Perlawanan Budak di Masyarakat Kolonial Batavia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kompeni menguasai Jayakarta. JP Coen menghancurkan lokasi penguasa Jayakarta dan masjid-masjid, lalu membangun benteng untuk masyarakat kolonial. Orang Sunda dan Jawa yang semula menjadi penghuni Jayakarta sejak 1619 dikeluarkan dari Batavia, nama baru untuk Jayakarta. Penduduk pribumi yang tinggal hanyalah para budak dan gundik. Kehidupan para budak ini memprihatinkan, banyak yang meninggal karena kekurangan gizi. banyak yang melakukan perlawanan, tapi mendapat hukuman berat, yang terkenal adalah Untung Suropati. Yang bisa bebas adalah mereka yang digaji cukup sehingga bisa membeli kekebasannya. Atau mereka telah memeluk agama Kristen lalu dibebaskan oleh tuannya, atau seperti Untung Suropati. Budak didatangkan oleh para pedagang senior di Batavia, baik itu budak laki-laki ataupun budak perempuan. Budak perempuan ada yang kemudian menjadi gundik. Pada 1620, JP Coen mencatat, penduduk yang tinggal di dalam tembok Batavia hanya 2.000 orang. Sebanyak 10 ribu sampai 15 ribu tinggal di luar tembok. Budak-budak yang merdeka diberdayakan sebagai milisi Kompeni sejak 1622. Tugasnya melakukan jaga malam. Maka, budaya dominan orang-orang Eropa yang memiliki gundik adalah budaya Asia. Bukan budaya Eropa. Maka, anak-anak mereka akan kehilangan hak untuk pulang ke Belanda dan kehilangan hak mendapat pendidikan di Eropa. Perempuan pribumi yang semula menjadi budak, kemudian menjadi nyonya di keluarga laki-laki Eropa yang menikahinya. Tapi, mereka yangtetap sebagai budak, selain kekurangan gizi, juga tidak mendapat tinggal yang layak. Akibatnya, banyak budak yang melawan tuannya. Budak yang melawan biasanya akan mendapat hukuman yang berat. Untung Suropati, yang semula menjadi perwira Kompeni yang baik. Suropati berasal dari Bali. Ia dibeli oleh Kapten Van Beber di Makassar saat ia masih berusia tujuh tahun. Kompeni menguasai Makassar pada 1669, Kapten Van Beber pulang, membawa Untung Suropati ke dalam kehidupan masyarakat kolonial di Batavia. Van Beber kesulitan keuangan, Van Beber menjual budak-budaknya. Untung Suropati dijual kepada Kapten Moor. Kapten Moor di kemudian hari dikenal sebagai perwira Kompeni yang bersahabat dengan raja Mataram. Kapten Moor naik pangkat dan menjadi anggota Dewan Hindia. Moor juga menyukai Suropati yang pekerja keras. Tapi setelah remaja, Untung Suropati mencintai anak Moor, tetapi mengapa kemudian melakukan perlawanan? Rupanya, Moor marah kepada Untung Suropati yang tidak tahu diri itu. Maka, Untung Suropati dijebloskan ke penjara bawah tanah. Tapi ia berhasil kabur dari penjara bawah tanah, lalu menjadi buron. Ia kemudian menjadi pimpinan orang-orang Bali merdeka, karena tak ada yang bisa mengalahkanya. Karena keandalannya ini, ia kemudian direkrut menjadi perwira Kompeni. Itu terjadi setelah Untung Suropati dan kawan-kawannya menyerang benteng Kompeni di Tanjungpura. Ketika ia mendapat tawaran bergabung di ketentaraan Kompeni, serta-merta ia menyanggupi. Ia ingin membalas dendam kepada Kapten Moor yang telah menjebloskannya ke penjara. Dalam satu kasus, Untung Suropati tersinggung karena ada perwira Kompeni yang pangkatnay leih rendah darinya tidak menuruti perintahnya. Maka ia pun mengerahkan anak buahnya untuk menyerang perwira itu. Apalagi, perwira itu juga menyatakan Suropai adalah budak buron. Setelah penyerangan itu, Suropati meminta perlindungan ke Mataram. Ia berhasil membunuh perwira Kompeni Kapten Tack pada 1686 di Mataram. Kapten Tack merupakan perwira yang menjadi utusan Kompeni menangkap Suropati. Untung Suropati juga mendapat tugas menyelesaikan urusan utang Raja Mataram, Amangkurat II. Amangkurat II memiliki utang cukup banyak sejak ia naik tahta pada 1677. Perlawanan Untung Suropati dan kawan-kawannya memang membuat masyarakat kolonial di Batavia cemas. Maka, Kompeni pun membatasi impor budak laki-laki dewasa untuk kategori tertentu. Budak dari Makassar dan Bali masuk kategori ini, sehingga tidak lagi dibolehkan dibawa ke Batavia. “Setelah 1685, tidak ada budak laki-laki di atas usia 12 tahun dari kedua suku tersebut yang diizinkan untuk dibawa ke Batavia,” ujar Jean Gelman Taylor. Kompeni lebih cemas lagi setelah Untung Suropati membunuh Kapten Tack. Kesiagaan dilakukan dikota-kota yang ada orang Belandanya. (jeha) Baca juga :

Read More

Ketika Pejabat Belanda Berkelakuan Buruk

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pejabat-pejabat Belanda di Yogyakarta berkelakuan buruk. Sebelum meletus Perang Jawa, Asisten Residen PFH Chevallier memiliki hubungan gelap dengan wanita-wanita keraton. Residen Yogyakarta Baron de Salis disebut selingkuh dengan Ratu Ageng. Residen AH Smissaert juga diisukan selingkuh dengan wanita-wanita keraton. Diponegoro juga pernah memergoki Residen Nahuys van Brugst pada 1821 sedang bercumbu dengan istri Asisten Residen RCN d’Abo. Di sisi lain, Asisten Residen PFH Chevallier seljngkuh dengan salah satu selir Diponegoro. “Diponegoro agak jengah dan kikuk, hingga Ny. D’Abo sambil tertawa kecil mengecup Nahuys, satu hal yang membuat Pangeran Jawa itu terheran-heran …,” kata Vincent JH Houben. Nahuys menjadi residen Yogyakarta dan Surakarta pada 1816-2822. Baron de Salis menjadi residen pada 1825-1826. Salis menggantikan Antonie Hendrik Smissaert yang menjadi residen pada 1823-1825. Chevallier menjadi asisten residen pada masa residen Yogyakarta dijabat oleh Smissaert (1823-1825). Isu tentang Smissaert, pernah diungkap lewat surat kaleng. Isinya menyebut Smissaert memiliki hubungan, salah satunya dengan Raden Ayu Gondoresmi. Smissaert kemudian dicopot dari jabatannya. Tetapi ia membantah tuduhan itu. Sekretaris sekaligus penerjemah di kantor Residen Yogyakarta, JG Dietree juga disebut selingkuh dengan wanita-wanita keraton. Pergaulan Dietree dengan wanita-wanita keturunan raja disebut-sebut sebagai sangat berbahaya. Kelakuan-kelakuan seperti yang pernah disaksikan langsung oleh Diponegoro itu tak melulu milik orang-orang Belanda. Ratu Ageng disebut memberi contoh untuk lingkungan keraton. “Kecabulan yang terjadi di keraton, yaang mendapat teladan dari Ratu Ageng, yang menjalankan segala macam kemaksiatan,” kata KRT Hatdjonagoro mengutip catatan Belanda. Babad Cakranegara, menurut Hardjonagoro, juga mencatat isu selngkuh pejabat Belanda dengan wanita keraton. Ratu Ageng, ibunda Hamengkubuwono V, sering disebut mengundang Residen Yogyakarta ke keraton. Bagaimana Ratu Ageng melakukannya di masa Diponegoro memimpin perang? Ia akan mengirim utusan untuk mengundang Residen Yogyakarta. Babad Cakranegara menyebutnya Residen Bongos. Ketika Residen Bongos tiba, Ratu Ageng meminta para abdi keraton menyiapkan tempat yang sepi untuk menerima Residen. “(Mereka) duduk berdekatan,Segala tinggah lau mereka menimbulkan curiga, …,” kata Hardjonagoro mengutip Babad Cakranegara. Siapa Residen Bongos? “Menurut sumber-sumber Belanda ialah Baron de Salis yang menjadi residen Yogyakarta pada waktu itu,” tulis KRT Hardjonagoro dan kawan-kawan. Baron de Salis juga datang di keraton untuk menemui Ratu Ageng pada malam hari. Tak ada yang berani menghalanginya. Patih Danurejo menjadi abdi Belanda yang baik. Ia tak keberatan dengan hubungan De Salis dengan Ratu Ageng. Apalagi panglima perang Tumenggung Wiroguno, tinggal menurut saja. Patih Danurejo dan Tumenggung Wiroguno pernah bermasalah dengan Diponegoro. Yaitu pada saat Patih Danurejo menetapkan pengangkatan petugas pajak. Dalam proyek ini, Tumenggung Wiroguno yang menyediakan prajurit sebagai penarik pajaknya. Banyak keluhan usng disampaikan kepada Fiponegoro. Diponegoro pun menyampaikan protes kepada Hamengkubuwono IV. Danurejo rupanya memang pengabdi sejati Belanda. Danurejo pula yang mengerahkan anak buahnya untuk menjalankan proyek pelebaran jalan yang dibuat oleh residen. Proyek jalan itu mengambil tanah Diponegoro. Danurejo tanpa membicarakannya dengan Diponegoro. Kasus ini diselesaikan dengan senjata, sehingga membuat Diponegoro memilih jalan perang. Selama Perang Jawa berlangsung, Danurejo pun masih mengabdi kepada Belanda, menyetujui segala tindakan residen selingkuh dengan Ratu Ageng. Selir Diponegoro ada juga yang nakal. Ia menjalin hubungan dengan Asisten Residen PFH Chevallier. (jeha) Baca juga :

Read More

Selo Grobogan Istimewa, tak Bisa Diambil Belanda Setelah Diponegoro Ditangkap

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setelah Diponegoro ditangkap, Belanda mengambil wilayah mancanegara dari Keraton Yogyakarta fan Surakarta. Residen Semarang mengusulkan agar wilayah Kuwu, Selo, Wirosari, yang ada di wilayah Grobogan juga diambil. “Menjelang akhir Oktober 1830 Sunan Pakubuwono VII dibujuk untuk menyetujui pfngambilalihan atas gugus-gugus wilayah itu,” kata Vincent JH Houben. Tapi akhirnya Selo yang luas wilayahnya hanya 150 cavah itu tak bisa diambil oleh Belanda. Apa yang membuat Selo menjadi istimewa dan tak bisa diambil oleh Belanda? Pada mulanya, Gubernur Jenderal Van den Bosch menginginkan wilayah mancanegara dengan batas sebelah barat Kali Progo fan sebelah timur Kali Madiun. Van fen Bosch menginginkan batas wilayah yang sederhana: aliran sungai. Tapi keinginan ini harus berhadapan dengan keklgigihan dua keraton. Wilayah sebelah barat Kali Progo dianggap Yogyakarta sebagai wilayah inti Mataram seekum dipecahmenjadi Yogyakarta dan Surakarta. Akhirnya Belanda mendapat wilayah Kediri dan Madin, Begelen, dan Banyumas. Belanda memberi kompensasi atas wilayah-wilayah itu. Untuk Kediri dan Madiun, Belanda memberi 64 tibu gulden kepada Surakarta dan 27 ribu gulden kepada Yogyakarta. Untuk Begelen, Surakarta dan Yogyakarta masing-masing mendapat 120 gulden. Sedangkan untuk Banyumas, Belanda memberi 80 ribu gulden kepada Surakarta. Yogyakarta mendapat 10 ribu gulden untuk kompensasi Banyumas. Jumlah kompensasi itu di bawah dari hasil perhitungan lapangan yang dilakukan Komisi Kerajaan-Kerajaan. Komisi ini dipimpin oleh Jenderal HM de Kock untuk melakukan perundingan dengan Yogyakarta dan Surakarta. “Tentu saja kondisi keuangan pemerintah Hindia Belanda yang dangat memalukan pada waktu itu berperan dalam hal ini,” ujar Vincent JH Houben. Belanda kemudian memberikan pembayaran senentara. Belanda untung dengan cara ini: pertama, mencegah pemberontakan baru; kedua, meringankan keuangan yang sedang tidak bagus setelah Perang Jawa yang dimulsi oleh Diponegoro. Kesulitan keuangan yang dialami Belznda mendorong Belanda mencari keuntungan dari wilayah-wilayah mancanegara. Itulah sebabnya Belanda mengambil wilayah-wilayah di pinggiran Keraton Surakarta dan Yogyakarta itu setelah Diponegoro ditangkap, tapi Selo di Grobogan tak bisa diambil oleh Belanda Belanda juga mendapat keuntungan lain dari pembayaran semfntara kompensasi wilayah yang diambilnya. Jika hasil perhitungan dari keraton lebih tinggi dari perhitungan dari Komisi, pemerintah Hindia Belanda akan memakai hasil perhitungan Komisi. Hasil perhitungan Surakarta atas kompensasi Bageln dan Banyumas memang lebih tinggi dari hasil perhitungan Komisi. Tapi Surakarta tak mendapatkan kompensasi senilai hasil perhitungan mereka. Selama perundingan berlangsung, Surakarta harus menghadapi juga masalah internal. Pakubuwono VI yang tidak puas dengan perundingan ditangksp Belanda lalu dibuang ke Ambon. Raja baru harus dipilih. Setelah itu perundingan-perundingan dilakukan dengan Pakubuwono VII. Pengambilan wilayah msncanegara yak langsung sekesai pada 1830 atau 1840. Brlanda memiliki kesabaran yang luar biasa, sehingga pengambilalihan wilayah di Karesidenan Semarang baru tuntas di oengujung abad ke-19. “Gugus-gugus wilaysh lain ketajaan itu fi Karesidanan Semarang tetap dipertahankan, mungkin demi menjaga gar tidak muncul letupan-letupan ketidakpuasan baru di kedua keraton,’ ujar VincentJH Houben. Belanda baru mendapatkan wilayah-wilayah di Karesidenan Senarang pada 1899. Bagaimana dengan wilayah Selo? “Pengecualian diberikan atas bagian dari Selo,’ kata Vincent JH Houben. Selo tetap menjadi wilayah keraton. Selo dianggap sebagai tanah pusaka. Selo merupakan wilayah peninggalan Ki Ageng Selo, leluhur raja-raja Mataram. Ki Ageng Selo merupakan keturunan dari Bondan Kejawan, anak Raja Majapahit terakhir, yang dibuang ke Tarub, Grobogan. Itulah alasan yang membuat Selo tak bisa diambil oleh Belanda setelah pemimpin Perang Jawa Diponegoro ditangkap. Untuk Selo, Surakarta menguasai tanah seluas 100 cacah. Sedangkan Yogyakarta mendapat tanah seluas 50 cacah. Di makam Ki Ageng Selo disimpan api abadi yang merupakan api dari langit. Api petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Yogyakarta dan Surakarta mengambil api dari Selo untuk upacara tahunan di keraton. (jeha) Baca juga :

Read More

Kompeni Bunuh 15 Calon Haji yang Dibiayai Sultan Agung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Peristiwa 11 Juli 1642 itu benar-benar membuat Sultan Agung marah besar. Ia lalu membalasnya dengan melempar tawanan ke kolam buaya. Belum sebanding memang, 15:1. Sebanyak 15 orang Jawa tak bersalah dibunuh Kompeni, hanya satu tawanan yang dibunuh Sultan Agung sebagai balasan. Kompeni memang biadap. Sultan Agung mengirim 18 jamaah calon haji (calhaj) ke Tanah Suci, Kompeni menyergapnya: tiga ditawan, 15 dibunuh. Sungguh biadab. Apa salah 18 calhaj yang berangkat ke Tanah suci atas biaya Sultan Agung itu? Tak ada. Tapi, orang Belanda yang jadi tawanan itu dilrmpar ke kolam buaya karena memberi cincin sebagai hadiah kepada Sultan Agung, dan Sultan Agung jatuh sakit. Konpeni menyergap 18 calhaj itu hanya karena mereka diberangkatkan menggunakan kapal Inggris, Reformation. Padahal sebelumnya, Kompeni sudah tiga kali menawarkan diri akan mengirim calhaj Mataram ke Tanah Suci. Tapi Sultan Agung mengabaikannya. Kompeni menggunakan penawaran itu sebagai imbalan jikaSultan Agung bersedia membebaskan tawanan. Sultan Agung memilih menggunakan kapal Inggris untuk memberangkatkan 18 calhaj itu. Utusan Inggris telah menawarinya untuk mengirimkan calhaj ke Surat, India, lalu lanjut ke Tanah Suci. Tentu saja Inggris mengatakan bukan Inggris yang menawarkan diri. Inggris menyebut, Sultan Agung yang meminta bantuan. Tawanan di Mataram, Antonie Paulo, mendengan rencana ini. Ia lalu berkirim informasi ke Batavia. Maka, ketika kapal Inggris tiba di sebelah barat Pulau Onrust pada 11 Juli 1642, Kompeni menyergapnya. Satu orang Inggris dibunuh dan empat lainnya luka-luka. Saat Kompeni menangkap 18 calhaj yang diberangkatkan oleh Sultan Agung di atas kapal, 15 calhaj melawan. Akhirnya, 15 calhaj itu dibunuh Kompeni di kapal. Sungguh biadab. Tiga calhaj lagi dibawa turun. Mereka menjadi tawanan di Batavia, tapi diberi tunjangan. Calhaj disergap, sehingga gagal berangkat naik haji. Ini membuat Sultan Agung marah besar, apalagi 15 di antaranya dibunuh. Mereka bukan calhaj biasa. Mereka sekaligus sebagai wakil Sultan Agung untuk menyedekahkan sekitar 6.000 riyal logam ke makam Nabi di Madinah. Mereka juga mendapat tugas mengusahakan gelar sultan dari Makkah untuk Sultan Agung. Saat itu Sultan Agung masih memakai gelar Susuhunan: Susuhunan Anyokrowati. Sultan Agung lalu membalas perlakuan Kompeni itu dengan menghukum mati tawanan..Kebetulan yang mendapat hukuman adalah Antonie Paulo. Antonie Paulo telah diangkat oleh Kompeni sejak 1639 sebagai pimpinan orang-orang Belanda yang ditawan di Matatam. Hukuman mati diberikan sepertinya karena alasan ini. Sultan Agung membunuh pimpinan tawanan agar Konpeni juga merasakan sakit. Seperti halnya rasa sakit akibat 15 calhaj dibunuh Kompeni. Kebetulan, Antonie Paulo juga yang membocorkan rencana pengiriman calhaj Mataram menggunakan kapal Inggris. Kebetulan pula ia pernah menghadiahkan cincin kepada Sultan Agung. Sultan Agung jatuh sakit setelah menerima hadiah cincin itu. Antonie Paulo pun dituduh telah mengirim guna-guna kepada Sultan Agung. Juga kebetulan, Antonie Paulo telah menolak disunat. Para tawanan yang bersedia disunat akan dibebaskan oleh Sultan Agung, yang menolak akan dibunuh. Dari 83 tawanan sejak 1832, pada 1641 tinggal 40 orang, termasuk Antonie Paulo, kepala perdagangan Kompeni. Tercatat ada delapan yang sudah disunat. Antonie Paulo harus menjadi korban akibat tindakan biadab Kompeni membunuh 15 calhaj di atas kapal Inggris. Hubungan Kompeni drngan Sultan Agung pun makin memburuk. (jeha) Baca juga :

Read More

Sejarah dan Perkembangan Musik Dalam Peradaban Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Belakangan, marak perdebatan soal kebolehan bermusik dalam Islam. Sudah awam sejak seribu tahun lalu, para ulama punya pandangan berbeda-beda soal tersebut. Faktanya, musik jarang sekali absen dari peradaban Islam. Menurut Philip K Hitti dalam History of The Arabs, lantunan hymne keagamaan primitif telah memberikan pengaruh saat Islam datang. Hal tersebut nampak dalam talbiyyah ritual haji, yakni ucapan “Labbaika” para jamaah haji. Selain itu, tampak juga dalam lantunan tajwid saat membaca Alquran. Dalam hal alat musik, kata Hitti, masyarakat Arab pra-Islam di Hijaz telah menggunakan duff yakni tambur segi empat, qashabah atau seruling, zamr yakni suling rumput, serta mizhar atau gambus yang terbuat dari kulit. Para penyair juga menggubah syair mereka ke dalam sebuah lagu. Ketika Rasulullah diutus mendakwahkan Islam, sebagian besar musisi justru menyeru pada berhala. Bahkan ada seorang seniman yang ingin menandingi wahyu Allah yang disampaikan Rasulullah. “Kecaman Muhammad terhadap para penyair muncul bukan karena mereka penyair, tapi karena mereka menjadi corong para penyembah berhala. Nabi mendiskreditkan musik, juga karena musik diasosiasikan dengan ritual ibadah kaum pagan,” kata sejarawan ternama itu. Dalam beberapa hadis, Rasulullah hanya memperbolehkan musik didendangkan pada dua momen saja, yakni pernikahan dan hari raya. Saat Aisyah binti Abu Bakar menikahkah seorang wanita dengan laki-laki Ansar, Rasulullah bersabda, ‘’Wahai Aisyah, tidak adakah kalian mempunyai hiburan (nyanyian). Sesungguhnya orang-orang Ansar menyukai hiburan (nyanyian).’’ (HR Bukhari dan Muslim). Hal serupa juga terjadi saat hari raya. Berdasarkan Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Aisyah mendengarkan permainan rebana (duff) anak perempuan kecil saat Idul Adha. Melihat hal itu, Rasulullah membiarkannya karena saat itu hari raya. Selain pada dua momen itu, Rasulullah diriwayatkan sangat mencegah musik dimainkan. Hal itu karena bangsa Arab menggunakannya sebagai ajakan untuk melakukan ritual berhala. Pada awal perkembangannya, jenis musik dalam Islam bisa dibedakan menurut alat musik yang digunakan. Kala itu, musik Islam hanya mengenal alat sederhana seperti rebana, rebab, seruling dan bedug. Nah, jenis musik yang berkembang pada masa ini adalah kasidah. Karena itu, kasidah bisa disebut sebagai salah satu jenis musik tertua dalam Islam. Selain itu ada gazal yang biasanya dimainkan hanya dengan menggunakan qanun dan rebab. Tema gazal adalah cinta dan kerinduan. Di kawasan Hijaz, berkembang luas musik qabus atau qanbus. Di Indonesia, musik yang melibatkan banyak alat ini dikenal dengan sebutan gambus. Di awal perkembangan musik Islam, dikenal pula nasyid, yakni jenis musik yang lebih menonjolkan lirik daripada musik. Lawannya adalah naubah, yang lebih menonjolkan unsur instrumen daripada lirik. Pada abad ke-7, hadir seorang musikus handal dari Baghdad yang kemudian hijrah ke Andalusia. Namanya Abul-Hasan Ali bin Nafi. Hitam kulitnya, merdu suaranya sehingga ia dijuluki Ziryab alias Burung Hitam. Dalam teori musik, Ziryab banyak melakukan revolusi besar. Dia, misalnya, mengatur ulang parameter dalam musik dan irama musik. Dia juga menciptakan cara-cara baru terkait ekspresi di dalam bermusik. Ziryab pernah menyusun repertoar dengan 24 nabaat. Setiap nabaat terdiri dari potongan berbagai vokal dan instrumental yang dilakukan pada sembilan gerakan. Setiap gerakan tersebut memiliki ritme tersendiri. Selain dikenal sebagai musisi andal, Ziryab pun tercatat sebagai orang pertama yang memperkenalkan oud, semacam alat musik bersenar ke Eropa. Ia juga berinovasi menempatkan senar tambahan pada oud. Dari Andalusia, alat musik sejenis kecapi itu kemudian dikenal luas ke berbagai negara di benua itu dan kini kita kenal sebagai gitar. Pada abad ke-9, hadir seorang filsuf bernama Abu Nasr Muhammad al-Farabi di Baghdad. Bukan hanya seorang filsuf ia juga terkenal sebagai musikus andal. Ia bahkan disebut sebagai penemu not musik. Penemuan not musik tersebut dijabarkan Al Farabi dalam karyanya Al Musiqa Al Kabir (Kitab Besar Musik). Buku itu lama menjadi rujukan utama para musisi klasik Barat. Ilmu dasar musik tercantum dalam karya fenomenalnya tersebut. Musik dalam pandangan Al Farabi dapat menciptakan ketenangan dan mampu mengendalikan emosi. Ia pun meneliti musik sebagai terapi penyakit psikologis. Al Farabi kemudian menciptakan prinsip-prinsip filosofis tentang musik, baik kualitas kosmik dan pengaruhnya. Ia kemudian menangani akal dengan terapi musik dan mendapati adanya efek terapi musik di jiwa. Konon, susunan musik Al Farabi sedemikian canggih hingga bisa membuat pendengarnya menangis tertawa. Pada abad ke-11, musik sudah mulai digunakan sebagai sarana oleh kaum Sufi untuk mendekatkan diri pada Allah. Imam Al-Ghazali menerangkan fenomena ini dalam kitabnya berjudul Kimia-i Sa’adah. Ia menjelaskan, para sufi memanfaatkan musik untuk membangkitkan cinta yang lebih besar kepada Allah dalam diri mereka. Dan dengan bermusik, para sufi kerap mendapatkan penglihatan dan kegairahan rohani. “Maka dalam hal ini, hati para sufi menjadi sebersih perak yang dibakar di dalam tungku. Mencapai suatu tingkat kesucian yang tak akan pernah bisa dicapai oleh sekadar hidup prihatin walau seberat apapun.” Puncak capaian musik sufi ini mengambil tempat di anak benua India dalam bentuk qawwali. Dari wilayah itu, muncul maestro-maestro musik sufi, mendayu-dayu dan sangat piawai memainkan nada-nada setengah bahkan seperempat. Mendiang Nusrat Fateh Ali Khan, kemudian Abida Parveen sampai AR Rahman sang pemenang penghargaan Oscar kini jadi penggawa musik sufi tersebut. Sejak abad ke-17 hingga medio 19 Masehi, banyak penduduk kulit hitam dari Afrika barat yang dibawa paksa ke Amerika dan dijadikan budak. Menurut para sejarawan, sekitar 30 persen dari mereka adalah orang Islam. Sejumlah ilmuwan, termasuk Sylviane Diouf dari Pusat Kajian Budaya Kulit Hitam Schomburg New York, menunjukkan bahwa para budak Muslim itulah yang menancapkan akar musik blues di Amerika Serikat. Untuk membuktikan keterkaitan antara musik blues Amerika dengan tradisi kaum Muslim, penulis buku In Motion: The African-American Migration Experience (2005) itu menunjukkan dua rekaman kepada hadirin di sebuah seminar di Harvard University. Yang pertama adalah lantunan azan, sesuatu yang akrab di telinga orang Islam. Kemudian, Diouf memutar “Levee Camp Holler”, yakni lagu blues lawas yang pertama kali muncul di Delta Mississippi sekitar 100 tahun silam. Lirik “Levee Camp Holler” itu terdengar seperti azan karena berisi tentang keagungan Tuhan. Seperti halnya lantunan panggilan shalat, lagu tersebut menekankan kata-kata yang terdengar bergetar. Menurut Diouf, langgam yang sengau dalam lagu genre blues itu dan kemiripan liriknya dengan azan adalah bukti pertautan antara blues dan umat Islam, khususnya dari Afrika barat. Jadi, orang boleh saja berdebat soal halal-haram musik dalam Islam. Yang tak bisa disangkal, seni suara tersebut sudah sekian lama jadi latar suara jalan…

Read More

Sepak Terjang Pendiri Hamas Syeikh Ahmad Yassin

Gaza — 1miliarsantri.net : Kelompok militan Palestina, Hamas, banyak menarik perhatian dunia setelah melancarkan serangan militer ke Israel pada Sabtu, 7 Oktober 2023. Kekuatan Hamas untuk melawan Israel demi kemerdekaan Palestina tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok pendiri Hamas yakni Syeikh Ahmad Yassin. Meski mengalami disabilitas, namun Syeikh Ahmad Yassin memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pengikutnya. Syeikh Ahmad Yassin menjadi aktor penting di balik gerakan Hamas. Berkat arahannya, Hamas kini menjadi kelompok dengan kekuatan politik maupun militer di Palestina. Lantas, seperti apa profil Syeikh Ahmad Yassin yang merupakan pendiri Hamas? Simak informasi lengkapnya di bawah ini. Mengutip buku Hamas, Ikon Perlawanan Islam Terhadap Zionisme, Syeikh Ahmad Yassin adalah pria keturunan Arab-Palestina yang lahirkan pada 1936 di desa Al-Jaurah, pinggiran kota Al- Majdal, sekitar 20 kilometer sebelah utara Jalur Gaza. Saat usianya belum genap 3 tahun, ayah Yassin wafat. Sewaktu kecil, Yassin dipanggil dengan nama Ahmad sa’dah. Nama tersebut diambil dari nama ibunya yang bernama Sa’dah Abdullah Al-Hubael. Hal ini dilakukan untuk membedakan nama Ahmad yang banyak dipakai di keluarga Yassin. Pada tahun 1948, kelompok-kelompok bersenjata Yahudi mengusir ribuan warga Palestina. Akibatnya, Yassin yang saat itu baru berusia 12 tahun bersama puluhan ribu warga Palestina lainnya pindah ke Gaza. Peristiwa pengusiran itu kemudian sangat memengaruhi gaya pemikiran dan politiknya. Sejak peristiwa itu, Yassin berpandangan bahwa berjuang di atas kaki sendiri jauh lebih berharga dibandingkan harus berpangku tangan pada bantuan negara-negara lain. Sebagai keluarga pengungsi Palestina, masa kecil Yassin dipenuhi dengan getirnya kemiskinan dan kelaparan. Demi menyambung hidup, Yassin harus putus sekolah dan bekerja sebagai pelayan sebuah restoran di Gaza. Beruntung, ia dapat melanjutkan kembali studinya yang sempat terputus. Pada 1952, Yassin mengalami sebuah kecelakaan saat berolahraga bersama teman-temannya. Kecelakaan itu menyebabkan Yassin mengalami patah tulang leher hingga mengalami kelumpuhan permanen. Meski begitu, dengan segala keterbatasan fisik, akhirnya Yasin dapat menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas pada 1958. Pada 1956, tepat di usia 20 tahun, Yassin ikut serta dalam aksi unjuk rasa di Gaza untuk menentang persekutuan segitiga musuh terhadap Mesir. Dalam peristiwa itu, ia memperlihatkan kepiawaiannya dalam berorasi dan mengorganisasi massa. Sejak saat itu, kemampuan orasi Yassin mulai melambungkan namanya di Gaza. Sayangnya, ketenaran Yassin justru menimbulkan rasa curiga para intelijen Mesir. Pada tahun 1965, ia ditangkap bersamaan dengan gelombang penangkapan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Mesir terhadap anggota gerakan Ikhwanul Muslimin. Setelah menjalani satu bulan di penjara, Yassin akhirnya dibebaskan karena tidak ditemukan bukti keterlibatannya dengan Ikhwanul Muslimin. Sejak saat itu, secara tidak langsung Yassin mulai mengenal Ikhwanul Muslimin. Setelah kekalahan Arab dalam Perang 1967, agresi Israel di Palestina semakin meningkat, terutama di wilayah Gaza. Hal ini mendorong Yasin untuk kembali ke jalur perlawanan dan memberikan pidato-pidato. Pada saat yang sama, Yassin juga aktif dalam mengumpulkan dana bantuan untuk keluarga korban dan tahanan Palestina. Perkenalannya dengan Ikhwanul Muslimin ketika berada di penjara Mesir dulu telah membuka jalan baginya Yassin untuk menimba ilmu di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Yassin semakin aktif dalam gerakan tersebut. Sejak saat itulah konstruksi pemikirannya Yassin tentang gerakan perlawanan terhadap hegemoni Zionis Israel mulai terbentuk. Setelah kembali dari Mesir, Yassin memilih untuk bergabung dengan sayap Ikhwanul Muslimin yang telah ada sejak akhir 1930-an. Karena kemampuannya dalam orasi dan keberaniannya yang luar biasa di antara anggota Ikhwanul Muslimin, Yassin diangkat sebagai pemimpin ketika Ikhwanul Muslimin membentuk sayap militer yang disebut Mujahidin Palestina. Keterlibatannya dalam Ikhwanul Muslimin kembali membawanya ke dalam penjara. Kali ini Yassin ditahan dengan tuduhan membentuk kelompok bersenjata dan memprovokasi kerumunan. Pada tahun 1983, Yassin dihukum 13 tahun penjara oleh Mahkamah Militer Israel. Selama masa tahanan, Yassin sering mengalami intimidasi, terutama dalam bentuk kekerasan fisik. Hal ini berdampak pada kesehatannya. Ia mengalami berbagai masalah kesehatan seperti kebutaan pada mata kanan, rabun mata kiri, radang telinga akut, dan penyakit kronis pada usus. Pada tahun 1985, setelah menjalani penahanan selama 11 bulan, Yassin dibebaskan dalam pertukaran tawanan antara Israel dan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina. Pasca meletusnya intifadah pada 8 Desember 1987, Syekh Ahmad Yasin dan beberapa pemimpin Ikhwanul Muslimin lainnya memutuskan untuk mendirikan Hamas, sebuah organisasi Islam yang bertujuan membebaskan tanah Palestina dari pendudukan Zionis Israel. Yasin kemudian diangkat sebagai pemimpin spiritual Hamas. Seiring dengan meningkatnya aktivitas bersenjata Hamas, Yasin ditangkap kembali oleh Israel pada tanggal 18 Mei 1989 bersama dengan ratusan anggota Hamas lainnya. Tiga tahun kemudian, ia dihukum penjara seumur hidup ditambah 15 tahun atas tuduhan aktivitas politik yang dianggap radikal oleh Israel. Sosok Yasin yang sangat berpengaruh dan karismatik di organisasi mendorong Brigade Izzudin Al-Qassam, sayap militer Hamas, untuk menyandera seorang prajurit Israel dengan tujuan untuk menukarkannya dengan Yasin dan beberapa tahanan lainnya. Namun, Israel malah menyerang tempat penyanderaan tersebut di Bernepala dekat Kota Al-Quds (Jerusalem). Meskipun begitu, tekanan kuat dari para pejuang Palestina akhirnya memaksa Israel untuk membebaskan kembali Yasin. Pada tanggal 1 Oktober 1997, Syekh Ahmad Yasin berhasil dibebaskan melalui perjanjian antara pemerintah Yordania dan Israel. Dalam perjanjian tersebut, ia seringkali dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran dengan dua mata-mata Israel yang ditahan di Yordania atas percobaan pembunuhan terhadap kepala biro politik Hamas, Khaled Meshaal. Pembebasan Syeikh Ahmad Yassin disambut oleh puluhan ribu warga Palestina di Jalur Gaza. Setelah pembebasan ini, ia melakukan kunjungan ke beberapa negara Arab untuk mendapatkan perawatan medis. Setelah pulang dari luar negeri tanpa mengenal kelelahan dan putus asa, Yasin berusaha untuk memulihkan struktur organisasi Hamas. Kebencian Zionis Israel terhadap Yassin mencapai puncaknya. Israel menganggap Syekh Ahmad Yassin sebagai pilar utama perlawanan rakyat Palestina yang perlu segera dihilangkan. Meskipun kondisinya sudah lumpuh dan penglihatannya terbatas, Yassin masih mampu menginspirasi semangat para pemuda Palestina. Pada suatu pagi, tanggal 22 Maret 2004, Israel akhirnya memutuskan untuk menghabisinya. Saat sedang menjalankan salat subuh, Syekh Yasin diserang dengan misil dari helikopter militer Israel. Serangan itu langsung merenggut nyawa Syekh Ahmad Yassin dan orang-orang yang sedang menjalankan shalat berjamaah bersamanya. (zul) Baca juga :

Read More

Gus Kikin : Hadratusyaich KH. Hasyim Asyari Ilmuwan dan Ulama Unggul

Malang — 1miliarsantri.net : Ketua PWNU Jatim, KH Abdul Hakim Mahfudz menjadi keynote speaker Workshop Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama di Kampus Universitas Islam Malang (Unisma), Kamis (2/5/2024). Kegiatan yang diinisiasi Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim ini sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional 2024. Workshop menghadirkan 3 narasumber, yaitu Rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri, M.Si; Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof. Jazidie, M.Eng., Ph.D dan Prof. Slamet Wahyu, M.T., guru besar Universitas Brawijaya (Unibraw). KH. Abdul Hakim Mahfudz dalam sambutan pembukaan menegaskan sejak didirikan oleh Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari, NU selalu melakukan transformasi dalam rangka mengantisipasi perkembangan zaman. Menurut Gus Kikin (sapaan KH. Abdul Hakim Mahfudz), meski NU didirikan oleh para ulama dan menjadi tempat beraktifitas para ulama alim, namun tidak pernah berhenti melakukan transformasi. Hal ini dilakukan dalam rangka menjawab tantangan dan perubahan zaman. Ilmu-ilmu agama ditekuni secara fokus dan bersanad, sedangkan ilmu umum juga dipelajari di pesantren-pesantren agar NU selalu mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan prinsip “almuhafadzatu ‘alal qadimis sholih wal ahdu biijadidil ashlah” yang artinya, segala sesuatu yang baik akan tetap dipertahankan dengan mengadaptasi hal-hal baru yang lebih baik. Gus Kikin berharap perguruan tinggi juga melakukan transformas-transformasi dalam rangka menghadapi perkembangan zaman, termasuk menjadi perguruan tinggi yang unggul. “Hadratussyaikh sangat fokus menekuni keilmuan agama, tapi bukan berarti meninggalkan urusan berbangsa dan bernegara. Mudah-mudahan para peserta mendapatkan banyak pencerahan supaya semakin kaya khazanah keilmuan untuk bertransformasi sesuai perkembangan zaman,” ungkap pengasuh pondok pesantren Tebuireng Jombang ini. Ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof, M. Mas’ud Said mengatakan, dalam peta jalan abad kedua NU, pendidikan tinggi menjadi salah satu prioritas yang harus dikuatkan selain bidang kesehatan, pengkaderan dan tata organisasi. Menurutnya, akreditasi unggul menjadi kebutuhan bagi semua perguruan tinggi NU saat ini. ISNU Jatim akan melakukan pendampingan kepada perguruan tinggi NU agar bisa mendapatkan status akreditasi unggul. ”Setelah ini, kita geser ke perguruan tinggi yang lain yang mau ditempati, narasumbernya ISNU yang mengurusi. Dua tahun. Harus unggul,” tutup Direktur Pascasarjana Unisma ini. (fiq) Baca juga :

Read More

Sejarah Perjalanan Haji Waktu Tempo Dulu

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pada abad ke-17 dan ke-18, terdapat jamaah haji (umat Islam) dari Nusantara (Indonesia) yang menunaikan ibadah haji. Hal ini tidak terlepas dari hubungan pelayaran yang terjalin antara masyarakat kepulauan Nusantara dan pedagang dari jazirah Arab yang berjualan hingga Nusantara. Akan tetapi, perjalanan haji di masa lalu dan sekarang berbeda. Dalam perjalanan menuju Tanah Suci Makkah, banyak bahaya yang harus dihadapi jamaah haji, bahkan bahaya yang bisa merenggut nyawa. Umumnya rute pelayaran menuju Makkah ditempuh melalui Selat Malaka, Samudera Pasai, dan Pidie. Wilayah tersebut sudah terkenal sejak dahulu kala sebagai pusat perdagangan internasional. Pada permulaan abad ke-16 telah dijumpai pribumi Nusantara di Makkah. Kemungkinan besar adalah pedagang yang datang ke Makkah dengan kapalnya. Sebelum abad ke-16, bangsawan dari Nusantara memang sudah melakukan pelayaran untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah, misalnya Sunan Gunung Jati yang dikenal sebagai Syekh Syarif Hdayatullah. Berdasarkan Hikayat Hasanuddin yang merupakan terjemahan bebas dari Hikayat Banten Rante-Rante yang ditulis pada 1662, 1663 dan Sajarah Banten menyebutkan bahwa dua orang penguasa kerajaan Islam di Nusantara yaitu Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) dari Cirebon dan putranya Maulana Hasanuddin yang merupakan Sultan Banten sempat menunaikan ibadah haji bersama-sama. Dikutip dari buku Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa ke Masa yang diterbitkan BPKH tahun 2023. Dijelaskan, menurut Dien Madjid, Hikayat Hang Tuah yang merupakan salah satu naskah yang ditulis pada akhir abad ke-17 mencatat rihlah orang Nusantara ke Tanah Suci, menceritakan tentang perjalanan Hang Tuah ke Istanbul dengan armadanya. Ketika itu Hang Tuah menyempatkan berhaji ditemani syahbandar pelabuhan Jeddah bernama Malik rasal. Perjalanan haji saat itu harus dilakukan dengan perahu layar yang sangat bergantung pada musim. Biasanya para musafir menumpang pada kapal dagang, sehingga harus sering berpindah kapal saat sandar di sebuah pelabuhan tertentu. Perjalanan itu membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di Nusantara. Jamaah haji dari Tanah Jawa misalnya, terlebih dahulu harus menuju Pelabuhan di Batavia (wilayah Jakarta saat ini). Selanjutnya menuju pelabuhan terakhir di Nusantara yakni Aceh. Di sana mereka menunggu kapal ke India untuk ke Hadramaut, Yaman atau langsung ke Jeddah (Arab Saudi). Perjalanan laut itu biasa makan waktu enam bulan dan bahkan lebih, karena harus berganti kapal atau mencari bekal tambahan dengan bekerja di negeri tertentu. Dalam perjalanan, para musafir tidak jarang harus berhadapan dengan berbagai macam bahaya seperti ombak yang besar. Pada masa awal perjalanan haji, tidak mengherankan apabila calon jamaah haji dilepas kepergiannya dengan derai air mata. Karena khawatir mereka tidak akan kembali lagi. Itulah sekelumit catatan tentang kaum Muslimin Nusantara zaman dahulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji. Dari kisah-kisah tersebut tergambar bahwa ibadah haji biasanya hanya terjangkau kaum elite seperti kalangan istana atau keluarga kerajaan, karena memerlukan biaya yang sangat besar. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya masyarakat kalangan bawah yang juga telah berhasil menunaikan ibadah haji, namun tidak tercatat dalam sejarah. Kerajaan memiliki peranan penting dalam pengelolaan pemberangkatan haji. Kehadiran tata kelola haji diawali dari kalangan elite yang memiliki kebutuhan kenyamanan serta keamanan perjalanan. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Sedih Pangeran Diponegoro Saat Lebaran Tiba

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada 10 Maret 1830, dua hari setelah Diponegoro tiba di Magelang, terjadi gerhana rembulan. Bisik-bisik pun berkembang di lingkungan pengikut Diponegoro bahwa akan terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Hingga tiba Lebaran hari pertama semua berjalan lancar. Dari waktu sahur hingga tiba waktu Tarawih, tidak terjadi sesuatu. Tapi di hari Lebaran kedua, nelangsa amat hati Diponegoro. Ia tidak merasakan kebahagiaan di hari penuh berkah itu. Letnan Jenderal De Kock yang begitu ramah selama bulan puasa, mebjadi tidak bersahabat sama sekali. Salah satu keramahan De Kock adalah menyediakan lima ekor kerbau per hari untuk keperluan lauk makan sahur dan berbuka. Pada hari pertama Lebaran, Diponegoro berlebaran di pesanggrahan. Baru pada hari kedua, 28 Maret 1830, Diponegoro melakukan silaturahim ke Letnan Jenderal De Kock. Karena tujuannya untuk silturahim Lebaran, Diponegoro hanya mengenakan pakaian santai. Tidak mengenakan pakaian kebesarannya. Salah satu panglimanya mengusulkan dikawal oleh banyak prajurit, tapi Diponegoro menolaknya. Ia hanya diiringi beberapa orang. Tapi rupanya, De Kock sudah melsngkah jauh di depan Diponegoro. Ia sudah menunggu-,nunggu pertemuannya dengxn Diponegoro usai puasa. Sejak jauh hari ia membuat rencana tipu daya untuk menyambut Diponegoro pada hari kedua Lebaran itu. Ia siapkan tentara untuk berjaga di pesanggarah yang ditinggal Diponegoro dan di tempat pertemuan Diponegoro-De Kock. Pada waktu yang tepat, prajurit Belanda melucuti senjata para pengikut Diponegoro di pesanggrahan. Pengawal Diponegoro di tempat pertemuan juga diringkus. Diponegoro menjadi marah ketika ia tak boleh pulang setelah bersilaturahim. Letjen Hendrik Markus de Kock melarangnya pulang karena harus menyelesaikan urusan hari itu juga. Berkali-kali Diponegoro mengaku tidak siap untuk berunding. Ia meminta waktu perundingan ditentukan di lain hari, tetapi De Kock tak peduli. Ia memang tak ada rencana untuk berunding dengan Diponegoro. Karena perintah dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda adalah menangkap Diponegoro. Diponegoro sempat memaki-maki De Kock yang tidak ramah lagi. Ia bahkan sempat memberi kode kepada panglimanya, Basah Martonegoro, tetapi Haji Isa Badarudin mengingatkannya. Maka niat membunuh De Kock pun ia urungkan. Ia memilih menerima nasib. Di hari-hari terakhir sebelum ia bersedia berangkat ke Magelang, ia berpindah-pindah di hutan hanya ditemani seorang punakawan. Oa sedang terserang malaria pula. Orang-,orang dekatnya sudah banyak yang menyerah. Hal itu membuat Diponegoro merasa telah kehilangan pengikut. Tapi ketika ia berangkat ke Magelang, para prngikutnya berbondong-bondong hatang untuk mengiring. Harga diri Diponegoro sebagai Sultan Ngabdulkamid terangkat kembali. Tapi begitu De Kock berencana menangkapnya perasaannya terpuruk lagi. Ia merasa seperti emas yang mengambang terbawa arus air sungai. Nelangsa amat hati Diponegoro di hari Lebaran kedua kali ini. Niat baik bersilaturahim kepada Do Kock yang lebih tua darinya berakhir tidak sesuai keinginannya. Ia merasa tidak dihargai sama sekali. Pada pertemuan pertama dengan De Kock pada 8 Maret 1830, Diponegoro juga merasa tidak dihargai karena De Kock tidak menyapanya dengan panggilan sultan. De Kock lalu mengirim Diponegoro ke Semarang hari itu juga menggunakan kereta kuda yang juga sudah disiapkan jauh hari. (jeha) Baca juga :

Read More

Indonesia Uzbekistan Memilik Sejarah Yang Tak Terlupakan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Berbicara Uzbekistan, negara di Asia Tengah tersebut punya kaitan erat dengan Indonesia, salah satu kisah yang paling diingat adalah ditemukannya Makam Imam Bukhari di negara tersebut atas permintaan Presiden pertama RI, Ir Soekarno. Kisahnya bermula di era awal 1960-an di tengah situasi geopolitik global yang diwarnai Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Indonesia sebagai negara yang baru merdeka dan memiliki posisi geografis yang strategis sehingga menjadi rebutan dua negara adidaya saat itu, Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet. Akibat kekecewaan terhadap pemerintah AS di masa Presiden Dwight D. Eisenhower, Presiden Soekarno merapat ke Blok Kiri yang dipimpin Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok. Bung Karno pernah dibuat murka karena saat melakukan lawatan ke Amerika Serikat, dia harus menunggu lebih dari satu jam di Gedung Putih sebelum ditemui Eisenhower. ”Mengapa presidenmu menolakku dengan kasar? Mengapa presidenmu dengan sengaja menampik dan menghinaku?” Bung Karno melampiaskan kemarahannya kepada Cindy Adam, seorang wartawan AS saat mewawancarainya untuk menulis buku biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Kemarahan Soekarno itu menjadi PR bagi Presiden John F Kennedy yang menggantikan Eisenhower pada 1961. Saat Soekarno kembali datang ke Washington DC pada 24 April 1961, Kennedy berusaha menyambut Soekarno dengan sepenuh hati. Bahkan, Kennedy menyambut langsung saat pesawat yang membawa rombongan Presiden Soekarno mendarat di Andrews Air Force Base, Maryland. Kemesraan Bung Karno dengan Kennedy membuat Pemimpin Tertinggi dan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khruschev kebakaran jenggot. Tak mau kalah mengambil hati Soekarno, Uni Soviet mengundang Soekarno datang. Saat itu, Soekarno sadar, sebagai Presiden Indonesia yang dianggap sebagai pemimpin negara-negara Non Blok harus bersikap netral terhadap Blok Timur maupun Blok Barat. Tapi pada sisi lain, Soekarno juga menyadari Indonesia butuh dukungan Soviet untuk melegitimasi eksistensi negara-negara non-blok dan kesepakatan yang telah dicapai dalam Konferensi Asia Afrika I 1955. Soekarno juga menyadari membutuhkan dukungan Soviet untuk menghadapi berbagai upaya negara-negara Barat yang masih terus berusaha menjajah dan menguasai kembali Indonesia. Namun Soekarno tidak bisa begitu saja menerima undangan Uni Soviet yang berhaluan komunis, apalagi mengingat penduduk Indonesia mayoritas adalah Muslim. Bung Karno pun meminta syarat kepada Khruschev yang mengundangnya. ”Temukan makam Imam Bukhari dan saya akan ke Moskow,” pinta Soekarno. Permintaan itu disampaikan Soekarno karena beliau mengaku ingin berziarah kepada perawi hadist Rasulullah tersebut. “Aku sangat ingin menziarahinya,” kata Soekarno kepada Khruschev. Permintaan itu membuat Khruschev kelimpungan. Dia tidak mengenal siapa Imam Bukhari yang disebut Soekarno itu. Dipanggillah seluruh pejabat pemerintah Uni Soviet, termasuk pimpinan KGB (Badan Intelijen Nasional), untuk menemukan makam Imam Bukhari. Hasilnya: nihil. Khruschev saat itu nyaris menyerah dan meminta Bung Karno mengganti permintaannya. ”Temukan makam Imam Bukhari atau saya tidak pernah ke Moskow,” tegas Bung Karno. Imam Bukhari memiliki nama asli Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari, seorang ulama besar dan salah seorang ahli hadis yang termasyhur. Namun bagi pemimpin negara berhaluan komunis, nama Imam Bukhari sangatlah asing. Setelah mengerahkan banyak tenaga, makam Imam Bukhari ditemukan di desa Hartang, sekitar 25 kilometer dari Samarkand yang sekarang menjadi ibu kota Uzbekistan. Pemerintah Uni Soviet pun meminta makam Imam Bukhari dipugar untuk menyambut kedatangan Presiden Soekarno. Setelah permintaanya terpenuhi, Bung Karno bersedia mengunjungi Uni Soviet. Kunjungan kali ini Soekarno mampir berziarah ke makam Imam Bukhari. Menurut Israil, muazim Masjid Imam Bukhari, menjelang kedatangan Bung Karno pada 1956, kondisi makam tidak terawat dengan baik dan berada di semak belukar hingga akhirnya pemerintah Soviet membersihkan dan memugar makam tersebut untuk menyambut kedatangan Soekarno. Penghormatan Soekarno terhadap Imam Bukhari dilakukan dengan cara melepas sepatu dan berjalan merangkak dari pintu depan menuju makam ketika turun dari mobil yang mengantarnya. “Presiden Soekarno merangkak menuju makam lalu memanjatkan doa dan dilanjutkan sholat serta membaca Al-Quran,” kata Israil. Keterangan tersebut diperkuat Muhammad Maksud, penjaga makam Imam Bukhari, bahwa atas jasa Presiden Soekarno, komplek makam Imam Bukhari kini dipugar hingga terlihat sangat megah seperti saat ini. Sehingga, komplek makam seluas 10 hektar ini menjadi wisata bagi umat Islam di dunia setelah makam Nabi Muhammad SAW di Madinah. (jeha) Baca juga :

Read More