Ciri-Ciri Orang yang Bertakwa

Surabaya — 1miliarsantri.net : Setiap perintah Allah SWT yang kita kerjakan selalu memiliki tujuan akhir, yaitu untuk membentuk insan-insan yang bertakwa. Maknanya, manusia yang siap taat untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Dengan ketakwaan itu, seseorang mendapatkan jaminan ampunan dan surga-Nya. Di antaranya, perintah untuk menghambakan diri secara total kepada Allah SWT (QS al-Baqarah [2]: 21), memenuhi janji (QS al-Baqarah [2]: 63), penegakan hukum qishas (QS al-Baqarah [2]: 179), menjalankan ibadah puasa Ramadhan (QS al-Baqarah [2]: 183), istiqamah di jalan Islam (QS al-An’am [6]: 153), dan berpegang teguh kepada kebenaran (QS al-Araf [7]: 171). Ujung ayat-ayat tersebut berbunyi, “La’allakum tattaqun…” (agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa). Dalam Alquran, telah disebutkan karakteristik yang selalu melekat dalam diri manusia yang bertakwa. Pertama, dalam surah al-Baqarah [2] ayat 3-4. Yaitu, manusia yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang telah dianugerahkan kepadanya, beriman kepada kitab suci Alquran dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta yang yakin akan adanya kehidupan akhirat. Kedua, dalam surah al-Baqarah [2] ayat 177. Orang yang bertakwa adalah yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan nabi-nabi-Nya. Kemudian, dia memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan, dan orang yang meminta-minta. Orang yang bertakwa juga memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Selain itu, orang yang bertakwa selalu menepati janjinya dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan. Ketiga, dalam surah Ali Imran [3] ayat 134-135. Yaitu, orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, menahan amarahnya, memaafkan kesalahan orang lain, dan apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri segera ingat kepada Allah, lalu memohon ampun kepada-Nya.

Read More

Badai PHK Kembali Menghantui, Rakyat Terus dalam Kesulitan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Badai pemutusan hubungan kerja masih menghantui pekerja di Indonesia. Kemnaker mencatat sebanyak 59.764 orang terkena PHK hingga Oktober 2024. PHK didominasi sektor pengolahan sebanyak 24.013 orang, aktivitas jasa lainnya 12.853 orang, serta di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan 3.997 orang. Tentu hal ini memberikan pukulan keras bagi perekonomian Indonesia yang sedang berusaha pulih pasca covid dan badai ekonomi lainnya. Para tenaga kerja yang dirumahkan harus memutar otak untuk segera mencari pengganti pekerjaan agar bisa tetap menyambung hidup, namun mencari pekerjaan baru juga bukan hal mudah di negeri ini. Ratusan ribu orang yang lebih dulu menganggur saja masih belum dapat kebagian jatah pekerjaan untuk terus bertahan menopang berbagai beban kebutuhan, ditambah puluhan ribu pendatang baru tentu ini semua menimbulkan keresahan dan harus segera ada tindakan dari pemerintah untuk saling bergandengan menyelamatkan keadaan. Masyarakat berharap negara jangan sampai berlepas tangan dan menyerahkan seluruh keputusan pada pihak pengusaha termasuk dalam hak mengelola tenaga kerja dan pemutusan hubungan kerja karena jika dalam sistem kapitalisme tentu para pekerja berpotensi terus dirugikan mengingat kekuasaan berada ditangan pemilik modal hal itu karena konsep dan pandangan yang mengutamakan keuntungan tanpa melihat kemaslahatan bagi masyarakat.

Read More

UAH: Ujian Berbanding Lurus dengan Doa dan Harapan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pendiri Quantum Akhyar Institute Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, ujian hidup sejatinya adalah bagian dari proses untuk mencapai doa dan harapan yang telah dipanjatkan. Menurut dai yang akrab disapa UAH tersebut, setiap orang memiliki cita-cita dan harapan dalam hidup. Untuk mencapainya, ujian dan tantangan harus dilalui terlebih dahulu. UAH yang juga merupakan wakil ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah ini mengatakan, ujian bukanlah masalah yang harus dihindari, melainkan jembatan yang mengantarkan seseorang menuju tujuan yang diinginkan.”Ujian hidup itu berbanding lurus dengan doa yang kita mohonkan,” ungkap UAH pada Channel YouTube Adi Hidayat Official (17/11/24) UAH mencontohkan, seorang mahasiswa yang ingin lulus dengan IPK 4, misalnya, tidak mungkin bisa langsung diwisuda tanpa melalui ujian. Demikian pula dengan hidup, setiap harapan harus ditempuh dengan perjuangan dan ujian. Ustadz Adi Hidayat juga mengungkapkan bahwa masalah atau ujian yang datang kepada seseorang adalah bagian dari takdir dan hasil dari doa yang dipanjatkan. Ia menekankan bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 286: “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” UAH mengingatkan agar setiap masalah yang dihadapi jangan dipandang sebagai beban yang membuat hidup semakin berat. Ia menekankan pentingnya melapangkan hati agar masalah tidak terasa begitu besar.

Read More

Habib Taufiq menegaskan, hati manusia memiliki fitrah untuk bersuara jujur

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketua Rabithah Alawiyah Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf sempat ditanya oleh jamaah dalam salah satu pengajian mengenai bagaimana hukumnya menerima uang dari calon kepala daerah tetapi tidak memilih calon kepala daerah yang memberi uang tersebut saat Pilkada. Habib Taufiq mengatakan, ada orang memberikan uang agar dirinya dipilih, kemudian uangnya diterima. Ia menjelaskan, ada dua hal dalam kasus tersebut yang perlu mendapat penjelasan. Pertama, saat yang bersangkutan tidak mencoblos atau tidak memilih maka dia tidak jujur dan sudah menipu. Padahal, uangnya sudah diterima. “Orang itu kalau memberi (uang) kemudian kamu tahu bahwa ini adalah ada yang diinginkan (olehnya), kalau kamu tidak bisa (memenuhi keinginannya) jangan diterima,” ungkap Habib Taufiq, dikutip dari video yang diunggah channel Sunsal Media, Rabu (20/11/2024) Habib Taufiq memberikan gambaran, ada orang memberi uang supaya mendapatkan nasihat, tetapi tidak diberikan nasihat. Dia menjelaskan, hal tersebut merupakan sikap yang tidak benar karena seharusnya yang bersangkutan memberi nasihat. “Orang yang memberi itu bukan bertujuan memberi hadiah, tapi ada tolab (ingin mencari ilmu),” urainya. Habib Taufiq mengatakan, yang kedua, selain melakukan kebohongan maka yang bersangkutan telah membohongi hatinya. “Meski pakai fiqih, pakai itu, pakai ini. Tanya diri anda sendiri, kalau anda diperlakukan seperti itu, apakah anda senang? Tentu tidak,”tegas dia. Dia menegaskan, hati di dalam diri manusia memiliki fitrah untuk bersuara jujur.

Read More

Menelusuri Jejak Sanad Keilmuan KH Hasyim Asy’ari di Maroko

Maroko — 1miliarsantri.net : Sejumlah Mudir dan wakil Mudir Ma’had Aly dari Indonesia melakukan ziarah ke Makam Syaikh Abu Syu‘aib bin ‘Abdurrahman Al-Shiddiqi al-Dukkali al-Maghribi di Masjid Maulay Al Makki, Rabat Ibukota Maroko. Syaikh Abu Syu‘aib adalah ulama besar Maroko yang menjadi salah satu guru Kyai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama. Syaikh Abu Syu’aib atau Syaikh Muhammad Syu‘aib bin ‘Abdurrahman al-Dukkali al-Maghribi lahir pada 20 Oktober 1878 dan wafat pada 17 Juli 1937. “Ziarah yang kami lakukan pada 17 November 2024 ini memanfaatkan waktu libur studi singkat para Mudir Ma’had Aly Indonesia di Institut Darul Hadist Al Hasaniyyah Universitas Qarawiyiin di Rabath Maroko. Ziarah ini juga dilakukan dalam rangka menelusuri jejak sanad keilmuan ulama Nusantara di Maroko,” terang Mudir Ma’had Aly Babussalam Al-Hanafiyyah, Aceh Utara, Teuku Zulkhairi, di Rabat, Selasa (19/11/2024). Berdasarkan informasi dari Kyai Bahrun ‘Amiq (Mudir Ma’had Aly Al Hasaniyyah Tuban Jawa Tengah), Syaikh Mahfud At-Tirmasi yang juga guru KH Hasyim, juga belajar kepada Syaikh Muhammad Syu‘aib bin ‘Abdurrahman al-Dukkali al-Maghribi di Mekkah Al Mukaramah. Makam Syaikh Muhammad Syu‘aib bin ‘Abdurrahman al-Dukkali al-‘Arabi berada di Masjid Maulaya Al Makki di pedalaman lorong wilayah yang disebut Kota Lama (Al Madinah Al Qadimah) di Rabat, Ibukota Maroko. Dari lembaran catatan Sanad Keilmuan yang ditulis Syaikh Muhammad Kamuli Khudhari, salah satu Masyaikh Pesantren Tebuireng pada 1979, tertulis dalam bahasa Arab Sanad (Silsilah) keilmuan Kyai Hasyim Asy’ari ke Syaikh Muhammad Syu‘aib bin ‘Abdurrahman al-Dukkali al-‘Arabi. Sanad tersebut tertulis antara lain sebagai berikut: ……..Telah sampai kepada kami sanad Shahih al-Bukhari melalui jalur al-Syaikh al-Nuri Baidhawi, yang menerimanya dari al-Syaikh Muhammad ‘Alam al-Sya‘rani al-Mutari al-Matsani. Beliau menerima dari al-Syaikh Muhammad Syu‘aib bin ‘Abdurrahman al-Dukkali al-‘Arabi, yang menerimanya dari al-Syaikh ‘Abdullah al-Qudumi. Sanad ini diteruskan dari al-Syaikh Hasan bin ‘Umar al-Syamali, yang menerima dari al-Syaikh Mustafa al-Rahbani. Beliau mendapatkannya dari al-Syaikh Ahmad al-Ba‘al, yang menerimanya dari al-Syaikh ‘Abdul Qadir al-Ta‘li. Sanad ini diteruskan dari al-Syaikh Hamad al-Mali al-Atsar al-Jamal, yang mendapatkannya dari al-Syaikh Ibnu ‘Abdurrahman al-Hijazi. Beliau menerimanya dari al-Syaikh ‘Adad al-Mashuri bin Arkan, yang sanadnya sampai kepada al-Hafizh Ahmad bin Hajar al-‘Asqalani. Selanjutnya, sanad ini diteruskan dari al-Syaikh Ibrahim bin ‘Abdul Mu’min al-Ba‘al, yang menerimanya dari al-Syaikh Ahmad bin Abi Thalib al-Shalih al-Hijazi. Sanad ini diteruskan dari al-Syaikh Husain bin Mubarak al-Zabidi, yang mendapatkannya dari al-Syaikh ‘Abdul Awwal bin Yahya al-Harawi.

Read More

Rasulullah SAW Larang Meniup Makanan dan Minuman Panas

Jakarta — 1miliarsantri.net : Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah teladan bagi umat Islam. Setiap ajaran, anjuran bahkan kebiasaan Nabi SAW menyimpan maksud dan tujuan yang baik. Ada satu kebiasaan unik yang dilakukan Nabi Muhammad SAW saat makan, yaitu tidak meniup makanan yang panas. Rasulullah memerintahkan dan memberi contoh agar tidak meniup makanan yang panas. Diriwayatkan oleh Abu Dawud At-Tirmidzi tentang larangan meniup makanan atau minuman panas. وعن ابن عباس رضي اللّه عنهما أن النبي نهى أن يتنفس في الإناء أو ينفخ فيه Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi Muhammad SAW melarang pengembusan nafas dan peniupan (makanan atau minuman) pada bejana,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Kemudian, dalam sebuah hadis riwayat Imam al-Bukhari memang disebutkan anjuran Rasulullah SAW untuk tidak meniup makanan. إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ، وَإِذَا أَتَى الخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ Artinya: Apabila kalian minum, janganlah bernafas di dalam suatu wadah, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. (H.R al-Bukhari). Bernapas dalam gelas memiliki arti yang sama dengan meniup makanan. Hadits di atas kemudian menjadi salah satu dalil larangan meniup makanan panas. Lalu, apa maksud Nabi Muhammad saw melarang untuk meniup makanan dan minuman yang masih panas? Ada penjelasan ilmiah dari larangan Rasulullah SAW tersebut. Menyitir buku “The 10 Habits of Rasulullah” oleh Rizem Aizid, setidaknya ada tiga hikmah kesehatan dari larangan meniup makanan dan minuman panas.

Read More

Dikemanakan Sebaiknya Uang Takziyah?

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam kebiasaan masyarakat Indonesia, sering kita melihat ada uang melayat atau uang takziyah dari pelayat untuk keluarga yang ditinggalkan anggotanya (meninggal dunia). Terkait hal ini, ada seorang jamaah pengajian Buya Yahya yang bertanya sebaiknya uang itu dikemanakan? apakah dibagi atau dimanfaatkan secara pribadi bagi anggota keluarga yang menerima. Menanggapi pertanyaan jamaah, Buya Yahya menyarankan agar hal ini dikembalikan pada kebiasaan. Kalau kebiasaan orang akan diberikan satu-satu anggota keluarga, maka seorang anggota keluarga yang menerima berhak memanfaatkannya. “Tapi kalau di kampung kan biasanya masuk ke kotak. Tapi ada yang menerima. Nmaun, ada anggota keluarga yang tempatnya jauh ga ikut menjaga kotak itu. Misal adeknya masih di pondok tapi kakaknya di rumah, yang dapat kan kakaknya. Padahal sebenarnya adeknya masih sekolah,” ujar Buya Yahya. Menurut Buya, jika seperti itu, sebaiknya dibagi. Kalau memang dibagi hendaknya uang itu dikumpulkan lalu dibagi bersama dan jangan asal rebut.

Read More

UAS mengimbau agar umat mengikuti syariat Nabi Muhammad

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ulama asal Pekanbaru Riau, Prof Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam sebuah pengajian, mendapat pertanyaan dari jamaah. Yakni, bolehkah sungkem dan sujud kepada orang tua? Terkait hal ini, UAS membacakan sebuah hadits: “Seandainya aku akan memerintahkan seseorang sujud kepada seorang niscaya aku perintahkan istri sujud kepada suaminya,” (HR Tirmidzi). “Adapaun sujud kepada kaki emak itu tradisi non muslim. Maka kita cukup bersalaman,” ujar UAS dikutip dalam sebuah video di youtube. UAS sendiri menceritakan dirinya dengan ibuny hanya mencium tangannya lalu dipeluk erat.

Read More

Memahami Ilmu Makkiyah dan Madaniah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Al-Qur’an bagi kaum muslimin adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat jibril a.s selama kurang lebih 23 tahun (Abdul Hamid 2016). Umat Islam menggunakan sumber hukumnya dari Al-Quran. Al Qur’an diturunkan kepada Nabi muhammad dan bersifat universal dan abadi untuk selama-lamanya dan juga diturunkan secara berangsur-angsur. Dalam al Qur’an terdapat salah satu ilmu yang disebut dengan ilmu makiyah dan madaniyah. Ilmu ini membahas mengenai suatu ayatditurunkan di makkah atau di madinah. Yang dimaksud dengan makiyah suatu ayat atau juga surah yang diturunkan di kota mekkah. Ayat ini turun sebelum nabi melakukan hijrah ke madinah. dan madaniyah yaitu surah atau ayat yang turun di kota madinah. Sedangkan ayat ini turun ketika nabi sudah selesai melaksanakan hijrah ke madinah. Istilah Makki (المكي) dan Madani (المدني) berasal dari nama tempat, yaitu Makkah dan Madinah. Secara harfiah, Makki berarti yang berasal dari Makkah, dan Madani berarti yang berasal dari Madinah. Dalam tafsir al-Qur’an, istilah ini digunakan untuk membedakan surah atau ayat yang diturunkan di Makkah dan Madinah, serta konteks yang terkandung di dalamnya. Makkiyyah merujuk pada ayat atau surah yang diturunkan di Makkah, biasanya berisi kisah-kisah Nabi dan umat yang sudah lalu, sedangkan Madaniyyah berisi ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum dan kewajiban yang lebih banyak muncul setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Beberapa riwayat dari ulama menjelaskan bahwa ayat yang diturunkan selama perjalanan Nabi menuju Madinah, sebelum sampai, dianggap sebagai Makkiyah. Imam al-Tabrānī menyebutkan bahwa al-Qur’an diturunkan di tiga tempat: Makkah, Madinah, dan Syam (Baitulmaqdis). Secara umum, pemahaman tentang mana yang termasuk Makki atau Madani bergantung pada hafalan para sahabat dan tabi’in,Hal ini menjadi penting dalam ilmu tafsir untuk memahami konteks dan pesan yang terkandung dalam ayat atau surah tertentu. Dalam hal ini ada tiga pendapat yang diterangkan oleh ulama, yaitu: Makkiyah atau al-Makki adalah suatu surah atau ayat yang diturunkan di Makkah dan di sekitarnya seperti ayat atau surah yang turun kepada baginda Nabi Muhammad saw di Mina, Arafah, Hudaibiyah dan sekitarnya, sedangkan Madaniyyah atau al-Madani adalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw di Madinah dan di sekitarnya seperti Badar, Uhud.

Read More

Tafsir Surat At Taghabun Ayat 11, Cara Mendapat Petunjuk Saat Tertimpa Musibah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Alquran mengingatkan umat manusia bahwa segala musibah yang terjadi atas izin Allah SWT. Lantas bagaimana agar mendapatkan petunjuk dari Allah SWT saat tertimpa musibah? Alquran menerangkan bahwa siapapun yang beriman kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan memberikan petunjuk kepada hati orang yang tertimpa musibah. Hal ini dijelaskan dalam Surat At Taghabun Ayat 11 dan tafsirnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ Mā aṣāba mim muṣībatin illā bi’iżnillāh(i), wa may yu’mim billāhi yahdi qalbah(ū), wallāhu bikulli syai’in ‘alīm(un). Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS At Taghabun Ayat 11) Allah menerangkan bahwa apa yang menimpa manusia, baik yang merupakan kenikmatan dunia maupun yang berupa siksa adalah qada dan qadar, sesuai dengan kehendak Allah yang telah ditetapkan di muka bumi. Dalam berusaha keras, manusia hendaknya tidak menyesal dan merasa kecewa apabila menemui hal-hal yang tidak sesuai dengan usaha dan keinginannya. Hal itu di luar kemampuannya, karena ketentuan Allah-lah yang akan berlaku dan menjadi kenyataan.

Read More