Melihat Sepak Terjang Ratu Kalinyamat Dalam Melawan Penjajah Portugis

Jepara — 1miliarsantri.net : Putri tercinta Sultan Trenggana, mengalir darah biru pejuang dari leluhur tanah Jawa, yang lahir dari kawah candra dimuka pergolakan tanpa putus. Ia wanita pemberani yang menentang ketikadilan yang menerpanya dengan mata terbuka, tanpa secuil kekerdilan apalagi tetes air mata, bersumpah ia akan melakukan apapun sampai tumpas tampis. Pasemon, sanepa menulis, Ia tapa telanjang di Gunung Danaraja menuntut keadilan atas kematian kekasihnya Pangeran Kalinyamat. Sejatinya Ia bersumpah akan berjuang mengorbankan segala yang melekat ditubuhnya tanpa kecuali, Jiwa raga, harta, tahta untuk kemaslahatan Kawula dan negeri yang dipimpinya dengan istikomah dan iklas. Setelah kematian Harya Penangsang, taktha Jepara diserahkan Hadiwijaya kepada dirinya. Orang menyebutnya Ratu Kali Nyamat, Adipati Jepara melanjutkam tongkat estapet Pati Unus. Menyatakan perang terhadap Portugis. Pada tahun 1550, Bersama kesultanan Johor dan perserekatan Melayu. 4.000 Laskar Laut Jepara dalam 40 buah kapal Jung Jawa, Beliau kirimkan untuk memerangi Portugis, demi terbebasnya Malaka dari cengkeraman kekuasaan Portugis. Angin laut dan deburan ombak Sanudera belum perfihak kepada Perserekatan Melayu, merebut Malaka dari kekuasaan GOLD, GOSPEL ,GLORY Bangsa Portugis. Pada tahun 1565 beliau memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ternate untuk menghadapi gangguan bangsa Portugis dan kaum Hative. Beliau berlapang dada menyerahkan kembali armada lautnya mengempur Portugis yang coba menguasai sumber rempah rempah diujung samudera luas. Dan di tahun 1573, Ratu Kalinyamat bersama Armada laut kesultanan Aceh, berkolaborasi untuk menyerang portugis untuk merebut Malaka kembali. Beliau kirimkan armada laut raksasa berkekuatan 300 kapal berisi 15.000 Laskar laut Jepara yang brani dan gagah perwira. di Laksamanani oleh Ki Demang. Namun Armada Jepara Tiba di Malaka bulan Oktober 1574. Saat itu pasukan Aceh sudah dipukul mundur oleh Portugis. Laskar Jepara tetap Rawer Rawe Rantas rantas Malang Putung, tetap mengempur Portugis di Malaka dengan Gagah Perwira. Sang Ratu yang mengetahui Geopolitik sebagai ahli strategi militer faham. Bahwa Portugis sedang bersiap untuk memindahkan Pangkalan Armada lautnya ke Timur, mendekat ke sumber rempah rempah. Karena kesibukan dan gempuran massive laskar laut Jepara membuat sibuk Armada laut Portugis hingga gagal mengirimkan bantuan ke Ternate. Memberi kesempatan bhumi Ternate bernafas.Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani. Dan musuhnya menghormati dan mengagumi Sang Ratu yang bertaktha di sepinya Samudera luas. (gung) Baca juga :

Read More

Raden Kian Santang Penyebar Islam di Wilayah Pajajaran

Garut — 1miliarsantri.net : Prabu Kian Santang atau Raden Sangara atau dikenal dengan sebutan Syekh Sunan Rohmat Suci adalah putra Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Ketika dewasa, ia belajar agama Islam di Mekkah dan mengubah namanya menjadi Galantrang Setra. Meski berbeda keyakinan dengan sang ayah yang memeluk Hindu, Kian Santang tetap menjadi penyebar agama Islam di wilayah Pajajaran. Kehidupan awal Raden Kian Santang lahir pada sekitar abad ke-15 dan merupakan anak Prabu Siliwangi dari istrinya yang bernama Nyai Subang Larang. Ia memiliki dua saudara kandung yang bernama Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana (pendiri Kerajaan Cirebon) dan Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati). Sejak kecil hingga remaja, Kian Santang dilatih ilmu bela diri hingga tumbuh menjadi sosok ksatria Pajajaran. Ketika sudah mahir dalam bela diri, Kian Santang mengisi waktunya dengan berburu ke hutan. Ia pun mudah untuk mendapatkan hewan buruan menggunakan panahnya. Hal itu membuat Prabu Siliwangi sangat bangga dan mengangkatnya menjadi senopati Pajajaran. Kian Santang pun tumbuh menjadi ksatria yang gagah perkasa dan tidak ada yang bisa mengalahkannya. Selama hidup di istana, Kian Santang serba kecukupan, tetapi merasa kurang mengenal jati dirinya. Ia juga merasa jenuh karena tidak ada satu pun ksatria yang mampu mengalahkannya. Konon, Kian Santang kemudian mendatangi peramal untuk mengetahui lawan tangguh yang dapat menandinginya. Ia diberikan petunjuk bahwa orang yang dapat menandinginya adalah Sayyidina Ali dari Tanah Arab. Sebetulnya Sayyidina Ali hidup pada abad ke-7 dan telah wafat saat itu, tetapi mereka dapat dipertemukan secara goib dengan kekuasaan Allah. Selain itu, Kian Santang harus melakoni dua syarat agar dapat bertemu Sayyidina Ali, yaitu melakukan semedi di ujung kulon dan mengganti namanya menjadi Galantrang Setra (Galantrang berarti berani dan Setra berarti bersih atau suci). Setelah melakoni dua syarat tersebut, Kian Santang segera melakukan perjalanan ke Arab untuk menemui Sayyidina Ali. Sesampainya di Mekkah, ia bertemu seseorang dan kemudian menayakan keberadaan Sayyidina Ali. Orang tersebut mau memberi tahu keberadaan Sayyidina Ali, asalkan Kian Santang mau mengambil tongkatnya yang ditancapkan di tanah. Tidak disangka, Kian Santang kesulitan mencabut tongkat itu hingga keluar darah dari seluruh tubuhnya ketika berupaya untuk menyelesaikan tugas yang dianggap sangat mudah. Belakangan diketahui, sosok yang menancapkan tongkat itu adalah Sayyidina Ali. Setelah pertemuannya dengan Sayyidina Ali, Kian Santang memutuskan untuk menetap di Mekkah dan berlajar agama Islam di sana. Kian Santang menetap cukup lama guna belajar dan memahami agama Islam. Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali ke Pajajaran. Sesampainya di Pajajaran, ia menemui sang ayah dan kerabatnya untuk menceritakan pengalamannya selama mengembara ke Tanah Arab. Kian Santang kemudian mengajak Prabu Siliwangi untuk memeluk Islam, begitu juga dengan rakyat Pajajaran, tetapi ditolak. Meski ajakannya ditolak oleh Prabu Siliwangi, Raden Kian Santang tetap menyebarkan agama Islam di pelosok Pasundan. Pada awalnya, ia menyebarkan agama Islam di Limbangan, kemudian sampai ke Garut dan pesisir utara Pantai Jawa. Dalam perjalanannya, Kian Santang mengubah namanya menjadi Syekh Sunan Rohmat Suci. Ia pun pergi ke Galuh dan berhasil mengislamkan Raja Galuh Pakuwon di Limbangan, yang dikenal memiliki nama Sunan Pancer. Berkat Sunan Pancer, agama Islam bisa tersebar luas dan berkembang di daerah Galuh Pakuwon. Sejak penguasa lokal banyak yang menjadi umat Muslim, ajaran Islam menjadi berkembang di hampir seluruh wilayah Priangan. Setelah berhasil mengislamkan hampir seluruh Priangan, Raden Kian Santang memilih menetap di daerah sekitar Garut. Di tempat itulah, ia menyebarkan agama Islam dan menjadi guru syariat hingga akhir hayatnya. Tidak diketahui kapan Raden Kian Santang meninggal, tetapi masyarakat lokal menyakini makamnya terletak di lereng Gunung Karacak, yang berada di Kecamatan Karangpawitan, Kota Garut. (zak) Baca juga :

Read More

Ketika Pangeran Diponegoro Tidak Jadi Membunuh Jenderal Belanda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pangeran Diponegoro marah ketika jenderal Belanda, Hendrik Markus de Kock, melarangnya pulang setelah selesai bersilaturahim. Hari itu, 28 Maret 1830, Diponegoro ditangkap lalu dibawa ke Semarang menggunakan kereta kuda. Diponenegoro sempat memberi kode kepada salahs atu panglima perangnya bahw aia berniat membunuh De Kock. Tapi ia mengurungkan niatnya karena mendapat nasihat dari Haji Isa Badarudin. Hari itu, untuk mencegah Diponegoro pulang usai bersilaturahim, De Kock berdalih persoalan Diponegoro dengan Belanda harus diselesaikan hari itu juga. Namun, Diponegoro mengaku datang pagi itu bukan untuk berunding. De Kock menegaskan memang tidak ada perundingan, karena tugas dia bukan untuk berunding. Melainkan menangkap Diponegoro, demikian perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda van den Bsoch kepadanya. De Kock kemudian memerintahkan prajuritnya masuk tempat pertemuan. Diponegoro semakin marah, ia memaki-maki De Kock dan memberi kode kepada Basah Martonegoro agar bersiaga. Tapi, Haji Isa Badarudin menasihatinya agar ingat kepada Allah. Diponegoro pun mengurungkan niat membunuh De Kock. Diponegoro lantas pasrah kepada kehendak Allah. Ia merasa seperti emas yang hanyut terbawa arus sungai. Jenderal De Kock berpesan kepada anak buahnya yang membawa Diponegoro agar bermalam di Ungaran semalam. Saat di Ungaran, melihat punakawannya menangis minta pulang, Diponegoro menghiburnya. Diponegoro memintanya agar pulang besok saja dari Semarang. “Aku ini sesungguhnya ingin naik haji, walau sendiri. Tidak sanggup aku tunda perihal keberangkatan ke Makkah,” kata Diponegoro menghibur Roto, punakawannya. Esok paginya, ada pasukan dari Semarang yang menjemput Diponegoro di Ungaran. Maka, Diponegoro tinggal di Semarang hingga 5 April 1830. Pada 5 April 1830, ia dinaikkan kapal untuk berangkat ke Batavia. Ia menjadi penumpang Kapal PS Van der Cappelen, kapal uap berdayung pertama yang dibuat di Hindia Belanda.PS merupakan singkatan dari paddle steamer. Kapal uap berteknologi dayung. Yang membuat kapal ini adalah pabrik kapal Isaac Burgess yang ada di Surabaya. Selama 4,5 tahun, dari Februari 1824 sampai Agustus 1829, pabrik ini mendapat hak monopoli memproduksi semua kapal uap di Hindia Belanda. Bahan baku kapal ini adalah kayu jati prima yang dilapisi tembaga. Memiliki tiga tiang selain cerobong kapal. Di kapal ini, Diponegoro menerima suguhan makan berupa kentang. Dalam perjalanan ke Manado, Diponegoro sempat menendang kaki Roto, karena Roto menyebut kentang itu sebagai kentang sabrang (kentang pengasingan), bukan kentang walanda (kentang belanda). Setelah jadi, tugas pertama kapal ini adalah mengantarkan Van der Capelen, gubernur jenderal Hindia Belanda yang mengakhiri tugasnya pada 1826, pulang ke Belanda. Tiba di Batavia, rombongan Residen Batavia menyambutnya. Sangat banyak kereta kuda yang datang mengakut para pejabat di Batavia itu. Menyambut kedatangan Diponegoro itu, mereka berbaris memberi hortmat. Namun, tak ada tembakan kehormatan dari meriam-meriam. Padahal, setiap menyambut pangeran-pangeran dari Jawa yang bertamu di Batavia, selalu ada tembakan kehormatan dari meriam. Gubernur Jenderal Van den Bosch juga tidak terlihat datang untuk menyambutnya. Diponegoro pun bertanya-tanya, ke mana perginya Van den Bosch, sehingga tidak menyambut dirinya? Padahal ia sudah memberi tahu akan berangkat ke Makkah untuk beribadah haji. “Lalu apa maunya?” tanya Diponegoro ingin tahu alasan Van den Bosch mengundangnya ke Batavia. Diponegoro pun meminta Mayor De Stuers dan Kapten JJ Roefs yang mendampinginya dari Semarang untuk melaporkan kepada Van den Bosch bahwa dirinya sudah ada di Batavia. Esok harinya, Mayor De Stuers dan Kapten JJ Roefs menemui Diponegoro tanpa disertai van den Bosch. Diponegoro tahu dari dua perwira Belanda itu bahwa Van den Bosch ada di Bogor. (mif) Baca juga :

Read More

Perjuangan Kartini Dalam Memperjuangkan Hak dan Kesetaraan Perempuan

Jepara — 1miliarsantri.net : Raden Ajeng Kartini atau yang lebih dikenal sebagai RA Kartini merupakan seorang tokoh Jawa atau Pahlawan Nasional Indonesia karena dia memperjuangkan hak emansipasi bagi kaum perempuan. Berkat perjuanganannya, kini perempuan bisa bersekolah dan bekerja dengan sama/setara dengan laki-laki. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara. Kartini merupakan seorang putri keturunan bangsawan yang lahir dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A. Ngasirah. Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara. Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan karena perjuangan yang telah beliau lakukan walau tidak secara langsung. Surat-surat yang Kartini kirimkan kepada teman-temannya di Belanda kemudian dijadikan buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht yang artinya Dari Kegelapan menuju Cahaya yang diterbitkan oleh Mr. JH Abendanon (Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda). Buku tersebut banyak memberikan implementasi dalam cara berpikir masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi Jawa. Kemudian tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Kartini bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) mulai dari tahun 1885, sekolah yang diperuntukan untuk orang Belanda dan orang Jawa yang kaya. Di ELS, Kartini belajar dan menguasai bahasa Belanda. Tetapi, Kartini hanya dapat bersekolah hingga umurnya yang ke-12 tahun, karena beliau sudah memasuki masa pingitan. Pingitan merupakan sebuah tradisi ketika perempuan Jawa harus dikurung dan tinggal di rumah. Namun, dipingit tidak menjadi halangan bagi Kartini. Berbekal pengetahuan bahasa Belanda yang cukup beliau kuasai karena bersekolah di ESL, beliau bertukar surat dengan teman-temannya dari Belanda. Kartini juga banyak membaca buku selain bertukar surat dengan teman-temannya yang lain. Karena banyaknya buku yang dibaca Kartini, beliau jadi mengetahui cara berpikir perempuan Eropa yang lebih modern dan bebas dibandingkan perempuan Jawa pribumi kala itu. Kartini yang hobi membaca mulai dari buku, surat kabar, hingga majalah menimbulkan ketertarikannya untuk memajukan perempuan pribumi. Karena pada saat itu, perempuan pribumi memiliki kedudukan atau stratifikasi sosial yang terbilang rendah. Menurut Kartini, perempuan pribumi harus mendapatkan kesetaraan, persamaan, dan kebebasan. Kartini yang pada saat itu sedang dipingit, tidak banyak hal yang dapat ia lakukan tetapi surat yang Kartini tulis menjadi salah satu bentuk perjuangannya. Beliau menuliskan gagasan-gagasannya mengenai emansipasi perempuan. Beliau menjelaskan penderitaan yang dirasakan perempuan Jawa yang tidak bebas menuntut ilmu dan harus dipingit sehingga hal tersebut mengekang kebebasan perempuan. Kemudian di tahun 1903, Kartini akhirnya menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Sedikit yang kita ketahui, rupanya Kartini memiliki jarak usia yang cukup jauh dengan suaminya. Kartini yang pada saat itu sudah berusia 24 tahun, dipaksa menerima perjodohan dari ayahnya. Sebab pada saat itu, usia 24 tahun dianggap perawan tua apabila belum menikah. Kartini akhirnya menerima perjodohan tersebut karena beliau menghormati dan ingin berbakti kepada ayahnya. Hanya saja Kartini memberi syarat bahwa beliau tidak ingin melakukan prosesi adat pernikahan dengan berjalan jongkok, berlutut dan mencium kaki suami. Dengan Kartini tidak melakukan prosesi adat tersebut, kita dapat melihat bahwa ini adalah bentuk keputusan Kartini yang menginginkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Kartini juga menegaskan bahwa dirinya ingin membuka sekolah Hindia-Belanda untuk para perempuan agar mereka bisa belajar. Akhirnya setelah menikah pun, Kartini tetap melanjutkan perjuangannya untuk kesetaraan perempuan dan beliau juga menjadi seorang guru. Kegigihan Kartini akan pendidikan wanita ini dilihat tokoh Politik Etis, Van Deventer yang kemudian membantu mendirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini didukung oleh suami Kartini juga. Sekolah tersebut dinamakan “Sekolah Kartini” yang didirikan pada tahun 1912 yang berlokasi di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang (sekarang Gedung Pramuka). Sekolah ini pun berkembang hingga ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan banyak daerah lainnya. Setahun setelah menikah yakni 13 September 1904, Kartini melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat Namun sayang, perjuangan Kartini berakhir 4 hari setelah beliau melahirkan. Kartini meninggal di usianya yang 25 tahun kemudian beliau dimakamkan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang. Perjuangan Kartini memang tidak secara langsung, hanya bermodalkan surat-surat yang beliau kirimkan kepada teman-temannya. Namun hal itulah yang membuat Kartini istimewa, karena beliau membuat kita, para perempuan jadi bisa bersekolah dan bebas dan nyaman, setara dengan laki-laki. Perjuangan Kartini harus kita hargai karena berkat beliau, para perempuan masa kini tidak perlu dipingit, dapat belajar dan mengejar pendidikan dengan bebas dan mengeksplorasi bakat serta minat kita tanpa dibatasi gender. Kita para perempuan pun jadi bisa jatuh cinta dan menikah dengan orang yang benar-benar kita sayang, tanpa perlu dipingit dan dijodohkan. Perjuangan Kartini tidaklah sia-sia karena hingga saat ini para wanita dapat mengenyam pendidikan dan memiliki kesetaraan yang sama dengan laki-laki. Kita dapat melihat bahwa perjuangan tidak harus selalu besar atau maju ke medan perang. Kartini melakukan perjuangannya hanya bermodalan surat yang beliau tulis selama beliau dipingit. (yuk) Baca juga :

Read More

Pangeran Diponegoro Ditangkap Saat Bulan Ramadhan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setelah memerintahkan anak buahnya membujuk Diponegoro agar mau berunding, Letnan Jenderal Hendrik Markus de Kock sempat berpesta. Pesta itu sengaja diadakan oleh Societat de Harmonie di Batavia untuknya. Pesta diadakan pada 17 Februari 1830, dihadiri 400 tamu undangan, termasuk Gubernur Jenderal Van den Bosch. Beberapa hari kemudian, datang laporan dari Kolonel Cleerens bahwa Diponegoro bersedia berunding dengan De Kock. Diponegoto tiba di Magelang pada 8 Maret, dan pada 28 Maret, bertepatan dengan hari kedua Lebaran, De Kock menangkap pemimpin Perang Jawa itu. Sejak 1826, De Kock memang memilih tinggal di Magelang setelah berselisih dengan Gubernur Jenderal Du Bus. Pada 1828, meski De Kock diangkat menjadi pejabat gubernur jenderal, ia memilih tetap berada di Magelang. Ia baru pergi ke Batavia pada 2 Februari 1828 setelah gubernur jenderal definitif tiba di Batavia pada 31 Januari 1828. Selama menjadi pejabat gubernur jenderal, De Kock menghibahkan tanah kepada Tarekat Freemason. Tarekat Freenason akan membangun kuil pemujaan. Selain menghibahkan tanah pemerintah kolonial, De Kock juga menyumbang 4.000 gulden. Anggaran pembangunan mencapai 12 ribu gulden. De Kock melakukdn peletakan batu pertama pembangunsn kuil Freemason itu pada 15 Februari 1830 sebagai presiden Tarekat Freemason. Ia juga merupakan wakil grand master Freemason di Hindia Belanda. Pesta yang diadakan untuknya adalah pesta untuk menghargai jasanya dalam pembangunan kuil Freenason itu. Tapi pesta dansa itu menjadi serba kebetulan karena pada 16 Februari 1830 Diponegoro menyatakan kesediaannya untuk berunding. Berkaitan dengan tugasnya untuk memulihkan keamanan di Jawa, berbagai cara telah De Kock lakukan. Gagal mengalahkdn Diponegoro lewat perang, ia mengubah taktik. Ia lakukan cara halus, yaitu mengendalikan perang saudara. Ia memilih tidak menaklukkan pangeran-pangeran Jawa, melainkan memenangkan hati mereka. Pengikut-pengikut Diponegoro yang memiliki niat baik ia rangkul, yaitu mereka yang bersedia bekerja sama dengan Belanda. Yang memiliki niat jahat ia buru tanpa ampun. Ia terus menjalin komunikasi di keraton Yogyakarta dan Surakarta. Itulah sebabnya, ketika di Jawa diadakan pesta ulang tahun Ratu Wilhelmina, ia membiarkannya, kendati di Batavia, Du Bus tidak mengadaksn perayaan demi penghematan. Tapi rupanya, Van den Bosch kurang setuju dengan langkah De Kock yang kurang progresif itu. Van den Bosch memutuskantak perlu lagi berunding dengan Diponegoro. Baginya, pilihan untuk Diponegoro hanya dua. Mati atau masuk penjara. De Kock mau tidak mau harus mengikuti keputusan gubernur jenderal itu.Maka, ketika Diponegoro tiba di Magelsng dan menyatakan tidak ada perundingan selama bulan Ramadhan, De Kock santai saja. Ia bahkan mrmberikan sambutan yang sangat ramah selama Ramadhan itu. Ia sering berkunjung ke Diponegoro pada saat makan sahur. Keluarga Diponrgoro juga didatangkan di Magelang. Maka Diponegoro bisa berkumpul dengan keluarga selama Ramadhan. Tiap hari ia sediakan lima kerbau untuk disembelih. Untuk keperluan makan berbuka dan makan sahur 800 pengikut dan 200 prajurit pengawal Diponegoro. Ia hadiahkan juga uang dalam jumlah besar. Seekor kuda Persia yang gagah pun diberikan kepada Diponegoro. Tapi keramahannya itu hanya tipu daya. Pada 28 Maret 1830, keramahan De Kock berubah. Saat Diponegoto mengunjunginya –bukan untuk berunding, melainkan untuk silaturahim Lebaran– De Kock menangkapnya. Usai silaturahim, De Kock melarang Diponegoro pulang. Bahkan secara diam-diam ia telah mengirim prajurit ke pesanggrahan untuk melucuti senjata prajurit Diponrgoro. Beberapa prajurit yang mengantarnya tanpa perlengkapan senjata juga segera diringkus. Diponegoro kemudian dikirim ke Semarang dengan kereta kuda. Di Semarang dinaikkan kapal menuju Batavia. (mif) Baca juga :

Read More

Sosok Raden Ayu Srimulat Yang Namanya Diabadikan Sebagai Grup Lawakan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Mungkin sebagian besar orang belum mengenal sosok Raden Ayu Srimulat, sang primadona Jawa yang berjiwa modern.(7 Mei 1905 – 1 Desember 1968). Dia dalah pemain sandiwara panggung, pemain film dan penyanyi pada era akhir 50an hingga akhir 60an dan sekaligus tokoh berdirinya grup Srimulat yang sekarang ini masih menunjukkan eksistensi nya di tanah air. Raden Ayu Srimulat adalah anak dari R.M Aryo Rumpoko Tjitrosoma, seorang wedono di Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah dan R. Ayu Sedah. Lahir di Desa Botokan, Klaten pada 7 Mei 1905. Setelah ibu kandungnya wafat, pada usia 6 tahun Srimulat dibawa ke rumah kakak ayahnya, Raden Mas Sunarjo. Sunarjo waktu itu bekerja sebagai komisaris asisten residen di Klaten. Gadis kecil itu disekolahkan kakaknya di Hollandsch Inlandsche School, HIS, di kawasan Klaseman, Gatak, Sukoharjo. Baru setelah menginjak usia remaja, Srimulat kembali ke rumah ayahnya yang ditunjuk menjadi wedono di Bekonang, Sukoharjo. Ia melanjutkan sekolahnya di Koningin Emma School di Solo. Hanya beberapa bulan mengenyam pelajaran, Srimulat disuruh berhenti sekolah oleh ibu tirinya. Putri ningrat tak perlu sekolah tinggi tinggi, begitu kata ibu tirinya. Srimulat sangat terpukul. Apalagi ia tak mendapat pembelaan dari ayahnya. Srimulat lantas dipingit. Seperti kisah putri putri bangsawan yang menjalani pingitan, masa remaja Srimulat hanya dihabiskan dalam kungkungan dinding kewedanaan saja. Ia belajar berbagai macam keterampilan dari para abdinya. Usianya baru 12 tahun tapi sudah pintar menembang, menari, dan juga membatik. Kadang kadang kalau lagi senggang, ayahnya kadang kadang mendampingi Srimulat dan saudara saudaranya di saat belajar menari dan menembang. Hidup Srimulat penuh dengan suara tembang, bunyi gamelan dan gerak tari. Dibandingkan saudara saudaranya, Srimulat anak yang paling cepat menangkap ajaran kesenian yang diberikan ayah dan abdinya. Orang tuanya lalu menikahkan Srimulat dengan seorang kerabat dekat ayahnya bernama Raden Hardjowinoto. Usianya waktu itu baru 15 tahun. Rumah tangganya tak berlangsung lama. Srimulat diterpa kemalangan secara beruntun. Anaknya yang baru berusia 2,5 tahun meninggal dunia lalu disusul suaminya 3 bulan kemudian. Kesedihannya semakin bertambah saat ayahnya mencari selir selir baru. Muak akan kehidupan feodal priyayi dan praktik perseliran di dalam kompleks rumahnya sendiri Srimulat bertekad minggat. Suatu malam ia memutuskan kabur dari rumah. Berbekal uang 3,5 sen ia pergi ke Surakarta lalu ke Yogyakarta. Ia melamar kerja ke dalang Ki Tjermosugondo yang sedang kondang saat itu. Setahun kemudian, Srimulat bergabung dengan Ketoprak Candra Ndedari pimpinan Ki Retsotruno yang kebetulan sedang pentas di Alun alun Utara. R.A.Srimulat mengawali kiprahnya sebagai pemain rombongan ketoprak Mardi Utomo di Magelang dan Rido Carito. Ketenarannya menembus baik lapisan atas maupun bawah masyarakat. Srimulat tak segan menari bersama penari penari lokal di sejumlah daerah membawakan tari tarian daerah yang tak begitu dikenal. Ia juga bersedia diundang dalam acara tradisional penebangan pohon pohon jati tua di sebuah desa di Blora, Jawa Tengah. Srimulat pindah ke panggung Wayang Orang Ngesthi Rahayu yang dipimpin Nyi Murtiasih dari Jawa Timur. Kebetulan suami Murtiasih punya grup orkes yang sering tampil di pesta perkawinan. Srimulat pun diminta bernyanyi dengan iringan musik irama keroncong dan Hawaiian. Sewaktu digelar pasar malam di Magelang, ia berjuampa dengan Mannoek, bos penyelenggara pasar malam. Ia pun berkelana dari kota ke kota mengisi panggung hiburan pasar malam. Dalam waktu singkat Srimulat, anak priyayi dan gadis pingitan itu, menjelma menjadi perempuan yang mandiri. Ia menentang arus saat itu, menolak menjadi Raden Ayu dan memilih menjadi sri mahapanggung atau ratu panggung. Pendiriannya yang keras membuatnya membela mati matian seorang pesinden bernama Nyai Mas Sulandjari yang berhasil memenangkan lomba kontes batik di Pasar Malam Amal Yogyakarta pada 1938. Kemenangan Sulandjari itu diprotes keras para bangsawan Yogyakarta dan Surakarta. Apalagi Sulandjari berhasil mengalahkan putri putri ningrat. Mendengar Sulandjari dihina, Srimulat melawan para bangsawan itu. Melalui wawancara dengan mingguan Darmo Kondho dan Penjebar Semangat, Srimulat menyatakan dukungannya kepada Sulandjari sembari mengkritik keras para kaum ningrat. Siapa yang lebih berhak memberikan penilaian dalam kontes semacam itu, tanyanya sinis. Di sisi lain, Srimulat pernah dikontrak untuk masuk dapur rekaman oleh perusahaan piringan hitam Burung Kenari, Columbia dan His Master’s. Suara merdunya yang melantunkan lagu Kopi Susu, Padi Bunting, Janger Bali, dsb. Saat itu hanya kaum berpunya saja yang bisa memiliki gramofon untuk memutar piringan hitam. Budayawan Arswendo Atmowiloto menggambarkan Srimulat sebagai seorang penampil yang meletakkan dasar dasar seorang artis modern. Sikapnya terbuka pada segala jenis tarian. Ia turun ke pelosok, ke pusat keramaian membawakan secara live lagu yang sedang ngetop. Di pentas wayang orang ia tampil di kelompok Srikuncoro. Selain itu, ia juga pernah membintangi film Sapu Tangan (1949), Bintang Surabaja (1951), Putri Sala (1953), Sebatang Kara (1954) dan Radja Karet dari Singapura (1956). Teguh Srimulat.Yang merupakan suami terakhir sekaligus suami yang bepengaruh dalam hidup Srimulat. Sukses di panggung, Srimulat kurang berhasil dalam berumahtangga. Tiga kali pernikahannya selalu kandas. Pada tahun 1947 di Purwodadi, Grobogan, Srimulat satu panggung dengan Orkes Keroncong Bunga Mawar dari Solo. Gitaris orkes tersebut bernama Kho Tjien Tiong, dikenal dengan nama Teguh Slamet Rahardjo. Keduanya saling terpikat. Sehabis pentas di Purwodadi mereka resmi berpacaran. Usia mereka terpaut jauh. Teguh jejaka berusia 21 tahun sementara Srimulat berusia 39 tahun. Pada 8 Agustus 1950, R.A.Srimulat menikah dengan Teguh Slamet Rahardjo, Kho Djien Tiong, yang berusia 24 tahun. Pada saat yang sama dibentuk rombongan kesenian keliling bernama Gema Malam Srimulat. Gema Malam Srimulat adalah sebuah kelompok kesenian yang menyuguhkan gabungan antara lawak dan nyanyi terutama lagu tembang langgam Jawa dan keroncong. Penyanyinya waktu itu antara lain Kusdiarti, Suhartati, Ribut Rawit, Maleha, Rumiyati, dan Srimulat sendiri sedangkan Teguh menjadi pemain gitar dan biola. Sebelum memasuki tahun 1957, Gema Malam Srimulat berganti nama menjadi Srimulat Review. Memasuki 1957 namanya berubah lagi menjadi Aneka Ria Srimulat. Salah satu momen bersejarah bagi Srimulat dan Teguh adalah keputusan mereka pindah ke Surabaya dari Surakarta sekitar Peristiwa G 30 S. Suatu malam pada 1965, tak lama sebelum geger 30 September, Srimulat berbisik di telinga Teguh Slamet Rahardjo, suaminya. Sebentar lagi bakal ada ontran ontran. Pak Jenderal meminta kita untuk berhati hati. Sebaiknya kita tidak pulang dulu ke Solo untuk waktu cukup lama, kata Srimulat, dikutip Sony Set dan Agung Pewe dalam bukunya, berjudul Srimulat, Aneh yang Lucu. Saat itu Srimulat…

Read More

Sosok Joko Tingkir Yang Memiliki Cucu Presiden Indonesia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Meski hanya menantu Sultan Demak Trenggono, Joko Tingkir bisa naik tahta. Hal itu terjadi setelah Demak kehilangan raja, karena Sultan Demak Prawoto dibunuh oleh Adipati Jipang Aryo Penangsang. Aryo Penangsang membunuh Sultan Prawoto berdasarkan fatwa Sunan Kudus, Joko Tingkir naik tahta atas restu Sunan Giri dengan nama Sultan Hadiwijoyo. Benarkah Joko Tingkir masih cucu Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V? Sebenarnya, Joko Tingkir juga menjadi sasaran pembunuhan Aryo Penangsang. Namun, Joko Tingkir selamat dari upaya pembunuhuan, lalu beranak-pinak, hingga di kemudian hari salah satu keturunannya menjadi presiden Indonesia. Pada masa remaja ia menjadi santri Ki Ageng Selo di Desa Selo, Grobogan. Ia adalah anak dari Ki Ageng Pengging II alias Kebo Kenongo dan kelak ia memiliki keturunan yang menjadi presiden Indonesia. Kebo Kenongo merupakan anak kedua dari Andayaningrat. Andayaningrat yang dijuluki sebagai Ki Ageng Penggging I inilah yang merupakan menantu Raja Majapahit Brawijaya V. Istrinya, Ratu Ratna Pembayun, merupakan anak pertama daru salah satu permaisuri Brawijaya V. Begitulah silsilah Joko Tingkir sebagai cucu Brawijaya V. Sebelum memiliki anak, Joko Tingkir memilih Danang Sutowijoyo sebagai anak angkatnya. Setelah itu, ia memiliki anak yang kemudian ia jadikan putra mahkota, yaitu Pangeran Benowo. Mengapa namanya Joko Tingkir, tidak Joko Pengging? Saat kecil, nama Joko Tingkir adalah Karebet. Ketika kedua orang tuanya meninggal, ia diangkat sebagai anak oleh Ki Ageng Tingkir. Ki Ageng Tingkir merupakan sahabat ayahnya yang tinggal di Desa Tingkir. Oleh sebab itulah, di kemudian hari Karebet memiliki nama Joko Tingkir. Ketika Joko Tingkir meninggal dunia, Pangeran Benowo menggantikannya sebagai Sultan Pajang. Sejak kecil Pangeran benowo menjadi santri Sunan Kalijaga, tetapi ia hanya menjadi raja sebentar, karena ia memilih melanjutkan dakwah yang dirintis gurunya, Sunan Kalijaga. Kekuasaan Pangeran Benowo direbut oleh Adipati Demak, Raden Pangiri. Raden Pangiri merupakan anak Sultan Prawoto. Membela Pangeran Benowo, Danang Sutowijoyo lalu merebut kekuasaan Raden Pangiri. Karena Pangeran Benowo tak bersedia lagi menjadi raja, maka Danang Sutowijoyo yang menggantikannya, tetapi memindahkan keraton ke Mataram. Pangeran Benowo terus mengembangkan dakwahnya. “Atas anjuran Sunan Kalijaga, Pangeran Benowo yang merupakan putra mahkota Keraton Pajang mendirikan pusat pendidikan Islam yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal sistem pendidikan pesantren di Jawa,” Dr Purwadi dan Dra Siti Maziyah. KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nnahdlatul Ulama, adalah keturunan ke-7 dari Pangeran Benowo. Berarti keturunan ke-8 dari Joko Tingkir. Hasyim Asy’ari memiliki cucu bernama Abdurrahman Wahid. Berarti Abdurrahman Wahid merupakan keturunan ke-10 dari Joko Tingkir. Keturunan ke-10 Joko Tingkir inilah yang pada 2009 terpilih menjadi presiden Indonesia di Sidang Umum MPR. Cucu Raja Majapahit itu telah menurunkan presiden Indonesia. (mif) Baca juga :

Read More

Kisah Tunggul Ametung Sang Adipati Tumapel

Semarang — 1miliarsantri.net : Alkisah di negeri Tumapel hidup seorang adipati yang menyukai perempuan-perempuan cantik. Sang adipati, walau usianya tak muda lagi, menganggap perempuan cantik sebagai aset berharga. Tiap kali berjalan ke desa-desa ia selalu mencari perempuan cantik. Tak peduli siapa orang tua perempuan itu dan bagaimana kondisi hidupnya, selama sang adipati menginginkannya, perempuan itu akan diangkut ke istana kadipaten. Bahkan bila perlu dengan kekerasan. Nama adipati Tumapel itu Tunggul Ametung. Ia menjadi adipati setelah menyatakan sumpah setia pada raja Kediri; Kertajaya. Pada waktu itu Kediri adalah kerajaan terbesar di Jawa. Wilayah kekuasaannya mencangkup seluruh Jawa dan sebagian Sumatra. Kesetiaan Tunggul Ametung pada Kertajaya tiada duanya. Tiap tahun ia mengirim upeti dengan jumlah luar biasa besar. Hasil panen terbaik, barang-barang antik, dan segepok emas ia kirim ke Daha sebagai tanda kesetiaan. Tunggul Ametung memiliki reputasi baik di mata sang raja. Ia diberi kebebasan oleh raja untuk mengelola wilayahnya, tanpa batas. Semua itu berkat kesetiaannya pada Raja Kertajaya. Tunggul Ametung bukan seorang bangsawan. Tak ada darah ksatria atau brahmana dalam dirinya. Dahulu ia adalah perampok yang sudah merapok lebih dari seratus kali dan sudah membunuh orang 150 kali. Ia adalah perampok berdarah dingin. Seluruh Kediri tahu itu. Reputasinya sebagai perampok ulung sampai juga di telinga raja Kediri yang kala itu baru naik tahta, Raja Kertajaya. Bukannya membasmi gerombolan Tunggul Ametung itu, Raja Kertajaya justru memanggilnya ke istana untuk memberikan tawaran menarik. Aneh memang, namun itulah yang terjadi. “Jadi kau yang bernama Tunggul Ametung itu?” Tunggul Ametung memandang raja baru itu dengan curiga. “Tenanglah. Aku tak bermaksud menangkap atau menghukummu. Bahkan aku mengizinkanmu memasuki istanaku bersama beberapa gerombolanmu itu, bukan? Kau lihat, tak ada perajuritku di sini.” “Apa yang kau inginkan?” tanya Tunggul Ametung, “jika kau akan menghentikanku, kau melakukan hal sia-sia. Jika kau pikir aku akan menyerah tanpa perlawanan, kau keliru.” Suasana hening. Para abdi kerajaan dan pejabat istana menjadi kaget dan was-was. Sebelum ini tak pernah ada orang yang berbicara pada raja Kediri tanpa menyembah terlebih dahulu. Mereka khawatir akan terjadi kekacauan di dalam istana. “Haha, berani juga kau. Tenanglah, aku Kertajaya raja Kediri bukan orang seperti itu. Aku berbeda dengan pendahulu-pendahuluku.” Suasana semakin mencekam. Di luar istana para perajurit kerajaan tiba-tiba datang dalam jumlah besar. Mereka berhadapan dengan gerombolan Tunggul Ametung, saling tatap penuh curiga seakan-akan di mata mereka ada api yang berkobar, api kebencian yang tiba-tiba menyala. “Pernah kah kau mendengar wilayah Tumapel?” “Aku tahu tempat itu. Dulu aku merampok orang kaya di wilayah itu” “Lalu?” “Aku dikejar sampai ke perbatasan Gelang-Gelang.” “Pasukan mereka memang kuat.” “Apa yang kau inginkan?” Kesabaran Tunggul Ametung kian menipis. “Aku ingin mengajakmu bekerja sama.” “Bekerja sama? Apa maksudmu?” “Setelah kematian ayahku, wilayah Tumapel menjadi kurang ajar. Tak ada upeti yang datang. Aku dengar sang adipati tak sudi mengakuiku sebagai raja baru.” “Lalu, apa hubungannya denganku?” Kertajaya diam sejenak, lalu senyum tipis merekah di wajahnya. “Aku ingin kau dan gerombolanmu membunuh adipati Tumapel.” Tunggul Ametung kaget. “Hah? Apa untungnya bagiku?” “Setelah kau menghancurkan adipati itu, aku akan menjadikanmu adipati Tumapel yang baru. Kau dan gerombolanmu akan bergerak atas namaku.” Tunggul Ametung nampak bimbang. Ia yang semula bersikap congkak di hadapan raja, kini mulai berubah. Ia menatap rombongan yang mengawalnya. Mata orang-orang itu seakan berkata ‘ini tawaran bagus, terimalah. Aku tak mau jadi perampok selamanya!’ “Setelah aku menggulingkan adipati Tumapel, apa yang harus kulakukan selanjutnya?” “Kau hanya harus menyatakan sumpah setia padaku dan mengirim upeti tiap tahun.” “Yang benar saja! Tak ada yang tersisa padaku jika kekayaan Tumapel mengalir kepadamu!” “Tumapel adalah wilayah kaya. Hasil buminya yang terbaik di Jawa. Di sana juga ada tambang emas yang tak akan habis ditambang. Kau akan menerima jauh lebih banyak dibanding yang kau berikan padaku.” Tunggul Ametung lagi-lagi terdiam. Pikirannya mengkalkulasi untung-rugi. Jika berhasil ia akan menjadi adipati. Tapi jika gagal ia akan menjadi pesakitan. “Kenapa kau bimbang? Bukankah kau itu kuat?” Perkataan Kertajaya semakin membuat Tunggul Ametung gelisah. “Jika kau tak mau menerimanya, keluar dari istanaku sekarang juga! Tak masalah jika kau tak mau. Tapi ingat, aku akan mengerahkan seluruh pasukanku untuk membunuhmu sesaat setelah kau menyatakan menolak. Aku jamin hidupmu tak akan tenang!” Bagai gemuruh guntur di siang hari, suara Kertajaya menggetarkan seisi istana. Kebingungan semakin menggerogoti pikiran Tunggul Ametung. Ia mulai cemas. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Suasana semakin mencekam. Di depan istana perajurit kerajaan sudah mengepung rombongan Tunggul Ametung. Tak ada satu pun yang berucap. Apakah mereka menjadi sekutu atau akan saling bunuh? Hati dan pikiran Tunggul Ametung kian bimbang. Ia harus segera memutuskan. “Baiklah,” akhirnya Tunggul Ametung bersuara, “aku menerima tawaran itu.” Senyum merekah di wajah Kertajaya, kali ini lebih lebat dari sebelumnya. Sinar terang seakan menerangi ruangan utama istana itu. Mereka yang berjaga di luar pun lega karena tak harus saling bunuh. “Sebagai awal tanda kesetiaanmu, mulai sekarang panggil aku Yang Mulia Raja Kertajaya.” Sambil menunduk Tunggul Ametung berkata “Baik, Yang Mulia Raja Kertajaya.” Tunggul Ametung segera menyesuaikan diri. Ia menyadari betul situasinya sudah berbalik. Raja Ketajaya benar-benar telah menundukkaannya. Ia sekarang mengerti seperti apa wibawa raja jawa. Tunggul Ametung sadar, jika ia menolak atau berkhianat Raja Kertajaya akan menghancurkannya tanpa ampun. Mungkin ia akan mati dipenggal dan kepalanya akan diarak keliling alun-alun Daha. Ia harus tunduk pada kemauan Raja Kertajaya demi dirinya, pasukannya, dan masa depan cerah yang dijanjikan. “Baiklah. Besok kau berangkat ke Tumapel bersama rombonganmu. Oh ya, apa kau membutuhkan sesuatu?” Tunggul Ametung yang baru menyatakan tunduk pada Kertajaya harus menyampaikan permintaannya dengan sopan dan santun. “Yang Mulia, saya butuh kuda, tombak, dan panah. Sertakan juga 100 perajurit untuk berjaga di perbatasan, siap siaga jika pasukan adipati Tumapel melarikan diri. Hanya untuk jaga-jaga.” “Apakah itu cukup?” “Sebetulnya belum cukup Yang Mulia. Saya juga butuh kuda dan beberapa puluh pemanah.” “Baiklah, akan kusiapkan semuanya. Besok pagi sebelum matahari terbit kau harus sudah berangkat. Aku akan mengirim delik sandi untuk memantau situasi.” “Terima kasih Yang Mulia.” “Dan ingat, jangan berani berkhianat padaku. Pengkhianatan akan berakhir dengan kesengsaraan, kestiaan akan menghasilkan kejayaan. Camkan itu baik-baik!” Keesokan harinya Tunggul Ametung berangkat ke Tumapel bersama gerombolannya. Ia harus berhasil dalam misi ini, bagaimana…

Read More

Islam di Krimea, Susunan Puzzle Dua Abad Terakhir Pasca Runtuhnya Kekhanan Krimea

Jakarta — 1miliarsantri.net : Buku Islam di Krimea yang ditulis oleh Yanuardi Syukur, Pengurus Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI di mana dirinya pernah melakukan kunjungan ke Ukraina. Ia mengatakan, penulisan buku ini menjadi salah satu upaya untuk membuka fokus studi baru terkait wilayah Islam yang di luar Timur Tengah atau Asia Tenggara, melainkan sebuah wilayah di timur Eropa, yakni Krimea. “Dari studi Islam di Krimea, saya mulai menyusun puzzle dari informasi yang terserak tentang formasi sosial yang membentuk Krimea, serta dinamika regional yang terjadi sepanjang dua abad terakhir pasca runtuhnya Kekhanan Krimea yang pernah berkuasa hampir tiga abad,” tutur Yanuardi dalam peluncuran bukunya beberapa waktu lalu. Mengingat sejak abad ke-18, ketika Rusia pertama kali menduduki Krimea, pemerintah Moskow dengan baju Uni Soviet telah menganiaya umat Islam dan pendudukan Krimea sejak 2014. Pasukan keamanan mereka telah menekan budaya Muslim, memenjarakan banyak orang Tatar Krimea, hingga mempersulit berbagai kegiatan ibadah. Arif menyampaikan bahwa perang adalah pengingkaran terhadap perintah perdamaian dari agama. Tidak ada perintah dalam agama untuk saling berperang kecuali karena mempertahankan kebenaran. Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Bunyan Saptomo, yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang kaffah. “Coba lihat surat Al Hujurat ayat 13, Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Bisa kerjasama (itu idealis). Tapi Islam juga mengajarkan juga bahwa kita harus siap perang. Artinya, ada sisi realistis bahwa yang kuat akan menang melawan yang lemah. Boleh berperang (di jalan Allah) ketika diserang, tapi jangan melampaui batas,” tutur dia. MUI Pusat sebagai simbol kelembagaan ukhuwah, maka MUI Pusat menjadi lembaga penghubung. Indonesia harus jadi role model untuk memperkuat ukhuwah dengan berbagai negara, termasuk negara seperti Ukraina. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sepenuhnya mendukung solidaritas kemerdekaan Muslim Tartar Krimea dan berharap perang segera berakhir. Rangkaian kegiatan diadakan oleh MUI Pusat sembari menyambut hadirnya Ketua RAMU (Religious Administration of Muslims of Ukraine), Sheikh Murat Suleymanov, dan beberapa delegasi lainnya yang sedang melakukan kunjungan di Indonesia. Sebagai lembaga yang menaungi berbagai Ormas Islam di Indonesia, MUI Pusat mendorong agar perdamaian untuk selalu dijaga dan dijadikan komitmen global. “Peperangan di atas bumi harus dicegah dan harus diselesaikan. Solidaritas kemanusiaan harus diusahakan oleh semua pihak termasuk umat beragama melalui mekanisme hukum yang berlaku baik di skala nasional, regional, maupun internasional,” pungkas Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Arif Fahrudin. (Iin) Baca juga :

Read More

Abdullah bin Salam, Kepala Pendeta Yang Mengakui Kenabian Rasulullah SAW

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Abdullah bin Salam merupakan kepala pendeta Yahudi di Madinah. Dia terkenal di kalangan masyarakat dengan ketakwaan dan kesalehannya, tersohor dengan sikap istikamah dan kejujurannya. Setiap hari, Abdullah bin Salam mendalami isi Taurat. Saat mendapati penjelasan tentang kelahiran seorang Nabi di Makkah untuk menyempurnakan risalah para nabi terdahulu, dia tertegun. Pria yang dikenal dengan panggilan Al-Hushain bin Salam ini berharap kepada Allah SWT agar memanjangkan umurnya sehingga bisa menyaksikan kemunculan Nabi tersebut. Allah mengabulkan permohonannya. Allah SWT menunda ajal Abdullah bin Salam sampai Nabi Muhammad datang. Dalam buku Jejak Perjuangan dan Keteladanan Sahabat-sahabat Nabi yang ditulis Abdurrahman Ra’fat Al-Basya, Abdullah bin Salam menceritakan pertama kali dia mendengar kabar kedatangan Nabi Muhammad. Saat itu, Rasulullah meninggalkan Makkah menuju Madinah. Setiba di Yastrib, Rasulullah singgah di Quba. “Seseorang laki-laki datang kepada kami, dia mengumumkan kedatangannya (Rasulullah) kepada semua orang. Saat itu aku sedang berada di pucuk pohon kurma milikku. Bibiku Khalidah binti al-Harits sedang duduk di bawah pohon. Begitu aku mendengar berita, maka aku langsung berucap Allahu Akbar, Allahu Akbar,” ujarnya. Bibinya yang mendengar ucapan tersebut langsung berdoa agar Allah menggagalkan rencana Abdullah bin Salam masuk Islam. “Demi Allah, seandainya kamu mendengar kehadiran Musa bin Imran, niscaya kami tidak akan melakukan lebih dari itu,” kata sang bibi. “Bibiku, sesungguhnya dia demi Allah adalah saudara Musa bin Imran dan berada di atas agamanya. Dia diutus dengan apa yang Musa diutus dengannya,” timpal Abdullah bin Salam. Tak berselang lama, Abdullah bin Salam menemui Rasulullah. Ia melihat Rasulullah sebagai sosok yang jujur. Bukan pembohong seperti yang diberitakan orang-orang kafir. Di hadapan Rasulullah, Abdullah bin Salam menyatakan masuk Islam. Setelah bertemu Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Salam kembali ke rumahnya. Dia mengajak istri, anak-anak dan keluarganya masuk Islam. Seluruh keluarga Abdullah bin Salam akhirnya masuk Islam. “Rahasiakan keislaman kalian dan keislamanku di depan orang-orang Yahudi sampai aku memberitahu kalian,” kata Abdullah bin Salam kepada keluarganya. Masuk Islamnya Abdullah bin Salam akhirnya sampai ke telinga umat Yahudi. Mereka mencela dan menuduh Abdullah bin Salam berdusta. Abdullah bin Salam juga disebut orang terburuk dan bodoh. Setelah melewati berbagai tuduhan dan makian, Abdullah bin Salam mempelajari Islam dengan sangat antusias. Dia sangat menyukai Alquran dan Rasulullah. (mif) Baca juga :

Read More