Para Pengungsi di Jalur Gaza Harus Menghadapi Bencana Kelaparan
Gaza — 1miliarsantri.net : Pembantaian yang dilakukan teroris Israel terhadap warga sipil Jalur Gaza sudah memasuki bulan keempat. Perang genosida tersebut tak hanya menghilangkan nyawa puluhan ribu korban, hancurnya seluruh bangunan rumah dan rumah sakit, namun juga menciptakan krisis pangan yang sangat parah.
Orang tua di Jalur Gaza harus mengurangi jatah makan agar anak-anak mereka bisa mengunyah sedikit makanan. Saat bersamaan kerap mereka berpura-pura sudah kenyang demi perut sang buah hati tak keroncongan. Meskipun begitu, bencana kelaparan tidak bisa dihindari.
Krisis pangan di Jalur Gaza yang menyebabkan bencana kelaparan semakin memburuk menimpa lebih dari dua juta murabith saat memasuki bulan keempat perang Israel di wilayah tersebut.
Ini terjadi di tengah peringatan dari lembaga-lembaga PBB bahwa bencana kelaparan mengintai di depan mata. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan, bayangan kelaparan menghantui penduduk Gaza, bersamaan dengan ancaman penyakit, malnutrisi, dan ancaman kesehatan lain.
Seorang pengungsi dari Jalur Gaza utara ke Rafah, Amal Muhammad, menceritakan kondisi anak-anaknya sebelum teroris Israel melakukan pembantaian di Jalur Gaza. anak-anaknya bisa bermain sambil menyelesaikan makan malam.
“Namun, mereka sekarang sangat membutuhkan makanan, tetapi dia hampir tidak dapat memberi mereka makan. Kami berpura-pura di depan anak-anak bahwa kami tidak lapar atau terlalu sibuk, sehingga kami tidak bisa makan,” tutur Amal.
Menurut Amal, harga-harga bahan makanan dan kayu bakar untuk memasak telah meningkat secara signifikan. Hal itu membuat konsumsi daging menjadi “impian”. Sementara, para orang tua membatasi jatah makan agar anak-anak bisa makan.
“Kami semua kehilangan berat badan karena kurangnya makanan,” ujar Amal.
Penduduk Gaza sekarang bergantung hampir sepenuhnya pada bantuan luar yang dibawa melalui dua titik masuk, Rafah di perbatasan dengan Mesir, dan Kerem Shalom di perbatasan dengan Israel.
Pertanian perdagangan di wilayah Palestina mengalami kerugian, sementara bantuan, termasuk tepung, minyak, beras, kacang-kacangan, dan makanan kaleng, sebagian besar disalurkan ke gudang PBB untuk didistribusikan kepada pengungsi, yang terkadang harus berdiri dalam antrean selama berjam-jam untuk mendapatkan makanan.
Wakil Direktur Operasional UNRWA di Gaza, Scott Anderson, mengatakan, Israel telah mulai mengizinkan beberapa kiriman komersial ke Gaza, tetapi itu tidak cukup. Maka itu, dia memperingatkan tentang bencana yang semakin memburuk dan meminta Israel untuk membuka lebih banyak lintasan dan menyederhanakan proses pemeriksaan truk.
“Serangan terus-menerus oleh Israel menghambat distribusi makanan,” terang Scott.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


