Terdapat Tiga Shalat Sunnah yang Bisa Mengubah Hidup Manusia

Surabaya — 1miliarsantri.net : Shalat fardhu merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang baligh. Shalat wajib ini terdiri dari shalat lima waktu dan shalat Jumat bagi laki-laki. Selain shalat fardhu, terdapat shalat sunnah yang disyariatkan dalam Islam. Shalat sunnah ini sendiri dapat dikerjakan sesuai waktu atau kondisi tertentu. Dai muda Ustadz Irfan Rizki Haas menyebut ada tiga shalat sunnah yang dapat mengubah hidup seorang manusia. Adapun tiga shalat itu adalah shalat tahajud, shalat fajr atau qabliyah subuh, dan shalat sunnah dhuha. Ustadz Irfan Rizki mengungkapkan alasan kenapa ketiga shalat sunnah itu dapat mengubah kehidupan hamba Allah SWT. وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا Artinya: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. “Tahajud itu shalatnya orang yang ingin hajatnya Allah kabulkan. Dosanya ingin Allah ampunkan. Tahajud itu adalah shalatnya orang yang saat dia betul-betul lagi gamang, bingung, mau dari mana dia memulai merubah hidupnya maka orang itu nggak akan pernah meninggalkan shalat tahajud,” kata Ustaz Irfan Rizki. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam salah satu hadits, “Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim). “Jangan tinggalkan shalat tahajud. Bangun shalat malam. Minta sama Allah. Allah bukakan semua pintu kebaikan untuk kita,” tambahnya. Shalat sunnah fajr atau qabliyah subuh dilakukan sebelum shalat subuh. Dalam suatu hadits dinyatakan dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya. وَلِمُسْلِمٍ: «رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Read More

Khusyuk Merupakan Kunci Sekaligus Ruh dalam Sholat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam rukun Islam, sholat menempati urutan kedua setelah syahadat. Berbeda dengan wahyu-wahyu yang lain, yang selalu melalui perantara Malaikat Jibril, perintah sholat lima waktu langsung disampaikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW, ketika Isra Miraj. Ini sebagai pertanda, betapa pentingnya ibadah sholat lima waktu itu. Hukum sholat pun wajib. Ibadah ini pula yang membedakan umat Islam dari umat beragama yang lain. Oleh karena itu, sudah seharusnya sholat lima waktu itu kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan yang lebih penting lagi, sholat itu harus kita laksanakan dengan khusyuk. Sholat, menurut etimologi berarti doa mohon kebajikan. Dalam berdoa, kita tentu melakukannya dengan penuh kesungguhan. Sudah semestinya kita juga harus sungguh-sungguh dalam melaksanakan sholat. عن أبي قتادة رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (أسوأ الناس سرقة الذي يسرق من صلاته)، قالوا: يا رسول الله، وكيف يسرق من صلاته؟ قال: لا يُتِمّ ركوعها ولا سجودها ولا خشوعه Dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Seburuk-buruk pencurian manusia adalah yang mencuri dalam sholatnya.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah SAW bagaimana seseorang mencuri sholatnya?” Belia bersabda, ”Yaitu dia tidak menyempurnakan rukunya, sujudnya, dan khusyunya.” (HR al-Baihaqi). Jadi, untuk bisa khusyuk dalam sholat, pertama-tama kita memang harus tahu arti dari bacaan yang kita lafadzkan. Berikutnya, bacaan-bacaan dalam sholat itu kita hayati sepenuhnya agar makna semua bacaan-bacaan itu meresap ke dalam hati sanubari kita.

Read More

Islam Memberikan Perhatian Besar Terhadap Akal Manusia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Persoalan akal dikemukakan secara khusus dalam Alquran. Kata akal dalam bahasa Arab aql, disebutkan Alquran sebanyak 49 kali. Bahkan banyak ayat yang mendorong agar manusia memaksimalkan penggunaan akalnya guna menuju kehidupan dunia akherat yang lebih baik. Pakar tafsir Alquran, Prof M Quraish Shihab, dalam buku Logika Agama: Kedudukan Wahyu dan Batas-Batas Akal dalam Islam menjelaskan kata akal sendiri, mengutip pendapat Imam Ghazali, memiliki banyak pengertian. Akal merupakan potensi yang membedakan manusia dari binatang dan yang menjadikan manusia mampu menerima berbagai pengetahuan teoritis. Selain itu, akal juga adalah pengetahuan yang dicerna oleh seorang anak yang telah mendekati usia dewasa. Akal dapat pula dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh seseorang berdasar pengalamannya yang pada gilirannya memperhalus budinya. Meski demikian, ada batasan-batasan yang perlu diketahui terkait keberadaan akal ini. Seperti dikutip dari QS l-Mulk ayat 10, disebutkan kata na’qil (kami berakal), menurut mantan Menag RI tahun 1998 ini, sesuai dengan makna kebahasaannya yakni aql (akal) yang artinya tali pengikat.”Ia adalah potensi manusiawi yang fungsinya sebagai tali pengikat yang akan menghalanginya terjerumus ke dalam dosa.” Akal semacam itulah mestinya harus diupayakan untuk meraihnya, karena dapat menyelamatkan seseorang kelak. Sebab tanpa akal, imbunya, siapa pun pasti akan terjerumus meski memiliki pengetahuan teoritis yang mumpuni. Begitu pula apabila yang dimaksudkan akal merupakan potensi berpikir manusia yang mengantarnya mampu menjangkau serta memahami semua persoalan, namun harus dikatakan bahwa potensi itu tidaklah memadai. Dijelaskan, bahwa pada setiap agama ada ajaran yang tidak mampu dicerna oleh akal dan praktek-praktek yang sifatnya ta’abbudiy yang tidak terjangkau nalar, meski tidak bertentangan dengan akal. “Uraian-uraian yang menyangkut persoalan metafisika pun bukan dalam wilayah akal serta kemampuannya untuk mencernanya apalagi menolaknya,” papar Quraish dalam bukunya. Dia mencontohkan, ada manusia mau melihat Tuhan, tapi melihat matahari saja tidak sanggup karena pasti yang bisa dilihat hanya cahayanya.

Read More

Banyak Sunnah Rasulullah SAW yang Dilupakan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sunnah Rasulullah SAW yang mulai diabaikan oleh umatnya. Beberapa di antaranya termasuk mengucapkan salam saat bertemu sesama Muslim yang tidak dikenal, mengamalkan doa sebelum dan sesudah makan, serta menjaga silaturahim dengan saudara dan tetangga. Sunnah-sunnah ini mengandung hikmah dan kebaikan yang mendalam, namun sering kali terlupakan di tengah kesibukan dan gaya hidup modern yang serba cepat. Padahal, dengan menghidupkan kembali sunnah-sunnah ini, kita dapat memperkuat ikatan sosial dan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat. Berikut deretan sunnah Rasulullah SAW yang mulai diabaikan umat Muslim. عن أنس بن مالك -رضي الله عنه-: صَابَنَا وَنَحْنُ مع رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ مَطَرٌ، قالَ: فَحَسَرَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ ثَوْبَهُ، حتَّى أَصَابَهُ مِنَ المَطَرِ، فَقُلْنَا: يا رَسولَ اللهِ، لِمَ صَنَعْتَ هذا؟ قالَ: لأنَّهُ حَديثُ عَهْدٍ برَبِّهِ تَعَالَى Sahabat Nabi SAW, Anas bin Malik, dalam sebuah riwayat, kemudian bertanya mengapa Rasulullah melakukan itu. Lalu dijawablah, “Karena ini adalah perjanjian dengan Allah SWT yang Mahatinggi.” مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُرِيْدُ أَنْ يُوْصِيَ فِيْهِ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيِّتُهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ “Tidak pantas bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang ingin ia wasiatkan untuk melewati dua malamnya melainkan wasiatnya itu tertulis di sisinya.” Dalam hadits itu dapat diketahui bahwa Nabi SAW meminta setiap Muslim untuk berinisiatif menulis surat wasiat jika ada hal yang ingin diwasiatkan, dengan perkiraan waktu dua malam. Namun waktu dua malam ini bukan batasan waktu, sebab di hadits lain ada yang tertulis satu malam dan tiga malam.

Read More

Kriteria Hewan yang Layak Untuk Qurban

Jakarta — 1miliarsantri.net : Umat Islam di seluruh dunia bersiap untuk melaksanakan ibadah kurban. Dalam melaksanakan kurban, penting untuk memastikan hewan yang akan disembelih memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. Kriteria ini dapat dilihat dari dua aspek utama: fisik dan kesehatan hewan. Kriteria Fisik Hewan Kurban Pertama, hewan kurban harus sehat, baik, dan tidak cacat. Hal ini dijelaskan dalam beberapa hadis Rasulullah SAW. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berkurban dengan dua ekor kibasy bertanduk yang bagus. Anas menyaksikan sendiri Rasulullah meletakkan kakinya di atas kedua unta tersebut, membaca basmalah, dan bertakbir (HR. Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasai). Selain itu, Abi Said al-Khudri juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkurban dengan seekor kambing bertanduk yang jantan, dengan perut, kaki, dan keliling mata berwarna hitam (HR. at-Tirmidzi). Hadis lainnya dari Ubaid bin Fairuz mencatat bahwa Al-Barra bin Azib menegaskan ada empat jenis hewan yang tidak boleh dijadikan kurban: hewan yang buta sebelah matanya, yang sakit jelas terlihat, yang pincang jelas tampak, dan yang sangat kurus serta tidak bersih (HR. Abu Dawud). Berdasarkan hadis-hadis tersebut, kriteria fisik hewan yang layak dijadikan kurban adalah: Sebaliknya, hewan yang tidak layak untuk kurban meliputi:

Read More

Syakir Daulay : Carilah Teman yang Membuat Bertambah Taqwa

Surabaya — 1miliarsantri.net : Syakir Daulay, artis dan pendakwah Gen Z mengingatkan, carilah teman yang tidak hanya membuat tertawa, tetapi juga teman yang membuat bertaqwa. “Teman yang membuatmu bertaqwa dengan cara ketika ada waktu kosong menggunakan waktu kosong tersebut dengan ibadah dan mencari ridho Allah SWT,” ungkap Syakir dalam Majelis Subuh GenZI (MSG) di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) bebetapa waktu lalu. Kegiatan MSG bertema “Semangat Menyala Bangkitkan Asa” diawali dengan Khotmil Qur’an yang dipimpin KH Muzakky Al-Hafidz. Pendakwah asal Aceh yang aktif di medsos itu mengatakan agama itu mudah. “Cara Rasulullah untuk mengajari agama itu dengan contoh cinta. Kalau diajari nonton TV dan medsos ya cinta film/kartun dan suka caci maki, tapi kalau dibawa ke ulama ya cinta ulama dan cinta agama,” sambungnya. Baginya, cara untuk tetap istiqomah beragama itu dengan tiga cinta, yakni cinta kepada Al-Qur’an, cinta Rasulullah, dan cinta kepada keluarga-sahabat Rasulullah. “Cinta Al-Qur’an itu mudah, karena mukjizat yang abadi adalah Al-Qur’an, bahkan Al-Qur’an sekarang ada dimana-mana, di HP juga ada. Nggak usah langsung baca yang banyak, tapi 1 lembar. Baca Al-Qur’an itu seperti memiliki segala-galanya. Kalau saya, saya PDKT (pendekatan) dengan Al-Qur’an itu dengan baca Al-Waqiah setiap hari, maka sukses, tidak fakir dan tetap dalam ketenangan hidup,” tambahnya. Untuk cinta Rasulullah, alumni Pesantren Darul Al-Qur’an di Tangerang asuhan Ustadz Yusuf Mansur itu mengajak jamaah MSG sering membaca sholawat agar semangat tetap menyala dan asa tetap bangkit, serta mendapat cahaya Rasulullah. “Rasululah itu publik figur, jadi artis itu juga jadi publik figur, publik figur itu bisa diikuti dan didengar anak-anak muda, sehingga bermanfaat, asalkan tetap rendah diri dan belajar kepada guru atau siapapun. Guru saya bilang kalau jadi lampu di siang hari itu biasa karena sudah terang, tapi jadi lampu di tempat gelap disitu justru menjadi berharga,” paparnya.

Read More

Bacaan Dzikir Pagi dan Petang yang Bisa Dilakukan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dzikir merupakan jembatan bagi seorang manusia untuk selalu terhubung dengan Sang Pencipta, Allah Ta’ala. Banyak ayat dan hadist yang menjelaskan keutamaan berdzikir pada Allah SWT. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya selalu untuk berdzikir, sepanjang hari terlebih saat pagi maupun saat mengakhiri hari atau petang. Perintah berdzikir disebutkan dalam Al-Qur’an, di antaranya sebagai berikut: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا Artinya: Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah, zikir yang banyak, dan sucikanlah dia pagi dan petang. (QS al-Ahzab: 41-42). فَٱصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِٱلْعَشِىِّ وَٱلْإِبْكَٰرِ Artinya: Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (QS al-Mu’min: 55). Dua waktu ini memiliki keistimewaan tersendiri yang dimanfaatkan untuk mengingat kebesaran Sang Pencipta, Allah SWT. Pada dua waktu pula dianjurkan untuk memperbanyak membaca tasbih, beristighfar, tadarus, dan bershalawat untuk Nabi shalallahu alaihi wassallam. Bacaan Dzikir Pagi Berikut di antara bacaan dzikir pagi yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ Ashbahnaa ‘alaa fithrotil islam wa ‘alaa kalimatil ikhlas wa ‘alaa diini nabiyyinaa muhammad shallahu ‘alaihi wasallam wa ‘alaa millati abiinaa ibrohiim haniifam muslimaw wa maa kaana minal musyrikiin Artinya : “Di waktu pagi kami berada di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas (syahadatain), di atas agama Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan di atas agama ayah kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” (HR Ahmad no 15360, An-Nasai di Al-Kubro no 9743) اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَي النُّشُوْرُ Allahumma bika ashbahnaa, wa bika amsainaa, wa bika nahyaa, wa bika namuutu wa ilaikannusyuur Artinya : “Ya Allah, dengan Engkaulah kami memasuki waktu pagi, dan dengan Engkaulah kami memasuki waktu sore. Dengan Engkaulah kami hidup dan dengan Engkaulah kami mati. Dan kepada-Mu kami dibangkitkan.”(HR. at-Tirmidzi no.3391) أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ Ashbahnaa wa ashbahalmulku lillah, walhamdulillah, laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalah, lahulmulku walahulhamdu, wahuwa ‘ala kuli syai in qodiir. Robbi asaluka khoiro maa fii hadzaal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’uudzubika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’uudzubika minal kasali wa suu il kibar. Robbi a’uudzubika min ‘adzaabin fiinnaari wa ‘adzaabin filqobr Artinya : “Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Ya Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Ya Rabb ku! Aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan kubur.” (HR Muslim no.2723) اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka, wa anaa ‘ala ‘ahdika, wawa’dika mastatho’tu. A’uudzubika min syarri maa shona’tu, abuu u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu u bidzanbi faghfirlii, fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta Artinya : “Ya Allah! Engkau adalah Rabb ku, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui memikul dosaku. Karena itu, ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR al-Bukhari no.6306) اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى,اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ Allahumma inni asaluka al’aafiyata fiiddunyaa wal akhiroh, Allahumma innii asalukal’afwa wal’aafiyata fii diinii wa dunyaaya wa ahlii wa maalii, Allahummastur ‘aurootii wa aamin rou’aatii, Allahummahfadznii minbainii yadayya, wamin kholfihii, wa ‘anyamiinii, wa’ansyimaalii, wamin fauqii, wa a’uudzubi’adzhomatika an ughtaala min tahtii Artinya : “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, (kehidupan) duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan berilah ketenteraman dihatiku. Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak mendapat bahaya dari bawahku.” (HR. Abu Daud no.5074, Ibnu Majah no.3871)

Read More

Rasulullah SAW Berpesan tentang Orang yang Memperoleh Harta Kekayaan dengan Cara yang Tidak Benar

Jakarta — 1miliarsantri.net : Rasulullah SAW pernah berpesan tentang orang yang memperoleh harta kekayaan dengan cara yang tidak benar atau zalim. Peringatan ini tercantum dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri RA, dan dapat ditemukan dalam Shahih Bukhari. Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menekankan bahwa harta yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak adil atau merugikan orang lain tidak akan membawa berkah dan justru akan menjadi sumber malapetaka bagi pemiliknya. Pesan dari Rasulullah SAW ini juga menekankan pentingnya kejujuran dan keadilan dalam mencapai kekayaan yang berkah dan bagaimana cara yang benar dalam menggunakannya. Islam mengajarkan bahwa harta yang diperoleh dengan cara yang halal dan benar akan membawa manfaat dan berkah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan merekalah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, harta yang diperoleh dengan cara yang zalim tidak hanya akan merusak hubungan sosial dan menyebabkan kerugian bagi orang lain. Berikut haditsnya: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَكْثَرَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ قِيلَ وَمَا بَرَكَاتُ الْأَرْضِ قَالَ زَهْرَةُ الدُّنْيَا فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ هَلْ يَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ فَصَمَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ يُنْزَلُ عَلَيْهِ ثُمَّ جَعَلَ يَمْسَحُ عَنْ جَبِينِهِ فَقَالَ أَيْنَ السَّائِلُ قَالَ أَنَا قَالَ أَبُو سَعِيدٍ لَقَدْ حَمِدْنَاهُ حِينَ طَلَعَ ذَلِكَ قَالَ لَا يَأْتِي الْخَيْرُ إِلَّا بِالْخَيْرِ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَإِنَّ كُلَّ مَا أَنْبَتَ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ إِلَّا آكِلَةَ الْخَضِرَةِ أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتْ الشَّمْسَ فَاجْتَرَّتْ وَثَلَطَتْ وَبَالَتْ ثُمَّ عَادَتْ فَأَكَلَتْ وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ حُلْوَةٌ مَنْ أَخَذَهُ بِحَقِّهِ وَوَضَعَهُ فِي حَقِّهِ فَنِعْمَ الْمَعُونَةُ هُوَ وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ كَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ Abu Said Al Khudri RA menceritakan bahwa suatu hari Nabi SAW duduk di atas mimbar dan para sahabat pun duduk di dekatnya. Lalu beliau SAW, “Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan terjadi pada kalian sepeninggalku adalah sesuatu yang Allah keluarkan untuk kalian dari berkahnya bumi.” Kemudian ditanyakan kepada beliau SAW, “Apa maksud dari berkahnya bumi?” Beliau SAW menjawab, “Perhiasan dunia.” Seseorang kemudian bertanya kepada beliau SAW, “Wahai Rasulullah, apakah mungkin kebaikan akan mendatangkan keburukan?”

Read More

Hukum Qurban Dalam Pandangan Khusus

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam dunia Islam, ibadah qurban merupakan salah satu amalan yang memiliki tempat khusus, terutama pada saat Idul Adha. Namun, hukum melaksanakan ibadah kurban menjadi topik perdebatan di kalangan ulama, dengan pandangan yang berbeda mengenai kewajibannya. Sebagian ulama berpendapat bahwa melaksanakan ibadah qurban adalah wajib bagi orang yang berkelapangan. Pandangan ini didukung oleh tokoh-tokoh seperti Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad, sebagian ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Mereka berargumen bahwa seseorang yang memiliki kemampuan finansial wajib untuk berqurban sebagai bentuk ibadah dan syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Di sisi lain, mayoritas ulama (jumhur) menyatakan bahwa ibadah kurban bersifat Sunnah Mu’akkadah, yaitu sunnah yang sangat ditekankan. Ibnu Hazm menegaskan bahwa tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabat pun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib. Pernyataan ini menguatkan pandangan bahwa kurban lebih merupakan anjuran yang sangat ditekankan daripada sebuah kewajiban yang harus dipenuhi. Perbedaan pandangan ini mencerminkan keragaman interpretasi dalam memahami teks-teks agama dan bagaimana mereka diaplikasikan dalam kehidupan umat Islam. Bagi mereka yang berpegang pada pendapat wajib, ibadah qurban menjadi sebuah keharusan yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu, sebagai wujud ketaatan dan kepatuhan. Sementara itu, bagi yang mengikuti pendapat sunnah mu’akkadah, ibadah qurban adalah amalan yang sangat dianjurkan, namun tidak mengandung konsekuensi dosa jika ditinggalkan, asalkan tidak meremehkan syariat.

Read More

Ini Penjelasan Kenapa Haji dan Umrah Merupakan Panggilan Allah

Surabaya — 1miliarsantri.net : Sebagian umat Islam beranggapan haji dan umrah merupakan ibadah yang terbatas dilakukan hanya oleh orang-orang kaya harta. Memang salah satu syarat ibadah haji (secara lebih khusus) adalah istitha’ah atau mampu. Walaupun begitu, ternyata banyak orang yang tidak mampu secara finansial atau keuangan ternyata mampu berangkat haji dan umrah tanpa disangka. Mengapa ada fenomena seperti ini ? Mengapa ibadah haji dan umrah seringkali disebut sebagai panggilan ? Salah satu ciri khas ibadah haji dan umrah adalah do’a talbiyah yang biasa dilantunkan. Do’a talbiyah seperti “labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbbaik, innal hamda wan ni’mata lak awal mulku laa syarika laka”, atau “labbaik Allahumma labbaik”, dan do’a “labbaik Allahuma ‘umratan” yang dibaca ketika umrah dan berangkat dari Miqat. Kata “labbaik” berasal dari kata “labba-yulabbi” yang bermakna memenuhi panggilan. Sehingga lafadz ini dalam do’a-do’a talbiyah itu bermakna “kami memenuhi panggilan-Mu” sehingga biasa menjadi salah satu sebab penyebutan ibadah haji dan umrah dengan panggilan haji, meskipun jarang ada penyebutan “panggilan umrah” di masyarakat Islam Indonesia. Karena memang haji dan umrah sebenarnya merupakan panggilan, siapapun yang diberi kesempatan untuk menunaikannya, pantas untuk disebut sebagai “tamu-tamu Allah”.

Read More