Silsilah Kerajaan Islam Pertawa Gowa

Makassar — 1miliarsantri.net : Kerajaan Gowa Tallo atau Kerajaan Makassar merupakan kerajaan Islam di Sulawesi Selatan. Letak Kerajaan Gowa Tallo berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa Tallo merupakan gabungan dari dua kerajaan yang berasal dari keturunan Kerajaan Gowa, yang didirikan oleh Tumanurung Bainea sekitar awal abad ke-14. Pada awal abad ke-15, Kerajaan Gowa dibagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo bersatu pada masa pemerintahan Raja Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna, kemudian gabungan dua kerajaan itu disebut Kerajaan Gowa Tallo atau Kerajaan Makassar. Kerajaan Gowa Tallo memasuki masa Islam dan berubah menjadi kesultanan pada akhir abad ke-16. Sejarah Kerajaan Gowa Tallo pada Masa Islam Kerajaan Gowa Tallo berpusat di Sombaopu (Makassar). Lokasi Sombaopu yang strategis membuat pedagang Maluku senang singgah dan berdagang di Kerajaan Gowa Tallo. Pada akhirnya, Sombaopu menjadi penghubung Malaka, Jawa, dan Maluku. Kerajaan Gowa Tallo telah berhubungan dengan Sultan Ternate yang sudah memeluk agama Islam. Agama Islam mulai masuk ke wilayah Sulawesi Selatan disebabkan dakwah Datuk RI Bandang dan Datuk Sulaiman dari Minangkabau. Pemimpin Gowa Tallo yang pertama masuk Islam adalah I Mangarangi Daeng Manrabbia (1593-1639 M) yang bergelar Sultan Alaudiin I. Seluruh rakyat kemudian selesai diislamkan dua tahun setelahnya. Pada saat, Kesultanan Gowa-Tallo bercorak Islam, rakyat sangat patuh pada aturan berdasarkan ajaran Islam. Siapa Nama Tokoh yang Terkenal dari Kerajaan Islam Gowa Tallo Sultan Malikussaid (1639-1653 M) Kejayaan Kasultanan Gowa Tallo berawal dari peran Karaeng Patingalloang, seorang mangkubumi yang menjalankan kekuasaan pada tahun 1639-1654. Di mana, ia mendampingi Sultan Malikussaid yang saat itu masih kecil. Pada saat Karaeng Patingalloang menjabat sebagai mangkubumi, nama Kerajaan Makassar terkenal dan menjadi perhatian sejumlah negeri. Karaeng Patingalloang berkongsi bersama Sultan Malikussaid dengan sejumlah pengusaha dagang dari Portugis dan Spanyol. Karena kepandaiannya, Karaeng Patingalloang diuluki sebagai cendekiawan dari Kerajaan Makassar. Karaeng Patingalloang wafat pada tanggal 17 September 1654 pada saat turut serta dalam barisan Sultan Hasanuddin melawan Balanda. Karaeng Patingalloang telah menyiapkan sekitar 500 kapal untuk menyerang Ambon sebelum meninggal. Sultan Hasanuddin (1653-1669 M) Kerajaan Islam Gowa Tallo memasuki masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Pada saat itu, Sultan Hasanuddin berhasil memperluas wilayah kekuasaan dengan menguasai daerah-daerah subur dan daerah penunjang perdagangan. Daerah yang dikuasai hingga Nusa Tenggara Barat, sehingga Kerajaan Gowa Tallo dikenal sebagai negara maritim yang menjadi pusat perdagangan di Indonesia Timur. Dalam bidang sosial pemerintahan, Sultan Hasanudin berhasil memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam. Alhasil, banyak murid yang belajar agama Islam ke Banten. Sultan Hasanuddin merupakan raja yang sangat anti dominasi asing. Dirinya menentang kehadiran VOC yang saat itu sudah berkuasa di Ambon. Kemudian, Sultan Hasanuddin memimpin peperangan melawan VOC di Maluku dan berhasil memporak-porandakan pasukan Belanda. Belanda yang menyadari kedudukannya semakin terdesak berupaya mengakhiri peperangan dengan melakukan politik adu domba antara Makassar dengan Kerajaan Bone (daerah kekuasaan Makassar). Rupanya, siasat politik adu domba yang dilakukan Belanda berhasil hingga Raja Bone yang bernama Aru Palaka mau bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makassar. Perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun membuat Keraaan Makassar harus mengakui kekalahannya dan menandatangani Perjanjian Bonganya tahun 1667. Banyak pasal dalam perjanjian tersebut yang merugikan Makassar, namun harus diterima Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin turun tahta setelah dua hari dari perjanjian tersebut dan menyerahkan kekuasaannya pada Sultan Amir Hamzah. Perjanjian Bonganya merupakan awal kemunduran Kerajaan Gowa-Tallo. Hal tersebut dikarenakan, raja-raja setelah Sultan Hasanuddin bukan raja yang merdeka dalam menentukan politik kenegaraannya. (ndro) Baca juga :

Read More

Mengenal Dokter Kamal, Arsitek Lantai Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Jakarta — 1miliarssntri.net : Bagi umat Islam yang sudah menunaikan ibadah haji ataupun umroh, tentu sering bertanya tentang lantai di masjidil Haram dan Masjid Nabawi mengapa tidak terasa panas saat cuaca sangat panas? Terutama jamaah yang sedang menunaikan ibadah tawaf mengelilingi Ka’bah di siang hari dengan panas yang sangat terik, kaki kaki para jamaah tetap tidak merasa kepanasan. Lantai yang bisa menahan panas tersebut, karena memang didesain sejak awal untuk para jamaah agar saat ibadah tidak merasa terganggu. Arsitek yang mendesain lantai tidak panas ini adalah, ilmuan asal Mesir. Namanya Dr.Muhamad Kamal Ismail. Dr.Kamal ini yang memiliki marmer dingin, kubah listrik dan payung megah yang berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dr Kamal adalah anak muda dan lulusan termuda di sekolah setingkat SMA di Mesir. Dalam sejarah Mesir, dia anak muda yang terdaftar dalam sekolah teknik kerajaan pertama yang kemudian di sekolahkan ke Eropa. Ia memperoleh tiga gelar dokter di bidang arsitektur Islam. Selain itu, ia juga anak termuda yang mendapatkan sel nil dan pangkat besi dari raja. Dr Kamal, menikah di usia 44 tahun, dan istrinya melahirkan anak laki-laki, namun tidak lama kemudian istrinya meninggal dunia. Setelah ditinggal istrinya, Dr Kamal memilih menyendiri dn memfokuskan beribadah kepada Allah. Ia hampir menghabiskan usianya 100 tahun untuk melayani dua masjid suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Apa yang dilakukan Dr Kamal ini jauh dari sorotan media massa. Ia asalah Insinyur pertama yang melakukan perencanaan pelebaran dua masjid suci di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah. Yang juga mengagumkan, saat bekerja untuk dua masjid suci tersebut, ia menolak untuk mendapat cek pembayaran dari raja arab, Abdullah Abdul Aziz bin Saud maupun dari perusahaan bin laden atas desain arsitekturnya. Ia hanya bilang,” Untuk apa saya menerima bayaran untuk sebuah pekerjaan saya di dua masjid suci, bagaimana saya nanti kalau menghadap Allah kalau untuk dua pekerjaan di masjid suci ini saya menerima bayaran.” Dokter genius ini, adalah sosok yang menemukan bahan batu marmer yang bisa dipakai untuk melapisi lantai yang ada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi agar lantai tersebut bisa menjadi lebih dingin sehingga membuat jamaah yang tawaf tidak merasa kepanasan. Batu marmer ini dideteksi doctor genius ini adanya hanya di gunung kecil di Yunani. Di gunung gunung lain tidak ada. Ia kemudian berangkat menuju Yunani untuk menandatangani kontrak pembelian batu marmer separo dari gunung tersebut. Meskipun marmer yang dibeli itu jumlahnya adalah separo dari satu gunung di Yunani, namun pemanfaatnya hanya untuk Masjidil Haram. Usai melakukan pembelian, Dr Kamal kembali ke Mekkah dan memulai melakukan pembangunan. Namun setelah selesai menuntaskan pembangunan di Masjidil Haram, Doktor genius ini diminta Raja Arab untuk melakukan pelapisan bahan marmer yang sama di Masjid Nabawi di Madinah. Setelah mendapat tugas dari Raja, ia merasa bingung karena bahan batu marmer itu hanya ada satu di gunung di Yunani dan separonya sudah dia beli. Tapi karena diperintah oleh Raja Arab, akhirnya ia berangkat kembali ke Yunani untuk menemui perusahaan yang menguasai gunung yang ada batu marmernya tersebut. Dia bertemu CEO perusahaan dan menyampaikan niatnya untuk membeli kembali separo sisa batu marmer dari gunung tersebut. Namun apa yang terjadi, menurut CEO, bahwa batu marmer sudah habis karena sudah dibeli semua oleh orang lain. Dokter Kamal penasaran siapa perusahaan yang membelinya. Ia bertanya kepada sekretaris perusahaan yang menjual batu marmer tersebut, namun jawabannya tidak tahu karena pembeliannya dilakukan sudah lama. Namun, sekretaris tersebut berjanji akan mencari data di filenya untuk mengetahui alamat perusahaan yang membeli separo dari sisa batu marmer di gunung Yunani tersebut dan segera melaporkan kepada Dr Kamal setelah menemukan datanya. Setelah ketemu data filenya, sekretaris perusahaan tersebut meyampaikan kepada Dr Kamal bahwa perusahaan yang membeli itu adalah perusahaan di Saudi Arabia. Dalam kondisi penasaran, kemudian ia kembali terbang ke Saudi Arabia untuk mencari perusahaan tersebut. Dan akhirnya bertemu perusahaan yang dicari. Dr Kamal ditemui oleh direktur Teknik. Namun saat ditanya tentang pembelian batu marmer dari Yunani tersebut, direktur Teknik mengatakan merasa sudah lupa karena pembeliannya dianggap sudah terlalu lama. Namun direktur Teknik mencoba menghubungi bagian Gudang dan dijelaskan bahwa batu marmer yang dibeli beberapa tahun lalu dari Yunani masih ada semua dan belum terpakai. Subhanalloh. Dokter kamal mulai menangis. Lalu dia menceritakian kisahnya mencari marmer dari Yunani tersebut yang tujuannya untuk pembangunan di dua Masjid Suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Saat itu, Doktor Kamal menyodorkan cek kepada direktur Teknik tersebut untuk mengisi jumlah uang yang diminta agar separo marmer dari gunung Yunani itu bisa dia beli. Ternyata Direktur Teknik tersebut tidak mau mengisi karena dia tahu ternyata batu marmer yang ada di Yunani itu memang dipersiapkan Allah untuk dua masjid suci. Direktur tersebut mempersilakan kepada Dokter Kamal untuk mengambil marmer tersebut dan dipergunakan untuk pembangunan dua masjid suci. Subhanalloh. Dr Kamal pun merasa lega karena bisa melanjutkan pembangunan di Masjid Nabawi sesuai perintah Raja Arab. Dr Kamal yang dikenal sangat religious tersebut, setelah bisa menuntaskan pembangunan di dua masjid suci, tidak lama kemudian Dr Kamal meninggal pada agustus 2008. Dan sampai sekarang jasanya bisa dinikmati seluruh umat Islam di seluruh dunia setiap menjalankan ibadah haji dan umroh. (rid) Baca juga :

Read More

Pemerintah Beri Peluang Ormas Keagamaan Kelola Sumber Daya Alam untuk Kemakmuran Rakyat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Wakil Ketua Umum MUI Anwar abbas mengatakan, dari pasal 33 ayat 3 jelas terlihat ada sebuah tugas yang diamanatkan oleh konstitusi kepada negara/pemerintah yaitu bagaimana caranya supaya lewat sumber daya alam yang ada itu pemerintah harus bisa menciptakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Di dalam pasal 33 ayat 3 uud 1945 dikatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. “Dalam sejarah perjalanan bangsa terutama sejak zaman orde baru sampai dengan keluarnya SK nomor 25 tahun 2024 tentang Perubahan atas peraturan pemerintah nomor 96 tahun 2021 tentang pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara yang dipercaya oleh pemerintah untuk mengelola tambang hanyalah badan usaha, koperasi atau perusahaan perseorangan saja,” terang Anwar dalam keterangan resmi, Senin (3/006/2024). Tetapi dengan keluarnya SK baru tersebut ada sebuah terobosan yang dilakukan oleh pemerintah yang perlu diapresiasi karena dalam SK itu ormas-ormas keagamaan yang selama ini sudah berbuat banyak bagi bangsa dan negara diberi kesempatan oleh pemerintah untuk ikut mengelola tambang. Hal ini jelas merupakan sesuatu yang menggembirakan karena lewat kebijakan tersebut berarti ormas-ormas keagamaan akan bisa memperoleh sumber pendapatan baru untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukannya dimana kita tahu pada umumnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh ormas-ormas keagamaan tersebut juga terkait erat dengan tugas dan fungsi pemerintah yaitu melindungi, mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat. Bahkan dalam hal yang terkait dengan usaha melindungi rakyat kita sangat sering melihat bila terjadi musibah berupa bencana alam misalnya para ormas keagamaan tersebut malah bisa lebih dahulu hadir di lokasi bencana dari pemerintah untuk membantu rakyat yang terkena musibah. Tetapi gerak mereka memang tampak terbatas karena ketiadaan dana sehingga mereka tidak mampu membeli dan menyiapkan peralatan serta hal-hal lain yang diperlukan. Begitu juga dalam hal yang terkait dengan upaya mencerdaskan bangsa. Kita tahu bahwa pemerintah sampai hari ini tampak belum sanggup untuk melakukan tugas ini secara sendiri. Disinilah kita lihat peran dari ormas-ormas keagamaan tersebut dimana mereka mendirikan sekolah dan rumah sakit yang jumlahnya ribuan secara mandiri. Memang pemerintah ada membantu tapi jumlahnya jelas masih jauh dari yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan dan lembaga kesehatan tersebut. Demikian juga dalam upaya mensejahterakan rakyat. Memang dalam konstitusi seperti tertera di dalam pasal 34 UUD 1945 dikatakan bahwa fakir miskin anak terlantar dipelihara oleh negara namun pada kenyataannya pemerintah juga punya keterbatasan-keterbatasan sehingga kita bisa melihat bagaimana besarnya peran dari ormas-ormas keagamaan dalam membantu tugas dan kewajiban dari pemerintah tersebut. Lalu timbul pertanyaan dari mana ormas-ormas tersebut mendapatkan dana? Umumnya dengan menghandalkan sumbangan dari para anggota dan simpatisan serta dari berbagai usaha yang dilakukannya. Tapi terkadang pihak ormas juga terpaksa harus “mengemis” kesana kemari agar kegiatan yang direncanakannya dapat terlaksana. Untuk itu agar ormas keagamaan ini dapat melaksanakan maksud dan tujuannya dengan sebaik-baiknya maka ormas-ormas tersebut secara finansial haruslah dibuat kuat dan saya melihat SK yang baru dikeluarkan oleh presiden jokowi ini merupakan bagian dari usaha itu sehingga diharapkan peran ormas keagamaan ini di masa depan dalam memberdayakan masyarakat dan warga bangsanya akan jauh lebih baik lagi sehingga cita-cita kita untuk membuat negeri ini menjadi negara yang maju, beradab dan berkeadilan akan dapat terwujud dan diakselerasi. (wink) Baca juga :

Read More

Isu Salafi Dinilai Mengalihkan Energi Muhammadiyah dan NU

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pakar Sosiologi Agama dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Abd Aziz Faiz menilai polemik salafi dan nasab Ba’alawi di Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) hanya mengalihkan energi Muhammadiyah dan NU. Padahal ada isu yang lebih penting yang harus menjadi perhatian, yakni kemiskinan, isu 10 juta anak muda pengangguran, pendidikan, dan pemberdayaan umat yang lambat. Aziz mengatakan secara umum polemik salafi dan Muhammadiyah sudah berlangsung lama. Keduanya dalam banyak hal memiliki persamaan terutama soal kembali ke Alquran dan hadits. “Namun, Muhammadiyah memiliki istilah ijtihad dan tajdid yang membuat Muhammadiyah sangat berbeda dengan salafi,” terang Aziz kepada 1miliarsantri.net, Ahad (2/6/2024) Aziz mengatakan, masalahnya belakangan salafi masuk pelan-pelan melalui masjid-masjid Muhammadiyah dan menguasainya. Dalam konteks-konteks tertentu, salafi mengubah tradisi Muhammadiyah di masjid-masjid milik Muhammadiyah, dari situ polemik salafi dan Muhammadiyah semakin meruncing. “Polemik Muhammadiyah dan salafi, kemudian polemik nasab Ba’alawi di NU tampak tidak produktif, sudah terlalu berkepanjangan,” imbuh Aziz. Dia mengatakan, isu-isu internal seperti itu sangat tidak krusial untuk umat. Polemik semacam itu mengalihkan energi NU dan Muhammadiyah dari isu-isu substantif berkaitan dengan kebutuhan umat, seperti soal kemiskinan karena pinjol, investasi di beberapa daerah yang merugikan masyarakat lokal, pendidikan, dan pemberdayaan umat yang tampak melambat. “Bahkan, Gen-Z yang diisukan menganggur hampir 10 jutaan, isu-isu semacam itu yang seharusnya menjadi perhatian dua organisasi ini,” jelas Aziz. Aziz menegaskan, sudah waktunya energi dua organisasi terbesar ini diarahkan ke kebutuhan umat dari sekadar polemik dan konflik yang tidak produktif. Kemudian sambil membenahi internal organisasi masing-masing. (jeha) Baca juga :

Read More

Sejarah Pemegang Juru Kunci Ka’bah

Makkah — 1miliarsantri.net : Ka’bah sebagai kiblat umat Islam sedunia. Sangat wajar jika setiap muslim memiliki niatan baik dan cita-cita yang mulia untuk menggenapkan rukun Islam dengan melakukan haji atau setidaknya melaksanakan umrah. Pembahasan ini akan berbicara tentang salah satu bagian penting dari Ka’bah yang mungkin jarang diketahui banyak orang, yaitu tentang kunci Ka’bah. Lalu bagaimana sejarah, spesifikasi dan siapakah para penggenggam amanah sebagai juru kunci Ka’bah itu ? Sebagaimana kunci dan pintu pada umumnya, asal mula kunci Ka’bah selalu berkaitan erat dengan pintu Ka’bah yang bisa dibuka dan ditutup seperti yang tampak hari ini. Sedangkan secara pasti, belum ada satupun sumber yang secara rinci menyebut kapankah awal mulanya Ka’bah memiliki pintu dan kunci. Akan tetapi, keberadaan kunci Ka’bah ini diketahui ada sejak era Daulah Abbasiyah, dan masih ada hingga hari ini. Di era Abbasiyah, kunci Ka’bah terbuat dari besi dengan ukiran emas atau perak di atas gembok dan kuncinya. Begitu halnya yang ditemukan di era-era selanjutnya, seperti era Mamluk dan era Daulah Utsmaniyyah, dengan mutu ukiran yang semakin meningkat, terukir dalam gembok dan kunci tersebut ayat-ayat Al-Quran, nama penguasa masa itu dan nama pembuat ukiran. Di era Utsmaniyah, gembok dan kunci Ka’bah diketahui dibuat atas perintah dari Sultan Abdul Hamid Khan dengan angka tahun termaktub 1309 Hijriyah. Gembok dan kunci dengan ukiran nama sultan ini bertahan hingga hari ini. Kemudian di era Kerajaan Arab Saudi, Raja Khalid bin Abdul ‘Aziz memberikan perintah untuk mengganti pintu Ka’bah yang lama dengan yang lebih baru. Dengan tetap mempertahankan bentuk gembok dan kunci Ka’bah di era Sultan Abdul Hamid Khan. Ada sekitar 48 kunci Ka’bah sejak era Utsmaniyyah hingga sekarang, sebagian terbuat dari emas murni. Spesifikasi Gembok Gembok Ka’bah terbuat dari besi dengan bentuk tabung hexagonal dengan enam sisi. Panjangnya 38 cm. dan lebar keenam sisinya 3 cm. Sehingga keliling sisi-sisinya adalah 18 cm. Enam sisi tersebut terlapisi dengan kuningan yang tipis dengan panjang kuningan sekitar 8 cm dan lebar sekitar 2 cm, pada masing-masing sisi kuningan tersebut (kecuali sisi keenam) terdapat ukiran tulisan dengan tipe khat tsuluts yang diukir dengan sangat indah dengan tulisan setiap sisinya sebagai berikut: Pada lembaran kuningan yang pertama tertulis: “Laa ilaha illa Allah, Muhammadu Rasulullah”, yang bermakna “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah”. Pada bagian kedua: “nashrun min Allah wa fathun qarib” dan “inna fatahna laka fathan mubiina” yang bermakna “kemenangan dari Allah, dan kemenangan itu dekat”, dan “Kami telah memberimu kemenangan yang besar”. Pada bagian ketiga: “Amara bihadzal qafli asy-syarifi Maulana al-Mu’adzham”, yang bermakna “Gembok kehormatan ini (dibuat) atas perintah yang mulia Sultan yang agung”. Pada bagian keempat: “al-Khaqan al-Afkham, as-Sulthan al-Ghazi ‘Abdul Hamid Khan” yang bermakna “Khaqan (julukan penguasa atau raja Turk dan Tartar) paling mulia, Sultan al-Ghazi (ksatria) Abdul Hamid Khan”. Pada bagian kelima: “Khalada Allahu mulkahu ila muntaha ad-dauran” yang bermakna “Semoga Allah menjadikan kerajaannya kekal sampai urutan terakhir”. Kunci Kunci gembok Ka’bah bentuknya panjang, menyerupai gagang lesung di kedua ujungnya dengan panjang kurang dari 40 cm. Kepalanya berbentuk lingkaran berdiameter 3,5 cm, dengan tebal 1 cm. Juru Kunci Ka’bah Para juru kunci Ka’bah diwariskan dalam satu keluarga turun temurun sejak 16 abad lebih, bahkan sejak masa sebelum Islam, yaitu keluarga Bani Syaibah, yang merupakan keturunan Qushay bin Kilab. Keluarga ini memiliki tugas untuk menyimpan kunci Ka’bah, dan membukanya dalam sebuah upacara pencucian Ka’bah yang dilaksanakan sebanyak dua kali dalam setahun, yaitu pada setiap tanggal 1 Sya’ban dan 15 Muharram setiap tahunnya. Upacara pencucian Ka’bah dimulai dengan shalat Subuh berjama’ah di Masjidil Haram, lalu dilanjutkan dengan membuka pintu Ka’bah dan memasukinya kemudian berlanjut dengan membersihkan bagian dalam Ka’bah dengan air Zamzam dan air perasan bunga Mawar. Lalu dilanjutkan dengan dengan pembersihan bagian luarnya dengan air bercampur wewangian, dan ditutup dengan shalat seusai pencucian Ka’bah telah selesai. (dul) Baca juga :

Read More

Masjid Qiblatain, Saksi Awal Mula Perubahan Arah Kiblat ke Ka’bah

Madinah — 1miliarsantri.net : Kota Madinah sangat kaya dengan situs bersejarah yang sering dikunjungi jamaah umrah dan haji, maupun penduduk Arab Saudi. Kota ini mengingatkan mereka akan sejarah Nabi Muhammad Saw dan penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Salah satu situs di Madinah adalah Masjid Qiblatain. Masjid ini terletak sekitar 7 km di sebelah timur laut Masjid Nabawi dan menjadi tempat ziarah penting bagi umat Islam. Awalnya, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena dibangun di bekas rumah Bani Salamah. Masjid Qiblatain adalah masjid yang memiliki dua kiblat. Qiblatain artinya dua kiblat. Kiblat pertama yang menghadap ke Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis (Palestina), dan kiblat kedua yang menghadap ke Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Masjid ini dibangun oleh Sawad bin Ghanam bin Kaab pada tahun kedua hijriah, tempat ini secara historis menjadi penting bagi umat Islam karena di sanalah turunnya wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk mengubah arah kiblat. Menurut Prof Dr KH Aswadi MAg, Konsultan Ibadah PPIH Daker Madinah, hal itu terjadi pada bulan Syakban, ketika Nabi Muhammad SAW memimpin para sahabatnya saat salat Zuhur, kemudian diturunkan wahyu untuk menghadap ke arah Ka’bah. Ketika sudah salat dua rakaat, turunlah wahyu yang memerintahkan untuk mengubah arah kiblat, maka Nabi langsung melakukan, sesegera mungkin untuk melakukan perubahan itu. “Karena itu merupakan perintah langsung di rakaat kedua atau dua rakaat bagian yang kedua. Dan langsung baginda Rasul itu mengalihkan kiblatnya itu dari Baitul Maqdis ke Ka’bah Baitullah. Ini kemudian diikuti oleh semua jema’ah,” katanya. Menurut Aswadi, ada perbedaan pendapat mengenai waktu perpindahan arah kiblat tersebut. “Itu tahun ke-2 Hijriah. Jadi, sebagian mufassir menyatakan bahwa itu terjadi di bulan Syakban. Ada yang mengatakan di bulan Rajab. Ada yang mengatakan itu adalah hari Senin. Ada yang mengatakan itu hari Selasa. Ada yang mengatakan salat zuhur, ada yang mengatakan salat Asar,” ujar guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menyatakan bahwa itu terjadi saat Salat Zuhur. “Pendapat yang paling tepat adalah salat yang dikerjakan di Bani Salamah pada saat meninggalnya Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur adalah Salat Zuhur. Sedangkan, salat yang pertama kali dikerjakan di Masjid Nabawi dengan menghadap Ka’bah adalah Salat Asar.” Kisah perpindahan arah kiblat ini bermula ketika Nabi Muhammad mengunjungi ibu dari Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur dari Bani Salamah yang ditinggal mati keluarganya. Kemudian tibalah waktu salat. Nabi pun salat bersama para sahabat di sana. Dua rakaat pertama masih menghadap Baitul Maqdis, sampai akhirnya Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu datang ketika baru saja menyelesaikan rakaat kedua. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144). Begitu menerima wahyu ini, Rasul langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jemaah menghadap Masjidil Haram. Pada awalnya, kata Aswadi, kiblat salat untuk semua nabi adalah Baitullah di Makkah, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 96: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” Sedangkan Al-Quds (Baitul Maqdis) ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para nabi dari Bani Israil. Dari Madinah, Baitul Maqdis berada di sebelah utara, sedangkan Baitullah di bagian selatan. Ketika masih di Makkah, Nabi salat menghadap Baitul Maqdis, juga sekaligus menghadap Ka’bah. Nabi menghadap ke utara, di mana posisi Ka’bah searah dengan Baitul Maqdis. Perubahan arah kiblat sendiri sudah diinginkan Nabi, karena selama di Makkah beliau salat menghadap ke Baitul Maqdis, bahkan sampai di Madinah pun, beliau masih menghadap ke sana lebih dari setahun. Namun, beliau terus memohon, mencari kepastian dan berharap agar kiblat dipindahkan ke Ka’bah, sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 144, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai.” Masjid Al-Qiblatain sudah mengalami beberapa kali pemugaran hingga renovasi. Awalnya masjid ini dikelola oleh Khalifah Umar ibn al-Khatt?b. Lalu direnovasi dan dibangun kembali ketika Kesultanan Usmani berkuasa. Pada 1987 Pemerintah Kerajaan Arab Saudi di bawah Raja Fahd pernah memperluasnya, merenovasi dan membangun dengan konstruksi baru, tetapi tidak menghilangkan ciri khas masjid tersebut. Di bagian luar, arsitektur masjid terinspirasi dari elemen dan motif tradisional sehingga menampakkan citra otentik sebuah situs bersejarah. Ruang salat mengadopsi geometri dan simetri ortogonal yang ditonjolkan dengan menara kembar dan kubah kembar. Kubah utama yang menunjukkan arah kiblat yang benar dan kubah kedua hanya dijadikan sebagai pengingat sejarah. Ada garis silang kecil yang menunjukkan transisi perpindahan arah kiblat. Masjid Qiblatain awalnya memang memiliki dua arah mihrab yang menonjol yang umumnya digunakan oleh Imam salat, ke arah Makkah dan Palestina. Usai renovasi, Masjid Qiblatain dibangun dengan memfokuskan satu mihrab yang menghadap ka’bah di Makkah, sedangkan penanda kiblat lama yang ke Baitul Maqdis dipasang di atas pintu masuk ke ruang salat. Desainnya merupakan reproduksi mihrab Sulaimani seperti di ruang bawah kubah sakhrah (kubah batu) di Yerusalem mengingatkan kepada mihrab Islam tertua yang masih ada. (dul) Baca juga :

Read More

Bung Karno Lebih Memilih Membaca Al Qur’an Ketika Diancam Ditembak Mati

Surabaya — 1miliarsantri.net : Tangisan Bung Karno di pangkuan ibunya setelah memulangkan anak Tjokroaminoto, tidak seberapa. Masih kalah jauh dengan tangisan Karno dan istrinya saat tahu Bung Karno akan ditembak mati Belanda. Bung Karno mengangis tersedu-sedu bersama istrinya. Hari itu Bung Karno sudah ditahan di sebuah rumah di Brastagi, Sumatra. Istri Bung Karno, Musiah, sedang memasak serundeng ketika tentara Belanda masuk ke dapur. Mengetahui serundeng itu untuk Bung Karno, tentara itu berkata, “Heh, buat apa engkau membikin serundeng untuk Sukarno? Apakah engkau tidak tahu bahwa Sukarno besok pagi akan ditembak mati?” kata tentara Belanda itu. Setelah mendengar itu, Masiah lalu menemui Bung Karno. Lalu memeluk lutut Bung Karno dan menangis tersedu-sedu. “Kena apa engkau berdua menangis tersedu-sedu sambil memeluk-meluk lututku?” tanya Bung Karno. Masih pun lalu menceritakan kejadian di dapur saat ia didatangi tentara Belanda. Tentara Belanda itu sedang menunggu perintah resmi dari Medan untuk menghukum mati Bung Karno. “Besok pagi Sukarno akan kami tembak mati,” kata tentara Belanda itu. Bung Karno ditahan di Brastagi setelah Belanda merebut Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Pada 22 Desember 1948, Bung Karno diterbangkan k eMedan dengan pesawat B25. Dari Medan ia kemudian dibawa ke Brastagi. Sebuah rumah yang dikelilingi pagar kawat berduri disiapkan untuknya. Di rumah itu ada dua suami istri yang ditugaskan untuk menyiapkan makanan untuk Bung Karno dan kawan-kawan. Nama suami istri itu Karno dan Musiah. “Yang laki namanya seperti nama saya,” kata Bung Karno. “Karno dan Musiah adalah orang-orang yang datangnya, atau asalnya dari Pacitan,” lanjut Bung Karno. “Saudara-saudara bisa menggambarkan bagaimana keadaanku pada saat itu. Dikatakan oleh Musiah dan Karno bahwa besok pagi aku akan ditembak mati,” kata Bung Karno. Bung Karno lalu berdoa. “Ya Allah ya Robi, kalau memang itu telah dikehendaki oleh Tuhan, yah apa boleh buat.” Ia ingin menenangkan hati agar siap ditembak mati Belanda, jika memang takdirnya demikian. Bung Karno kemudian mengambil air wudlu. “Sesudah sembahyang, aku mengambil kitab Quran, Quran yang aku bawa dari Yogyakarta,” kata Bung Karno. Sebelum membuka Alquran itu, Bung Karno berharap dibukakan pada halaman yang memberikan petunjuk untuk mengatasi masalah yang sedang ia hadapi. Barulah ia membukanya. Ia baca terjemahnya. Quran itu dilengkapi terjemahan dalam bahasa Belanda. “Waarom zult gij den mes geloven waar ik kenner ben van alle dingen…,” kata Bung Karno membaca ayat di halaman yang ia buka. Artinya: Kenapa engkau percaya omongan manusia? Aku inilah yang Maha Mengetahui. Setelah membaca ayat itu, Bung Karno mengaku tiak gentar lagi. Tegak lagi jiwanya. Ia membatin, boleh saja tentara Belanda itu berkata Bung Karno akan ditembak mati. tapi bisa saja rencana itu urung, karena Allah mempunyai kehendak lain. “Saudara-saudara, Saudara melihat bahwa keesokan harinya saya tidak ditembak mati dan sampai sekarang, pada mala mini, bukan tahun 1948, tetapi tahun 1961, Alhamdulillan Sukarno masih hidup. Sukarno malahan berdiri di hadapan saudara-saudara,” kata Bung Karno pada Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara pada 6 Maret 1961. Kejadian di Brastagi itu, kata Bung Karno, semakin mempertebal keyakinannya kepada Allah dan Nabi Muhammad dengan mukjizat Alqurannya. Dengan keyakinan itulah, ia merasa apa yang telah direncanakan makhluknya, seperti dirinya yang akan ditembak mati Belanda, bisa saja tidak terlaksana jika Allah memiliki kehendak lain. (jeha) Baca juga :

Read More

Ketika Sultan Agung Serbu Batavia, Hingga Gubernur Jenderal Meninggal Dunia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Boleh saja Sultan Agung kalah dalam perang melawan Kompeni. Namun patut diakui, perang itu telah membuat Gubernur Jenderal Kompeni JP Coen kalah. Ketika untuk kedua kalinya Sultan Agung menyerbu Batavia pada 1829, Gubernur Jenderal JP Coen jatuh sakit. Alih-alih berobat, JP Coen malah memimpin perang melawan tentara Mataram. Akibatnya, sakit Gubernur Jenderal JP Coen semakin parah. “Pada tanggal 20 September 1829 mendadak sakit parah dan akhirnya meninggal,” kata L van Rijckevorsel, direktur Normaalschool Ambarawa. Andai Sultan Agung tidak menyerbu Batavia saat itu, JP Coen tentu memiliki waktu untuk berobat dan beristirahat. Serbuan Sultan AGung membuat gubernur jenderal itu tidak mendapatkan perawatan memadai. Takdir berkata lain. Kalah dalam perang 1828 tak membuat Sultan Agung berhenti, hingga pada 1829 ia mengirim pasukan lagi ke Batavia. Pasukan pertama berangkat dari Ukur, dipimpin oleh Adipati Ukur pada Mei 1829. Dari Mataram, pasukan dipimpin oleh Penambahan Juminah pada Juni 1829. Pada 21 Agustus 1829, pasukan Adipati Ukur meghalau ternak milik Kompeni untuk mengacau perhatian Kompeni agar bisa selamat mendekati Batavia. Pada 31 Agustus, pasukan di bawah Panembahan Juminah juga mendekati Batavia. Mereka berkemah di sebelah barat, selatan, dan timur Batavia. Sebelum mereka tiba di sekitar Batavia, JP Coen sudah mendapat bocoran mengenai pasukan Mataram yang ini dari Raja Cirebon. Mendapat informasi Mataram akan menyerbu Batavia lagi, Gubernur Jenderal Kompeni itu kemudian juga menyiapkan diri, kendati ia sedang sakit. Tapi persiapan JP Coen ini “terganggu” oleh kedatangan Warga, utusan Sultan Agung dari Tegal. Pada 20 Juni 1829, ketika Panembahan Juminah bersama pasukananya berangkat dari Mataram, Warga sudah tiba di Batavia. Bersama Warga, ada orang tawanan yang dibawa Warga. Warga juga membocorkan informasi bahwa Sultan AGung akan menyerbu lagi Batavia. Warga juga menceritakan bahwa Tegal akan dijadikan pusat gudang perbekalan pasukan Mataram. Gubernur Jenderal JP Coen pun mengubah prioritas tindakan. Ia mengirim tiga kapal ke Tegal. Pada 4 Juli 1829 kapal-kapal Kompeni itu memusnahkan 200 kapal Sultan Agung. Kompeni juga aturun ke darat untuk memakar 400 rumah dan satu gunungan padi. Dari Tegal, tiga kapal dari Batavia itu bergerak ke Cirebon. Gunungan padi di Cirebon juga dimusnahkan oleh Kompeni. Tak ada laporan prajurit Sultan Agung yang meninggal di Cirebond dan Tegal. Maka, persiapan gudang perbekalan Mataram pun hancur. Hal itu membuat pasukan di Mataram tidak mendapatkan pasokan bekal ketika mereka mulai kehabisan bekal. Akibatnya, pasukan Mataram yang sudah berkemah di pinggiran Batavia hanya mampu bertahan selama sebulan. Pada 8 September 1829, pasukan Sultan Agung sudah mendekati benteng Hollandia di sebelah selatan Batavia. Tapi, Kompeni berhasil merusak parit-parit perlindungan yang dibuat pasukan Mataram. Ketika pada 12 September 1829 pasukan Mataram menyerbu benteng Bommel, pasukan Kompeni bisa memukul mundur mereka. Pada 17 September 1829 Kompeni menyergap pasukan Sultan Agung itu. Itu dilakukan setelah Gubernur Jenderal JP Coen melakukan inspeksi. Benteng pertahanan yang dibuat pasukan Mataram dari bambu dan kayu dibakar oleh pasukan Kompeni. Beruntung, hujan menyelamatkan pasukan Mataram. Namun, Gubernur Jenderal JP Coen tidak selamat. Tiga hari kemudian ia meninggal dunia. Pasukan Mataram untuk pertama kalinya melepaskan tembakan meriam pada 21 September 1829, sehari setelah JP Coen meninggal dunia. Tiga hari sebelumnya, Gubernur Jenderal JP Coen menginspeksi pertahanan pasukan Mataram. Saat itu, pasukan Mataram sudah menyiapkan meriam-meriamnya. Tapi, JP Coen tak bisa melanjutkan peperangan. “Pada tanggal 20 malam hari, ia mendadak sakit dan pada malam itu ia meninggal dunia pada jam satu,” tulis Dr HJ de Graaf. Pada pengepungan-pengepungan awal, pasukan Sultan Agung telah membakar gereja yang ada di selatan Batavia. Akibatnya, Gubernur Jenderal JP Coen tak bisa disemayamkan di gereja, melainkan di Balai Kota. (jeha) Baca juga :

Read More

Beberapa Makanan Kesukaan Sunan Kalijogo yang Masih Melegenda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Garang asem merupakan salah satu menu masakan yang sangat disuka oleh Sunan Kalijaga. Tapi bukan garang asem daging ayam, melainkan garang asem daging kerbau. Bisa terbayang, Sunan Kalijaga yang pernah berdakwah pada abad ke-15 menyukai makanan garang asem tersebut. Artinya masakan seperti sup bernama garang asem itu sudah berumur berabad-abad. Hingga kini menu tradisional Jawa ini biasanya disajikan saat rangkaian prosesi penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, terdapat makanan yang selalu tersaji di Pendopo Pangeran Wijil V, Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. Makanan tersebut dinamakan caus dahar, yang berisi garang asem tersebut. “Biasanya syukuran dilakukan setelah penjamasan bertujuan sebagai bentuk rasa syukur (ahli waris), karena telah melaksanakan tugasnya (penjamasan) yang berjalan dengan lancar,” terang Pelaksana Tugas Penjamasan Peninggalan Pusaka Sunan Kalijaga, Raden Krisnaedi, di Pendopo Pangeran Wijil V, di Kadilangu, Demak kepada 1miliarsantri.net, Selasa (28/5/2024). Seperti diketahui, ahli waris Sunan Kalijaga rutin menggelar prosesi penjamasan atau mencuci pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dengan minyak jamas, setiap 10 Dzuhijah atau Hari Raya Idul Adha. Krisnaedi menyebutkan, selain garang asem, makanan kesukaan Sunan Kalijaga yang selalu ada usai prosesi penjamasan, dan makanan jenis lain. Seperti rasulan, atau nasi gurih. Bahan dari caus dahar tersebut, lanjutnya, yakni terdiri dari mengkudu, gereh petek (ikan asin), lele, sambel goreng, nasi dan sayur-sayuran lain. “Caus dahar ini merupakan karemenan atau kesukaan Eyang Sunan Kalijaga,” imbuhnya. Sementara salah satu kerabat, Vika Liansari mengatakan, ia mengambil nasi kuning dan caus dahar. Ia mengaku supaya mendapatkan keberkahan dari Sunan Kalijaga. “Supaya mendapat keberkahan dari Eyang Sunan Kalijaga. Dulu kan makanan kesukaannya (Sunan Kalijaga),” jelas Vika sambil mengambil makanan beberapa menu makanan caus dahar. Vika menambahkan, makanan caus dahar tersebut tidak sembarang orang yang membuat. Ia menyebut, yang memasak harus suci dari hadas. “Yang membuat atau memasak (caus dahar) tidak sembarang orang. Harus suci dari hadas,” pungkasnya. (jeha) Baca juga :

Read More

Ketika Danau Tiberias Kekeringan

Yordan — 1miliarsantri.net : Danau Tiberias dan Thabariyah yang mengering dikaitkan dengan kemunculan Yajuj dan Majuj . Pasalnya keringnya danau Tiberias disinyalir sebagai akan datangnya Yajuj dan Majuj sebagai tanda akhir zaman atau kiamat. Seperti dituliskan dalam dari Researchgate, faktanya, penyedot air di Danau Tiberias saat ini adalah Israel. Sejak tahun 1964 air danau sudah dieksploitasi secara besaran oleh perusahaan nasional Israel HaMovil haArtzi. Air danau Tiberias dialirkan ke seluruh penjuru Israel melalui pipa raksasa, pemompaan dengan skala besar, kanal dan danau buatan. Rata-rata per hari dikuras 1,7 juta m3 air dari danau itu atau 400 juta m3 per tahun. Danau Tiberias sebelumnya berada di wilayah Palestina. Tapi saat ini, telah diklaim Israel sebagai bagian wilayahnya. Danau ini pun berganti menjadi beberapa nama, yaitu Danau Galilea, Danau Genesaret, Danau Kineret, Danau Kinerot, dan disebut juga sebagai Danau Tiberias. Berbeda dengan danau laut mati atau Dead Sea yang berada di sebelah selatan danau ini, Danau Thabariyah berair tawar. Sementara, danau laut mati berair asin. Israel menjadikan danau ini sebagai suplai air minum mereka. Memiliki luas 166 km persegi. Kedalaman danau ini mencapai 43 meter. Menariknya, danau ini berada pada 211 meter di bawah permukaan laut. Karena itulah, dijuluki danau air tawar terendah di dunia. Sebagian sumber air di danau ini berasal dari mata air bawah tanah. Dan sumber utama aliran air ke danau ini adalah dari sungai Yordan yang mengalir dari utara ke selatan. Air danau Tiberias bukan hanya tawar dan segar. Tapi juga hangat. Tidak heran jika di danau ini berkembang banyak flora dan fauna. Jika dilihat dari volume normal danau ini yang akhirnya habis diminum oleh rombongan Yajuj dan Majuj, bisa dibayangkan berapa banyak jumlah Yajuj dan Majuj yang akan datang di akhir zaman itu. (luk) Baca juga :

Read More