Cara Menentukan Najis atau Bukan Menurut Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Para ulama merumuskan kaidah-kaidah untuk menentukan suatu benda tergolong najis atau tidak. Kaidah-kaidah ini dibuat untuk membantu umat Islam memahami dan menerapkan hukum-hukum tentang najis dengan lebih mudah dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, para ulama sering kali berbeda pendapat dalam menghukumi suatu benda, tergantung pada kaidah yang mereka gunakan. Dalam buku Najis yang Dimaafkan, Isnawati, Lc., mengungkapkan, Madzhab Al-Hanafiyah membagi najis ke dalam dua kategori utama, yaitu najis mughaladzah atau berat, dan najis mukhaffafah atau ringan. Najis mughaladzah mencakup benda-benda seperti darah, mani, wadi, madzi, nanah, muntah, tinja, air kencing, termasuk air kencing bayi laki-laki maupun perempuan, baik yang sudah makan atau belum. Selain itu, kotoran binatang, baik yang boleh dimakan dagingnya maupun tidak, juga termasuk dalam kategori ini, seperti kotoran sapi, ayam, tikus, dan kucing. Khamar, daging bangkai, air liur anjing, serta darah yang mengalir juga digolongkan ke dalam najis berat. Sementara itu, najis mukhaffafah mencakup air kencing binatang yang dagingnya boleh dimakan, seperti unta, dan kotoran burung yang dagingnya tidak boleh dimakan, seperti burung elang. Namun, ada beberapa benda yang dianggap suci, seperti potongan bangkai yang tidak dialiri darah, termasuk tulang, tanduk, gigi, bulu, rambut, dan kuku. Madzhab Al-Malikiyah memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Mereka menetapkan bahwa hukum asal seluruh bangkai adalah najis, kecuali yang dikecualikan oleh Nabi Muhammad SAW, seperti bangkai manusia, ikan, dan belalang. Selain itu, hukum asal semua binatang yang hidup dianggap suci, kecuali yang telah jelas ditetapkan najis dalam Alqur’an atau hadis, seperti babi dan anjing. Hukum asal benda mati juga dianggap suci kecuali yang memabukkan atau yang telah dinyatakan najis secara jelas. Hewan yang darahnya tidak mengalir, seperti semut atau ulat pada buah-buahan, dianggap suci, sehingga keberadaannya tidak menyebabkan kenajisan.

Read More

3 Fase Tazkiyatun Nafs Menurut Said Hawwa

Jakarta — 1miliarsantri.net : Gagasan Said Hawwa tentang keteguhan jiwa (nafs) dapat dikatakan lebih dikenal luas. Karyanya, Tarbiyatuna ar-Ruhiyah, mengeksplorasi lebih jauh pemikiran Imam Ghazali tentang jiwa. Menurutnya, jiwa manusia dapat dibagi dalam tiga keadaan, yakni an-nafs al-muthmainnah, an-nafs al-lawwamah, dan an-nafs laammarat bis su`. Penjelasan keadaan pertama merujuk pada Alquran surah al-Fajr ayat 27-30. Jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma`innah) bertujuan pada ridha Allah SWT. Caranya melalui keikutsertaan pada golongan kebaikan. Bila menjauh dari golongan ini, (jiwa) seseorang akan merasa resah. Sementara itu, jiwa yang amat menyesali diri sendiri (an-nafs al-lawwamah)—seperti diilustrasikan dalam surah al-Qiyamah ayat 2. Munculnya keadaan ini yakni ketika seseorang rentan terhadap hawa nafsu, sehingga lalai dari perintah Tuhannya. Jiwa yang lalai akan terperosok kepada keadaan ketiga, yakni nafsu yang selalu menyuruh pada kejahatan (an-nafs laammarat bis su), seperti disinggung dalam surah Yusuf ayat 53. Surah ini menuturkan keadaan Nabi Yusuf AS ketika terbebas dari fitnah di lingkungan istana Mesir. Putra Nabi Ya’qub AS itu terbukti tidak bersalah. Yang terjadi, justru istri penguasa Mesir yang menggoda Nabi Yusuf AS. Bagaiamanapun, seperti dijelaskan dalam tafsir ayat tersebut, Nabi Yusuf AS tidak mengklaim diri suci. Sebab, secara naluri jiwa manusia selalu condong kepada kesenangan, yakni menganggap indah keburukan dan kejahatan. Dia bersyukur Allah SWT menjaganya dari terpedaya nafsu. Hanya jiwa yang dijaga atau diberi rahmat oleh Allah SWT (“maa rahima rabbii”) yang akan dihindarkan dari kejelekan. Dengan menyadari tiga kondisi jiwa (nafs), maka dirasakan perlu adanya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Menurut Said Hawwa, tazkiyatun nafs pada hakikatnya menjauhkan diri dari kemusyrikan, yakni mengakui dengan setulus hati dan sebenar-benarnya tentang keesaan Allah SWT.

Read More

Bahaya Menumpuk Harta Secara Berlebihan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pada suatu hari, Rasulullah Muhammad SAW keluar rumah sambil memegang tangan sahabatnya, Abu Dzar al-Ghifari. Kemudian, beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, tahukah kamu bahwa di depan kita ada sebuah tanjakan yang sulit yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang ringan beban?” Abu Dzar pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah saya ini termasuk orang-orang yang ringan atau sarat beban?” Rasulullah SAW menjawab dengan pertanyaan, “Apakah kamu punya makanan untuk hari ini?” “Ya.” Rasulullah bertanya lagi, “Untuk esok pagi?” “Ya,” jawabnya lagi. Rasulullah kembali bertanya, “Untuk besok lusa?” “Tidak.” Kemudian, Rasulullah SAW menegaskan, “Kalau kamu mempunyai makanan yang cukup untuk tiga hari, maka kamu termasuk orang-orang yang sarat beban.” Yang dimaksud dengan “tanjakan yang sulit” oleh hadis tersebut adalah jalan menuju kebahagiaan akhirat. Adapun yang dimaksud dengan “beban” adalah harta.

Read More

Abu Dzar Al-Ghifari Rela Oposisi untuk Membela Kaum Fakir Miskin

Jakarta — 1miliarsantri.net ” Abu Dzar al-Ghifari adalah sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Ia termasuk yang paling awal masuk Islam (Assabiqunal Awwalun). Nama lengkapnya Jundub bin Junadah bin Sakan bin Sufyan bin Ubaid bin Waqi’ah bin Haram bin Ghifar bin Malil bin Dhamr bin Bakr bin Abdi Manat bin Kinanah. Pada saat Utsman bin Affan menjadi khalifah, ia memilih oposisi. Salah seorang pemuka ahli hadis ternama ini menganjurkan Khalifah Utsman memperbaiki dan mengurangi kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin di kalangan Muslimin. Soalnya, karena orang-orang Arab yang bermigrasi ke negeri-negeri yang sudah dibebaskan memperoleh kekayaan besar, sementara di samping mereka ada sebagian kaum Muslimin yang hidup miskin dan sangat kekurangan. Muhammad Husein Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul “Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan” (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menuturkan Abu Dzar juga mengecam kebijakan Utsman dalam soal pengangkatan dan pemberhentian pejabat. Sesudah Utsman memerintahkannya pergi ke Syam, ia berangkat dan apa yang dikatakannya di Madinah dikatakannya juga di Syam, dan menganjurkan untuk menyantuni kaum fakir miskin. Sementara ia menyebarkan seruannya itu Mu’awiyah bin Abi Sufyan berpendapat akan menguji kesungguhan niat Abu Dzar itu. Suatu malam ia mengutus orang membawa uang buat dia seribu dinar. Keesokannya ia memberi isyarat kepada utusan itu untuk mengambil kembali uang tersebut disertai permintaan maaf bahwa uang itu dimaksudkan untuk yang lain.

Read More

Sholat Malam dan 3 Cara Masuk Syurga Yang Perlu Dijalankan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Keinginan besar umat muslim yang tidak bisa dibantah, tentu ingin masuk syurga. Ini adalah pencapaian yang hakiki bagi seorang muslim. Dalam pandangan Islam, orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: 1) Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), 2) Masuk surga setelah dihisab, 3) dan Masuk surga setelah diazab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang Islam tanpa kecuali akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka terlebih dahulu. Nah, ada banyak sekali amalan di dalam agama Islam yang mulia ini agar bisa mengantarkan seseorang masuk surga dengan selamat, salah satunya adalah dengan melakukan shalat malam Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah (Muharam). Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163) Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan mengenai hadis di atas. Beliau rahimahullah mengatakan, “Ini adalah dalil dari kesepakatan ulama bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah di siang hari. Beliau juga mengatakan bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah Rawatib. Orang yang melakukan shalat malam, dijamin masuk surga dan selamat dari azab neraka.”

Read More

Begini Obat Kepleset Lidah dalam Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ada ungkapan, lidah bisa lebih tajam daripada pedang, karena korban yang diakibatkan dari keseleo lidah bisa lebih banyak dan lebih sakit dibanding dengan pedang. Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah tengah disorot karena dianggap menghina penjual es teh bernama Sunhaji saat selawatan di Magelang. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, menyebut niat Miftah hanya bercanda. “Ya, saya kira dia hanya bermaksud bercanda untuk menghidupkan suasana tapi kepleset lidah,” kata Gus Fahrur. Urusan kepleset lidah memang bukan monopoli Gus Miftah. Banyak pejabat sering lidahnya tak terkendali karena banyak omong. Sebut saja kasus yang menimpa Calon Gubernur DKI Jakarta Suswono. Ia dianggap terpeleset lidah terkait pernyataan janda kaya menikahi pemuda pengangguran yang kemudian dihubungkan dengan kisah Rasulullah Muhammad SAW dan Siti Khadijah. Muhaimin Iskandar juga tak lepas dari kecelakaan seperti itu. Ia dianggap keseleo idah saat debat cawapres dulu. Ia bilang akan membuat 40 kota baru se-level Jakarta. Akibatnya ia menjadi bahan tertawaan. Mantan Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas, juga sama. Ia keseleo lidah saat menyebut Kementerian Agama adalah hadiah dari negara spesifik untuk Nahdlatul Ulama (NU) dan wajar jika NU memanfaatkan Kemenag. Tak berhenti di sini. Mahfud MD kala menjabat Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) sempat dianggap keseleo lidah tatkala menyebut tidak boleh apabila meniru negara pada zaman Nabi Muhammad SAW. Kala itu, pernyataan Mahfud mengundang banyak pihak turun menasihatinya. “Apa ia lupa jika Allah telah tetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh terbaik bagi orang beriman, ini tak boleh diingkari,” ujar Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat Anton Tabah menanggapi pernyataan itu. Anton lalu meminta agar Mahfud MD untuk lebih banyak memanjatkan doa lantaran dianggap kerap salah memberikan pernyataan kepada publik. Sedangkan dalam kasus Yaqut Cholil Qoumas yang turun memberi nasihat dalah Sekretaris Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Abdul Mu’ti. Ia mengunggah sebuah konten tentang obat keseleo lidah di akun Instagram pribadinya @Abe_mukti. Ia menuturkan, ada di jenis kenapa seseorang bisa keseleo. Pertama, keseleo fisik atau salah urat. Ini obatnya tidak terlalu susah karena bisa langsung diurut atau digosok ke ahlinya, lalu bisa sembuh. Kedua, keseleo lidah atau salah ucap. Obatnya tidak boleh diurut apalagi dipakai minyak seperti yang terjadi pada keseleo bagian tubuh lainnya. Menurutnya, cara yang paling ampuh untuk mengobati keseleo lidah atau salah ucap itu ada beberapa hal. Antara lain meminta maaf dan mau mengakui kesalahannya. “Akui saja kalau memang salah ucap. Minta maaf atas khilaf dan salah ucap,” tuturnya. Selain itu, seseorang yang mengalami keseleo lidah sebaiknya mau mengintrospeksi diri dan mulai berbenah diri. “Belajar untuk meningkatkan kualitas ilmu dan berhati-hati sebelum berucap. Baik internal atau eksternal komunitas, bicaralah dengan bijak,” pungkasnya. Dalam dunia psikologi, keseleo lidah ini memiliki istilah tersendiri, yaitu Freudian Slips atau Parapraxis. Ini merupakan kesalahan berbicara yang diyakini bisa mengungkapkan hal sebenarnya yang ada dalam alam bawah sadar seseorang. Penemu teori ini adalah Sigmund Freud dari Austria. Freud menjelaskan bahwa alam bawah sadar merupakan sebuah gudang penyimpanan bagi segala kenangan, pikiran, motif, dan keinginan yang tidak terungkapkan.

Read More

Etika Bercanda dalam Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bercanda adalah salah satu bentuk bersosialisasi dengan orang lain. Umumnya bersenda gurau digunakan untuk mencairkan suasana dan mendekatkan hubungan. Islam tidak melarang seseorang untuk bersenda gurau. Namun, sebagai agama yang mengedepankan adab dalam semua hal ada batasan-batasan yang harus diperhatikan saat bercanda untuk meminimalisir perselisihan. Dalam sebuah riwayat, ada sahabat, Nu’aiman, yang selalu membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tertawa. Nu’aiman dikenal sebagai sahabat yang usil namun kehadirannya membuat hati semua orang senang. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah menjawab, “Benar. Hanya saja, saya selalu berkata benar.” (HR Ahmad). Ada beberapa tuntutan bercanda dalam Islam, yaitu: Senda gurau yang berlebihan akan menjatuhkan kehormatan dalam pandangan manusia. Kehormatan dan harga diri manusia dalam Islam sama dengan kehormatan darah dan hartanya. “Setiap muslim dengan muslim lain diharamkan darah, harta, dan harga dirinya” (HR Muslim). Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝ Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim. (QS. Al-Hujurat: 11).

Read More

Kiai Cholil Nafis: Penjual Teh Itu Cari Rezeki Halal

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Nafis menyebut orang yang mencemooh penjual tanda tidak memiliki etika. Rais Syuriyah PBNU ini pun mengimbau untuk tidak meniru perilaku tersebut. Melalui akun X, Kiai Cholil mengatakan, pedagang yang berjualan teh adalah orang yang sedang mencari rezeki yang halal. Menurutnya, orang jualan teh itu sedangmencari rezeki dengan kasab yang halal. Tentu sesuai dengan kapasitas masing-masing orang mencari rezeki. “Yang (ngustadz) kaya’ begitu jangan ditiru ya Dekk… goblok-goblokin orang jualan itu tanda tak belajar etika. Apalagi di depan umum saat pengajian. Astaghfirullah,” ucap Kiai Kholil. Meski tak menyebut nama langsung, namun warganet langsung mengaitkan cuitan dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Indonesia ini dengan video viral Gus Miftah. Dalam video yang beredar, memperlihatkan Gus Miftah yang secara gamblang menyebut goblok ke salah satu pedagang teh di tengah orang ramai. “Es tehmu sih akeh (masih banyak) nggak? ya sana jual gob*lok! Jual dulu, nanti kalau belum laku ya udah, takdir,” ujar Gus Miftah seraya terbahak-bahak.

Read More

Ketika Imam Syafi’i Dakwahi Baghdad

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pada abad ke-2 Hijriah, Baghdad menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan Islam yang menarik banyak ulama dari berbagai wilayah. Salah satu tokoh yang meninggalkan pengaruh besar di kota ini adalah Imam Syafi’i, yang tiba di Baghdad pada tahun 195 H. Kala itu, ulama kenamaan yang lahir di Gaza tersebut membawa mazhab fikihnya yang telah ia rumuskan selama berada di Makkah. Kedatangan Imam Syafii disambut hangat oleh masyarakat dan ulama Baghdad, menjadikan manhajnya cepat diterima dan digemari. Keberhasilan Imam Syafi’i menarik perhatian di Baghdad tidak lepas dari keunikannya dalam menyatukan dua pendekatan utama dalam menyimpulkan hukum Islam. Metode pertama adalah pendekatan Ahli Hadis, yang ia pelajari dari Imam Malik di Madinah. Metode ini menekankan pada pentingnya hadis sebagai sumber utama hukum Islam. Metode kedua adalah pendekatan Ahli Ra’yi yang lebih rasional dan berbasis logika, yang ia kuasai setelah berguru kepada Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, murid Imam Abu Hanifah, di Baghdad. Penguasaan dua metode ini membuat Imam Syafi’i mampu menawarkan solusi hukum yang seimbang, memperhatikan dalil naqli (teks) dan aqli (logika). Pendekatan ini menjadikan mazhabnya relevan di kalangan ulama Baghdad, yang sebelumnya lebih condong kepada metode Ahli Ra’yi. Kehadiran Imam Syafi’i di Baghdad segera mengubah lanskap keilmuan di kota itu. Menurut ulama Ibrahim al-Harbi, sebelum kedatangan Imam Syafi’i, terdapat sekitar 20 majelis ilmu yang mengajarkan metode Ahli Ra’yi. Namun, hanya dalam waktu dua pekan setelah dia tiba, jumlah majelis tersebut berkurang drastis menjadi hanya tiga atau empat majelis, karena banyak ulama dan pelajar beralih ke majelis Imam Syafi’i.

Read More

80 Persen Disabilitas Netra Muslim tak Bisa Baca Alquran Braille

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) mengungkap jika sebanyak 80 persen dari dua juta tunanetra Muslim di Indonesia tidak bisa membaca Alquran Braille. Ketua ITMI Yogi Madsuni menjelaskan, dari sekitar empat juta tunanetra yang ada di Indonesia, separuhnya adalah Muslim. “Kami melakukan identifikasi dan melakukan assessment, yang dari dua juta itu baru sekitar 20 persen. Bahkan mungkin kurang dari 20 persen yang bisa baca Alquran. Selebihnya belum bisa,” jelas Yogi Yogi menjelaskan, tingginya jumlah buta huruf Alquran Braille bukan disebabkan sulitnya akses terhadap Alquran Braille. Menurut Yogi, mushaf standar braille masih sangat cukup mengingat banyak komunitas yang memberikan wakaf Alquran berhuruf timbul tersebut. Beberapa diantara mereka bahkan melakukan pencetakan Alquran Braille. Menurut Yogi, permasalahannya ada pada jumlah guru pengajar Alquran Braille yang masih sangat sedikit. Dia mencontohkan, jumlah tunanetra Muslim di daerah Bogor sekitar 500 orang. Mayoritas belum bisa membaca Alquran Braille akibat minimnya pengajar di daerah tersebut. Begitu pula, ujar dia, jumlah pengajar Alquran Braille di Jakarta yang dapat dihitung dengan jari. “Belum lagi yang daerah-daerah lainnya. Apalagi kalau kita sudah bicara di Pulau Jawa, karena kami (ITMI) sudah ada di 27 provinsi dan di 167 kabupaten-kota,” jabarnya. Padahal, dia menjelaskan, Indonesia butuh setidaknya satu juta orang pengajar Alquran Braille untuk mengajar dua juta tunanetra Muslim. Untuk mengentaskan buta aksara tersebut, ITMI bersama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama pun telah merumuskan modul pembelajaran Alquran Braille. Modul pembelajarannya berjenjang dari tingkat dasar hingga mahir. Selain itu, menurut dia, ITMI menggelar training of traniner (ToT) di berbagai daerah untuk melahirkan para pengajar Alquran Braille untuk tunanetra. Dia menargetkan, program tersebut bisa mencetak setidaknya seribu trainer. “Jadi selama ini lebih banyak pengadaan Alqurannya daripada trainingnya atau pembinaannya. Padahal ini sangat penting,” ujar dia. Permasalahan yang diungkapkan Yogi terbukti di lapangan. Sekolah Luar Biasa (SLB) Al Irsyad Al Islamiyyah yang berada di Kota Bogor, harus memindahkan anak-anak tunanetra ke sekolah lain karena sulitnya menemukan guru khusus untuk mereka. Sekolah yang mengasuh 112 siswa disabilitas ini kini tinggal mendidik anak-anak tunarungu, tunagrahita, tunadaksa dan autis. Kepala SLB Al Irsyad Al Islamiyyah di Kota Bogor, Susan Azis Thalib mengungkapkan, jangankan untuk guru yang mengajari Alquran Braille, guru untuk siswa disabilitas netra saja sulit ditemukan. Dia menjelaskan, guru Alquran Braille bukan sekadar sulit tetapi langka. “Sangat pak, sangat, sangat pak, sangat membutuhkan guru membaca Alquran braille, di Bogor Kota bisa dihitung dengan jari jumlah guru SLB yang mengajar membaca Alquran Braille dan mengajar membaca huruf braille,” terang Susan.

Read More