Keberanian Adipati Pajang Menunda Penyerahan Hutan di Mataram Kepada Ki Ageng Pemanahan
Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Adipati Pajang menunda-nunda penyerahan hutan di Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Akibatnya ayah kakek Sultan Agung itu menyepi untuk bertapa, tapi ia sempat melampiaskan kekecewaannya dengan cara menculik selir-selir Joko Tingkir, sang adipati Pajang. Ia lalu memberikannya kepada penduduk desa.
Ia bahkan juga sempat memimpin kelompok perampok yang berjumlah 40 orang dan meningkat menjadi 300 orang. Penulis Belanda Valentijn menyebut, bersama 300 perampok inilah Ki Ageng Pemanahan merebut hutan di Mataram yang tak juga diserahkan kepadanya.
JP Coen lantas menilai Pemanahan mendapatkan Mataram karena “keberaniannya dalam menggunakan senjata dan akalnya”. Benarkah catatan orang-orang Barat ini?
Cerita babad menyebut Pemanahan membuka hutan Mataram dengan mengerahkan 150 orang Selo, Grobogan. Itu ia lakukan setelah Joko Tingkir menyerahkan hutan Mataram itu.
Sunan Kalijaga mendesak Joko Tingkir agar menepati janjinya kepada Ki Ageng Pemanahan. Janji itu diucapkan ketika membuka sayembara: yang bisa mrmbunuh Adipati Jipang Aryo Penangsang akan diberi tanah di Pati dan Mataram.
Pati tang sudah me jadi kota dengan penduduk 10 ribu, direlakan oleh Pemanahan untuk Ki Ageng Panjawi. Ia memilih hadiah yang masih berupa hutan. Sudah ada perkampungan, tapi cuma berpenduduk 800 orang.
Ki Ageng Pemanahan berasal dari Selo, Grobogan. Ia cucu dari Ki Ageng Selo.
Ia kemudian menjadi penasihat Joko Tingkir — yang pernah menjadi santri Ki Ageng Selo– ketika Joko Tingkir menjadi adipati Pajang. Akhirnya Joko Tingkir bersedia menerima permintaan Ratu Kalinyamat untuk menyingkirkan Adipati Jipang Aryo Penangsang, itu terjadi berkat Pemanahan.
Awalnya, Joko Tingkir menolak karena merasa kesaktiannya jauh di bawah Aryo Penangsang. Pemanahan laku menyarankan agar Ratu Kalinyamat menghadiahkan janda selir suaminya kepada Joko Tingkir dan Joko Tingkir menerimanya.
Bersama Ki Ageng Pemanahan, ada Ki Ageng Panjawi dan Ki Juru Martani. Anak Pemanahan, Sutowijoyo, diangkat anak oleh Joko Tingkir dan tinggal di Pajang. Pemanahan mengikuti sayembara menyingkirkan Aryo Penangsang dengan memajukan Sutowijoyo.
Aryo Penangsang harus disingkirkan karena telah membunuh Sultan Demak Prawoto dan iparnya, suami Ratu Kalinyamat. Joko Tingkir yang juga ipar Prawoto selamat dari upaya pembunuhan yang dilakukan orang suruhan Penangsang.
Tapi Aryo Penangsang tak berhenti. Karena yang menyuruh membunuh Prawoto adalah Sunan Kudus, maka ia kembali ke Sunan Kudus meminta bantuan.
Ia meminta Sunan Kudus memanggil Joko Tingkir sebagai santri. Tujuan pemanggilan untuk membahas ilmu gaib.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


