Benarkah Indonesia tidak Dijajah Belanda 350 Tahun

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Fakta Indonesia tidak dijajah 350 tahun oleh Belanda terus digaungkan. Klaim bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun disebut datang dari pihak Belanda. Benarkah? Jadi Indonesia dijajah berapa tahun? Memakai logika ini, berarti Indonesia hanya dijajah lima tahun. Lho? Lalu, apa kata Bung Karno yang sudah ditangkap Belanda pada 1929? Bangsa Indonesia baru ada pada 17 Agustus 1945, lalu Belanda datang menumpang NICA hingga 1950. Jadi cuma pada masa itu Indonesia dijajah Belanda? Nanti dulu. Ada pula yang menyebut bangsa Indonesia sudah ada sejak 28 Oktober 1928 lewat Sumpah Pemuda. Bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia. Jadi, Indonesia baru dijajah Belanda sejak 1928. Benarkah? Lalu, kehadiran orang-orang Belanda sejak Kompeni menaklukkan Jayakarta pada Mei 1619 tidak disebut menjajah? Pihak-pihak yang menolak klaim Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun menyebut Kompeni datang bukan untuk menjajah, melainkan untuk berdagang. Wah sederhana sekali pemahamannya mengenai konsep penjajahan. KBBI yang memakai definisi sederhana menyebut, menjajah adalah menguasai dan memerintah suatu negeri (daerah dan sebagainya). Sedangkan kolonialisme, menuru KBBI: paham tentang penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara itu. Jadi, benarkah, Kompeni hanya datang untuk berdagang? Kompeni (VOC) adalah perusahaan yang dibentuk dari enam perusahaan dagang di Belanda untuk menghilangkan persaingan yang ada di antara berbagai perusahaan. Pembentukan Kompeni difasilitasi oleh pengacara pemerintah. Kerajaan Belanda kemudian memberikan hak oktroi kepada Kompeni. Kerajaan melimpahkan kewenangannya kepada Kompeni. Maka, Kompeni bisa wewenang membentuk armada militer dan memerintah di negeri sasaran. Maka, di Indonesia Kompeni membentuk pemerintahan dan memiliki armada militer. Pemerintahan militer inilah yang juga menjalankan perdagangan di Indonesia pada masa itu. Kompeni menunjuk perwiranya menjadi gubernur jenderal di Indonesia. Tentu saja Indonesia yang diproklamasikan Bung Karno pada 1945 saat itu belum ada. Kompeni menyebutnya Hindia Timur. Dengan adanya pemerintahan Kompeni di Hindia Timur ini, maka Hindia Timur menjadi bagian dari Kerajaan Belanda. Ketika Kompeni bangkrut pada 1799, memang ada banyak wilayah kerajaan yang tidak tunduk pada pemerintahan Kompeni. Kerajaan Belanda kemudian mengambil alih langsung pemerintahan di Hindia Belanda setelah Kompeni bangkrut. Maka, Hindia Timur diubah penyebutannya menjadi Hindia Belanda. HW Daendels menjadi gubernur jenderal pertama yang tidak ditunjuk oleh Kerajaan Belanda. Maka, ada yang menyebut mulai periode ini beberapa wilayah di Indonesia dijajah Belanda, karena sebelumnya yang ada adalah Kompeni. Maka, klaim dijajah 350 tahun dianggap batal. Pada tahun 1921, Bung Karno menikahi Utari, anakTjokroaminoto. Sebagai menantu, ia sering diajak Tokroaminoto sebagai pendamping ketika Tjokroaminoto mendapat undangan untuk berbicara. Suatu hari, Tjokromanoto yang memimpjn Sarekat islam itu tidak bisa memenuhi undangan. Maka, dikirimkan Bung Karno untuk menggantikannya. Pada kesempatan inilah Bung Karno menyebut Indonesia telah dijajah selama 350 tahun oleh Belanda. (jeha) Baca juga :

Read More

Sejarah dan Mitos bulan Shafar

Jakarta — 1miliarsantri.net : Safar merupakan bulan kedua dalam sistem penanggalan Hijriyah. Bulan ini memiliki sejarah yang cukup unik, sebab turut dibumbui mitos yang ada. Pembahasan tentang sejarah Safar tidak lepas dari mitos yang berkembang pada periode masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Lalu bagaimanakah sejarah Safar? Mengutip penjelasan dari Ibnu Mandzur dalam Lisanul ‘Arab, kata Safar memiliki dua arti yaitu bisa berarti kosong (Shafar) atau dapat juga berarti warna kuning (Shufrah). Adapun sebab penamaan Safar berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang meninggalkan rumah atau kediaman mereka (sehingga kosong) untuk berperang atau bepergian jauh. Pendapat tersebut diceritakan dalam al-Mufasshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam bahwa orang-orang yang ditinggal bepergian ini mengeluh sambil berkata, “Shafira an-Nasu minna shafaran (Orang-orang mengosongkon kota (meninggalkan) kita sebab kita miskin (kosong/tidak memiliki harta).” (Juz 6, h. 120) Dalam sejarahnya, masyarakat Arab Jahiliyah menganggap Safar sebagai bulan kesialan. Hal tersebut tidak lepas dari keyakinan mereka bahwa Safar adalah salah satu jenis penyakit yang bersarang di dalam perut. Tak hanya sampai di situ, mengutip penjelasan dalam buku Mengenal Nama Bulan dan Kalender Hijriah, masyarakat Arab Jahiliyah meyakini Safar sebagai bulan yang penuh kejelekan. Sebagian masyarakat berpendapat, Safar adalah jenis angin berawak panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit. Keyakinan terhadap hal-hal tersebut dibantahkan manakala Islam datang. Rasulullah SAW bersabda: عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا غُولَ وَلَا صَفَرَ Artinya: “dari Jabir Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya.” (HR Muslim, no 4120) Dalam hadits lain disebutkan pula: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا فَقَالَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada ‘adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (reinkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan).” Lalu seorang Arab Badui berkata, “Wahai Rasulullah, lalu bagimana dengan unta yang ada dipasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Siapakah yang menulari yang pertama.” (HR Bukhari, no 5278) Setelah mengetahui sejarah Safar dan mitos yang ada di dalamnya, tentu umat Islam perlu menjadikan hal ini sebagai pedoman. Sebab, tidak ada yang namanya bulan kesialan. Jangan sampai pemahaman mitos yang dibawa oleh segelintir orang dikonsumsi bulat-bulat tanpa adanya upaya memvalidasi mitos yang ada. Semua waktu yang diciptakan Allah Ta’ala adalah kesempatan yang baik. Oleh karenanya, tidak ada waktu sial dan mitos ini telah dibantah dengan kedatangan Islam itu sendiri. (jeha) Baca juga :

Read More

Sejarah Penemuan Candi Borobudur

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Candi Borobudur, salah satu mahakarya arsitektur kuno, dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar abad ke-8 hingga abad ke-9 Masehi di bawah pemerintahan Raja Samaratungga. Candi ini terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, dan dikenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia. Borobudur dibangun sebagai tempat ibadah dan ziarah umat Buddha, dengan desain yang melambangkan alam semesta dalam ajaran Buddha Mahayana. Struktur candi Borobudur terdiri dari sepuluh tingkat, yang menggambarkan perjalanan manusia dari dunia fana menuju nirwana, yang diwakili oleh stupa terbesar di puncak candi. Selama berabad-abad, Borobudur mengalami masa kejayaan dan kemunduran, sebelum akhirnya terlupakan dan tersembunyi oleh hutan lebat serta tertimbun abu vulkanik. KRONOLOGI PENEMUAN KEMBALI CANDI BOROBUDUR Penemuan kembali Candi Borobudur dan usaha-usaha untuk memugar dan melestarikannya merupakan upaya panjang yang melibatkan banyak pihak. Dari masa penjajahan Inggris hingga proyek besar UNESCO, Borobudur kini berdiri tegak sebagai simbol kebanggaan bangsa Indonesia dan warisan budaya dunia yang tak ternilai. Legenda yang berkembang selama candi ini tersembunyi, seperti kisah ksatria dalam sangkar, menambah dimensi mistis dan budaya dari situs ini. (jeha) Baca juga :

Read More

Semangat Perjuangan Arek Suroboyo

Surabaya — 1miliarsantri.net : Pada 19 September 1945, terjadi insiden Hotel Yamato atau yang dikenal waktu itu dengan Orange Hotel Surabaya (kini berganti nama menjadi Hotel Majapahit), dimana penduduk kota, utamanya para pemuda, berdatangan ke penginapan tersebut lantaran melihat bendera kebangsaan Belanda berkibar di pucuk bangunan hotel tersebut. Inilah tandanya tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) sama sekali tidak menghormati fakta historis Proklamasi RI 17 Agustus 1945. Keributan tak terhindarkan. Seorang kader Pemuda Anshor, Cak Asy’ari, berupaya mencapai ketinggian Hotel Yamato. Lantas, dia berhasil mencapai Tri Warna dan merobek bagian berwarna biru dari kain bendera itu. Merah-Putih kembali berkibar. Sepanjang September 1945, situasi di Surabaya betul-betul di atas ambang emosi. Laskar rakyat Indonesia terus berupaya mengambil alih persenjataan dari gudang-gudang yang dahulunya milik tentara Jepang. Di antara pergerakan bersenjata itu adalah Barisan Hizbullah dan Sabilillah yang terus melakukan konsolidasi untuk mempersiapkan strategi terbaik. Sebagai informasi, keduanya dibentuk atas prakarsa KH Abdul Wahid Hasyim kala Jepang masih bercokol di Indonesia. Baik Hizbullah maupun Sabilillah merupakan wadah perjuangan fisik umat Islam, khususnya kaum santri, di zaman mempertahankan kemerdekaan. Situasi kian memanas. Sejak 15 Oktober 1945, pecah pertempuran lima hari di Semarang, Jawa Tengah, antara sisa pasukan Jepang dan laskar rakyat setempat. Beberapa hari kemudian, PBNU menggelar rapat konsolidasi se-Jawa dan Madura di Surabaya. Hasilnya mengukuhkan Resolusi Jihad, yang merupakan penguatan atas fatwa yang pada 17 September 1945 telah dikeluarkan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Memasuki November, situasi semakin mendekati perang besar. Inilah pertaruhan eksistensi Republik Indonesia, yang memproklamasikan kemerdekaannya bukan lantaran hadiah penjajah, melainkan perjuangan mati-matian dengan darah dan air mata para pahlawan. Pada 7-8 November 1945, Resolusi Jihad yang digaungkan pertama kali oleh KH Hasyim Asy’ari dikukuhkan dalam konteks yang lebih luas, yakni Kongres Umat Islam (KUI) di Yogyakarta. Ini juga sebagai respons atas ultimatum Sekutu. Sehari sebelum pecah pertempuran akbar di Surabaya, KH Hasyim Asy’ari selaku komando tertinggi Hizbullah memerintahkan segenap kekuatan bersenjata dari kalangan santri untuk memasuki Surabaya. Perintahnya jelas: tidak akan menyerah dalam mempertahankan kemerderkaan RI. KH Abbas Buntet Cirebon diperintahkan memimpin langsung komando pertempuran. Di antara para komando resimen yang membantu KH Abbas adalah sebagai berikut. KH Abdul Wahab Hasbullah, Sutomo (Bung Tomo), Roeslan Abdulgani, KH Mas Mansur, dan Doel Arnowo. Bung Tomo berpidato dengan disiarkan melalui jaringan radio. Pidatonya itu begitu membakar semangat juang rakyat Indonesia yang sedang membuktikan jihad fi sabilllah mempertahankan kedaulatan Indonesia sampai titik darah penghabisan. Suara Bung Tomo diakhiri dengan pekik takbir: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Demikianlah, tanggal 10 November 1945 akan selalu dikenang sebagai Hari Pahlawan Nasional. Resolusi Jihad yang digagas KH Hasyim Asy’ari menandakan ketegasan kalangan santri, serta umat Islam Indonesia pada umumnya, untuk tulus berjuang demi kemerdekaan negeri ini. Ketulusan hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Pada hari itu, ribuan pejuang menemui syahid. Namun, kekuatan laskar rakyat berhasil mengacaukan strategi Tentara Sekutu. Tercatat, saat itu tiga unit pesawat tempur RAF Inggris jatuh ditembak laskar rakyat Indonesia. (har) Baca juga :

Read More

Rencana Bangun Bioskop Dekat Kakbah Picu Kontroversi

Riyadh — 1miliarsantri.net : Arab Saudi berencana membangun bioskop di Mekkah. Namun, rencana tersebut menuai kontroversi karena tempat hiburan baru itu terletak di dekat Kakbah di Masjidil Haram. Sebuah video yang ramai beredar memperlihatkan seorang insinyur Saudi mendiskusikan pembangunan proyek hiburan besar itu di Mekkah memicu perdebatan di media sosial. Bioskop tersebut merupakan komponen kunci dari “Smart Mecca”, yang menurut informasi publik bertujuan untuk mengintegrasikan fasilitas hiburan modern ke dalam kota dengan tetap memperhatikan makna keagamaannya. Proyek ini dikembangkan oleh anak perusahaan Public Investment Fund (PIF), yaitu Saudi Entertainment Ventures (Seven). Perusahaan ini menjadi garda terdepan dalam upaya ekspansi hiburan di Arab Saudi. Proyek Mekkah ini adalah salah satu dari beberapa pengembangan hiburan yang dilakukan Seven di seluruh Kerajaan. Perusahaan berencana untuk berinvestasi sebesar 50 miliar riyal Saudi atau setara Rp210 triliun di 21 destinasi hiburan terintegrasi di 14 kota. Sebelumnya pada tahun 2023, Seven mendapatkan kontrak senilai 2,5 miliar dollar AS untuk berbagai proyek hiburan di seluruh Kerajaan Arab Sudi. Proyek bioskop Mekkah, senilai 347 juta dollar AS, sedang dibangun oleh perusahaan lokal Modern Building Leaders (MBL). Bioskop ini berlokasi di distrik Al Abidiyah dekat Universitas Ummul Qura di luar kompleks Masjid Ka’bah, proyek ini mencakup area seluas 80.000 meter persegi. Pembangunan bioskop di Arab Saudi menandai perubahan budaya yang signifikan. Selama 40 tahun, bioskop dilarang di Kerajaan, yang mencerminkan norma-norma sosial konservatif yang berlaku di negara tersebut. Larangan tersebut dicabut pada tahun 2018 sebagai bagian dari inisiatif Visi 2030 Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang berupaya memodernisasi perekonomian dan membuka masyarakat Saudi. Sejak pencabutan larangan tersebut, Arab Saudi dengan cepat memperluas infrastruktur bioskopnya, dengan banyak bioskop dibuka di seluruh wilayah Kerajaan. Video yang dibagikan secara luas ini menuai reaksi beragam. Beberapa orang memuji pembangunan tersebut sebagai bagian dari inisiatif Visi 2030 Arab Saudi, yang bertujuan untuk mendiversifikasi perekonomian dan meningkatkan kualitas hidup warga negara dan penduduk. Sementara yang lain menyatakan keprihatinannya karena lokasi tempat hiburan yang berdekatan dengan kompleks Masjidil Haram. Meskipun ada kontroversi, pemerintah Saudi telah menegaskan kembali komitmennya untuk memastikan bahwa pembangunan baru ini tidak membahayakan kesucian Mekkah. Para pejabat menekankan bahwa bioskop dan proyek hiburan lainnya dirancang untuk melengkapi infrastruktur modern kota tersebut sambil tetap menjaga kepentingan keagamaannya. (dul) Baca juga :

Read More

Mengenang WR Soepratman, Sang Pahlawan dengan Biola

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam setiap perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, lagu “Indonesia Raya” pasti berkumandang. Inilah karya dari seorang pejuang bangsa, Wage Rudolf Soepratman atau yang biasa dikenal dengan sebutan WR Soepratman. Ia lahir pada 19 Maret 1903 di Jatinegara, Jakarta. Pada tahun 1914, WR Soepratman diasuh oleh kakak iparnya yang bernama WM van Eldik alias Sastromihardjo, di Mataram. Di sana, ia belajar memetik gitar dan menggesek biola. Pada 1919, WR Soepratman diangkat menjadi guru. Dalam masa itu, ia juga mendirikan grup band jazz, Black and White, di Makasar. Untuk itu, ia berada di bawah bimbingan sang kakak ipar. Setelah tahun 1924, WR Soepratman hijrah ke Surabaya (Jawa Timur) dan Bandung (Jawa Barat). Di sana, dirinya mulai terjun ke dunia jurnalistik, yakni sebagai wartawan Surat Kabar Kaoem Moeda. Saat bekerja untuk koran Sin Po, WR Soepratman rajin mengunjungi rapat-rapat pergerakan kebangsaan Indonesia di gedung Pertemuan Gang Kenari, Jakarta. Dari sanalah, ia mulai tergugah untuk menggubah lagu “Indonesia Raya” pada 1928. Semula, WR Soepratman menciptakan lagu tersebut dengan judul “Indones, Indones, Merdeka, Merdeka.” Saat karyanya mulai beredar, alhasil dirinya dikejar-kejar polisi intel Hindia Belanda. Kongres Pemuda II di Jakarta berlangsung pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Hasilnya adalah teks dan ikrar Sumpah Pemuda. Yang istimewa bagi WR Soepratman, karyanya itu diakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Dalam kongres itu pula, dinyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan iringan gesekan biola WR Soepratman sendiri. Sebuah momen yang tak akan dilupakannya. Rezim kolonial merepresi kaum pergerakan. “Indonesia Raya” pun dilarang. Keadaan berubah sejak pasukan Jepang datang dan mengusir Belanda dari Nusantara. Sejak 1944, lagu itu kembali boleh dinyanyikan. WR Soepratman, sebagaimana umumnya masyarakat Indonesia saat itu, sangat merindukan tanah airnya merdeka. Sayang, usianya tidak sampai ke sana. Antara tahun 1930 dan 1937, WR Soepratman berpindah-pindah tempat tinggal. Hingga kemudian, ia dibawa oleh saudaranya ke Surabaya dalam keadaan sakit. Pada 7 Agustus 1938, saat sedang memimpin pandu-pandu menyiarkan lagu “Matahari Terbit” di Jalan Embong Malang, Surabaya, WR Soepratman ditangkap. Ia lalu ditahan di Penjara Kalisosok. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 17 Agustus 1938, ia wafat. Dirinya tak meninggalkan istri atau anak karena memang belum menikah. Jenazahnya dimakamkan di kuburan umum Kapas, Jalan Kenjeran, Surabaya, secara Islam. Pesan terakhir WR Soepratman: “Nasibkoe soedah begini inilah jang disoekai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal, saja ikhlas. Saja toch soedah beramal, berdjoeang dengan carakoe, dengan biolakoe. Saja jakin Indonesia pasti Merdeka.” (jeha) Baca juga :

Read More

Bung Karno yang Memilih Proklamasi Tanggal 17 Agustus 1945

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bukan hanya peristiwa Pembebasan Makkah (Fath Makkah) yang terjadi pada bulan Ramadhan, tepatnya di kedelapan Hijriyah. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pun berlangsung pada bulan puasa. Momen yang amat bersejarah itu terjadi pada 17 Agustus 1945 M atau bertepatan dengan hari Jumat, pukul 10.00 WIB pada 9 Ramadhan 1364 H. Naskah teks proklamasi dituliskan oleh tangan Sukarno, dengan beberapa perbaikan kalimat atas usulan sejumlah tokoh lainnya, termasuk Ahmad Subardjo. Kemudian, hasil tulisan tangan itu diketik oleh Sayuti Melik. Setelah jadi, hasilnya ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta, keduanya atas nama bangsa Indonesia. Semua momen krusial ini dilakukan pada waktu jam makan sahur di bulan Ramadhan 1364 H. Mohammad Hatta menuturkan situasi malam itu di rumah Laksamada Tadashi Maeda, seorang Jepang yang bersimpati pada pergerakan nasionalisme Indonesia. Sang laksamana mempersilakan kediamannya dipakai oleh para tokoh Indonesia untuk mereka merumuskan teks Proklamasi RI. Beberapa jam sebelum Proklamasi Kemerdekaan, kondisi Bung Karno dan Bung Hatta sesungguhnya dalam keadaan lelah. Mereka baru tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00 WIB. Sebelumnya, kedua bapak bangsa ini berada di Rengasdengklok, akibat diculik sejumlah pemuda yang memaksa mereka untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, yakni sebelum 17 Agustus 1945. Sebab, anak-anak muda ini- yang menurut Bung Karno dalam pengaruh Sutan Sjahrir, mengetahui bahwa Jepang telah menyerah terhadap Sekutu di Perang Dunia II. Para pemuda ini menganggap, jangan sampai Indonesia diserahkan lagi ke Belanda, sebagai salah satu negara Sekutu, dan akhirny kembali dijajah. Cerita bermula ketika Bung Karno- beserta anak dan istri dan juga Bung Hatta “diculik” ke Rengasdengklok oleh para pemuda revolusioner. Mereka berniat ingin menjauhkan Dwitunggal dari pengaruh Jepang. Jepang sudah kalah di PD II. Tidak ada gunanya lagi mengandalkan Nippon untuk mewujudkan Indonesia Merdeka. Demikian pemikiran mereka. Seperti diceritakan dalam buku autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang disusun Cindy Adams, Sukarno lalu “diintimidasi” oleh para pemuda. Mereka mendesak sang bung besar, demikian sebutan dari mereka agar mengumumkan proklamasi RI sekarang juga: pada 16 Agustus 1945. Tentu saja, Bung Karno tidak bisa diintimidasi. Seorang pemuda, Wikana, sempat menyampaikan kata-kata yang menyinggung perasaan Bung Karno karena dirinya dianggap pengecut. Langsung saja suami Fatmawati itu naik pitam. “Mereka langsung diam, dan keheningan mencekam. Tak seorang pun tahu apa yang harus dilakukan. Tak ada yang bergerak. Mereka takut. Malu, Marah. Kecewa. Aku mengangkat kepala dan, dengan sengaja, aku menatap mereka. Aku menatap langsung ke wajah mereka sehingga mereka satu demi satu menjatuhkan pandangan mereka,” kata Sukarno menuturkan kejadian malam 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok itu, dalam buku autobiografi yang disusun Adams (hlm 253). “Aku duduk lagi. Butir-butir keringat menggantung di bibir atasku. Tak ada lagi yang menyebut Sukarno pengecut. Aku menangkap mata Farmawati di bagian lain dari kusen pintu. Mukanya kelihatan murung dan tegang. Ia menyaksikan semua kejadian itu dengan sungguh-sungguh,” sambung Bung Karno. Memecah keheningan, Sukarno lalu menyampaikan kepada mereka. Sewaktu para jenderal Nippon mengundang para tokoh bangsa Indonesia–termasuk dirinya ke Saigon pada 10 Agustus 1945. Ketika itulah, Bung Karno merenungi momen tepat untuk Proklamasi Indonesia Merdeka. “Yang paling penting di dalam suatu peperangan dan revolusi adalah waktu yang tepat. Di Saigon, aku sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno kepada para pemuda. “Mengapa tanggal 17, tidak lebih baik sekarang saja atau tanggal 16?” tanya Sukarni, seorang pemuda revolusioner. “Aku percaya pada mistik,” jawab Bung Karno, “aku tidak dapat menerangkan yang masuk akal, mengapa tanggal 17 memberikan harapan kepadaku.” Putra Sang Fajar lalu mengungkapkan bagaimana ilham “17 Agustus” itu sampai kepadanya. Menurut dia, saat memikirkan hal itu di Saigon dirinya seperti merasakan dalam relung hatinya. Tanggal 17 Agustus 1945 itu adalah momen yang baik. “Tujuh belas adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita berpuasa sampai Lebaran, benar tidak?” “Ya.” “Ini berarti saat yang paling suci, bukan?” “Ya.” “Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang manis. Jumat suci. Dan hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” tegas Bung Karno. (jeha) Baca juga :

Read More

Ir Soekarno dan Pergerakan Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ir Sukarno (1901-1970) adalah salah satu figur sentral dalam sejarah negara Republik Indonesia. Sosok berjulukan “Penyambung Lidah Rakyat” ini merupakan seorang Proklamator RI pada 17 Agustus 1945. Menjelang peringatan HUT ke-79 RI, tak lengkap rasanya bila tidak mengenang kembali ketokohan Bung Karno. Ahmad Syafi’i Ma’arif memperlihatkan sebuah dokumen yang belum pernah dipublikasikan. Dokumen itu adalah sebuah surat yang ditandatangani Sukarno selaku konsul Dewan Pengadjaran Moehammadijah Daerah Bengkoeloe. Surat bertanggal 9 Januari 1940 itu merupakan balasan terhadap surat Tuan Guru Hasan Basri di Muara Aman. Isinya tentang penugasan Hasan Basri. Saat itu, Sukarno sedang dalam tahanan Belanda di daerah Bengkulu. Sebetulnya, jauh sebelum itu, Sukarno juga terlibat dalam pergerakan Islam, yakni Sarekat Islam, kala ia indekos di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Inilah masa ketika dirinya masih bersekolah di HBS yang menghabiskan masa lima tahun. Adapun yang bertalian dengan pemikiran Islam, Sukarno juga bersentuhan saat ia ditahan di Ende, Flores. Ia berkorespondensi soal Islam dengan Ustaz A Hassan dari Persatuan Islam (Persis), Bandung. Bung Karno juga pernah berpolemik dengan Mohammad Natsir di surat kabar. Polemik keduanya berlangsung sangat sehat. Buktinya, tulisan Bung Karno tersebut dimuat dalam majalah Pedoman Masyarakat Medan pada 1938 yang diasuh orang-orang Masyumi. Selain itu, tulisan Bung Karno yang berjudul “Islam Sontolojo” yang dimuat di Pandji Islam 1940 adalah bukti kepedulian tokoh nasionalis ini pada Islam. Di situ, ia sangat marah terhadap seorang kiai yang menurutnya telah mengelabui mata Tuhan. Ini merujuk pemberitaan di sebuah surat kabar tentang kiai cabul. Tak hanya berhenti di situ. Dalam hal kehidupan pribadi pun, ada persentuhan dengan orang pergerakan Islam. Ahmad Syafi’i Ma’arif menambahkan, saat di Bengkulu, Bung Karno tertarik dengan seorang murid Muhammadiyah, Fatmawati. AR Sutan Mansyur ikut menentukan kemulusan hubungan mereka. Namun, di periode akhir hidupnya, Sukarno berseberangan politik dengan sebagian kekuatan politik Islam, yakni Masyumi. Saat Demokrasi Terpimpin, ini tak berarti hubungan dirinya dengan Islam-politik terputus. Sebab, dalam periode ini ia menggandeng Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga merekrut secara perorangan tokoh-tokoh Masyumi, yang bukan mainstream, seperti Mulyadi Djojomartono, Farid Ma’ruf, dan Marzuki Yatim dalam Kabinet 100 Menteri. Ada beberapa tonggak untuk melihat retaknya hubungan ini. Dahlan Ranuwihardjo, misalnya, melihat usai Pemilu 1955–tepatnya saat pembentukan Kabinet Ali Sastroamidjojo II–merupakan awal. Seiring dengan pergolakan di daerah, cabang-cabang Maysumi di daerah menuntut agar Masyumi mundur dari kabinet. Hal ini diperkuat dengan Konferensi Akbar Daerah 1957 di Bandung, Jawa Barat. Akhirnya, Masyumi mundur dari kabinet. Hal ini menyebabkan kegusaran Bung Karno sehingga ia menunjuk dirinya sendiri “sebagai warga negara” untuk menjadi formatur dan membentuk kabinet. Sjafi’i Ma’arif menerangkan, ada sebab lain mengapa Masyumi keluar. Ini tak lain karena Bung Karno meminta Ali membentuk “kabinet berkaki empat” dengan memasukkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai Nasional Indonesia (PNI) masih bisa menerima usulan ini, tetapi tidak demikian halnya dengan Masyumi. Sebab berikutnya, saat terlibatnya beberapa petinggi Masyumi, seperti Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Burhanuddin Harahap dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tidak adanya tindakan organisatoris membuat Bung Karno pada 1960 mengirim surat pada ketua DPP Masyumi, Prawoto, untuk membubarkan partai. Puncaknya saat penangkapan pada tokoh-tokoh Masyumi pada 1962. Menurut Dahlan, ini adalah kesalahan besar Bung Karno karena perintah tersebut atas informasi keliru. Pasalnya, dasar perintah adalah tuduhan perencanaan makar saat mereka berkumpul di Bali. Padahal, saat itu mereka hanyalah menghadiri upacara ngaben raja Bali Sukawati, ayah Anak Agung yang menjadi sahabat tokoh Masyumi dan PNI. Namun, di masa itulah luka-luka terjadi: Masyumi dibubarkan dengan alasan memberontak, tokoh-tokoh Islam ditangkap dan dipenjarakan tanpa alasan yang jelas, dan seterusnya. Bahkan, akibat pembubaran Masyumi tersebut, dampaknya masih terlihat sampai masa-masa jauh berikutnya. Saat Pemilu 1999, misalnya, banyak yang memperbandingkannya dengan Pemilu 1955. Dari empat besar (PNI, Masyumi, NU, dan PKI) pada Pemilu 1955–dengan mengecualikan PKI yang tak lagi berpartai sampai kini–maka metamorfosis Masyumi pada Pemilu 1999 tak jelas sosoknya. Berbeda dengan NU yang ke PKB ataupun PNI yang ke PDI Perjuangan. PDI yang kemudian menjadi PDI Perjuangan pun lebih banyak berseberangan dengan aspirasi Islam. Puncaknya adalah pada Pemilu 1999 itu. Caleg PDI Perjuangan penuh diwarnai tokoh-tokoh yang berpandangan berseberangan dengan Islam-politik. Akibatnya, saat Sidang Umum MPR, Megawati gagal menjadi presiden, padahal partainya pemenang pemilu. Setelah itu, kedua belah pihak saling mengoreksi untuk memperbaiki diri. Kini, hubungan itu menjadi lebih cair. Dahlan maupun Syafi’i sepakat bahwa sebelum Demokrasi Terpimpin, hubungan Sukarno dan umat Islam relatif baik. Bahkan, pernah membentuk kabinet dengan aliansi PNI-Masyumi-NU. “Ini menguasai mayoritas mutlak di parlemen,” kata Syafi’i menyebut kabinet yang dipimpin Ali Sastroamijoyo tersebut. Namun, luka pada dekade 1960-an coba terus ditiupkan. Sehingga bagi generasi sekarang, seakan pintu para “pewaris” jika ada, untuk terbuka bergandeng tangan sudah tertutup. Istilah kaum nasionalis dan umat Islam sering diperhadapkan untuk berselisih. “Semuanya nasionalis,” kata Dahlan Ranuwihardjo menepis mitos itu. Dahlan adalah orang yang berada di perbatasan. Keponakan Mr Mohamad Roem–tokoh penting Masyumi–ini bercerita. Suatu kali, datang aktivis Masyumi dari Sumatra ke Jakarta, ke rumah Roem. Dahlan yang tinggal di rumah pamannya pun dikenalkan ke tamunya. Sang tamu terkejut bahwa Dahlan tinggal di rumah Roem dan juga keponakannya. Tamu ini mengenal Dahlan sebagai seorang yang banyak membela Sukarno. Namun, Roem adalah seorang yang moderat dan demokrat. Semua itu tak menjadi soal. Paman Adi Sasono ini memang seorang pengagum Sukarno. Bahkan, di saat PKI berkampanye untuk membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Dahlan memiliki peran yang tak kecil untuk mencegahnya. Padahal, saat itu PKI banyak diberi angin oleh Sukarno. Memang ada peran kepala staf Angkatan Darat (KSAD) saat itu, Ahmad Yani. Dahlan Ranuwihardjo dan Ahmad Syafi’i Ma’arif sepakat hubungan Sukarno dengan Islam politik tidak memiliki pola tertentu, tidak stabil, dan tergantung pada situasi. Mengapa? Mungkin, kita perlu merujuk pada Bernard Dahm. Penulis biografi Sukarno ini menyebutkan, sebagaimana Sukarno memanfaatkan marxisme untuk revolusi atau pemikir antikolonial untuk melawan kolonialisme, Bung Karno juga “mendekati” Islam karena agama ini dipeluk oleh mayoritas yang tentu tak bisa diabaikan. Islam ataupun marxisme, kata Dahm, hanyalah untuk membenarkan pendapat pribadinya. Tentu, tak harus sesinis itu. Sebab, menurut Syafi’i, Sukarno berjasa terhadap Islam karena ia mengajak umat untuk melakukan pembaruan lewat jargon rethinking ataupun reinterpretasi. Ia juga terkenal dengan istilah “api Islam” atau “memudakan pemahaman…

Read More

Sejarah Jilbab Dalam Peradaban Pra-Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dari sekian banyak pokok bahasan keislaman, hijab atau jilbab merupakan salah satu tema yang sering dibahas. Ada yang memandang persoalan jilbab melalui pintu literal semata. Dalam arti, bagi yang berpandangan seperti ini, apa-apa yang tercantum dalam Alquran dan hadis wajib hukumnya dilaksanakan. Husein Shahab tampaknya dapat dijadikan contoh kelompok ini. Dalam kata pengantar bukunya, Jilbab Menurut Alquran dan As-Sunnah, ia mengatakan, “Jilbab adalah satu hukum yang tegas dan pasti yang seluruh wanita Muslim diwajibkan Allah SWT untuk mengenakannya. Melanggar atau tidak mengakuinya berarti mengingkari salah satu hukum Islam yang esensial.” Kelompok kedua melihat jilbab melalui pintu mistikisme. Kelompok ini meletakkan jilbab sebagai sebuah pengalaman keagamaan melalui ibadah-ibadah ritual. Sedapat mungkin mereka menjalani hidup sesuai dengan apa-apa yang diyakini dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Menurut Dedy Mulyana dalam Islam: Antara Simbol dan Identitas, pemakaian jilbab yang dilandasi pengalaman keagamaan merupakan cermin dari inner-states yang tulus. Jilbab di sini bukan instrumen untuk menyenangkan orang lain atau sekadar memenuhi persyaratan masuk ke dalam sebuah institusi. Namun, ini sebagai perwujudan rasa nyaman yang subjektif. Tema tentang jilbab dan pengalaman keagamaan ini dikupas lebih mendalam oleh Murtadha Muthahhari dalam bukunya, Hijab Gaya Hidup Wanita Muslimah. Menurutnya, pemakaian hijab untuk memberikan kenyamanan diri sudah dipraktikkan sejak zaman pra-Islam atau jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Ini dapat dijumpai di peradaban-peradaban India, Persia, dan Yunani kuno. Pada masyarakat India kuno, misalnya, motif pemakaian hijab ialah kecenderungan ke arah kerahiban. Ini sebuah perjuangan melawan kesenangan dan menaklukkan ego diri. Murtadha menengarai, praktik pemakaian hijab berasal dari India. Kelompok agamawan setempat membuat batas antara wanita dan pria dalam rangka kerahiban. Konsep ini, menurutnya, lantas berkembang dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Adapun pemakaian hijab di Persia lebih didasari alasan sosial. Pada zaman dahulu, jaminan keamanan untuk wanita dan anak-anak sangat kurang. Will Durrant dalam buku History of Western Civilization menulis ihwal situasi di zaman Iran kuno. Menurutnya, hijab sudah menjadi tradisi di Iran sejak zaman lampau. Apa-apa yang biasa ditemui pada kaum wanita Iran sekarang pada dasarnya berhubungan dengan Iran pra-Islam, bukan Iran setelah Islam. Pada masa kekuasaan Imperium Sassaniyah, jika seorang raja atau pangeran mendengar kecantikan seorang wanita, ia pasti mencari dan membawanya. Gagasan mengenai hijab di Iran ketika itu berkaitan erat dengan kehormatan seorang wanita yang harus dijaga dari pria lain yang mengintainya. (jeha) Baca juga :

Read More

Ubaya dan UPN Surabaya Latih Warga Mojokerto Budidaya Tanaman Organik

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Desa Tanjungan merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto. Desa ini memiliki potensi besar berupa wisata alam yang cukup terkenal yaitu Ekowisata Waduk Tanjungan, berupa waduk dan hutan. Saat ini kunjungan wisatawan ke Ekowisata Waduk Tanjungan cukup tinggi, rata-rata 1.000 orang pengunjung per bulan. Sebagai desa yang mempunyai obyek wisata berbasis lingkungan dan budaya, dapat menjadi daya tarik Desa Tanjungan dan bisa menciptakan efek ganda pada aspek ekonomi. Adanya obyek wisata tersebut memberi dampak munculnya usaha kreatif baik kuliner maupun kerajinan untuk pembuatan souvenir, dan lain-lain. Sayangnya masyarakat desa belum mampu memanfaatkan potensi secara optimal. Berangkat dari kondisi ini, tim gabungan dari Universitas Surabaya (apt. Kartini, Ph.D., Dr. Idfi Setyaningrum, M.Si, dan Prof. Dr. Jatie K. Pudjibudojo, Psi.) serta Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (Dr. Ir. Ramdan Hidayat, M.S.) menggagas suatu program dengan judul “Etalase Tanaman Obat Keluarga sebagai Pilar Kemandirian Kesehatan Masyarakat Desa Tanjungan Kabupaten Mojokerto”. Program yang akan dilaksanakan selama tiga tahun ke depan ini mendapat dukungan pembiayaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui skema hibah Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) dengan nomor kontrak 007/SPP-PPM/LPPM-02/Dikbudristek/FF/VI/2024. Salah satu kegiatannya berupa pendampingan mitra untuk membuat Etalase Tanaman Obat. Menurut Kartini selaku ketua program, etalase tanaman obat adalah sebidang tanah di area umum (public area) atau area keluarga yang ditanami tanaman obat dengan ditata atau diatur sesuai dengan potensi lahan dan dengan menerapkan nilai estetika sehingga enak dipandang mata. “Ekowisata Waduk Tanjungan masih memiliki beberapa spot area yang belum termanfaatkan, nah ini dapat digunakan untuk pembuatan Etalase Tanaman Obat. Dengan adanya spot baru ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, selain hasil panennya nanti juga dapat digunakan oleh warga untuk menjaga kesehatan keluarga,” terangnya kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (17/8/2024). Untuk membuat etalase yang benar, telah dilakukan pelatihan budidaya tanaman obat secara organik. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh Ramdan Hidayat selaku anggota tim yang juga ahli di bidang agroteknologi. Banyak hal dipaparkan Ramdan, mulai dari potensi budidaya tanaman obat, manfaat tanaman obat untuk kesehatan, jenis tanaman obat dan sistem perbanyakannya, hingga bagaimana cara merancang etalase tanaman obat. (tin) Baca juga :

Read More