GPIB dan SMAN 11 Jakarta Gelar Penyuluhan Anti-Bullying dan Radikalisme Era Digital

Gerakan Pendidikan Indonesia Baru “GPIB” DPW DKI Jakarta bersama SMAN 11 Jakarta menggelar penyuluhan anti-bullying dan pencegahan radikalisme era digital untuk melindungi siswa dan membangun sekolah yang aman, ramah anak, dan berkeadaban. Jakarta –  1miliarsantri.net: Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta bekerja sama dengan SMAN 11 Jakarta Timur menyelenggarakan acara penyuluhan Anti-Bullying dan Kekerasan dalam Lingkungan Sekolah (PABK), serta penyuluhan Pencegahan Radikalisme di Era Digital. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya keamanan dan harmoni di lingkungan sekolah, dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten. Penyuluhan anti-bullying dan kekerasan di sekolah, disampaikan oleh Yulina Dewi, SH, MH – salah satu pengurus GPIB DPW DKI Jakarta yang juga berprofesi sebagai jaksa di Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Tujuan Penyuluhan Giat penyuluhan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang perundungan, memberikan pemahaman akan dampak buruknya bagi korban dan pelaku, serta membangun lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghormati. Siswa juga diajarkan cara mencegah, melawan, dan melaporkan kasus bullying agar dapat tumbuh optimal secara fisik dan mental. Melalui penyuluhan, peserta dapat memahami definisi bullying, bentuk-bentuknya (fisik, verbal, siber), serta dampaknya (trauma, rendahnya rasa diri, gangguan mental). Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk: Acara penyuluhan berlangsung menarik ditandai dengan antusiasnya pasa siswa SMAN 11 Jakarta Timur mengikuti keseluruhan rangkaian acara, yang diselenggarakan pada Rabu, 7 Januari 2026. Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekolah SMAN 11 Jakarta Dra. Penina Sianmbela, Ketua Umum GPIB Ir. Agung Karang, Wakil Ketua GPIB DPW DKI Jakarta Dani Hendro, Ketua DPC GPIB Jakarta Timur Mohamad Amin, serta Handoko A dari Kesbangpol, Yudhi dari Kesbangpol, Devi Sarasaty dari Kesbangpol dan Rini Humas Komite Sekolah SMA 53 Jakarta. Turut hadir, Doli Arusdin Situmeang Guru SMAN 11 Jakarta Timur, Yosep Dian Sulistyo Guru SMAN 11 Jakarta Timur, Agung Bintang Karang Pengurus DPP GPIB, Yenti Sofia Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta, Sekretaris DPW Nurhayati, Bendahara DPW Rahayu Desy Leni SE, Wakil Bendahara DPW Lina Herlina, Ketua OKK GPIB DPW DKI Jakarta Nani Wijaya, Suhana Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta, dan Titik Suparti Humas DPW DKI Jakarta. Sambutan dan Harapan Kepala Sekolah SMAN 11 Jakarta Timur Dra. Penina Sinambela, M.Pd, Kepala Sekolah SMAN 11 Jakarta Timur, menyampaikan apresiasinya, “Terima kasih kepada tim GPIB yang telah mengedukasi anak-anak. Mudah-mudahan materi yang disampaikan bermanfaat.” Diapun melanjutkan, “Kadang kondisi anak yang tampak damai justru menyembunyikan masalah, dan mereka sering tidak berani melaporkan.” “Jika ada yang merasa mengalami kekerasan baik secara verbal maupun fisik, saya siap menjadi pendengar. Jangan menyimpan atau menyembunyikannya. Jika mau membuka diri, itu akan sangat membantu. Mudah-mudahan anak-anak paham untuk segera berbagi kepada wali kelas, guru BK, guru bidang studi, atau kepala sekolah. Terima kasih banyak, semoga kerjasama ini berlanjut kedepannya”, pungkasnya. GPIB dan Program Penyuluhan Anti Bullying dan Pencegahan Radikalisme Ketua Umum DPP GPIB Ir. Agung Karang, dalam kesempatan yang sama mengucapkan terima kasih kepada Yulina Dewi, SH, MH dan pihak sekolah yang telah memberikan izin untuk penyuluhan. Agung Karang menngatakan, “Kegiatan roadshow anti-bullying dan kekerasan ini telah dilakukan di SMA 53 dan SMA 49 Jakarta, kemudian kali ini di SMAN 11 Cakung Jakarta Timur, tanggal 8-1-2026 SDN 16 Klender Jakarta Timur dan tgl 14-1-2026 SMPN 167 Jakarta Timur dan akan berlanjut hingga beberapa sekolah bulan Februari.” “GPIB sangat peduli dengan siswa di berbagai jenjang pendidikan untuk mencegah bullying. Pemicu kegiatan ini adalah kejadian ledakan bom di SMA 72, sehingga kami ingin mencegah terjadinya hal serupa dengan mengunjungi sekolah-sekolah,” jelasnya. Sistem dan Strategi Anti Bullying dan Pencegahan Radikalisme Yulina Dewi, SH, MH, salah satu pengurus GPIB DPW DKI Jakarta, yang juga berprofesi sebagai jaksa di Kejagung RI, menyampaikan terima kasih atas kesempatan untuk memberikan wawasan kepada siswa SMAN 11 mengenai kekerasan di sekolah. Lebih lanjut dia menegaskan, “Di era transformasi digital ini, anak-anak menghadapi berbagai problematika terkait kekerasan di sekolah yang dapat menimbulkan trauma dan dampak pada kesehatan mental baik bagi korban maupun pelaku.” Menurutnya, diperlukan sistem dan strategi yang terkoordinasi antara sekolah, Pemprov DKI, dan pihak terkait seperti GPIB. “Siswa adalah sumber emas bangsa yang harus menjadi kader cerdas, bekerja keras, dan mendapatkan perlindungan yang baik agar dapat belajar dalam suasana yang nyaman, tenang, dan inklusif. “ “Dukungan dari pemerintah, sekolah, dan komunitas sangat diperlukan untuk mewujudkannya,” tambahnya. Yulina berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan sinergi yang baik untuk membangun antisipasi dan menghasilkan generasi yang cerdas pada tahun 2045. “Saya ucapkan semangat kepada Pak Agung dalam memperjuangkan misi dan visi pendidikan Indonesia, serta siap memberikan dukungan dan pengetahuan yang diperlukan,” tandasnya. Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan piagam penghargaan kepada pihak sekolah dan narasumber, hadir dalam acara tsb Muhammad Amin ketua komite sekolah SMAN 11 yg juga sebagai Ketua DPC.GPIB Jakarta Timur, Dani Hendro Pradiatmoko wakil ketua DPW GPIB PROVINSI DKI JAKARTA, Rahayu Desi Leni, Nurhayati, Suhana, Nani Wijaya, Yenti, Titik Suparti, Lina serta acara diakhiri dengan sesi foto bersama.** Sumber : Ketua Umum DPP GPIB Ir. Agung Karang Foto istimewa Editor : Thamrin Humris

Read More

Dakwah Digital: Dari Surau ke Podcast Menyapa Generasi Z

Malang – 1miliarsantri.net : Di tengah arus teknologi dan media sosial yang kian deras, dakwah digital menjadi medium krusial sebagai jembatan antara tradisi keagamaan dan kebutuhan spiritual Generasi Z. Dakwah yang dahulu akrab lewat surau atau mimbar kini meluas ke format podcast, video pendek, hingga kanal media sosial. Perubahan ini bukan sekadar soal media, melainkan soal bagaimana pesan Islam dapat tersampaikan relevan kepada generasi yang terbiasa dengan notifikasi dan layar. Dakwah digital memberi ruang baru untuk dialog, ekspresi kreatif, dan kedekatan yang tidak mungkin dicapai melalui ceramah tatap muka semata. Dakwah Digital sebagai Medium Pendidikan Islam bagi Generasi Z Dakwah digital memungkinkan pendidikan nilai agama menjadi sangat fleksibel dan mudah diakses. Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990an hingga awal 2010an, lebih cepat tertarik pada format audio dan video hingga podcast Islami dibandingkan pengajian konvensional yang berlangsung panjang dan kaku. Melalui dakwah digital, pembahasan tauhid, akhlak, fikih, atau kisah Nabi dapat dihadirkan dalam dialog ringan. Cara ini membantu pendengar memahami nilai-nilai dasar agama tanpa jenuh. Dalam konteks ini, para pendakwah muda memproduksi konten dakwah digital yang edukatif dan menghibur, agar pesan moral bukan hanya terdengar, tapi juga dirasakan dan dihayati. Dakwah Digital Memperkuat Ikatan Komunitas dan Kebersamaan Melalui dakwah digital, komunitas Islam tidak lagi terkunci ruang fisik saja. Podcast Islami dapat didengarkan sambil bekerja atau dalam perjalanan, sementara acara surau disiarkan ulang lewat video streaming sehingga lebih banyak orang bisa ikut meski tidak hadir langsung. Dakwah digital memperluas penyebaran nilai toleransi, kepedulian sosial, dan persaudaraan. Misalnya, komunitas online yang mendiskusikan persoalan mental, hubungan sosial, atau identitas diri menggunakan platform digital sebagai sarana dakwah digital, berbagi solusi, dan membangun dukungan emosional. Ini memperlihatkan bahwa dakwah digital bukan hanya penyampaian ajaran, tetapi juga pemeliharaan ikatan sosial dan rasa kebersamaan. Namun dakwah digital juga diwarnai tantangan subtansial. Pertama, otentisitas sumber. Tidak semua konten yang viral mempunyai dasar keilmuan yang kuat. Generasi Z sering menghadapi pilihan konten dakwah digital yang sekilas baik, tetapi kurang dalam referensi atau validasi. Kedua, dangkalnya narasi. Karena kecenderungan format pendek dan cepat viral, pesan dakwah digital kadang sederhana secara gaya tetapi kehilangan kedalaman spiritual yang diperlukan untuk perubahan batin. Ketiga, gangguan digital. Komentar negatif, misinformasi, atau konten yang bertentangan dengan nilai Islam bisa tersebar cepat, memicu kebingungan di antara audiens yang belum memiliki literasi keagamaan yang cukup. Untuk itu pastikan dakwah digital tetap relevan dan bermakna, para pendakwah harus memperkuat konten dengan literasi agama dan penelitian serta menyajikan materi yang kontekstual, selain itu komunitas pendukung perlu memediasi seperti moderator, reviewer, atau organisasi dakwah yang dapat membantu menyaring konten agar tetap sehat dan sesuai syariah. Dakwah digital bukanlah pengganti surau, tetapi perlu dilihat sebagai pelengkap dan perluasan ruang spiritual. Dalam transformasi ini, generasi Z mendapatkan akses lebih luas, pesan lebih mudah dicerna, dan kesempatan untuk tetap berpegang pada nilai-nilai Islam di zaman yang berubah cepat. Semoga dakwah digital terus berkembang dengan esensi yang kuat akan nilai, kejujuran, kasih sayang, dan perubahan batin agar tidak hanya menyapa telinga, tetapi juga menyentuh hati dan memperkuat iman generasi mendatang dakwah digital. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman baca juga hijrah mini dari konten pendek

Read More

Pasar EdTech Meroket: USD 3 Miliar Jadi USD 9 Miliar di 2033

Malang – 1miliarsantri.net : Seiring dengan percepatan transformasi digital di sektor pendidikan, edtech menjadi istilah yang semakin sering disebut sebagai masa depan pembelajaran. Pasar edtech global diyakini akan berkembang dari angka yang relatif kecil, misalnya USD 3 miliar di beberapa segmen regional menjadi pertumbuhan eksponensial hingga USD 9 miliar atau bahkan lebih di tahun 2033. Transformasi ini tidak hanya soal teknologi, tetapi soal perubahan budaya belajar, kebijakan pemerintah, dan daya inovasi pelaku pendidikan digital. Mengapa edtech bisa tumbuh begitu pesat dan bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan momentum tersebut? Apa Pemicu Lonjakan Pasar Pertumbuhan Edtech? Pertumbuhan pasar edtech didorong oleh beberapa faktor utama. Pertama, pandemi COVID19 memaksa institusi pendidikan beralih ke pembelajaran jarak jauh dan hybrid, sehingga meningkatkan adopsi platform edtech. Kedua, semakin meluasnya akses internet dan jaringan seluler yang cepat memberikan peluang besar bagi solusi pembelajaran digital menjangkau daerah terpencil dan populasi kurang terlayani. Ketiga, munculnya teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), augmented reality (AR), virtual reality (VR), dan adaptive learning semakin memikat pengguna. Edtech kini bukan hanya soal video pelajaran, tetapi pengalaman belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Keempat, investor global dan lokal mulai memasukkan edtech dalam daftar prioritas portofolionya karena potensi pertumbuhan yang tinggi. Peluang dan Hambatan Edtech di Indonesia Indonesia sebagai negara dengan populasi muda yang besar memiliki peluang besar pada industri edtech. Permintaan akan pembelajaran fleksibel, kelas online, kursus keterampilan, dan solusi belajar tambahan terus meningkat. Aplikasi pembelajaran bahasa, persiapan ujian, hingga pelatihan vokasi sudah mulai ramai digunakan. Namun, ada tantangan yang harus dihadapi agar edtech bisa mencapai potensi pasar yang diperkirakan. Kesenjangan akses internet di daerah terpencil dan mahalnya biaya data masih menjadi penghambat. Selain itu, konten lokal yang berkualitas dan sesuai kurikulum pun belum merata. Regulasi dan kepastian hukum juga perlu diperjelas agar startup edtech bisa tumbuh dengan nyaman, aman dari konflik hak cipta, dan dapat menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan formal. Apakah Proyeksi Angka USD 3 Miliar Jadi USD 9 Miliar Realistis? Meskipun data spesifik tentang segmen regional dengan angka USD 3 miliar dan USD 9 miliar belum secara publik dikonfirmasi di tiap pasar, beberapa laporan global menunjukkan bahwa pasar edtech secara keseluruhan memang berada di jalur pertumbuhan yang sangat tinggi. Menurut laporan oleh Global Growth Insights, pasar edtech akan tumbuh dari sekitar USD 194 miliar di 2024 menjadi lebih dari USD 1.000 miliar pada 2033, dengan CAGR lebih dari 20%. Jika kita memproyeksikan pertumbuhan regional atau nasional (misalnya Asia Tenggara atau Indonesia), pertumbuhan dari USD 3 miliar ke USD 9 miliar bisa jadi valid jika didukung oleh aspek seperti investasi, regulasi, dan penetrasi teknologi yang semakin cepat. Edtech memang diprediksi akan meroket, dari level USD 3 miliar ke USD 9 miliar atau lebih di tahun 2033, jika semua elemen pendukung bersinergi seperti teknologi, regulasi, konten, dan dukungan publik. Indonesia memiliki modal besar dalam populasi, sumber daya manusia kreatif, dan kebutuhan untuk solusi pendidikan yang fleksibel dan inklusif. Kesuksesan pasar edtech di Indonesia bukan hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi dari sejauh mana manfaatnya dirasakan, pemerataan akses belajar, kualitas pengajaran, dan kesiapan generasi mendatang menghadapi tantangan zaman. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman baca juga cara jitu meningkatkan minat baca di era digital

Read More

5 Cara Jitu Meningkatkan Minat Baca di Era Digital, Apa Saja?

Bekasi – 1miliarsantri.net: Di era digital yang serba cepat seperti sekarang, minat membaca di berbagai kalangan seringkali terabaikan. Teknologi yang canggih dan hiburan digital yang mudah diakses menjadi salah satu faktor rendahnya minat baca di era digital saat ini. Padahal dengan membaca, ada banyak informasi dan pengetahuan yang akan diketahui dan dipelajari. Seperti halnya istilah buku adalah jendela dunia, membaca masih menjadi gagasan yang belum terpisahkan dari dunia intelektual. Membaca merupakan investasi dalam perkembangan pribadi dan intelektual. Melalui membaca, seorang dapat mengeksplorasi dunia melalui halaman-halaman buku dan meraih manfaat yang berkelanjutan. Meningkatkan minat membaca di era digital saat ini tentu tidak hanya berdampak positif pada literasi tetapi juga memiliki manfaat jangka panjang lainnya. Manfaat membaca diantaranya sebagai berikut : Setelah mengetahui manfaat membaca, maka perlu adanya strategi atau cara untuk meningkatkan minat baca di era digital saat ini. Apa saja? Berikut 5 cara jitu meningkatkan minat baca di era digital: 1. Membangun Lingkungan Membaca yang Menarik Lingkungan yang mendukung membaca dapat memberikan dampak besar pada minat terhadap buku. Perpustakaan umum, kafe buku, dan komunitas baca adalah tempat-tempat yang dapat mendorong  untuk berinteraksi dengan buku-buku secara lebih aktif. Misalnya di Jakarta, perpustakaan seperti Perpustakaan Nasional Indonesia dan perpustakaan daerah menyediakan koleksi yang beragam dan acara-acara menarik yang dapat menginspirasi minat membaca.  2. Menghadirkan Buku yang Relevan Buku-buku yang relevan dengan minat dan kebutuhan tentu memiliki daya tarik lebih besar. Bekerjasama dengan penulis lokal, penerbit, dan toko buku dapat membantu menyediakan pilihan buku yang sesuai dengan kepentingan dan perkembangan jaman. 3. Memanfaatkan Teknologi untuk Membaca Teknologi dapat menjadi sekutu dalam meningkatkan minat membaca. E-books, audiobooks, dan platform baca online memberikan fleksibilitas dalam memilih format yang sesuai dengan preferensi yang dibutuhkan. Penerbit dan perpustakaan juga dapat mengembangkan aplikasi atau platform khusus yang menawarkan pengalaman membaca yang interaktif. 4. Mengadakan Acara Baca dan Diskusi Mengadakan acara baca bersama dan diskusi buku dapat membantu para pembaca berinteraksi dengan konten buku secara lebih mendalam. Diskusi-diskusi ini juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbicara tentang pandangan mereka, berbagi pemahaman, dan merangsang rasa ingin tahu. 5. Peran Model Teladan Peran model teladan dapat dilakukan oleh siapapun yang gemar membaca. Jika yang menjadi sasarannya adalah anak muda maka. orang tua, guru, dan tokoh-tokoh yang dihormati memiliki peran penting dalam membentuk minat membaca anak muda. Mereka dapat menjadi contoh yang menginspirasi dengan menunjukkan bahwa membaca adalah kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan. Sumber : Berbagai sumber Sumber foto: Gemini AI Penulis: Gita Rianti D Pratiwi Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman baca juga belajar bahasa arab jadi lebih seru lewat aplikasi dan game interaktif

Read More

Update Bencana Sumatera 2025: Komdigi Pastikan 413 Titik Internet Publik Berhasil dipulihkan di 3 Provinsi

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memastikan 413 dari 602 titik internet publik di Sumatra yang terdampak bencana berhasil dipulihkan per 6 Desember 2025, mempercepat koordinasi dan akses informasi darurat. Jakarta – 1miliarsantri.net: Pemulihan akses komunikasi jadi prioritas saat darurat, menjadi perhatian serius Kementerian Komunikasi dan Digital. Komdigi mengumumkan bahwa sebanyak 413 titik internet publik telah berhasil dipulihkan dari total 602 titik layanan yang terdampak bencana beberapa waktu terakhir. Akses internet publik tersebut meliputi area pengungsian, fasilitas kesehatan, posko logistik, kantor pemerintahan daerah, serta ruang publik yang menjadi pusat koordinasi tim penyelamat. Langkah cepat pemulihan konektivitas ini dinilai penting untuk memperkuat proses evakuasi, pendataan, serta distribusi bantuan. Mendukung Koordinasi Lapangan dan Akses Informasi Kritis Dalam situasi darurat, komunikasi digital menjadi tulang punggung untuk menghubungkan warga yang terdampak dengan layanan bantuan dan keluarga mereka di luar daerah. Dengan pemulihan ratusan titik internet publik ini, akses komunikasi menjadi jauh lebih stabil, baik untuk pemerintah daerah maupun tim respons bencana. Komdigi menyatakan bahwa proses pemulihan terus dilakukan siang dan malam, bekerja sama dengan operator telekomunikasi nasional dan relawan teknis. Upaya percepatan memperhatikan dua prioritas utama: Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga telah mengaktifkan 17 titik internet darurat berbasis satelit untuk layanan cadangan di lokasi yang infrastruktur telekomunikasinya belum pulih. Semoga kondisi di wilayah terdampak segera membaik, dan bantuan dapat menjangkau saudara-saudari kita yang masih terisolasi. Kita terus berdoa agar proses pemulihan berjalan lancar dan seluruh warga dapat kembali beraktivitas dengan aman.*** Sumber : instagram komdigi Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman

Read More

Edukasi & Penguatan Keluarga Disabilitas Mental: Poltekesos Bandung Hadirkan Ruang Belajar dan Dukungan di Desa Karangmuncang

Kegiatan edukasi dan penguatan keluarga penyandang disabilitas mental digelar Poltekesos Bandung di Desa Karangmuncang untuk memperkuat kapasitas dan dukungan keluarga. Kuningan – 1miliarsantri.net: Mahasiswa Program Studi Rehabilitasi Sosial Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung menyelenggarakan kegiatan Edukasi dan Penguatan Keluarga Disabilitas Mental bertema “Menguatkan Keluarga, Menenangkan Jiwa” pada Rabu, 3 Desember 2025, bertempat di GOR Balai Desa Karangmuncang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh enam keluarga/wali penyandang disabilitas mental serta seorang penyintas disabilitas mental yang kini telah bekerja di sebuah pabrik roti. Acara tersebut menjadi wadah bagi keluarga untuk belajar bersama, saling berbagi pengalaman, dan memperoleh penguatan dari para narasumber. Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Jihan Luthfiyah Ariani menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan ruang edukasi sekaligus dukungan bagi keluarga penyandang disabilitas mental. “Kami merancang kegiatan ini sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat kapasitas keluarga dalam memberikan pendampingan, dukungan emosional, serta penanganan dasar bagi anggota keluarga dengan disabilitas mental,” ujarnya. Ia menambahkan, “Semoga kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menghadirkan ketenangan, kekuatan, dan rasa saling mendukung antar sesama keluarga.” Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Karangmuncang, Dede Masdeni, yang menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. “Kami sangat menyambut baik kegiatan ini. Keluarga penyandang disabilitas mental perlu mendapatkan perhatian khusus, dan kegiatan seperti ini membantu mereka merasa lebih diperhatikan dan tidak sendirian,” ungkapnya. Ia menegaskan, “Pemerintah Desa Karangmuncang akan selalu mendukung upaya yang membawa manfaat bagi masyarakat, termasuk kegiatan pemberdayaan keluarga seperti ini.” Kepala Seksi Kesejahteraan (Kasi Kesra) Desa Karangmuncang, Mahpud, turut menekankan pentingnya kegiatan tersebut bagi masyarakat desa. “Kegiatan ini bukan hanya memberikan edukasi, tetapi juga membuka ruang bagi keluarga untuk saling menguatkan dan memahami kondisi yang mereka hadapi,” ujarnya. Ia berharap agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut, mengingat dampak positifnya sangat dirasakan oleh masyarakat. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama. Lukman Mulyadi, Ketua LKS Rumah Antara Graha Berdaya, menekankan pentingnya peran keluarga dalam proses pemulihan. “Keluarga adalah garda terdepan. Ketika keluarga kuat, proses pemulihan akan jauh lebih stabil,” tuturnya. Narasumber kedua, Ence Hadiat Rohanda, A.Ks., M.Si., selaku Kepala Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Kabupaten Kuningan, memberikan penjelasan mengenai berbagai layanan sosial yang dapat diakses oleh keluarga. “Ada banyak dukungan dan program pemerintah yang bisa dimanfaatkan. Yang penting keluarga mengetahui jalurnya dan tidak segan untuk mengaksesnya,” jelasnya. Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sharing session dan diskusi terbuka. Para keluarga tampak antusias berbagi pengalaman tentang dinamika merawat anggota keluarga dengan disabilitas mental. Salah satu wali peserta menyampaikan rasa lega dan syukurnya. “Biasanya kami bingung sendiri. Di sini kami jadi tahu cara menghadapi, dan ternyata banyak keluarga lain yang mengalami hal yang sama,” ujarnya. Sebagai bentuk dukungan tambahan, panitia turut menyerahkan bantuan sosial kepada para keluarga peserta. Acara ini juga dihadiri perangkat desa, Tenaga Kesejahteraan Sosial yang menangani isu disabilitas, serta mahasiswa KKN Poltekesos Bandung Kelompok 4. Mahasiswa berharap kegiatan ini dapat menghadirkan kekuatan baru bagi keluarga serta menumbuhkan rasa kebersamaan antar peserta—selaras dengan tema kegiatan, “Menguatkan Keluarga, Menenangkan Jiwa.” Penulis : Erhan Herdiyanto dan Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Foto istimewa

Read More

Coba Hijrah Mini dari Konten Pendek yang Menjadikan Ibadahmu Lebih Konsisten

Bogor – 1miliarsantri.net : Zaman sekarang, layar kecil di tangan kita bisa menjadi dua hal yakni pengalih fokus atau pengingat kebaikan, tergantung cara kita memanfaatkannya. Di tengah derasnya arus informasi, muncul tren baru yang diam-diam menjadi inspirasi hijrah yaitu konten pendek yang membangunkan hati atau yang disebut dengan hijrah mini. Video satu menit, potongan ceramah, atau nasihat ringan di TikTok ternyata bisa membuat banyak orang berhenti sejenak, merenung, lalu ingin memperbaiki diri. Bagi sebagian orang, konten seperti ini terasa sederhana. Tapi justru di situlah letak kekuatannya menggerakkan dengan cara yang lembut. Di balik setiap kalimat singkat, tersimpan nilai khazanah yang dalam seperti kesadaran, ketulusan, dan keinginan untuk terus mendekat pada Allah, sedikit demi sedikit. Dari Konten Ringan ke Langkah Kecil yang Berarti Fenomena konten hijrah bukan cuma tentang viralnya ustaz di media sosial. Banyak kreator muda yang membagikan pengalaman pribadi seperti perjuangan melawan rasa malas untuk beribadah, perjalanan menutup aurat, atau proses menjaga hati dari iri. Kisah nyata seperti ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak muda yang sedang mencari arah. Dari sanalah muncul istilah “hijrah mini” perubahan kecil tapi konsisten. Yang dimulai dari hal sederhana seperti sholat tepat waktu, menahan kata-kata kasar, atau belajar sabar menghadapi orang lain. Dan semua itu bisa berawal dari satu konten pendek yang muncul di beranda. Yang menarik, konten hijrah ini bukan hanya soal ajakan, tapi juga pengingat. Ia hadir di sela waktu sibuk, kadang tanpa sengaja kita temukan, tapi pesannya menancap di hati. Di situlah kekuatan nilai khazanah bekerja yakni mengingatkan manusia dengan cara yang lembut, bukan menegur keras. Nilai-Nilai Khazanah di Balik Hijrah Mini Kalau kita perhatikan lebih dalam, pesan yang dibawa konten hijrah itu sebenarnya sarat makna. Ada nilai muhasabah (introspeksi diri), tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), dan istiqamah (konsistensi dalam kebaikan). Nilai-nilai ini mungkin disampaikan lewat video singkat, tapi bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Misalnya, satu konten sederhana tentang shalat Subuh tepat waktu bisa menumbuhkan rasa syukur karena masih diberi kesempatan bangun di pagi hari. Atau potongan ceramah tentang sabar bisa menahan kita dari marah di tempat kerja. Nilai-nilai ini menegaskan bahwa dakwah tidak harus panjang dan rumit tapi cukup disampaikan dengan hati, agar menyentuh hati pula. Dari Dunia Maya ke Perubahan Nyata Menariknya, banyak yang akhirnya benar-benar berubah karena konsisten menonton konten hijrah. Ada yang mulai rutin ikut kajian, ada yang menahan diri dari komentar negatif, ada pula yang menutup aurat karena terinspirasi dari video pendek. Dari kebiasaan kecil ini, perlahan tumbuh disiplin dan kepekaan spiritual. Inilah bentuk nyata hikmah digital yakni memanfaatkan dunia maya bukan untuk meniru gaya hidup orang lain, tapi untuk mendekatkan diri pada Allah. Hijrah mini bukan berarti kecil, justru bisa jadi pintu menuju perubahan besar asal dilakukan dengan niat yang tulus dan langkah yang terus dijaga. Hijrah tak harus dramatis. Kadang, ia hadir lewat potongan konten pendek yang menggerakkan hati di saat kita paling butuh arah. Dari satu pesan kecil, kita belajar bahwa kebaikan bisa dimulai dari mana saja dari beranda media sosial, dari rasa tersentuh, dari niat untuk berubah. Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang bertahan dalam ibadah bukan besarnya langkah, tapi ketulusan untuk terus melangkah. Penulis: Salwa Widfa Utami Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Yuk Perdalam Ilmu Kitab lewat E-Learning Pesantren yang Mudah dan Menyenangkan

Bogor – 1miliarsantri.net : Pernah nggak kita rebahan sambil scroll HP, terus nemu video ngaji kitab di TikTok atau YouTube? Tiba-tiba pengen ikut duduk di majelis, tapi jarak, waktu, atau biaya bikin ragu. Nah, sekarang gak perlu mikir panjang, karena lewat e-learning pesantren, belajar kitab bisa dilakukan dari mana aja cukup modal HP, kuota, dan niat baik. Zaman sudah berubah, tapi semangat mencari ilmu tetap sama. Banyak pesantren mulai membuka kelas daring agar siapa pun bisa mengaji kitab tanpa harus mondok penuh. Ini bukan cuma soal “ikut tren digital”, tapi soal membuka pintu ilmu selebar mungkin. Karena sejatinya, teknologi itu alat tergantung niat penggunanya. Bahkan, kalau dimanfaatkan dengan benar, ia bisa jadi jalan untuk menyebarkan ilmu dan keberkahan jauh lebih luas daripada tembok pondok. Bayangin kamu bisa belajar Fathul Qorib atau Tafsir Jalalain sambil bersantai di mana saja. Platform seperti Tsirwah dan MaliQa Virtual Pesantren sudah menyediakan kelas interaktif, lengkap dengan ustaz yang bisa ditanya langsung. Santri bisa absen, ikut kuis, bahkan diskusi lewat forum. Menariknya, beberapa pesantren juga membuat sistem “mondok digital”, di mana santri tetap punya jadwal, tugas, dan bahkan hafalan mingguan. Bedanya, semua dilakukan secara online. Kesan “pesantren banget”-nya tetap terasa, cuma medianya saja yang bergeser ke layar. E-learning ini bahkan sering dimanfaatkan oleh alumni yang sudah bekerja, supaya mereka tetap bisa ngaji kitab di sela-sela kesibukan harian. Serunya Belajar Kitab di Dunia Online Biar gak monoton, banyak platform menambahkan fitur seru biar belajar kitab gak terasa berat. Ada video animasi buat menjelaskan nahwu-shorof, kuis singkat buat nguji hafalan, sampai leaderboard yang bikin santri berlomba jadi yang paling aktif. Hana, salah satu santri dari pelosok Jawa Timur, dulu dia harus jalan dua jam buat ikut ngaji sore. Sekarang? Cukup buka aplikasi, ikut kelas malam, dan bisa dengar ulang rekaman kalau sinyalnya sempat ngadat. “Rasanya kayak punya pondok di genggaman tangan,” katanya. Lucu tapi benar juga karena ternyata, semangat ngaji bisa tetap hidup walau jaraknya jauh. Dan gak cuma santri, masyarakat umum pun mulai tertarik ikut belajar kitab digital. Banyak ibu rumah tangga, mahasiswa, bahkan pekerja kantoran yang ikut kelas online demi menambah pemahaman agama. Belajar kitab jadi terasa lebih ringan, tapi tetap bermakna. Apakah Ada Tantangannya? Ada, tapi Bisa Diatasi Tentu, gak semua pesantren langsung siap digital. Ada yang masih kesulitan jaringan, perangkat terbatas, atau ustadz yang belum terbiasa pakai platform daring. Tapi bukannya menyerah, banyak komunitas mulai bantu ada relawan IT pesantren, donasi gadget untuk santri, sampai pelatihan guru agar bisa mengajar secara online dengan baik. E-learning juga menuntut santri lebih disiplin. Gak ada pengurus yang bakal menegur jika kamu ketiduran ketika kajian dimulai. Tapi justru disitu letak ujiannya, sejauh mana kamu bisa menjaga adab dan semangat belajar meski tidak diawasi secara langsung. Menjaga Jiwa Pesantren di Era Digital Belajar kitab lewat e-learning bukan berarti kehilangan ruh pesantren. Justru lewat cara ini, ilmu para kyai bisa menjangkau lebih banyak orang. Nilai-nilai seperti tawadhu’, kesungguhan, dan keberkahan tetap bisa dijaga. Pesantren selalu dikenal sebagai penjaga ilmu dan moral bangsa. Kini, lewat e-learning, pesantren juga jadi jembatan antara tradisi dan teknologi. Dari kitab kuning ke layar biru, dari serambi ke ruang virtual semangatnya tetap satu yakni menuntut ilmu dengan cinta dan adab. Karena pada akhirnya, bukan di mana kamu belajar yang penting, tapi seberapa besar hatimu menerima ilmu itu. Penulis: Salwa Widfa Utami Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Totto Budiman

Read More

Semarak EduNation Fest: Menemukan Pendidikan Islam Unggul & Kurikulum yang Membanggakan

Bogor – 1miliarsantri.net ; Di tengah semangat generasi muda yang haus akan inovasi dan kemajuan, muncul satu ajang inspiratif bernama Semarak EduNation Fest adalah sebuah festival pendidikan Islam yang dirancang untuk mempertemukan ide, kolaborasi, dan semangat baru dalam dunia pendidikan. Dari awal penyelenggaraan, EduNation Fest telah menjadi magnet bagi para pendidik, pelajar, santri, dan masyarakat umum untuk saling berbagi inspirasi tentang bagaimana membangun pendidikan Islam yang unggul dan membanggakan di era digital ini. Bukan hanya sekadar acara formal atau seminar satu arah, EduNation Fest menjadi wadah hidup di mana nilai keislaman, kreativitas, dan teknologi berpadu harmoni. Di sinilah para peserta diajak melihat bahwa kemajuan zaman bukan ancaman bagi pendidikan Islam melainkan peluang besar untuk tumbuh lebih kuat dan relevan. Mengenal EduNation Fest dan Semangat Barunya EduNation Fest adalah perayaan pendidikan Islam dengan semangat pembaruan. Acara ini biasanya berisi serangkaian kegiatan menarik mulai dari talkshow interaktif, workshop inovatif, hingga bazar pendidikan yang memamerkan karya dan gagasan dari berbagai lembaga Islam di Indonesia. Bayangkan suasananya aula penuh dengan santri, guru, dan mahasiswa yang berdiskusi seru tentang metode belajar baru. Ada sesi inspiratif di mana guru madrasah berbagi pengalaman menggunakan pendekatan project-based learning, santri menampilkan aplikasi pembelajaran Al-Qur’an buatan mereka sendiri, dan para dosen menjelaskan pentingnya kurikulum yang menyeimbangkan kecerdasan spiritual dengan kemampuan abad ke-21. Dari setiap sudut acara, kita bisa merasakan energi positif yang sama: bahwa pendidikan Islam tidak harus ketinggalan zaman, tapi justru bisa menjadi garda terdepan dalam membentuk generasi berkarakter, cerdas, dan berakhlak mulia. Kurikulum Islam Unggul di EduNation Fest Salah satu topik yang paling ramai dibahas dalam EduNation Fest adalah tentang bagaimana menciptakan kurikulum Islam unggul dan membanggakan. Kurikulum yang tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepedulian sosial. Melalui berbagai sesi diskusi dan pameran, peserta diajak memahami bahwa kurikulum Islam ideal bukan sekadar mengajarkan “apa yang benar,” tapi juga “bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat.” Misalnya, pelajaran fiqih dikaitkan dengan kehidupan sosial modern, atau materi akhlak diterapkan dalam konteks penggunaan media digital. Para pendidik juga mempresentasikan model pembelajaran digital berbasis nilai Islam dari e-learning hingga virtual class yang tetap berakar pada adab dan etika Qur’ani. Semua ini menunjukkan bahwa Islam dan inovasi bisa berjalan beriringan, menciptakan sistem pendidikan yang membanggakan baik secara spiritual maupun intelektual. Nilai dan Semangat yang Hidup di EduNation Fest Lebih dari sekadar pameran ide, EduNation Fest adalah ruang pembentukan nilai. Nilai-nilai seperti keikhlasan, semangat belajar sepanjang hayat, dan tanggung jawab sosial menjadi napas utama dalam setiap kegiatan. Di tengah hingar-bingar dunia modern, acara ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal angka dan prestasi, tapi juga soal karakter dan niat. Peserta diajak menyadari kembali makna ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tak berhenti di kepala, tapi hidup dalam tindakan dan akhlak. Kita bisa melihat anak muda berdiskusi tentang inovasi digital Islami, guru madrasah berlatih membuat media pembelajaran interaktif, hingga lembaga pendidikan saling berkolaborasi lintas daerah. Semua ini mencerminkan semangat bahwa pendidikan Islam adalah pilar bangsa yang terus bertumbuh, bukan sistem yang tertinggal. EduNation Fest menjadi bukti nyata bahwa wajah baru pendidikan Islam sedang tumbuh: modern, terbuka, tapi tetap berakar kuat pada nilai-nilai luhur. Di tangan para pendidik dan generasi muda yang haus belajar, pendidikan Islam bukan hanya relevan tapi juga menginspirasi. Penulis: Salwa Widfa Utami Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Semakin Marak, Podcast Islami Ruang Inspiratif bagi Anak Muda

Bogor – 1miliarsantri.net : Beberapa tahun lalu, banyak anak muda lebih sering buka YouTube buat nonton vlog, komedi, atau drama pendek. Tapi sekarang, trennya mulai bergeser. Di antara hiruk-pikuk dunia digital, podcast Islami justru muncul sebagai ruang baru yang menenangkan tempat berbagi cerita, curhat kehidupan, dan mencari jawaban dari sudut pandang agama. Podcast semacam ini hadir dengan format yang lebih santai, tapi menyentuh. Gaya obrolannya ringan, bahasanya gak kaku, tapi isi pesannya dalam. Anak muda yang mungkin dulu merasa “jauh dari kajian” sekarang justru bisa ikut belajar agama sambil rebahan, di perjalanan, atau saat waktu istirahat. Dan tanpa sadar, banyak yang bilang, “Saya merasa lebih lega dan tenang setelah mendengarkan ini semua.” Podcast Islami, dari Tren Jadi Gerakan Fenomena podcast Islami ini bukan sekadar tren lewat. Sekarang, channel YouTube dan Spotify dipenuhi dengan tayangan-tayangan dakwah yang dikemas modern. Ada yang bahas soal hijrah, cara menghadapi kesedihan, konflik batin, sampai masalah cinta dan kehilangan semua disampaikan dengan hangat dan penuh empati. Bahkan, menjelang Ramadhan, banyak orang sudah menunggu episode baru dari podcast ustaz atau pendakwah favoritnya. Potongan-potongan video dari podcast itu pun bertebaran di TikTok dan Reels, dipotong jadi satu menit penuh pesan. Satu kalimat singkat kadang bisa jadi pengingat yang menampar, menyentuh, bahkan membuka mata terutama bagi mereka yang lagi merasa kehilangan arah. Ruang Curhat dan Tempat Menemukan Jawaban Banyak podcast Islami kini bukan hanya berisi ceramah, tapi juga membuka ruang tanya-jawab dan curhat. Anak muda bisa mengirim pertanyaan tentang hidup, masalah keluarga, atau kebimbangan hati, dan para ustadz menjawab dengan bahasa yang menenangkan. Ada yang bertanya kenapa hidupnya terasa berat, ada yang curhat soal rasa bersalah, bahkan tentang cara memperbaiki diri setelah salah langkah. Dari sana, lahirlah dialog yang jujur agama terasa dekat, bukan menakutkan. Dan yang lebih indah lagi, dari sekadar mendengarkan, banyak pendengar akhirnya ingin belajar langsung. Mereka datang ke kajian, ikut taklim, bahkan berguru untuk memperdalam ilmu yang sebelumnya hanya mereka dengar lewat layar. Podcast jadi pintu kecil yang membawa langkah menuju majelis ilmu sesungguhnya. Ilmu yang Dekat, Ringan, tapi Menggerakkan Podcast Islami memberi ruang bagi siapa saja untuk belajar tanpa rasa minder. Gaya penyampaiannya yang ringan bikin orang gak takut salah atau ditanya balik. Tapi justru di situlah kekuatannya: ia membuka pintu kesadaran. Karena dari satu cerita atau satu kalimat, seseorang bisa tersadar untuk berubah, memperbaiki diri, atau sekadar kembali berdoa. Dan bagi banyak orang yang sibuk, podcast ini adalah bentuk kajian ringan yang bisa menemani di tengah kesibukan. Ia mungkin tidak menggantikan kehadiran guru, tapi cukup untuk menyalakan cahaya dalam hati agar tidak padam. Podcast Islami kini bukan sekadar hiburan, tapi ruang inspirasi dan penyembuhan. Ia mengajarkan bahwa setiap orang berhak menemukan jalan pulang entah lewat satu nasihat, satu kisah, atau satu episode yang mengena. Dan siapa tahu, dari sekadar mendengarkan, seseorang akhirnya terdorong untuk benar-benar belajar, memperbaiki diri, dan mendekat pada Allah. Karena dakwah hari ini tak lagi hanya dari mimbar, tapi juga bisa lahir dari mikrofon dan hati yang tulus. Penulis: Salwa Widfa Utami Foto Ilustrasi AI Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More