Setidaknya Setiap 10 Menit Terdapat 1 Anak Terbunuh di Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Setiap 10 menit satu anak terbunuh di Jalur Gaza, demikian menurut penilaian Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Sabtu (20/4/2024) lalu. Untuk itu saat ini fokus menghentikan serangan Israel di Palestina menjadi fokus utama konflik Timur Tengah. “Sejumlah besar anak-anak juga terluka di tengah serangan intens dan membabi buta. Gencatan senjata segera menjadi harapan terakhir yang tersisa,” tulis UNRWA di X. Sebagaimana diketahui, tanpa menghiraukan putusan sela Mahkamah Internasional (ICJ), Israel terus melakukan serangan di Gaza, di mana sedikitnya 34.049 warga Palestina terbunuh dan 76.901 orang terluka sejak 7 Oktober. Mayoritas mereka adalah wanita dan anak-anak, menurut otoritas kesehatan Palestina. Serangan Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza terpaksa mengungsi di tengah krisis makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di sana telah rusak atau pun hancur. Permusuhan masih terjadi dan pengiriman bantuan masih belum cukup mengatasi bencana kemanusiaan tersebut. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengatakan ketegangan antara Israel dan Iran seharusnya tidak mengalihkan perhatian dari situasi di Gaza. Ia juga menegaskan bahwa prioritas komunitas internasional adalah harus mengakhiri pendudukan Israel atas wilayah Palestina. Hal tersebut disampaikan Fidan pada saat berada di Istanbul dalam kunjungan bersama Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry. Shoukry juga mendesak Iran dan Israel untuk menahan diri. Kunjungan Shoukry ke Turki terjadi di tengah ketegangan tinggi di Timur Tengah setelah serangan Israel terhadap Iran. Israel tidak mengatakan apa-apa tentang insiden itu. Berbicara pada konferensi pers bersama dengan Fidan, Shoukry mengatakan wilayah tersebut prihatin dengan eskalasi yang sedang berlangsung. “Kami telah memperingatkan perluasan konflik sejak awal. Kami telah meminta kedua belah pihak (Iran dan Israel) untuk menahan diri,” imbuhnya dilansir dari Arab News pada Selasa (23/4/2024).

Read More

Dua Relawan Medis MER-C Merasakan Suara Ledakan Hampir Setiap Waktu

Gaza — 1miliarsantri.net : Dua Relawan Medis MER-C dr. Fahmi Anshori, SpOT dan dr. Reyfal Khaidar bersama dua relawan MER-C lainya di Jalur Gaza Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan telah melakukan kunjungan ke RS Syuhada Al Aqsa untuk melakukan assessment, guna memastikan kondisi RS tersebut sebelum kedua dokter bertugas. “Karena kondisi yang terbatas, ruang kebidanan yang ada di RS Syuhada Al Aqsa saat ini digunakan untuk ruang operasi,” terang Dr. Reyfal di Gaza, Senin (22/4/2024). Pada kesempatan itu, kedua relawan medis MER-C melakukan tindakan operasi korban fraktur tulang paha yang disebabkan oleh reruntuhan rumahnya yang hancur terkena bom. Sementara itu, Dr. Fahmi mengatakan, ada situasi berbeda saat bertugas di Gaza Tengah di mana suara ledakan lebih sering terdengar dibandingkan di Gaza Selatan, yang sekarang memang menjadi satu-satunya wilayah aman serta memungkinkan bagi tim medis untuk bertugas. “Kalau di Gaza Selatan itu kita mendengar ledakan bom setiap jam, kalau di Gaza Tengah ini setiap menit. Ini cukup mendebarkan tapi Alhamdulillah Allah masih menjaga kita,” ungkap Dr. Fahmi. Ia mengungkap, untuk alasan keamanan WHO melarang Tim melakukan perjalanan saat malam hari dan menginap di Rumah Sakit, sehingga operasi yang dilakukan masih terbatas dan tim harus segera kembali ke Gaza Selatan sebelum matahari tenggelam.

Read More

Barbados Resmi Akui Palestina Sebagai Negara, Tapi Tak Menampik Tetap Berhubungan Dengan Israrl

Gaza — 1miliarsantri.net : Barbados mengumumkan keputusan resminya yang mengakui Palestina sebagai sebuah negara pada Jumat (19/4/2024) lalu. Keputusan itu sekaligus menjadikan Barbados sebagai negara ke-11 anggota Masyarakat Karibia (CARICOM) yang mengakui kedaulatan Palestina. “Bagaimana kita mengatakan menginginkan solusi dua negara jika kita tidak mengakui Palestina sebagai sebuah negara?” terang Menteri Luar Negeri Barbados Kerrie Symmonds dalam pernyataannya. Namun, Symmonds mengatakan keputusan tersebut tidak berdampak pada hubungan Barbados dengan Israel. Dia menekankan bahwa negara kepulauan tersebut selalu menegaskan bahwa harus ada solusi dua negara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada saat yang sama, dia mengkritik fakta bahwa Barbados tidak pernah mengakui Palestina sebelumnya. “Saya pikir, sebuah kesalahan yang telah kami buat selama bertahun-tahun dan harus memperbaikinya. Dan sekarang, kami secara resmi telah menghubungi Negara Palestina untuk mengisyaratkan niat kami mengakui mereka sebagai sebuah Negara secara resmi,” imbuhnya. Negara Palestina resmi dideklarasikan oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Aljazair pada 15 November 1988. Indonesia termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina. Sementara itu, Ketua Parlemen Arab Adel bin Abdulrahman Al-Asoumi mengecam ketidakmampuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengeluarkan resolusi yang memungkinkan Negara Palestina memperoleh keanggotaan penuh di PBB. Melalui pernyataan yang dikeluarkan pada Sabtu (20/4/2024), Al-Asoumi mengkritik penggunaan veto oleh Amerika Serikat, yang dianggapnya berkontribusi pada perampasan hak sah rakyat Palestina memiliki negara dan menjadi anggota penuh PBB. Al-Asoumi juga menekankan perlunya memungkinkan rakyat Palestina untuk sepenuhnya menggunakan semua hak sah melalui pengakuan internasional atas negara Palestina dan untuk mengibarkan bendera Palestina di markas besar PBB.

Read More

Israel Menggunakan Taktik Memutar Audio Tangisan Bayi Lewat Drone

Gaza — 1miliarsantri.net : Drone Israel kini menggunakan taktik baru yang “aneh” untuk menyasar para warga Palestina. Israel, kini memutar rekaman audio tangisan bayi dan wanita untuk memikat warga Palestina ke lokasi di mana mereka dapat dijadikan sasaran. Pada Ahad dan Senin, (7-8/4/2024) malam, penduduk kamp pengungsi Nuseirat di bagian utara Gaza terbangun karena suara tangisan bayi dan wanita yang berteriak minta tolong. Ketika mereka keluar untuk mencari sumber tangisan dan memberikan bantuan, drone Israel dilaporkan melepaskan tembakan langsung ke arah mereka. Samira Abu al-Leil, seorang warga kamp pengungsi, mengatakan, dia mendengar drone Israel melepaskan tembakan selama dan segera setelah memutar rekaman suara tersebut. Serangan ini berlangsung selama beberapa menit dan terjadi berulang beberapa kali pada Senin malam. “Saya mendengar seorang wanita menangis dan berteriak minta tolong sambil berkata, ‘Tolong saya, anak saya menjadi martir’. Suara-suara itu datang dari jalan dan sangat aneh,” kata pria berusia 49 tahun itu. Menurut saksi mata, setidaknya tujuh hingga 10 orang terluka akibat kebakaran drone dalam semalam. “Beberapa orang bergegas keluar untuk menyelamatkan, hanya untuk ditembak oleh drone berjenis quadcopter yang terus berkeliaran sepanjang malam,” sambungnya. Warga tidak dapat membantu para korban, karena “drone Israel terus menembaki apapun yang bergerak”. Namun, ambulans berhasil mencapai daerah tersebut dan membawa mereka ke rumah sakit. “Pada malam hari, jalanan biasanya kosong dan laki-laki berada di dalam rumah mereka. Ketika drone melepaskan tembakan, mereka hanya mengenai atap dan jalan, mereka tidak menemukan orang untuk ditembak. Jadi mereka memainkan suara-suara ini karena mereka mengetahui sifat masyarakat kita; mereka tahu bahwa laki-laki akan mencoba memberikan bantuan. Mereka ingin mereka keluar sehingga mereka bisa menembaknya,” ungkapnya. Leil menambahkan, hampir setiap hari, peluru drone Israel menghantam atap, pintu, dan jalan di depan rumah mereka. Namun kemarin pagi, Israel menembakkan semacam bom peledak dengan pecahan peluru yang menyebar ke mana-mana di lingkungan para pengungsi, hingga menyebabkan banyak warga terluka. Israel menggunakan quadcopters, drone yang dikendalikan dari jarak jauh yang telah digunakan secara luas terhadap pejuang Palestina dan warga sipil di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2024. Teknologi ini secara bertahap menggantikan pasukan darat, membantu dalam identifikasi target, penargetan individu, dan mengamankan wilayah di mana tentara Israel ditempatkan. Selain itu, quadcopter dapat memantau posisi depan, menargetkan individu di dalam tempat tinggal, dan membubarkan kerumunan di ruang publik.

Read More

PBB Targetkan Kumpulan Dana Bantuan Untuk Gaza Hingga Rp 45,7 Triliun

Gaza — 1miliarsantri.net : Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (16/4/2024) lalu, mengumumkan pihaknya akan meluncurkan seruan global untuk mengumpulkan bantuan senilai 2,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 45,7 triliun untuk Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel. Kepala Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Wilayah Palestina yang Diduduki Andrea De Domenico mengatakan dua juta yang selamat dari genosida Israel di Gaza tengah berjuang untuk hidup setiap hari. Namun, hanya sedikit bantuan yang bisa dibawa ke wilayah kantong yang penduduknya sejak lama hidup dalam blokade Israel itu. “Kenyataannya hanya ada sedikit bantuan yang bisa kita bawa ke Gaza untuk mengatasi pengungsian dan kelaparan,” terang De Domenico, Jumat (19/4/2024). De Domenico menuturkan seruan global untuk dana bantuan telah diluncurkan pada Rabu. Seruan tersebut adalah “untuk mendukung tiga juta orang yang teridentifikasi di Tepi Barat dan Gaza.” Sebanyak 90 persen dari bantuan tersebut akan disalurkan ke Gaza dan PBB pada awalnya berencana meminta dana empat miliar dolar AS (Rp 65,2 triliun) tetapi dikurangi karena terbatasnya kemampuan distribusi bantuan. Menurutnya, kelaparan di Gaza disebabkan karena tidak adanya makanan, kebersihan, air dan fasilitas kesehatan. “Ketidakpastian menjadi kenyataan sehari-hari bagi masyarakat di Gaza,” sambungnya.

Read More

Nostradamus Dalam Bukunya Les Prophéties Meramalkan Sebuah Perang Terjadi Pada 2024

Gaza — 1miliarsantri.net : Lewat bukunya berjudul Les Prophéties, Michel de Nostredame pernah memprediksi akan terjadinya perang besar pada 2024. Ramalan itu seperti akan terwujud jika merujuk pada eskalasi ketegangan di Timur Tengah saat ini, di mana Israel dikabarkan akan melancarkan serangan balik menyusul serangan Iran pada Ahad (14/4/2024) lalu. Les Prophéties dirilis pada 1555 dan hingga kini, Nostradamus dinilai telah berhasil memprediksi beberapa kejadian yang kemudian terjadi pada masa depan seperti kemunculan Adolf Hitler, peristiwa pembunuhan Presiden AS, John F Kennedy, hingga pandemi Covid-19. Untuk 2024, dalam bukunya, Nostradamus menulis, “Musuh berwarna merah akan menjadi pucat karena takut, membuat lautan penuh dengan ketakutan.” Prediksi itu awalnya diyakini akan berhubungan dengan ketegangan antara China dan Taiwan, atau peristiwa pembajakan kapal-kapal di Laut Merah oleh kelompok Houthi. Akan tetapi, seperti dirangkum oleh Metro.co.uk, pada Senin (15/4/2024), warganet kini meyakini, nubuat Nostradamus terkait dengan konflik teranyar antara Iran dan Israel. Dalam nubuat lainnya, Nostradamus memprediksi, “Raja dari Pulau-Pulau” akan “dipaksa turun takhta”. Segera setelah perang besar, Raja baru akan ditunjuk, dan Dia, untuk waktu yang panjang, akan menentramkan bumi. Dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail pada awal tahun ini, seorang penulis bernama Mario Reading mengatakan, bahwa “Raja dari Pulau-Pulau” yang dimaksud Nostradamus bisa merujuk pada Raja Charles III yang saat ini bertakhta. Charles kemungkinan akan mewariskan takhta kepada Pangeran Harry menyusul tekanan hebat terhadap Raja Charles dan Ratu Camilla. Media sosial belakangan memang dipenuhi atas spekulasi dan prediksi akan terjadinya Perang Dunia III setelah Iran menyerang Israel sebagai balasan serangan udara atas kantor konsulat mereka di Damaskus Suriah. Sebanyak lebih dari 300 misil dan drone dikirim Iran ke Israel pada Ahad dini hari lalu. Iran menyebut operasi balasan ke Israel sebuah kesuksesan. Teheran pun menegaskan, serangan mereka ke Israel sesuai dengan Piagam PBB terkait legitimasi bagaimana pertahanan-diri suatu negara. Lewat unggahan di X, Iran pun sudah mengingatkan Amerika Serikat untuk menjaga jarak. “Merujuk pada Artikel 51 Piagam PBB, aksi militer Iran adalah respons atas serangan rezim Zionis terhadap kedaulatan diplomatik kami di Damaskus,” demikian keterangan pemerintah Republik Islam Iran. Kepala militer Israel berjanji, negaranya akan merespons serangan Iran yang melibatkan ratusan drone, rudal balistik dan jelajah. Letnan Jenderal Herzi Halevi mengatakan, Israel masih mempertimbangkan untuk merespon serangan akhir pekan lalu. Di pangkalan udara militer Nevatim, Senin (15/4/2024) Halevi mengatakan serangan rudal dan drone Iran “akan bertemu dengan sebuah respons.” Israel mengatakan, Navetim mengalami sedikit kerusakan dalam serangan Iran. Saat ini Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang membahas kemungkinan respons bersama kabinet perangnya. Sementara itu pemimpin dunia mendesak Israel tidak membalas serangan Iran. Pemimpin negara-negara Barat mendesak Israel tidak membalas serangan Iran yang melibatkan ratusan drone dan rudal akhir pekan lalu. Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron mengatakan Inggris tidak mendukung serangan balasan.

Read More

Beberapa Catatan Penyerangan Yang Dilakukan Israel dan Iran

Teheran — 1miliarsantri.net : Israel memberikan sinyal akan membalas serangan yang dilakukan Iran pada Ahad (13/4/2024) dini hari. Teheran meluncurkan 300 rudal dan drone sebagai balasan dihantamnya kantor diplomatik mereka di Suriah oleh Israel pada 1 April lalu. Jika Israel akhirnya membalas dengan serangan militer, maka ini bukanlah yang pertama mereka lakukan. Bertahun-tahun Israel menjalankan beragam serangan terutama menargetkan program nuklir Iran yang mereka curigai akan menghasilkan bom nuklir. Iran menegaskan program nuklir yang mereka kembangkan merupakan nuklir sipil bukan militer. Berikut serangan-serangan Israel terhadap Iran, dari serangan drone, serangan siber, hingga pembunuhan pada ilmuwan-ilmuwan Iran yang dirangkum Aljazirah, Rabu (17/4/2024). Januari 2010: Profesor fisika di Tehran University, Masoud Ali-Mohammadi, dibunuh dengan bom jarak jauh yang dipasang di sepeda motornya. Media pemerintah Iran mengeklaim AS dan Israel sebagai dalangnya. Iran menyebu Mohammadi merupakan ilmuwan nuklir. November 2010: Profesor Fakultas Teknik Nuklir pada Shahid Beheshti University, Teheran yaitu Majid Shahriari meninggal dunia dalam ledakan mobil saat menuju tempat kerjanya. Istrinya terluka. Presiden Mahmud Ahmadinejad menuding ini serangan Israel dan AS. Januari 2012: Mostafa Ahmadi Roshan, lulusan teknik kimia dibunuh dengan bom yang ditempatkan di mobilnya oleh seorang pesepeda motor di Teheran. Iran kembali menuding AS dan Israel. Roshan merupakan ilmuwan nuklir yang mengawasi departemen yang bertanggung jawab atas pengayaan uranium di fasilitas nuklir di Natanz. November 2020: ilmuwan nuklir ternama, Mohsen Fakhrizadeh dibunuh dalam serangan di jalan yang terjadi di pinggiran Teheran. Ia dijatuhi sanksi oleh PBB pada 2007 dan AS pada 2008. Mei 2022: Kolonel Hassan Sayyad Khodaei dari Garda Revolusi Iran ditembak lima kali di luar rumahnya, Teheran. Majid Mirahmadi, anggota Dewan Keamanan Nasional meyakini pembunuhan ini dirancang Israel. Juni 2010: Virus Stuxnet ditemukan di komputer-komputer yang berada di pembangkit nuklir Iran, Kota Bushehr. Virus ini kemudian menyebar ke fasilitas lainnya. Sekitar 30 ribu komputer di 14 fasilitas terdampak hingga September 2010. Setidaknya 1.000 dari 9.000 sentrifugal di fasilitas pengayaan uranium Natanz dihancurkan. Melalui penyelidikan, Iran menuding Israel dan AS berada di balik serangan virus itu. April 2011: Virus Stars terdeteksi oleh badan pertahanan siber yang disusupkan untuk menhancurkan fasilitas nuklir Iran. Lagi-lagi, Iran menyalahkan AS dan Israel atas serangan virus ini. November 2011: Iran menemukan virus baru, Duqu yang basisnya ada pada Stuxnet. Para pakar mengungkapkan, Duqu dibuat untuk menghimpun data untuk serangan siber selanjutnya. Mereka meyakini virus ini mempunyai kaitan dengan Israel. April 2012: Iran menyalahkan AS dan Israel atas malware yang disebut Wiper, yang menghapus hard drives komputer milik Kementerian Perminyakan dan National Iranian Oil Company.

Read More

Warga Gaza Berseru “AllahuAkbar” Saat Drone dan Roket Iran Menyerang Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Serangan drone dan rudal Iran ke Israel mendapatkan sambutan hangat dari warga Gaza. Mereka menganggap ini balasan dari serangan Israel ke Gaza. Meski ada pula yang menyebut serangan ini sekadar ‘show’ tak menyebabkan kerusakan berarti bagi Israel. ‘’Untuk pertama kalinya, kami melihat roket yang tak mengahntam wilayah kami. Roket-roket itu mengarah ke wilayah Palestina yang diduduki Israel,’’ ujar Abu Abdallah, Selasa (16/4/2024). Ia pun berharap persoalan di Gaza usai. Dirinya berharap jika Iran atau negara manapun terlibat perang menjadi solusi bagi Gaza. Amerika mestinya menyelesaikan masalah Gaza sampai ke akarnya. Banyak warga Gaza merasa diabaikan oleh negera-negara tetangga mereka di Timur Tengah sejak Israel melakukan serangan ke Gaza yang menyebabkan lebih dari 33 ribu orang meninggal dunia. Sebaliknya, mereka merasa memperoleh dukungan dari pihak lain. Yakni dukungan dari Iran dan proksi di kawasan khususnya sekutu Iran di antaranya Hizbullah di Lebanon yang juga merupakan sekutu pemerintahan Hamas di Gaza. Potongan gambit menunjukkan dukungan warga Gaza atas serangan Iran ke Israel. Dalam tayangan yang beredar terlihat banyak warga Gaza, termasuk yang ada di dalam tenda penampungan, bersuit dan menyerukan kalimat ‘Allahu Akbar’ menunjukkan kegembiraan ketika langit terang karena roket Iran dan upaya pencegatan oleh Israel. ‘’Siapapun yang memutuskan menyerang Israel, berani menyerang Israel saat semua dunia melayani Israel adalah pahlawan bagi warga Palestina tak peduli apakah kami berbagi atau berbeda ideologi dengan Iran,’’ ungkap Majed Abu Hamza (52). Ayah tujuh anak dari Gaza City menggambarkan situasi terkini diwilayah tersebut. ‘’Kami telah dibantai selama enam bulan dan tak satupun berani melakukan sesuatu. Sekarang Iran, setelah konsulatnya diserang, menyerang balik Israel. Ini membuat hati kami bergembira,’’ ujar Abu Hamza.

Read More

Negara Arab Menolak Wilayahnya Digunakan Sebagai Lokasi Operasi Militer AS ke Iran

Gaza — 1miliarsantri.net : Seorang pejabat senior AS mengungkapkan, negara-negara monarki konstitusional di Timur Tengah mengingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak menggunakan wilayah mereka sebagai pangkalan militer saat melakukan respons terhadap Iran jika Iran jadi melaksanakan serangan balasan ke Israel. Sebagaimana diketahui di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah, membuat Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, dan Kuwait menimbang ulang detail perjanjian mereka dengan AS terkait izin puluhan ribu tentara AS yang ditempatkan di wilayah mereka. Negara-negara Arab itu saat ini juga mencegah pesawat-pesawat tempur AS terbang di atas udara mereka jika nantinya melakukan serangan balasan Iran. Diketahui, AS telah puluhan tahun berinvestasi membangun pangakalan-pangkalan militer di kawasan Teluk. Mengingat pangkalan-pangkalan militer itu berlokasi dekat dengan Iran, menjadi strategis bagi militer AS untuk melancarkan serangan ke Iran dari titik-titik tersebut. Penolakan negara-negara Arab mengakibatkan persiapan AS saat ini menjadi kompleks. Apalagi, berdasarkan sumber kepada MEE, momen serangan Iran ke Israel diperkirakan semakin dekat. “(Penolakan) Itu adalah sebuah kekacauan,” kata pejabat senior AS tersebut kepada MEE yang dikutip Senin (15/4/2024). Sumber MEE itu mengungkapkan ada tiga skenario Gedung Putih menyongsong serangan Iran. Pertama, Iran bisa menyerang Israel secara langsung dari teritori mereka. Opsi kedua, adalah serangan lewat proxy mereka seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon. Yang ketiga, adalah kombinasi dari dua opsi tadi. Iran diperkirakan juga bisa menyerang langsung kedutaan-kedutaan Israel di Timur Tengah. Tentara-tentara IDF yang kini berada di Gaza dan Tepi Barat juga bisa jadi sasaran dari rencana serangan Iran. Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden telah menginformasikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas komitmen bantuan AS. Namun, menurut sumber tadi, pemerintahan Biden saat ini terbelah atas level bantuan keamanan yang akan diberikan kepada Israel. Pemerintahan Biden saat ini juga dilaporkan khawatir lantaran eskalasi perang yang berpotensi melebar di Timur Tengah bersamaan dengan proses pemilu presiden di AS. AS saat ini sedikitnya memiliki 40 ribu pasukan di Timur Tengah. Meyoritas di antara ditempatkan di kawasan Teluk, khususnya di titik-titik pangkalan strategis laut dan udara.

Read More

Kapal MSC Aries Disita Unit Kelautan IRGC dalam Operasi Khusus Tim Helikopter

Gaza — 1miliarsantri.net : Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengonfirmasi penyitaan sebuah kapal kontainer milik seorang pengusaha Israel dekat Selat Hormuz, di tengah ketegangan yang meningkat antara kedua negara tersebut. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, pada Sabtu (13/4/2024) membenarkan bahwa kapal bernama MSC Aries disita oleh unit kelautan IRGC dalam operasi khusus tim helikopter. Merespons aksi Iran di Selat Hormuz, juru bicara militer Israel, Daniel Hagari, mengatakan, “Iran akan menerima konsekuensi atas pilihan mereka meningkatkan eskalasi lebih jauh.” Laporan IRNA menyebutkan bahwa kapal berbendera Portugal itu telah diarahkan menuju wilayah perairan Iran. Sebelumnya, Channel 14 Israel dan Times of Israel melaporkan bahwa kapal yang disita itu adalah milik perusahaan pelayaran Zodiac Maritime kepunyaan pengusaha Israel yang bernama Eyal Ofer. Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), melalui pernyataan, mengatakan sebuah kapal telah disita di daerah tersebut dan menyatakan bahwa kapal disarankan untuk transit dengan hati-hati dan melaporkan aktivitas mencurigakan apa pun kepada UKMTO. Penyitaan kapal itu terjadi di tengah peningkatan ketegangan di kawasan, serta spekulasi mengenai serangan militer Iran dalam waktu dekat sebagai tanggapan atas serangan yang dialami konsulat Iran di Suriah pada awal bulan ini. Sedikitnya 13 orang tewas dalam serangan ke konsulat Iran di Damaskus, ibu kota Suriah, yang menurut pihak berwenang Iran dilakukan oleh Israel. Korban jiwa termasuk tujuh penasihat militer Iran. Di antara mereka yang tewas adalah Jenderal Mohammad Reza Zahedi, komandan senior IRGC di Suriah dan Lebanon, dan wakilnya Jenderal Hadi Haj Rahemi.

Read More