Gus Baha : Kematian adalah Pensiun ala Rasulullah SAW
Harta, mereka infaqkan…
Martabat manusia mereka perjuangkan…
Bukannya bersantai dan stagnan, tapi mereka makin aktif dan dinamis.
Di usia tua Rasulullah tidak sibuk dengan shalat dan membaca al Quran saja.
Mulai usia 53 tahun justru beliau makin aktif membina hubungan dengan sesama manusia.
Membangun masyarakat MADANI (civil society) di Madinah.
Tidak hanya hubungan dengan Allah, tapi juga hubungan dengan manusia.
Beliau makin bermasyarakat, makin terlibat dalam kehidupan sosial.
Artinya,
memasuki usia pensiun bukan alasan kita untuk melepaskan diri dari kehidupan sosial dan hanya sibuk dengan diri sendiri.
Untuk Beribadah Kepada Allah Semata
Allah Ta’ala berfirman
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
Hingga akhir hayat, Rasulullah tidak pernah diam dan tidak juga ingin beristirahat.
Beliau juga tidak meninggal dalam keadaan kaya,
tidak juga dalam keadaan pensiun karena beliau tetap memimpin umatnya.
Pensiun Rasulullah SAW adalah kematian…
Begitu juga sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.
Mereka pensiunnya setelah wafat.
Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, contohnya.
Bahkan Abu Ayyub al-Anshari berangkat berperang menghadapi Byzantium pada usia 93 tahun.
Konsep pensiun yang umum dipahami masyarakat membuat kita lupa bahwa bertambah usia itu berarti kesempatan hidup kita makin berkurang.
Manusia sukses versi Islam itu menurut hadist adalah:
Sabda beliau:
خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ
“Manusia terbaik di antaramu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Rasulullah saw kepada umatnya. Sabda beliau:
خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath, juz VII, hal. 58, dari Jabir bin Abdullah r.a.. Dishahihkan Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab: As-Silsilah Ash-Shahîhah)
Bertambah usia, justru kita harus makin merambah dunia.
Berbagi dan menjadi sosok bermanfaat.
Bukan berpikir untuk hidup santai dan sekadar menghabiskan waktu dengan hal-hal tak jelas.
Lagipula, makin pasif seseorang, makin cepat pikunlah ia.
Alhasil, jika memang kita ingin mempersiapkan hari tua, selain menyiapkan uang agar tidak berkekurangan, yang lebih penting adalah menyiapkan apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa bermanfaat bagi sesama di hari tua, sampai saatnya menutup mata..
Tak ada kata terlambat untuk memulai hidup baru.
Tua bukan alasan untuk putus asa dan berhenti.
Merasa tua dan berpikir “bukan saatnya lagi untuk hidup aktif dan dinamis adalah bukan pilihan yang tepat”
Justru, kita harus lebih hidup dan bersemangat.
Tidak ada kata pensiun untuk menjadi manusia sukses di mata Allah SWT. (yat)
Baca juga :
- Selamat Hari Bhayangkara: 80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat
- Breaking News: Argentina Tutup Fase Grup Piala Dunia FIFA 2026 dengan Kemenangan 3-1 atas Yordania di AT&T Stadium
- Piala Dunia FIFA 2026: Afrika Selatan Lolos Dampingi Meksiko Menuju Fase Gugur
- Formasi Drone “Ubur-Ubur” Iran Diduga Lumpuhkan F-15 Amerika, Pengakuan Pilot Picu Kekhawatiran Baru soal Perang Drone
- Wisuda Bimba Opung ASA Kidz Station 2026: Momen Haru, Ceria, dan Penuh Kenangan dalam Pelepasan Generasi Hebat
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


