Wayang Sebagai Sarana Dakwah Sekaligus Hiburan

Dengarkan Artikel Ini

Kiai Durno ditempatkan bersebrangan dengan Prabu Darmo Kusumo, negeri Ngamarto alias Indraprasta yang memiliki penasihat bernama Kiai Kresno. Kiai Kresno adalah pemegang Senjata Cokro dengan gelar sosrosumpeno (seribu penglihatan).

Senjata Kiai Durno yakni Jamus Kalimosodo, masih dalam cerita Mbah Moen, adalah istilah yang digunakan para wali sebagai upaya mengikrarkan masyarakat Jawa ketika itu untuk masuk ke dalam pelukan Islam.

Secara harfiah kalimosodo terdiri dari dua kata, “kalimo” artinya kalimat, dan “sodo” yang berarti syahadat.

Kalimosodo itu dipahami sebagai wujud pengakuan kepada risalah Allah yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, rukun Islam yang pertama, yang secara berurutan yakni syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji.

Mbah Moen juga menjelaskan “kalimo” itu juga bisa diartikan “lima” dan “sodo” artinya “dua belas”. Artinya 5 tambah 12 sama dengan 17 yakni jumlah rakaat sholat. Arti bilangan tersebut menjelaskan berislam yakni menegakkan seluruh kewajiban waktu berupa shalat lima waktu yang menjadi aji atau jimat Muslim.

“Shalat adalah soko agomo,” bunyi hadist yang masyhur.

Selain sebagai tiang, sholat adalah perintah langsung yang diterima Rasulullah dari Allah ketika peristiwa Isra’ dan Mikraj. Saking krusialnya, sholat adalah kunci bagi Muslim dan penentu seluruh amal saat hari hisab. (mif)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca