dan etika menurut Islam. Dikutip dari buku Nabi Muhammad Sehari-Hari karya Muhammad Ismail Al-Jawisy, Rasulullah SAW jika mengetahui ada salah seorang sahabat yang sedang menderita sakit, maka beliau selalu menjadi orang pertama yang bergegas untuk menjenguk. Beliau akan masuk menjenguk dan berkata kepadanya, “Dengan izin Allah tersucikan.” Maksudnya adalah bahwa sakit yang sedang menimpanya adalah cara Allah mensucikan seseorang dari dosa. Posisi beliau ketika menjenguk selalu mendekat kepada orang sakit tersebut, dan duduk dekat kepala, kemudian berkata, “Bagaimana keadaanmu?” Setelah bertanya beliau lantas mengusap kepala si sakit dengan tangan kanannya dan berkata, “Sembuhkanlah sakit ini wahai Tuhan sekalian manusia yang menyembuhkan penyakit. Tiada yang bisa menyembuhkan terkecuali Engkau.” Atau juga beliau membaca, “Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah penyakit ini. Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha menyembuhkan dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan bekas.” Doa kesembuhan itu dibacakan sebanyak tiga kali, sebagaimana beliau contohkan ketika menjenguk Saad bin Abi Waqqash, “Ya Allah, sembuhkanlah Saad. Ya Allah, sembuhkanlah Saad. Ya Allah, sembuhkanlah Saad.” Tidak hanya mereka yang datang menjenguk, orang yang sakit pun bisa turut berdoa untuk saudara-saudara Muslimnya yang menjenguk, sebagaimana sabda beliau, “Jenguklah oleh kalian orang yang sakit dan suruhlah mereka pula untuk mendoakan kalian, karena doa orang yang sakit akan dikabul selain dosanya akan diampuni.” Rasulullah juga suka bertanya tentang sesuatu yang disukai orang yang sedang sakit, beliau berkata, “Apakah kamu menghendaki sesuatu?” Jikalau ternyata beliau mendapati sesuatu yang sangat disenangi orang sakit dan tidak membahayakannya, para sahabat disuruh segera menghadirkannya. Rasulullah SAW tidak pernah mengkhususkan waktu tertentu untuk menjenguk orang sakit, melainkan disunnahkan menjenguk di setiap kesempatan, untuk meringankan penderitaannya dan keluarganya. Bahkan bila perlu dianjurkan juga untuk bisa menjenguk kembali, tentunya dengan izin orang sakit tersebut yang menghendaki kedatangannya.

Read More

Gaya Hidup Halal Haram Menurut Aturan Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Istilah Halal dan haram sudah melekat erat dalam kehidupan sehari-hari. Anjuran mengonsumsi dan menjalankan segala sesuatu yang halal sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Begitupun menjauhi perkaran haram merupakan perintah yang harus dipatuhi. Zaman semakin berkembang, kian banyak varian bisnis yang berlandaskan hukum dan prinsip Islam. Meski terlihat mengedepankan unsur religius, tapi implementasi bisnis bersifat universal dan dapat diterapkan pada siapapun. Hal ini juga yang membua tren bisnis halal dalam tren gaya hidup halal (halal lifestyle). يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْ‌ضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 168). Pimpinan AQL Islamic Centrer, KH Bachtiar Nasir (UBN), menjelaskan, ayat memuat perintah memakan makanan halal lagi baik. Ayat itu pun melarang manusia terjerumus ke tindakan yang mengikuti setan, karena bisa menjerumuskan pada kedurhakaan pada Allah SWT. Masalah halal dan haram merupakan batasan-batasan Allah SWT bagi manusia sebagai bentuk ujian keimanan dan penghambaan diri kepada-Nya. Dalam menyikapi perintah Allah SWT ini, sebagian umat Islam tidak lagi memperdulikan aspek halal dan haram, karena sudah dikuasai oleh hawa nafsu. “Sehingga tidak lagi memikirkan hak Allah SWT untuk ditaati dan disembah dengan segala macam ibadah,” kata UBN dalam ceramahnya di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, dikutip Rabu (04/10/2023). UBN menegaskan, hak menentukan halal dan haram merupakan hak Allah SWT. Manusia sama sekali tidak berhak menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Begitu juga sebaliknya, mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya. Dalam Islam, wilayah halal sangat luas. Sedangkan, wilayah haram sangat sempit. Maka itu, umat Islam tidak perlu merinci satu-persatu yang halal. Hal yang perlu diketahui adalah perkara haram, karena selain yang haram pasti halal.

Read More

Meski Rajin Membaca Al Qur’an, Namun Golongan Inilah Yang Akan Ditentang Pada Hari Kiamat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Orang membaca Alquran memang diganjar dengan pahala besar. Namun adanya kalanya semangat rajin membaca Alquran berakhir sia-sia di Hari Kiamat kelak karena perbuatan yang telah dilakukannya. Mengapa demikian? Di Hari Kiamat, Alquran bisa menjadi penyelamat bagi seorang Muslim. Tidak hanya sebagai penyelamat, Alquran juga bisa melakukan pertentangan terhadap mereka yang rajin membacanya. Dari Hadits riwayat Abu Malik Al Asy’ari RA menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Kesucian itu separuh dari iman, (ucapan) Alhamdulillah (Segala puji hanya bagi Allah) memenuhi timbangan, (ucapannya) Subhanallah (Maha Suci Allah) dan Alhamdulillah (Segala Puji hanya bagi Allah) keduanya memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah burhan (bukti), sabar itu dhiya’ (cahaya yang disertai rasa panas). Alquran itu bisa menjadi hujjah bagimu atau melawanmu. Setiap orang berangkat di pagi hari sampai menjual dirinya sehingga dia membebaskannya atau membinasakannya.” (HR Muslim) Dengan membaca Alquran dan mengamalkannya, maka Alquran akan menjadi hujjah bagi pembacanya di Hari Kiamat. Tetapi jika tidak diamalkan maka justru Alquran di Hari Kiamat berbalik melawan mereka yang senantiasa membaca Alquran selama di dunia. Orang yang rajin membaca Alquran tetapi tidak mengamalkannya, dan tidak melakukan perbuatan sesuai apa yang diperintahkan Alquran, maka Alquran itu akan menjadi penentangnya di Hari Kiamat. Alquran menjadi penentang bagi mereka yang rajin membacanya karena mereka tidak menjauhi apa yang dilarang, tidak mengharamkan apa yang telah ditetapkan keharamannya, tidak menghalalkan apa yang halal, tidak menetapkan keputusan atas dasar haram dan halal, tidak terima terhadap apa yang telah ditetapkan, tidak ingin mengkaji, merenungkan dan mengamalkan ayat-ayat Allah SWT.

Read More

Kebiasaan Rasulullah Dalam Bersedekah Membuat Para Pembencinya Menjadi Mualaf

Jakarta — 1miliarsantri.net : Rasulullah SAW telah memberi teladan tentang bagaimana agar harta yang kita dimiliki menjadi berkah. Yaitu dengan cara mengeluarkan sebagian dari harta yang kita miliki di jalan Allah Subahanahu wa Ta’ala baik itu dengan cara bersedekah, berinfaq, berzakat, atau pun berwakaf. Rasulullah SAW mengisi hari-harinya dengan bersedekah, bahkan sedekahnya semakin banyak ketika bulan suci Ramadhan. Bahkan Rasulullah bersedekah bukan saja terhadap orang-orang yang telah memeluk Islam, dalam sejumlah riwayat dan juga kitab-kitab siroh disebutkan bahwa Rasulullah mempunyai kebiasaan bersedekah pada seorang buta yang begitu membenci rasul. Orang buta itu setiap hari selalu mencaci maki rasul tanpa mengetahui seperti apa sosok rasul itu. Sedang setiap harinya Rasulullah mendatangi orang buta itu, lalu rasul menyuapi orang buta itu dengan tangannya sendiri. Sementara orang buta itu tidak mengetahui bahwa sosok yang selalu bersedekah menyuapinya makan tiap hari adalah Rasulullah. Orang buta itu baru mengetahui semuanya ketika Rasulullah telah wafat. Hingga ia pun bertobat dan memeluk Islam. Maka sebagai Muslim harus meneladani Rasulullah dengan menjadi dermawan, mengeluarkan harta untuk kemaslahatan di jalan Allah. Apalagi bagi yang memiliki kelebihan harta. Jangan sampai bakhil terhadap harta. Karena sifat bakhil itu akan membawa kebinasaan. Sejatinya setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas hartanya. Maka celaka bagi orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya dalam kemaksiatan dan tidak mau bersedekah, berinfak, berzakat dan berwakaf. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat At Taubah ayat 180: وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Read More

Melihat Makam Imam Bukhori

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Siapa umat Islam yg tak kenal Imam Bukhori? Yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Ja’fi Al-Bukhari, lahir di Bukhoro, 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M) – wafat di Khartank, 1 Syawal 265 H (1 September 870 M), atau lebih dikenal Imam Bukhari, adalah ahli hadits yang masyhur. Sebagian ulama menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal ilmu hadis). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya. Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadis shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadis, mengumpulkan dan menyeleksi hadisnya. Di antara kota-kota yang disinggahinya antara lain Basrah, Mesir, Hihaz (Mekkah dan Madinah), Kufah, Baghdad. Di Baghdad, Imam Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan seorang ulama besar, Ahmad bin Hanbal. Di kota-kota itu ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari mereka ia mengumpulkan dan menghafal satu juta hadis. Kemudian menyaringnya menjadi 7.275 hadis. Komplek makam Imam Bukhari yang terletak di desa Khartank, sekitar 25 kilometer dari Samarkand, telah menjadi salah satu wisata umat Islam seluruh dunia. Ini berkat jasa Presiden Soekarno. Sejarah Soekarno dengan bangsa Uzbekistan dimulai ketika paska Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Pemerintah Soviet mengundang Presiden Soekarno untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Moskow. Soekarno mengajukan syarat atas rencananya memenuhi undangan Pemerintah Soviet dengan meminta dicarikan/ditemukan makam Imam Bukhari. Kata Soekarno kepada pemimpin Soviet saat itu, Nikita Krushchev, “Aku sangat ingin menziarahinya”. Pada 1956, kondisi makam tidak terawat dengan baik dan berada di semak belukar, bahkan menurut Azizi pemandu perjalanan saya di Uzbekistan menyebutkan sengaja disembunyikan. Bahkan Soekarno menginap di Samarkand selala tiga hari untuk bertanya kpd masyarakat.

Read More