Kisah Umar bin Khattab Saat ke Yerusalem Naik Unta Pinjaman

Jakarta — 1miliarsantri.net : Contoh-contoh kesederhanaan para pemimpin Islam yang mendapat bimbingan dari Rasulullah SAW sangat banyak. Satu di antaranya yakni kesederhanaan Umar bin Khattab RA saat menjadi khalifah atau pemimpin negara sekaligus umat Islam. Umar bin Khattab adalah contoh manusia yang berhasil menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam semua sendi kehidupannya. Setiap tindakannya senantiasa seperti yang diajarkan Rasulullah. Kehidupan Umar begitu sederhana, tawadhu, dan tidak menyombongkan statusnya sebagai seorang Khalifah. Umar selalu mengisi hari-harinya dengan mempraktikan yang dicontohkan Rasulullah. Kesederhanaan Umar sebagai seorang hamba Allah dan pengikut Rasulullah terus berlanjut bahkan kendati ia berhasil menaklukkan Bizantium dan bangsa-bangsa lainnya. Umar sedikit pun tak mengubah gaya hidupnya. Ada kisah menarik yang menggambarkan ketawadhuan Umar bin Khattab, seperti dikutip dalam buku Cahaya Abadi Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia karya Fethullah Gulen. Ketika Al Quds (Yerusalem) dulu berhasil ditaklukkan pasukan Islam, ternyata para pendeta yang berada di kota suci itu tidak bersedia menyerahkan kunci kota kepada panglima pasukan muslim yang telah memenangi pertempuran. Para pendeta merasa tak menemukan orang yang pantas untuk menerima kunci kota suci itu. Kabar itu pun sampai pada Umar bin Khattab. Sang Amirul Mukminin pun langsung berangkat menuju Al Quds dengan mengendarai seekor unta yang dipinjamnya dari Baitul Mal. Di sepanjang perjalanan menuju Al Quds, Umar rela bergantian mengendarai unta pinjaman dari Baitul Mal itu dengan ajudannya. Ketika unta yang dikendarai Umar hampir sampai di gerbang Al Quds, tibalah ajudan Umar bin Khattab yang memperoleh giliran mengendarai unta itu. Umar pun turun dan mempersilakan ajudannya untuk naik ke punggung unta, sementara dirinya menuntun unta itu sambil berjalan. Ajudan Umar bin Khattab pun menolak karena merasa tak bisa membiarkan Amirul Mukminin memasuki Al Quds sambil berjalan menuntun unta yang dikendarai seorang pelayan. Dalam sekejap, seisi Yerusalem pun mendadak riuh oleh orang-orang yang tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang pemimpin tertinggi kekhalifahan Islam berjalan memasuki kota sambil menuntun unta yang dikendarai ajudannya sendiri. Ketika hal itu terlihat oleh para pendeta pemegang kunci kota mereka pun berujar “Memang seperti inilah sifat orang yang akan menerima kunci kota ini seperti yang telah disebutkan di dalam kitab suci kami.” Para pendeta itu pun langsung menyerahkan kunci kota Al Quds kepada Umar bin Khattab. (jeha) Baca juga :

Read More

Tips Mindfulness Dari Umar Bin Khattab

Jakarta — 1miliarsantri.net : Al-Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyampaikan sebuah hadist Rasulullah tentang pentingnya menundukkan hawa nafsu, رَجَعْنَا مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَي اْلجِهَادِ اْلأَكْبَرِ. قَالُوا: وَمَا جِهَادُ اْلأَكْبَرِ؟ قَالَ: جِهَادُ اْلقَلْبِ أَوْ جِهَادُ النَّفْسِ. Rasulullah bersabda, “Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” Para sahabat berkata, “Apakah jihad besar itu?” Nabi menjawab, “Jihad hati atau jihad nafsu.” Hadist tersebut disampaikan setelah kepulangan Nabi dan para sahabat dari perang Badar. Makna utamanya adalah berperang melawan hawa nafsu sama pentingnya dengan berperang melawan musuh yang memegang senjata. Makna lain dari sabda Rasulullah tersebut untuk memberi penekanan bahwa detik-detik perang melawan musuh sudah selesai, dengan perkataan beliau roja’na (kita sudah kembali). Artinya, medan bertempur telah ditinggalkan. Maka jangan sampai pikiran ini masih saja “menghadapi musuh”. Apa yang sudah terjadi maka lepaskanlah dan segera beralih kepada apa yang ada di hadapan kita sekarang. Selanjutnya Rasulullah menerangkan bahwa perjuangan yang kini sedang dihadapi adalah melawan hawa nafsu, maka inilah jihad yang ditempuh berikutnya. Bandingkan dengan orang-orang musyrik yang kalah dalam perang Badar, saat mereka kembali ke kampung halaman ternyata pikiran mereka masih saja “menghadapi musuh” padahal kenyataannya mereka sudah berada di rumah. Mereka masih menyimpan dendam, matanya tidak bisa tidur memikirkan apa yang sudah selesai tersebut. Itulah sebabnya mereka lanjut mengatur siasat pembalasan yang kelak menjadi perang Uhud. Alangkah indahnya Rasulullah yang mengajarkan agar pikiran kita benar-benar berada pada momentum yang sedang berlangsung. Apabila di medan tempur, tentu berjihad melawan musuh. Namun setiba di rumah, tinggalkan musuh dan waktunya berjihad melawan nafsu.Inilah yang disebut orang-orang barat di masa kini sebagai mindfulness, yaitu seni menikmati hidup menurut momen yang sedang berlangsung. Bukan momen yang telah berlalu. Contohnya ketika kemarin kita bertemu tetangga, lantas ia mengucapkan kalimat yang menyinggung perasaan kita. Tentu saja kita tersinggung ketika kemarin mendengarnya. Namun menjadi aneh, jika sampai hari ini kita masih tersinggung. Karena detik-detik proses mendengarnya sudah selesai. Artinya, momen tersebut harus sudah ditinggalkan. Jika kita terus memikirkan ucapan tetangga tersebut, sama saja pikiran ini masih “menghadapi musuh”. Apa yang sudah terjadi maka lepaskanlah dan segera beralih kepada apa yang ada di hadapan kita sekarang. Tak salah jika Sahabat Umar bin Khattab memberi tips mindfulness seperti tersebut dalam kitab Al-Iqdul Farid, إذا سمعت الكلمة تؤذيك فطأ طئ لها حتى تتخطاك “Jika engkau mendengar kata-kata yang menyakitkan dirimu tundukkanlah kepalamu sehingga kata-kata tersebut berlalu.” Mengertilah kita bahwa prinsip live in the moment (hidup pada saat yang sedang berlangsung) adalah warisan dari Rasulullah dan para sahabat. Sejatinya bila kita praktikkan dengan sungguh-sungguh akan diperoleh kedamaian sejati. Karena kita tak perlu meresahkan apa yang sudah berlalu. (yan) Baca juga :

Read More

Siswi Madrasah Muallimaat Juarai Kompetisi Internasional di Thailand

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Tim Hizbul Wathan Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta meraih prestasi ajang International Scout Camp (ISC) di Thailand. Tim yang terdiri lima siswi tersebut meraih silver award dan special award. Sebanyak 22 peserta didik Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta mengikuti kegiatan kepanduan ISC di Thailand pada tanggal 20-28 Agustus 2024 di Sangkhom Islam Wittaya di Sadao District Songkhla Thailand. Kegiatan ISC yang telah berlangsung selama lima tahun ini diikuti oleh tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand. Terdapat beberapa pelatihan yang harus diikuti oleh 22 peserta dari Mu’allimaat sebelum melaksanakan perkemahan Internasional di Songkhla Thailand, di antaranya pelatihan manajemen diri, leadership, tapak suci, baris berbaris, public speaking, tali temali, membuat karya batik tulis, pengolahan limbah organik, membuat yel-yel dan pengelolaan limbah maggot. Tim yang terdiri dari 5 siswi ini mengusung tema kelestarian lingkungan dengan mengulik topik pengelolaan limbah sebagai upaya penanganan pencemaran lingkungan akibat limbah. Tim inovasi menawarkan solusi penanganan cemaran limbah anorganik dengan pembuatan ecobrick. Sementara limbah organik dapat diolah dengan bantuan budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF). Sebagai negara berkembang, topik ini menarik untuk dibahas karena ide inovatif sekaligus meningkatkan nilai tambah dari limbah. Ecobrick ditampilkan dalam presentasi limbah anorganik, berdampingan dengan partisi dari botol gelas minuman bekas untuk tirai hiasan. Penjurian dengan pemaparan singkat, penampilan model, dan tanya jawab. Inovasi ini tergolong baru di Thailand, terutama inovasi budidaya maggot. Harapannya, ide yang diusung dapat diterapkan di lokasi setempat dengan modifikasi. Presentasi dilaksanakan pada Kamis, 22 Agustus 2024 dan diikuti oleh 24 tim inovasi. (mif) Baca juga :

Read More

Mengenal Suku Kalang

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kerajaan Majapahit seperti yang kita ketahui sangat berambisi menyatukan nusantara, dimana salah satunya adalah tanah Borneo. Majapahit sangat berambisi untuk menguasai tanah Borneo karena melalui informasi telik sandinya mengabarkan ada dua kerajaan yang sangat makmur di sana. Dua kerajaan tersebut adalah Tanjung Puri dan Nan Sarunai, sehingga pada 1356 M Majapahit mengirim ekspedisi militer pertamanya ke Borneo. Penyerangan pertama di tanah Borneo oleh Majapahit pada 1309 M, dengan 40.000 yang menyerang kerajaan Nan Sarunai. Akan tetapi penyerangan pertama mengalami kegagalan, disini peran Suku Kalang atau Wong Kalang terlihat. Dilansir melalui jurnal yang berjudul Asal Muasal Wong Jonegoro: Tinjauan Historis Hubungan Wong Kalang dan Masyarakat Samin Bojonegoro, yang di tulis oleh Firza Azzam Fadilla dan Agus Danugroho, kisah tentang kehadiran komunitas masyarakat kuno Kalang ternyata juga pernah termaktub dalam kitab paling sohor dari era Kerajaan Majapahit, Kitab Negarakertagama. Suku Kalang yang ditugaskan menjaga hutan dari serangan musuh, mereka mereka sendiri sudah lama dikenal sebagai orang-orang yang sakti mandraguna. Mereka bermukim di Pulau Jawa terkhusus di wilayah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, contohnya di Kabupaten Blora dan Rembang di Jawa Tengah, serta di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban di Jawa Timur. Dalam perang melawan Dayak suku Kalang membawa kemenangan hebat bagi Majapahit, sehibgga memberikan kegembiraan. Pasukan dayak tunduk pada Wong kalang pasalnya kemampuan pasukan Kalang sangat luar biasa di medan pertempuran. Selain itu, dengan kesaktiannya, mereka juga dipekerjakan sebagai pembuat candi, suku ini merupakan pasukan Majapahit yang kuat namun sayangnya mereka bar – bar. Konon, Wong Kalang mampu mengangkat batu yang sangat besar, ketika berperang melawan suku Dayak yang dikenal sakti pun Majapahit banyak membawa tentara Kalang, sehingga akhirnya memperoleh kemenangan besar. (jeha) Baca juga :

Read More

Raja Jawa yang tak Takut kepada Penjajah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kerajaan Mataram Islam berada di puncak kejayaan saat dipimpin Sultan Agung. Raja Jawa tersebut dikenal tak tunduk kepada penjajah dari negeri Eropa: Belanda. Sultan Agung adalah raja dari Kerajaan Mataram yang berkuasa pada tahun 1613-1646. Ia memiliki ambisi besar untuk mempersatukan Pulau Jawa sehingga untuk memenuhi keinginan kuatnya tersebut dia mulai menaklukan wilayah sekitar kerajaan hingga ke daerah yang lebih jauh. Tak hanya di wilayah tengah Jawa saja, gerakan ekspansi Mataram juga hingga ke tanah Pasundan. Bahkan dia berambisi menaklukkan Batavia yang saat itu dikuasai VOC dan mencoba menaklukkan Banten. Dua kekuatan itu belum bisa ditaklukkan hingga Sultan Agung lengser. Dari dua kekuatan tersebut, hadirnya VOC yang saat itu sebagai penguasa di Batavia menjadi kendala terbesar bagi Sultan Agung. Bahkan dari dua kali penyerbuan, Pasukan Mataram tak bisa menembus Benteng Batavia. Pada 1628 dan 1629, Pasukan Mataram yang menyerbu Batavia gagal total setelah semangat juang pasukan Mataram turun drastis lantaran kehabisan bahan makanan. Salah satu lumbung pangan di Tegal dan Cirebon dihancurkan dan dibakar kompeni, sehingga pasukan Mataram kelaparan hingga banyak yang meninggal dunia. Saat itu banyak prajurit Mataram meninggalkan medan perang untuk mencari makanan ke hutan-hutan. Keadaan ini diperparah dengan ditolaknya permintaan bantuan bahan makanan kepada Banten. Kekurangan bahan makanan yang tidak bisa diatasi tersebut, membuat Sultan Agung terpaksa menarik mundur pasukan Mataram dari medan perang. Kisah Raja Jawa yang tak Takut BelandaNama asli Sultan Agung Hanyokrokusumo yang lahir pada 1593 dan wafat pada 1645) adalah Raden Mas Jatmika. Dia dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Sultan Agung merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Sultan Agung naik takhta pada tahun 1613 dalam usia 20 tahun dan dikenal sebagai salah satu raja yang berhasil membawa kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada 1627, tepatnya setelah empat belas tahun Sultan Agung memimpin kerajaan Mataram Islam. Pada masa pemerintahan Sultan Agung daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura berhasil ditaklukan. Di bawah pemerintahannya, wilayah kekuasaan Mataram Islam meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Kehadiran Sultan Agung sebagai penguasa tertinggi, membawa Kerajaan Mataram Islam kepada peradaban kebudayaan pada tingkat yang lebih tinggi. Sebagai seorang raja, Sultan Agung memiliki berbagai keahlian. Mulai dari bidang militer, politik, ekonomi, sosial dan budaya,yang menjadikan peradaban kerajaan Mataram pada tingkat yang lebih tinggi. Sultan Agung merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran melakukan perlawanan dengan Belanda yang kala itu hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Ooos Indische Compagnie). Perlawanan Sultan Agung terhadap VOC di Batavia dilakukan pada tahun 1628 dan 1629. Sultan Agung melakukan perlawanan karena dia menyadari kehadiran VOC di Batavia dapat membahayakan hegemoni kekuasaan Mataram Islam di Pulau Jawa. Saat itu kekuasaan Mataram Islam meliputi hampir seluruh Jawa dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara saat itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia. Selain itu, kehadiran VOC akan menghambat penyebaran agama Islam di Jawa yang dilakukan Sultan Agung. Sultan Agung memiliki prinsip untuk tidak penah bersedia berkompromi dengan VOC maupun penjajah lainnya. Namun serangan Mataram Islam terhadap VOC yang berkedudukan di Batavia mengalami kegagalan disebabkan tentara VOC membakar lumbung persediaan makanan pasukan kerajaan Mataram Islam. Tak hanya di bidang politik dan militer, Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upaya yang dilakukan Sultan Agung antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Karawang, Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas dan subur. Sultan Agung juga meneruskan pendahulunya untuk meletakan dasar perkembangan Mataram Islam dengan memberikan pengajaran dan pendidikan kepada rakyat Mataram Islam. Karena itu, pada masa pemerintahannya, dia menempatkan ulama dengan kedudukan terhormat, yaitu sebagai pejabat anggota Dewan Parampara (Penasihat tinggi kerajaan). Dalam struktur pemerintahan kerajaan, dia mendirikan Lembaga Mahkamah Agama Islam, dan gelar raja-raja di Mataram Islam meliputi raja Pandita. Artinya di samping sebagai penguasa, raja juga sebagai kepala pemerintahan dan kepala agama (Islam). Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Misalnya grebeg disesuaikan dengan Hari Raya Idul Fitri dan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang saat ini dikenal sebagai garebeg Puasa dan Grebeg Maulud. Penanggalan tahun saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing juga ditulis Sultan Agung Sultan menjadi sebagai tuntunan hidup trah Mataram. Di bidang kebudayaan, Sultan Agung mengubah perhitungan peredaran matahari ke perhitungan peredaran bulan. Berkat semua yang dilakukannya dalam memajukan agama dan kebudayaan Islam, Sultan Agung pun mendapatkan gelar Susuhunan (Sunan) yang selama ini diberikan kepada Wali. Di lingkungan keraton Mataram Islam, Sultan Agung menetapkan pemakaian bahasa Bagongan yang harus dipakai oleh para bangsawan dan pejabat demi untuk menghilangkan kesenjangan satu sama lain. Kebijakan ini diharapkan dapat terciptanya rasa persatuan di antara penghuni istana. Ketika dia merasa ajalnya sudah dekat, menjelang 1645 Sultan Agung membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja Kesultanan Mataram. Dia menjadi yang pertama. Sesuai dengan wasiatnya, Sultan Agung yang meninggal dunia tahun 1645 digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Sayidin sebagai raja Mataram. Baca Juga : .

Read More

Lebih dari 3.000 Orang Menjadi Mualaf di Uni Emirat Arab

Riyadh — 1miliarsantri.net : Lebih dari 3.000 penduduk dan pengunjung di Uni Emirat Arab (UEA) memeluk Islam di paruh pertama 2024. Statistik mengejutkan tersebut disampaikan oleh Departemen Urusan Islam dan Kegiatan Amal di Dubai, yang diwakili oleh Pusat Kebudayaan Islam Mohammed Bin Rashid. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan akan minat pada agama Islam dan upaya yang dilakukan untuk mengenalkan ajaran-ajaran Islam pada masyarakat. “Lebih dari 3.000 orang memeluk Islam menandakan keberhasilan upaya kami dalam mempromosikan pesan toleransi dan pemahaman yang disampaikan oleh agama mulia kami,” terang Direktur Eksekutif Sektor Urusan Islam, Dr Omar Mohammed Al Khateeb, seperti dikutip dari Gulf Today, Sabtu (31/8/2024). Omar Mohammed menambahkan, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik namun mewakili transformasi dalam kehidupan masyarakat dan keinginan mereka untuk mengadopsi nilai-nilai perdamaian dan cinta kasih. “Di Pusat Kebudayaan Islam Mohammed Bin Rashid, kami berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh kepada semua mualaf baru melalui program pendidikan komprehensif yang dirancang untuk menawarkan pemahaman Islam yang mendalam dan menyeluruh. Kami juga berdedikasi untuk memfasilitasi adaptasi dan integrasi mereka. ke masyarakat dengan menyediakan sumber daya dan bimbingan yang diperlukan.” sambungnya. Omar mencatat bahwa Pusat Kebudayaan Islam Mohammed Bin Rashid terus melakukan serangkaian inisiatif dan acara yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran beragama dan mendorong keterlibatan positif dengan masyarakat. Selain itu, ia memberikan dukungan dan bimbingan kepada individu yang tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang Islam. Pendekatan ini selaras dengan visi Dubai untuk mempromosikan nilai-nilai toleransi dan keragaman budaya serta mencerminkan upaya berkelanjutan emirat untuk membangun komunitas yang beragam dan saling berhubungan. (dul) Baca juga :

Read More

Penaklukan yang Sukses Ini Pernah Dinubuatkan Rasulullah SAW

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rasulullah SAW pernah menubuatkan beberapa penaklukan penting dalam sejarah Islam. Rasulullah telah menyatakan terlebih dahulu berbagai penalukan yang akan terjadi di masa depan, yang kemudian terbukti benar. Nubuat Rasulullah tentang penaklukan yang sukses dilakukan umat Islam telah dijelaskan dalam hadits berikut ini: عن جابر بن عبدالله قال إنه أثناء حفر الخندق خارج المدينة لصد جيش مقبل، عرض لنا صخرة في مكان من الخندق لا تأخذ فيها المعاول، وقد أصاب النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه جهد شديد حتى ربط النبي صلى الله عليه وسلم على بطنه حجرا من الجوع، قال فشكوا إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فجاء رسول الله صلى الله عليه و سلم قال عوف وأحسبه قال وضع ثوبه ثم هبط إلى الصخرة فأخذ المعول فقال بسم الله فضرب ضربة فكسر ثلث الحجر وقال الله أكبر أعطيت مفاتيح الشام والله انى لأبصر قصورها الحمر من مكاني هذا ثم قال بسم الله وضرب أخرى فكسر ثلث الحجر فقال الله أكبر أعطيت مفاتيح فارس والله انى لأبصر المدائن وأبصر قصرها الأبيض من مكاني هذا ثم قال بسم الله وضرب ضربة أخرى فقلع بقية الحجر فقال الله أكبر أعطيت مفاتيح اليمن والله انى لأبصر أبواب صنعاء من مكاني هذا. عن أبي ذر(رضي الله عنه) أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: ستفتحون مصر، وهي أرض يسمى فيها القيراط، فاستوصوا بأهلها خيرا، فإن لهم ذمة ورحما، فإذا رأيت رجلين يقتتلان في موضع لبنة فاخرج منها” Artinya: (Dari Jabir bin Abdullah, dia mengatakan bahwa ketika menggali parit di luar kota untuk mengusir tentara yang mendekat, dia menunjukkan kepada kita sebuah batu di suatu tempat di parit yang tidak bisa diambil dengan sekop, dan para sahabatnya begitu kelelahan hingga Nabi Muhammad SAW mengikatkan batu ke perutnya karena lapar dan memberinya kedamaian, dan Rasulullah SAW datang. Dia berkata, ‘Beliau mengenakan bajunya, lalu turun ke batu dan mengambil beliung (kapak).’ Beliau berkata, ‘Bismillah’ dan beliau memukul, memecahkan sepertiga dari batu itu, dan berkata, ‘Allahu Akbar aku diberi kunci Syam, dan demi Allah, saya bisa melihat istana merahnya dari tempat ini’. Kemudian beliau berkata, “Bismillah”, dan memukul lagi, memecahkan sepertiga dari batu itu. Beliau berkata, “Allahu Akbar, aku telah diberikan kunci ke Persia. Demi Allah, saya dapat melihat kota-kota dan melihat istana putihnya.” Kemudian dia berkata, “Bismillah,” dan memukul lagi, merobohkan sisa batu itu, “Allahu Akbar, saya telah diberikan kunci ke Yaman. Demi Allah, saya bisa melihat gerbang Sana’a dari tempat saya ini.” Dari Abu Dzar ra, sesungguhnya Rasulullah SAW juga bersabda: ‘Kalian akan menaklukkan Mesir, yang merupakan tanah di mana Qirat disebut, jadi bersikap baiklah kepada rakyatnya, karena mereka memiliki komitmen dan kasih sayang. Jika kalian melihat dua orang laki-laki berkelahi di tempat batu bata, keluarlah dari sana’). Nubuwat Rasulullah di atas disampaikan saat Perang Khandaq yang terjadi pada tahun 627 Masehi (5 Hijriah). Apa yang Rasulullah kabarkan dalam hadits ini terjadi beberapa waktu kemudian. Negeri pertama yang berhasil ditundukkan adalah Yaman. Penaklukan Yaman oleh umat Islam merupakan bagian dari ekspansi Islam yang terjadi pada era Nabi Muhammad SAW. Penaklukan ini berlangsung pada masa pemerintahan gubernur Yaman saat itu, Badzan bin Sasan. Awalnya, Badzan menerima surat dari Raja Persia yang menolak ajakan Rasulullah, Kisra Abrawiz. Isinya, raja yang mengaku Tuhan itu menginstruksikan agar Badzan menangkap dan membawa Nabi Muhammad SAW kepadanya. Namun, Badzan justru sedikit tertarik pada ajaran tauhid, walakin ia masih ragu-ragu meninggalkan agama Majusi. Dia lalu berpesan kepada utusannya, jika betul wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad SAW bahwa Kisra meninggal, maka dia akan memeluk Islam. Satu setengah bulan kemudian, datanglah utusan dari istana Persia ke Sana’a (Yaman) yang mengabarkan kematian Kisra tepat pada waktu yang telah diramalkan sebelumnya oleh Rasulullah SAW. Penguasa kafir itu beserta saudara-saudaranya tewas ditikam anaknya sendiri yang bernama Syiraweh. Setelah menerima kabar tersebut, Badzan bin Sasan mengumumkan beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Seluruh rakyatnya kemudian mengikutinya, mengucapkan dua kalimat syahadat. Sejak saat itu, Yaman berada dalam naungan kedaulatan Islam. Penaklukan negeri Syam oleh umat Islam merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Penaklukan Syam berlangsung sekitar 6-7 tahun, dimulai tahun 12 Hijriyah era khilafah Abu Bakar hingga tahun 19 Hijriyah pada masa Khalifah Umar. Sebelum penaklukan Islam, Syam merupakan bagian dari Kekaisaran Bizantium, salah satu kekaisaran terbesar di dunia pada saat itu. Syam memiliki populasi yang cukup besar, termasuk komunitas Kristen dan Yahudi, serta merupakan pusat perdagangan dan budaya yang penting. Damaskus adalah salah satu kota pertama yang ditaklukkan oleh pasukan Muslim. Setelah pertempuran sengit, kota ini akhirnya menyerah dan menjadi salah satu pusat administrasi dan militer utama umat Islam di Syam. Pada awal abad ke-7, Persia berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Sassaniyah, yang saat itu merupakan salah satu kekaisaran terbesar dan paling kuat di dunia. Namun, Sassaniyah mengalami penurunan kekuatan akibat konflik internal, perang yang berlarut-larut dengan Kekaisaran Bizantium, serta pergolakan sosial dan ekonomi di dalam negeri. Perang Qadisiyyah (636 M) adalah pertempuran yang menentukan antara pasukan Muslim yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqas dan pasukan Sassaniyah. Pasukan Muslim berhasil meraih kemenangan besar, yang membuka jalan menuju ibu kota Sassaniyah. Setelah meraih kemenangan dalam beberapa pertempuran, wilayah Persia secara bertahap berada di bawah kendali Muslim. Penaklukan Persia memiliki dampak besar dalam sejarah Islam dan Persia. Wilayah Persia menjadi bagian dari Kekhalifahan Islam dan memberikan kontribusi penting dalam perkembangan peradaban Islam, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan administrasi. Meskipun penduduk Persia akhirnya mengadopsi Islam, banyak aspek budaya dan tradisi Persia yang bertahan dan terintegrasi ke dalam dunia Islam. Penaklukan ini juga mengakhiri Kekaisaran Sassaniyah, yang merupakan salah satu peradaban besar di dunia saat itu. Penaklukan Persia merupakan salah satu contoh bagaimana umat Islam berhasil memperluas wilayahnya dengan strategi militer yang efektif, keteguhan iman, serta kepemimpinan yang kuat. Penaklukan Mesir ini terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, di bawah kepemimpinan panglima Amr bin Ash pada tahun 641 M. Mesir kemudian menjadi salah satu pusat kekuatan Islam dan menyebarkan pengaruh Islam ke wilayah-wilayah sekitarnya. Penaklukan dimulai ketika pasukan Muslim memasuki Mesir pada tahun 639 M melalui rute yang sekarang dikenal sebagai Semenanjung Sinai. Amr bin Ash memimpin pasukan kecil yang awalnya terdiri dari sekitar 4 ribu orang (sumber lain…

Read More

Sejarah Gresik dari dulu Hingga Kini

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kabupaten Gresik, merupakan kota yang terletak di pesisir utara Jawa Timur, memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Perannya sebagai pusat perdagangan maritim sejak abad ke-11 menjadikan Gresik salah satu kota tertua di Jawa dengan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan Islam di Nusantara. Gresik pada Masa Lalu: Pusat Perdagangan Maritim Pelabuhan Internasional: Sejak abad ke-11, Gresik telah menjadi pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai negara seperti Cina, Arab, India, dan Persia. Letaknya yang strategis di muara Bengawan Solo membuatnya menjadi titik pertemuan jalur perdagangan yang menghubungkan Jawa dengan wilayah lain di Nusantara bahkan hingga ke luar negeri. Komoditas Perdagangan: Komoditas yang diperdagangkan di Gresik sangat beragam, mulai dari rempah-rempah, hasil pertanian, hingga barang-barang mewah. Kemakmuran Gresik sebagai kota perdagangan menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat perekonomian di Jawa.Peran Gresik dalam Penyebaran Islam. Kedatangan Maulana Malik Ibrahim: Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Gresik adalah kedatangan Maulana Malik Ibrahim, seorang ulama besar yang berasal dari Persia. Beliau dianggap sebagai salah satu Wali Songo yang berperan besar dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Pusat Penyebaran Islam: Dengan kedatangan Maulana Malik Ibrahim, Gresik menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa. Beliau mendirikan pesantren dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Kerajaan Giri Kedaton: Setelah wafatnya Maulana Malik Ibrahim, muridnya, Sunan Giri, mendirikan Kerajaan Giri Kedaton. Kerajaan ini menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Timur dan memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan budaya dan peradaban di Nusantara. Gresik pada Masa Kolonial Kedatangan VOC: Sama seperti daerah-daerah lain di Jawa, Gresik juga tidak luput dari pengaruh kolonialisme Belanda. Kedatangan VOC di abad ke-17 membawa perubahan besar bagi Gresik, terutama dalam bidang ekonomi dan sosial.Perkembangan Perkebunan: Belanda mengembangkan perkebunan tebu dan tanaman lainnya di Gresik. Hal ini mengubah struktur sosial masyarakat Gresik dan memunculkan kelas pekerja baru. Gresik Modern Pusat Industri: Setelah kemerdekaan, Gresik terus berkembang menjadi pusat industri, terutama industri semen. PT Semen Gresik menjadi salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia.Kota Santri: Gresik juga dikenal sebagai kota santri karena memiliki banyak pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Potensi Wisata: Selain industri, Gresik juga memiliki potensi wisata yang cukup besar, seperti wisata religi, wisata sejarah, dan wisata pantai. Warisan Budaya GresikSeni dan Budaya: Gresik memiliki kekayaan seni dan budaya yang khas, seperti kesenian hadrah, rebana, dan karawitan. Kuliner: Kuliner khas Gresik juga sangat beragam, seperti nasi krawu, bandeng presto, dan rujak cingur. Sejarah Gresik adalah cerminan perjalanan panjang sebuah kota yang telah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan. Dari sebuah pelabuhan kecil yang ramai menjadi pusat perdagangan maritim, pusat penyebaran Islam, hingga kota industri modern, Gresik memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. (har) Baca juga :

Read More

Seni Lebon di Desa Wisata Selasari Pangandaran

Pangandaran — 1miliarsantri.net : Desa Wisata Selasari merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Desa Selasari menurut data sekunder dari RPJMDes telah ada sejak jaman penjajahan Jepang. Daerah yang berada pada ketinggian 200-500 mdpl ini memiliki luas wilayah lebih kurang 2.292.500 hektare (ha). Desa Wisata Selasari menawarkan wisata menjelajah desa dan sungai yang menyenangkan, seperti body rafting dan river tubing. Selain itu ada pula wisata alam seperti Bukit Pepedan Hills dan Goa Sutrareregan. Selain menawarkan wisata menjelajah sungan dan wisata alam, Desa Wisata Selasari juga menawarkan wisata seni dan budaya, yaitu Kesenian Lebon. Lebon atau yang saat ini dikenal dengan Kesenian Lebon mulai ada pada abad ke-17, yaitu sekitar tahun 1951-1952 dan mulai berkembang di Pangandaran sekitar tahun 1950-an. Lebon yang memiliki arti kubur/dikubur, pada zaman dahulu merupakan satu adat atau tradisi yang sering digunakan untuk menyelesaikan suaru permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan jalan kekeluargaan atau musyawarah, seperti permasalahan sengketa lahan atau sengketa wilayah. Permasalahan-permasalahan tersebut akan diselesaikan dengan cara pertarungan antara jawara dari tiap wilayah tersebut sampai mati. Adapun tempat dan waktu pertandingan akan dirundingan terlebih dahulu antar kedua utusan bobotoh dari tiap wilayah tersebut dengan dipimpin oleh sesepuh atau pimpinan daerah setempat. Sebelum memulai pertandingan biasanya setiap kubu akan melakukan ritual pemberangkatan dengan membakar kemenyan. Selain itu juga menyiapkan sesaji dan do’a bersama untuk keselamatan para jawara dan bobotoh yang akan yang akan ikut ke tempat pertandingan. Selain itu, para jawara juga akan diberikan doa khusus dengan jampi-jampi dan sebagainya untuk keselamatan mereka. Dalam pertandingan Lebon, jawara yang kalah dalam pertandingan akan langsung dikuburkan di tempat pertandingan oleh bobotohnya. Maka dari itu, setiap pertandingan Lebon, para bobotoh akan membawa peralatan untuk menguburkan jawaranya jikalau gugur dalam pertandingan. Peralatan yang dibawa antara lain: kain kafan, pacul, dan sekop. Selain peralatan untuk mengubur jawaranya yang gugur, para bbotoh juga membawa bunyi-bunyian untuk memberi semangat kepada jawaranya yang sedang bertanding. Saat ini para pegiat seni Lebon di Pangandaran masih terus berusaha mempertahankan agar kesenian ini tetap lestari dengan melakukan berbagai upaya inovasi, seperti penambahan alat musik dan pengembangan dalam seni pertunjukan. Namun, meskipun upaya inovasi telah dilakukan, tetap ada kendala-kandala yang harus dihadapi, antara lain: peralatan yang kurang memadai, tidak adanya euang pengenalan di publik karena seni Lebon hanya digunakan dalam acara tertentu saja tidajk seperti degung, ronggeng, dangdut dan yang lainnya, dan biaya yang diberikan untuk sekali pertunjukan sangat minim dengan permintaan konsep yang besar, sehingga mengurangi semangat para seniman untuk terus dapat melestarikan seni Lebon tersebut. (Jeha) Baca juga :

Read More

Daftar 10 Kota Terbengkalai dengan Arsitektur Sangat Indah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Hampir di seluruh dunia, kota-kota yang ramai dan kota-kota metropolitan yang semarak telah ditinggalkan begitu saja, beberapa di antaranya tampak sepi dalam semalam. Kota-kota terbengkalai ini, yang dulunya merupakan komunitas yang semarak, kini menawarkan sekilas masa lalu—dan situs-situs bersejarah seperti itu merupakan surga bagi fotografer sekaligus pengalaman yang menghantui bagi wisatawan potensial. Baik terletak di hutan lebat atau gurun tandus, kota-kota ini menanggung bekas luka waktu, memamerkan kecerdikan manusia sambil mengingatkan kita tentang keniscayaan pembusukan. Namun, dalam keadaan rusaknya, tempat-tempat ini memiliki kekuatan untuk memikat dan meresahkan kita secara setara. Di bawah ini, kami menjelajahi 10 kota terbengkalai paling menakjubkan di seluruh dunia, masing-masing menceritakan kisah indahnya yang menghantui. Kota Tua Al-‘Ula, Madinah, Arab Saudi Terletak di padang pasir yang disinari matahari di barat laut Arab Saudi, Kota Tua Al-‘Ula yang penuh teka-teki dicirikan oleh gang-gangnya yang berliku dan rumah-rumah bata lumpur kuno. Kota yang dulunya ramai ini, perhentian penting di Rute Dupa lebih dari 2.000 tahun yang lalu, berkembang sebagai surga bagi para pedagang dan peziarah. Itu terjadi, sampai modernisasi yang diantar pada tahun 80-an memikat penduduk kota itu. Tertarik ke rumah-rumah baru dengan fasilitas yang lebih baik, mereka meninggalkan kota yang membeku dalam waktu, rumah-rumahnya yang kosong dan jalan-jalan sempit menjadi pengingat komunitas yang dulu ramai. Saat ini, berbagai upaya sedang dilakukan untuk mengubah permata bersejarah ini menjadi tujuan wisata, termasuk mengubah 30 rumah bata lumpur menjadi Dar Tantora The House Hotel yang baru. Al Jazira Al Hamra, Ras Al Khaimah, UAE Hanya 90 menit di utara Dubai, di emirat Ras Al Khaimah, terdapat Al Jazira Al Hamra, kota hantu yang berakar dari awal abad ke-14. Dulunya merupakan desa nelayan dan perdagangan mutiara yang berkembang pesat, tempat ini sekarang dibatasi oleh rumah-rumah dari batu karang dan bata lumpur yang runtuh, masjid-masjid yang sunyi, dan pasar-pasar yang terbengkalai. Lukisan ini menggambarkan kehidupan yang jelas sebelum ledakan minyak, yang menyebabkan penduduk desa meninggalkan kota pada tahun 1960-an, meninggalkan potret kehidupan tradisional Emirat yang terpelihara dengan sempurna. Villa Epecuén, Imereti, Argentina Pada tahun 1985, Villa Epecuén lenyap di bawah air danau yang meluap di wilayah Imereti, Argentina. Kota resor tepi danau yang dulunya berkembang pesat itu langsung tenggelam di bawah air sedalam 33 kaki. Selama lebih dari dua dekade, jalan-jalan dan bangunannya terpelihara dalam keheningan bawah air, baru muncul dari kegelapan pada awal tahun 2000-an, ketika air di sekitarnya mulai surut. Kini, kota itu berdiri sebagai bukti nyata dari interaksi antara ambisi manusia dan kekuatan alam yang tak kenal lelah. Tskaltubo, Georgia Terkenal karena mata air mineralnya yang menyembuhkan dan sanatorium mewah era Soviet, Tskaltubo kini terletak dengan tenang di tengah lanskap Georgia yang hijau. Kota ini pernah menarik pengunjung yang mencari kesehatan dan kesenangan, aula-aulanya yang mewah menjadi bukti status kota ini sebagai tujuan resor kesehatan utama. Namun, runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an mengakhiri masa keemasan Tskaltubo secara tiba-tiba. Dengan pergolakan ekonomi datanglah pengabaian, dan sanatorium serta pemandian yang dulunya glamor menjadi rusak. Saat ini, arsitektur megah Tskaltubo berdiri sebagai bukti kejayaannya yang memudar—lengkungan yang menyapu, motif dekoratif, dan mural yang memudar semuanya mengingatkan pada keindahannya yang dulu menyentuh hati. Al-Madam, Sharjah, UEA Di lanskap gurun Sharjah terdapat Al-Madam, sebuah kenangan yang menghantui tentang komunitas gurun yang pernah berkembang pesat. Didirikan pada tahun 1970-an, Al-Madam dirancang sebagai upaya modernisasi pemerintah yang bertujuan untuk membentuk kembali lanskap selama penyatuan tujuh emirat. Dengan 12 rumah sederhana dan sebuah masjid di pusatnya, desa ini dulunya merupakan pusat kehidupan dan perdagangan Badui. Desa ini akhirnya ditelan pasir setelah ditinggalkan pada tahun 1990-an, meninggalkan sekumpulan rumah, toko, dan masjid yang setengah terkubur, yang dibuat dari lumpur dan batu bata—sebuah bukti arsitektur tradisional Emirat. Tianducheng, Shanghai, Tiongkok Tianducheng mungkin menyerupai Paris, tetapi jalanannya yang menyeramkan menceritakan kisah yang berbeda. Dibangun pada awal tahun 2000-an dengan rencana ambisius untuk meniru keanggunan dan pesona kota Prancis, kota replika ini kini membeku dalam waktu dan kosong. Jalan-jalan lebar dan bangunan-bangunan berwarna pastelnya tampak terbengkalai karena perhatian dan sumber daya dialihkan dari Tianducheng. Apa yang dimaksudkan sebagai pusat kehidupan perumahan dan komersial yang ramai kini telah direklamasi dengan lembut oleh alam, termasuk replika Menara Eiffel yang diperkecil. Kennecott, Alaska, AS Dengan mesin-mesin berkarat dan bangunan-bangunan terbengkalai, siluet tenang fasad merah tua Kennecott adalah satu-satunya yang tersisa dari kota ini yang telah mengalami musim dingin Alaska yang keras. Kennecott dulunya adalah kota pertambangan yang berkembang pesat dan ramai dengan aktivitas di awal abad ke-20, yang menyediakan kenyamanan dan komunitas bagi ratusan penduduk. Tambang tembaganya yang kaya menarik orang-orang dari jauh dan luas, yang memicu impian akan kemakmuran. Namun, seiring dengan menipisnya tambang dan bergesernya sumber daya, kota itu perlahan-lahan ditinggalkan, meninggalkan keheningan yang mencekam. Kini, ditinggalkan dan direklamasi oleh alam, kota itu dilestarikan sebagai kota hantu yang pernah membantu mengaliri listrik ke AS. Kereta Bawah Tanah Crystal Palace, London Tersembunyi di bawah jalan-jalan London, Crystal Palace Subway adalah terowongan kaki bergaya Victoria dan peninggalan era lampau. Dibuka pada tahun 1865 di samping stasiun kereta api ‘High Level’, labirin bawah tanah ini memiliki fitur-fitur yang meliputi elemen desain yang berhias, termasuk fasad bergaya Italia yang megah. Ini dimaksudkan untuk mencerminkan kemegahan Crystal Palace, sebuah bangunan dari besi dan kaca di Hyde Park, London, yang dibangun untuk menjadi tempat berlangsungnya Pameran Besar tahun 1851. Oleh karena itu, bangunan ini dimaksudkan untuk mengesankan pengunjung, meskipun kepentingannya memudar setelah Crystal Palace terbakar pada tahun 1936—yang menyebabkan penutupan stasiun pada tahun 1954. Pekerjaan restorasi sekarang sedang berlangsung, dipimpin oleh arsitek konservasi Thomas Ford & Partners, yang bertujuan untuk menghidupkan kembali permata tersembunyi ini. Craco, Matera, Italia Dengan arsitektur yang ditentukan oleh bentuk-bentuknya yang khas dan material yang kokoh, akar Craco mencerminkan perpaduan gaya Italia abad pertengahan dan pengaruh Norman. Dari tembok-temboknya yang dibentengi hingga detail ukiran rumit pada pintu dan jendela, warisan arsitektur kota ini menceritakan kisah tentang ketahanan, keahlian, dan, akhirnya, pengabaian. Seperti banyak pusat kota yang terbengkalai, Craco menghadapi kehancurannya karena serangkaian bencana alam—termasuk tanah longsor pada tahun 1963, banjir pada tahun 1972, dan gempa bumi pada tahun 1980—yang membuat daerah tersebut tidak aman bagi penduduk, yang menyebabkan…

Read More