Gus Baha : Kematian adalah Pensiun ala Rasulullah SAW
Surabaya — 1miliarsantri.net : Kebanyakan dari kita sudah terpola untuk berpikir ingin hidup tenang di hari tua, duduk-duduk tanpa beban, hanya bermain dengan cucu, reunian jalan-jalan ke sana ke mari.
(Masa pensiun adalah masa yang secara alamiah akan menghampiri setiap orang, datangnya sudah pasti berdasarkan pencapaian usia tertentu. Kadang orang beranggapan, masa pensiun adalah memasuki masa usia tua, fisik yang makin lemah, makin banyak penyakit, cepat lupa, penampilan tidak menarik.
Atau juga anggapan bahwa masa pensiun merupakan tanda seseorang sudah tidak berguna dan tidak dibutuhkan lagi karena usia yang menua dan produktivitas makin menurun.
Tanpa disadari, pemahaman seperti inilah yang mempengaruhi persepsi seseorang sehingga ia menjadi over sensitif dan subyektif terhadap stimulus yang ditangkap dan kondisi mengakibatkan orang jadi sakit-sakitan saat masa pensiun tiba.)
Kita ingin hidup di zona nyaman…
Atau kita hanya berpikir menghabiskan masa tua
hanya dengan shalat dan membaca Quran dari waktu ke waktu, tanpa kegiatan lain lainnya…
Itulah mindset kita.
Setidaknya itulah fenomena yang terjadi di sekitar kita.
Ketika kita belum memasuki usia pensiun pun, kita kerap sudah merasa bukan saatnya untuk aktif.
Kita kehilangan gairah.
Bahkan mungkin kehilangan arah,
mau apa..?
mau ke mana..?
untuk apa…?
Hanya ingin hidup tenang di zona nyaman.
Hanya ingin bersenang-senang, tak ingin bergerak.
Kita bahkan cenderung hanya ingin memikirkan diri sendiri. Makin tak peduli dengan sesama.
Kita merasa sudah saatnya istirahat…
Bukankah begitu??
Seperti itu pula dulu saya berpikir tadinya…
Sebenarnya, adakah Islam mengajarkan pola pikir semacam itu tentang hari tua..?
Alhamdulillah…Allah memberi jawaban dg mempertemukan aku pada seseorang, sambil membaca Al Qur’an Surah Al-Insyirah: 5-6& 7-8
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاِ نَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
fa inna ma’al-‘usri yusroo
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
inna ma’al-‘usri yusroo
“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 6)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاِ ذَا فَرَغْتَ فَا نْصَبْ
fa izaa faroghta fangshob
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 7)
وَاِ لٰى رَبِّكَ فَا رْغَبْ
wa ilaa robbika farghob
“dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 8)
Jadi, kalau digabung 2 ayat itu, artinya :
Maka apabila engkau sudah selesai mengerjakan satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh sungguh urusan yang lain…
Dan kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Rasulullah saw kepada umatnya. Sabda beliau:
خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath, juz VII, hal. 58, dari Jabir bin Abdullah r.a.. Dishahihkan Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab: As-Silsilah Ash-Shahîhah)
Lalu saya teringat… kitab Sirah Nabawiyah
Rasulullah memulai hidup baru di usia 40 tahun.
Demikian pula sahabat-sahabat beliau, seperti :
Abu Bakar Siddiq yang lebih muda 2 tahun enam bulan dibanding Rasulullah
Di usia itu, Rasulullah dan para sahabat memasuki perjuangan baru, meninggalkan kenyamanan yang selama ini mereka rasakan…
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


