Pasukan Israel Maju ke Gaza Selatan

Gaza — 1miliarsantri.net : Pasukan zinois Israel terus menggempur wilayah Gaza dan mengirim tank lebih dalam ke wilayah Jalur Gaza selatan pada hari Minggu saat pertempuran dengan militan pimpinan Hamas. Pejabat kesehatan Gaza melaporkan serangan militer Israel telah menewaskan 66 warga Palestina di seluruh wilayah dalam 24 jam terakhir. Tank-tank Israel bergerak lebih jauh ke tiga kota di timur Khan Younis, Gaza selatan, yaitu Al-Karara, Al-Zanna, dan Bani Suhaila. Para petugas medis menyatakan setidaknya sembilan warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel di wilayah tersebut pada Minggu pagi. Penduduk setempat mengatakan pertempuran sengit terdengar di wilayah timur Khan Younis tempat operasi militer Israel berlangsung. Penyerbuan baru ini menyebabkan ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka dan menuju ke daerah padat penduduk di Al-Mawasi di barat, dan ke utara menuju Deir Al-Balah. Kemudian pada hari Minggu, dua serangan udara Israel terpisah di Khan Younis menewaskan setidaknya 15 warga Palestina, menurut petugas medis. Satu serangan udara di area tenda di distrik Al-Mawasi menewaskan lima orang termasuk seorang bayi perempuan berusia empat bulan bernama Maria Abu Ziada. Al-Mawasi di Khan Younis barat adalah area yang ditetapkan sebagai zona kemanusiaan dimana militer Israel memerintahkan warga Palestina dari tempat lain untuk mengungsi ke sana. Militer Israel mengatakan mereka sedang memeriksa laporan tersebut. Serangan udara lainnya pada sebuah rumah di pusat kota Khan Younis menewaskan 10 orang, menurut pejabat kesehatan. Selama beberapa hari terakhir, militer Israel menyatakan serangan di Khan Younis timur dilakukan sebagai respons atas serangan yang diperbarui, termasuk penembakan roket, dari wilayah tersebut dan untuk mencegah Hamas menyusun kekuatan kembali. Mereka mengatakan pasukan telah menewaskan puluhan militan di daerah itu dan menghancurkan infrastruktur militer. Sementara itu, di Rafah, dekat perbatasan dengan Mesir, pasukan Israel maju lebih dalam ke bagian utara kota, dimana mereka belum sepenuhnya menguasai wilayah tersebut. Tank-tank juga menembaki beberapa daerah di Jalur Gaza tengah termasuk kamp Bureij, kamp Nuseirat dan desa Juhr El-Deek. Di pinggiran Tel Al-Hawa, Gaza City, dimana sayap bersenjata Hamas mengatakan para pejuang bertempur melawan pasukan Israel yang beroperasi di sana, sebuah serangan udara Israel menewaskan empat warga Palestina, menurut petugas medis.

Read More

Ismail Haniyeh Terbunuh di Teheran

Teheran — 1miliarsantri.net : Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kan’ani bereaksi keras atas kematian Kepala Politik Biro Hamas Ismail Haniyeh yang terbunuh di Teheran, pada Rabu (31/7/2024). Dalam pernyataannya pada Rabu pagi, dikutip Mehr News, Kan’ani mengungkapkan duka cita atas kematian Haniyeh kepada rakyat Palestina, Hamas, dan semua kelompok pejuang Palestina. Menurutnya, investigasi atas detail insiden oleh institusi relevan di Republik Islam Iran sedang berjalan. Kan’ani menegaskan, kematian Haniyeh akan mengungatkan ikatan mendalam antara Iran dan rakyat Palestina. “Dengan rasa duka cita atas kepada bangsa heroik Palestina dan bangsa Islam dan kombatan Front Pejuang dan bangsa Iran, pagi ini (Rabu) kediaman Dr. Ismail Haniyeh, kepala politik Hamas di Teheran, dibom, dan menyusul insiden, dia dan pengalamannya menjadi martir,” demikian pernyataan IRGC. Hamas pun telah mengonfirmasi syahidnya pemimpin biro politik mereka Ismail Haniyeh. “Saudara pemimpin, syahid, mujahid Ismail Haniyeh pemimpin gerakan tersebut, meninggal akibat serangan berbahaya Zionis di kediamannya di Teheran, setelah berpartisipasi dalam upacara pelantikan presiden baru Iran,” bunyi pernyataan resmi Hamas kepada seluruh media. Dalam pernyataan tersebut, Hamas menyertakan kutipan Alquran surah Ali Imran ayat 169. “Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah orang yang mati, melainkan mereka masih hidup dan diberi rezeki oleh Tuhannya.”

Read More

Tentara Israel Ceritakan Kebiadaban IDF Selama Berada di Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Tiga tentara cadangan yang ikut serta dalam kampanye genosida Israel di Gaza memberi kesaksian tentang aktivitas mereka selama berada di kantong yang terkepung itu. Mereka memasuki rumah-rumah tanpa alasan militer. Mereka bahkan menyaksikan tentara mencuri dan membakarnya. Mereka pun mengakui telah menyebabkan lebih banyak pembunuhan, penembakan anak-anak, dan bahkan membunuh tawanan mereka sendiri. Tindakan-tindakan ini, menurut kesaksian mereka, telah membuat mereka meninggalkan dinas militer Israel. Tentara Israel secara terbuka mengakui bahwa mereka menembak untuk membunuh dan menghancurkan semua yang menghalangi. Di tengah-tengah genosida yang sedang berlangsung, kekejaman ini terjadi secara langsung dan tak henti-hentinya. Israel telah menyebabkan banyak korban jiwa -berkisar antara 39.000 hingga 186.000 warga Palestina, terutama anak-anak dan perempuan. Ribuan orang lainnya diyakini terkubur di bawah reruntuhan, dengan sedikitnya 90.000 orang terluka, dan sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza mengungsi secara paksa. Sementara itu, para pengamat khawatir bahwa “Israel” akan melancarkan agresi besar-besaran terhadap Lebanon. Awal bulan ini, enam tentara Israel memberikan kesaksian yang mengerikan ketika bercerita bagaimana rekan-rekan mereka sesama tentara, rutin mengeksekusi warga sipil Palestina. Eksekusi itu dilakukan untuk melepaskan rasa frustrasi terpendam atau demi mengurangi kebosanan. Bagi paramedis militer Israel, Yuval Green, perintah untuk membakar sebuah rumah adalah titik kritis yang membuatnya mengakhiri tugas cadangannya. Awal tahun ini, Green menghabiskan 50 hari di Khan Younis, sebuah kota di selatan Gaza, bersama unit penerjun payungnya. Mereka tidur di sebuah rumah yang hanya diterangi oleh lampu bertenaga baterai di tengah reruntuhan dan kehancuran. Green mulai mempertanyakan misi unitnya beberapa bulan sebelumnya. Ketika itu, dia mengetahui tentang penolakan Israel untuk memenuhi tuntutan Hamas mengakhiri perang dan membebaskan para tawanan. Green adalah satu dari tiga tentara cadangan Israel yang mengatakan kepada The Observer bahwa mereka tidak akan kembali jika dipanggil untuk dinas militer di Gaza. Ketiganya sebelumnya telah menyelesaikan wajib militer di Pasukan Pendudukan Israel (IDF), yang merupakan bagian utama dari komunitas pemukim Israel. Perilaku merusak yang disaksikan Green dari para tentara lain hanya menambah keraguan yang dibawanya ke Gaza. Dia menyaksikan siklus kekerasan tak berkesudahan yang disaksikannya. Ia mengaku tetap tinggal karena rasa tanggung jawab untuk merawat mereka yang ada di unitnya. Dia tinggal demi mereka yang ia kenal sejak menjalani wajib militer. “Saya melihat tentara mencoret-coret rumah atau mencuri sepanjang waktu. Mereka akan masuk ke sebuah rumah untuk alasan militer, mencari senjata, tetapi lebih menyenangkan untuk mencari cinderamata – mereka menyukai kalung dengan tulisan Arab yang mereka kumpulkan,” kata Green kepada The Observer. Pada awal tahun ini, dia berkata, “Kami diberi perintah. Kami berada di dalam sebuah rumah dan komandan kami memerintahkan untuk membakarnya.” Ketika ia menyampaikan masalah ini kepada komandan kompinya, ia menambahkan, “Jawaban yang ia berikan kepada saya tidak cukup baik. Saya berkata: ‘Jika kita melakukan semua ini tanpa alasan, saya tidak akan berpartisipasi. Saya pergi keesokan harinya.” Dua orang tentara cadangan menyebutkan bahwa mereka mungkin akan dipaksa untuk kembali bertugas jika pertukaran serangan pesawat tak berawak, serangan udara, dan tembakan artileri yang terjadi hampir setiap hari antara “Israel” dan Lebanon meningkat menjadi perang penuh.

Read More

Surat Curhatan Para Tenaga Medis di Gaza Untuk Presiden Amerika

Gaza –1miliarsantri.net : Sejak Oktober tahun 2023 lalu, Gaza berubah, dari kawasan kecil yang padat menjadi reruntuhan bangunan. Ditambah lagi, dari satu sudut ke lainnya pasti ada kesedihan. Ada yang menuangkannya dalam vandalisme bertuliskan nama-nama siapa saja yang pernah tinggal di reruntuhan itu. Lainnya, masih ada yang memaksakan diri tinggal di bawah puing-puing. Hancur sudah bangunan dan infrastruktur yang ada di sana. Banyak sudah mayat bergelimpangan. Manusia di sana tidak diperlakukan secara wajar. Pasukan IDF di sana membabi buta menyerang siapa saja yang mereka curigai tanpa ada kejelasan bukti pelanggaran hukum. Banyak anak-anak menjadi sasaran pemboman militer Israel, pasukan khusus yang kini terkenal sebagai pembunuh anak-anak tak berdosa. Mereka yang masih hidup ada yang mengalami luka hebat. Mereka bertahan, meski orang tua mereka sudah lebih disayang Allah nun jauh di Arasy. Sekitar 45 dokter dan perawat yang menjadi relawan di Gaza telah menulis surat yang ditujukan kepada pemerintahan Biden, yang tiba pada hari Kamis, yang menyatakan bahwa “Israel” telah merenggut nyawa lebih dari 90.000 warga Palestina selama genosida yang sedang berlangsung di Jalur tersebut dan menyoroti kejahatan perang pendudukan dan pelanggaran hukum humaniter internasional. “Presiden Biden dan Wakil Presiden Harris, solusi apa pun untuk masalah ini harus dimulai dengan gencatan senjata segera dan permanen,” kata surat setebal delapan halaman itu, menuntut Amerika Serikat untuk memberlakukan embargo senjata terhadap rezim pendudukan, serta menarik dukungan diplomatik, ekonomi, dan militernya hingga gencatan senjata dilaksanakan. “Jumlah korban tewas akibat konflik ini sudah lebih dari 92.000 orang, atau 4,2 persen dari total populasi Gaza,” tulis para petugas medis, sambil mengklaim jumlah korban tewas sebenarnya jauh lebih tinggi daripada angka yang disebutkan Kementerian Kesehatan Palestina, yang menunjukkan lebih dari 39.000 orang telah tewas . “Dengan hanya beberapa pengecualian yang sangat kecil, semua orang di Gaza sakit, terluka, atau keduanya,” kata para petugas medis, mengacu pada pekerja bantuan nasional, relawan internasional, dan warga sipil. Penembak jitu penjajah Israel sengaja menargetkan warga sipil, kata relawan kesehatan kepada The Guardian, menekankan dalam surat mereka bahwa mayoritas warga Palestina adalah wanita dan anak-anak . “Kami tidak dapat melupakan pemandangan kekejaman tak tertahankan yang ditujukan kepada wanita dan anak-anak yang kami saksikan sendiri,” imbuh mereka dalam surat tersebut. Pelanggaran hukum internasional oleh “Israel” juga digambarkan dalam surat tersebut, yang memperingatkan bahwa wabah sedang melanda Gaza akibat pemindahan paksa warga sipil yang sakit, kekurangan gizi akibat ulah penjajah Israel, dan kurangnya air bersih serta sanitasi. Para penanda tangan bantuan kesehatan menggambarkan rekan-rekan Palestina mereka sebagai “salah satu orang yang paling trauma di Gaza, dan mungkin di seluruh dunia,” karena komitmen mereka untuk terus bekerja meskipun kehilangan anggota keluarga dan rumah, dan menyoroti bahwa mereka sering bekerja berjam-jam tanpa bayaran sementara kekurangan gizi.

Read More

UEA Serukan ‘Misi Internasional Sementara’ untuk Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Uni Emirat Arab (UEA) pada pekan lalu menyerukan “misi internasional sementara” untuk Gaza pasca-perang guna memulihkan ketertiban dan mengatasi krisis kemanusiaan di wilayah yang hancur tersebut. Seruan ini muncul setelah para pemimpin negara Arab dalam KTT pada bulan Mei mendesak pengerahan pasukan penjaga perdamaian PBB di seluruh wilayah Palestina yang diduduki, sebuah ide yang sangat ditentang oleh Israel. “Mengkonsolidasikan perdamaian dan keamanan serta mengakhiri penderitaan kemanusiaan harus dimulai dengan pengerahan misi internasional sementara di Gaza atas undangan resmi dari pemerintah Palestina,” ucap Menteri Negara UEA untuk Kerja Sama Internasional, Reem al-Hashimy, kepada kantor berita resmi WAM. Dia menambahkan, misi internasional ini akan bertanggung jawab untuk merespons krisis kemanusiaan secara efisien guna membangun hukum dan ketertiban dan membuka jalan untuk menyatukan kembali Gaza dan Tepi Barat di bawah satu Otoritas Palestina yang sah. Komentar tersebut muncul beberapa hari setelah wakil menteri luar negeri Lana Nusseibeh mengatakan kepada surat kabar Inggris Financial Times bahwa “UEA dapat mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari pasukan stabilisasi bersama mitra Arab dan internasional atas undangan Otoritas Palestina yang telah direformasi.” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak banyak berbicara tentang rencananya untuk Gaza pasca-perang, tetapi dalam pidatonya di hadapan Kongres AS pada hari Rabu (24/7/2024) pekan lalu, ia mengatakan Israel harus mempertahankan kendali atas masalah keamanan sementara tokoh-tokoh Palestina yang dapat diterima Israel mengelola urusan sipil. Washington telah berulang kali menyatakan bahwa mereka menentang pemerintahan Gaza pasca-perang baik oleh Israel maupun Hamas dan telah menyerukan agar Otoritas Palestina yang telah direformasi mengambil alih kendali.

Read More

Jerman Melarang Perkumpulan Muslim Sebarkan Aliran Islam Radikal

Frankrut — 1miliarsantri.net : Kementerian Dalam Negeri Jerman pada Kamis (25/7/2024) mengatakan pihaknya telah melarang asosiasi Islamic Center Hamburg (IZH) dan organisasi underbownya, dengan alasan bahwa organisasi tersebut mengajarkan paham Islam radikal. Kementerian tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 53 lokasi organisasi tersebut telah digeledah oleh pihak berwenang di delapan negara bagian Jerman pada Rabu pagi, berdasarkan perintah pengadilan. Selain IZH yang berbasis di Hamburg, yang merupakan salah satu masjid tertua di Jerman yang terkenal dengan eksterior pirusnya, subgrupnya di Frankfurt, Munich dan Berlin juga dilarang. Akibatnya, empat masjid Syiah akan ditutup, kata kementerian tersebut. IZH tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar melalui telepon pada Rabu pagi, dan situs webnya tidak dapat diakses oleh publik. Bukti dari penggeledahan sebelumnya terhadap 55 properti yang dilakukan pada bulan November memberikan dasar bagi pelarangan IZH, yang dikenal dalam bahasa Jerman sebagai Islamisches Zentrum Hamburg, pada hari Rabu, kata kementerian tersebut. “Hari ini, kami melarang Islamisches Zentrum Hamburg, yang mempromosikan ideologi totaliter dan ekstremis Islam di Jerman. Ideologi Islam ini bertentangan dengan martabat manusia, hak-hak perempuan, peradilan yang independen dan pemerintahan demokratis kita,” ungkap Menteri Dalam Negeri Nancy Faeser.

Read More

Zionis Israel Semakin Membabi Buta

Gaza — 1miliarsantri.net : Tentara penjajahan Israel kembali melakukan pembantaian di Jalur Gaza. Kali ini, sekitar 50 orang syahid dalam pemboman artileri Israel di wilayah timur Khan Younis, selatan Jalur Gaza, mayoritas di antaranya anak-anak dan perempuan. Petugas kesehatan menyatakan kondisi di rumah sakit setempat seperti ‘banjir darah’. Kantor berita WAFA melansir, pesawat-pesawat tempur penjajah melancarkan pemboman intensif di lingkungan timur kota Khan Younis dan kota-kota kecilnya setelah perintah dikeluarkan untuk segera mengevakuasi wilayah timur dan menuju wilayah baru di Al-Mawasi di sebelah barat. Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa pasukan pendudukan tidak memberikan waktu kepada warga sipil untuk mengungsi. Mereka langsung melakukan pemboman intensif di kota tersebut, yang mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 50 orang dan puluhan lainnya luka-luka. Wilayah timur kota mulai mengalami perpindahan massal ke wilayah barat, khususnya Al-Mawasi. Dalam konteks terkait, Kompleks Medis Nasser, yang terletak di Khan Younis, dalam sebuah pernyataan meminta warga sipil untuk “segera” mendonorkan darahnya demi kepentingan orang-orang yang terluka dan sakit karena sangat kekurangan unit darah di dalam kompleks tersebut. Kekurangan ini menimbulkan ancaman serius terhadap kehidupan orang-orang terluka mengingat pembantaian yang sedang berlangsung yang dilakukan oleh pasukan penjajah terhadap orang-orang yang tidak bersalah dan warga sipil. Sementara itu, Rumah Sakit Nasser mengatakan menerima ratusan jenazah dan korban dan luka-luka dalam waktu tiga jam, akibat serangan udara yang sedang berlangsung di sebelah timur kota. “Kami kehilangan nyawa orang yang sakit dan terluka karena kurangnya kemampuan. Kami tidak memiliki sumber daya dan persediaan minimum untuk merawat mereka yang terluka,” kata juru bicara Rumah Sakit Nasser Mohammed Sakr. Ia menambahkan, situasi di Kompleks Medis Nasser tidak terkendali. Pihaknya telah menerima ratusan korban dan kematian dalam atau selama tiga jam, dimana situasi sangat buruk dan perlu didukung oleh pasokan dan peralatan medis. “Puluhan pasien sedang ditangani. Kami tidak memiliki tempat tidur untuk menampung pasien. Kami tidak memiliki cukup persediaan untuk memberikan layanan kesehatan kepada pasien kami. Situasinya sangat sulit. Kami berenang di genangan darah,” imbuhnya. Sakr mengatakan rumah sakit menerima lebih dari 30 jenazah dan 200 orang luka-luka. “Kami meminta semua negara di seluruh dunia untuk memaksa Israel membuka perbatasan guna memindahkan pasien kami yang membutuhkan operasi mendesak ke negara tetangga,” sambungnya.

Read More

Pemukim Israel Menyerang Relawan Asing yang Membantu Petani Palestina

Gaza — 1miliarsantri.net : Insiden kekerasan terjadi di Tepi Barat pekan lalu, sekelompok relawan asing yang sedang membantu petani Palestina diserang oleh pemukim Israel. Beberapa relawan terluka dan harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Informasi ini disampaikan oleh para aktivis dan dikonfirmasi oleh pihak militer Israel. Delapan relawan, sebagian besar warga Amerika, sedang bekerja dengan para petani di kebun zaitun dekat desa Palestina Qusra ketika para pemukim menyerang mereka, kata David Hummel, seorang Amerika-Jerman dalam kelompok tersebut. “Kami berdiri di sana dengan damai, tidak mengancam siapa pun, ketika mereka mulai mendekati kami dan mendorong kami di jalan,” kata Hummel kepada AFP. Hummel menambahkan, pemukim Israel mulai menyerang dan memukuli semua relawan dengan tongkat dan pipa logam dan mereka juga melemparkan batu ke arah relawan tersebut. “Saya diserang di kaki, lengan, dan juga di rahang saya, dan itu… sangat brutal,” tambah relawan tersebut, sambil menunjukkan memar di wajahnya. Serangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat meningkat sejak perang Gaza pecah pada 7 Oktober. Ketegangan semakin memanas setelah keputusan Mahkamah Internasional pada hari Jumat yang menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina sejak 1967 adalah ilegal. Para relawan berasal dari International Solidarity Movement, sebuah kelompok yang mengatakan mereka mengerahkan orang-orang untuk membentuk “kehadiran pelindung” bagi warga Palestina yang berisiko menghadapi kekerasan di Tepi Barat. Dua wanita termasuk di antara empat aktivis yang dirawat di rumah sakit Rafidia di kota Nablus yang berdekatan, menurut wali kota Qusra, Hani Odeh. Seorang jurnalis AFP melihat setidaknya tiga orang dirawat di rumah sakit. Pasukan Israel tiba dan menembakkan tembakan peringatan ke udara untuk mengusir para relawan dan petani, menurut wali kota. Tentara mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “sejumlah warga sipil Israel bertopeng menyerang sekelompok warga negara asing saat mereka menanam pohon di daerah Qusra” dan “beberapa” membutuhkan perawatan. “Tentara dikirim ke lokasi dan menembakkan tembakan peringatan ke udara, menyebabkan warga sipil Israel melarikan diri dari daerah tersebut,” tambah mereka, mengutuk segala “tindakan kekerasan”.

Read More

Seorang Jurnalis Tewas saat Operasi Militer Israel di Rafah

Gaza — 1miliarsantri.net : Pasukan zionie Israel menghujani beberapa wilayah di Jalur Gaza dalam kurun waktu bersamaan dan menewaskan setidaknya 30 warga Palestina, menurut pejabat kesehatan, saat tank-tank bergerak lebih dalam ke bagian barat dan utara Rafah. Di antara korban tewas adalah jurnalis lokal Mohammad Abu Jasser, istrinya, dan dua anaknya, dalam serangan Israel ke rumah mereka di utara Jalur Gaza, kata seorang petugas medis. Kantor media pemerintah Gaza yang dijalankan Hamas mengatakan kematian Abu Jasser menambah jumlah pekerja media Palestina yang tewas akibat serangan Israel menjadi 161 orang sejak 7 Oktober. Serangan militer Israel di seluruh Gaza menewaskan 37 warga Palestina dalam 24 jam terakhir dan menghancurkan beberapa rumah. Di kamp Al-Nuseirat di tengah Jalur Gaza, serangan udara ke gedung bertingkat melukai beberapa orang, termasuk dua jurnalis lokal, kata petugas penyelamat. Di Rafah, di mana Israel mengatakan bertujuan menghancurkan batalyon terakhir sayap bersenjata Hamas, penduduk mengatakan tank-tank bergerak lebih dalam ke area utara kota dan mengambil alih sebuah bukit di bagian barat, di tengah baku tembak sengit dengan pejuang yang dipimpin Hamas. Tentara Israel mengatakan pasukan terus melakukan operasi di Rafah, melumpuhkan banyak pejuang dalam sehari terakhir di area Tel Al-Sultan di sisi barat kota. Di Gaza Tengah, militer mengatakan mereka melakukan serangan ke infrastruktur militan. Militer juga mengatakan mereka menyerang struktur yang digunakan militan Palestina di Deir Al-Balah di tengah Jalur Gaza, menyatakan pejuang beroperasi dari area kemanusiaan, dan menuduh militan Gaza memanfaatkan struktur dan populasi sipil untuk tujuan militer, tuduhan yang ditolak Hamas dan kelompok lain sebagai palsu untuk membenarkan serangan semacam itu.

Read More

Pengadilan Tertinggi PBB: Permukiman Israel di Wilayah Palestina yang Diduduki Ilegal

Washington — 1miliarsantri.net : Mahkamah Internasional (ICJ), pengadilan tertinggi PBB, menyatakan bahwa permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki adalah ilegal. Dalam pendapat penasihat penting yang dikeluarkan Jumat lalu, ICJ mengatakan semua negara harus bekerja sama untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina. Meskipun temuan hakim ICJ tidak mengikat, namun memiliki bobot dalam hukum internasional dan dapat memperlemah dukungan untuk Israel. “Permukiman Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, serta rezim yang terkait dengannya, telah didirikan dan dipertahankan dengan melanggar hukum internasional,” kata Presiden ICJ Nawaf Salam, membacakan temuan panel 15 hakim. Kepemimpinan Palestina menyambut baik putusan pengadilan tertinggi PBB ini sebagai “bersejarah”. Kantor Presiden Palestina Mahmud Abbas menyatakan menyambut “keputusan bersejarah ini dan menuntut agar Israel dipaksa untuk melaksanakannya.” Pendapat ICJ menyebutkan bahwa Israel harus membayar ganti rugi kepada rakyat Palestina atas kerusakan yang disebabkan oleh pendudukan. ICJ juga menemukan bahwa Dewan Keamanan PBB, Majelis Umum, dan semua negara berkewajiban untuk tidak mengakui pendudukan sebagai legal dan tidak memberikan bantuan atau dukungan untuk mempertahankannya. Kasus ini berasal dari permintaan Majelis Umum PBB pada tahun 2022, sebelum perang di Gaza yang dimulai pada Oktober lalu. Israel merebut Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur – wilayah Palestina historis yang diinginkan Palestina untuk menjadi negara – dalam perang 1967 dan sejak itu membangun permukiman di Tepi Barat dan terus memperluas mereka. Para pemimpin Israel berpendapat bahwa wilayah-wilayah tersebut tidak diduduki secara hukum karena berada di tanah yang dipersengketakan, tetapi PBB dan sebagian besar komunitas internasional menganggapnya sebagai wilayah yang diduduki Israel.

Read More