Cara Menentukan Najis atau Bukan Menurut Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Para ulama merumuskan kaidah-kaidah untuk menentukan suatu benda tergolong najis atau tidak. Kaidah-kaidah ini dibuat untuk membantu umat Islam memahami dan menerapkan hukum-hukum tentang najis dengan lebih mudah dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, para ulama sering kali berbeda pendapat dalam menghukumi suatu benda, tergantung pada kaidah yang mereka gunakan. Dalam buku Najis yang Dimaafkan, Isnawati, Lc., mengungkapkan, Madzhab Al-Hanafiyah membagi najis ke dalam dua kategori utama, yaitu najis mughaladzah atau berat, dan najis mukhaffafah atau ringan. Najis mughaladzah mencakup benda-benda seperti darah, mani, wadi, madzi, nanah, muntah, tinja, air kencing, termasuk air kencing bayi laki-laki maupun perempuan, baik yang sudah makan atau belum.

Read More

3 Fase Tazkiyatun Nafs Menurut Said Hawwa

Jakarta — 1miliarsantri.net : Gagasan Said Hawwa tentang keteguhan jiwa (nafs) dapat dikatakan lebih dikenal luas. Karyanya, Tarbiyatuna ar-Ruhiyah, mengeksplorasi lebih jauh pemikiran Imam Ghazali tentang jiwa. Menurutnya, jiwa manusia dapat dibagi dalam tiga keadaan, yakni an-nafs al-muthmainnah, an-nafs al-lawwamah, dan an-nafs laammarat bis su`. Penjelasan keadaan pertama merujuk pada Alquran surah al-Fajr ayat 27-30. Jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma`innah) bertujuan pada ridha Allah SWT. Caranya melalui keikutsertaan pada golongan kebaikan. Bila menjauh dari golongan ini, (jiwa) seseorang akan merasa resah. Sementara itu, jiwa yang amat menyesali diri sendiri (an-nafs al-lawwamah)—seperti diilustrasikan dalam surah al-Qiyamah ayat 2. Munculnya keadaan ini yakni ketika seseorang rentan terhadap hawa nafsu, sehingga lalai dari perintah Tuhannya. Jiwa yang lalai akan terperosok kepada keadaan ketiga, yakni nafsu yang selalu menyuruh pada kejahatan (an-nafs laammarat bis su), seperti disinggung dalam surah Yusuf ayat 53.

Read More

Bahaya Menumpuk Harta Secara Berlebihan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pada suatu hari, Rasulullah Muhammad SAW keluar rumah sambil memegang tangan sahabatnya, Abu Dzar al-Ghifari. Kemudian, beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, tahukah kamu bahwa di depan kita ada sebuah tanjakan yang sulit yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang ringan beban?” Abu Dzar pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah saya ini termasuk orang-orang yang ringan atau sarat beban?” Rasulullah SAW menjawab dengan pertanyaan, “Apakah kamu punya makanan untuk hari ini?” “Ya.” Rasulullah bertanya lagi, “Untuk esok pagi?”

Read More

Abu Dzar Al-Ghifari Rela Oposisi untuk Membela Kaum Fakir Miskin

Jakarta — 1miliarsantri.net ” Abu Dzar al-Ghifari adalah sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Ia termasuk yang paling awal masuk Islam (Assabiqunal Awwalun). Nama lengkapnya Jundub bin Junadah bin Sakan bin Sufyan bin Ubaid bin Waqi’ah bin Haram bin Ghifar bin Malil bin Dhamr bin Bakr bin Abdi Manat bin Kinanah. Pada saat Utsman bin Affan menjadi khalifah, ia memilih oposisi. Salah seorang pemuka ahli hadis ternama ini menganjurkan Khalifah Utsman memperbaiki dan mengurangi kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin di kalangan Muslimin. Soalnya, karena orang-orang Arab yang bermigrasi ke negeri-negeri yang sudah dibebaskan memperoleh kekayaan besar, sementara di samping mereka ada sebagian kaum Muslimin yang hidup miskin dan sangat kekurangan.

Read More

Sholat Malam dan 3 Cara Masuk Syurga Yang Perlu Dijalankan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Keinginan besar umat muslim yang tidak bisa dibantah, tentu ingin masuk syurga. Ini adalah pencapaian yang hakiki bagi seorang muslim. Dalam pandangan Islam, orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: 1) Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), 2) Masuk surga setelah dihisab, 3) dan Masuk surga setelah diazab terlebih dahulu di neraka.

Read More

Begini Obat Kepleset Lidah dalam Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ada ungkapan, lidah bisa lebih tajam daripada pedang, karena korban yang diakibatkan dari keseleo lidah bisa lebih banyak dan lebih sakit dibanding dengan pedang. Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah tengah disorot karena dianggap menghina penjual es teh bernama Sunhaji saat selawatan di Magelang. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, menyebut niat Miftah hanya bercanda. “Ya, saya kira dia hanya bermaksud bercanda untuk menghidupkan suasana tapi kepleset lidah,” kata Gus Fahrur. Urusan kepleset lidah memang bukan monopoli Gus Miftah. Banyak pejabat sering lidahnya tak terkendali karena banyak omong. Sebut saja kasus yang menimpa Calon Gubernur DKI Jakarta Suswono. Ia dianggap terpeleset lidah terkait pernyataan janda kaya menikahi pemuda pengangguran yang kemudian dihubungkan dengan kisah Rasulullah Muhammad SAW dan Siti Khadijah. Muhaimin Iskandar juga tak lepas dari kecelakaan seperti itu. Ia dianggap keseleo idah saat debat cawapres dulu. Ia bilang akan membuat 40 kota baru se-level Jakarta. Akibatnya ia menjadi bahan tertawaan. Mantan Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas, juga sama. Ia keseleo lidah saat menyebut Kementerian Agama adalah hadiah dari negara spesifik untuk Nahdlatul Ulama (NU) dan wajar jika NU memanfaatkan Kemenag. Tak berhenti di sini. Mahfud MD kala menjabat Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) sempat dianggap keseleo lidah tatkala menyebut tidak boleh apabila meniru negara pada zaman Nabi Muhammad SAW. Kala itu, pernyataan Mahfud mengundang banyak pihak turun menasihatinya. “Apa ia lupa jika Allah telah tetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh terbaik bagi orang beriman, ini tak boleh diingkari,” ujar Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat Anton Tabah menanggapi pernyataan itu.

Read More

Etika Bercanda dalam Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bercanda adalah salah satu bentuk bersosialisasi dengan orang lain. Umumnya bersenda gurau digunakan untuk mencairkan suasana dan mendekatkan hubungan. Islam tidak melarang seseorang untuk bersenda gurau. Namun, sebagai agama yang mengedepankan adab dalam semua hal ada batasan-batasan yang harus diperhatikan saat bercanda untuk meminimalisir perselisihan. Dalam sebuah riwayat, ada sahabat, Nu’aiman, yang selalu membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tertawa. Nu’aiman dikenal sebagai sahabat yang usil namun kehadirannya membuat hati semua orang senang. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah menjawab, “Benar. Hanya saja, saya selalu berkata benar.” (HR Ahmad). Ada beberapa tuntutan bercanda dalam Islam, yaitu:

Read More

Kiai Cholil Nafis: Penjual Teh Itu Cari Rezeki Halal

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Nafis menyebut orang yang mencemooh penjual tanda tidak memiliki etika. Rais Syuriyah PBNU ini pun mengimbau untuk tidak meniru perilaku tersebut. Melalui akun X, Kiai Cholil mengatakan, pedagang yang berjualan teh adalah orang yang sedang mencari rezeki yang halal. Menurutnya, orang jualan teh itu sedangmencari rezeki dengan kasab yang halal. Tentu sesuai dengan kapasitas masing-masing orang mencari rezeki. “Yang (ngustadz) kaya’ begitu jangan ditiru ya Dekk… goblok-goblokin orang jualan itu tanda tak belajar etika. Apalagi di depan umum saat pengajian. Astaghfirullah,” ucap Kiai Kholil.

Read More

Ketika Imam Syafi’i Dakwahi Baghdad

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pada abad ke-2 Hijriah, Baghdad menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan Islam yang menarik banyak ulama dari berbagai wilayah. Salah satu tokoh yang meninggalkan pengaruh besar di kota ini adalah Imam Syafi’i, yang tiba di Baghdad pada tahun 195 H. Kala itu, ulama kenamaan yang lahir di Gaza tersebut membawa mazhab fikihnya yang telah ia rumuskan selama berada di Makkah. Kedatangan Imam Syafii disambut hangat oleh masyarakat dan ulama Baghdad, menjadikan manhajnya cepat diterima dan digemari. Keberhasilan Imam Syafi’i menarik perhatian di Baghdad tidak lepas dari keunikannya dalam menyatukan dua pendekatan utama dalam menyimpulkan hukum Islam. Metode pertama adalah pendekatan Ahli Hadis, yang ia pelajari dari Imam Malik di Madinah. Metode ini menekankan pada pentingnya hadis sebagai sumber utama hukum Islam.

Read More

80 Persen Disabilitas Netra Muslim tak Bisa Baca Alquran Braille

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) mengungkap jika sebanyak 80 persen dari dua juta tunanetra Muslim di Indonesia tidak bisa membaca Alquran Braille. Ketua ITMI Yogi Madsuni menjelaskan, dari sekitar empat juta tunanetra yang ada di Indonesia, separuhnya adalah Muslim. “Kami melakukan identifikasi dan melakukan assessment, yang dari dua juta itu baru sekitar 20 persen. Bahkan mungkin kurang dari 20 persen yang bisa baca Alquran. Selebihnya belum bisa,” jelas Yogi Yogi menjelaskan, tingginya jumlah buta huruf Alquran Braille bukan disebabkan sulitnya akses terhadap Alquran Braille. Menurut Yogi, mushaf standar braille masih sangat cukup mengingat banyak komunitas yang memberikan wakaf Alquran berhuruf timbul tersebut. Beberapa diantara mereka bahkan melakukan pencetakan Alquran Braille. Menurut Yogi, permasalahannya ada pada jumlah guru pengajar Alquran Braille yang masih sangat sedikit. Dia mencontohkan, jumlah tunanetra Muslim di daerah Bogor sekitar 500 orang. Mayoritas belum bisa membaca Alquran Braille akibat minimnya pengajar di daerah tersebut. Begitu pula, ujar dia, jumlah pengajar Alquran Braille di Jakarta yang dapat dihitung dengan jari. “Belum lagi yang daerah-daerah lainnya. Apalagi kalau kita sudah bicara di Pulau Jawa, karena kami (ITMI) sudah ada di 27 provinsi dan di 167 kabupaten-kota,” jabarnya. Padahal, dia menjelaskan, Indonesia butuh setidaknya satu juta orang pengajar Alquran Braille untuk mengajar dua juta tunanetra Muslim. Untuk mengentaskan buta aksara tersebut, ITMI bersama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama pun telah merumuskan modul pembelajaran Alquran Braille. Modul pembelajarannya berjenjang dari tingkat dasar hingga mahir.

Read More