Hukuman Apa yang Pantas Bagi Pelaku Koruptor Dalam Pandangan Islam

Situbondo – 1miliarsantri.net : Virus kejahatan yang sangat merugikan banyak orang dan menggerogoti berbagai sendi kehidupan berbangsa adalah korupsi. Pelaku koruptor ini bukan hanya membuat negara rugi secara materi, tapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat. Kejahatan ini dalam Islam dikategorikan sebagai perbuatan ghulul (pengkhianatan) dan sut (harta haram).. Dalam ajaran Islam, masalah korupsi ini dipandang serius. Hukuman bagi pelaku koruptor dalam Islam bukan sekadar soal menghukum demi efek jera, tapi juga sebagai upaya menjaga amanah dan keadilan. Sebab di mata Islam, korupsi adalah bentuk khianat terhadap kepercayaan yang diberikan, dan hukumnya jelas-jelas diatur agar masyarakat terlindungi dari kerusakan yang lebih besar. Di dalam Al-Qur’an, Allah sudah memperingatkan tentang kerasnya hukuman bagi orang yang berkhianat terhadap amanah. Rasulullah pun dengan tegas melarang perbuatan ini, bahkan menyebutnya sebagai salah satu bentuk dosa besar. Kenapa begitu keras? Karena pelaku koruptor bukan hanya soal mengambil uang saja, tapi juga menghilangkan hak orang lain, menimbulkan kesengsaraan, bahkan bisa memicu kerusakan sosial. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-nisa ayat 29 yang berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar)” Baca juga : Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024! KPK Gercep Cegah Eks Menag Yaqut Bepergian ke Luar Negeri Hukuman Bagi Koruptor dalam Pandangan Islam Hukuman bagi koruptor dalam Islam bisa berbeda-beda tergantung besarnya kerugian, dampak yang ditimbulkan, dan cara korupsi itu dilakukan. Ada beberapa bentuk hukuman yang dibahas para ulama diantaranya: 1. Pengembalian Harta yang Dicuri atau Disalahgunakan Dalam pandangan Islam, harta hasil korupsi wajib dikembalikan kepada pemiliknya atau ke kas negara. Jika sudah meninggal, maka ahli warisnya yang bertanggung jawab mengembalikannya. Hal ini bentuk tanggung jawab pertama sebelum hukuman lainnya diterapkan. 2. Ta’zir (Hukuman yang Ditentukan Penguasa) Ta’zir adalah hukuman yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh pemimpin atau penguasa, sesuai tingkat kesalahan. Bentuknya bisa berupa penjara, denda, pemecatan dari jabatan, atau hukuman sosial lainnya. Hukuman ini sifatnya fleksibel, tapi tujuannya jelas, memberikan efek jera dan mencegah orang lain meniru perbuatan yang sama. 3. Hudud (Jika Tergolong Pencurian)

Read More

Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Adab: Ketika Layar Televisi Menguji Martabat Santri

Kediri – 1miliarsantri.net | BAYANGKAN suasana pondok pesantren dimulai dengan semangat resolusi jihad. Santri-santri bangun sebelum subuh, berwudu di air yang dinginnya menggigit, lalu berbaris menuju musala. Dari kejauhan, terdengar lantunan ayat suci yang menggetarkan hati. Namun beberapa hari lalu, keheningan dunia pesantren itu tiba-tiba terusik. Sebuah tayangan di televisi—“Xpose Uncensored” di Trans7—menyajikan kehidupan santri dengan nada mengejek, seolah dunia pesantren hanyalah tempat konyol dan kolot. Seolah-olah sebagai manifestasi semangat resolusi jihad bergema di mana-mana disuarakan khususnya para alumni pondok Lirboyo. Gelombang reaksi pun datang deras, seperti ombak yang menghantam pantai. Media sosial mendidih. Alumni pesantren, kiai, dan masyarakat menuntut klarifikasi. Namun dengan menjunjung nilai revolusi adab. Tapi di balik riuhnya kemarahan itu, ada pertanyaan yang menggantung di udara: Apakah ini hanya soal tayangan yang salah arah, atau ada sesuatu yang lebih dalam sedang diuji? Api Lama yang Menyala Lagi Hari Santri Nasional—22 Oktober—ditetapkan untuk mengenang momen bersejarah Resolusi Jihad tahun 1945. Saat itu, ribuan santri bangkit melawan penjajahan. Mereka tak memegang mikrofon atau kamera, tapi bambu runcing dan tekad yang tak tergoyahkan. Seruan KH Hasyim Asy’ari menggema: membela tanah air adalah bagian dari iman. Namun, 80 tahun berselang, bentuk “penjajahan” berubah rupa. Tidak lagi berupa senjata, tetapi berupa narasi yang menyesatkan. Jika dulu santri berhadapan dengan tentara asing, kini mereka menghadapi opini publik yang mudah terbentuk hanya karena potongan video. “Xpose Uncensored” hanyalah satu contoh dari banyaknya tontonan yang mencoba memutar makna—bahwa kesopanan dianggap kuno, dan adab dianggap ketinggalan zaman. Baca juga: Hari Santri dan “Cermin Retak” di Layar Televisi Pertempuran Baru di Dunia yang Berisik Bayangkan: para santri yang setiap hari belajar sopan santun dan menahan amarah, tiba-tiba menjadi bahan candaan di layar nasional. Tapi alih-alih melawan dengan kata-kata kasar, mereka menulis surat terbuka. Mereka berdiskusi, berdoa bersama, dan menegur dengan santun. Inilah gaya perjuangan santri masa kini—bukan dengan amarah, tapi dengan adab. Inilah revolusi adab—versi baru dari resolusi jihad. Jika dulu santri mengusir penjajah dari tanah air, kini mereka berjuang melawan penjajahan moral dan logika. Senjatanya bukan lagi bambu runcing, tapi pena, naskah, dan keberanian menjaga kebenaran di tengah bisingnya dunia digital. Dan di sinilah kisahnya menjadi semakin menarik. Bayangkan seorang santri muda yang duduk di depan televisi, melihat tayangan itu dengan dada berdebar. Ia marah, tapi juga sadar: ini bukan waktu untuk berteriak, ini waktu untuk membuktikan dengan tindakan. Maka ia mulai menulis, berdakwah, dan menunjukkan keindahan pesantren lewat konten positif. Satu unggahan kecilnya mulai viral, dan publik mulai sadar—pesantren bukan tempat gelap, tapi taman ilmu dan cahaya.

Read More

Teologi Hijau, Jawaban Umat Islam atas Krisis Iklim

Malang – 1miliarsantri.net : Krisis iklim menjadi salah satu tantangan terbesar umat manusia abad ini. Perubahan iklim yang cepat dan dampak ekologis yang meluas mengancam keberlangsungan hidup di berbagai belahan dunia. Dalam konteks ini, umat Islam tidak hanya menjadi penonton, tetapi harus menemukan pijakan teologis yang kuat untuk merespons krisis iklim secara spiritual dan praktis. Teologi hijau hadir sebagai jawaban yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kesadaran lingkungan. Konsep ini menegaskan tanggung jawab umat dalam menjaga bumi sebagai amanah, sekaligus meneguhkan peran keimanan dalam menghadapi krisis iklim. Hal ini telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya: “Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi…” Ayat tersebut mengandung makna bahwa manusia memiliki amanah untuk mengurus bumi dan menjaga kelestariannya. Baca juga: Kisah Sukses Donatur yang Mengubah Hidup dengan Sedekah dan Wakaf Krisis Iklim dan Urgensi Teologi Hijau dalam Islam Krisis iklim telah mengakibatkan bencana alam yang lebih sering terjadi, seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas yang ekstrem. Dampak ini tidak hanya menyangkut aspek fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi. Dalam Islam, alam adalah ciptaan Allah yang harus dipelihara dengan penuh tanggung jawab. Teologi hijau merupakan wujud konkret dari ajaran Islam yang mengedepankan harmoni manusia dengan lingkungan. Melalui pendekatan teologi hijau, umat Islam diajak memahami bahwa krisis iklim bukan semata persoalan teknis, melainkan juga masalah moral dan spiritual yang membutuhkan solusi berbasis nilai agama. Dalam konteks pesantren dan komunitas Muslim, teologi hijau menjadi bagian dari tradisi pembelajaran dan praktik keagamaan yang menanamkan nilai cinta lingkungan dan kesederhanaan. Dengan demikian, krisis iklim dapat dihadapi bukan hanya dengan teknologi, tetapi juga dengan perubahan sikap dan gaya hidup yang berakar pada ajaran Islam. Implementasi Teologi Hijau dalam Komunitas Muslim

Read More

Hari Santri dan “Cermin Retak” di Layar Televisi

(Sebuah Refleksi dari Kasus Xpose Uncensored Trans7) Kediri – 1miliarsantri.net | BEBERAPA hari menjelang Hari Santri Nasional, publik dikejutkan oleh tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7. Program itu menampilkan kehidupan pesantren dengan cara yang dianggap merendahkan. Narasinya menggambarkan santri dan kiai secara sinis—seolah tradisi pesantren penuh kepatuhan buta dan kemewahan tersembunyi. Tayangan berdurasi singkat itu langsung memantik gelombang protes. Tagar #BoikotTrans7 menggema di media sosial, suara santri dan alumni pesantren menyeru satu hal: “Marwah pesantren bukan bahan tontonan.” Kontroversi ini datang di momen yang tak biasa—tepat menjelang peringatan Hari Santri (22 Oktober), hari di mana bangsa Indonesia mengenang peran para santri dalam menjaga agama dan negara. Ironisnya, di saat publik seharusnya merayakan jasa dan ketulusan mereka, muncul justru tayangan yang menampilkan pesantren dengan kacamata salah. Namun, di balik riuhnya amarah publik, ada cermin yang seharusnya kita pandang lebih jernih: apa makna kesantrian di tengah derasnya arus media modern? Ketika Pesantren Disalahpahami Pesantren selama ini dikenal sebagai tempat lahirnya generasi berakhlak dan berilmu. Di balik tembok sederhana, para santri belajar makna ta’dzim (hormat), tawadhu’ (rendah hati), dan khidmah (pengabdian). Tradisi mencium tangan kiai, duduk sopan, bahkan minum sambil jongkok bukan simbol feodalisme, tapi latihan adab—sebuah pendidikan karakter yang sulit ditemukan di sekolah modern. Sayangnya, tayangan “Xpose Uncensored” menampilkan semua itu sebagai sesuatu yang lucu, kaku, bahkan kuno. Inilah tantangan zaman bagi dunia santri. Di tengah era digital yang serba cepat, nilai-nilai kesederhanaan dan kehormatan kerap disalahartikan. Media kadang lebih tertarik menyorot hal yang “aneh” ketimbang makna yang dalam. Padahal, pesantren bukan sekadar tempat tinggal para santri—ia adalah pusat peradaban moral bangsa. Baca juga: Aksi Damai Himpunan Alumni Santri Lirboyo di Brebes Warnai Gelombang Protes Nasional terhadap Trans7 Pelajaran dari Layar Kaca Kasus ini memberi pelajaran berharga, bukan hanya bagi Trans7, tetapi bagi kita semua. Media punya kekuatan luar biasa untuk membentuk persepsi publik. Sedikit kelalaian bisa berubah menjadi penghinaan terhadap nilai luhur. Di sisi lain, santri pun belajar bagaimana merespons kritik dan kesalahan dengan adab. Alih-alih membalas dengan kebencian, para santri menuntut klarifikasi dengan cara bermartabat—melalui surat terbuka, doa bersama, dan seruan moral.

Read More

Tradisi Maulid: Merawat Spiritualitas di Tengah Modernitas

Malang – 1miliarsantri.net : Di tengah derasnya arus digital dan tuntutan produktivitas, tradisi Maulid menjadi nafas penting sebagai penghubung manusia dengan akhlak dan rasa syukur. Tradisi Maulid bukan sekadar seremonial budaya, melainkan ruang refleksi spiritual yang mampu menjaga keimanan ketika dunia menggeser makna dengan kecepatan dan kemewahan.Melalui tradisi Maulid, umat Islam mendapat kesempatan meresapi kembali nilai luhur seperti akhlak, kasih sayang, toleransi, dan kepedulian sosial yang sering dilupakan di tengah kehidupan serba instan dan individualistik. Tradisi ini adalah pengingat bahwa spiritualitas tidak boleh tertinggal di tengah percepatan zaman. Tradisi Maulid sebagai Medium Pendidikan Nilai Tradisi Maulid menyajikan kisah Nabi Muhammad SAW sebagai teladan moral yang hidup. Ceramah dalam tradisi Maulid mengajak pendengar tidak hanya untuk memahami sejarah, tetapi juga menginternalisasi nilai kejujuran, rasa syukur, dan kesederhanaan dalam tindakan sehari-hari. Di berbagai daerah, tradisi Maulid ini dikemas dengan pembacaan Al-Barzanji, pembacaan syair pujian kepada Nabi, hingga shalawat bersama. Semua itu menjadi jembatan antara generasi kini dan akhlak profetik yang terus relevan. Dalam konteks pendidikan karakter, tradisi Maulid bisa menjadi ruang belajar yang menyenangkan namun sarat makna, terutama bagi anak-anak dan remaja yang tumbuh di tengah banjir informasi digital. Tradisi ini menjembatani sebagai nilai-nilai Islam dengan kehidupan kontemporer secara membumi dan emosional. Tradisi Maulid untuk Memperkuat Ikatan Sosial dan Komunitas Lebih dari sekadar ritual, tradisi Maulid menumbuhkan kebersamaan dan kepedulian sosial. Di Yogyakarta dan Surakarta, Grebeg Maulud menjadi contoh tradisi Maulid yang mengakar melalui prosesi arak-arakan gunungan hasil bumi sebagai bentuk syukur dan berbagi rezeki kepada masyarakat. Di Aceh, tradisi memasak Kuah Beulangong secara kolektif menjadi simbol solidaritas yang kental. Sementara di Padang Pariaman, Sumatera Barat, ada tradisi Bungo Lado, yaitu pohon uang dan makanan yang dihias lalu dibagikan kepada panti asuhan dan warga tak mampu.

Read More

Jumat Hari yang Istimewa Bagi Umat Islam — Keberkahan dan Keistimewaan yang Sering Kita Lupakan

Hari Jumat bukan sekadar hari biasa. Inilah hari penuh keberkahan dan ampunan bagi umat Islam. Bekasi – 1miliarsantri.net: Hari Jumat merupakan hari paling istimewa bagi umat Islam. Temukan berbagai keutamaan dan amalan yang dianjurkan pada hari Jumat agar hidup penuh berkah dan pahala. Jumat adalah hari yang istimewa dan penuh berkah jika umat Islam memahami keutamaan hari Jumat, apa saja amalan sunah yang dianjurkan Rasulullah, dan telah diikuti oleh para sahabatnya, para tabi’in hingga masa kita saat ini. Berikut rangkuman keistimewaan hari Jumat yang disajikan dalam rubrik Khazanah, dan insya Allah menjadi salah satu referensi dan literasi bagi umat Islam dalam rangka muhasabah diri. Sholawat di Hari Jumat dan Keistimewaannya Hari Jumat merupakan hari penuh rahmat dan ampunan, di mana amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.Membaca sholawat di hari ini bukan hanya bentuk cinta kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku.”(HR. Tirmidzi) Hari yang Diciptakan dengan Penuh Kemuliaan Tahukah kamu, hari Jumat disebut sebagai sayyidul ayyam — penghulu segala hari?Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik hari yang terbit matahari padanya adalah hari Jumat.” (HR. Muslim) Pada hari inilah Allah menciptakan Nabi Adam AS, memasukkannya ke surga, dan mengeluarkannya darinya. Bahkan, kelak kiamat pun terjadi pada hari Jumat. Maka tidak heran jika Jumat menjadi hari yang paling istimewa di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Waktu Berdoa yang Paling Mustajab Ada satu waktu di hari Jumat yang sangat dinantikan para mukmin — waktu mustajab, di mana doa tidak akan ditolak. Banyak ulama berpendapat waktu itu berada antara ashar hingga magrib. Bayangkan, hanya dengan memperbanyak doa di penghujung Jumat, kita bisa mendapatkan peluang diijabah langsung oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Cahaya di Antara Dua Jumat: Surah Al-Kahfi Setiap Jumat, umat Islam dianjurkan membaca Surah Al-Kahfi.Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan terpancar cahaya di antara dua Jumat.” (HR. Al-Hakim) Surah ini bukan hanya membawa cahaya dan ketenangan, tetapi juga perlindungan dari fitnah dunia, termasuk fitnah Dajjal. Cukup 20 menit membacanya — namun pahalanya mengalir sepanjang pekan. Shalat Jumat: Lebih dari Sekadar Kewajiban

Read More
cara mengatasi Gangguan Konsentrasi pada anak

Anak Sulit Konsentrasi? Berikut 7 Cara Mengatasi Gangguan Konsentrasi pada Anak

Bekasi – 1miliarsantri.net : Berbicara tentang konsentrasi, setiap manusia dalam aktivitasnya sangat membutuhkan konsentrasi agar suatu pekerjaan atau aktivitas dapat berjalan dengan baik. Konsentrasi yang dimaksud adalah pemusatan pemikiran atau perhatian kepada objek tertentu dengan mengesampingkan semua hal lain yang tidak memiliki keterkaitan dengan objek tersebut. Salah satu aktivitas yang membutuhkan konsentrasi adalah belajar. Belajar merupakan proses memahami serta memusatkan pikiran terhadap bahan pelajaran yang sedang dipelajari. Dalam proses belajar, tidak sedikit orang tua atau guru yang mengeluhkan tentang anak didiknya yang mengalami gangguan konsentrasi saat belajar. Gangguan konsentrasi pada anak, biasanya dapat terlihat dari beberapa gejala, diantaranya adalah sebagai berikut : Gangguan konsentrasi pada anak seringkali disertai dengan gangguan lainnya seperti peningkatan gangguan emosi, agresif, gejala gerakan motorik berlebihan, hiperaktif serta gejala impulsif. Peningkatan gangguan emosi dan perilaku agresif yang terlihat berupa anak yang suka membanting barang, melempar atau berguling-guling dilantai. Sulit untuk bekerja sama, suka menantang, keras kepala bahkan suka menyakiti diri sendiri. Baca juga: Gebrakan Program MLB, Terpilih 1.000 Madrasah di Indonesia Mendapat Rp.25 Juta dari BAZNAS Lalu, bagaimana cara mengatasi gangguan konsentrasi pada anak? Gangguan konsetrasi pada anak tentunya membutuhkan penanganan khusus agar dapat meminimalisir gejala. Berikut 7 cara yang dapat dilakukan  untuk menangani gangguan konsesntrasi pada anak: Pertama, Penanganan secara khusus, dengan terapi nutrisi dan diet yaitu berupa keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan pencernaan, serta penanganan alergi makanan lainnya. Beberapa penelitian menyebutkan, setelah dilakukan eliminasi penyebab gangguan alergi makanan pada anak, ternyata didapatkan hasil peningkatan kemampuan konsentrasi anak. Kedua, Membangun Kerjasama yang efektif antara guru dan orang tua. Pada saat anak mengalami gangguan konsentrasi belajar, orang tua atau guru tidak perlu membentak, memarahi dan mengucilkan anak karena pada dasarnya anak juga mengalami kesulitan dalam mengendalikan gejolak yang meledak-ledak, baik berupa ucapan, perilaku atau gerakan. Oleh sebab itu, orang tua dan guru harus memiliki kesabaran yang ekstra dalam kasus ini.

Read More
Ilmu hadits

Keutamaan Ilmu Hadits dan Kemuliaan Ahli Hadits

Surabaya – 1miliarsantri.net: Ilmu hadits merupakan salah satu cabang ilmu Islam yang paling mulia. Hal itu juga sudah disetujui oleh Sufyan al-Tsauri. Ia pernah berkata: “Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih baik daripada ilmu hadis bagi orang yang mencari keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. Manusia membutuhkannya bahkan dalam urusan makan dan minum mereka, dan itu lebih baik daripada salat dan puasa sunah karena belajar ilmu hadits itu hukumnya fardhu kifayah.” Pernyataan ini menegaskan bahwa menuntut ilmu hadits bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi merupakan kewajiban bagi umat Islam secara kolektif (fardhu kifayah). Ilmu ini menjadi dasar setiap perintah dan larangan dalam syariat Islam, sehingga menguasainya berarti memahami fondasi agama secara mendalam. Apa Itu Ilmu Hadits? Ilmu hadits adalah ilmu yang mempelajari perkataan, perbuatan, dan persetujuan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu ini mencakup beberapa aspek: Dengan memahami ilmu hadits, seorang muslim dapat meneladani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam secara akurat, karena ilmu ini menampilkan kondisi kehidupan beliau, baik dalam ibadah maupun kebiasaan sehari-hari. Baca juga: Makna Sejarah dalam Islam, Beda dengan History ala Sekuler Keutamaan Menuntut Ilmu Hadits Menuntut ilmu hadits memiliki banyak keutamaan yang telah disebutkan dalam berbagai hadits. Dan beberapa keuntamaan tersebut di antaranya adalah: 1. Mendekatkan Diri dengan Rasulullah Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: عن ابن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اولى الناس بي يوم القيامه اكثرهم علي صلاة رواه الترمذي حسنه “Orang-orang yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak mendoakanku.”(HR. At-Tirmidzi, hasan) Para ulama ahli hadits termasuk golongan yang paling banyak mendoakan Nabi, karena mereka senantiasa menyebut dan mempelajari sunnah dalam pengkajian mereka. Dengan demikian, menuntut ilmu hadits tidak hanya memperdalam pemahaman agama, tetapi juga meningkatkan kedekatan spiritual dengan Rasulullah. 2. Mendapatkan Doa Khusus dari Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan: عن ابن مسعود رضي الله عنه قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول نظر الله امرا سمع منا شيئا فبلغه كما سمع فرب مبلغ اوعى من سامعا رواه الترمذي وقال حسن صحيح “Semoga Allah membaguskan wajah orang yang mendengar sesuatu dariku dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Sebab, banyak orang yang menyampaikan lebih hafal daripada yang mendengarkan.”(HR. At-Tirmidzi, hasan shahih) Doa ini menunjukkan bahwa ahli hadits memiliki keistimewaan yang tidak diberikan kepada orang lain, karena mereka menjadi perantara penyebaran sunnah secara benar. 3. Menjadi Khalifah Nabi dalam Menyebarkan Ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم ارحمه خلفائي قلنا يا رسول الله ! فمن خلفاؤك ؟ قال الذين ياتون من بعد يرضون احاديث وسنه فيعلمونها الناس رواه الطبراني في الاوسط

Read More
penyakit hati

Waspadai! Ini Induk Penyakit Hati yang Harus Dihindari

Surabaya – 1miliarsantri.net: Induk penyakit hati merupakan sumber dari berbagai sifat tercela yang dapat merusak jiwa dan amal manusia. Sifat-sifat buruk ini tidak hanya mengotori hati, tetapi juga menjauhkan manusia dari rahmat Allah SWT. Mengobati penyakit hati bukanlah perkara mudah, sebab manusia sering lalai dalam melakukan introspeksi diri dan lebih sibuk mengejar kemewahan duniawi dibanding akhirat. Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin telah banyak menjelaskan tentang pentingnya menjaga hati dari sifat tercela. Dari sekian banyak penyakit hati, ada tiga sifat utama yang menjadi akar perusak hati manusia, yaitu hasad (dengki), riya’ (pamer ibadah), dan ujub (merasa paling hebat). Ketiga sifat ini dikenal sebagai induk penyakit hati, karena darinya lahir berbagai sifat buruk lainnya. Apabila seorang Muslim mampu menjaga dirinya dari tiga sifat ini, maka ia akan lebih mudah menjaga hatinya dari penyakit-penyakit lain. Sebaliknya, jika seseorang membiarkan dirinya terjerumus dalam hasad, riya’, dan ujub, maka ia akan sulit terbebas dari dosa hati yang lain. Mengapa Penyakit Hati Berbahaya? Hati merupakan pusat kendali manusia. Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Penyakit hati tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya jauh lebih berbahaya dibanding penyakit fisik. Orang yang terjangkit penyakit hati bisa kehilangan pahala, amal, bahkan terjerumus dalam siksa Allah SWT. Oleh karena itu, memahami induk penyakit hati menjadi langkah penting dalam menjaga kebersihan jiwa. Baca juga: Rekam Jejak Sejarah 10 Muharram dalam Islam yang Penuh Keagungan Spiritual Tiga Induk Penyakit Hati yang Harus Dihindari Dan di bawah ini, langsung kita akan sajikan penjelasan secara lebih lengkap dan terperinci tentang 3 induk penyakit hati yang harus benar-benar dihindari: 1. Hasad (Dengki) Hasad adalah perasaan tidak suka ketika orang lain mendapatkan nikmat, baik berupa ilmu, harta, kedudukan, maupun kebahagiaan. Bahkan, orang yang hasad sering berharap agar nikmat tersebut hilang dari saudaranya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: اياكم والحسد فان الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب “Waspadalah terhadap rasa dengki, karena dengki dapat menghabiskan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud). Bentuk-Bentuk Hasad Ada tiga bentuk utama hasad yang sering muncul dalam diri manusia, yaitu: Dampak Hasad Cara Mengobati Hasad 2. Riya’ (Pamer Amal) Riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena Allah, melainkan untuk mendapatkan pujian manusia. Sifat ini disebut juga sebagai syirik kecil, karena seseorang tidak lagi murni beribadah kepada Allah. Rasulullah SAW memperingatkan dalam sebuah hadis tentang orang yang beramal demi pujian: ان الشهيد يؤمر به يوم القيامه الى النار فيقول يا ربي استشهدت في سبيلك فيقول الله تعالى بل اردت ان يقال انك شجاع وقد قيل ذالك وذلك اجرك وكذلك يقال للعالم والحج والقارئ “Orang yang syahid akan diperintahkan pada hari kiamat untuk menuju neraka. Ia berkata, ‘Ya Rabb, aku mati syahid di jalan-Mu.’ Allah berfirman, ‘Engkau ingin dikatakan sebagai pemberani, dan itu telah dikatakan. Maka itulah balasanmu.’ Begitu juga dengan orang alim, orang berhaji, dan orang yang membaca Al-Qur’an jika niatnya bukan karena Allah.” (HR. Muslim).

Read More
Hadits Qudsi

Apa Perbedaannya Hadits Qudsi dan Al-Qur’an? Cari Tahu Di sini Yuk!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Hadits Qudsi berasal dari kata al-Quds yang berarti kemurnian dan penyucian. Hadits ini sering disebut sebagai hadits ilahi karena disandarkan kepada Allah (Ilah) serta disebut pula hadits rabbani karena dinisbatkan kepada Rabb, yaitu Tuhan Yang Maha Tinggi. Secara terminologi, hadits qudsi adalah perkataan yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, selain dari Al-Qur’an. Contoh hadits qudsi adalah riwayat Imam Muslim (2577): يا عبادي اني حرمت الظلم على نفسي وجعلته محرما عليكم فلا تظالموا       الحديث Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi.” Hadits qudsi tetap disebut hadits karena disampaikan melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ia dinamakan qudsi (suci) sebab maknanya datang dari Allah Yang Maha Suci. Dengan demikian, hadits qudsi memiliki kedudukan istimewa sebagai perantara penyampaian pesan Allah selain Al-Qur’an. Baca juga: Sejarah Partai Syarikat Islam, Sebelum Terlahirnya Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda Perbedaan Hadits Qudsi dan Al-Qur’an Al-Qur’an memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hadits qudsi. Dan beberapa perbedaan antara keduanya dapat dirinci sebagai berikut: 1. Kedudukan sebagai Mukjizat Al-Qur’an adalah mukjizat yang kekal sepanjang masa. Ia terpelihara dari perubahan, pergantian, dan penyelewengan. Setiap huruf, kata, dan gaya bahasa dalam Al-Qur’an diturunkan dengan penuh kesempurnaan. Sedangkan hadits qudsi tidak memiliki kedudukan sebagai mukjizat. 2. Cara Periwayatan Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan hanya berdasarkan makna. Setiap lafaz harus sama persis dengan yang diturunkan. Sementara hadits qudsi bisa diriwayatkan berdasarkan makna, meskipun tetap harus menjaga maksud yang benar. 3. Hukum Membaca dan Menyentuh Al-Qur’an memiliki aturan khusus, yaitu: 4. Fungsi dalam Ibadah Sholat

Read More