Kisah Arungbinang dan Cikal Bakal Menjadi Kota Kebumen
Pengembaraan itu berakhir saat bertemu dengan ibunya di Kademangan Wawar. Jaka Sangkrib kemudian membantu memadamkan pemberontakan Demang Pekacangan terhadap Demang Hanggayuda di Kutowinangun.
Beberapa saat kemudian, Jaka Sangkrib mengembara kembali dengan tujuan masuk ke istana Mataram. Pada waktu bertapa di Gunung Bulupitu, Jaka Sangkrib bertemu dengan Dewi Nawangwulan.
Dewi Nawangwulan bersedia membantunya untuk bertemu dengan ayahnya di Mataram. Saat itu Pangeran Puger sudah menjadi raja di Mataram dengan gelar Sunan Paku Buwana I.
Dewi Nawangwulan memberi cara kepada Jaka Sangkrib, yaitu dengan mencegat petugas pembawa upeti yang akan ke istana Mataram.
Jaka Sangkrib juga berganti nama menjadi Surawijaya. Usaha ini berhasil melancarkan perjalanannya ke istana Mataram.
Sebelum diakui sebagai keluarga istana, Surawijaya diminta memadamkan pemberontakan di Banyumas.
Setelah berhasil memadamkan pemberontakan itu, Jaka Sangkrib atau Surawijaya diangkat menjadi Mantri Gradag dengan gelar Hangabehi Hanggawangsa.
Selanjutnya, Hangabehi Hanggawangsa diberi gelar Tumenggung Arungbinang. Tumenggung Arungbinang memiliki jasa yang besar, salah satunya mencari tempat untuk memindahkan istana Mataram dari Kartasura.
Sesuai dengan perhitungan, Tumenggung Arungbinang menetapkan Solo sebagai ibu kota yang baru.
Dinasti Arungbinang berlangsung dalam delapan turunan. Arungbinang I dan Arungbinang II menjadi bupati Sewunumbakanyar di Surakarta.
Arungbinang III menjabat bupati Gunung di Kutowinangun. Arungbinang IV-VIII menjadi Bupati Kebumen.(hen)
Baca juga :
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


